Minna! Terima kasih Ciel L. Chisai , vhy otome, Riichan LuvHiru, Devilish Cutie, dan Ririn Cross sudah me-review chapter tiga kemarin…aku sangat senang melihat respon yang baik dari semuanya… Nah, berhubung dua hari lagi aku harus mengerjakan soal-soal UAS itu, tidak akan lega rasanya kalau nggak ngapdet dulu, hehehe… ^^v

Sebelumnya, saya ngebales ripyu dulu yaa…

RisaLoveHiru: ah…iya benar. Kali ini pakai pembatas yang lain semoga bisa muncul. Apa? Typo spasi lagi? Ya ampun spasi, apa dosaki padamuuu? (lebay) semoga chapter ini bisa lebih baik, sankyuu~

Sanada Yuki: hahhaa…iya! Anaknya Hiruma belasan dong… Hiruhana? Waa…author juga mauu…undine-hiru! (maksa) hohoho tentu aja nggak, sekali hirumamo teteup hirumamo dong! Lagipula kalau ada bagian Hiruma dan Hana, pasti cuma sebatas kakak-adik kelas saja… ^^

Baiklah, terima kasih minna… dan maafkan saya yang sudah memberi informasi ngawur soal rekan Hana yang bakal muncul di akhir chp.3, yang bener awal chap 4 ini! Hwehehehe…gomen yah, semuanyaa…

Yoosh, mari kita mulai ceritanya!

Flowers (A HiruMamo fanfic)

Chapter Four: I Am Not Her

Written by: undine-yaha

Disclaimer: Inagaki Riichiro dan Murata Yuusuke

Song Lyrics Disclaimer: Tonight, Tonight, Tonight by Beat Crusaders, Kokoro no Tamago by Buono

Eh?

EEEEEEH?

Ya, ya, ya…aku mengaku. Dia memang kukagumi, tapi sama seperti Mamori, kok! Nggak ada salahnya 'kan punya idola yang bisa diteladani sisi positifnya…Tapi, nggak kebayang aja besok harus mengurus semuanya sendirian.

'Woke up with yawn it's dawning, I'm still alive…'

Heh? Itu ringtone HP khusus buat dia…

"Moshi moshi!"

"Moshi moshi moshi moshi!" ledek seorang cowok diseberang sana, "Bilang halo aja kenapa sih…"

Hiiih…rekanku ini emang nggak suka Jepang. Tapi lucunya, akhir-akhir ini tiap aku lagi kepikiran seseorang, dia pasti meneleponku. Kemarin habis liat-liat data tentang Sakuraba, Akaba, Kakei, eeh…dia meneleponku. Seakan dia tahu aku sedang memikirkan seseorang meskipun nggak serius, hihihi. Aku berjalan ke kamarku.

"Besok Mamori nggak masuk ya?" tanyanya.

"Iya," jawabku melengos, "Aku harus menggantikannya besok." Pimpinan pasti sudah memberitahunya.

"Whoa, seneng dong bisa sama anak-anak cowok tim football…hati-hati ya…"

Ih, apaan sih orang ini.

"Kan ada Suzuna! Lagian aku ini bukan cewek genit kali!"

"Suzuna datengnya telat. Ya 'kan siapa tau aja…" ujarnya menyebalkan.

"Heh, anak-anak amefuto tuh baik-baik tahu…!"

Kok, dia nggak menjawab?

Samar-samar kudengar suara narator dan sorak-sorai penonton.

"GOOOOOOOOOLLLLLL!" dia teriak heboh, untung telingaku nggak berdenging.

"HEH! DASAR MANIAK BOLA!"

"Maniak American football," balasnya singkat.

Dasar…tapi bener juga sih. Begitu masuk Deimon aku ikutan ekskul amefuto dan dia ikutan ekskul sepak bola.

"Kamu denger nggak apa yang aku bilang?" kataku.

"Iya, iya…eh? Jam berapa ini? Nggak tidur?"

"Nanti aja," jawabku masih dongkol.

"Sudah malem lho…siapkan tenaga buat besok," ujarnya lembut.

Aku jadi tersenyum. "Ya sudah, kamu juga jangan pacaran sama sepakbola terus…"

"Habis aku nggak ada cewek yang dipacarin."

"Hah?" Apa maksudnya itu?

"Nggak, becanda, hahaha…ya udah ya."

"Daagh."

Telepon ditutup. Aku merebahkan diri ke kasur. Aku tidak terganggu kok dia telepon hampir tiap malam, karena entah kenapa setelah mendengar suaranya aku langsung bisa tidur nyenyak. Akhirnya aku berdoa dan memejamkan mata.

Besok nggak ada Mamori terus bisa deket Hiruma….

Cepat-cepat aku membuka mata. Kenapa otakku ini? Ayo tidur!

Sudah malem lho…siapkan tenaga buat besok…begitu katanya…

Suaranya bikin hati tenang.

Lagi-lagi mataku terbuka. What the hell I'm thinking about? Ayo, tidur, tidur!


Aku berjalan ke ruang klub sambil membaca catatan Mamori. Pagi ini tidak ada kerjaan, jadi aku bisa ke kelas mengerjakan tugas piket.

"Minasan, ohayou," sapaku pada anak-anak. Ada Hiruma, Kurita, Sena dan Monta di dalam.

"Ohayou," jawab semua kecuali Hiruma.

'Hari ini Kak Mamori nggak masuk," kataku.

"Aku sudah tahu…," kata Monta, "Mamori-san menelponku semalam, MAX! Dia berpamitan padaku!" ujarnya sombong dan ge-er.

Sena nyengir.

"Kalau telepon sih sudah pasti si manajer cerewet itu menelpon seluruh anggota Devil Bats, kekekeke…," ujar si kapten setan sinis, menghancurkan hati Monta.

"Mau teh?" Kurita menawarkanku.

"Oh, nggak Kak makasih, aku mau langsung ke kelas aja. Hari ini bagianku piket."

"Oke, semangat ya!"

"Mata ne!"

"Tunggu."

Aku menoleh ke suara quarterback setan. Wajahnya sejak aku datang, bahkan mungkin sebelum, sudah rusuh seperti kalah judi. Alasan sebenarnya, kesal karena absennya Mamori hari ini.

"Karena manajer sialan tidak ada, kau harus mengerjakan semuanya hari ini. Mengerti, anak baru sialan?"

"Siap, Komandan," jawabku sambil keluar clubhouse.


Bersih bersih kelas…aku sedang membersihkan televisi hitam yang paling khas dari kelas X-2 Deimon Devil Bats. Di sana tertulis…

'Kita pasti pergi ke Christmas Bowl!'

X-2

Kurita

Musashi

Hiruma

Aku tersenyum. Apa namaku bisa tertulis di sini ya? Namaku, bersama anggota yang lainnya…

Kita lihat saja. :)


PRIIIIIIT!

Aku meniup peluit tanda latihan sore ini dimulai. Latihan di lapangan sangat seru, dan semua yang diperlukan sudah kusiapkan bersama Suzuna. Turnamen Kanto sebentar lagi, dan semua harus latihan tidak peduli berapa kalipun mereka mati (dari Hiruma). Tugasku adalah mencatat latihan apa saja yang dilakukan hari ini, kemudian menganalisanya dan membuat program latihan bagi masing-masing anggota disesuaikan dengan progress mereka.

Latihan diakhiri dengan kejaran Cerberos. Setelah anak-anak luka-luka aku memberikan snack dan minuman untuk mereka. Kasihan… Tapi, kasihani aku juga, karena dari tadi ada saja yang tidak kulakukan dengan sempurna, terus diomeli sama Hiruma. Namanya juga anak baru! Yang namanya Hiruma nggak akan terima alasan apapun. Kerjaku masih lambat dan banyak kekurangan di sana-sini, tapi aku harus terus berusaha! Mamori sudah mempercayakan tugas ini padaku.

"Ummhhh…," aku menggerutu. Catatan latihan tadi belum selesai, aku harus cepat merampungkannya karena sudah jam lima lewat, belum membuat analisa dan membersihkan clubhouse. Pfiuh… Suzuna kuminta menemaniku seharian ini. Pokoknya sampai semua kerjaan beres. Namun aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari Jump yang sedang dibaca Toganou. Dia duduk disebelahku bareng dua saudaranya. Suzuna menyikut lenganku mengingatkan kerjaan yang masih setumpuk banyaknya. Tapi saat aku kembali menulis di lembaranku…

"Wuahahhahahhaha!" Toganou ngakak, "Don Patch Sword!"

"Wah!" aku melongok ke Jump yang dipegangnya, "Ada Heppoko Maru juga nggak?"

JKREK!

Setan itu melirik tajam ke arahku, mengalihkan perhatian dari VAIO putihnya.

"Selesaikan pekerjaanmu, anak baru sialan."

"I-iya…," aku kembali menulis.

"Ao-chan, konsentrasi…," kata Suzuna.

Aku mencoba Suzuna, tapi, tapi…Toganou sedang membalik halaman dan…

"KYAAAAA! HITSUGAYA! GRIMMJOW!"

DUOR!

"Suzuna tidak pulang? Sudah senja," kata Sena. Cieeeeeeeh!

"Aku masih mau menemani Ao-chan…," ucap Suzuna malu-malu.

"Oh…baiklah. Aku, Monta, dan Taki akan pulang duluan ya," Sena berpamitan padaku dan Suzuna yang kini tinggal bertiga sama Hiruma.

"Hati-hati. Kak, jangan salah naik bus!"

"Ahahahaaaa! Tentu saja tidak Mai Shisutaa!"

Taki berputar menyusul Sena dan Monta.

"Gimana Ao-chan?"

"Aku sudah sampai pada tahap mengisikan program latihan untuk tiap pemain," kataku sambil berkonsentrasi pada kertasku. Apa? Tembakan tadi? Enak aja aku masih hidup, pelurunya nancep ke tembok dibelakangku.

"Ano…Ao-channn..."

"Apa?"

"Aku permisi ke toilet dulu yah?"

"Hihihi, ya sudah sana."

Suzuna meluncur dengan inline skatenya. Heran, deh. Ke toilet kok pake inline skate.

Owh. Aku teringat sesuatu. Semalam aku mengumpulkan data-data tentang Turnamen Kanto dan kusimpan di flashdisk. Mungkin akan berguna. Akhirnya kuputuskan untuk menyerahkannya ke Hiruma.

"Kak Hiruma," kataku yang sudah berada disamping tempatnya duduk, "Aku mengumpulkan data-data tentang Turnamen Kanto, mungkin bisa bermanfaat."

Kutaruh flashdisk Transcend putihku di meja.

"Coba kulihat," katanya sambil mengambil flashdiskku, "Kembali ke bangkumu dan selesaikan pekerjaan sialanmu itu."

Aku kembali duduk dan bekerja. Sekarang dia sedang melihat-lihat data yang kukumpulkan.

"Kekekeke," dia nyengir, "Kau mengetikkan keyword yang cukup spesifik di search engine…cara yang bagus untuk mendapat data yang detail. Tapi, browsing di internet menandakan data-data ini pasaran. Lain kali, kau harus coba memata-matai secara langsung untuk mendapat data yang jarang orang tahu dan akurat, kekekeke…Si Kecil dan Si Monyet sudah sering kusuruh pergi."

"Ah…kupikir juga begitu, hehehe," jawabku sedikit tertawa. Agen rahasia pergi memata-matai…pasti seru. Mendengar kata-kata Hiruma tadi membuatku tersenyum. Aku memang diomeli seharian ini, tapi banyak hal yang diajarkannya padaku. Meskipun galak, dia akan selalu menerima kritik dan saran dari juniornya, dan selama mereka memiliki keinginan yang kuat dan kemampuan, saran yang mustahil untuk dicoba pasti tetap dia izinkan. Setan sadis ini ternyata juga seorang senior yang baik.

"Anak baru sialan, berapa tahun lagi kauselesaikan pekerjaan itu, hah?" ujarnya padaku sambil memutar bolpoin yang dipegangnya untuk menulis entah apa di secarik kertas, "Lihat ruangan sialan ini, kotor dan berantakan! Lebih baik manajer sialan saja yang membereskan itu dan kau segeralah bersih-bersih!"

Aku menyesal memujimu.

Tapi dia benar, aku memang lelet. Dia mengeluarkan 'tch'-nya yang biasa melihatku masih enggan meninggalkan kertas-kertasku.

"Sudah, biar manajer jelek saja yang selesaikan itu! Cepat bersihkan ruangan sialan ini!" sentaknya.

Dengan sedih aku membereskan kertas-kertas itu dan memasukkannya ke dalam map agar rapi. Aku mulai menyapu. Sekarang yang sedang kukhawatirkan adalah…jam berapa biasanya Hiruma minum kopi? Sial, jangan sampai deh dia memintanya. Tapi kalau dia memintanya, mungkin aku bisa membuktikan suatu hal antara dia dan Mamori. Meskipun begitu tetap saja…

"Anak baru sialan, minta kopi."

DEG!

Sambil menutupi kekagetanku aku berkata,"Baik Kak."

Aku berjalan seperti robot, menaruh sapu di pojokan ruangan, dan berhenti di depan meja tempat membuat teh dan kopi dan minuman lah pokoknya. Lalu kudekatkan cangkir, piring kecil, termos air panas dan kaleng black coffee. Tiba-tiba tanganku menjadi dingin.

Itu tadi benar suara seraknya Hiruma 'kan? Karena tadi aku tidak melihatnya langsung.

Memang siapa lagi yang ada disini selain kami?

Kusambar notes Mamori dari meja dibelakangku. Baiklah, perlahan-lahan aku mengikuti instruksi yang tertera disitu. Hiiih…kebayang deh gimana reaksinya nanti saat mencicipi kopi ini.

"Heh! Kau ini mati berdiri atau apa? Aku hanya minta segelas kopi kok lama banget sih?"

"HIE?" aku kaget ala Sena, menuangkan air panas dan mengaduk kopinya. Perlahan kubawa kopi itu dan kuletakkan di atas meja, di dekat Hiruma yang masih pacaran sama VAIO. Beres, segera kuambil lagi sapuku dengan tangan berkeringat dingin karena gugup. Sekarang hatiku rasanya HHC alias Harap Harap Cemas, menunggu reaksi Hiruma. Jangan diminum deh, jangaaan…tapi cangkirnya sudah diambil, dan, dan, AAAAAAAAAAAAAAH! Rasanya aku ingin lari sambil teriak seperti Spongebob dan Sandy waktu dikejar ulet raksasa.

Yak, dia meminumnya sedikit, menatap cangkir itu dengan mimik rusuh, lalu berdiri dan berjalan ke depanku.

MAMPUS! Ngomong-ngomong kemana Suzuna di saat-saat begini?

"Heh."

Dia berhenti, berdiri dengan angkuh didepanku. Tangan kanannya memegang cangkir, tangan kiri di saku, dan mata hijau zamrudnya menatap bola mataku yang hitam bundar dengan dingin.

"ANAK BARU PAYAH! Membuat kopi saja kau tidak becus! Sebetulnya manajer jelek itu yang tidak bisa mengajarimu atau kau yang bodoh, HAH?" hardiknya, sentaknya, bentaknya.

Aku menunduk. Aku tahu pasti akan begini, tapi kata-katanya dalem banget ya?

"Dasar," dia berputar dan melangkah ke pintu,"Gunakan waktu sialanmu untuk belajar lebih keras!" teriaknya kasar.

"Ma—"

"TIDAK PERLU!" hardiknya,"Kau minta maaf pun rasanya tidak akan berubah jadi enak! Kalau salah ya salah saja, nggak usah banyak alasan!"

Aku hanya bisa menunduk dan cemberut.

"Sekali lagi kukatakan padamu, gunakan waktu sialanmu untuk lebih banyak belajar!"ujarnya sambil menjatuhkan cangkir kopi beserta isinya ke tempat sampah.

Saat pintu dia buka dengan kasarnya, Suzuna baru kembali dan menghambur masuk.

"Ao-chan!"

Masih dengan inline skatenya dia menghampiriku yang terduduk letih dan lesu seperti kena gejala anemia di salah satu kursi.

"Duduklah," kataku pelan sambil mencoba tersenyum.

"Aku sempat mendengar Yo-nii teriak-teriak waktu kembali ke sini," ujarnya panik, "Apa yang terjadi?"

Akhirnya kuceritakan semua yang barusan terjadi.


"APA? CUMA GARA-GARA KOPI DIA MARAH-MARAH BEGITU?" ujar Suzuna mencak-mencak.

"Bukan 'Cuma gara-gara kopi', ah."

"Kau yakin sudah membuatnya dengan benar?"

"Suzuna-chan," aku menghela nafas, dan menatap langit-langit sambil tersenyum,"Sesempurna apapun, sebenar apapun, sebaik apapun aku membuatnya…," aku menatap Suzuna yang kebingungan,"Kopinya tidak akan pernah terasa enak buat Hiruma."

"Kamu kok malah senyum-senyum sih? Memang kenapa bisa begitu?"

"Karena aku bukan Kak Mamori, aku bukan manajer hebat seperti dia."

"Mamo-nee kadang membuatku iri. Tapi sebetulnya perasaanku lebih ke kagum, sih, dan aku menjadikan dia sebagai senior yang dapat kuteladani."

"Aku juga."

Kami tertawa bersama.

"Tapi, bukan hanya itu saja. Ada sesuatu yang tidak kuberikan dalam kopi tadi, sesuatu yang selalu Kak Mamori miliki dan berikan untuk Kak Hiruma. Aku tidak memilikinya."

"Hah? Apa itu?"

Aku tersenyum,"Cinta."

Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Kak Mamori selalu memberikan cinta disetiap kopi buatannya, seragam yang dicucinya, atau setiap omelannya pada Kak Hiruma. Tentu aku tidak memiliki perasaan seperti itu."

"Masa sih ada bedanya?"

"Sekarang gini deh," aku memutar kursiku menghadap padanya,"Kalau kau ngambek, siapa yang bisa meredakanmu? Aku, Kakakmu, bahkan Kak Mamori saja tidak bisa. Tapi ketika Sena yang bicara padamu, semua jadi berubah membaik 'kan?"

Spontan wajah Suzuna memerah.

"Karena ada cintalah semua yang kelihatannya biasa-biasa saja jadi istimewa."

Suzuna tersenyum malu-malu,"Sepertinya aku bisa memahaminya sekarang."

'Hop! Step! Jump!'

Handpone-ku berdering. Telepon dari Mamori.

"Aoihoshi disini."

"Aah, Hana-chan," sapa suara lembut di seberang sana,"Bagaimana harimu?"

"Aahahha…,"aku ketawa maksa,"Aku tidak bisa mengerjakan semuanya dengan baik…"

"Dari suaramu kelihatannya kau lelah sekali…terima kasih atas kerja kerasmu hari ini ya."

"Iy—"

Suzuna menyambar HP-ku.

"MAMO-NEE! Yo-nii barusan marah-marah sama Ao-chan cuma gara-gara kopi!"

"Heh! Suzuna-chan!" aku berseru panik.

Sunyi.

"Mamo-nee?"

"GRRRHHHHHH….," Mamori menggeram,"MOU…HIRUMA-KUN! AWAS DIA! AKAN KUMARAHI DIA SEKARANG JUGA! DASAR KETERLALUAN!"

Tut tut tut. Bukan, bukan kereta api, teleponnya diputus.

"AAAAH! APA YANG KAULAKUKAN! Bisa-bisa kita dihabisi karena mengadu!"

"Habis aku sebal!"

Aku berpikir cepat. Dia pasti masih ada disini. Kalau begitu…

"Ayo!" kugandeng Suzuna dan kubawa dia keluar.

"Kita mau ke mana?"

"Ke atap gedung sekolah!"

"Ngapain?"

"Kak Mamori pasti sedang menelepon Kak Hiruma dan setan itu pasti masih ada disana!"

Kami berlari dan menaiki tangga menuju atap gedung. Kemudian kami berhenti tepat di tangga, di depan pintu atap gedung.

"Kita ngintip dari sini," bisikku pada Suzuna sambil menunjuk kaca di pintu.

Matahari yang telah terbenam digantikan bintang-bintang yang mulai bermunculan. Malam mulai menyapa, Hiruma berdiri sendirian menatap langit. Disinilah biasanya ia berada jika sedang ingin menyendiri. Tiba-tiba dia terkejut. Salah satu handphonenya, yang modelnya flip dengan warna merah bergetar di dalam saku celana seragamnya. Ia mengambilnya, dan seperti telah tahu siapa yang menelepon dia langsung mengangkat panggilan itu.

"Apa?"

"Hiruma-kun!" seorang gadis berseru,"Kau ini jahat sekali! Berapa kali kau memarahi Hana-chan hari ini, hah? Kita harus berterimakasih padanya karena telah menggantikan aku hari ini! Eeeh…tapi kau malah memarahinya karena hal sepele! Jangan keterlaluan, ah!"

"Tch," Hiruma melengos mendengar omelan manajer kesayangannya,"Kau bisa lihat besok pekerjaan sialan apa yang sudah dia lakukan dengan benar. Tidak ada! NOTHING! Jadi wajar kalau aku memarahinya!" Hiruma balas membentak.

"Mou…tapi kau tetap saja keterlaluan! Hana-chan kan masih belajar, dia pasti juga sudah berusaha dengan baik! Jadi orang tuh jangan kasar-kasar dong! Setidaknya tunjukkan rasa terimakasihmu padanya karena telah bergabung menjadi anggota klub kita! Kau harus ingat betapa—"

"Pulanglah."

"Hah?"

Hiruma menghela nafas dan berkata perlahan, dengan suaranya yang serak dan tenang,"Pulanglah. Just, pulanglah."

Mamori terdiam. Hiruma terdengar begitu jujur dan penuh kasih. Hatinya terasa hangat, dan entah mengapa, senyum bahagia mengembang di wajahnya yang cantik itu. Ya, Mamori tidak tahu mengapa perkataan sesingkat itu bisa membuat ia sebahagia ini. Ia tersenyum manis sekali, dan berharap kebahagiaan yang ia rasakan dapat sampai ke hati quarterback kesayangannya.

"Baiklah...Aku akan pulang. Kita ketemu besok pagi, ya," Mamori berujar malu-malu, pipinya memerah.

"Keh," Hiruma nyengir. Rasa bahagia Mamori sepertinya sampai ke hatinya,"Selesaikan pekerjaanmu yang belum tuntas."

"Iya…Sampai jumpa besok."

Click.

Hiruma kembali mendongak ke langit, sekarang ia tersenyum samar.

"Breath taking," ujarku pelan sambil menghela nafas.

"Hah?"

"Maksudnya, romantis…"

"Oooh…YA~! Benar-benar bagus!"

Aku menggamit tangan Suzuna,"Ayo cepat kita kabur!"

"Ng!"

Kami menuruni tangga dan berlari hingga sampai di halaman sekolah.

"Ao-chan…aku tidak pernah tahu Yo-nii bisa jadi cowok yang baik juga!"

"Ooh…pindah ke lain hati, nih?"

Suzuna langsung blushing,"Nggaak! Aku tetap suka Sena!"

"OOOOH SUZUNA SUKA SENAAA…," aku berkata agak keras.

"Eeeeh! Ao-chan jahil! AO-CHAN SUKA SAMA COWOK DARI KLUB SEPAK BOLAAA!"

"Hey!" aku menyikut lengannya,"Kenapa kita jadi ledek-ledekan?"

"Ah iya ya, hahahhaha!"

Kami tertawa bersama.

"Kalau hanya dilihat sekilas saja…," ujarku saat kami berjalan pulang berdua,"Kak Hiruma memang setan yang jahat. Tapi jika kita mengenalnya maka sisi lembutnya pasti akan terlihat."

Suzuna mengangguk-angguk,"Kau benar. Sena juga sering bilang begitu."

"Suzuna, sampai disini saja. Kamu belok kiri kan, ke halte?"

"Iya," Suzuna berbelok dan melambaikan tangan,"Mata aimashou…"

"Mata aimashou, hati-hati ya," kataku sambil tersenyum.

Aku menghela nafas dan berjalan menuju rumah. Mau jalan cepat-cepat karena sudah gelap…tapi badanku letih sekali. Hhh…seandainya saja…

'Kring kringgg'

Bunyi bel sepeda?

Aku menoleh kebelakang.

[Flowers chapter 4, the end]

Nah…itu dia ceritanya…maaf kalau ada kesalahan, dan terima kasih sudah membaca ya… Dengan begini saya bisa belajar buat UAS dengan tenang… -_-

Mind to review?

Kritik maupun saran, dipersilakan!