Murciélago
disclaimer: Tite Kubo only
.
created by: Fayiyong
.
A/N: Halooo! Chap 4 update! Hehee… ano, sebelumnya Fay mau meminta maaf sebesar-besarnya buat yang lamaaaaa buuuuuanggettt nungguin ini #adakah? Dikarenakan tugas numpuk sejadinya, Fay nggak bisa buka FFn dulu untuk sementara, jadi update-nya ngaret sampai sebulan #atauduabulan? Dan… ugh, Fay minta maaf, bulan ini cuma bisa update sekali! Ugh, Fay juga kesel sama sekolah Fay, tapi ugh… #gajelas! Well then, please ENJOY READING, minna!
Chap 4 # Broken Dawn
Dan dia menatapku.
Sepasang mata hijau menyala itu menatapku seolah menginginkanku.
Walaupun aku tahu jika aku berdekatan, aku akan mendapat banyak resiko:
Dihujam oleh kedua taring setajam belati.
Dihancurkan oleh kekuatan berpuluh manusia.
Ataupun diperbudak oleh kesempurnaan fisiknya yang takkan pernah kulupakan.
Bagiku, saat ini dan selamanya, semua resiko itu tidaklah penting.
Selama aku bisa bersamanya, apapun akan kurelakan.
#
#
Empat bayangan memasuki ruangan gelap itu—terlihat misterius, kaku, dan apatis. Mereka bergerak berirama dengan bahasa tubuh senada, seakan-akan seluruh persendian kaki mereka telah disambung satu sama lain seperti sebuah boneka tali.
Pasang-pasang mata berwarna mencolok itu terlihat berkilau tertimpa pancaran cahaya bulan yang keperakan, membuat siapapun yang melihatnya terpukau karena kemenakjubkannya—tapi entah mengapa, mata-mata tenang itu justru mengindikasikan sebuah intimidasi tingkat tinggi yang mengerikan.
Dan empat pasang mata itu jelas menuju sebuah titik…
…yang tak lain adalah sebuah peti mati berwarna putih pucat, yang tergeletak pasrah di sudut ruangan gelap itu.
Satu sosok melangkah maju mendekati peti, sementara tiga sosok lainnya berlutut dari kejauhan—bahasa tubuh mereka seolah mengatakan bahwa peti itu berisikan sesuatu yang kuat, sakral, dan absolut.
Si sosok pertama mendekati peti, lalu membuka sebuah gumpalan kain yang sejak tadi dibawanya—sebuah benda besar keluar dari sana, lalu jatuh berdebum di lantai.
Sosok itu memungut benda tersebut, kemudian memperdengarkan bunyi besi menghantam kulit.
Cairan merah menetes membasahi lantai marmer yang berkilau itu.
Sosok itu meraup cairan itu dalam telapak tangannya, kemudian peti itu terbuka. Dikucurkannya cairan itu ke dalam peti, sementara bibirnya berkata dengan nada sendu,
"Maaf telah membuat Anda menunggu, Tuanku."
#
"DIA DI SANA, NEL!"
Kepala hijau toska milik gadis bernama Nel itu segera berbalik, lalu tubuh ramping nan indah itu melesat bagai kilat ke sebuah arah yang menguarkan bau khas yang menjijikkan baginya.
BRUAAAAGHH!
Kaki berbalut bot hitam setinggi lutut itu sukses menghancurkan sebuah plang besi yang membentang menutupi gang gelap yang terlihat mencekam. Tak cukup dengan itu, Nel membumbui adegan heroiknya dengan efek suara berupa, "Kena kau…" Ditambah dengan wajah dibuat garang, dipastikan ini skenario terburuk bagi mahkluk incaran gadis itu.
Tak membutuhkan waktu sedetik sampai dua orang pria muda—Grimmjow dan Ulquiorra—untuk mendarat mulus tepat beberapa langkah di depan Nel. Gadis cantik itu langsung memasang senyum bangga.
"Bagaimana? Tendanganku keren, kan?" Nel menyombong.
Grimmjow berdecak malas. "Terlalu heroik."
"Berlebihan," Ulquiorra mengamini.
Bibir Nel mencebik. "Setidaknya aku jauh lebih gesit dari kalian," dengusnya sebal. Kemudian, ia mengalihkan tatapannya pada sepasang mata berwarna biru tua yang terlihat menyala buas di sudut gang gelap itu.
"Siapa yang mau membereskan?" Ulquiorra akhirnya mengajukan pertanyaan.
Nel menghela napas, agak kesal melihat tingkah Ulquiorra yang biasanya tenang, kini berubah tidak sabaran. "Terserah deh. Aku capek."
Ulquiorra menoleh ke sisi kirinya. "Kau saja, Grimmjow."
Sepasang alis biru itu bertaut, mimik heran diperlihatkan oleh Grimmjow. "Kenapa aku? Aku paling malas meladeni mahkluk selemah tempe begini."
Ulquiorra akhirnya berdecak pelan. "Nel."
"Kok aku?" Nel mendebat dengan suara melengking tinggi. "Kau saja! Aku malas!"
"Nel benar—kenapa bukan kau saja, Kalong?" Grimmjow setuju. "Biasanya kan kau yang paling rajin menghabisi sampah."
"Ck, aku harus kembali secepatnya. Ini sudah mau subuh!" Ulquiorra berkata dengan nada dongkol.
Grimmjow langsung emosi. "Cuma gara-gara manusia itu? Otakmu sudah kaujual?"
"Jaga mulutmu, Grimmjow."
"Kau yang jaga mulutmu, brengsek! Sudah datang terlambat, ingin cepat pulang pula!"
"Sekali lagi kau—"
"MEMANG KAU APA HAH? ANAK TK?"
"Grimmjow, kau—"
"YA PERGI SAJA SANA!" Nel akhirnya menjerit kesal. Ditatapnya Ulquiorra dan Grimmjow bergantian, lalu dilontarkannya sebuah tatapan setajam belati pada lelaki pucat bermata hijau. "Pergi kau. Jangan kembali kalau perlu."
Tanpa disuruh dua kali, Ulquiorra segera melesat melompati tembok tinggi gang, lalu menghilang dalam hitungan detik kedua.
Nel menatap Grimmjow nanar, lalu berkata, "Dia berubah."
"Ya. Jadi makin sok. Aku tahu, aku lihat."
"Omonganku salah?"
"Tidak, kau benar." Grimmjow mengalihkan tatapannya dari wajah Nel, kini sepasang pupil biru langit itu menatap tajam sepasang pupil biru tua di sudut kegelapan. Seringai lebar dipertontonkan lelaki sangar itu. "Lupakan dulu masalah itu, Nel…"
Nel mengikuti tatapan Grimmjow, lalu menghembuskan napas. "Ya."
"Kau atau aku?"
"Terserah saja."
Selanjutnya, Nel menghela napas pasrah ketika percikan darah segar menyiprati beberapa bagian jaket putihnya. Gadis itu mengamati Grimmjow yang kini telah berjalan mendekatinya, lalu akhirnya berkata, "Bayar biaya cuci bajuku, Grimmjow."
"Hah?"
#
Kedua kristal abu-abu itu perlahan menunjukkan keindahannya setelah lama terbalut kelopak pucat yang tampak begitu lelah; Orihime membuka mata dengan susah payah, berusaha memfokuskan pandangan sementara otaknya berjuang mencerna keadaan yang sedang terjadi.
Dan entah mengapa, sekeras apapun usaha Orihime untuk berpikir, hanya ada tiga hal yang tertangkap seluruh inderanya:
Hembusan angin.
Gesekan embun.
Mual.
Kata terakhir segera memberi efek langsung bagi Orihime; dengan cekatan, kedua tangan mungil gadis itu membekap mulutnya kuat-kuat ketika cairan lambung dirasanya sudah mencapai kerongkongannya. Dirapatkannya bibirnya sekuat yang ia bisa, kemudian sekuat tenaga ia mencoba menelan balik cairan di kerongkongannya.
Ini bukan saatnya muntah.
Ia harus segera berpikir cepat.
Ini bukan saatnya muntah.
Ia harus segera menyelidiki kondisinya!
Baru saja Orihime merasa cukup membaik, sebuah suara bass berkata, "Sudah bangun rupanya."
Saat itulah kedua mata kelabu Orihime terbuka sepenuhnya, menampakkan sorot ngeri sekaligus syok. Rasa mualnya lenyap entah ke mana, bersisa dengan gemuruh panik yang bergema di dadanya. Paras cantiknya kini memutih, berusaha terlihat tegar walau batinnya meraung pilu.
Pemuda berambut oranye itu menatapnya dengan mata cokelat yang sarat akan rasa cinta, tapi Orihime tak ingin mengakui itu
Pemuda inilah yang menculiknya.
Pemuda inilah yang memaksakan cintanya.
Pemuda ini pula yang menjauhkannya dari Ulquiorra yang ia cintai.
Dari Ulquiorra…
Cintanya, hatinya, getaran jiwa sejatinya.
Orihime merapatkan bibir seiring dengan rasa jengkel yang memuncak di dadanya.
Pemuda ini harusnya tahu tiga hal yang sudah jelas: Benar, memang ia mencintai Orihime. Entah, apa memang dulu Orihime mencintainya juga. Dan salah, bila pemuda ini mengira gadis ini masih mencintai dirinya.
Yang menyelamatkan, mengurus, dan memanjakan Orihime setelah kecelakaan kereta fatal itu adalah ULQUIORRA, bukan DIA.
Orihime menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara tangguh, "Lepaskan aku."
Pemuda itu menatapnya sesaat, lalu kembali fokus ke depan.
"Kubilang turunkan aku."
"Kita sedang berlari di hutan," jawab Ichigo pelan. "Kalau kulepas, kau akan jatuh."
"Lebih baik aku jatuh daripada kaupeluk."
"Dan mati?"
"Setidaknya aku tidak bisa menjadi milikmu," Orihime mencetuskan kalimat itu dengan berani.
Ichigo diam, tapi pelukannya pada Orihime mengerat. "Aku takkan melepasmu lagi."
Air mata sudah menggenang di hadapan dua kristal abu-abu. "Aku bukan milikmu."
"Dan bukan miliknya."
Jatuh…
Permata bening itu meluncur menelusuri garis pipi si Puteri Senja.
"Ulquiorra akan menemukanku," desisnya parau. "Ulquiorra akan menyelamatkanku."
Rahang Ichigo menguat. "Dia takkan datang."
Kemudian, Orihime menutup matanya.
Ini semua terlalu berat.
Terlalu sakit.
Terlalu mengerikan.
Namun entah bagaimana, Orihime tahu bahwa Ulquiorra akan memburu lelaki ini demi menemukannya.
Ya, pasti…
… Walau saat itu mungkin dirinya sendiri telah binasa.
#
"SAMPAI!"
Nel melompat masuk ke dalam jendela tepat ketika Grimmjow memecahkan jendela satunya. Gadis penyuka warna hijau itu mencibir akan tindakan Grimmjow, tapi tak berkomentar lebih banyak.
"Mana cewek itu?" todong Grimmjow begitu memasuki ruangan serba putih itu. Ditelusurinya setiap inci dan sudut, namun tak dijumpainya seorang gadis manis berambut bak matahari senja. Grimmjow berdecak. "Ke mana cewek itu?"
"Apa di kamar mandi?" Nel ikutan bertanya dengan polos.
Grimmjow beralih pada Ulquiorra yang berdiri membatu di depan ranjang, wajah stoiknya masih setia menemani—namun entah ada apa, Grimmjow bagai melihat serpihan kesedihan yang terpantul dari sepasang mata hijau milik Ulquiorra itu.
"Dia membawanya," desis Ulquiorra setelah selang beberapa detik yang dipenuhi keheningan.
Nel menatap Grimmjow tak mengerti.
"Dia membawanya," Ulquiorra kembali mendesis tajam seraya berjalan cepat melewati Nel dan Grimmjow, sebelum kembali melesat setelah melompati jendela.
Dua orang yang tersisa hanya bertatapan sesaat, sebelum ikut melejit keluar melalui jendela.
#
"Makanlah."
Orihime memandang semangkok mi instan yang diletakkan di lantai tepat di depan kakinya. Dipalingkannya wajahnya ke arah lain dengan cepat. "Aku tidak lapar," tolaknya pelan.
Ichigo menghela napas, lalu duduk bersila di hadapan gadis itu. "Kita sudah dekat ke Seireitei. Kalau kau tidak makan, kau bisa sakit—apalagi kau memang belum begitu sehat, kan? Makanlah."
"Aku tidak suka mi," tukas Orihime lagi, masih berusaha terdengar dingin walau nyatanya suaranya masih lembut seperti biasa.
Ichigo terkekeh. "Aku tahu, tapi hanya ada ini. Untuk sementara saja, ya? Sebentar lagi kita teruskan perjalanan ke Seireitei, mungkin sejam lagi kita sudah tiba di sana."
Orihime diam membisu.
Melihat reaksi itu, Ichigo menghembuskan napas lelah. "Maafkan aku, Orihime—aku tahu kau marah karena apa."
Tak ada sambutan.
"Aku… aku tahu tak seharusnya aku melakukan ini," Ichigo memulai, terdengar letih sekaligus sendu. "Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa melepasmu lagi. Aku tidak mau kehilangan dirimu seperti ketika kau kecelakaan—di mana aku sibuk, panik, takut akan kehilanganmu. Dan… dan aku kini menemukanmu…"
Orihime melirik Ichigo yang menunduk pasrah.
"Aku… aku tidak bisa membiarkanmu jatuh ke lelaki lain, Orihime… Aku mencintaimu…"
Orihime terkejut ketika mendapati tubuh Ichigo berguncang pelan, seolah sedang menahan tangis.
"Walau… walau kini aku bukan lagi manusia yang dulu kaucintai…" Ichigo berhenti dan menengadahkan wajahnya, membuat Orihime tersentak ketika mendapati lelaki itu mengeluarkan air mata dari kedua permata cokelatnya. "Walau kini aku bukan lagi manusia, aku tetap mencintaimu, Orihime…"
Tidak ada lagi yang bisa dikatakan Orihime setelah itu.
#
"Tunggu, Ulquiorra!" Nel berteriak seraya mempercepat laju larinya. Matanya terpatri pada sosok Ulquiorra yang tengah melesat beberapa meter di depannya. "Ulqui! Ulqui, hei! Ada apaan sih sebenarnya? Cewek itu mana?"
Tak ada jawaban.
Baru Nel hendak berteriak lagi, Grimmjow melesat menduluinya seraya berkata, "Diam, Nel, berisik."
"Kau juga! Kau ngerti tapi nggak ngasih tahu aku!" Nel mengomel. "Ada apa sebenarnya sih? Aku jadi merasa paling bego, tahu!"
Tak mempedulikan rengekan Nel, Grimmjow menyusul kecepatan Ulquiorra dan dalam sekejap mereka telah bersisian. "Ini rute arah Rukongai," katanya pada pemuda bermata hijau, "kau mau menemui siapa?"
Ulquiorra tetap diam, fokus pada sesuatu tak kasat mata.
Grimmjow berdecak kesal. "Ini sama saja menyodorkan harga diri, tahu!"
"Kalau keberatan pulang saja," akhirnya suara es nan datar milik Ulquiorra terdengar.
"Bukan itu masalahnya! Kau mau minta bantuan siapa?"
"Byakuya, siapa lagi?"
"Dan antek-anteknya? Kau sampai mau bertemu adiknya? Mengesankan."
Tahu-tahu Nel melesat mendului mereka, parasnya tertekuk dan bibirnya mengerucut. "Kau mau ke tempat Byakuya? Bukankah kau tahu ada Rukia di sana?"
"Lalu kenapa?" debat Ulquiorra cuek. "Aku tidak punya urusan dengan si Pendek itu."
Grimmjow terbahak-bahak sementara Nel memutar bola mata kelabunya dengan malas.
"Lalu setelah ini apa? Kenapa tidak minta tolong Tia saja?" Nel kembali bertanya.
"Tia tahu apa yang harus ia lakukan—aku sudah mengiriminya SMS. Sekarang kita geledah seisi Karakura dan Las Noches dulu."
Grimmjow dan Nel kembali saling bertukar pandagan—pasrah akan apa yang bakal terjadi nanti.
#
Seorang wanita berambut pirang menoleh ke belakang ketika dirasanya beberapa orang memasuki ruangan pribadinya. Dengan sepasang mata hijau terang, ditatapnya dua orang yang memasuki ruangannya dengan santai itu.
"Aku tidak menemukannya di mana-mana, Harribel-sama," ujar seorang gadis berambut biru tua pendek dengan bola mata berbeda warna. "Sepertinya gadis itu belum sampai kemari."
Tia—si pirang cantik itu—mengangguk tak kentara. "Jangan kendurkan pengawasan, Apache. Minta Ggio untuk tetap waspada."
Gadis bernama Apache itu mengangguk cepat dan segera berlalu dari ruangan itu, menyisakan Tia dan seorang wanita muda berambut oranye panjang.
"Permintaan kekanakan Ulquiorra lagi?" selidik wanita berambut oranye itu.
Tia tak menjawab.
"Harusnya kau tegaskan padanya untuk fokus pada kewajiban—bukan hanya pada cewek itu saja."
"… Kau tahu dia takkan bisa diberitahu, Ran."
Ran mengangkat bahu. "Setidaknya kita sudah mencoba."
"Selama kita 'bersaudara' hingga hari ini, aku belum pernah mendapati Ulquiorra mematuhi perintah orang lain selain Ayah."
Ran melempar tatapannya pada jendela. "Dia sudah mati."
"Karena itu, kubilang takkan ada yang bisa memberitahu Ulquiorra lagi."
Helaan napas terdengar samar, seolah berniat menyetujui pernyataan itu.
#
Suara gemersik pepohonan menjadi latar utama 'perjalanan' Orihime kali ini.
Gadis itu memejamkan mata, berniat untuk melepaskan beratnya beban visual dalam kondisinya kini, namun gagal. Ternyata beban hati jauh lebih mengerikan daripada beban visualnya.
"Sebentar lagi kita sampai, Orihime," ujar Ichigo, terdengar senang bukan kepalang karena tujuan mereka—atau tujuannya seorang—tinggal selangkah lagi.
Orihime tak mengindahkan ucapan Ichigo, pikiran dan tatapannya tetap setia pada objek abstrak yang terlihat seiring begitu cepatnya lari Ichigo. Entah mengapa, gadis itu merasa tak ada gunanya lagi berontak—bukankah akan lebih bijaksana bila ia diam dan menunggu Ulquiorra datang? Yah, selama Ichigo tak menyentuhnya dengan kurang ajar, rasanya pemberontakan sia-sia tak dibutuhkan.
Tetapi tiba-tiba Ichigo berhenti di atas sebuah dahan pohon terdekat. Orihime bahkan mampu mendengar detak jantung lelaki itu kini laksana gemuruh. Ditengadahkannya kepala senjanya, lalu dilihatnya sepasang mata hazel yang kini tengah membundar sempurna.
Orihime mengikuti arah pandangan Ichigo dan tak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk merasakan apa yang Ichigo rasakan.
Segan.
Bingung.
Panik.
Kalut.
Dan lebih dari semua itu…
… takut.
Rasa takut yang sangat amat, hingga bahkan kontak visual saja seakan mampu mengoyak pikiran mereka.
Orihime menelan ludah dengan susah payah—kini otaknya seakan membatu di tempat, tak ingin lagi berkompromi dengan seluruh indera tubuhnya.
Dan hanya satu ucapan yang mampu dijeritkannya melalui batinnya,
'Ulquiorra… tolong aku…'
#
Tiga sosok mendarat mulus di depan sebuah manor tradisional yang terlihat megah laksana istana sungguhan.
Nel, Ulquiorra, dan Grimmjow berdiri dengan mimik berbeda-beda di depan markas utama Rukongai—Nel dengan wajah serius, Ulquiorra dengan wajah datarnya, dan Grimmjow yang jelas terlihat bosan.
Tahu-tahu dua bayangan mendekat dan telah berhadapan dengan mereka dalam hitungan detik. Nel mengerucutkan bibir ketika melihat dua pria yang berdiri menghadang mereka—Ikkaku dan Renji.
"Lama tidak terlihat, kupikir kalian sudah mati," sapa Ikkaku dengan seringai brutalnya.
"Kalau yang kalian cari itu Rangiku, dia tidak ada," imbuh Renji, terkesan malas meladeni tiga orang di hadapannya.
Ulquiorra maju selangkah. "Pertemukan aku dengan Byakuya. Sekarang."
"Ada urusan apa?" tanya Renji, suaranya naik satu oktaf.
Ulquiorra menggertakkan gigi dengan jengkel. "Pertemukan saja kami. Ini DARURAT."
Renji mengernyit melihat sikap tak lazim yang dipertontonkan Ulquiorra, tapi kemudian suara feminin yang cempreng menginterupsinya, "Pertemukan saja mereka! Kenapa tidak?"
Lima kepala menoleh bersamaan ketika seorang gadis kecil berambut pink muncul dari balik pintu gerbang raksasa itu.
"Yachiru," gumam Nel pelan.
Yachiru mengangguk ceria pada Nel, lalu menatap Renji. "Ken-chan dan yang lain sedang tidak ada kerjaan! Ayo suruh mereka masuk!"
Ikkaku dan Renji sama-sama menunjukkan wajah kusut.
"Yachiru-san benar," imbuh seorang wanita berambut hitam panjang yang dijalin rapi. Ia menatap Ulquiorra, namun perkataannya ditujukan bagi dua rekan lelakinya, "Byakuya-sama dan para petinggi lainnya sedang menanti pria ini."
Ikkaku dan Renji menyerah dan memilih mundur untuk membukakan gerbang, sementara Yachiru segera berlari-lari riang memasuki pekarangan 'istana' itu.
Tepat sebelum Ulquiorra melangkah masuk, gadis bernama Lisa itu membungkuk hormat dan berujar,
"Selamat datang di Gotei 13."
Yuhuuuu! Selesai chapter 4! Gimana? Berkesan makin misterius nggak? Hohoho! Okay, say anything (flame juga boleh deh) by review! XD
