Warning : Lemon (di bagian paling akhir). Typo. Alur gaje mungkin.
.
.
Sasuke terbangun dari tidurnya saat dia mendengar suara mesin penyedot debu di dekatnya. Dia membuka matanya dengan perlahan dan melihat sekeliling ruangan dengan mata yang masih setengah terpejam. Matanya masih sulit untuk dibuka tapi bunyi mesin penyedot debu itu membuatnya tidak bisa melanjutkan tidur lagi.
Mesin penyedot debu dimatikan sesaat kemudian dan keheningan pagi menyambut Sasuke.
"Ma-maaf, Sasuke-kun.. Sudah membangungkanmu.." suara Sakura terdengar sedetik kemudian.
Sasuke menghela napas panjang sebelum akhirnya terduduk dari tidurnya. Sebuah selimut tebal yang menutupi tubuhnya langsung terjatuh ke lantai.
Untuk beberapa saat, Sasuke hanya duduk diam di tempatnya dan kepalanya sedang sibuk mengingat-ingat sesuatu. Menyadari kalau dia bangun tidur di sofa di ruang tengah, pastilah dia tertidur saat merebahkan dirinya tadi malam. Sasuke menatap selimut tebal yang sekarang teronggok di bawah sofa. Dahinya berkerut? Dia lalu melihat Sakura yang sedang membereskan mesin penyedot debunya. Pasti dia yang melakukannya. Sasuke mengacak rambutnya yang sudah berantakan.
"Sasuke-kun.. Maaf, aku ketiduran tadi malam.. Aku juga memakai kamarmu.." kata Sakura, dengan raut wajah bersalah.
"Aku yang membawamu ke sana.." kata Sasuke singkat.
"Maaf, sudah merepotkanmu.." kata Sakura.
Sasuke tidak menjawab dan hanya menguap lebar.
"Sasuke-kun.. Kau ingin makan apa untuk sarapanmu pagi ini?" tanya Sakura kemudian.
Sasuke terdiam dan seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Bisa kau buatkan aku salad?" tanyanya dengan nada datar.
"Salad? Hanya salad? Bukankah kau harus kerja hari ini? Kenapa hanya makan itu?" Sakura menatap Sakura dengan heran.
"Aku tidak ke kantor hari ini. Ada yang harus aku selesaikan di rumah. Aku juga masih kenyang karena semalam ditraktir rekanku makan yakiniku. Jadi, sekarang aku ingin makan yang ringan-ringan.." kata Sasuke.
"Ah, baiklah kalau begitu.." sahut Sakura. Dia berlalu dari hadapan Sasuke dan berjalan menuju dapur dengan membawa mesin penyedot debu.
"Ah, iya.. Tambahkan banyak tomat di dalamnya.." ujar Sasuke.
Sakura tersenyum dan mengangguk.
Sasuke beranjak dari tempatnya duduk.
"Ah, Sasuke-kun.. Aku sudah memanaskan air untukmu.." kata Sakura.
Sasuke berjalan melewatinya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Kemejanya sudah penuh dengan lipatan karena dipakai tidur semalam. Saat kakinya tiba di ujung tangga, Sasuke menoleh kepada Sakura.
"Mau menemaniku?" tanyanya dengan senyum samar.
Sakura terkejut dengan pertanyaannya. Wajahnya langsung memerah dan dia buru-buru berlalu dari hadapan Sasuke. Sasuke tersenyum puas.
"Dasar.." gumam Sasuke pelan seraya kembali tangga menuju kamarnya.
.
.
.
Meja di ruang tengah itu sudah penuh berkas beberapa saat kemudian. Sasuke sedang mengamati data yang diberikan oleh Shikamaru di laptopnya. Dia baru saja menyelesaikan mandi air hangatnya dan sekarang sudah mulai berkutat dengan data-data yang baru saja diterimanya. Rencananya, Shikamaru akan datang ke sini siang ini untuk membahas ini.
Saat Sasuke sedang membuka file berisi data-data itu, Sakura datang ke ruang tengah dengan membawakan menu pesanannya. Salad dan jus tomat.
"Kau benar-benar menyukai tomat, ya, Sasuke-kun?" tanya Sakura seraya meletakkan menu itu di atas meja Sasuke.
Sasuke mendongak dari laptopnya dan menatap Sakura sekilas.
"Begitulah..." sahutnya singkat seraya kembali menatap laptopnya. Dia menutup file-nya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa seraya menghela napas panjang.
Saat Sakura mulai beranjak dari tempatnya, Sasuke menahannya.
"Kau.. tetaplah di sini.." katanya kemudian. Merasa aneh dengan kata-katanya barusan dan karena Sakura juga melihatnya dengan pandangan bingung, Sasuke segera meralatnya. "Maksudku, bisakah kau menemaniku sarapan pagi ini?" tanyanya kemudian.
"Tapi aku sudah sudah menyelesaikan sarapanku dan akan mengerjakan pekerjaan yang lain.." jawab Sakura.
"Bukankah kau disewa untuk menjadi perawatku dan bukannya pelayan di rumah ini? Kau tahu apa tugas babysitter kan? Jadi sekarang, temani aku di sini. Lagipula, kita belum pernah terlibat pembicaraan yang panjang sejak kau bekerja di rumah ini.. Duduklah di sini.." Sasuke menepuk sofa di sebelahnya.
Sakura menatapnya dengan ragu.
"Kenapa? Apa aku terlihat menakutkan? Apa aku terlihat akan menerkammu?" tanya Sasuke.
Sakura menggelengkan kepalanya. Lalu dengan sikap kikuk, dia akhirnya duduk di sebelah Sasuke. Sebenarnya Sasuke juga tidak terbiasa berdekatan dengan wanita manapun kecuali ibunya. Sasuke pernah punya pacar beberapa kali, tapi dia selalu diputus dengan tidak terhormat karena gadis-gadis itu menuntut sesuatu yang lebih pada Sasuke. Saling menggenggam tangan saat kencan, mengecup kening pacarnya saat kencan, jadwal kencan harus selalu teratur dan mereka berdua harus punya tempat favorit.. bahkan membayangkannya saja sudah membuat Sasuke geli. Baginya, semua itu konyol. Dia pikir, menyukai wanita, mengatakan perasaannya pada mereka, memberi mereka hadiah kesukaan dan menghubungi mereka setiap malam itu sudah cukup. Tapi ternyata tidak. Dan gadis-gadis itu langsung memutuskannya karena dia tidak romantis. Lalu mereka mulai menyebarkan rumor kalau dia adalah laki-laki tampan yang tidak romantis. Popularitas Sasuke mulai menurun. Dan rumor itu pun tambah menjadi-jadi saat mereka memergokinya sedang memeluk Itachi saat kakaknya itu baru pulang dari perjalanan bisnisnya. Mereka menyebutnya gay. Yang benar saja!
Sasuke memilih mengabaikannya. Dan sampai sekarang tidak ada gadis yang berani mendekatinya. Kecuali rekannya di kepolisian.
Dan sekarang, duduk berdua saja dengan Sakura di rumahnya yang sepi ini, entah kenapa membuatnya canggung sendiri. Dia hanya ingin mengajak gadis itu mengobrol. Sudah lama dia tidak punya teman mengobrol seorang gadis.
"Jadi... Darimana asalmu?" tanya Sasuke, membuka keheningan ganjil yang menyergap mereka.
"Perfektur Tottori.." sahut Sakura.
"Apa? Jauh sekali.. Kenapa kau bisa sampai di sini?" tanya Sasuke kaget.
"Mm, sebenarnya.. Aku tinggal di Tottori dengan nenekku. Kedua orangtuaku sudah meninggal dan aku hanya tinggal berdua dengan nenekku di sana. Tapi saat aku mendapat pekerjaan di sini, aku terpaksa harus meninggalkan nenekku di sana sendirian.." jelas Sakura.
"Apa tidak apa-apa meninggalkannya seorang diri di sana?" tanya Sasuke lagi. Sakura tersenyum.
"Nenekku wanita yang kuat. Dia bahkan mengurus peternakannya seorang diri sepeninggal kakekku. Maksudku, dia punya pekerja, tentu saja. Tapi mereka tidak akan bisa melawan semangat juang nenekku.." jawab Sakura.
Sasuke menatapnya.
"Jadi kau tinggal di sini sendirian?" tanyanya lagi.
Sakura mengangguk.
"Iya. Aku tinggal di apartemen sederhana di pinggir kota.." jawabnya.
"Kau tidak apa-apa tinggal sendirian seperti itu?" Sasuke menatap Sakura dengan tatapan heran.
"Sebenarnya.. terkadang aku juga merasa takut kalau pulang malam. Karena jalanan di sekitar apartemenku banyak pemabuk yang sering berkeliaran kalau malam hari.." kata Sakura.
Sasuke menatapnya untuk beberapa saat. Dia ragu untuk mengatakan ini pada gadis di depannya ini.
"Apa kau sudah punya pacar?" tanyanya kemudian.
Wajah Sakura kelihatan langsung memerah. Entah sudah berapa kali Sasuke membuat wajahnya memerah seperti ini.
"Aku.. tidak punya pacar.." jawab Sakura dengan suara pelan.
Dan entah kenapa mendengar kenyataan bahwa gadis ini belum punya kekasih membuat Sasuke sedikit lega.
"Kalau begitu, tinggallah di sini.." ujarnya begitu saja.
Mata emerald Sakura langsung menatapnya dengan pandangan kaget. Sasuke sendiri juga kaget dengan perkataannya barusan.
"EH?!" Sakura berkata dengan setengah berseru. Sasuke langsung berubah sedikit kikuk.
"Maksudku.. Selama kau bekerja di sini, tinggallah di sini. Aku tidak bermaksud apa-apa.. Hanya saja.. Yah, aku tidak bisa mengurus rumah sebesar ini sendirian. Dan sejak kau ada di sini, rumah ini jadi rapi lagi seperti saat ibuku masih hidup. Jadi.. Aku akan membayar uang lebih kepada perusahaan tempatmu bekerja kalau kau mau.." kata Sasuke cepat-cepat.
Sakura masih menatapnya dengan tatapan kaget untuk beberapa saat. Tapi lalu gadis itu tertawa geli melihat Sasuke.
"Kau lucu sekali, Sasuke-kun.." katanya di sela-sela tawanya.
Sasuke menatapnya dengan pandangan bingung.
"Apanya yang lucu?" tanyanya kemudian.
"Apa kau baru saja meminta seorang gadis untuk tinggal seatap denganmu?" Sakura menatapnya geli.
"Eh? Tidak.. Maksudku.." Sasuke tidak meneruskan kata-katanya.
"Pendekatan yang bagus, ototou.. Kau seperti baru saja melamar gadis itu.." Itachi tiba-tiba muncul di belakangnya. Kepalanya dia sandarkan pada sandaran sofa sehingga sekarang berada di antara kepala Sasuke dan Sakura.
Wajah Sasuke kini memerah setelah mendengar perkataan kakaknya barusan. Tapi dia mengabaikannya.
"Aku tidak bisa melakukan semua pekerjaan rumah ini sendirian. Jadi.. Aku harap kau bisa membantuku.." lanjut Sasuke. Mata hijau emerald Sakura masih menatapnya dengan membulat. Dan baru sekarang Sasuke menyadari kalau mata itu begitu indah.
"Seharusnya kau berterus terang saja padanya.. Padahal aku senang kalau punya adik ipar sepertinya. Dia cantik sekali. Bayangkan saja kalian punya anak perempuan secantik dia. Lagipula, kau tidak bisa hidup membujang selamanya seperti ini.." Itachi masih meneruskan kalimatnya.
"Diamlah.." desis Sasuke pelan, menahan kekesalannya.
Pandangan Sakura langsung berubah ketika dia melihat Sasuke tampak terganggu oleh sesuatu. Sasuke terpaksa melempar senyum kepada gadis di depannya untuk meyakinkan kalau semua baik-baik saja.
"Aku tidak bermaksud apa-apa.. Aku hanya butuh bantuanmu. Kalau kau keberatan, tidak apa-apa. Aku tidak memaksamu.." kata Sasuke kemudian.
Sakura kelihatan ingin menjawab sesuatu tapi ada keraguan dalam bola matanya. Kedua tangannya memegang erat nampan yang dipegangnya.
"Sebenarnya aku.. AH!" Sakura tiba-tiba terpekik kesakitan saat jari telunjuknya tiba-tiba tidak sengaja menekan sudut nampan berbentuk persegi yang cukup runcing.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke kaget. Sakura mengibaskan jarinya.
"Tidak. Tidak apa-apa. Hanya sedikit sakit.." jawab Sasuke.
"Kau dengar itu, ototou? Pekikannya tadi.. Bayangkan saat dia menjerit dan mendesahkan namamu di ranjang.." suara Itachi kembali merusak suasana. Tapi kalimatnya yang terakhir ini berhasil membuat dada Sasuke berdesir cepat.
"Sial.." makinya. Tangannya sudah terangkat untuk memukul wajah kakaknya yang mulai tertawa penuh kemenangan di sebelahnya. Tapi begitu tangannya mengenai wajah Itachi, Sasuke hanya memukul ruangan hampa.
"Mencariku?" Itachi tiba-tiba sudah muncul lagi dan kini duduk di samping Sakura.
Sakura menatap Sasuke dengan wajah cemas.
"Sasuke-kun.. Kau tampak.. aneh. Wajahmu memerah dari tadi. Apa kau sakit?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Tidak. Aku baik-baik saja.." sahut Sasuke.
"Tapi kau tidak tampak baik-baik saja.." kata Sakura. Dahinya berkerut dan dia masih menatap Sasuke dengan tatapan khawatir.
"Aku baik-baik saja, Sakura.." kata Sasuke, mencoba untuk meyakinkannya.
"Apa benar begitu?" suara Itachi mulai terdengar menggodanya lagi. Sialan, Itachi! Sasuke berkali-kali memaki kakaknya dalam hati.
Detik berikutnya Sasuke melihat tangan Itachi yang sedari tadi ada di dalam kantong bajunya, tiba-tiba terulur ke arah Sakura. Sasuke mengerutkan dahinya dan mencium adanya ketidakberesan dari perilaku kakaknya itu. Saat Itachi berada tepat di depan Sakura dengan posisi aneh, Sasuke mulai menyadari sesuatu. Secara spontan dia menggerakkan tangannya untuk menghentikan tangan kakaknya yang seolah ingin meremas dada gadis itu. Sebenarnya dia hanya ingin menampik tangan kakaknya agar menjauh dari dada Sakura. Sebenarnya dia melakukan itu untuk kebaikan gadis itu. Sebenarnya.. Kalau dia sadar bahwa tubuh Itachi itu hanya berupa gumpalan plasma padat yang bisa tembus pandang, dia pasti tidak akan melakukannya. Tapi dia terlanjur melakukannya dan—
GREB!
Sasuke tidak menangkap tangan Itachi, tapi dia merasakan benda kenyal di tangannya.
Matanya terbelalak begitu dia sadar kalau tangannya sekarang berada tepat di dada Sakura. Sakura menatapnya dengan wajah kaget. Begitu Sasuke menarik tangannya dia segera menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Wajah mereka berdua sama-sama merona merah karena malu.
"Ma-maafkan aku, Sakura.. Aku benar-benar tidak bermaksud.. Aku tidak sengaja.. Aku bukan laki-laki seperti itu.." kata Sasuke cepat-cepat, dengan nada penuh rasa bersalah.
Sakura mengalihkan wajahnya dari Sasuke. Kali ini wajah gadis itu benar-benar memerah saking malunya, seakan seluruh darahnya naik ke kepalanya.
"Aku mengerti.." sahut Sakura seraya beranjak dari tempat duduknya dan berlalu dari hadapan Sasuke.
Sasuke mendengar suara tawa Itachi yang sudah meledak sedari tadi. Dia melempar pandangan kesal ke arah kakaknya itu. Kalau dia bisa, dia akan memukul wajah Itachi berkali-kali sampai laki-laki itu babak belur. Tapi percuma saja karena dia bahkan tidak bisa menyentuh tubuhnya.
"Kau lucu sekali, Sasuke-kun!" kini Itachi tertawa sambil memegang perutnya dan berguling di lantai.
"Sebenarnya apa maumu?" sergah Sasuke kesal.
"Tidak ada.. Aku mengujimu. Apa rumor itu benar kalau kau tidak tertarik sama sekali dengan seorang wanita.." jawab Itachi di sela-sela tawanya.
Sasuke mendecih kesal seraya beranjak dari sofa. Dia harus minta maaf pada Sakura.
.
.
.
Menjelang siang, sebuah mobil masuk ke perkarangan rumah Sasuke dan parkir di samping mobil Sasuke. Sasuke sama sekali tidak beranjak dari pekerjaannya karena dia tahu siapa yang datang. Dia sudah meminta pada Sakura untuk menyiapkan makanan kalau Shikamaru datang.
Sasuke mendesah keras. Dia teringat bagaimana dia harus meyakinkan Sakura kalau dia benar-benar tidak sengaja tadi. Mendapatkan permintaan maaf dari gadis itu tidak terlalu sulit. Entah kenapa Sakura langsung memaafkannya begitu Sasuke meminta maaf padanya dengan wajah memelas.
Sasuke mendengar pintu ruang depan digeser terbuka. Dia tahu Sakura yang membukakan pintu rumahnya karena dia mendengar suaranya yang lembut menyambut siapa yang datang. Sasuke tahu kalau reaksi Shikamaru saat melihat Sakura pasti hanya mendecih pelan dan langsung berjalan kemari untuk menemuiku. Tapi saat aku mendengar ada suara lain yang mengikuti suara Sakura, aku mulai curiga.
"Siapa kau?!" suara seruan seorang gadis yang terdengar kaget.
Suara ini..
Sasuke segera beranjak dari duduknya dan berjalan dengan tergesa menuju pintu depan.
Begitu sampai pintu depan dan melihat siapa yang sekarang berdiri di pintu depan, dia menghela napas panjang.
"Sasuke-kun!" seorang gadis berambut panjang dan berwarna merah langsung masuk rumah dan berlari ke arah Sasuke. Lengannya langsung menggelayut manja di lengan kekar Sasuke.
Sasuke mengernyitkan dahi saat gadis itu berkali-kali membenarkan letak kacamatanya sambil tetap menggelayut manja pada Sasuke.
"Minggir.. Karin..." Sasuke berusaha mendorong tubuh Karin untuk lepas dari lengannya.
"Aku sudah lama tidak bertemu denganmu.. Kau ke mana saja?" tanya Karin dengan nada manja.
Sasuke menatap Shikamaru dengan pandangan menuntut, meminta penjelasan darinya. Shikamaru hanya mengangkat bahu dengan wajah mengantuknya.
"Dia punya ancaman yang lebih mengerikan dibanding ancamanmu," jawabnya acuh seraya berjalan melewati Sasuke menuju ruang tengah.
"Yang benar saja! Karin, menyingkirlah.. Aku tidak bisa berjalan kalau kau seperti ini terus.." kata Sasuke seraya terus berusaha melepaskan tangan Karin dari lengannya.
Tapi gadis itu bersikeras tidak mau melepaskan dirinya.
Sasuke menghela napas lelah. Lalu pandangannya beralih menatap Sakura yang masih berdiri di depan pintu. Gadis itu awalnya melihat pemandangan di depannya dengan pandangan tidak suka, tapi begitu Sasuke menatapnya, dia tersenyum ramah pada mereka berdua.
"Aku akan ke dapur dan membuatkan kudapan.." kata Sakura seraya berjalan melewati mereka.
"Siapa gadis itu?" tanya Karin, dengan nada tak suka.
"Bukan urusanmu.." kata Sasuke.
"Apa kau tinggal berdua dengannya?" tanya Karin.
"Iya.." sahut Sasuke singkat.
Jawabannya itu tampaknya membuat gadis berkacamata yang sudah lama tergila-gila padanya itu melemas. Pegangan di lengannya mulai mengendur dan Sasuke segera melepaskan lengannya dari gadis itu. Dia berbalik dan berjalan meninggalkan Karin dengan sikap acuh.
.
.
.
"Jadi, bagaimana analisamu?" tanya Sasuke pada Shikamaru.
"Sulit mengumpulkan informasi dari orang-orang yang saat itu berada di sekitar bank. Jadi aku baru mengumpulkan info dari beberapa nasabah yang saat itu ada di sana dan melihat kejadiannya langsung. Beberapa dari mereka ada yang tidak ingat detail kejadiannya karena pada saat peristiwa perampokan terjadi, mereka terlalu ketakutan untuk mengingat sesuatu. Tapi ada beberapa dari mereka yang mengingat beberapa hal penting. Para nasabah itu mengatakan kalau pelaku perampokan itu berjumlah enam orang dan mereka semua memakai pakaian dan topeng yang sama. Mereka juga membawa senjata api masing-masing yang diarahkan pada para nasabah. Dan yang menyulitkan adalah, para perampok itu menggunakan semacam pemalsu suara, jadi suara mereka kedengaran aneh.." jelas Shikamaru panjang lebar.
Sasuke menatapnya dengan tatapan tajam.
"Apa tidak ada yang lain?" tanyanya.
"Sejauh ini belum.. Kalau kau mengharapkan aku mendapatkan ciri-ciri dari perampok yang menghampiri kakakmu sesaat sebelum dia dibawa ke rumah sakit waktu itu, aku belum mendapatkannya. Saksi mata yang aku temui hampir semua mengatakan kalau mereka tidak mengingat kejadian itu.." kata Shikamaru.
Dia membuka lembaran-lembaran yang berisi hasil analisanya setelah mewawancari para saksi.
Matanya sedikit terbuka lebar saat dia membuka lembaran terakhir.
"Ah.. Aku ingat ada seorang saksi yang mengatakan kalau dia melihat dua dari komplotan perampok itu saling beradu argumen dengan keras. Saksi itu mengatakan kalau sesaat setelah salah seorang dari mereka menembak Itachi, ada seorang dari kawanan perampok itu yang menghampiri tubuh Itachi. Mereka berbicara dengan nada yang sangat cepat sekali. Dan karena suasana saat itu benar-benar ramai dan kacau, saksi tidak bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Dia hanya mendengar mereka hampir bertengkar dan salah satu dari mereka berkata 'dia akan mati!' sebelum akhirnya menghampiri tubuh Itachi. Hanya itu yang dia lihat.." ujar Shikamaru panjang lebar.
Sasuke mengerutkan dahi dan menatap Shikamaru dengan tatapan serius.
"Apa itu artinya.. sebenarnya mereka tidak berencana menembak Itachi?" katanya kemudian.
Shikamaru mengangguk dengan agak ragu.
"Entahlah.. Kalau melihat dari cara mereka melakukan perampokan itu, mereka memang tidak berencana untuk membunuh siapapun. Mungkin mereka hanya menggertak para sandera dan juga polisi dengan menggunakan senjata itu. Aku perlu melihat rekaman lainnya.." kata Shikamaru.
"Masih ada rekaman lainnya?" Sasuke membelalakkan matanya.
"Masih. Saat ini sedang diurus pihak bank. Besok mungkin sudah ada di kantor. Datanglah ke kantor. Cuti berkabungmu sudah selesai.." kata Shikamaru.
"Tanpa kau suruh pun aku akan datang.." jawab Sasuke serius. Dia masih memikirkan perkataan Shikamaru baru saja. Memang benar ada yang aneh di balik kematian kakaknya itu.
Karin yang menatap wajah Sasuke yang mengeras dan sedang berpikir dengan serius itu, tambah mengaguminya. Sasuke tampak seperti Dewa Tampan yang diutus dari langit untuk memikat hati gadis siapa saja. Tapi wajahnya langsung berubah cemberut begitu dia melihat Sakura muncul di ruangan itu sambil membawakan nampan berisi makanan dan minuman.
"Silakan dinikmati kudapannya.." kata Sakura ramah. Setelah meletakkan nampan itu, dia langsung berlalu dari ruang tengah dan kembali ke dapur.
"Siapa dia, Sasuke?" tanya Shikamaru dengan raut wajah penasaran.
Sasuke membuka mulutnya untuk menjawab kalau dia adalah babysitter. Tapi mengingat hanya dia yang tinggal di sini dan tidak ada anak kecil yang harus dirawat seorang babysitter di sini, pasti akan aneh kalau mengatakan pada mereka dia adalah babysitter-nya.
"Pelayan baru.." jawab Sasuke singkat.
"Pelayan? Sejak kapan kau menyewa pelayan? Pantas saja sekarang pakaianmu sudah rapi dan wangi lagi.." kata Shikamaru.
"Cih.. Kenapa kau harus menyewa seorang pelayan wanita? Padahal kalau kau minta padaku, aku akan melayanimu dengan suka rela. Siang dan malam penuh.." ujar Karin dengan nada menggoda.
Sasuke hanya membuang napas pelan.
"Bukan aku yang memanggilnya. Tapi kakakku.." kata Sasuke kemudian.
"Itachi-san?" Shikamaru menatap Sasuke dengan pandangan bingung.
"Ceritanya panjang. Aku sedang malas menjelaskannya padamu. Jadi, makan saja makanannya. Tenang saja, tidak ada racunnya. Masakan Sakura enak sekali.." kata Sasuke.
Shikamaru tersenyum penuh arti.
Tapi Karin kelihatan sekali tidak suka dengan kata-kata terakhir Sasuke barusan.
.
.
.
Sasuke ingin sekali memejamkan matanya untuk menikmati setiap sentuhan yang menyentuh tubuhnya saat ini. Tapi dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya untuk melihat pemandangan indah yang sedang berlangsung di depannya ini.
"Ahhh! Ah, Sasuke-kun! Oh.. Kami-sama.. Jangan berhenti.. Ahh!"
Sasuke melepaskan desahannya saat dia melihat tubuh Sakura yang sudah mengkilap karena peluh keringat di bawahnya. Mata hijau emerald Sakura menatapnya dengan setengah terpejam dan bibirnya tak henti-hentinya mengeluarkan desahan nikmat seraya meneriakkan namanya. Kedua tangan Sakura yang ada di atas kepalanya mencengkeram sprei ranjang Sasuke dengan begitu erat.
"Ahhh... Mmmph.. Sasuke-kun! Kumohon.. Lebih cepat.. Kami-sama.. Ohhh!" Sakura semakin kuat mencengkeram sprei di atasnya saat dia merasakan organ intim Sasuke mendorong ke dalam tubuhnya dengan lebih cepat dan lebih dalam.
Mendengar desahan Sakura yang meneriakkan namanya, membuat Sasuke seperti kehilangan kontrol dan semakin mempercepat pinggulnya untuk menghujamkan organ intimnya ke tubuh Sakura. Meskipun napas mereka tersengal dan mereka merasa lelah dengan semua ini, tapi dorongan hasrat mereka memaksa mereka untuk tidak berhenti.
"Sakura.. Ah.. Jangan meremas.. terlalu kuat.." desah Sasuke seraya mempercepat gerakannya. Dia mendengar Sakura semakin gila meneriakkan namanya berulang-ulang sementara dia tersiksa dengan kenikmatan yang seperti tidak ada ujungnya ini.
Sasuke seolah tidak ingin berhenti sampai dia merasa puas.
"Oh, Sasuke-kun.. Aku sudah.. AHHHH!" Sakura memeluk tubuh Sasuke dengan kedua tangannya dengan begitu erat saat dia merasakan tubuhnya meledak hebat. Tapi itu tidak menghentikan Sasuke dan malah membuat Sasuke semakin liar untuk menghujam tubuh wanita itu lebih dalam.. lebih dalam lagi.. Terus.. Lebih dalam.. Oh, Kami-sama..
"Sudah saatnya pergi bekerja, Ototou.."
Suara Itachi yang terdengar tepat di samping ranjang Sasuke membuat Sasuke kaget setengah mati. Sasuke melihat Itachi sudah berdiri di samping ranjangnya dan menatapnya dengan senyum khasnya. Tentu saja itu membuat Sasuke kaget dan langsung melepaskan diri dari Sakura. Tapi sialnya, tubuhnya langsung jatuh dari tempat tidurnya.
BRAK!
"Bangun, Sasuke-kun!"
Sasuke membuka matanya dengan kaget. Dadanya berdegup begitu cepat saat matanya melihat langit-langit kamar Itachi di atasnya. Sasuke mengatur napasnya yang tersengal.
Dia melihat sekeliling ruangan dan baru menyadari kalau dia baru saja bermimpi. Sasuke mendecih pelan saat dia merasakan organ di pangkal pahanya masih menegang dan dia merasa celana dalamnya basah di bagian itu.
Sasuke mengumpat kesal.
"Sial... Ini gara-gara ucapan Itachi kemarin pagi.." desisnya.
"Sepertinya kau baru saja bermimpi indah, Ototou.." Itachi yang duduk di samping ranjang berkata dengan nada menggoda.
Sasuke tidak menggubrisnya.
"Kau mendesahkan nama Sakura berkali-kali dalam tidurmu.." kata Itachi.
"Diamlah. Ini semua gara-gara kau.." sergah Sasuke kesal.
"Kau tidak akan bermimpi seperti itu kalau kau memang tidak memikirkannya.. Dasar, adik yang mesum.. Ckckck.." Itachi menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sasuke mengabaikannya dan beranjak dari tempat tidurnya. Dia melirik jam weker yang ada di meja di samping ranjang. Sudah jam tujuh pagi rupanya.
Sasuke segera melepas baju tidurnya dan menggantinya dengan handuk mandi sebelum akhirnya keluar dari kamarnya.
Saat dia berjalan menuju kamar mandi, dia berpapasan dengan Sakura yang sedang mengepel lantai rumahnya.
Sakura tersenyum manis padanya.
"Selamat pagi, Sasuke-kun.." katanya.
Sasuke tiba-tiba teringat dengan mimpinya baru saja dan wajahnya langsung memerah. Lebih parahnya lagi, organ di pangkal pahanya kembali menegang.
"Hn.." sahutnya singkat seraya berlalu dan segera menuju kamar.
"Itachi sialan!" umpatnya sambil menutup kamar mandi dengan keras.
.
.
.
TBC.
Hahahahaa! Entah kenapa saya jadi suka sekali bikin fic lemon versi Sasusaku. Ya ampuun.. -,-
Karena support dan review kalian, saya akhirnya meneruskan fic ini.
Makasih dukungannya.
