Halo lagi dan lagi!
Urmmm…fic ini sebenarnya mau saya update bersamaan dengan The Happiness For You, TAPI… dengan begonya saya lupa memasukkan fic ini ke flashdisk. Saa baru sadar setelah saya mau mempublish di warnet. Hehehe maaf…
Terus.. kemarin saya rencana mau update fic ini, TAPI (lagi) jaringan di warnet keburu jelek gara-gara saya fokus cari video cowok-cowok Bakaleya nyanyi. Hohoho Shinro Matsumoto itu bikin saya kangen sama mantan lagi. XD
.
Naruto by Masashi Kishimoto
The Destiny Which Should Be by Kyra De Riddick
Kisah IV
Damai? Jangan Harap!
.
Pagi yang tenang di Koha High School langsung rusak oleh suara jerit tertahan siswa-siswa yang melihat perbuatan Uchiha Sasuke yang merobek semua surat-surat yang ada di lokernya lalu melemparkannya ke tempat sampah terdekat.
Bisik-bisik mulai terdengar bersamaan dengan beberapa isakan dan derap langkah menjauh. Bisa dipastikan itu adalah tindakan gadis-gadis pengirim surat cinta yang baru saja dihancurkan Sasuke. Tapi Sasuke sendiri sepertinya tidak peduli. Setelah mengganti sepatu luarnya, ia membanting pintu lokernya dengan keras dan segera menuju ke kelasnya. Ia tidak memperdulikan tatapan menusuk dari beberapa orang yang tidak menyukai sikapnya.
"Uchiha," panggil seorang siswa yang sepertinya memiliki keberanian lebih dari yang lain. Sasuke langsung berhenti dan memberi perhatian yang diminta siswa tersebut.
"Apa?"
"Sikapmu berlebihan. Apa kau tidak diajari cara menghormati orang lain? Surat-surat itu berisi perasaan orang-orang yang menyukaimu. Setidaknya kau bisa membuangnya di tempat lain."
Mata Sasuke langsung memicing tajam. "Aku tidak butuh sampah di lokerku."
Dengan kalimat pamungkasnya Sasuke meninggalkan kerumunan siswa tersebut. Ia masih bisa mendengar beberapa orang mengumpatinya, namun ia memilih untuk mengabaikannya. Ia sudah cukup lelah dengan berbagai surat ancaman dan tantangan yang didapatinya selama empat hari berturut-turut. Belum lagi ia masih harus bertemu dengan Naruto yang semakin menyebalkan dari waktu ke waktu. Gadis itu selalu saja mencari gara-gara dengannya. Setiap pagi dia menunggunya di gerbang sekolah dengan pakaiannya yang membuat siapapun sakit mata, apalagi Sasuke yang selalu memakai pakaian rapi. Lalu dia menyapa Sasuke dengan gaya sok manis yang benar-benar membuat Sasuke mual. Saat istirahat makan siang dia selalu bersama pemuda Inuzuka dan melakukan berbagai keanehan yang membuat Sasuke iritasi melihatnya. Meskipun Sasuke akan selalu menyalahkan dirinya karena tidak bisa mengabaikan si pirang berisik itu.
Sasuke menghentikan langkahnya. Berpikir tentang Naruto, ia baru sadar bahwa pagi ini si tolol pirang itu tidak menunggunya di gerbang sekolah. Ia berbalik, melihat ke sekitarnya dengan curiga. Kalau Naruto tidak menunggunya di depan gerbang, bisa saja dia sudah mempersiapkan sesuatu untuk mengusiknya.
Sasuke melangkah dengan waspada kali ini, meskipun jaraknya dengan kelasnya tinggal dua meter. Matanya menajam begitu melihat kelasnya tenang tanpa kehadiran si pirang. 'Sepertinya hari ini akan cerah,' pikir Sasuke. Ia yakin Naruto terlambat ke sekolah atau malah lebih bagus kalau dia tidak datang.
Suatu kebahagiaan terasa jelas menjalar ke seluruh tubuh Sasuke. Akhirnya ia bisa menikmati satu hari tanpa Naruto. Sasuke duduk di bangkunya dengan semangat. Ia meletakkan tasnya di samping meja, setelah mengeluarkan buku dan peralatan menulisnya. Ia bermaksud meletakkan buku dan peralatan menulisnya di laci meja ketika ia melihat sebuah amplop putih yang akrab dengannya selama beberapa hari terakhir. Diambilnya amplop tersebut lalu mengeluarkan isinya.
Kali ini isi suratnya bukan hanya sekedar ancaman atau tantangan. Tetapi penentuan lokasi di mana Sasuke harus datang untuk menunjukkan bahwa dia adalah laki-laki. Sasuke menatap surat tersebut dengan jengkel, meskipun tidak sejengkel jika dia harus berurusan dengan Naruto.
'Kau bilang aku bukan laki-laki kalau tidak datang, lantas kau sendiri apa? Meletakkan surat tantangan secara sembunyi-sembunyi, idiot! Setidaknya si dobe itu tidak akan bersikap begini.' Pikir Sasuke menghina si pengirim surat yang tidak jelas wujudnya itu.
Sasuke cepat-cepat mengaktifkan program 'delete' di otaknya untuk menghapus keberadaan Naruto begitu sadar ia memikirkan gadis tolol itu lagi.
"Ck, si dobe itu, ada atau tidak tetap saja mengganggu," gerutu Sasuke dengan suara pelan.
.
"Kiba~ pijit belakangku!" rengek Naruto pada Kiba yang masih mencari-cari obat di lemari obat-obatan.
"Aku masih mencari obat untukmu, bodoh!" gerutu Kiba. "Memangnya kau makan apa tadi?"
"Ramen kadaluarsa," jawab Naruto. Segi tiga di pipi Kiba langsung berubah jadi perempatan.
"Kau… bego jangan keterlaluan! Orang bego juga tahu tidak boleh makan makanan kadaluarsa. Kau sudah tau kadaluarsa tapi masih juga kaumakan. Rasakan akibatnya, dasar cewe bego!"
Naruto melemparkan bantalnya ke arah Kiba. Sayangnya tidak kena karena fokusnya yang sudah terpecah karena rasa sakit di perutnya. "Ukh!" keluhnya sambil memegang perutnya. Tubuhnya sudah menekuk seperti anak kucing karena menahan sakit.
Hari ini dia benar-benar sial. Ia terlambat bangun gara-gara Kushina tidak bisa pulang dari kantor sejak kemarin. Ia terlalu buru-buru sampai-sampai ia lebih memilih memakan ramen instan kadaluarsa daripada menghangatkan makanan sisa semalam.
Ia berlari ke sekolah dan hampir terserempet mobil di jalan, untungnya ia tidak luka parah. Hanya memar di bagian paha dan lengannnya gara-gara terjatuh. Lalu yang paling parah, begitu ia tiba di sekolah ia langsung sakit perut sehingga ia dibawa Kiba ke UKS, tetapi petugas yang bertugas belum datang. Shizune-sensei memang sering terlambat karena mengurusi bibinya yang hobi mabuk.
"Kibaa~ injak punggungku, baka!"
"Aku tidak mau!" seru Kiba tegas. "Mana mungkin aku naik di atas tubuh perempuan."
"Aku bukan perempuan, sialan! Ukh!"
Kiba melihati Naruto dengan bosan. Temannya itu memang keras kepala. Kalau perempuan, ya perempuan saja, pikirnya tanpa dosa.
Bel berbunyi. Kiba memungut kembali bantal yang dibuang Naruto dan mengembalikannya pada Naruto. "Aku hanya dapat minyak kayu putih. Pakai saja dulu, sebentar lagi juga Shizune-sensei datang. Aku harus ke kelas."
"Pergi sana!" bentak Naruto yang kesal dengan sikap cuek Kiba padanya. Matanya terasa panas. "Arrgh! Jadi perempuan benar-benar menyebalkan!" serunya putus asa begitu menyadari ia hampir menangis karena marah.
Sadar ia tidak bisa apa-apa selain menunggu Shizune-sensei, Naruto mengusapkan minyak kayu putih yang ditemukan Kiba ke perutnya sambil mengumpati tubuh perempuannya dan juga orang yang mengambil tubuh lelakinya, Uchiha Sasuke.
"Kiba sial! Fuc*k! teme brengsek itu! Sial! Sial!"
"…"
"Dasar dewa sialan!"
Juga dewa yang telah mengubah tubuh mereka.
Naruto menjerit frustasi mengetahui tidak akan ada yang berubah meskipun ia mengumpat. Dilemparkannya bantalnya ke sembarang arah dan memejamkan matanya.
.
Sasuke menatap malas gerombolan pemuda yang berdiri beberapa meter di hadapannya dengan wajah yang diseramkan. Sayangnya Sasuke sama sekali tidak takut. Tidak hanya karena ia tidak mengenal satupun di antara pemuda tersebut, tetapi penampilan mereka juga membuat Sasuke yankin kalau mereka itu bodoh. Sasuke sudah terlalu sering berurusan dengan Naruto sampai-sampai pemuda-pemuda di hadapannya tidak bisa dibandingkan dengan si pirang itu.
"Kau datang juga," ujar seorang pemuda kurus dengan rambut abu-abu kehijauan.
"Siapa yang mengirim surat ini?" Tanya Sasuke dengan nada datarnya.
"Aku," ujar si pemuda kurus. Tampaknya ia pemimpin mereka.
"Kalau kau laki-laki, langsung bawa suratnya padaku. Mengirimnya secara sembunyi-sembunyi hanya menunjukkan seberapa pengecutnya dirimu."
Ucapan menusuk Sasuke kontan memancing emosi pemuda kurus tersebut. Tanpa pikir panjang ia langsung menerjang Sasuke dan memberikan satu pukulan di perutnya. Hal ini jelas membuat Sasuke kaget. Seumur-umur ia belum pernah dipukul.
Sasuke jatuh berlutut. Tangannya memegang perutnya yang dipukul. Gerombolan pemuda tersebut langsung tertawa mengejek. "Ternyata Uchiha Sasuke selemah ini. Kau hanya modal tampang ya?!"
Sasuke memaksa dirinya berdiri. Ia menatap pemuda kurus tersebut dengan dingin.
"Kau pikir aku takut dengan tatapanmu, hah?!" seru si pemuda kurus. Sekali lagi ia mengayunkan tangannya, kali ini kea rah wajah Sasuke. Sasuke langsung menunduk dan balas meninju perut si Kurus sekuat tenaga dengan tangan kanannya disusul tinju di wajah dengan tangan kirinya.
"Sial!" seru si Kurus tidak terima. "Kalian, hajar dia!"
Keadaan menjadi tidak imbang bagi Sasuke. Ia sendirian dan harus melawan sekitar sepuluh orang. Dalam waktu singkat ia terdesak. Satu dari mereka mengambil kesempatan untuk menahan gerakannya. Kali ini ia ia benar-benar dalam keadaan gawat.
"Sekarang kita lihat apa yang bisa kaulakukan, tuan muda," ujar si Kurus menghina. Ia mengeluarkan pisaunya untuk menakut-nakuti Sasuke."Tingkahmu benar-benar memuakkan, Uchiha. Kau harus diberi pelajaran."
Ia mendekatkan bagian pisau yang tajam di wajah Sasuke, mungkin bermaksud untuk melukai wajahnya. Namun suatu suara menyela mereka.
"Oi oi!" panggil Naruto. Ia melangkah santai mendekati kerumunan pemuda tersebut dengan sebuah kayu di tangannya. "Main keroyokan itu curang, lho, Amachi-kun!"
Si Kurus yang ternyata bernama Amachi menarik kembali pisaunya dari wajah Sasuke. Dibalasnya panggilan Naruto dengan kasar.
"Ini urusan laki-laki, Uzumaki!"
Kening Naruto berkedut mendengar kata-kata Amachi. Pemuda itu sejatinya adalah musuh Naruto ketika dia masih menjadi laki-laki. Namun sekarang ia memandang remeh dirinya karena ia seorang perempuan. Dada Naruto langsung panas dan tidak sabar ingin menghajar Amachi dan teman-temannya. Tetapi ia masih menyabar-nyabarkan dirinya.
"Aah~ Uchiha-kun itu milikku, jadi aku tidak bisa tinggal diam melihat kalian mengeroyoknya," ujar Naruto masih dengan nada sok manis sampai-sampai Sasuke harus menahan mual mendengar cara gadis itu bicara.
Amachi tertawa mengejek. "Jadi kau datang untuk menyelamatkan pacarmu? Tidak kusangka pilihanmu lelaki lembek seperti ini."
""KORRRAAA! SI BRENGSEK ITU BUKAN PACARKU! DIA MANGSAKU SIALAN!" seru Naruto tidak terima. Wajah manisnya menghilang digantikan wajah seram. Geng Amachi langsung sweat drop di tempat mendengar bahasa kasar yang tidak seharusnya diucapkan oleh perempuan itu.
"Kau pikir aku sudi jadi pacarmu, dobe?" sahut Sasuke dingin. Rupanya dia juga tidak terima tuduhan Amachi, tetapi ia lebih tidak bisa menerima sikap Naruto yang terlalu kekeuh menolak tuduhan itu. "Aku lebih baik mencari laki-laki lain."
"Ha?" semua yang ada di tempat itu kecuali Naruto langsung bengong di tempat.
"Aku juga lebih memilih cewek cantik dan seksi, brengsek. Bukannya mahluk tidak laku sepertimu!" balas Naruto tidak terima.
"HA?!" sekali lagi Amachi dan teman-temannya berjaws drop ria. pemikiran-pemikiran aneh mulai memasuki mereka. Dugaan bahwa Sasuke dan Naruto adalah homo mendadak muncul. Yang menahan Sasuke bahkan mengendurkan pertahanannya. Tubuhnya mendadak keringat dingin.
Menyadari hal itu, Sasuke langsung ambil tindakan dengan menarik paksa lengannya dan melepaskan satu pukulan ke arah siapa saja yang bisa ia jangkau. Kericuhanpun kembali terjadi. Seringai mengembang di wajah Naruto, dengan semangat berapi-api ia ikut masuk ke dalam kericuhan tersebut. menghajar siapa saja yang bisa ia jangkau.
Langit mulai gelap ketika pertarungan itu berakhir dengan kemenangan di pihak Sasuke dan Naruto. Wajah mereka berdua babak belur, meskipun Sasuke lebih parah sebab ia sempat dikeroyok.
"Kau lumayan juga, teme," puji Naruto di sela-sela usahanya untuk berdiri. Seluruh tubuhnya sakit hingga untuk berdiripun ia sulit.
Sasuke hanya diam mendengar pujian itu. "Kau… menang dengan cara curang," ujarnya dingin.
"Ha?!" Naruto tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kau menggunakan senjata," ucap Sasuke lagi.
Naruto tertawa mengejek. Ditatapnya Sasuke seolah-olah pemuda di hadapannya adalah orang terbodoh di dunia. "Dengar Uchiha, aku tidak tahu kau menonton film apa, tetapi dalam dunia nyata di mana situasimu sejak awal tidak imbang kau tidak bisa menang hanya dengan tangan kosong."
Sasuke terdiam mendengar ucapan Naruto yang tepat sasaran. Selama ini ia menonton film di mana orang-orang bertarung dengan tangan kosong meskipun mereka dikeroyok dan mereka berhasil menang. Itulah yang menjadi pedomannya setelah ia menjadi laki-laki.
"Satu lagi," ucap Naruto, "Hanya orang idiot yang datang sendirian menghadapi musuh yang tidak ia ketahui sama sekali." 'Salah satunya aku,' lanjutnya dalam hati. Setelah mengucapkan itu Naruto langsung meninggalkan Sasuke. Namun baru tiga langkah ia jalan, tubuhnya tiba-tiba saja ambruk. Sasuke reflex lari mendekatinya.
"Dobe, kau tidak apa-apa?" panggilnya.
"Tubuh perempuan benar-benar menyebalkan," sahutnya menjawab panggilan Sasuke. Mendengar hal itu, Sasuke langsung menarik tangan Naruto dan membantunya berdiri. Ia memapah gadis itu setelah sebelumnya ia menolak untuk digendong.
'Sebenarnya kehidupan seperti apa yang dijalani orang ini?' batin Sasuke bertanya-tanya saat ia memapah Naruto.
TBC
Nah nah nah... sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa membalas reviewnya satu per satu. Tapi semua review itu saya baca kok dan jadi ide untuk saya dalam mengembangkan fic ini. Meskipun nggak terlalu sama dengan yang teman-teman sarankan. Habisnya kalau sama, nanti readers bisalangsung tau. Terus mikir, "Pasti endingnya jadi gini."
Kalo minna bisa menebak ending akhirnya, kan fic ini jadi nggak menarik lagi untuk dibaca kan? Kan? Kan? Kan? *maksa.
Baiklah, apa pendapat Minna-san atau mungkin sumbang ide lagi?
