Chapter 4

Cast:

Choi Siwon

Cho Kyuhyun

Park Jungsoo

Shim Changmin

Others , dan mohon untuk tidak berkebaratan jika ada cast yang dibuat dengan karakter tidak menyenangkan (Pisss...)

Yaoi, Saeguk amatiran, jika ada kesalahan dalam hal sejarah dan budaya mutlak keterbatasan saya.

Disclaimer: Seperti FF pada umumnya, semua nama yang ada disini hanya pinjaman, karena pemilik nama yang sebenarnya adalah milik mereka sendiri, Tuhan dan keluarganya.

Wonkyu fanfiction, just a fanfiction so...enjoy!

Merasa gak berkenan, tidak perlu dibaca. Kritik dalam bentuk apapun diterima asal sopan dan menjaga kenyamanan semua orang.

Typo(s) pasti bertebaran meski sudah diedit, mianhamnidaaaaa...

LIKE THE WIND

Seoarang gadis muda tersenyum malu-malu, sesekali dia mencuri pandang pada pemuda yang duduk berhadapan dengan Paman yang berlaku sebagai walinya kali ini. Sebagai putri bangsawan dia harus menjaga sikap dan kesopanan, meskipun pemuda yang berstatus calon suaminya itu bukanlah orang yang baru dikenalnya.

"Dunia memang sempit, siapa sangka kita akan segera menjadi keluarga Tuan Hakim Choi. Hahaha.." Kim Wongsan terbahak, sesekali tangannya mengusap jenggot tipis yang tumbuh disekitar dagunya. Seringai samar tercetak dari bibirnya.

Choi Siwon menuangkan teh pada cangkir porselene yang disodorkan Kim Wongsan. Siwon tersenyum sekilas, mendapati gadis tunangannya meliriknya diam-diam.

"Maafkan karena saya tidak mengenali anda sebelumnya Tuan Gubernur." Siwon menundukan kepala untuk keberapa kalinya semenjak dia menginjakan kaki di Rumah Besar Gubernur Kim dan duduk sebagai tamu di rumah itu.

Kim Wongsan kembali tergelak. "Jangan dipikirkan, lagipula wajar mengingat kita baru pertama kali bertemu setelah belasan Tahun anda meninggalkan Wonju Tuan Hakim. Siapa sangka Hakim muda kebanggan Joseon ini akan segera menjadi menantu keluarga Kim. Maafkan kami yang tidak hadir pada upacara pertunangan kalian."

Kim Wongsan mengalihkan pandangannya kesebelah kanan, dimana istri dan keponakannya duduk bersisian. "Eunwoo-ya, kau beruntung mendapatkan pemuda seperti Tuan Hakim Choi Siwon sebagai calon suami. Kuharap kau belajar untuk menjadi istri yang baik, kuyakin ibumu sudah mendidikmu dengan baik. Selama kau tinggal disini maka bibimu yang akan mengajarimu."

Gadis bernama Kim Eunwoo itu menundukan kepalanya, semburat merah tidak bisa dia sembunyikan dari pipi putihnya. Wanita paruh baya yang duduk disampingnya tersenyum lembut memperhatikan tingkah malu-malu dari gadis muda yang duduk disampingnya.

"Tuan Hakim Choi, jangan sungkan untuk mengajukan permintaan materi pembelajaran yang harus dipelajari Eunwoo kami. Kami akan berusaha keras untuk mendidiknya sebelum kalian resmi menikah." Han Jinyi, istri dari Gubernur Kim menundukan kepalanya anggun.

Siwon kembali tersenyum, dia melirik gadis cantik yang telah resmi menjadi tunangannya sejak enam bulan yang lalu. Dan tentu tidak lama lagi dia akan menikahi gadis itu, sesuai adat kaum Bangsawan kelas pertama Joseon.

"Euheum..." Kim Wongsan berdehem begitu menyaksikan aksi saling lirik diantara dua muda yang ada dihadapannya. " Istriku, apa Sunggyu sudah menyelesaikan pelajarannya? Aku harus menemuinya." Kim Wongsan memberi isyarat dengan matanya, yang ditanggapi senyuman oleh Han Jinyi.

"Ne Tuan, Kim Sunggyu sudah selesai. Anda boleh menemuinya sekarang." Wanita anggun itu tersenyum penuh arti. "Tuan Hakim Choi, jika tidak keberatan silahkan anda melanjutkan berbincang dengan Kim Eunwoo, kami ada urusan lain."

"Eunwoo-ya, jika kau ingin keluar rumah ajaklah Solbi. Dia akan menjadi pelayan setiamu selama kau disini. Tuan Hakim Choi, kami mohon diri." Kim Wongsan mengibaskan durumagi sutera yang dikenaknnya, kemudian berdiri dan meninggalkan paviliun utama rumah itu. Meninggalkan Siwon dengan Kim Eunwoo, hanya berdua.

"Nona Kim, apa kabar?" Siwon menggeser arah duduknya menjadi berhadapan dengan gadis tunagannya.

Kim Enwoo tersenyum cerah, matanya bersinar. Hampir satu bulan tidak bertemu dengan laki-laki yang menjadi tunangannya membuat gadis cantik itu tidak bisa untuk menahan senyum bahagia.

"Tu-Tuan, maafkan karena saya tidak mengabari anda terlebih dahulu. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, anda tidak memberi kabar setelah satu bulan meninggalkan ibukota." Gadis itu menundukan wajahnya, jemarinya memilin ujung hanbok sutera yang dikenakannya.

Siwon mengulas senyuman, "Eunwoo-ya, aku senang bisa melihatmu disini."

Kim Eunwoo mengangkat wajahnya, merasa senang Siwon memanggil dengan nama kecilnya. "Orabeoni, senang bertemu denganmu. Aku rasanya hampir mati karena kau tidak memberiku kabar, kau sudah janji akan mengirim surat setelah sampai di Wonju. Tapi sampai satu bulan kau tidak juga memberi kabar, aku menghawatirkanmu, aku bakan tidak menulis puisi lagi, aku terlalu lelah memikirkan keselamatanmu."

Siwon terkekeh, gadis cantik yang ada dihadapannya selalu cerewet seperti biasanya. Kim Eunwoo putri mendiang Perdana Menteri Kim yang sudah dikenalnya sejak Siwon menginjakan kaki di Ibukota. Gadis yang berani menyapanya ketika Siwon lebih memilih menyendiri di Sekolah Bangsawan. Gadis yang tidak lelah mengajaknya berbicara meski Siwon lebih banyak diam, dan gadis yang sangat suka menulis puisi dan membuat hatinya menghangat ketika melihat tangan lentik gadis itu bergerak lincah menggoreskan kuas diatas kertas.

.

.

.

.

"Aku tidak menyangka Wonju ternyata seramai ini. Apa dari dulu sudah seperti ini?" Kim Eunwoo memiringkan kepalanya, memandang Siwon yang berjalan disampingnya.

Siwon hanya mengulas senyum tanpa menjawab pertanyaan gadis yang sejak keluar dari rumah besar Kim berjalan antusias dengan celoteh yang tidak pernah berhenti.

"Kau tidak pernah menceritakannya Orabeoni, kukira Wonju wilayah pinggiran yang sepi. Oh lihatlah, bahkan orang itu memakai pakaian yang berbeda? Ommo...apa mereka orang Ming?"

Kembali Siwon hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Kim Eunwoo gadis yang dikenal selalu ceria, lihatlah bagaimana cara gadis itu berbicara, berjalan, dan matanya yang antusias ketika melihat objek yang menarik perhatiannya. Chima yang dikenakannya akan bergerak kesana kemari ketika dia berjalan, dan biasanya Siwon harus mengantisipasi jika sewaktu-waktu gadis itu akan tersandung.

Dari awal Siwon menyukai kerpibadian putri Bangsawan Kim itu, meski beberapa orang menganggapnya sebagai gadis ceroboh dan tidak sesuai dengan pembawaan seorang putri bangsawan, namun Siwon tidak mempedulikannya. Ketika pertama kali Siwon melihat gadis itu, pikirannya terhubung pada seseorang. Seseorang yang tidak pernah berhenti berbicara, seseorang yang ketika berjalan terlihat ringan namun sering hampir terjatuh, dan seseorang yang akan serius ketika menulis. Meski Siwon tidak pernah menemukan binaran mata yang selalu membuatnya seakan terbius. Tidak pernah, dia tidak pernah menemukannya pada siapapun.

"B-A-L-A-M. Orabeoni, tempat apa ini?"

"Ye..?" Siwon tergagap, terkejut menyadari berada dimana sekarang mereka. Ya, tanpa sadar hakim muda itu melangkahkan kakinya menuju sudut keramaian Wonju dan kini berdiri didepan sebuah toko buku kecil.

"Ini tempat apa? Apa ini toko buku?" Kim Eunwoo melihat sekeliling, dan heran ketika Siwon masih mematung.

Siwon menoleh kearah gadis yang berdiri disampingnya. "Ini toko buku yang sering kuceritakan. Toko buku tempatku biasa membeli alat tulis." Ada kedalaman dalam nada bicara Siwon.

Kim Eunwoo kembali meneliti bagian luar toko itu, cat usang dengan balok kayu yang tampak keropos dibeberapa tempat. Tumpukan buku yang sebagian terlihat kekuningan, gulungan kertas yang disusun sedikit berantakan.

"Benarkah?"

Siwon mengangguk kemudian mulai memasuki toko itu. Eunwoo mengikutinya dengan pandangan yang tidak berhenti meneliti keadaan toko dibagian dalam.

"Orabeoni, mungkin ketika kau kecil toko ini masih bagus dan menjual barang bagus. Tapi sepertinya pemilik toko ini tidak pernah melakukan perbaikan, barang-barang yang dijual disini terlihat sudah lama. Apa sebaiknya kita masuk ke Toko buku lain?"

" Toko ini yang terbaik Eunwoo-ya. Cobalah kau lihat barang yang ada disini. Kualitas kertas yang ada disini bagus." Siwon mulai memilih beberapa gulungan kertas, meneliti kualitasnya, mengukur ketebalan dan senyumnya tidak pernah lepas.

Kim Eunwoo terheran memperhatikan tunangannya yang terlihat sangat senang. Dia gadis terpelajar dan terbiasa menggunakan alat tulis, tentu hal yang mudah baginya untuk mengukur kualitas sebuah alat tulis. Terlebih dia adalah putri bangsawan yang terbiasa mendapatkan barang-barang terbaik. Dan gadis itu yakin, apa yang biasa dia temukan di Ibukota tidak akan pernah dia temukan ditoko buku kecil dan tua ini. Dia tidak menemukan gulungan kertas berwarna putih bersih dengan permukaan licin. Kertas yang konon didatangkan dari Ming dan diolah kembali di Joseon oleh pengolah kertas terbaik. Dia tidak menemukan kuas dengan bulu babi yang halus dan lentur yang biasa dia pakai. Dia tidak menemukan bak tinta dengan tatakan dari perak atau bahkan tembaga bercampur emas.

"Oraboeni, mungkin kau salah.."

Gadis itu tertegun begitu menyaksikan Choi Siwon kembali mematung. Bahkan kali ini pemuda itu terlihat membeku ditempat. Eunwoo mengikuti arah pandang tunangannya, membuat gadis itu terkejut karena disana, dibagian sudut paling dalam dari toko itu seorang gadis dengan riasan Gisaeng tampak memilih beberapa gulungan kertas. Yang membuat Eunwoo makin terheran adalah sorot mata Choi Siwon yang begitu dalam ketika menatap Gisaeng itu.

Sebuah perasaan tidak nyaman menyergap gadis itu, tunangannya tengah menatap seorang Gisaeng dengan tatapan mendalam dan Eunwoo bisa menangkap senyuman samar dari pemuda itu, senyuman yang entah kenapa baru pertama kali dilihatnya.

Dan ketika gadis Gisaeng itu menoleh kearah mereka, Eunwoo mendapati Siwon makin memperlebar senyumannya. Eunwoo mengepalkan tangan disisi tubuhnya tanpa sadar. Dia sangat mengenal pemuda yang menjadi tunangannya, dan selama ini Choi Siwon dikenal sebagai putra bangsawan Choi yang tidak pernah menginjakkan kaki dirumah Bordil ataupun rumah Gisaeng. Namun kali ini, setelah satu bulan pemuda itu berada di Wonju, Eunwoo melihat pemandangan lain, dimana seorang Choi Siwon melempar senyum pada seorang Gisaeng, terlebih sekarang merekan berada di tempat umum.

Gisaeng itu membungkuk kearah mereka, senyum yang sempat tercetak dibibir merahnya sirna ketika melihat seorang gadis berpakaian bangsawan berdiri tepat disamping pemuda yang dalam beberapa waktu terakhir dikenalnya bahkan terlibat dalam beberapa peristiwa yang melibatkannya.

"Annyeonghaseyo Kyuie".

Tanpa disadari kedua orang lainnya, Siwon kini berdiri tepat dihadapan Kyuie sang Gisaeng, membuat Kyuie mengerjap dan bergerak gelisah. Bagaimanapun ini ditempat umum, dan pantang bagi seorang Gisaeng untuk berbicara dengan seorang pria di tempat umum.

Kyuie mengalihkan pandangan, menghindari tatapan pemuda yang selalu menatapnya dalam.

"Kertas-kertas itu, apa kau ingin membelinya?" Siwon menunjuk beberapa gulungan kertas yang ada di tangan Kyuie. Kertas yang tidak diragukan sebagai kertas buatan asli Joseon, dengan ketebalan dan tekstur yang khas. Kertas yang hanya dia bisa temukan di Wonju dan hanya dijual di Balam.

Kyuie menundukan wajahnya.

Siwon berdehem, senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya. "Kita memiliki selera yang sama dalam memilih kertas. Kau tahu, kertas buatan asli Joseon. Tebal dan menyerap tinta lebih banyak, menjamin kualitas sebuah tulisan akan awet meski sudah bertahun-tahun."

Kyuie mengangkat wajahnya, menatap langsung mata pemuda yang masih menatapnya. Mata bulat indah dengan iris sewarna karamel, tatapan teduh dengan sinaran yang seakan menceritakan sebuah kisah. Siwon mepertahankan kuncian tatapan matanya pada mata itu untuk beberapa saat.

"Orabeoni, apa yang kau lakukan? Apa kau mengenal Gisaeng itu?" Kim Eunwoo mengamati Kyuie dengan pandangan menyelidik, aura kebangsawanannya muncul kepermukaan. Ekspresi datar dengan wajah terangkat dan gerak tubuh tegas, yang biasanya akan menimbulkan intimidasi bagi perempuan dengan derajat lebih rendah terlebih bagi seorang Gisaeng.

Kyuie menganggukan kepalanya, mengulas senyum halus. Dia menatap Siwon lama, tatapan dalam, dengan sinar mata indah yang membuat pemuda itu terpaku untuk beberapa saat sampai sebuah cekalan pada lengannya menyadarkannya bahwa dia datang bersama tunangannya.

"Orabeoni..."

Merasa tidak dipedulikan oleh Siwon, Eunwoo menarik lengan Siwon dan melangkah pergi. Mengesampingkan kesopanan yang harus dijaganya ketika berhadapan dengan lawan jenis ditempat umum. Gadis itu merasa perlu untuk segera keluar dari tempat itu. Tempat yang selalu diceritakan Siwon padanya, tempat yang selalu dipuji Siwon sebagai tempat yang menyenangkan ditengah keramaian Wonju. Dan Eunwoo sama sekali tidak menemukan alasan dibalik ketertarikan tunangannya akan tempat itu. Dan gadis itu teramat sangat merasa terganggu ketika mendapati seorang Gisaeng yang disapa dan diajak bicara oleh Siwon.

Eunwoo mendapat pendidikan yang memadai sebagai putri bangsawan. Berbagai jenis falsafah hidup telah dia pelajari, memperlakukan dan memandanga orang secara anggun dan berwibawa membuat gadis itu perlu untuk merasa terganggu dengan kehadiran Gisaeng yang berbincang dengan kaum bangsawan ditempat umum, terlebih yang melakukannya adalah Choi Siwon orang yang akan dinikahinya.

Siwon tidak bisa melakukan apa-apa ketika Eunwoo menariknya keluar. Dia sempat mencuri lihat kearah Kyuie, mendapati Gisaeng itu masih menatapnya. Apakah Siwon menangkap kilatan kekecewaaan dari tatapan mata Kyuie? Entahlah, namun pemuda itu bisa menyaksikan Kyuie tetap berada ditempatnya, tidak melepaskan pandangan kearahnya dengan beberapa gulungan kertas yang terlepas dari genggaman sang Gisaeng.

W

O

N

K

Y

U

Tring...tring...tring...

Alunan petikan gayageum memenuhi paviliun Ojiman, semua seakan larut dalam lembutnya nada dan petikan bening, alunan lagu yang menyayat mengalun, dibeberapa bagian dipetik cepat seakan menguguah jiwa.

Sang pemetik yang duduk anggun di tengah paviliun seolah menyatu dengan alat musik yang dimainkannya. Jemari kurus dan lentiknya bergerak lincah menyentuh, memetik setiap kawat senar menghasilkan bunyi indah.

Namun dibalik itu semua, sosok indah sang pemetik gayageum-lah yang lebih menghanyutkan semuanya. Kyuie, tidak ada yang meragukan kemampuan bermusiknya. Penampilannya selalu memukau para tamu Ojiman. Sosok dingin sang Gisaeng tidak mengurangi keindahannya. Para tamu yang berasal dari pria bangsawan meresapi alunan nada,dan pandangan mereka tidak pernah lepas dari sosok Kyuie.

Gisaeng yang tengah menjadi buah bibir sejak kemunculannya dimalam pertunjukan terbuka Ojiman. Jika dulu sosok Kyuie seakan menjadi misteri karena sosoknya yang jarang terlihat, membuatnya seolah terlupakan. Hanya tamu terentu yang pernah melihat sosoknya dan menikmati suguhan yang ditampilkan Kyuie, mengakui keberadaannya bahkan mendambakan bisa bermalam dengan Gisaeng itu.

Semuanya berubah setelah malam itu, Ojiman selalu diramaikan dengan kehadiran tamu yang siap menghamburkan kepingan emas. Semuanya menantikan penampilan Kyuie, para pria itu seakan dibuat mabuk dalam gemulai tarian sembilan genderang Kyuie, dan hanyut dalam hasrat yang menggebu ketika Gisaeng itu menampilkan keindahannya ketika memainkan gayageum. Bahkan ketika hanya duduk diam tanpa melakukan apapun, sosok Kyuie begitu mempesona.

Ya, Kyuie menjadi sangat mempesona dan menjadi obsesi setiap tamu. Berita tentang tingginya harga Kyuie ketika dipetik untuk pertama kalinya, membuat tantangan tersendiri bagi para tamu. Berbagai pendekatan kepada Gisaeng Kyuie gencar dilakukan, dari penawaran harga yang selangit, berusaha merayu dan mengimingi-imingi dengan hadiah. Namun semuanya menelan kekecewaan ketika Gisaeng itu tetap bersikap dingin. Kyuie akan segera masuk dan meninggalkan perjamuan ketika selesai menampilkan suatu pertunjukan, meninggalkan kekecewaan para tamu. Pendekatan kepada Nyonya Chullie sebagai Nyonya Ojiman tidak pernah membuahkan hasil. Nyonya Chullie sangat keras dalam melindungi harta berharganya, begitulah pemikiran para tamu.

Choi Siwon mengepalkan tangan dibawah meja jamuannya,berusaha menahan diri untuk tidak membungkam mulut para tamu yang tidak henti mengucapkan kata-kata kotor dan desisan yang ditujukan untuk Kyuie, hasrat yang menggebu dalam mata mereka ketika melihat sosok indah itu menghasilkan aura yang tegang namun melenakan disekeliling paviliun Ojiman. Para gadis Gisaeng yang setia melayani para tamu seolah diacuhkan, Sone yang selalu menjadi bintang ojiman harus merelakan diri mereka hanya menjadi pelayan yang menuangkan teh atau arak untuk para tamu. Dan membiarkan tangan-tangan jahil itu meraba dan menggerayangi bagian tubuh tertentu mereka ketika mulut dan mata mereka hanyut dalam keterpesonaan akan sosok Kyuie.

Ketika petikan terakhir gayageum yang dimainkan Kyuie berhenti, semua seolah menahan napas. Menanti kelanjutan apa yang akan dilakukan Gisaeng itu.

Kyuie mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru paviliun, hal yang tidak biasa dilakukannya, biasanya dia akan membungkuk dalam dan langsung menghilang kebagian lain Ojiman setelah menyelesaikan penampilannya. namun malam ini berbeda, Kyuie nampak mencari sesuatu dengan matanya. Seketika pandangannya berhenti ketika menangkap sosok pemuda yang duduk disalahsatu meja perjamuan, dengan dua gadis Gisaeng yang mengapit dikiri dan kanannya. Kyuie terdiam, raut dingin masih menghiasi wajahnya.

Choi Siwon, pemuda yang ditatap Kyuie tersenyum dan semakin memperlebar senyumannya ketika menyaksikan Gisaeng itu berdiri, membungkuk dalam dan dengan langkah anggun berjalan kearahnya. Semuanya seakan menahan napas ketika Kyuie duduk didepan meja Siwon, meraih pot teh dan menuangkannya ke cawan porselen milik Siwon dengan gerakan anggun.

"Ommo..."

Pekikan terdengar dari gadis Gisaeng lain, pasalnya baru kali ini Kyuie melayani tamu dengan menuangkan minuman. Kyuie tidak pernah melakukannya, bahkan hanya sekedar duduk disamping salahsatu tamu saja Kyuie tidak pernah melakukannya.

"Euehum..."

Nyonya Chullie yang mengawasi perjamuan itu dari awal mengeluarkan suara, tersenyum anggun.

"Tuan-Tuan yang terhormat, malam semakin larut. Pertunjukan malam ini selesai sampai disini. Silahkan anda semua melanjutkan sesuai kehendak anda. Saya undur diri." Nyonya Chullie membungkukan badan dengan anggun, seketika tatapannya beralih pada sosok Kyuie yang masih duduk dihadapan Siwon. "Nona-nona, lakukan tugas kalian dengan baik. Selamat menikmati malam di Ojiman." Sosok kepala Gisaeng Chullie menghilang dibalik lorong yang menghubungkan paviliun Ojiman dengan bagian lain bangunan itu.

Sepeninggal wanita paling berpengaruh di Ojiman itu, suasana riuh dimulai. Pekikan manja, tawa menggoda dan rayuan para gadis Gisaeng saling bersahutan. Menaikan suhu paviliun Ojiman yang makin tenggelam dalam buaian hasrat.

Beberapa tamu terlihat sudah mulai digiring oleh para gadis menuju kamar-kamar yang disediakan. Menyisakkan sebagian lain yang bertahan di paviliun, kebanyakan dari yang bertahan adalah yang mengharapkan Gisaeng Kyuie menentukan pilihan tamu mana yang akan dipilih untuk dia layani malam ini. Meskipun harapan mereka menipis ketika melihat Kyuie masih bertahan dalam posisinya untuk menemani Hakim Wonju Choi Siwon, orang yang sama yang dikabarkan telah memetik Kyuie untuk pertama kalinya.

Siwon bukannya tidak sadar dengan atmosfir sekitar, hanya saja saat ini pikirannya terfokus pada sosok yang duduk dihadapannya.

Trak...

Sebuah bandul kayu bertuliskan "Pokkot" diletakan Kyuie dimeja Siwon, menghasilkan belakak kaget dua Gisaeng lain yang duduk disamping Siwon.

Siwon mengerutkan dahi, dia tidak mengerti apa maksudnya. Mencoba bertanya melalui isyarat pada Kyuie namun Kyuie tetap terdiam seperti biasa.

"Tuan, Kyuie mengundang anda untuk bermalam dibilik kamarnya." Soeun, salahsartu Gisaeng yang duduk dikanan Siwon menjelaskan. Gadis itu melirik Kyuie dengan ujung matanya. "Namun anda bisa memilih Tuan, kami berdua masih belum ada yang memesan." Soeun menundukan wajahnya malu-malu, namun telapak tangannya mencuri kesempatan untuk menyentuh paha Siwon dibawah sana.

Siwon mengerjap, ini ketiga kalinya pemuda itu mengunjungi Ojiman. Harusnya dia sudah mengira ini akan terjadi, sebelumnya dia dapat menolak dengan halus. Namun sekarang keadaannya berbeda. berbeda ketika Kyuie, Gisaeng yang menarik semua perhatiannya bahkan diawal pertemuan mereka kini mengundangnya. Dan dia tahu tamu lain yang masih bertahan di paviliun memperhatikan mereka, dari cara mereka memandang jelas mengisyaratkan rasa iri.

"benarkah? Apa malam ini anda bersedia menemaniku Kyuie?" Siwon menatap lurus ke arah Kyuie.

Anggukan halus diberikan Kyuie. Pekikan kaget lain terdengar dari para gadis lain.

"Apa aku termasuk orang yang beruntung?" Siwon tersenyum lebar, menampilkan lekukan mempesona dikedua pipinya. Sementara dirinya berusaha menahan agar tidak berteriak karena senang. Keinginannya untuk bertemu dan berinteraksi dengan Kyuie kini terbuka lebar. Kesempatan yang mungkin sulit dia dapatkan.

Anggukan lain diberikan Kyuie, kali ini tangan Kyuie terulur, memberi isyarat bagi Siwon untuk menyambutnya.

Sedikit ragu Siwon menyambut uluran tangan Kyuie, menggenggamnya lembut. Siwon menahan napas ketika merasakan permukaan halus telapak tangan Kyuie. Ini bukan pertama kalinya dia mennyetuh tangan Kyuie, namun tetap saja Siwon merasakan hatinya menghangat ketika mengenggam tangan itu. Terlebih saat ini Kyuie yang mengulurkan tangannya terlebih dahulu.

Kyuie menarik Siwon untuk berdiri yang segera diikuti oleh pemuda itu. Keduanya kini berjalan meninggalkan paviliun, meninggalkan gerutuan-gerutuan dibelakang mereka.

.

.

.

.

"Mengejutkan, kau melakukan tindakan mengejutkan Kyuie." Ucap Siwon, mereka berjalan bersisian dilorong bangunan utama Ojiman dengan tangan masih bertautan.

Kyuie menghenatikan langkahnya, membuat Siwon menatapanya heran.

"Apa kau memintaku untuk mengajakmu melarikan diri lagi?" Siwon mengulum senyum, membuat Kyuie menunduk. Dalam temaramnya penerangan yang bersumber dari lilin yang diletakan disepanjang lorong, Siwon luput menyaksikan pipi putih Gisaeng itu merona.

Kyuie menggeleng pelan. Telunjuknya mengarah pada salahsatu pintu di ujung lorong, pintu yang sama dengan deretan pintu lainnya hanya tulisan diatas pintu yang menjadi pembeda.

Ojiman adalah rumah Gisaeng terbesar di Wonju, tidak mengherankan jika memiliki bangunan induk yang besar. Bangunan yang terdiri dari kamar-kamar yang ditempati para Gisaengnya. Choi Siwon dan Kyuie menyusuri deretan kamar itu dalam diam.

"Eungghhh...aaakkhhh..."

"HHhnnngggg..."

Langkah keduanya terhenti, suara desahan, lenguhan dan geraman tertahan samar tertangkap keduanya. Disana, dibalik pintu-pintu yang tertutup itu, dibilik dimana para Gisaeng menjamu dan melayani tamu yang bermalam, asal suara itu berasal dari sana. Sebagai orang dewasa, mereka tidak perlu untuk mencari tahu apa yang terjadi disana.

Siwon melirik Kyuie dengan ekor matanya, melirik dan mendapati Gisaeng itu menundukkan wajahnya seolah ujung kakinya sangat menarik untuk diperhatikan dengan teliti.

"Eheum.." Siwon berdehem, kedua tangannya disilang dibelakang tubuh. "Kurasa berjalan-jalan diluar lebih menyenangkan. Kulihat ada taman bunga indah dibelakang paviliun."

Kyuie mengangkat wajahnya, memandang Siwon sekilas kemudian langsung mengalihkan pandangannya. Sosok Gisaeng itu memutar tubuhnya, berbalik arah dari bilik kamar yang semula mereka tuju.

.

.

.

.

Bulan menggantung, membiaskan sinar dibalik awan tipis. Masih tersisa lima hari sebelum purnama, namun langit malam itu tetap terlihat indah. Setidaknya bagi dua orang yang duduk bersisian disebuah bangku batu.

Sudah lama mereka berdiam seperti itu, gemericik air dari sungai kecil yang membelah taman menjadi sumber suara yang menyempurnakan larutnya malam.

"Aku tidak pernah mengira akan mengunjungi rumah Gisaeng. Bahkan ini untuk ketiga kalinya aku berada disini." Siwon membuka suara. "Maksudku, sebelumnya aku tidak memiliki alasan untuk menjadi tamu rumah Gisaeng."

Siwon menatap sekilas sosok yang duduk disampingya, sosok yang selalu menjaga keheningan.

"Kurasa Ojiman pengecualian, banyak hal menarik yang bisa kudapatkan disini. Bakat luar biasamu, menjadi alasan kenapa aku harus berada disini." Siwon kini menatap lekat Kyuie. 'Dan ingin melihatmu, tentu adalah alasan terbesarnya.' Lanjut Siwon dalam hati.

Giliran Kyuie yang melirik sosok disampingnya, namun segera menundukkan wajah ketika dilihatnya Siwon tengah menatapnya lekat.

"Kyuie, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" Siwon bergeser dalam duduknya, menjadi menghadap Kyuie.

Kyuie mengerjap, mengantisipasi kelanjutan pertanyaan Siwon.

"Aku ingin kau membuka suara, bicaralah. Aku yakin kau bisa bicara."

Siwon tersenyum, kedua matanya menatap lembut sosok Kyuie yang belum bergeming. Menunggu reaksi yang akan diberikan Kyuie .

Namun Kyuie tetap diam, dia semakin menundukan wajahnya.

Siwon menarik napas panjang." Tidak apa, aku tidak akan memaksamu. Mungkin suatu saat kau akan berbicara padaku, aku akan menunggu."

Keduanya kembali hening.

"Baiklah, karena hanya aku yang bicara disini. Maka aku akan bicara sebanyak yang kuinginkan, dan kau harus mendengarkanku. Bagaimana?" Siwon memiringkan kepalanya, berusaha menangkap tatapan mata Kyuie.

Kyuie tersenyum kemudian mengangguak. Sosok Gisaeng itu bahkan kini bergeser menjadi menghadap Siwon.

"Apa akau harus memintamu untuk bersumpah atas nama mata,telinga, hidung dan mulut seoarang Gisaeng? Hanya aku, kau dan Dewa yang tahu isi pembicaraan ini. Bukankah itu salahsatu tugas Gisaeng? Menjadi teman berbicara dan mendengarkan"

Kyuie terkekeh tanpa disadari, namun dengan cepat dia menutup mulutnya dengan punggung tangan. Sesaat Siwon menatap Kyuie lekat, senyumnya terkembang. Suara tawa Kyuie mengingatkannya akan seseorang, suara tawa yang ringan.

Keduanya berpandangan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Siwon mulai berdehem pelan. " Aku ingin menceritakan tentang seseorang yang selama ini kucari. Kurasa aku pernah menceritakannya sebelum ini. Kau ingat tentang orang yang mengenalkanku pada kuil sembilan naga? Aku ingin menceritakan kembali tentang dia."

" Namanya Cho Kyuhyun, putra Profesor Cho Yeung Hwan. Salahsatu pengajar terbaik istana namun memilih mengabdi menjadi pengajar di Wonju." Siwon menghela napas.

"Aku beruntung bisa menjadi salah satu muridnya, dan lebih beruntung bisa mengenal putranya. Kami bisa dikatakan bersahabat, dan aku tidak pernah bisa sebahagia saat itu. Sahabat kecilku, dia begitu ceria dengan roman muka yang bisa membuat orang lain menyukainya dalam sekali lihat. Namun dari semuanya, aku menyukai sinar mata dan suka ketika dia serius menulis puisi. Dia akan melapalkan apa yang dia tulis dengan keras, kemudian menuliskannya diatas kertas buatan asli Joseon. Tulisan tangannya berantakan waktu itu, dan dia akan cemberut ketika kukatakan kalau tulisan tangannya tidak rapi. Namun, semua orang akan mengagumi isi puisi yang ditulisnya."

Siwon berhenti sejenak.

"Aku begitu merindukannya, dan aku bertekad untuk mencarinya. Megembalikannya ke tempat yang seharusnya. Sebuah tempat yang dirampas darinya dan keluarganya. Sebuah peristiwa yang memudarkan senyuman dari bibir dan sinaran dari matanya, sebuah fitnah keji yang dituduhkan pada keluarganya. Ayahku, Choi Kiho menjadi hakim Wonju saat itu, dan ditangan ayahkulah sebuah hukuman dilayangkan pada keluarga Cho. Menghilangkan nyawa semua anggota keluarga Cho, kecuali putra bungsu mereka Cho Kyuhyun. Aku yakin dia masih hidup dan aku akan membawanya kembali."

Siwon menatap lekat sosok Kyuie yang balas menatapnya. Untuk beberapa saat mereka saling menatap.

Tiba-tiba Siwon mengangkat tangannya, menyentuh wajah Kyuie dengan ibu jarinya. Kyuie tersentak, namun dia tidak menolaknya. Bahkan ketika kedua telapak tangan besar Siwon menangkup wajahnya, Kyuie memejamkan mata.

"Aku berjanji, akan membongkar semuanya. Aku berjanji. Mengembalikan senyum dan sinar mata itu. Ayahku, saat itu ayahku tidak memiliki pilihan. Semua bukti memberatkan Profesor Cho, namun aku percaya itu semua fitnah keji. Dan sekarang aku ada disini, berdiri sebagai Hakim wonju. Tujuanku hanya satu, mengembalikan kembali semua pada tempatnya."

Siwon mengelus pipi Kyuie yang dirasanya sangat halus dan lembut.

"Kuharap dia mempercayaiku." Siwon menatap langsung iris karamel Kyuie. Ada genangan disudut matanya. "Percaya, aku hanya ingin dia mempercayaiku."

Kini Siwon merasakan permukaan pipi Kyuie basah. "Kumohon, tunggulah sampai aku mengumpulkan bukti yang cukup."

Kyuie membuka mulutnya, namun tidak ada satu suarapun yang keluar.

"Kyuie, bolehkan aku berharap dia akan mempercayaiku dan menunggu?"

Kyuie memejamkan mata, membuat air matanya kian deras mengalir. Dia merasakan tubuhnya ditarik, kemudian sebuah aroma menenangkan, dan permukaan halus dari sutera menyapa kulit wajahnya. Tubuhnya kini berada dalam dekapan kokoh seseorang, dekapan yang membuat tubuhnya merasa aman, dekapan yang membuatnya tetap ingin hidup dan percaya pada hidup. Dekapan yang sama yang dirasakannya sepuluh tahun lalu.

Kyuie melingkarkan lenganya di punggung Siwon, mempererat pelukan mereka. Tubuhnya melemas, buncahan perasaan yang selama ini ditahannya seolah berdesakan ingin dikeluarkan. Kepalanya serasa melayang, berbagai memori seolah berenang. Tawa bahagia, senyum tulus, lalu air mata dan jeritan memilukan. Kyuie merasakan pikirannya ditarik dengan kuat dan tubuhnya seperti kehilangan rangka.

.

.

.

.

"Hey, apa kau bisa membuka matamu? Kuyakin kau masih hidup."

Perlahan, mata bocah laki-laki itu terbuka, pandangannya kabur ditengah pekatnya malam, namun dia yakin ada seseorang yang menepuk pipinya yang mulai membeku dimakan dinginnya salju.

"hampir terlambat, ada yang harus kuurus. Kau hampir mati membeku, tapi sekarang kau aman."

Cho Kyuhyun belum bisa melihat jelas sosok yang kini mengangkat tubuhnya, rasa dingin yang membekukan perlahan hilang digantikan balutan hangat dari selimut yang melilit tubuhnya.

Sosok itu tidak sendiri, dia bersama dengan satu orang laki-laki lain. Ya, Kyuhyun yakin ada dua orang laki-laki yang akan menolongnya, mungkin.

Kyuhyun mendengar mereka berbicara dalam bahasa yang tidak dimengertinya, namun Kyuhyun yakin mereka berbicara dalam bahasa Ming.

"Nak, aku diperintahkan untuk membawamu pergi, jadi serahkan semuanya pada kami. Kau aman bersama kami."

Selebihnya Kyuhyun merasakan tubuhnya dibopong, sebelum ahirnya dia hilang kesadaran, berjam-jam bergelung dalam semak yang membeku membuat tubuh kecil itu tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan kesadarannya.

Kyuhyun mencoba membuka mata, perasaan nyeri disekitar tubuh menjadi rasa pertama yang bisa ditangkapnya. Perlahan, kedua matanya terbuka sempurna, menelaah langit-langit yang menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya.

"Kau sudah bangun? Aigoo..kukira kau tidak akan pernah membuka mata." Sebuah suara menyapanya, dan Kyuhyun ingat itu sebagai suara terakhir yang diingatnya sebelum hilang kesadaran.

Kyuhyun mencoba bangkit, namun lengan kecilnya tidak mampu menumpu dengan benar, membuat tubuhnya kembali terhempas ketempat tidur.

"Jangan memaksa, kau baru bangun setelah tidak sadarkan diri selama satu minggu. Aku akan memanggil tabib, diamlah."

Kyuhyun merasakan kepalanya seperti dihantam beban berat, ingin rasanya dia memejamkan matanya kembali, namun dia menahannya. Dia mengedarkan pandangannya. Dia yakin sedang berada disebuah kamar dengan dominasi warna merah. Sebuah kamar asing, terlebih dengan tempat tidur berbentuk ranjang bukan alas tidur lantai yang biasa digunakan orang Joseon. Kyuhyun tidak bisa menebak dimana sekarang dia berada, sampai pada suara tiga orang pria termasuk pria yang tadi menyapanya saat sadar mengampirinya dan berbicara dalam bahasa Ming.

Berikutnya Kyuhyun menyadari dia telah jauh dari negerinya, negeri yang membuatnya menjadi buronan yang harus diburu.

.

.

.

.

Cho Kyuhyun menjadi nama yang harus dikubur dan dilupakannya jika dia ingin tetap hidup. Melanjutkan hidup di Ming tidak berarti dia sepenuhnya aman, dan Kyuhyun tidak memiliki pilihan. Bahkan dia harus rela mengubur identitas asli dan tampil dengan sosok yang baru.

Kim Heechul seorang pria yang menolongnya, membawanya jauh pada kehidupan yang tidak pernah dibayangkan Kyuhyun. Pria itu terus berbicara tentang hidup aman dengan identitas lain, dan Kyuhyun harus melakukannya.

Berikutnya, Kyuhyun harus merelakan ketika sosoknya diganti dengan sosok lain. Sebuah rumah Gisaeng yang didirikan dipusat ibukota Ming menjadi tempat berlindung Kyuhyun. Tempat yang dilindungi sepenuhnya oleh Ming terutama oleh utusan Ming untuk Joseon. Bukan hanya Kyuhyun yang berganti identitas, namun pria bernama Kim Heechul juga berganti identitas yang Kyuhyun ketahui sebagai usaha untuk tetap berada disisi seseorang bernama Tang Hanggeng seorang utusan Ming bagi Joseon.

"Cho Kyuhyun sudah mati, sesuai keinginan mereka. Yang ada sekarang adalah calon Gisaeng Kyuie, dan kau akan tetap hidup. Seperti aku yang akan hidup bersama orang yang melindungiku." Kim Heechul yang berganti nama menjadi Chullie dan menjelma menjadi sosok Gisaeng, menjelaskan ketidak mengertian Kyuhyun tentang mengganti identitas.

Kyuie, menjalani takdirnya dibawah didikan rumah Gisaeng. Ditempa dan dimatikan karakter aslinya.

"Selama bisa menjaga rahasia, kau akan tetap hidup Kyuie."

Chullie berdiri disebelah Kyuie, angin laut menerbangkan chima satin yang mereka kenakan. Keduanya kini berdiri di dek kapal yang membelah lautan.

"kau memilih untuk ikut pulang ke Joseon, penuh resiko tapi kau tetap memilihnya. Wonju menjadi tempat kembali kita, sesuai tempat asal kita. Kuharap kau bisa kuat."

"Aboeji, Oemmoni, Noona aku pulang sebagai orang lain. Siwon Hyung...aku pulang. Hyung..." bisik Kyuhyun.

W

O

N

K

Y

U

"HYUNG...CHOI SIWON HYUNG..."

"Kyuie..."

Kyuie membuka matanya, langit-langit kamar yang dikenalnya menjadi pemandangan pertama yang dia lihat. Dia bangkit duduk dengan segera, meskipun dia merasakan kepalanya terasa berputar.

"Kyuie, kau telah sadar?" sebuah suara berat dan rendah menyapanya.

Kyuie menoleh dan mendapati pemuda dengan raut khawatir duduk disampingnya.

"Hyung...?"

Choi Siwon terbelalak, tenggorokannya merasa tercekat.

" Apa yang terjadi Siwon Hyung? Kau ada disini?" Kyuhyun mengangkat tangan putihnya, menyentuh lengan Siwon, meyakinkan dirinya kalau semuanya nyata.

Kepalanya masih terasa berputar, yang terakhir dia ingat adalah ketika dia berada dalam dekapan Siwon dan berikutnya dia seolah kehilangan kesadaran. Namun dalam ketidak sarannya pikirannya seolah dipaksa untuk merangkai kembali peristiwa lampau. Semuanya terasa semu, antara mimpi dan kenyataan. Dan sekarang dia terbangun dengan Siwon yang ada disampingya.

Siwon menatap Kyuie lama, sosok yang jatuh pingsan dalam pelukannya tadi malam kini terbangun dengan meneriakan namanya. Siwon merasa terpana, bolehkan dia menganggap Cho Kyuhyun sudah kembali?

"Kyuie, pelankan suaramu. Ini masih di Ojiman dan matahari sudah tinggi." Suara lain menyapa pendengaran Kyui. Chullie yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.

"Kau jatuh pingsan ketika sedang bersama Tuan Hakim Choi, beruntung tidak terjadi keributan dan beliau langsung membawamu kekamar. Apa yang kau katakan barusan saat sadar, kuharap tidak ada seorangpun yang mendengar." Lanjut Nyonya Chullie setengah berbisik.

Kyuie membekap mulutnya sendiri, sadar dengan apa yang telah dilakukannya. Berikutnya dia merasakan ada tangan besar yang membelai rambutnya.

Kyuie mendongak, mendapati Siwon tengah menatapnya lembut.

"Eheum...ini hampir tengah hari, seharusnya Ojiman sudah terbebas dari laki-laki selain para pekerja Tuan Choi. Kami tidak mengijinkan laki-laki lain masuk ke Ojiman saat siang hari. Tidak ada seorang pun yang boleh tahu anda berada disini Tuan."

Siwon mengangguk "Aku akan keluar kamar setelah malam tiba, anda jangan khawatir Nyonya."

.

.

.

.

Kyuie mencuri pandang pada pemuda yang terus menatapnya dalam, pemuda yang seolah tidak lelah untuk tersenyum dan mengikuti setiap gerakan yang dilakukannya dengan tatapan mata.

Berusaha untuk acuh, Kyuie menggerakan kuasnya diatas bentangan kertas. Hurup demi hurup dirangkainya, kali ini bukan puisi.

' Tuan, apa anda tidak lelah untuk tersenyum dan menatapku seperti itu?' Tulis Kyuie diatas kertas, kemudian disodorkannya kehadapan Siwon.

Siwon menggosok batang hidungnya dengan telunjuk jari. Dia merebut kuas yang dipegang Kyuie

'Apakah didunia ini ada orang yang lelah untuk menjadi bahagia? Jawabannya tentu tidak. Dan panggil aku Hyung, Kyu-ie' balas Siwon dibawah tulisan Kyuie.

' Anda seharusnya pulang saat matahari belum terbit, sehingga tidak harus terjebak seharian disini TUAN.'

Siwon membekap mulutnya, berusaha menahan agar tidak mengeluarkan suara.

'Aku akan tetap berusaha masuk kesini dan menyaksikan seseorang yang kucari kini duduk dihadapanku.'

Kyuie membelalakan matanya.

'Siapa yang kau cari?'

Siwon menatap Kyuie lebih tajam.

'Pertanyaan macam apa itu? Apa perlu aku berteriak dan mengatakan pada dunia kalau orang yang kucari sudah kutemukan? Dan aku akan ikut mati bersamanya'

Trak

Srakk

Siwon merasakan tubuhnya terjungkal, Kyuie tiba-tiba menubruk dan memeluknya. Mengabaikan bak tinta yang tumpah dan mengotori seokchima putih yang dikenakannya.

Kyuie membenamkan kepalanya didada Siwon, menyumpal mulutnya dengan cara menggigit durumagi sutera yang dikenakan Siwon.

"Bersabarlah, aku benar-benar akan membawamu kembali, Kyu." Bisik Siwon langsung di telinga Kyuie.

"Kyuhyun, aku ingin dipanggil Kyuhyun kembali." Balas Kyu-hyun sama berbisiknya.

"Bersabarlah."

Siwon mempererat pelukan mereka, pelukan dari orang yang menjadi tujuan hidupnya selama ini.

W

O

N

K

Y

U

"Tuan Gubernur ada surat mendesak untuk anda dari ibukota."

Seorang pengawal berpakain hitam menyerahkan gulungan kertas kehadapan Gubernur Kim Wongsan.

Kim Wongsan segera membuka isi surat dengan segel simbol keluarga Kim dibagian depannya. Membaca deretan huruf yang tertulis singkat hanya beberapa baris

Brakk..

Kresss

Kim Wongsan meremas surat yang dibacanya sampai kertasnya tidak berbentuk.

"Apa putra tertua mendiang Perdana Menteri Kim yang menyerahkannya langsung kepadamu?" Tanya Gubernur Kim pada pria berbaju hitam.

"Ne.."

"Apa dia mengirim pesan lain?"

" Tuan Kim Woobin hanya menyerahkan surat itu Tuan."

Kim Wongsan bangkit dari duduknya, tergesa dia keluar dari ruangannya.

"Kim Eunwoo, apa kau ada didalam?"

Kim Wongsan berteriak didepan kamar keponakannya Kim Eunwoo.

Kim Eunwoo yang sedang menulis puisi ditemani pelayan setianya terkaget begitu mendengar teriakan pamannya dari luar. Dia memberi isyarat pelayannya untuk membuka pintu.

Kim Wongsan segera masuk begitu pintu terbuka. Kim Eunwoo memberi tempat pada pamannya untuk duduk, dia sendiri duduk dengan sopan dihadapan pamannya.

"Sudah berapa lama kalian bertunangan?"

"Ye..?" Eunwoo mengerjapkan matanya, heran dengan pertanyaan yang diajukan pamannya. Terlebih raut pamannya seolah menyiratkan ketegangan.

"Enam bulan Paman." Lirih Eunwoo.

"Lalu sudah berapa lama kau mengenal Choi Siwon putra keluarga Choi?" Lanjut Kim Wongsan.

Kim Eunwoo menundukan kepalanya, sebagai seorang gadis dia merasa malu ditanya tentang hal-hal menyangkut lawan jenis seperti itu.

"jawab saja, paman ingin tahu."

"Sepuluh tahun lalu Paman, aku sudah mengenalnya sepuluh tahun."

Kim Wongsan menganggukan kepalanya berulang kali.

"Apa sudah ada pembicaraan tentang tanggal pernikahan?"

Eunwoo mengangkat wajahnya, tidak mengira akan ditanya seperti itu. Terlebih dia memang tidak tahu harus menjawab apa. Selama ini Siwon maupun keluarga Choi tidak menyinggung tanggal pernikahan mereka.

Hanya gelengan kepala yang diberikan Kim Eunwoo.

"Baiklah, kau dalam tanggung jawabku sekarang. Kau harus mengikuti apa yang kuperintahkan Eunwoo-ya." Tegas Kim Wongsan.

Eunwoo, gadis itu memandang pamannya tidak percaya. Dia tidak bisa menangkap maksud perkataan pamannya itu.

.

.

.

.

Kim Wongsan melempatkan kertas yang dipegangnya kedalam pot pembakaran diatas mejanya. Dengan cepat kertas berupa surat yang diterimanya siang tadi habis dimakan api. Surat yang mengabarkan bahwa catatan kasus pengkhianatan Cho Yeung Hwan yang terjadi sepuluh tahun hilang. Dan ada kemungkinan dicuri oleh pihak yang ingin mengungkap kembali kasus itu.

Kim Wongsan memijit keningnya, dia merasa ketentramannya akan terusik dan dia harus cepat mengatasinya.

"Choi Siwon, aku harus segera mengikatmu."

To Be Cont..

Annyeong yeorobun...

Kali ini saya benar-benar harus sembunyi dari timpukan sendal, setelah hampir satu bulan FF ini tidak update, giliran update malah menjadi seperti ini. Baiklah yah...semoga g makin membingungkan.

Terimakasih bagi yang terus menunggu kelanjutan FF Saeguk amatiran yang bikin kepala jungkir balik saat menulisnya, hadeuuhhh siapa suruh bikin FF saeguk cobaaaaaaaaaa? (Jedotin kepala)

Yang pasti deep bow sedalam-dalamnya buat semua review untuk FF ini, saya gak nyangka lhoooo banyak yang respon. Gamsahamnidaaaa... inginnya disapa satu-satu, eummhh mungkin dichap depan kita coba berkomunikasi dengan baik yah...

Okeh okeh...mari SEBARKAN CINTA WONKYU SEJAGAD RAYA

Happy Long Weekend