Disclaimer: Karakter dari Meitantei Conan dan Magic Kaito adalah kepemilikan Aoyama Gosho. Saya hanyalah seorang fansnya yang dengan seenak jidat meminjam karakternya untuk dinistai sepenuh hati.

Summary: Sebuah kehidupan biasa di sekolah yang lebih dari biasa, lima orang murid biasa yang menggemari manga yang sama harus menghadapi kenyataan bahwa hari-hari mereka akan diubah menjadi sangat tidak biasa. Entah kutukan atau berkah? Jawabannya hanya dapat dibentuk oleh mereka sendiri... Dan kenalan-kenalan baru mereka, tentu saja.

Rating: Untuk sementara? T. Kedepannya tergantung jalannya cerita.

Pairing: Yang resmi bakal jadi baru future KaiShin dan HeiKazu. Yang lain bisa berubah seiring perkembangan cerita.

Warning: Masih shounen-ai menjurus BL (nantinya). Bahasa campur-aduk. Penistaan karakter. Apdet suka-suka Author. OCs. Full pipa aer. Spoiler komik Conan sampai chapter terbaru. Beware!

A/N: Ada yang udah nonton Lupin III vs Conan movie terbaru!? Njir keren banget tapi sayang banget yang bagian KID cuma seiprit orz #malahcurcol Terima kasih yang sudah bersedia membaca ataupun hanya numpang lewat, Author sangat berterima kasih. Oh iya, mohon kesediaan reviewnya untuk kritik dan saran yang bisa membangun fic ini menjadi lebih baik o'-

Untuk reviewer anon, selamat Anda adalah reviewer pertama di fic story multi-chapter pertama Author ini! Wah makasih sudah dibilang bagus :') Mengenai fic Author yang itu, maaf sekali sedang dihiatuskan karena Author masih belum terjebur kembali dalam fandom Death Note, dan demi reviewer-reviewer yang sudah mau bergabung dalam menyumbangkan penistaan karakter DN, Author tidak mau mengerjakan fic tersebut setengah-setengah *wink* Fic ini juga diciptakan sekaligus untuk melatih tata bahasa Author, supaya fic tersebut bisa jadi lebih bagus lagi nantinya (selain karena memang Author sedang kejebur (jauh) lagi di dalam fandomnya).

Oh iya, lain kali pesannya di PM saja biar Author bisa jawab secara pribadi, atau lewat review di fanfic tersebut, ya. Terima kasih :')

On to the fic!


Chapter 3: A New Trouble

.

.

.

Datang dan pindah kesini, meski untuk kepentingan sebuah kasus yang sudah membuatnya frustasi selama hampir dua setengah tahun belakangan ini, merupakan sebuah kesalahan yang tidak diprediksi seorang Hakuba. Meskipun kedatangannya adalah demi mengungkap kebenaran dan seluk beluk dari kasus yang meliputi benda tersebut... Mendengarkan suara Hattori yang cukup membuat pekak telinga sekarang, rasanya tidak setimpal.

"... Biar kuringkas apa saja yang kalian katakan barusan. Jadi kalian bilang kalau kami tidak bisa mengetahui apa yang kalian rahasiakan atas nama cinta, keadilan, dan copyright yang disusung tinggi sampai langit ketujuh? Sumpah macam apa itu?!" Stress akan kejadian yang makin lama makin nggak jelas, Heiji menaikkan suaranya beberapa oktaf. Yang sudah berpengalaman menutup kupingnya dan berhasil menyelamatkan diri dari kebudekan lokal.

Hakuba, salah satu dari yang berhasil menutup telinga, menghela nafas dan memutuskan untuk angkat suara. "Hattori-kun. Tidak ada gunanya bagimu untuk berteriak-teriak, hal tersebut malah akan membuat mereka semakin... Takut. Dan bisa mengundang perhatian orang yang tidak diinginkan." Atau merusak gendang telinga mereka secara dini, manapun yang bisa terjadi lebih dulu. Kelima orang yang menerima death glare dari detektif Osaka itu cuma bisa ketawa kering.

"Kejadian kayak gini nih yang bikin gw ngiri sama terkenalnya Lupin III sama Fujiko... Mereka tahu semuanya nggak ada yang nanya caranya gimana." bisik Haruka frustasi kepada teman-temannya. Yang dibisikin cuma bisa ngangguk paham. Dan berharap kalau Lupin gak ikutan nongol juga, sudah cukup hancur tembok keempat disini.

Balik ke masalah sekarang. Di samping mereka bakal disemprot guru masing-masing karena mendadak ngilang (mungkin Fura bisa mengandalkan puppy eyes trademarknya untuk mengeluarkan mereka dari masalah yang satu itu?) masa iya mereka harus bilang ke tiga orang yang cuma bisa pake akal logis ini kalo mereka itu karakter fiktif di dunia ini... Bagus kalo gak divonis gila dan dikirim ke Grogol.

Tapi mereka sumpah nggak kepikiran alesan lain lagi yang bisa dipake buat ngeles dari ketiga orang kelewat perfect ini... Mungkin Shinichi dan Heiji bisa menerima fakta keberadaan dimensi lain setelah mengalami sendiri kenyataan kalau orang bisa menciut layaknya Alice in Wonderland. Tapi Hakuba?

Mereka hanya bisa berharap kalau dia diam-diam ternyata adalah penggemar berat Doctor Who.

"Oke, oke! First thing first, then." Heiji nginggris. "Nama kalian. Dan jangan coba-coba pakai nama palsu, karena kami akan langsung tahu! Dan pasti ada konsekuensinya, kami pastikan!" perintahnya, tidak menyadari lirikan Hakuba dan Shinichi yang seakan berkata, 'Kita? Lo aja kali, gue mah nggak.'

Elaine yang nyadar langsung cekikikan. Frau facepalm part dua. Fura yang daritadi diam saja mulai mencoba brainstorming. Nama palsu, atau nama asli? Tapi dia sudah tahu namanya Frau... Dan ini bukan Death Note jadi harusnya oke-oke saja, kan?

"Er, biar gw aja yang ngenalin." Elden angkat bicara setelah melihat Fura diem aja sambil mikir, dan teman segengnya juga ikutan mingkem. "Gw Elden Regnflod, cowok rambut biru disana Frau Rainriver, cewek pirang itu Elaine Dupre, yang rambut cokelat disana Kirazu Haruka, terakhir yang rambut item disana Ella Sinclair, tapi lebih biasa dikenal sebagai Fura. Yak ada pertanyaan?"

Yang angkat tangan malah Haruka.

Elden mengikuti grup facepalm yang tanpa sadar mulai terbentuk di tempat itu. Entah kenapa dia penasaran tapi jadi takut nanya. "... Ya... Haruka?" Tapi akhirannya ditanya juga! "Jadi sekarang gimana? Ceritain aja nih?" Gadis itu menanyakan pertanyaan yang seharusnya didiskusikan diam-diam ketika tidak sedang ada TIGA DETEKTIF di ruangan yang sama dengan mereka. Elden ngeden pengen benturin pala ke dinding terdekat sekarang. "Cerita apa?" Shinichi nyaut, angkat alis.

"Yawdalah ya, gw yakin mereka bisa jaga rahasia sih." Fura nyumput, sebelum ngasih satu lirikan ragu ke Heiji yang manggil nama Conan aja salah melulu. "Toh lambat laun bakal ketauan juga. Tapi mule darimana nih- Eh, Ruk, lo taroh tas laptop kita dimana?" Liat kanan-kiri, kok nggak ada ya.

Haruka garuk pala sebelum ngeluarin leptop mereka semua dari lemari dinding tersembunyi disana. Kalo data mereka diapus semua demi kerahasiaan gimana...

Mendadak Fura tereak, "TUNGGU!", bikin Haruka nyaris aja ngejatohin semua leptop mereka. Elden langsung gerak cepat demi keselamatan lepinya tersayang, ngebantuin cewek itu dan meletakkan kelima lepi mereka dengan penuh kasih sayang di lantai. "Ehanjirkudamonyong- kenapa dah Fur?" Elaine latah, ngelusin dadanya buat nenangin.

Yang ditanya malah nunjuk Hakuba dengan sangat nggak sopannya. "Kok kamu nanya kita tahu kalian itu detektif darimana, padahal kita nggak pernah nyebut-nyebut soal detektif!" Yang lain terkesiap. Benar juga ya? Jadi Hakuba bluff- "... Elaine-kun yang menanyakan kepada Sera-kun, aku hanya menyampaikan apa yang Sera-kun katakan padaku tadi."

...

Semua mata tertuju pada Elaine, yang langsung ngadep ke arah lain sambil bersiul inosen dengan watados.

.

xXx

.

Setelah satu sambitan buku catatan ala Blues Clues dilemparkan pada subjek yang bersangkutan, empat orang siswa minus Elaine yang terbaring tepar di pojokan dengan lebay pun tampak duduk membentuk lingkaran dengan tiga orang detektif SMA yang baru pindah. Laptop-laptop yang masih tertutup dan sudah dilepaskan dari external hardisk yang sudah disimpan di tas laptop masing-masing diletakkan di tengah. Sekilas, mereka terlihat seperti cult pemuja internet.

"Oke, first things first."

Setelah berkata demikian, Fura dengan sadis nyubit satu persatu pipi orang-orang disana sebelum nyubit pipinya sendiri. Berbagai jeritan kaget dan teriakan protes pun terlontar, termasuk beberapa sambitan dari orang-orang agresif (baca: Heiji dan Elden dan Haruka) yang nggak terima digituin. Fura yang dikeroyok mendadak, otomatis ngambil bantal berbentuk ikan berwarna pink ngejreng yang langsung ditaro di atas kepalanya.

"Ow! Ampyun! Argh! Shinichi, pegang ini dulu!" Fura ngelempar bantalnya, yang langsung diterima Shinichi dengan bingung. Kegilaan macam apa lagi ini...

"Kau apa-apaan, sih!" Heiji naik darah. Lagi. Hakuba hanya menatap tidak senang sambil mengelus pipinya yang memerah karena cubitan Fura yang kayak cabe rawit. "... Mengecek apakah kita ada dalam samaran, tentu saja, bukankah begitu, Ella-kun?" "... Fura aja plis. Aneh banget Ella-kun..." Cewek itu sweatdropped. "Iya, tentu aja. Precaution dong, prekausyen." Mengambil bantal ikan dari Shinichi, dia menghela nafas lega. Bagus, berarti Shinichi yang ini asli.

Gut. No KID... Yet, she hopes. Hey, namanya juga fans!

"Jadi, aku yakin kalau kalian semua bisa jaga rahasia." mulai Haruka, yang sudah memuaskan nafsu balas dendamnya dengan nendang Fura. Shinichi, yang sudah berpengalaman menjaga rahasia sepanjang dia berubah jadi Conan (walau kadang-kadang dia fail berat), hanya mengangguk. Sorot matanya terlihat haus akan kebenaran (ceilah). Heiji mendengus kesal, tampak siap menghajar karena curiga. Dengusan dan tatapan curiganya baru berhenti ketika Shinichi memberinya sebuah lirikan yang menandakan kalau mereka tidak berbahaya, dan dengan segera berganti menjadi lirik penasaran. Lalu dia terdiam sejenak, menghela nafas dan menyilangkan tangan.

"Tentu, mengapa tidak?"

Dan menyuarakan apa yang dibatinkan oleh kedua detektif sisanya.

Mengangguk puas, Haruka menyerahkan sisanya pada Fura yang ngedumel dan bangkit dari pose korbannya, untuk mengambil tas laptopnya yang tertindih paling bawah. Njir Shiro-channya, semoga dia nggak apa-apaaaa!

"Jadi," dehem Fura, mengindikasikan mereka semua untuk duduk mengelilingi laptop yang terbuka dan sedang boot-up tersebut. Terlihat logo Jendela mengawang-awang selagi dia berbicara. "Apa yang akan kalian lihat, terserah kalian mau percaya atau tidak... Uh gimana ya jelasinnya." Dia garuk pala. Frau yang kasihan, akhirnya angkat bicara. "Kemungkinan paling besar, teori Spring Theory terbukti. Entah kenapa, dengan suatu alasan, dimensi atau "plane" kalian menyatu dengan dimensi kami, dimana eksistensi kalian diwujudkan dengan keberadaan komik dan anime serta game dari imajinasi seseorang. Dan karena mendadak kalian ada disini, tentu saja eksistensi tersebut menjadi lenyap tidak tersisa; walau masih dipertanyakan kenapa kami dikecualikan. Walau tentu saja masih dipertanyakan juga apakah ini termasuk 'realm' bukannya 'dimensi' seperti yang ada di fandom Yu-Gi-Oh."

Tampang "Hah?" terlihat jelas dari ekspresi ketiga detektif di depan mereka. Sisanya swt karena Fura bawa-bawa teori dari fandom lain. "Lebih cepet kalo kalian liat sendiri, deh. Fur, lama bener boot-upnya..." "Ya sabar, kan tadi di-hibernate. Masih untung nggak di-shutdown... Ah udah nyala nih." Layar login berlatar empat chibi Gosho Boys pun terlihat, dengan icon chibi KID dan Shinichi versi Dark Knight duduk bersebelahan terletak di tengahnya.

Heiji dan Hakuba ber-"Whut" ria, Shinichi bengong.

Elden ngerekam pake hapenya. Lumayan deh reaksi mereka, blekmel gratisan.

Selesai memasukkan password (yang langsung di-ckckck oleh Elden karena ya astaga obsesif sekali- Fura langsung menunjukkan Death Glare Special Khusus Saos ABC andalannya), layar pun tampil- menunjukkan sebuah desktop yang terdominasi oleh KID si Pencuri a.k.a Kaitou KID. Wallpaper, pointer, bahkan sampai start button semuanya menunjukkan logo khas pencuri gentleman yang selera pakaiannya layaknya model iklan pemutih baju itu. Hakuba mulai frustasi, mengira Fura adalah seorang KID fan (sebenernya iya, untung aja wallpienya nggak nunjukin Kaito... Wait tadi nggak ada yang nyadarin yang pake gakuran itu Kaito di logon screen kan!?) dan Heiji sama Shinichi menyerukan hal yang sama ketika melihat 'penampakan' tersebut.

"... Kau penggemar KID!?"

Yaelah mas nyante aja dong bilangnya.

Mencueki teriakan gaje mereka, gadis itu bersiap menghover dan membuka folder komik Detective Conan di laptopnya sebelum Elden menghentikannya dengan satu tangan. Fura nengok. "Wat?"

Alis si bocah berambut merah berkerut. "Gw nyaris lupa. Rule OC nomor satu. Jangan spoiler plot, Fur."

...

Tumben-tumbennya bocah sambel ini mengeluarkan opini yang begitu bijaksana. Mengangguk mengerti, satu aura serius kemudian Fura beralih pada Shinichi. "Shinichi!" "H, hah?" "Kamu terakhir di Jepang abis ngapain! Ngaku!"

Yakali dia mau jawab, Fur...

Pusing, Frau yang sedari tadi menonton saja mengambil alih. "Kasus kalung di kolam renang, sudah terjadi?" Satu pertanyaan yang dilontarkan dengan begitu inosen dan dengan poker face amatiran, namun dengan maksiat berhasil membuat wajah detektif ternama itu memucat seputih susu dan Heiji mengerutkan alisnya, sebelum akhirnya Shinichi menjawab dengan sebuah "Ya." pelan. Mungkin dia sudah nyerah dengan segala keabsurdan yang terjadi ini. Diam-diam, empat orang OC (minus Haruka yang paling nggak apdet) menggumamkan yes pelan dalam hati.

Up to date berarti. Dan Sera masih misteri asdfghjkl.

"Yah, intinya." Karena sedari tadi obrolan mereka muter-muter gak jelas dan jam pelajaran ketiga sudah hampir berakhir, Haruka angkat tangan untuk menengahi. "Kita tahu semua yang terjadi sama kalian," kecuali yang unofficialnya, "Dan kami mengetahuinya karena dimensi tempat kalian berada itu adalah anime dan manga di dimensi kami. Yang sekarang kami gak punya buktinya soalnya mendadak semua hilang dari internet kecuali yang ada di laptopnya kami begitu kalian mendadak transfer ke sekolah ini, gitu loh."

"Buktikan."

Sebuah suara yang terdengar kering karena masih mengundang ketidakpercayaan (atau denial) keluar dari Hakuba. Fura naikin alis dengan pandangan 'maksud lo bukti selain wallpaper KID dan logon screen tadi? Okeh.' sebelum mengeluarkan dompetnya, keychain chibi KID menggantung di udara. Yang lain otomatis ngikut, tentu saja.

Elden nunjukin badge Detective Boys (imitasi) yang melekat di bagian samping tasnya.

Haruka nunjukin binder bersampul Gosho Boys dengan KID masih full costume.

Elaine dengan ceria mengeluarkan kotak pensil bertuliskan 'Detective Conan' dengan font super besar dan dibold.

Terakhir, Frau yang merasakan mata ketiga detektif yang ada disana memandangi mereka satu persatu dengan tidak percaya, nyengir dan mengeluarkan hape androidnya, menunjukkan Shinichi dengan pose detektif dan kacamata Conan sebagai lock-screen.

Cukup sebagai bukti, kan?

Memutuskan kalau Hakuba masih bisa ngeles, Fura mengklik salah satu folder video dan menunjukkan sekilas episode anime Meitantei Conan dimana ada adegan Shiho ditembak Gin. Dan satu adegan filler Magic Kaito dimana Hakuba dan KID berebut masker gas.

Sebuah senyum malaikat dari gadis tersebut menyambut tatapan penuh kesadaran dan horor para detektif. Yang ekspresi wajahnya terlihat seakan dunia sudah berakhir. Oh tidak mungkin informasi sedetil itu bisa didapat bocah-bocah ini, tidak mungkiiin.

Setelah keheningan sekian lama (yang sebenarnya hanya beberapa detik, komentar Elaine yang dengan kurang kerjaannya ngitungin lama diemnya) akhirnya Shinichi angkat suara. Wajahnya sudah terlihat lebih kalem. Sedikit.

"Once you eliminate the impossible, whatever remains, no matter how improbable... must be the truth."

... Dasar maniak Holmes, quotenya itu-itu terus.

"Sir Doyle, eh, Kudou-kun?" Sebuah tawa kecil akhirnya terucap dari Hakuba yang tampak merilekskan dirinya. "Kau benar. Meski hal ini terlihat sangat mustahil, tetapi tidak tidak mungkin... Oleh sebab itu, teorinya berada." Pengucapan Hakuba yang sebenarnya adalah trensletan langsung dari quote novel Holmes tersebut membuat kelima OC kita sempet garuk kepala sejenak, Haruka bonus ngikik. Sepertinya akan butuh waktu lama sampai mereka bisa dengan lancar menggunakan bahasa Indonesia, heh?

Heiji yang sedari tadi diam saja, menggaruk kepalanya. "Oke, jadi kita ini karakter manga di dunia kalian..." Keraguan masih terdengar dari ucapannya, tapi siapa sih yang bisa menerima kenyataan bahwa mereka adalah karakter manga yang setiap kelakuan dan pemikirannya bisa dibaca orang banyak di seluruh dunia? "... Lalu, apa tujuan kalian memanggil kami kesini, hm? Dari apa yang kalian bilang, katanya bukti bahwa kami eksis di dunia internet sudah hilang, terus kalian ngapain manggil kami selain buat ngebeberin hal-hal barusan? Kalian mau memblackmail kami?"

Kelima siswa ngedip. Mandang satu sama-lain. Lalu menjawab serempak, "Nggak tahu deh~"

Tanpa perlu dikomando, ketiga detektif pun langsung jatuh gedubrakan.

.

xXx

.

Setelah diskusi singkat, perkenalan lebih lanjut, dan kesepakatan bahwa apa yang mereka ketahui akan menjadi rahasia sampai saat yang dibutuhkan nanti (bahkan menjadi rahasia di antara para detektif itu sendiri, ya ampun susah ya jadi detektif), ketika bel yang menunjukkan jam pelajaran keempat sudah dimulai berbunyi akhirnya mereka balik ke kelas masing-masing dengan alasan super jenius yang mereka colong dari Bleach: sakit perut, ke toilet, 'dapet' dadakan (buat yang cewek), dan tidak lupa alasan klasik pergi ke UKS. Guru-guru mereka yang mager bertanya lebih lanjut pun membiarkan mereka duduk.

Mari berpindah fokus sementara ke kelas IPS yang tentram dan damai, dimana para murid tengah berisik menunggu kedatangan guru Geografi, yang merupakan pelajaran selanjutnya. Sekumpulan murid cowok sedang asik main capsa, kumpulan murid lain main UNO, dan sekumpulan cowok lainnya main gulat-gulatan di depan kelas. Untuk Fura hal tersebut sangat dihargai untuk 'asupan' gratisnya. Untuk Elden, dia bersumpah akan membeli sebuah harisen di festival Jepang berikutnya. Kayaknya dia butuh. Atau beli 2 sekalian buat adeknya. Derita jadi peran tsukkomi ya beginilah.

Shinichi yang baru 2 jam mengenal kelas IPS Mekameka hanya mengerutkan alisnya, dalam pikirannya sedikit heran kenapa anak SMA di sekolah ini lebih anak-anak daripada teman-teman sekelasnya ketika dia masih jadi Conan. Memutuskan untuk tidak ambil pusing, dia beralih memutar badan untuk berbicara pada Elden yang sedang bengong.

"Apakah disini selalu seperti ini?" Tangannya memberi gestur menunjuk seisi kelas. Elden ngangguk, lidi asin di gigitan hasil jajan di kantin tadi.

"Hooh. Guru-gurunya woles juga sih, walau ada satu-dua guru killer yang ngebikin kita semua jadi murid teladan dadakan. Mau?" Tawaran lidi asin yang diterima dengan rasa penasaran oleh Shinichi. Pas menggigit, wajahnya mengernyit. "Oh iya gw lupa bilang, disini biasa makanannya kebanyakan garem dan rasanya tajem. Jadi siap-siap aja masak di rumah kalo nggak suka makanan warteg, lo ngekost kan?" Derita anak kosan. Menghabiskan lidi di pegangan, Shinichi mengerang tanda mager. "Warteg itu saja apa aku tidak tahu..." Ckckck, kau kehilangan jalan hidup murah, Shinichi. Tapi orang berduit kayak dia ngapain ke warteg ya...

Ngomong-ngomong, kok dari tadi Fura diem aja ya.

Menengok ke arah sohibnya, ternyata yang bersangkutan sedang mengutak-atik hp. "Ngapain lu?" "Ada aja, udah liat aja ntar in case si dia nongol." "Si dia tambatan hatimu maksudnya?" "Sssh. Tambatan hati Shinichi tauk!" Elden facepalm mendengar komentar terakhir Fura. "Shinichi kan punya Ran, dasar fujo!"

"Er... Bisa tolong tidak membicarakan masalah itu di dekatku...?"

Suara depresi bocah Beika itu menuai keterkejutan dari kedua penggosip yang bersangkutan. Kesambet apa lagi nih anak?

"Heh? Emangnya kenapa, kan disini nggak ada yang kenal." Fura si super tidak sensitif bertanya sambil memandang Shinichi penasaran, posenya berubah menelungkup di meja dengan bantalan lengan. "Ah, paling berantem lagi." Si tidak sensitif nomor dua, Elden, menimpali sambil ongkang kaki. "Atau mungkin Ran lagi diemin dia lagi." Kedua orang tersebut kemudian melanjutkan diskusi kemungkinan-kemungkinan hal yang terjadi pada Shinichi, seakan-akan orangnya tidak sedang berada disitu dan mengeluarkan aura gelap yang lebih intens.

Geplak!

"ADOW, SAKIT BEGO! NYARI MASALAH LOE AMA GUE!"

Sebuah sambitan kotak pensil dari Shinichi dengan sukses mendiamkan gosip lokal yang sedang berlangsung. Elden mau teriak protes lebih lanjut, tapi wajah Shinichi yang gelap seakan-akan sedang pakai pore-pack dengan sukses membuatnya terdiam. Meskipun dia tidak sensitif, dia masih bisa merasakan aura membunuh.

Fura yang tingkat nggak sensitifnya nyaris nomor satu mengenai masalah percintaan, malah nanya lebih lanjut. Terlebih setelah melihat detektif muda itu menunduk, dengan tangan terkepal di pangkuan dan bahu yang sedikit gemetar. "... Shinichi... Lo nangis...?"

"Diam! Aku tidak nangis!" Sekaan dari lengan baju kepada muka mengucapkan hal yang lain. Elden dan Frau terhenyak. Ada apa nih? Apa ada hal yang beda dari canon manga, anime, atau dll-nya?

.

xXx

.

Berpindah sejenak ke kelas IPA

"HUAPAAAAHH!?"

"Sssshhhtt!"

Sebuah bungkaman cepat yang dilakukan Frau kepada Haruka berhasil menghindarkan keempat orang yang tengah kongkow di pojokan depan kelas itu dari perhatian yang tidak diinginkan. Setelah melihat kanan-kiri untuk mengecek bahwa tidak ada yang melirik ke arah mereka dan tangan Frau sudah lepas dari mulutnya, Haruka mendekatkan tubuh ke arah Heiji yang heran kenapa bocah di depannya ini bisa begitu keras berteriak.

"Yang bener aja mereka udah putus, 'Ji?! Jadian aja belom!"

"Siape yang kau panggil 'Ji! Nama ogut Heiji, inget itu!"

Haruka berjengit. 'Ji... 'ogut' itu udah ketinggalan 1 dekade lebih. Pake 'gue' aja, okeh? Siapa sih yang ngajarin lu bahasa gaul Indonesia, gw mo ketemu orangnya terus tos sama dia..."

"HEH!"

Puyeng karena dua orang itu mulai berisik lagi, Frau pun menghela nafas dan berusaha mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Dua orang ini digabung hampir sama parahnya dengan Fura dan Elden...

"Jadi? Siapa yang memutuskan?"

"Ah..." Mendengar kalimat tersebut, Heiji duduk dari posisi hendak-menjitak-Haruka-nya. "... Kudo yang memutuskan lewat telepon. Katanya, dan gue kutip, "Aku tidak mau memberikannya harapan palsu." begitu setelah kutanyakan kenapa nee-chan menangis curhat ke Kazuha."

Dangdut banget nyet. Tapi gak boleh ketawa, gak sopan. Frau melirik ke arah Hakuba yang terlihat memasang earphone, mungkin dia mendengarkan berita radio. Orang kayak Hakuba, mana tertarik ngegosip. Melihat keadaan aman karena Hakuba lagi budek sementara, obrolan pun dilanjutkan.

"Iye juga sih... Dia kan nggak jelas apakah bakal kembali ke tubuh asal secara permanen atau nggak. Organisasi Men in Blek yang kalian kejer juga lagi nggak jelas juntrungannya kemana kan..." Haruka menghela nafas, dalam hati heran kenapa guru Kimia mereka belom dateng-dateng juga. Ada apaan neh? "Oh, kalau soal itu- sebenarnya ini rahasia, tapi karena kalian sudah terlibat secara tidak langsung... Organisasi Hitam menunjukkan belang mereka di daerah ini, di Indonesia."

HUAPAAAAAHH!? kedua.

"Ngapain mereka ada di Indonesia!" Haruka panik sambil ngacak-ngacak rambut Frau, susah nyisir rambut panjangnya kalo diusrek-usrek soalnya. "Duuuh mampus gue, kalo mereka mendadak ada di sekolah ini gimana, apalagi nyamar dari salah satu guru kita! Dih amit-amit jabang bayi! Heiji lo musti tanggung jawab udah ngasih tau dengan jadi bodyguard kita! Kita manusia biasa soalnya!"

"... Gw juga manusia biasa kali. Lagian ngapain, kalian kan nggak bakal deket-deket sama bahayanya mereka."

Oh, silly Heiji. Kau tidak tahu kalau OC sudah berinteraksi dengan para karakter utama di fanfic pasti ujung-ujungnya, mau nggak mau, langsung nggak langsung, mereka bakal keseret juga.

"Manusia biasa gak bisa jalan di atas pedang dan tenang-tenang aja ngeliat mayat! Pokoknya tanggung jawab atau gw bilangin Kazuha kamu naksir dia dari jaman baheula!"

Heiji merah. "SIAPA YANG NAKSIR AHO ITU, BANGKE!"

"Mr. Denial. Dan waw kamu ngapdet kosa kata sumpah serapah darimana..."

Dan adu mulut pun berlanjut hingga guru Kimia masuk kelas...

.

xXx

.

Kembali ke kelas IPS, yang masih belum ada gurunya

Setelah gagal menarik informasi lebih lanjut dari Shinichi mengenai hubungannya dengan Ran dan bertekad akan menggunakan Heiji sebagai sumber info sekunder nantinya, Elden dan Fura kembali duduk dengan tenang. Bu Dewi, guru Geografi yang dihibahkan untuk mengurusi anak-anak kelas IPS, terlihat datang sambil membawa-bawa seorang anak cowok... Itu siapa perasaan gak pernah lihat di sekolah ini.

Dan seperti disambar petir, Elden dan Fura serentak menengok ke arah Shinichi. Lalu nengok ke arah anak yang baru dibawa bu Dewi. Lalu balik nengok lagi ke arah anak di depan sampai-sampai Shinichi menaikkan alis sebelah, bingung kenapa dua kenalan barunya ini mendadak joget ayan bersamaan.

Sampai dia melihat ke arah pemuda yang terlihat selesai membantu guru mereka membawakan peta-peta super besar ke dalam kelas itu telah berdiri di depan papan tulis. Sejak kapan...? Jangan bilang ada anak baru juga yang pindah di hari yang indah ini? Kebetulan macam apa ini. Dan terlebih lagi, wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan wajahnya. Mungkin nanti suatu hari dia harus menyelidiki kehidupan seksual sehari-hari sang ayah (mengingat tampangnya diturunkan dari beliau) untuk mengecek kenapa banyak kloningnya bertebaran. Dulu, seorang pemain kendo ketika dia ke Osaka. Sekarang, anak pindahan di Indonesia.

Walau... Warna matanya lebih menjurus violet bila dibandingkan dengan warna mata biru langit miliknya...

Sekarang perhatiannya teralih kepada duo ayan yang joget dadakan tersebut. Ella (yang entah kenapa memilih dipanggil Fura) tampak mengubur wajahnya di kedua tangan, bahunya terlihat bergetar. Elden sendiri terlihat melakukan solo headdesk dadakan. Alis Shinichi berkerut. Ada apa nih? Kegilaan macam apa lagi yang sebenarnya timbul?

Entah kenapa, dia tidak begitu menyukai firasat dadakannya yang memberitahu kalau akan ada kegilaan yang lebih lagi setelah ini...

Sementara Shinichi berkontemplasi dan membuat deduksi dalam pemikirannya, duo OC kita malah tengah histeris dengan cara mereka sendiri. Fura yang bahunya bergetar terlihat berusaha menahan tawa maksiat campur kegirangan fangirlingnya, dan Elden sendiri stres karena firasatnya ternyata jadi kenyataan. Dan bu Dewi yang memperkenalkan pemuda di depan kelas mereka sebagai teman baru mereka yang akan bergabung mulai hari itu selain Shinichi, dan baru dikenalkan pada saat jam keempat karena yang bersangkutan tengah mengurus kepindahannya ke Indonesia.

Tawa ala mak lampir perlahan terdengar dari arah Fura dan Elden berhenti headdesk dan memutuskan untuk menerima takdir bahwa mulai detik ini Fura akan mengeluarkan aura yang semakin tidak enak di kelas mereka, saat sang murid baru menjentikkan jari dengan sebuah cengiran.

Poff

Asap tebal berwarna pink muncul, dan setelah menghilang menampakkan tulisan dari asap yang tersisa di udara, yang membentuk sebuah nama dalam huruf latin. Murid-murid sekelas terkesima dan ber-waow ria, menunjukkan kekaguman mereka. Fura bersorak batin, Elden makin pasrah, dan Shinichi menaikkan kedua alisnya.

"Kaito Kuroba, 17 tahun (dusta banget), calon pesulap, pindahan dari SMA Ekoda di Jepang! Salam kenal semuanya, semoga kita bisa berteman dengan baik, ya!"

Dan dengan satu kerlingan mata, cewek-cewek sekelas langsung pada teriak 'KYAAAA'.

Shinichi sweatdropped sambil tertawa kering dalam hati. Nambah lagi orang anehnya...

Dan tanpa perlu bermusyawarah atau mencapai mufakat, Elden dan Fura tentu saja bertekad untuk menggeret karakter baru malang itu ke secret base mereka nanti bersama dengan yang lain.


xXx

Bersambung ke chapter 4