Naruto punya Om Masashi Kishimoto
Story by Anzu
Pair : SasuFemNaru slight other
Rating : M
Genre : Romance, hurt/comfort
Warn : OOC, ranjau typos, gender bender, gaje, cerita pasaran, alur kecepetan
Naruto : 16 thn
Kyuubi : 18 thn
Deidara : 22 thn
Sasuke : 25 thn
Itachi : 27 thn
Sasori : 25 thn
.
"Ayoo Dei nee, kalahkan Kyuu nee! Kalahkan!" Naruto dengan semangat membara bersorak mendukung Deidara yang tengah bermain PSP bersama Kyuubi di dalam kamar Deidara. Entah sejak kapan permainan yang awalnya hanya mereka gunakan untuk mengisi waktu luang setelah makan malam berubah menjadi adu ketangkasan(?). mungkin sejak Naruto masuk ke kamar Deidara dan menggoda Kyuubi yang hampir selalu kalah melawan Deidara.
"Diam baka imouto!" geram Kyuubi risih mendengarkan sorakan Naruto untuk Deidara.
"Hihihihi Kyuu nee marah! Ye ye Kyuu ne marah….." Naruto melompat-lompat di atas kasurnya dengan riang. "Kalau Kyuu nee marah akan mudah mengalahkannya dei nee…."
Deidara hanya terkikik mendengar guyonan Naruto. Sesekali ia melirik Naruto yang masih melompat-lompat di atas kasurnya lalu berkata, "hati-hati Naru, kau bisa jatuh…"
"Huum…" Naruto mengangguk masih sambil melompat-lompat.
"Sial!"
Deidara menoleh pada Kyuubi lalu tersenyum puas. "Jika kau marah akan sangat mudah bagi ku untuk mengalahkan mu, imouto." Tangannya masih dengan lincah menekan-nekan tombol pada stick PSPnya. Ia tahu bahkan dalam keadaan Kyuubi tidak marah pun akan sangat mudah untuk mengalahkan Kyuubi. Kyuubi memang tidak pandai dalam beradu game PSP dengannya.
"Aku tak akan kalah dari mu lagi, Dei nee." Sumpah Kyuubi.
"Kita lihat saja, Kyuu."
Naruto yang masih asik melihat pertarungan sengit kedua kakaknya turun dari ranjang lalu duduk di belakangf mereka. Ia meniup-niup tengkuk Kyuubi dengan kurang ajarnya.
"Baka! Apa yang kau lakukan?!"
"Hahahaha mengganggu Kyuu ne biar kalah, hahaha."
"Cari mati ya?!".
"Hahahaha." Dan Naruto hanya bisa tertawa melihat Kyuubi marah. "Ne. Kyuu nee jika kau kalah kau harus mengajari ku memanah di sekolah. Kau sudah janji lo…"
"Jangan harap, Naru."
"Kalau begitu Naru akan mengganggu Kyuu ne biar cepat kalah." Dan di mulailah aksi Naruto dengan terus meniup-niup tengkuk Kyuubi dan terkadang menowel pinggang Kyuubi sehingga membuatnya terkadang hilang konsentrasi.
"Ya! Ya! Berhenti Naru…kau akan membuat ku kalah!"
"Memang itu tujuan ku. Wheeek" Naruto menjulutkan lidahnya sambil menghindar ketika dilihatnya tangan Kyuubi hendak memukulnya.
"Hahahaha, hentikan Naru, tanpa kau ganggu pun dia akan kalah melawan ku." Deidara berucap bangga. Tinggal sedikit lagi dan Kyuubi pasti akan….
"YAAAAA~~"
Dan teriakan pun membahana terdengar di seluruh penjuru kamar Deidara. Teriakan kemennangan bercampur dengan teriakan kekalahan. Sudah dapat dipastikan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Naruto dengan segera memeluk Deidara dari belakang ketika melihat permainan di menangkan oleh Deidara. Kyuubi dengn kesal membanting PSP nya ke lantai yang beralas karpet berwarna merah.
"Tidak boleh marah lo, Kyuu nee." Naruto menggoda Kyuubi sambil mengerlingkan mata kirinya. Deidara terkikik geli.
Menyedekapkan kedua tangannya di dada Kyuubi menatap Naruto dan Deidara dengan pandangan kesal. "Sebenarnya untuk apa kau ingin belajar memanah?"
Naruto mengerucutkan bibirnya imut sehingga mau tak mau Deidara yang melihatnya langsung mencubit pipi chubbynya. "Ah, Dei nee." Naruto cemberut.
"Karena Naru penasaran saja. Naru kagum ketika melihat Kyuu nee memanah benar-benar terlihat keren." Naruto mengacungkan dua ibu jarinya kepada Kyuubi tapi yang di tatap hanya memasang wajah datar, lalu ditolehkannya kepalanya menatap Deidara. "Dei nee harus melihat Kyuu nee ketika memanah. Kyuu nee terlihat seperti wanita tangguh!"
"Benarkah itu?" Tanya Deidara basa basi. Sebenarnya ia tahu bahwa kemampuan Kyuubi di bidang non akademik tidak perlu dipertanyakan lagi. Ia hampir bisa menguasai jenis olahraga.
"Huum, dan Dei nee juga harus melihat bagaimana tatapan kagum para siswa ketika Kyuu nee maju untuk menunjukkan aksinya. Semua mata terpana! Sungguh! Naru tidak berbohong!"
"Kau terlalu berlebihan Naru," sanggah Kyuubi. Ia beranjak dari duduknya lalu berjalan ke ranjang Deidara dan merebahkan tubuhnya disana.
Naru mengikuti Kyuubi merebahkan tubuhnya di ranjang sedang Deidara membereskan PSP. "Naru tidak berlebihan, sungguh! Bahkan para siswi di kelas Naru selalu berdecak kagum jika melihat Kyuu nee sedang memegang busur. Mereka bilang Kyuu nee sangat keren." Naruto tersenyum lima jari memperlihatkan gigi-gigi putihnya.
"Kyuubi memang pandai memanah. Dia juga sangat terlihat menawan jika sudah memakai baju memanah sambil memegang busurnya." Deidara ikut memuji.
Kyuubi mendengus. "Dei nee juga jago memanah, kan?"
Deidara terdiam. Saphire Naruto membola. "Benarkah itu Dei nee?" kali ini Naruto menatap Deidara yang masih terdiam dengan PSP yang masih di genggaman tangannya. "Dei nee?"
Deidara tergagap. "A-ah, itu kan masa lalu." Deidara segera memasukkan PSP ke dalam laci. Entah kenapa ia terlihat gugup sekaligus gusar. Kyuubi yang dapat melihat hal itu hanya menatapnya datar.
"Jadi benar Dei nee juga dulu jago memanah?"
"Tidak jago, Naru. Hanya bisa, itu saja." Deidara tersenyum.
"Aaaah~ jadi hanya aku saja yang tak bisa memanah?" Naruto mengerucutkan bibirnya kesal. Saphire nya kini kembali menatap Kyuubi dengan pandangan mencela.
"Nande?"
"Pokoknya Kyuu nee harus mengajari ku memanah." Paksa Naruto.
Kyuubi memutar bola matanya malas. "Aku tidak janji."
"Kenapa begitu? Kan tadi Kyuu nee sudah kalah. Ajari aku, nee chan. Ajari aku." Naruto terus merengek.
"Naru jangan mengguncang-guncang tubuh ku!"
"Naru tidak akan berhenti sebelum nee chan mengiyakan permintaan Naru," rengek Naruto. "Ajari Naru, nee chan. Yah yah...please...nee chaaaaaan..."
Kyuubi segera menutup telinganya dengan bantal karena tak mau mendengar rengekan sang adik. "Ya ya ya...akan aku ajari besok, sekarang diamlah! Suaramu membuat gendang telinga ku mau pecah.
"YEAAAYYYY!" sorak Naruto penuh kegembiraan. Sedang Deidara hanya bisa menatap kesuanya dalam diam.
Entah sampai kapan kebahagiaan mereka saat ini akan bertahan. Kehidupan mereka yang sebenarnya belum benar-benar dimulai. Deidara khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu di keluarga mereka siapa yang kan menolong mereka? Dengan sifat Naruto yang manja akan sulit untuk beradaptasi dengan kejamnya kehidupan, sedang Kyuubi Deidara yakin sang adik bisa melewati semuanya dengan baik bahkan mungkin lebih baik darinya. Dan ia sendiri – Deidara – adalah yang paling tua, tanggung jawabnya terhadap kedua adiknya jauh lebih besar.
.
.
Naruto terbangun dari tidurnya. Dengan nikmat, ia merengganggkan lengan di atas kepala. Melirik jam berbentuk buah jeruk di meja samping tempat tidurnya ia mengernyitkan kening. Masih jam lima subuh tapi kenapa suasana rumah sudah terdengar ramai? Dengan gerakan malas Naruto turun dari ranjang empuknya lalu melangkahkan kaki keluar kamar.
"Oka chan, kenapa sudah bangun?" tanya Naruto sambil mengucek kedua matanya ketika sampai di tangga paling bawah.
"Oh, Naru sayang kau sudah bangun?" Naruto mengangguk kemudian berjalan menuju Kushina yang tengah menata meja makan lalu memeluknya dari belakang. "Manja sekali, eh? Ayo cepat basuh muka mu, sayang. Sebentar lagi kedua nee san mu akan turun."
"Euungh..." bukannya menuruti perintah Kushina, Naruto justru semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya pada punggung Kushina. "Naru masih ngantuk kaa chan, Naru mau tidur lagi."
Kushina menegakkan tubuhnya lalu memutar tubuh Naruto hingga berhadap-hadapan dengannya. "Tidak bisa sayang, sebentar lagi kau harus bersiap-siap ke sekolah. Apa Naru lupa jika harus berangkan naik kereta, hmm?"
"Naik kereta itu menyebalkan." Naruto mengerucutkan bibirnya kesal. "Terkadang Naru harus berdiri dari pertama masuk sampai Naru turun dari kereta. Kaki naru pegal, kaa chan."
"Naru..." Kushina menangkupkan tangannya pada pipi Naruto lalu mendongakkannya hingga kedua bertatapan dengan saphire Kushina. "Naru bersabar ya, setelah kaa chan dan tou chan menyelesaikan masalah-masalah di perusahaan Kaa chan janji akan mengembalikan semua yang Naru miliki."
"Semuanya kaa chan?"
"Ya, semuanya."
"Rumah Naru?"
"Tentu saja."
"Mobil untuk antar jemput Naru ke sekolah?"
"Iya, sayang."
"Yeayyy! Sebentar lagi Naru akan hidup senang lagi. Yeaaay! Arigato kaa chaaaaan!"
Naruto memeluk Kushina dengan erat lalu segera berlari ke lantai dua. Sudah jelas kamar kedua nee san nya lah yang dituju.
GREPP!
Seseorang memeluk pinggang Kushina dari belakang.
"Kau mirip sekali dengan Naru, anata."
"Benarkah?"
Kushina mengangguk.
"Kenapa kau katakan hal-hal yang mustahil?"
"Memangnya apalagi yang bisa ku lakukan untuk menyenangkan hati putri ku? Setidaknya biarkan ia tersenyum hari ini. Naru berhak mendapatkan semua yang dia inginkan."
"Lalu bagaimana dengan esok hari? Esoknya lagi dan lagi? Kau akan terus membohonginya?"
Kushina menyentuh lengan suaminya lalu mengelusnya pelan. "Untuk esok hari dan esoknya lagi kita akan terus membuatnya tersenyum, anata, jika bukan kita maka kedua putri kita yang lain juga akan terus membuatanya tersenyum. Naruto idak akan pernah hidup dalam kebohongan kita. Ia pasti akan mendapatkan kebahagiaannya tapi tidak untuk saat ini."
Minato tertegun. Mungkin benar juga apa yang di katakan Kushina, suatu saat Naruto pasti akan menemukan kebahagiaannya sendiri.
"Kau sangat menyayangi Naruto."
"Aku menyayangi semua putri kita, Minato. Mereka permata hati kita, bukan begitu?"
"Ya, mereka permata hati kita, Kushi." Minato mengecup kening Kushina. "Dan kau adalah cahaya hati ku. Tanpa mu aku pasti – "
Kushina menyentuhkan jari telunjuknya pada bibir Minato. "Kita lalui semuanya bersama-sama, Mina. Kita akan selalu bersama."
"Kau janji?!"
"Aku berjanji."
Lalu sebuah kecupan di bibir menjadi bukti sumpah mereka untuk terus bersama.
.
.
.
Tok tok tok!
Suara ketukan terdengar dari luar ruangan Direktur Utama perusahaan Namikaze Corp. Seorang pria paruh baya berpakaian jas dengan rambut pirang mendongak menatap pintu berukiran bunga sakura lalau berucap, "masuk!"
Cklek!
"Namikaze sama." Seorang wanita berpakaian hitam putih dengan rok selutut masuk dan langsung berjalan menuju meja sang Dirut.
"Ada apa Kurenai?"
"Uchiha sama ingin bertemu dengan Anda."
"Uchiha?" beo sang Namikaze sambil tercenung. "Baiklah, suruh dia masuk."
Setelah memberikan izin sesegera mungkin Namikaze Minato membereskan dokumen-dokumen yang ada di mejanya. Tak mungkin ia menyambut tamunya dalam keadaan meja yang berantakan.
"Tak biasanya seorang Uchiha datang kemari," gumam Minato heran. "Pasti masalah penting."
"Namikaze sama, Uchiha sama sudah tiba."
Minato mendongak. Saphirenya bergantian menatap sekretarisnya dan seorang pemuda yang berada di belakangnya.
"Kau bilang Uchiha kan, Kurenai?" tanyanya penasaran.
"Benar Namikaze sama dan beliau ini adalah Uchiha sama yang ingin bertemu dengan Anda." Kurenai menggeser tubuhnya agar Minato dapat melihat orang yang di maksud. Dengan anggukan samar dari Minato Kurenai mempersilahkan Uchiha untuk duduk di sofa yang berada tepat di tengah-tengah ruangan.
Pria yang di maksud Uchiha oleh Kurenai berbeda dengan Uchiha yang biasanya Minato lihat di acara-acara pesta yang biasanya di gelar oleh perusahan-perusahaan besar di Konoha. Uchiha yang baru saja di bawa oleh Kurenai terlihat lebih muda dan...dingin? kata dingin sedikit membuat Minato merinding.
Dengan rambut ravennnya yang melawan gravitasi serta pancaran matanya yang sangat tajam sepertinya hal ini cukup menegaskan bahwa ia memanglah seorang Uchiha. Tapi dia yakin dia tidak pernah melihat Uchiha yang satu ini. Biasanya ia melihat Uchiha yang mempunyai rambut panjang di kuncir kuda dengan tanda lahir di wajahnya.
"Namikaze san." Sebuah suara baritone menginterupsi lamunan Minato.
Dengan tergesa-gesa Minato segera menghampiri pria yang –katanya- bermarga Uchiha. Suara yang baru saja menyapa indera pendengarannya benar-benar datar dan dingin.
"Sumimasen Uchiha san, saya...hanya sedikit terkejut." Minato tersenyum canggung. "Anda mau segelas – "
"Tidak perlu." Potong Sasuke. "Aku kesini karena ada urusan penting dengan mu." Sasuke menatap Minato tanpa berkedip. Sedang Minato yang mendapat tatapan yang lebih mirip tatapan intimidasi langsung menegakkan tubuhnya.
"Sebelumnya..." Minato berdehem. "Bisakah Anda meyakinkan saya bahwa Anda adalah seorang Uchiha? Saya...tidak pernah melihat Anda sebelumnya. Yang saya tahu hanya Uchiha Itachi."
Salah satu sudut bibir Sasuke tertarik ke atas. Jelas menunjukkan raut merendahkan tapi hal itu tak mempengaruhi Minato sama sekali.
"Aku adalah Uchiha. Uchiha Sasuke, salam kenal Namikaze Minato." Lalu sebuah seringai terpampang jelas di wajah stoic nya.
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Minato yang awalnya sudah menegang kini harus di tambah lagi dengan keringat dingin yang mulai keluar dari kulitnya. Minato tahu siapa Uchiha Sasuke ini. Ia adalah adik dari Uchiha Itachi.
Diam-diam Minato mengumpat dalam hati. Kenapa baru sekarang ia mengingat jika Itachi mempunyai seorang adik? Minato sedikit waspada. Banyak rumor yang mengatakan jika adik Uchiha ini lebih kejam daripadi si sulung, tapi sepertinya rumor itu sedikit banyak memang benar. Minato dapat menyimpulkannya dari ekspresi dan gerak tubuh Sasuke yang sangat mengintimidasi.
"Aku kesini untuk meminta seuatu dari mu," ucap sasuke untuk memulai pembicaraan yang serius. Sasuke tidak suka bertele-tele.
"Meminta?" tanya Minato memastikan.
"Hn."
"A-apa yang Anda minta dari saya? Perusahaan Uchiha lebih besar daripada Namikaze corp. Sesuatu seperti apa yang kami miliki dan tidak dimiliki oleh Uchiha?"
"Permata Namikaze."
Hanya dua kata dan hal itu sudah dapat membuat Minato lemas.
Pria di hadapannya ini pasti bercanda kan?! Permata Namikaze? Yang benar saja! Batin Minato heran.
"Jujur, Uchiha san saya tidak mengerti dengan apa yang Anda maksud." Diam sejenak. "Anda meminta Permata Namikaze? Untuk apa?" pertanyaan bodoh, Minato tahu itu. Tidak mungkin seorang Uchiha menginginkan sesuatu tanpa alasan yang kuat. Tapi kenapa juga harus Permata Namikaze?
"Kau orang cerdas Namikaze, tidak mungkin kau tidak mengerti dengan apa yang aku katakan." Sasuke menopangkan dagu di tangan kanannya yang terletak pada lengan sofa. "Sebelumnya aku sudah bertemu dengan salah satu putri mu, dan harus aku akui jika putri mu benar-benar mempesona. Mereka sangat indah. Bukan begitu?" Sasuke memiringkan kepalanya sambil tersenyum miring.
Minato meremas kedua tangannya dengan gundah. Tidak mungkin kan Uchiha bungsu ini menginginkan salah satu putrinya? Tapi jika benar begitu siapa diantara ketiga putrinya yang ia inginkan?
"Siapa?" tanya Minato pelan.
"Naruto. Namikaze Naruto."
.
.
Tbc
.
aaaaa gomen minnaa saaaan saya update telat T.T
tolong maklumi saya yang baru saja selesai PPL setelah 3 bulan lamanya...
btw, masih adakah yang mau membaca dan mereview?
gomeen makin gaje dan ngebosenin...
