Bite (Versi Kaisoo)

Pairing : Kaisoo and other

Warning : Yaoi. OOC. OC. Lime. Lemon. Bahasa kasar. GS (untuk beberapa cast). Death Chara.

Rating : M

Summary : Kyungsoo terpaksa menyamar menjadi kakak perempuannya yang baru saja meninggal untuk mendapatkan dana asuransi kesehatan yang dimiliki kakaknya. Bagaimana hari-hari yang dilalui Kyungsoo selama masa penyamaranya? /Kaisoo/and other pair.

A/N : Fic ini milik Nymous senpai selaku author originally-nya, Je Ra Cuma mengubah castnya dan sedikit meng-edit aja dan Je Ra sudah mendapatkan izin untuk me-republish fic yang berjudul Bite ini ke Versinya Kaisoo jadi bagi Readers yang mugkin sudah pernah baca fic 'Bite' yang aslinya, Je Ra tegaskan ini bukan Plagiat ne ^^.


Chapter 4

"HA? A-APAA?" pekikku kaget. "Apa kau sudah gila?!"

"…" Kai tetap diam dengan masih menatapku lekat-lekat.

"Apa ? apa kau mau bilang itu untuk anastesi juga?!" protesku sekali lagi.

"Ah, tidak. Maaf, lupakan saja yang kukatakan tadi." Sahutnya lalu turun dari kasurku dengan teratur. Ia lalu melangkah keluar dari kamar ini dengan wajah yang sedikit menunduk, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya dengan baik karena penerangan yang sangat minim. "Selamat malam."

Aku tidak tau apa vampire juga punya darah seperti manusia tapi, jika aku tidak salah lihat, dan jika itu bukan karena pengaruh dari cahaya lilin, tadi itu.. Kai bersemu merah?

"Argh! Apa yang kupikirkan?! Jangan membayangkan hal-hal bodoh! Sial!" gerutuku sambil memukul-mukul kepalaku sendiri .

Tapi.. apa semua yang Kai lakukan padaku itu, sebenarnya.. untuk Sookyung?

Aku jadi kepikiran juga..

Hah.. entah kenapa memikirkan itu membuatku kesal, aku malah merasa.. cemburu.

"Ah! Aku butuh istirahat!" seruku berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh yang mulai berkeliaran di kepalaku. "Mungkinkah ini pengaruh racun vampire?"

Bodoh ah! Aku pun langsung menarik kain bajuku yang masih terbuka untuk kembali menutupi bahu kiriku dan menarik selimut juga, bersiap untuk tidur.

Tuhan jangan biarkan aku memimpikan orang itu!

.

TOK TOK TOK

Terdengar suara ketukan dari pintu depan.

TOK TOK TOK

"HUWAAAHHHH!"

Teriakan nyaring yang keluar dari mulutku pagi itu aku yakin akan membuat siapapun yang ada di depan pintu depan rumah ini pasti terkejut dan berhenti mengetuk.

A-aku.. mimpi ada sembilan Kai yang mengerubuniku di tengah desa, mencabik dan mengeluarkan isi perutku. Menghisap habis darahku dan membuang bangkaiku pada serigala dan anjing liar di hutan. Aaahhh… kenapa aku malah bermimpi seburuk ini? 'Tuhan, kau terlalu baik padaku' batinku menyindir.

Setelah melempar pandangan ke seluruh penjuru kamar dan mendapati hanya ada aku di kamar ini, cahaya matahari yang telah masuk dan menyinari, ini pasti sudah pagi, aku pun mendesah lega.

Tanpa menunggu apapun lagi aku segera menuruni tangga, aku mendengar dan sadar betul kalau ada yang mengetuk pintu. Segera saja aku tergesa-gesa ke ruang tamu sambil menyisir rambut –wig– ku dengan jari asal-asalan.

Ada tamu kah?

Pagi-pagi begini, memangnya ada ya orang yang mau mandi dan berdandan rapi –selain ibu yang akan ke pasar– lalu bertamu ke rumah orang?

Setelah sampai di depan pintu, sebelum aku membuka pintu, aku sempat mengambil mengambil kartu nama yang tamuku sisipkan di kotak kartu nama dekat pintu.. saat kubaca, tertera nama perusahaan asuransi tempat Sookyung menjadi anggota.

'W-WHA-WHAAT?!' hari ini? Ah, aku lupa kapan hari pegawai pihak asuransi itu berjanji akan datang, aduh, menyesal rasanya mengacuhkan pesan ibu saat mengantarku naik kereta sebelum aku berangkat ke desa ini.

Jadi ini harinya? Bagaimana ini… aku belum bersiap-siap. Mana mungkin Sookyung menyambut tamu dengan penampilan seberantakan ini. Mana ada bekas darah di gaunku lagi.

Setelah memutar kunci pintu, aku tidak segera pintunya.

"Err, Tuan, silahkan masuk, maaf aku tidak bisa membiarkan melihatku menyambut tamu dengan penampilanku sekarang. Jadi masuk dan buat diri tuan nyaman di sofa sementara aku bersiap-siap dulu." Sahutku pada siapapun yang kuyakin sedang menunggu kubukakan pintu di luar sana.

Tanpa menunggu respon, aku pun segera mengambil langkah seribu menaiki tangga dan membanting pintu kamar.

Mongobrak abrik isi lemari, mencari baju mana yang paling 'Sookyung banget'. Sambil mencomot handuk basah dari kamar mandi –tidak berniat mandi– untuk mengelap badanku.

Setelah sedikit membersihkan diri. Memasang gaun renda-renda rok payung yang begitu berat , aku lalu berusaha sebaik mungkin menata wigku yang sepertinya sudah hampir batas kedaluwarsa untuk lepas. Memoles wajahku dengan sedikit bedak dan tak lupa pewarna bibir pink lembut untuk bibirku.

Aahhh… senangnya ketika melihat aku tampak sangat mirip dengan Sookyung. Dan aaagghhh.. menyebalkannya ketika aku sadar aku benar-benar mirip dengan seorang wanita! Aku berdandan! OMG! Bakat dari mana ini?!

Terdengar seperti suara benda yang sedang dimasukkan ke dalam tas saat aku menuruni tangga. Aku agak kerepotan saat menjinjing rok payung ini untuk turun. Aku hampir tidak bisa melihat anak tangga yang aku jejaki karena benda –rok payung– ini terus bergoyang tiap kali aku melangkah.

Dengan suara dan sikap yang kubuat semanis mungkin, aku pun melangkahkan kakiku memasuki ruangan dimana tamuku sedang duduk tenang menunggu sejak tadi.

Jas putih yang sangat rapi bak pangeran –eh? Dia seharusnya pihak asuransi 'kan?– sepasang dengan celananya yang bagus dengan warna yang senada. Rompi krem di atas kemeja putih kusam dan dasi pita berwarna merah.

"WUAH! BAEKHYUN?!" teriakku kaget dengan suara yang tidak kalah ributnya dengan lengkingan yang kubuat tadi pagi saat aku menatap wajahnya, membuat penampilan 'manis' yang sejak pagi tadi kusiapkan meleleh begitu saja.

Aku segera menutup mulutku dengan kedua tangan sambil memasang sikap malu-malu.

Tenang… tenang.. Baekhyun tidak akan tau. Dia tidak akan tau kalau aku Kyungsoo.. tidak.. tidak.. kumohon Tuhan jangan sampai dia tau.

"Ah, apa aku mengejutkanmu, Sookyung-ssi?" sahutnya dan bangkit dari kursi dengan ekspresi agak merasa bersalah.

"Tii-tidak.. maaf, a-aku tidak tau kalau pihak asuransinya ternyata kau ,Baekhyun. Kemana tuan yang biasanya?" tanyaku berusaha agak tidak terlalu terlihat seperti diriku.

Aku lalu mengambil kursi tepat di depannya dan Baekhyun pun kembali duduk di kursinya.

"Mulai sekarang aku akan menjadi wakil tiap kali ada keperluan di desa ini. Jaraknya terlalu jauh, jadi perwakilan sebelumnya yang memang sudah agak kurang sehat tidak bisa lagi bolak balik dari kota ke tempat ini. Apa anda keberatan, em, Sookyung-ssi?"

"Tidak sama sekali. Hahaha, aku hanya sedikit terkejut melihat orang yang kukenal ada ditempat ini." Sahutku dengan sopan.

Baekhyun, dia sahabat karibku. Dia lebih dekat denganku daripada dengan Sookyung, bahkan hubungan kami masih berjalan dengan sangat baik sampai beberapa bulan yang lalu, ketika dia tiba-tiba tidak pernah lagi berkunjung. Rupanya dia mendapat pekerjaan di perusahaan asuransi? Kenapa dia tidak pernah memberitahuku?

Ber-acting di depan orang yang bisa dibilang tau seluk beluknya dirimu lebih sulit dari pada mengelabui semua orang, tanganku tidak henti-hentinya basah oleh keringat. Mengingat betapa penuh kejutannya orang dihadapanku ini, nyaris menyaingiku. Aku tidak bisa berhenti khawatir kalau-kalau dia tiba-tiba memanggilku dengan nama "Kyungsoo" buka "Sookyung".

Kami nyaris seperti saudara, sangat dekat. Dia adalah pengganti Sookyung saat aku sedang butuh seseorang untuk berbagi. Terkadang orang-orang asing yang kebetulan melihat kami menganggap kami seperti sepasang saudara yang sangat manis. Melihat wajahku yang mirip perempuan dan wajah Baekhyun yang putih dan berambut coklat dengan iris matanya berwarna hijau yang sangat indah membuatnya sangat manis, nyaris seperti anak perempuan pula. Kami selalu jadi bahan ejekan saat masih kanak-kanak. Tapi jelas kami –yang aslinya memang laki-laki– tidak akan tinggal diam dan menghajar mereka sampai kapok.

Tapi aku tetap berpikir kalau Baekhyun lebih manis dariku.

"Mau kubuatkan teh, Baekhyun?" tawarku sopan. Aku agak kesulitan memerankan karakter sebagai orang yang agak asing dihadapannya. Mengingat betapa akrabnya aku –sebagai Kyungsoo– dengan dia. Apalagi dia memanggilku dengan embel-embel ssi –seperti yang ia biasa lakukan pada Sookyung– membuatku benar-benar risih.

"tidak, terima kasih banyak. Aku hanya akan segera menjelaskan secara singkat syarat-syarat yang kami ajukan untuk penarikan kembali dana yang telah anda simpan di perusahaan kami. Tolong dengarkan baik-baik.." ujarnya lalu menjelaskan segala titik bengeknya persyaratan yang tak satu kalimat pun aku mengerti. Tapi kalau ini Baekhyun, aku rasa dia tidak akan keberatan membantuku jika dalam kesulitan. Aku bahkan mungkin bisa menjelaskan semuanya secara jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi.. err.. Baekhyun itu, apa bisa diajak untuk berbohong? Dia itu 'kan innocent banget. Meskipun sebenarnya dia baik, tapi mungkin dia akan menjebloskanku ke penjara karena penipuan atas nama 'demi kebaikanku sendiri'. Aduh.. ribet. Padahal kupikir dengan adanya sahabat karibku, aku jadi bisa minta tolong sedikit gitu.. tapi karena ini Baekhyun.. aku jadi tidak bisa berharap banyak.

"… jadi, dari kedua puluh point tersebut, adakah yang kurang anda mengerti, Sookyung-ssi?" sahut Baekhyun diakhir kalimatnya dan membuatku hanya menatapnya bingung.

"Err, hehe aku akan bertanya jika dalam prosesnya ada kesulitan.." jawabku sekenanya sambil menggaruk-garuk pipi dengan jari telunjukku.

Baekhyun menatapku datar sambil terdiam. Seolah tengah menilai sesuatu dan itu membuat jantungku berdegup kencang. Matilah aku!

"Aku baru tau.. kalau Sookyung-ssi punya kemiripan dalam memahami teks-teks sulit, sama seperti Kyungsoo.."

Hah?! Itu dia! Kalimat yang sukses membuatku nyaris meloncat dari tempat dudukku. Akh.. Baekhyun, kau itu…

"To-tolong jangan berkata seperti itu.." sahutku sambil meletakkan telapak tanganku di depan mulut berusaha bersikap malu –dengan gaya wanita– atas apa yang diucapkannya.

Baekhyun segera sadar diri dan meminta maaf, "Maafkan atas kelancanganku ini."

"Tidak apa-apa. Baekhyun memang selalu seperti ini, kadang tidak bisa membedakan kami berdua. Aku ingat saat masih kanak-kanak dulu kau pernah memberi boneka beruang milikmu pada Kyungsoo padahal sebenarnya kau ingin memberikannya padaku 'kan? Itu yang kudengar dari ibu."

"Aku memang ingin memberikannya pada Kyungsoo waktu itu."

Hah?!

Aduh.. niatku untuk mengalihkan pikirannya dari kecurigaan padaku sebagai Sookyung malah jadi lebih rumit!

Baekhyun memang selalu bisa membedakanku dengan Sookyung –aku nyaris tidak bisa meragukan itu–, bahkan betapa pun miripnya pakaian yang kami gunakan.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

"Untuk hari ini, saya hanya akan memberitahukan masalah yang tadi dan ini, ini adalah daftar berkas yang harus Sookyung-ssi persiapkan sebelum penarikan dananya diproses." Ujar Baekhyun lalu menyodorkan selembar kertas padaku.

Ia pun lalu pamit untuk kembali ke kota dan berjanji akan datang satu minggu lagi untuk menjemput berkas-berkas yang sudah kupersiapkan.

Aku hanya bisa mengantarnya sampai ke pintu depan dan menanggapi pamitannya dengan sopan sebagai Sookyung.. bukan sebagai Kyungsoo.

Dia terus-terusan memasang wajah datar dan formal dihadapanku. Membuatku tidak nyaman dan seperti sedang berhadapan dengan orang lain saja. Apa Baekhyun sudah tau kalau Sookyung meninggal? Aku ingin tau apa yang ia rasakan jika memang benar ia sudah tau..

Ol======BVKS======lO

Bangun pagi-pagi bukanlah kegemaranku.. begitu pula memasak. Tapi.. kalau sudah keburu lapar biasanya aku akan bereksperimen sendiri di dapur hanya untuk membuat makanan selayak mungkin untuk masuk keperutku.

Tempat penyimpanan makanan kosong, hanya ada rempah-rempah yang tak satupun aku tau namanya.

Um, aku mau makan daging.

Aku celingak-celinguk di sekitar dapur untuk sesaat membuatku bertanya-tanya. "Kemana katak jelek itu?"

'Daging katak enak tidak ya?' pikirku saat tiba-tiba sesuatu berwarna hijau melompat ke atas meja tepat di hadapanku dan mengeluarkan suara "Froog~" andalannya.

Err.. kutatap makhluk gemuk itu lekat-lekat dengan wajah miris. Mulutnya yang lebar nyaris selebar wajahnya.. matanya yang besar seperti kelereng burik.. kulit bertotol-totolnya yang lembab dan menjijikkan..

"Haaahhhh… mungkin lebih baik aku ke pasar saja deh!" seruku lalu berbalik meninggalkan 'The worst creature that ever I seen in the world' itu.

.

Sejak terakhir aku mengunjungi tempat ini, pasar selalu saja ramai seperti biasanya. Hampir setengah dari penduduk desa terlihat mondar-mandir di sini, suara yang riuh juga benar-benar membuatku bernostalgia dengan suasana di kota. Para pedagang meneriakkan harga dan jenis barang dagangan yang mereka jual, serta para pembeli yang tidak kalah sengitnya berdebat untuk mendapatkan harga yang mereka inginkan.

Aku memeluk erat lenganku dan mengetatkan selendang yang aku gunakan ke tubuhku. Suhunya benar-benar dingin.

"Woohh! Nona Do!" teriak seseorang membuatku berhenti melangkah. Jaraknya tidak terlalu jauh dariku, hingga aku mendengar dengan jelas suaranya ditengah keramaian.

Aku pun menoleh pada sosok paruh baya dengan baju yang sangat kumal oleh pekerjaannya itu. Tangan kirinya memegang pisau jagal yang besar sementara tangan satunya melambai ke arahku. Di depannya terdapat sebuah meja panjang dengan ikan segar berbagai jenis, bentuk, dan ukuran di atasnya. "Kemari!" teriaknya lagi.

Aku pun segera menerobos kerumunan orang-orang yang berjalan untuk menghampirinya.

"Lama tak berjumpa. Kemana saja? Aku punya ikan segar untukmu di sini. Lihatlah!" sahutnya ketika aku berada di depan mejanya. Ia lalu melemparkan seekor ikan sebesar nampan teh dengan mata besar yang melotot tewas di depanku.

Ah, iya Sookyung suka ikan. Em, tapi aku lebih suka daging…

"Em, terima kasih tuan Kwon. Kelihatannya enak untuk digoreng." Ujarku sambil tersenyum manis. Kurasa ikan juga tidak masalah, tapi aku akan tetap mencari daging setelah ini, persiapan untuk makan malam.

Setelah ikan seberat dua kilo itu dibungkus dan dibayar, aku pun segera mencari toko daging incaranku kemudian membeli bumbu –yang setauku cocok– kemudian kembali kerumah.

.

Sesaat setelah aku meletakkan belanjaan di atas meja di dalam dapur, si 'makhluk hijau' muncul di samping bungkus belanjaanku itu.

"Aku akan memberikanmu jeroan ikan nanti. Kau mau?" tanyaku yang segera dibalas dengan sahutan semangat olehnya. "Bersikap manislah kalau begitu (dengan tidak terlalu sering muncul di hadapanku)."

Sambil membersihkan ikan segar di dalam wadah besar penuh dengan air, aku terdiam, menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu.

"Um.. apa 'dia' ada di bawah?" tanyaku agak ragu pada katak yang tengah ada di dekat kakiku –menunggu makanannya– itu.

Si makhluk bertotol itu lalu melompat ke ujung dapur, dan berhenti tepat di atas papan yang menjadi pintu masuk rahasia ke gudang bawah tanah. "Ugh, ada ya.."sahutku depresi.

Apa boleh buat. Tentu saja dia akan tetap ada di sekitarku setelah apa yang aku deklarasikan semalam.

"Aku benar-benar bodoh." Gerutuku.

Saat aku kembali membayangkan kejadian dimana aku tau dia juga menghisap darah Sookyung. Bagaimana dia menjilatiku. Dan disaat dia berkata ingin menciumku membuatku mengeratkan genggaman tanganku pada gagang pisau yang tengah aku pegang untuk memotong ikan. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan emosi.

'Aku harus tau apa saja yang sudah terjadi pada Sookyung selama ini.'

Ol======BVKS======lO

Suara minyak yang mendesis terdengar memenuhi ruangan saat aku meletakkan potongan daging steak mentah ke atas nampan penggorengan yang panas.

Dengan tenang aku lalu menyiapkan saus untuk daging steak kegemaranku itu sambil menunggu dagingnya matang.

Aroma menguar dengan sangat menggiurkan saat aku menambahkan potongan rempah yang tetap tak kuketahui namanya itu meski sering kugunakan ke atas potongan daging yang baru saja kubalik di atas penggorengan.

"Dari aromanya, masakanmu pasti sangat sedap." Sahut suara bariton rendah di dekat tengkuk leherku yang membuatku memekik terkejut dan hampir membuat mangkuk berisi rempah jatuh dari tanganku.

Aku berbalik kesal pada sosok itu dan melemparkannya tatapan merajuk –yang semoga tidak terlalu menggemaskan.

"Maaf.. kau terlihat manis saat terkejut." Sahutnya dengan senyum yang mempesona. Aaghh! Tidaaak!

Langit sudah malam, dan sekarang monster ini sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Aku harap dia tidak akan mengganggu mood-ku saat makan.

"Kau tidak makan 'kan?" tanyaku dari sudut meja yang sangat jauh dari tempatnya duduk sambil memperhatikanku.

Kami berada di sisi meja yang berlawanan. Meja yang memanjang dengan puluhan lilin ditengah-tengah menerangi ruangan berkarpet merah ini membuat suasananya terasa sangat mewah.

"Tidak." Sahutnya lalu tersenyum elegan lagi. Huh! Mau kulempar garpu rasanya ke wajah itu. Berhenti berusaha untuk membuatku luluh padamu!

Aku lalu terdiam. Memotong steak di piringku kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam mulutku satu per satu dengan tenang.

Sambil tengah mengunyah makanan, aku mulai menimang-nimang untuk menanyakan sesuatu yang sejak tadi ingin kulontarkan. Aku melirik sejenak pada sosok yang duduk jauh di ujung meja sana. Dia masih terlihat tenang tanpa suara dalam suasana ini. Dengan gaya khasnya –menekuk kedua tangannya di depan mulutnya– dan menatapku lurus. Aku mulai merasa risih dengan ini.

"Berhenti menatapku." Protesku akhirnya.

"Tidak ada pemandangan lain yang lebih menarik untuk dilihat di sini."

"Di luar sedang cerah. Kau bisa pergi keluar kalau kau mau. Langit berbintangnya indah. Kau juga bisa pergi ke hutan untuk bermain-main dengan serigala dan anjing liar (teman sesama monstermu) itu. Atau.. kau bisa berjalan-jalan ke kota mungkin ada banyak yang menarik seleramu di sana (semoga saja, dan itu akan membuatku terbebas darimu)."

"Saat ini satu-satunya yang menarik seleraku ada di depan mataku sekarang."

Aku tercekat dan nyaris tersedak oleh steak yang tengah kumakan mendengar kalimat itu.

Iris mataku melirik ke samping sebentar lalu mulai menatapnya degan ragu-ragu. "Emm, apa kau harus 'makan' setiap hari?" tanyaku, berharap-harap cemas, semoga jawabannya tidak terlalu mengerikan untuk kudengar seperti 'setiap hari', 'setiap jam' atau 'setiap saat'.

"paling tidak tiga hari sekali, aku hanya bisa bertahan sejauh itu." Jawabnya sambil memperbaiki posisi duduknya lalu menyandar. "Tapi.. aku bisa sedikit menahannya lebih lama jika kondisimu tidak memungkinkan, misalnya saat kau sedang sakit atau sedang datang bulan." Sambungnya lagi dengan santai. Enteng sekali dia sebagai laki-laki mengatakan 'datang bulan' di depan 'wanita' begitu saja.

Tapi jawabannya itu sedikit membuatku lega. Aku bisa punya cukup waktu untuk mengurusi urusanku di sini tanpa perlu banyak direpotkan utuk berpikir bahwa ada vampire yang harus kuberi makan. Hah..

Aku mengelap mulutku yang penuh saus dan membawa piring kotor bekas makananku ke dalam dapur lalu melangkah menuju tangga, berniat ke kamar sampai sebuah tangan yang besar menahan lenganku.

"Kau tidak mau bercakap-cakap dulu denganku sebelum tidur?" tanya Kai di belakangku.

"Kau tidak terlihat seperti orang yang hobi berbicara apalagi bercakap-cakap. Memangnya kau mau bicara apa?"

"Apa saja. Aku baru bisa berkeliaran dan bertemu denganmu setelah malam. Jika tiap kali aku bangun lalu kau sudah tidur dan ketika sudah waktuku untuk bersembunyi sementara kau baru bisa bercakap-cakap, kapan kita bisa saling mengerti?" tanyanya lagi dengan wajah serius.

Sa-saling mengerti..? Are we –you and Sookyung– really lover?

Aku berbalik untuk berhadapan dengannya. Posisiku yang sudah menaiki satu anak tangga membuatku sedikit lebih tinggi darinya. "Apa aku pernah bilang kalau kita berpacaran."

Aku tau betul pertanyaan ini sangat rentan untuk membuat penyamaranku terbongkar, tapi jika kulakukan dengan niat untuk bermesraan sebagai sepasang kekasih –jika memang benar Sookyung dan Kai sepasang kekasih– aku rasa itu tidak aneh.

Mimik wajah Kai tiba-tiba berubah dan ia segera mengalihkan perhatiannya, sama seperti saat aku menepisnya ketika ia meminta untuk menciumku. Ia kemudian membalik tubuhnya membelakangiku. "Tidak. Tidak pernah. Maaf, apa aku lancang?" gumamnya nyaris tidak jelas.

Tidak pernah katanya? Jadi mereka tidak pacaran?

"Y-ya.. sedikit." Aku harus tau lebih banyak lagi. "Um, aku akan menemani mengobrol kalau begitu."

"Terima kasih." Sahutnya lalu menyambut tanganku untuk membantuku menuruni tangga. Aahh.. aku benar-benar tidak tahan harus terus menerus diperlakukan seperti seorang Lady.

"Aku penasaran sebenarnya berapa umurmu?" tanyaku sambil memperbaiki –membuat terlihat lebih feminim– posisi dudukku di sofa ruang tamu. Kai duduk sambil bersandar di sofa tepat di seberang tempatku duduk saat ini.

Kai menatapku sebentar. "Aku hidup di jaman Caligula, kaisar Romawi tiran itu."

"Eh? G-gula apa?"

"Caligula. Aku adalah anak bangsawan di jaman kekuasaannya. Siapapun orang waras yang mengenal kaisar little boots itu tidak akan pernah berminat menjadi bangsawan di bawah kekuasaannya.

"Little Boots..?" tanyaku makin tidak mengerti.

"Caligula artinya little boots. Itu julukan yang melekat untuknya, betapa pun ia tidak menyukainya."

"Err, kenapa tidak ada yang suka jadi bangsawan di jamannya?"

Kai menatapku tajam. "Ia memperolok kami, bahkan anggota-anggota parlemennya saja ia permalukan! Dia adalah pemimpin terburuk yang pernah aku temui dalam hidupku."

"Oh, oke. Aku mengerti." Ujarku berusaha mengalihkan suasana hati Kai yang sepertinya punya pengalaman yang tidak begitu menyenangkan mengenai si gula itu.. "Jadi kau mati. Um, maksudku jadi vampire di sana? Bagaimana bisa?"

Pria berwajah dingin dengan postur tubuh jangkung yang tengah duduk di hadapanku ini lalu terdiam. Sepertinya ia berusaha menyegarkan ingatannya tentang hal itu.

"Saat itu aku dan keluargaku tengah menghadiri sebuah pertunjukan. Kau tau, pertunjukan dimana manusia berhadapan dengan seekor singa di sebuah arena yang besar, itu adalah hiburan yang paling popular di jaman tersebut. Seperti yang sudah aku katakan tadi, kaisar sama sekali tidak menghormati orang-orang kalangan atas seperti bangsawan. Kami bahkan harus berebut tempat duduk di bagian depan –yang sebelumnya memang hak kami– dengan rakyat jelata yang juga ingin ikut menonton. Pertunjukan lalu dimulai. Tapi hari itu para budak yang biasanya digunakan sebagai umpan para singa untuk pertunjukkan sudah habis.

Kaisar lalu dengan seenaknya meminta semua orang yang berada di lima barisan terdepan untuk turun menjadi umpan singa dan ditonton oleh yang lainnya. Orang-orang yang semuanya adalah bangsawan yang ada di barisan itu pun mau tidak mau akhirnya turun. Aku dan keluargaku ada di antara mereka. Kami semua berhamburan di arena untuk menyelamatkan hidup kami dari singa yang sengaja dibuat kelaparang dan marah sat itu." Ujar Kai, ia mengeratkan kepalan tangannya di atas paha dengan gigi bergemelatuk geram.

"Aku melihat ibu, ayah, dan kakak laki-lakiku diterkam dengan buas dan mati seketika di depan mataku. Semua orang yang menjadi umpan pun sudah tergeletak bersimbah darah tak berdaya, menyisakan aku yang masih berdiri dengan kaki bergetar di depan si raja hutan yang surainya sudah dipenuhi oleh darah puluhan orang yang sudah sekarat dan bertebaran di arena. Tidak ada yang bisa menolongku. Para penonton hanya bersorak riuh tanpa ada belas kasih untuk menyelamatkanku." Tatapanya kini terlihat sengit seolah tengah melihat bayangan singa yang siap menerkamnya ada di hadapannya.

"Aku berhasil hidup, tapi dengan luka yang sangat parah. Perlawanan yang kulakukan terhadap binatang itu membuat kaisar puas dengan pertunjukannya. Lalu dalam keadaan sekarat dengan tidak beradapnya para pengawal melemparku ke sel tahanan budak yang gelap dan kotor untuk menunggu dokter pribadi keluargaku datang mengobatiku. Siapapun yang melihat kondisiku saat itu pasti tau aku akan segera mati bahkan sebelum dokter pribadi keluargaku selesai mengemasi tasnya."

"Lalu kau.."

"Ada beberapa budak yang juga sekarat di sel itu dan ada seorang tabib yang bertugas mengurusi mereka. Aku tidak tau kalau maksud kata-kata para pengawal dengan mengurusi para budak itu adalah dengan membunuh mereka atau merubahnya menjadi creature yang lain."

"Jadi tabib itu.." ujarku menggantung.

Kai mengangkat wajahnya. "Dia vampire."

"Dia mengubahmu juga?" tanyaku, membayangkan sebuah sel yang gelap dipenuhi orang-orang yang diubah menjadi makhluk penghisap darah oleh seorang tabib –yang seharusnya menjadi satu-satunya harapanmu untuk hidup– membuatku ngeri untuk berpikir berada di jaman itu.

"Dia hanya mengubahku seorang."

"Eh?"

"Tabib itu adalah jenis vampire yang membuat semua orang yang diggigitnya akan berubah menjadi seperti dirinya. Dia hanya perlu menggigitku dan membiarkanku menyaksikan diriku sendiri membunuh semua budak di dalam tahanan dengan tanganku sendiri," sahut Kai yang kini pandangannya berubah menjadi terlihat lebih dingin dan juga menderita.

"Apa semua budak yang kau serang berubah menjadi vampire juga?" tanyaku kembali ngeri. Aku 'kan juga sudah digigit olehnya.. glup

"Tidak." Jawaban Kai membuatku agak lega, "Umumnya semua vampire hanya akan membuat seseorang yang digigitnya menjadi vampire jika seseorang itu adalah korban yang pertama."

"Hanya korban yang pertama?"

"Iya. Selanjutnya tidak lagi."

Kai kembali terlihat tenggelam dalam pikirannya. Seluruh keluarganya mati di depan matanya sendiri dan ia harus membunuh orang lain untuk bertahan hidup bahkan sebelum dirinya sendiri tenang atas duka kematian anggota keluarganya. Aku tidak bisa membayangkan perasaan seperti itu melanda diriku. Tapi rasanya pasti menyakitkan. Dan setelah itu dia pasti sangat kesepian.. sorot matanya sama sekali tidak bisa berbohong walau berapa ratus tahun pun waktu yang ia lalui untuk melupakan kejadian itu.

Melihatnya terpuruk membuatku teringat saat pertama kali aku bertemu dengan sahabatku, Baekhyun. Keluarganya juga bernasib sama dengan sosok di hadapanku ini . dibunuh di depan matanya sendiri. Baekhyun berdiri berjam-jam di pinggir jalan dalam lebatnya hujan malam yang sangat menggigit tulang. Namun dinginya malam dan tubuhnya yang basah oleh hujan sama sekali tidak membuat sorot matanya yang kosong untuk goyah akan suhu di sekelilingnya.

Tubuh mungilnya bergetar namun hatinya jauh lebih terguncang.

Hatiku meringis melihat ia mematung di sana sementara aku begitu nyaman di balik selimutku yang hangat. Aku pun memutuskan untuk keluar dan menariknya ke dalam rumah. Aku terkejut saat dia sama sekali tidak melawan. Pikirannya benar-benar sudah tidak berada di tanah. Selimut kasurku yang tebal kuseret turun dari lantai dua untuk membungkus tubuhnya. Namun sorot mata itu tetap tidak bergeming…

Tatapanku semakin mengiba..

Akhirnya perlahan kuulurkan tanganku untuk menyentuh wajah yang ada di hadapanku ini.. tubuhku pun ikut bergerak mendekat, sepertinya aku tau apa yang bisa kuberikan untuk menenangkannya.

Aku semakin memperkecil jarak diantara kami hingga akhirnya tubuh itu berada dalam dekapanku. Kulingkarkan lenganku di sekita bahunya dan merebahkan kepalanya dibahuku. Berharap ia bisa merasakan hangat tubuhku. Agar ia sadar ia masih hidup dan masih tetap harus hidup.

Rasanya begitu nyaman dalam posisi ini. Tangan yang kokoh itu lalu melingkar dipunggungku, mendekapku lebih erat kepadanya.

"Gkh-, Baekhyun.." keluhku. Ia memelukku terlalu erat.

"Baekhyun?"sahut suara bariton di dekat telingaku dan membuat bulu kudukku meremang saat sadar dengan posisi kami yang sedang berpelukan. Dan parahnya lagi.. aku yang memulai!

"Huwaaa!" Pekikku dan langsung melompat menjauh, melepaskan diri dari pelukan Kai.

"Siapa Baekhyun?" tanyanya bingung.

"Bu-bukan siapa-siapa aku.. tadi.. err, aku minta ma-, eh?" tangan yang sama yang tadi mendekapku begitu hangat menarik lenganku kasar dan membuatku kembali jatuh dalam pelukannya lagi.

Aku segera protes tapi kembali bungkam saat ia mengetatkan dekapannya dengan begitu erat dan dalam, "Tetaplah seperti ini, aku membutuhkannya.. bisa 'kan?" bisiknya memohon.

Aku bisa mendengar suaranya bergetar. Membuat hatiku mencelos, luluh karena sikapnya yang begitu rapuh di hadapanku saat ini.

Suasana 'memanas' karena suhu tubuh kami terperangkap di satu tempat –dimana tubuh kami menempel. Kalau saja aku menggunakan korset sekarang, aku berani taruhan dengan jumlah gigi yang aku punya, bahwa aku akan mati kehabisan nafas dengan tidak elitnya di dalam pelukan seorang vampire.

Hembusan nafas yang hangat tiba-tiba berhembus di tekuk leherku, membuatku bergidik geli. Hari ini aku menggunakan gaun dengan kerah yang lebar. Nyaris menampilkan seluruh bagian bahuku. Jadi rasanya seperti bagian atas tubuhku –di wilayah leher dan bahu hingga beberapa senti di bawah tulang belikat– sedikit 'mengundang'.

"Ah-" pekikku saat kurasakan daging lembut mengecup leherku hangat. Kecupan itu lalu bergerak pelan ke bahu dan tulang belikatku. Dan lagi-lagi kembali ke leherku, berulang kali di tempat yang sama hingga akhirnya aku merasakan sensasi aneh ketika sesuatu yang basah bergerak menjilati leherku hingga ke belakang telinga.

"Ka-Kai..ngh.. apa yang-," keluhku berusaha memegang kendali akan darah yang segera mendesir hangat ke seluruh tubuhku, merespon sentuhan itu.

Dalam beberapa menit suhu di ruang tamu menjadi semakin panas. Aku tidak begitu mengerti kenapa bisa berakhir seperti ini, dan juga tidak ingat dengan jelas kapan Kai membuatku kini duduk di atas pangkuannya dengan tubuhnya membuat celah diantara pahaku yang membuka.

"Mmmhh.. ahh.. ha, hetikan..nh," entah itu terdengar seperti gumaman atau desahan, yang jelas itu malah membuat Kai lebih intens dengan pekerjaannya. Menjilati leherku, menciumnya, dan memberi gigitan kecil di tempat-tempat yang membuatku memekik terkejut karena tidak pernah tau kalau bagian itu ternyata sangat sensitif.

"Cu-cukup.. nnghh.. nn-," desahku lagi lebih 'tersiksa' saat Kai mencoba menggelitikku dengan memasukkan ujung lidahnya ke lubang telingaku. Sensasi yang benar-benar membuatku, "Ahhnngh..," kehilangan akal sehat.

"Kau selalu membersihkan tubuhmu dengan baik, ya..?" bisik Kai dengan tetap berusaha menggoda di bagian telingaku.

Mencoba memberontak atau melompat menjauh –seperti yang biasa aku lakukan– tidak bisa aku lakukan semudah yang aku pikirkan. Bukan hanya karena Kai mengunci pinggulku dengan memeganginya dengan kedua tangannya, tapi juga karena adrenalin yang terpompa begitu deras di dalam tubuhku, nyaris membuatku lumpuh dan tunduk pada gejolak yang minta membeludak ini.

Seluruh bagian yang terbuka –karena bentuk bajuku memang seperti itu– kini terasa begitu lembab dan basah. Penuh dengan saliva pria yang masih memanggut tubuhku tanpa henti ini. Kissmark bertebaran tak karuan seperti gigitan serangga jika kau masuk ke dalam hutan tanpa lotion anti nyamuk.

Aku ingin berhenti mengerang dan mengeluarkan suara-suara yang membuatku malu sendiri saat mendengarnya, tapi pria ini tidak membiarkanku bernafas walau hanya sedetik untuk mengatur oksigen di sela-sela kegiatannya.

Kai lalu menarik kepalaku dari belakang, membuat wajahku mendongak ke atas hingga ia lebih leluasa menjilati leher depanku dan juga daguku secara vertikal dalam satu kali tarikan lidah.

Aku menutup rapat-rapat mataku saat kurasakan ciuman dan jilatan itu bergerak ke arah bibirku. Segera kukatupkan bibirku serapat aku menutup mataku ketika ia mencoba menciumku. Tapi sensasi geli ketika ia meraup cuping teligaku ke dalam sebuah gigitan kecil yang ia jadikan pancingan membuatku tidak bisa menahan desahan yang terkunci di balik mulutku dan akhirnya, "Ahhhnnn..! terlepas begitu saja.

Dengan beringas Kai langsung saja memanggut bibirku dalam sebuah ciuman yang berusaha kutolak dengan melempar wajahku ke samping, tapi tangan besar yang ia miliki menahan gerakan kepala dan leherku dengan meletakkannya di sudut bawah, samping daguku. Membuatku merasa sakit di bawah daguku karena ia mencegkram kuat daerah itu.

Pasrah kubiarkan untuk sesaat ia menciumku. Dari yang awalnya hanya menempelkan bibir saja –entah ia berusaha membuatku tenang dengan kecupan hangat, yang jelas tidak berhasil– hingga berubah menjadi pagutan panas yang memaksa. Berkali-kali ia menggamit bibirku dengan mulutnya, menjilatinya sampai aku merasa sangat risih tapi juga ikut terpancing.

Entah karena aku yang bodoh atau telalu terbawa suasana hingga aku lupa keberadaan kedua tanganku sendiri yang sebenarnya bisa kugunakan sebagai senjata untuk melawan, aku pun mulai mendorong tubuh Kai menjauh, tidak perlu sampai membuatku terlepas dari pangkuannya –karena aku tau itu nyaris mustahil mengingat kakiku yang terasa lumpuh– tapi paling tidak bisa membuatku lepas dari ciuman ini.

"Kau butuh bernafas, Sookyung…buka mulutmu." Gumam Kai dengan terus menjilati bibirku yang kukatupkan rapat-rapat.

Dengan sedikit bersusah payah aku berhasil membuat sedikit celah di sudut bibirku hanya untuk protes, "Hentikannhh.." pada Kai.

"Tidak bisa.. tidak bisa sekarang, Sookyung.." sahutnya lalu kembali menciumi leherku dan membuatku sedikit lega karena aku bisa bernafas tapi juga membuatku kesal karena harus mengeluarkan desahan-desahan yang memalukan lagi. "Sookyung.." bisik Kai meminta. "Sookyung.. hm.."

Pikiranku berkecamuk. Bukan hanya karena aku sekarang sedang diserang oleh seorang 'pria' yang juga merangkap sebagai vampire, tapi juga karena memikirkan seseorang yang namanya terus saja dipanggil oleh pria menyebalkan ini.

Sookyung..

Ia memang mengaku bahwa ia dan Sookyung tidak berpacaran.. tapi aku tidak bisa tenang begitu saja dengan berpikir mereka tidak melakukan apa-apa hanya karena mereka bukan sepasang kekasih, melihat bagaimana caranya memperlakukanku saat ini.

"Kumohon.. kau tidak seharusnya selalu seperti ini padaku..engghhh.." erangku ditengah kesibukan Kai yang sibuk 'menyegarkan' kembali warna kissmark buatannya di leherku. Aku masih harus berada pada jalurku, mencari tau tentang Sookyung.

Kai menghentikan ulahnya. Ditatapnya wajahku dengan berkerut dahi dalam jarak yang sangat dekat. Aku bisa dengan jelas melihat pantulan diriku di iris matanya yang sekelam batu pualam itu. Berantakan.. penuh peluh, nafas yang memburu, dan pipi yang merona sangat merah, aku bahkan tidak percaya dan semakin sangat malu ketika melihat mataku yang terlihat begitu sayu seolah baru saja menikmati sesuatu yang hebat. Aku menolak untuk mengakui kalau aku menikmatinya. Aku tidak..

"Ini pertama kalinya aku melakukan ini padamu. Kenapa ka berkata seperti itu…" tanya Kai heran.

Aku membuat jarak segera dengan Kai dengan mendorong dada bidang itu dariku, meski dalam posisi dimana aku tetap berasa di pangkuannya. Aku menundukkan tatapanku semata-mata hanya karena malu tadi melihat bayangan diriku di iris matanya, sampai aku lupa harus menjawab apa untuk pertanyaannya.

Melihatku terdiam dan nampak 'malu', Kai merendahkan wajahnya dan memanggut bibirku lembut. Mataku membelalak dan Kai mendorong kepalaku untuk lebih dalam berciuman dengannya. "Mmmhhh.., enngg!" Erangku saat mulutku yang minim pertahanan karena terkejut tiba-tiba dibobol oleh lidah Kai. Begitu vulgar saat kurasakan lidah itu mengaduk-aduk isi mulutku. Memelintir lidahku dan menggelitik langit-langit di dalam mulutku. Aku berusah mendorong benda liar itu keluar dengan mendorongnya menggunakan lidahku justru malah membuatku mengerang lebih sensual dan membuat Kai semakin ganas.

"Mmng..nnh.." aku tidak bisa berhenti untuk mendesah dalam ciuman basah ini. Dan kegiatan kali ini entah mengapa membuatku jauh lebih mudah terbawa dalam permainan ketimbang ketika leher dan bahuku dieksplorasi oleh Kai.

Gerakan mencurigakan yang sepenuhnya tidak begitu kusadari bergerak menelusup ke dalam gaun melalui lututku, bergerak dan mengelus pelan pahaku dan bergerak semakin ke 'tengah'.

"Mngh! JANGAN!" pekikku dengan keras spontan melepaskan ciuman kami dan membuatku terkejut melihat Kai yang masih terduduk di atas sofa namun dengan wajah yang terpalingkan ke samping di hadapanku yang kini sudah berhasil berdiri di atas kedua kakiku sendiri.

Ah.. aku.. aku menamparnya?

Sepertinya aku berhasil melepaskan diri sekaligus memberinya tamparan panas dalam waktu yang bersamaan tanpa aku benar-benar sadari.

Kai masih tetap dalam pose yang sama, seolah menghayati rasa nyut-nyutan di pipi kirinya itu. Bola mata yang mengintip di balik poninya yang agak panjang itu mulai mengarah kepadaku.. tatapannya dingin dan.. menakutkan, "Ah.. aku.. aku minta maaf," Agh! Apa yang aku katakan? Kenapa aku yang harus minta maaf? Dia yang telah lancang menyentuhku begitu, dia yang salah! Bukan aku! Aku tidak perlu takut padanya..!

"Kau keterlaluan.. itu sudah kelewatan, kau tau!" bentakku kemudian. Bersikap seperti wanita Kyungsoo.. bersikap wanita.., "K-kau.. membuatku.. takut.. hiks," sambungku lagi berusaha terlihat ketakutan sambil menyeka air mata di sudut mataku. Eh? Sejak kapan air mataku keluar?

"Sookyung.." ucap Kai melembut.

"A-aku mau istirahat… selamat malam.." seruku dan langsung meninggalkan ruang tamu, berlari kecil menaiki tangga dan membanting pintu dengan tidak terlalu keras. Meninggalkan Kai yang kuyakin sekarang merasa sangat bersalah di bawah sana. Rasakan!

Di balik pintu aku merosot jatuh ke lantai dengan bahu yang menempel dengan daun pintu. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.. aku tidak pernah menduga akan sejauh ini peranku sebagai wanita. Hal buruknya tidak hanya sebatas aku harus menggunakan pakaian wanita yang sialnya sangat cocok denganku.. tapi aku juga harus diserang oleh seorang pria?! Arrgghhh!

Berkali-kali kugosok mulut dan lidahku dengan kain baju dengan punggung tangan dan juga lenganku. Lalu mengosok-gosok pula leher dan semua bagian yang ia sentuh menggunakan telapak tanganku. Aku tidak terima! Aku tidak terima! Aku tidak terimaaaa!

Ugh, aku masih bisa merasakan sensasi lidahnya di dalam mulutku. Dan rasa panas di titik-titik dimana kissmark yang ia catolkan di tubuhku…. Hiyaaahh! Ini mengerikaaaann!

TBC


Akhirnya chapter 4 sudah Je Ra update walaupun lagi-lagi kelamaan hehe #ditendang readers.

Terima kasih banyak buat yang udah mau review di chap-chap sebelumnya, Je Ra harap chap ini dan seterusnya masih ada yang berkenan untuk mereview dan semoga jumlahnya makin banyak agar Je Ra lebih semangat lagi ngelanjutin-nya.

So readers,,

REVIEW please ^^

Balasan review untuk chap sebelumnya:

Fans : Ini udah di update kok. Makasih ya udah review ^^ .

siscsMinstalove : Hallo juga sisca. Ngingatin sama Creepy pasta ? (O.O) menurut sisca begitukah?

Yap benar, hubungan Jongin sama Sookyung Cuma sebatas 'makan' aja. Kalau soal kapan identitas Kyungsoo yang sebenarnya akan terbongkar di beberapa chapter lagi. Makasih ya udah review ^^ .

joonwu : Sepertinya memang sudah ada benih-benih cinta antara Kaisoo XD. Kai cuma pengen mencium Kyungsoo doang. Kalau sama Sookyung sih nggak. Makasih ya udah review ^^ .

ViraHee : Karena Kyungsoo terlalu mirip sama saudara kembarnya Sookyung makanya nggak ketahuan. Setidaknya belum. Makasih ya udah review ^^ .

94for93 : Identitasnya Kyungsoo sebentar lagi bakalan terbongkar kok.. yang sabar ya. Makasih ya udah review ^^ .

Cute : Konfliknya bakalan ada kok. Makasih udah review ^^ .

males login : Mungkin karena fic ini cuma fic remake dan Je Ra juga author yang masih sangat baru. Makasih ya udah mau review ^^ .

uffiejung : Mau tau reaksi Jongin? Hm, keep reading and review ya karena bentar lagi juga bakalan terbongkar kok identitasnya Kyungsoo. Makasih udah mau review ^^ .

yyunjjae : Ini udah lanjut kok. Makasih ya udah review ^^ .

mrblackJ: XD. Ini udah lanjut kok. Makasih ya udah review ^^ .

fan: Je Ra nggak tau ini apa yang salah kok review nya fan munculnya yang untuk chap 1 padahal reviewnya masuk semalam, jadi Je Ra balas reviewnya di sini aja ya.

Kok kaget? Kaget kenapa? Memang Je Ra udah mendapatkan izin sebelum me-remake fic ini dan Nymous senpai mengizinkannya asalkan tetap mencantumkan nama author yang ficnya di remake agar tidak dikira plagiat. Untuk yang spin off versi kyuubi Je Ra belum tau mau post juga atau nggak soalnya Je Ra Cuma minta izin untuk me-remake fic yang ini aja. Makasih ya udah review ^^ .