Love In Sunset Cafe: Sunset Legend
.
Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
Love In Sunset Cafe Yamanaka Chika
Romance & Friendship
Chapter 4 UPDATE!
Warning: Gaje, typo, alur kecepetan, OOC, multichapter, dll.
Pair: ItaIno, SaiIno, ItaHana
Summary: Kini hubungan Itachi dan Ino mulai membaik, Itachi sudah kembali pada rutinitasnya yaitu mengunjungi Cafe Sunset setiap hari. Ino dan Itachi juga jadi makin sering menghabiskan waktu bersama, namun apa yang Itachi rasakan ketika melihat kemesraan Sai dan Ino yang semakin menjadi-jadi?
Minna! Gomen ne Chika gak bisa Apdet Flash, dikarenakan tugas-tugas yang menumpuk dari sekolah dan banyaknya fic-fic Chika yang masih dalam proses untuk dipublish nanti. Huuft, mungkin setelah chap 4 ini Chika akan semi-hiatus sebentar... Ingat loh! SEBENTAR*reader: tau tau!* Nah, makasih banget buat:
Shana Love IchiRuki, El Cierto/El-nee, Bluremi, vaneela-chan yang udah review di chap kemaren. Dan Chika yakin pasti reader-tachi dah penasaran ama Chapter 4 'kan? *reader: KAGAK TUH!
Okey*gk peduli*, So... Enjoy!
**HAPPY READING MINNA!**
.
Chapter 4: Am I Jealous?
.
.
.
BRAAK!
"Neji-niisan!" panggil gadis berambut indigo yang membuka pintu ruangan dengan kencang tanpa mengetuknya. Dari ambang pintu, gadis itu dapat melihat orang yang dicarinya sedang berbicara dengan seorang gadis berambut coklat yang dicepol dua, mereka tampak terkejut melihat pintu terbuka.
"G-gomenasai, Neji-niisan... Tenten-nee, a-apa aku m-mengganggu?" tanya Hinata lirih sambil menunduk.
"Hinata! Lain kali ketuk pintunya terlebih dahulu sebelum masuk!" bentak Neji pada Hinata, membuat Hinata hampir menangis.
"Hey, hey Neji... Sudahlah, kasihan Hinata-chan, duh sampe mau nangis gitu... cupcupcup," ucap Tenten menenangkan Hinata, Tenten melihat nampan bawaan Hinata yang berisi dua potong cake dan segelas minuman dengan uap mengepul.
"Wah, sepertinya Hinata-chan punya menu istimewa nih! Boleh aku cicipi?" tanya Tenten sambil menatap Hinata dengan puppy eyes no jutsu-nya. Sedangkan Hinata hanya mengangguk pelan.
Sementara Neji dan Tenten mencicipi masakannya. Hinata hanya mendekap nampan di depan dadanya, jantungnya berdegup kencang, menunggu komentar dari Neji dan Tenten.
"Wah! Yummy! Enak banget Hinata-chan! Rasanya unik loh!" ucap Tenten mengomentari, lebih tepatnya memuji masakan Hinata. Hinata hanya dapat merona dan terseyum senang mendengar pujian Tenten.
"Hinata, tolong panggilkan Ino," perintah Neji tanpa memberi komentar pada masakan Hinata.
"Ha'i, Wakarimashita!" jawab Hinata kemudian berlalu meninggalkan Tenten dan Neji dalam ruangan itu.
"Neji! Kau itu, beri komentar dulu kek!" protes Tenten,
"Hn..." jawab Neji
"Neji! Jawab yang benar!" balas Tenten kesal.
"Iya, iya! Aku tau!"
"Neji!"
"Kau itu kenapa sih, Ten?"
"Bukan begitu, tapi paling tidak kau itu harus mengerti perasaan Hinata-chan, Ne-" belum sempat Tenten menyelesaikan kalimatnya, ia telah dipotong oleh suara seseorang dari arah pintu.
"Ee... Boss memanggilku?" tanya Ino mengintip dari ambang pintu.
"Ino! Ketuk pintu dulu!" bentak Neji dan Tenten bersamaan.
"Sumimasen!" jawab Ino terlonjak kaget.
.
.
.
Seiring berjalannya waktu, kini dekorasi Cafe Sunset telah berubah, kini warna merah dan kuning mendominasi ruangan Cafe Sunset. Mendekati tahun baru China, kini beberapa hiasan lampion China dan bunga mawar berwarna merah dan kuning mendominasi setiap sudut ruangan.
Seperti biasanya, aroma teh dan wangi flora dari mawar merah dan kuning yang berada di dalam pot menyatu, menciptakan aroma yang unik dan menenangkan.
Tampak semua pelayan kini sedang sibuk melayani tamu-tamu yang makin lama makin banyak saja. Terkecuali gadis berambut pirang panjang berseragam pelayan yang sedang bernegosiasi dengan salah seorang tamu.
.
"Please, Itachi-nii!" terdengar suara seorang gadis berambut pirang memohon pada pemuda berambut hitam dihadapannya. "Masa Itachi-nii tidak mau sih? Ayolah~ hanya kali ini! Dapat bayaran lebih kok!" sambung gadis itu, mata aquamarinenya meluncurkan puppy eyes, berharap pemuda dihadapannya ini mengabulkan permohonanya.
"Aku sih tidak masalah soal bayarannya, Ino! Tapi soal baronsai! Memang siapa sih yang mengusulkan ide begitu?" tanya Itachi kesal.
"Si Boss yang nyuruh" jawab Ino innocent.
FLASHBACK
"He? Baronsai? Untuk apa?" tanya Ino bingung.
"Pada event Imlek nanti aku ingin menghadirkan baronsai supaya acara nanti akan lebih ramai," jelas Neji.
"Lalu, kau suruh aku mencari orang yang akan menari-nari dengan kostum naga itu?" tanya Ino lagi.
"Tepat sekali," jawab Neji singkat.
"Berapa orang?"
"Dua saja sepertinya cukup,"
"Aye, Sir!"
END OF FLASHBACK
"Nah, begitulah ceritanya..." ucap Ino mengakhiri cerita singkatnya.
'Awas kau Neji!' batin Itachi mengamuk, sangat OOC sekali bukan? *reader: pan elo yang nulis!*
"Bagaimana? Mau tidak? Kalau mau ya sudah, kalau tidak mau akan kupaksa," ucap Ino enteng.
"Hh... Kau itu pemaksa yah, sama seperti dulu..." Itachi menggantung perkataannya, membuat Ino terheran-heran.
"... saat kau minta aku menjadi Ra-"
"Huwaa! Urusai! Urusai! Urusai!" sergah Ino sebelum Itachi dapat menyelesaikan kalimatnya. Wajah Ino yang memerah tampak imut sekali bagi Itachi.
"Ehm, jadi bagaimana? Tolak? Atau terima? Masa kau kalah dengan Sai-kun sih? Dia saja langsung menerima tawaranku," ucap Ino yang kini sudah tidak merona lagi.
'Itu karena dia bodoh!' batin Itachi sebal.
"Yah, menolak pun pasti kau paksa 'kan? Sepertinya aku tidak punya pilihan lain," jawab Itachi terpaksa.
"Tentu saja," jawab Ino enteng.
DRRD... DRRRD
Tiba-tiba Ino merasakan getaran dari saku celemeknya, 'Pesan?' batin Ino sambil mengambil handphone-nya. Setelah ia membuka handphone-nya, ternyata memang ada pesan masuk.
'Sai-kun? Ada apa sih?' batin Ino heran mendapati pesan dari kekasihnya.
Ino segera membuka pesan dari Sai. Setelah membaca, Ino terkikik pelan ketika ia telah mengerti maksud dari pesan kekasihnya itu. Sebelum Ino dapat membalas pesan dari Sai, seseorang telah mengambil paksa atau merampas handphone itu dari tangan Ino.
"Itachi-nii!" protes Ino ketika handphone-nya telah berada di genggaman pemuda berambut hitam di depannya.
Itachi membaca pesan masuk di handphone ungu milik Ino dengan cepat, mata onyx-nya membaca:
From: Sai-kun
Ino-chan, kau pulang cepat hari ini 'kan? Setelah pulang nanti kujemput ya... dan aku ingin jalan-jalan sebentar denganmu.
Love, Sai.
.
Dalam hati Itachi sudah mencak-mencak tidak jelas ketika ia membaca pesan dari Sai, namun diluarnya Itachi masih tetap stay cool. Dengan cepat jari-jemari Itachi mengetik. Setelah selesai mengetik, Itachi menyerahkan handphone ungu itu pada Ino sambil berkata,
"Aku sudah mengirim jawabannya, sudah sana kerja!"
Ino yang sedikit curiga pada Itachi pun membaca hasil ketikan Itachi yang menjadi jawaban untuk pesan Sai yang berisi:
Tidak, aku ada banyak acara. Aku tidak mau dijemput dan tidak ingin jalan-jalan denganmu, Sai no Baka
Hate, Ino.
.
'HUAPPPA! No way!'
Batin Ino histeris. Ino segera mengetik jawaban yang ASLI darinya yang berisi:
Sai-kun, iya aku pulang cepat. Nanti mau jalan kemana? Aku tunggu di depan cafe.
Love, Ino.
.
"Huwee! Itachi-nii, kau jahil sekali!" ucap Ino kesal, ia menggembungkan kedua pipinya.
"Saat kerja dilarang mesra-mesraan!" jawab Itachi singkat.
"Huh! Ya sudah! Bweek!" balas Ino sambil menjulurkan lidahnya pada Itachi dan kembali bekerja.
'Hn, dia tidak terlalu berubah... childish,' batin Itachi, di bibirnya tersungging senyum tipis dan kembali menyantap kue pesanannya yang sempat terabaikan.
.
.
.
Seorang Gadis berambut pirang tampak sedang mengamati sekitarnya. Sepi, itulah yang ia dapati. Hanya deburan ombak dan semilir angin laut dingin yang menemaninya. Gadis itu mengeratkan sweater berwarna soft blue pada tubuhnya, menjaga suhu tubuhnya tetap hangat. Namun sepertinya usahanya sia-sia, karena dinginnya angin laut masih dapat membuat tubuhnya menggigil.
'Well, sepertinya tank top dan rok selutut kurang cocok untuk kencan malam-malam... Dingiin!' batin Gadis itu kedinginan.
*Author: Kalian tau 'kan kalo Ino-chan gak tahan dingin?#digebuk Ino*
PUK!
Mata aquamarine gadis itu terbelalak mendapati sesuatu yang berat membalut tubuh rampingnya.
'Penculik! Di pantai? Hell, no way!' batin Ino kesal karena muncul penculik di saat yang –sangat-tidak tepat.
Ketika Ino hendak berbalik, menghadap seseorang-yang dianggapnya penculik itu, Ino menyadari bahwa benda berat yang membalutnya adalah mantel berwarna coklat kemerahan.
"Kalau malam-malam itu kau harus memakai sesuatu yang lebih hangat dari sweater, Ino-chan..." ucap orang yang membalut tubuh Ino dengan mantel.
'S-Suara ini...' batin Ino terkejut mendengar suara familiar dari belakangnya. Untuk memastikan, Ino segera membalikan tubuhnya menghadap orang bersuara familiar itu.
'... Sai-kun!' batinnya terkejut sekaligus senang.
"Ne? Kau mau jadi jalan-jalan tidak?" tanya Sai dengan senyuman di wajahnya.
"Iya!" jawab Ino senang.
.
.
.
Suara merdu dari gesekan pemain biola membuat restoran itu memberi kesan romantis. Cahaya oren dari lilin kecil dan pemandangan indah tentu makin mendukung kesan romantis itu, membuat banyak sejoli, bahkan suami-istri datang ke restoran itu.
Ino dapat melihat bahwa tamu-tamu yang datang ke restoran ini memakai pakaian formal. Terutama pakaian-pakaian yang dibubuhi gaya khas China walaupun tahun baru China masih 2 hari lagi. Pakaian tamu-tamu yang lainnya pun rapi, berbeda dengannya yang hanya mengenakan tank top berwarna biru, rok selutut warna hitam bermotif kupu-kupu berwarna biru, dan jangan lupakan sweater berwarna soft blue.
Menurut Ino, cara berpakaiannya kelewat nyantai, melihat tamu-tamu yang datang ke restoran ini kebanyakan memakai gaun yang glamour. Mau tak mau Ino jadi merasa tidak enak sendiri, apalagi pakaian Sai yang berkesan formal membuatnya merasa semakin tidak enak.
"Psst, Sai-kun! A-Aku... Boleh kita pulang ke rumahku sebentar? A-Aku merasa aneh berpakaian begini, lalu datang ke restoran mewah begini! Pakaianku semakin tidak cocok saja," bisik Ino pada Sai, sebagai wanita tentu saja ia ingin tampil cantik, apalagi didepan kekasihnya.
"Sudahlah, kau tetap cantik meski berpakaian begitu, kok..." balas Sai. Jujur Ino sedikit merona mendengarnya, namun tetap saja, Ino ingin tampil dengan layak di restoran itu dan di depan kekasihnya.
"Please, Sai-kun..." ucap Ino sekali lagi.
"Baiklah..." jawab Sai,
"Arigatou,"
Lalu Ino dan Sai kembali ke tempat parkir, Sai mengambil dua helm untuknya dan Ino. Setelah memakai helm, Sai mulai menyalakan motornya. Setelah yakin Ino sudah berada di atas motornya Sai dengan cepat melesat pergi dari kawasan restoran mewah yang belum sempat dikunjunginya.
Saking cepatnya, Ino sampai mengeratkan pelukannya pada Sai. Anginnya berhembus dengan kencang sampai Ino tidak berani membuka matanya, walaupun di dalam helm.
"KYAAA!"
Tiba-tiba helm yang Ino gunakan terlepas dari kepalanya dan jatuh ke jalan. Memang saat mengenakan helm itu Ino tidak mengikatnya, karena terburu-buru. Sai yang menyadari itu langsung memberhentikan laju motornya.
"Ino-chan? Daijoubu ka? Mau aku ambilkan helmnya?" tanya Sai cemas.
"Daijoubu, Sai-kun... biar aku yang mengambilnya," jawab Ino menolak bantuan Sai dengan halus.
Dengan hati-hati Ino menyebrangi jalan raya yang cukup ramai malam itu. Wajar saja kalau jalanan itu ramai, mengingat malam itu adalah malam minggu. Ketika Ino berusaha untuk menggapai helmnya yang tergeletak di tengah jalan itu,
TIIN TIIINN!
Mobil berwarna hitam-entahlah, warnanya kurang jelas karena ini malam, yang jelas mobil itu berwarna gelap. Mobil itu melaju cukup cepat, dan mobil itu melaju tepat di jalur dimana Ino sedang mengambil helmnya yang terjatuh.
Ketika mobil itu mendekat, cahaya dari lampu mobil membuat isi pikiran Ino kosong. Ino hanya dapat mematung di tempatnya, tanpa bergerak sedikitpun. Tanpa berpikir apa yang akan terjadi jika ia tetap berdiam diri di situ.
"IINOO!"
Bahkan suara teriakan yang memanggil-manggil namanyapun dengan kencang ia hiraukan, masih mematung dengan pikiran kosong.
.
BRUUK!
.
Mata Aquamarine Ino terbelalak ketika mendapati seseorang mendorongnya ke samping sekaligus memeluknya dengan erat. Ino menundukan kepalanya untuk melihat siapa yang menolongnya barusan,
"Sai...?"
"Ino-chan! Kau tak apa-apa? Ada yang luka? Ada yang sakit?" tanya Sai bertubi-tubi.
Ino hanya dapat tersenyum sambil berkata, "Tidak, aku tidak apa-apa Sai-kun... terima kasih sudah menolongku,"
"Yokkata... ayo, kita ke rumahmu,"
"Iya,"
.
.
.
Somewhere
"Fuh, untung gadis itu tidak apa-apa... kalau tadi sampai kena, acara kita malam ini batal ya, Ita-kun?" ucap seorang gadis berambut coklat sebahu, ia memakai gaun tanpa lengan berwarna merah. Ia mengenakan gelang berwarna senada dengan gaunnya.
"..."
Merasa pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban dari pemuda di sampingnya yang tampak serius mengemudi, akhirnya gadis berambut coklat itu menepuk pundak pemuda berambut hitam di sampingnya,
"Itachi-kun?"
Sementara gadis di sebelahnya memanggil-manggil namanya untuk menanyakan jawaban, pemuda bernama Itachi itu malah memilih untuk mengacuhkannya dan kembali fokus pada pikirannya sendiri.
'Tadi itu... bukannya Ino...?' batin Itachi terheran-heran.
.
.
.
Kamar bercat putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna ungu itu tampak berantakan dengan baju-baju yang berserakan dimana-mana. Dan tampaknya dalang dari ini sedang melempar-lemparkan baju dari lemarinya ke segala arah, tampaknya gadis berambut pirang itu sedang mencari sesuatu.
"Aduuh! Pakai yang mana? Pakai yang mana!" tanya gadis itu entah pada siapa.
"Pakai ini?" tanyanya lagi sambil mengambil gaun berlengan pendek berwarna biru laut yang senada dengan warna mata Ino. Di bagian pinggang gaun itu terdapat sebuah pita berwarna putih sebagai sabuk. Gaun panjang itu tampak cocok dengan postur tubuh Ino yang ramping, namun sepertinya Ino merasa ada sesuatu yang kurang pas.
"Tidak! Pakai ini?" sekali lagi ia bertanya, kali ini gaun selutut berwarna violet cerahlah yang menjadi pilihannya.
"No! Terlalu terang! Apa pakai ini saja ya?" untuk ketiga kalinya Ino mengambil salah satu gaun dari sekian banyaknya baju yang berserakan di kamarnya. Kini pilihannya adalah gaun tanpa lengan yang berwarna ungu elegan, bagian dada gaun itu terdapat pita berwarna silver, di ujung bagian bawah gaun itu terdapat renda berwarna hitam yang membuat gaun itu tampak sempurna.
"Yap! Pakai ini saja!" ucap Ino riang.
Ino mengambil kotak make up-nya, Ino sempat terdiam untuk memikirkan model rambutnya. Setelah ia mendapatkan jawaban, Ino memoleskan bedak pada wajahnya. Ino tidak suka memakai make up terlalu tebal karena itu Ino hanya memoleskan sedikit bedak ke wajahnya. Ino mengambil lip gloss berwarna soft pink dan memoleskan lip gloss itu ke bibirnya. Ino kembali mengamati wajahnya.
'Oh! Blush on! Hampir lupa aku!'
Ino mengambil blush on dari kotak make up-nya, membubuhi kedua pipinya dengan warna pink yang tipis. Setelah selesai dengan wajahnya, Ino segera melepas ikatan rambutnya, membiarkan rambut pirangnya terurai panjang sampai pinggangnya. Ino menyisir rambut panjangnya dengan perlahan, lalu mengangkat sebagian sebagian banyak dari rambutnya dan menjepitnya dengan jepitan pita berwarna silver yang senada dengan pita di gaunnya. Ino membiarkan beberapa helai rambutnya jatuh.
Saat berpikir penampilannya telah sempurna, Ino menyemprotkan parfum yang biasa ia pakai ke suluruh tubuhnya. Ino segera menyambar tas ungu berpita silver yang memang sepasang dengan gaun yang dikenakannya. Ino juga tak lupa mengambil jaket mengingat ia akan berangkat menggunakan motor.
Dengan sedikit terburu-buru Ino menuruni tangga, membuat ayah dan kakaknya terheran-heran.
"Kau itu, un! Datang-datang langsung lari ke kamar, abis dari kamar lari-lari, ngapain sih, un!" ucap Deidara kesal.
"Huh! Rahasia, week!" balas Ino sambil menjulurkan lidahnya, sangat tidak cocok dengan penampilannya yang anggun.
"Aku juga tidak mau tau, un! Week!" balas Deidara lagi sambil menjulurkan lidahnya.
"Yareyare... sudahlah, jangan bersikap sepertu anak kecil begitu, Deidara, Ino..." lerai Inoichi.
"Ya sudah, pokoknya aku mau pergi! Ittekimasu, minna!" pamit Ino.
"Itterashai!"
.
.
.
"Sai-kun!!" panggil Ino.
Sontak Sai membalikan tubuhnya menghadap pada sumber suara yang memanggilnya, mata onyx-nya terbelalak melihat kekasihnya yang telah menjelma menjadi model cantik yang seperti putri-atau putri cantik yang seperti model? Apapun itu Sai tidak peduli, karena menurutnya Ino terlihat sangat cantik dan anggun malam ini.
"I-Ino...?" ucap Sai tidak percaya.
"Hm? Doushite Sai-kun?" tanya Ino bingung. "A-apa ada yang salah?" tanya Ino lagi sambil memutar-mutar tubuh rampingnya membuat gaun ungunya berkibar seiring dengan gerakannya.
"Iie, kau cantik... Ino," jawab Sai.
BLUSH
Ino merona hebat mendengar pujian kekasihnya. Ino hanya dapat menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya sambil berucap,
"Arigatou..."
"Nah, saatnya berangkat?"
"Ha'i!"
.
.
.
"Ne, Itachi-kun, kau mau pesan apa?" tanya seorang perempuan pada lelaki berambut hitam di depannya.
"Terserah saja," jawab pemuda itu tidak peduli, mata onyx-nya memang sedang membaca buku menu, namun ia mengacuhkan sekitarnya karena pikirannya masih terfokus pada kejadian yang baru terjadi beberapa waktu lalu.
"Baiklah kalau begitu, tolong sushi salmon dan orange juice dua," pesan perempuan berambut coklat itu pada pelayan yang sedari tadi bersiap untuk mencatat pesanan mereka.
"Silahkan menunggu sekitar 20 menit, permisi..." pamit pelayan itu.
Itachi-nama pemuda itu jadi teringat pada sosok gadis kecilnya ketika ia melihat pelayan wanita tadi.
Mata onyx-nya menjelajahi setiap sudut restoran itu karena bosan, sejauh mata memandang Itachi hanya dapat melihat pasangan sejoli, suami-istri, dan sejenisnya, termasuk gadis berambut pirang dengan gaun ungu dan pemuda berambut hitam yang mengenakan kemeja garis-garis warna hitam dan putih gading-yang tampaknya adalah kekasih dari gadis berambut pirang itu.
Merasa bosan karena pemandangan yang itu-itu saja, Itachi mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencari sesuatu yang menarik.
'Tunggu! Pirang... dan hitam? Mungkinkah!' batin Itachi terkejut, mata onyx-nya kembali melihat ke arah direksi di mana tadi ia menemukan gadis pirang tadi, dan dapat!
'I-Ino! Dan... Sai?' batinnya menggeram kesal melihat keserasian sejoli itu, Ino tampil sangat menawan malam ini, gaun ungunya sangat cocok dengan postur tubuhnya rambut pirangnya yang disanggul asal-asalan terlihat alami dan membuat Ino tampak anggun. Dan... ukh, ia tidak ingin mengatakannya tapi, memang benar jika Sai sangat cocok untuk bersanding dengan Ino.
'Tch! Kenapa di sini panas sekali sih!' batin Itachi makin kesal. *Author: He? Bukannya kamu yang panas Itachi? #ametarasued*
"Permisi, ini pesanan anda, sushi salmon dan dua orange juice, silahkan menikmati," ucap pelayan itu sambil meletakan sebuah piring berisi sushi dan dua gelas orange juice ke atas meja Itachi dan Hana.
"Nah, ayo makan, Itachi-kun... Itadakimasu!" ucap Hana, lalu ia mulai mengambil beberapa potong sushi ke atas piring kecil.
"... Itadakimasu," ucap Itachi, ia tak dapat menyembunyikan aura gelapnya.
.
.
.
"Aku pesan salad dan lemon squash saja, Sai-kun?"
"Aku pesan Tenderloin steak dan lemon tea,"
"Silahkan ditunggu sekitar 20 menit, permisi..." pelayan itu kemudian berlalu sambil membawa catatan pesanan Sai dan Ino.
Ino tampak canggung, ia bingung hendak bicara apa dengan Sai. Meskipun Sai adalah kekasihnya, Ino masih agak canggung jika berduaan begini, berbeda dengan saat ia bertengkar ataupun berbincang-ah, lebih banyak bertengkar- dengan Itachi.
'Entah kenapa aku merasakan aura Itachi-nii di sini,' batin Ino merasakan aura familiar yang tidak jauh darinya.
'Tapi kok auranya nge-dark begini yah?' Ino yang masih merasakan aura hitam yang familiar di sekitarnya pun mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya.
Matanya menelusuri bagian tempat duduk di dekat jendela, ia dapat melihat seorang gadis berambut coklat yang cukup familiar dan... Itachi!
'Haha... pantas aku merasakan auranya,' batin Ino.
DEG
Mata aquamarine Ino terbelalak saat matanya tanpa sengaja melihat gadis berambut coklat sebahu-yang Ino kenali sebagai Hana mencium Itachi. Sakit di dadanya kambuh lagi, menjalar ke seluruh tubuhnya, bahunya bergetar, rasanya ia ingin menangis sekarang juga.
'Tidak, aku harus tahan... mana mungkin aku menangis di depan Sai. Ayo Ino! Kau harus tahan!' batinnya menolak untuk menangis. Ino merasakan perih di dadanya semakin menjadi-jadi. Ia hanya dapat memberikan Itachi sebuah tatapan sedih.
"Ino-chan?" panggilan dari Sai mau tak mau membuat Ino sedikit melupakan rasa sakit di hatinya.
"Iya?"
"Sejak tadi aku bingung, kau itu... suka jalan-jalan denganku tidak sih?" tanya Sai
"He? Kau ini bicara apa Sai-kun? Tentu saja aku suka," balas Ino heran pada pertanyaan kekasihnya.
"Bukan begitu, tapi aku menerima pesan ini." ucap Sai sambil menyerahkan handphone-nya yang berwarna silver.
'Oh, oh... Please, jangan...' batin Ino waswas. Mata aquamarine-nya membaca pesan di handphone Sai dengan perlahan.
From: Ino-chan
Tidak, aku ada banyak acara. Aku tidak mau dijemput dan tidak ingin jalan-jalan denganmu, Sai no Baka
Hate, Ino.
.
'Tuh kan~... Itachi-nii jahat!' batin Ino kesal.
"E-Eto Sai-kun... Y-Yang mengirim pesan itu tuh Itachi-nii," ungkap Ino dengan jujur.
'Itachi?... Ada yang harus kuselidiki...' batin Sai misterius.
.
.
.
Sai dan Ino pulang dari restoran itu sekitar pukul 21.35 dan sekarang mereka telah sampai di depan rumah Ino. Ino masih merasa sedih tapi ia menutupinya karena Ino tak mau Sai khawatir dan bertanya. Rasa sakit di dadanya pun belum hilang.
"Sai-kun, terima kasih unutk kencan malam ini. Aku sangat senang..." ucap Ino tersenyum manis pada Sai sambil menyerahkan helm yang tadi ia kenakan.
"Hm, Douite, Ino-chan..." balas Sai.
"Um... Ya sudah, aku masuk dulu ya, Jaa!" pamit Ino bergegas masuk ke dalam rumahnya, namun seseorang menarik tangannya dan,
CUP!
Sai memberi ciuman singkat di bibir Ino dan langsung menjalankan motornya. Ino yang tidak menyangka akan apa yang Sai lakukan hanya dapat mematung sambil merona.
"Dasar, langsung kabur begitu..." Ino memasang senyum manis di wajahnya dan memasuki rumahnya dengan perasaan gembira.
.
.
.
Itachi POV
Sepulang dari restoran itu aku langsung mengantar Hana pulang. Sungguh, aku tidak mengerti kenapa di restoran ber-AC itu aku masih bisa kepanasan? Ditambah lagi tadi aku bertemu dengan Sai dan Ino-yah, walaupun mereka tidak melihatku tapi aku melihat mereka. Lalu tadi Hana tiba-tiba menciumku begitu, benar-benar hari sial.
'Daripada sial-sial terus-terusan lebih baik aku tidur...' batinku. Dapat kulihat rumah sebuah rumah mewah bertingkat bercat putih dan abu-abu, itulah rumah Ino. Memang rumahku dan rumah Ino itu satu arah.
'Apa dia sudah pulang?'
Saat aku melintasi depan rumahnya, dapat kulihat sebuah motor sport di depan rumah Ino. Rasanya motor itu familiar...
DEG
CKIIT
Mata onyx-ku terbelalak serentak kuinjak rem mobilku. Pemandangan di hadapanku ini terlalu... sulit dipercaya dan... terlalu menyakitkan.
Normal POV
Itachi memandang pemandangan di depannya dengan tatapan tajam. Ia tahu bahwa tidak sopan melihat sepasang kekasih sedang berciuman, namun apa dayanya? Gadis yang sedang 'berciuman' itu adalah gadis kecilnya. Gadis pirang yang selalu ada di sisinya sejak kecil, gadis yang selalu bersikap manja padanya.
Mata onyx-nya makin menajam saat mendapati Ino memasuki rumahnya dengan gembira.
"Cih..." desis Itachi.
BUGH!
Entah karena amarahnya yang sudah tak terbendung atau apa, setir mobil-lah yang menjadi pelampiasan amarahnya. Itachi juga tampak tidak peduli pada rasa sakit di tangannya yang tadi membentur setir mobil yang-yah, kalian pasti tahu kalau setir mobil itu keras.
'Tunggu, apa aku... cemburu?'
Tsuzuku/Bersambung/To Be Continued
.
.
.
A/N:
Hello Minna! Gimana chap 4 ini? Apa pendek? Bikin penasaran gak?
Reader: Kagak!
Chika: HUWEE! Kejam! Chika gk bakal lanjutin fic ini lagi!
Ino: JANGAAN! Ntar darimana honor gue yang udah meranin fic gaje ini!
Chika: Gk tau! Derita Lu!
Ino: *nyekek Author* LANJUTIN KAGAK!
Chika: I-Iya... Chika lanjutin, peace, okeh? Damai...
Ino: Udah cepet! Tulis chap 5 gih!
Chika: Santai Ino-chan... Chika kan udah ngasih tau tadi, Chika bakal Semi-hiatus sebentar...
Ino: Kan Cuma SEBENTAR!
Chika: Iya, iya...
Ino: Udah sana! Cepet tulis chapter 5!*nendang author*
Chika: KEJAAAM!
Ino: REVIEW PLEASE? *smile*
Reader: =.=a*sweatdroped*
02 Februari 2012
Sign,
Yamanaka Chika
.
**REVIEW PLEASE!**
