Disclaimer : TOTO
Hari demi haripun berlalu. Genap sudah satu minggu Raito & Ryuzaki pisah ranjang. Seperti gunung yang hendak mengeluarkan larvanya, itulah Raito. Dia sudah berada dipucak kekesalannya. Bukannya dia merindukan Ryuzaki yang setiap malam selalu ada di sampingnya saat dia tidur, melainkan karena seminggu ini Ryuzaki benar-benar menganggap Raito 'tidak ada'. Itu membuat Raito merasa begitu tertekan. Karena itu, hari ini bagaimanapun caranya, Raito akan membuat Ryuzaki kembali menganggapnya 'ada'.
Raito masuk ke ruang tengah, di mana terdapat Ryuzaki yang sedang nonton tv sambil memakan sate donatnya. Seperti yang sudah-sudah begitu dia berada dalam satu ruangan dengan Raito, dengan cepat dia akan pergi dari sana. Ryuzaki melompat dari kursinya.
"Mau kemana?" Tanya Raito. Ryuzaki tidak menyahut dan tetap hendak pergi dari sana. Namun Raito menarik tangan Ryuzaki kearahnya. Raito mencengkram pundak Ryuzaki dan mendorongnya ke dinding. Ryuzaki memicingkan matanya dan mengeluh kesakitan. Raito menggencetnya di dinding, mengunci Ryuzaki dengan tubuhnya sendiri.
"Ma.. mau apa Raito-kun?" Tanya Ryuzaki terbata-bata saat melihat wajah Raito yang telihat begitu marah. Membuat Ryuzaki sedikit takut. Terutama pada pandangan mata Raito yang begitu tajam menusuk.
Raito mengarahkan tangannya ke wajah Ryuzaki. Ryuzaki mengira dia akan mencekiknya. Saat jari-jari Raito menyentuh lehernya, refleks Ryuzaki segera memejamkan matanya rapat-rapat.
Raito tidak mencekiknya. Well, tentu saja dia takkan melakukannya. Ryuzaki hanya terlalu panic hingga dia mempunyai pikiran senegatif itu. Jadi apa yang Raito lakukan sebenarnya?
Ryuzaki merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Ryuzaki membuka matanya. Dan betapa terkejutnya saat dia mendapati Raito menciumnya. Ryuzaki diam mematung. Matanya terbuka lebar. Raito terus menciumnya. Menciumnya dengan lembut. Ryuzaki begitu shock hingga dia hanya bisa diam mematung.
Raito melepas ciumannya. Ryuzaki masih tidak bergerak juga. Raito tersenyum melihat ekspresi Ryuzaki.
"saya berhasil," batin Raito. Kini mau tak mau Ryuzaki tak bisa lagi menganggapnya 'tidak ada.'
"Ryuzaki?" panggil Raito sambil menahan tawanya. Ryuzaki seakan baru tersadar dari lamunannya. Mendadak wajahnya memerah. Ryuzaki menggigiti kuku jarinya dengan gelisah.
"Kamu mencium saya Raito-kun?" Ryuzaki berkata sambil menundukkan wajahnya. Menahan malu. "itu ciuman pertama saya." Lanjut Ryuzaki. Raito tercengang.
"Well, sebaiknya jangan terlalu dipikirkan Ryuzaki." Raito mulai panic. Dia merasakan firasat buruk.
"Jangan terlalu dipikirkan?" bola mata Ryuzaki membesar. "Raito-kun telah mencuri ciuman pertama saya."
"Apa kau keberatan memberikan ciuman pertamamu pada saya?" entah setan apa yang merasuki Raito sampai-sampai dia mengatakan kalimat itu. Raito segera saja menyesali ucapannya itu. Dia telah menggali kuburannya sendiri.
"Sejujurnya saya tidak peduli siapa orang yang akan mengambil ciuman pertama saya." Ujar Ryuzaki. Mendadak ekspresinya berubah. "Saya tidak menyangka kalau Raito-kun adalah seorang gay." Ujar Ryuzaki sambil menyeringai. Seringaian serigala yang paling tidak ingin Raito lihat.
"Sa… saya bukan gay…" Ratap Raito.
Ryuzaki menepuk pundak Raito. Dengan sok bijak dia berkata,"Tenang saja Raito-kun. Rahasiamu aman bersama saya."
Raito langsung lemas seketika.
--o0O0o--
