My Kitty Zizi

K r i s t a o

A s t a g a K r i s w u

--

Kris memelankan laju mobilnya, matanya dengan awas mengamati ke kiri dan ke kanan jalan.

Dia sudah menelusuri jalanan Ibu Kota, tidak mungkin gadis itu akan pergi terlalu jauh. Tapi nyatanya hasil pencariannya tetap nihil. Mungkin gadis itu kedinginan di suatu tempat, mungkin gadis itu kelaparan, atau mungkin... gadis itu sudah bertemu dengan orang lain yang mau menampungnya?

Pria itu mendengus dengan sudut bibirnya yang terangkat, menertawakan dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya dia lakukan? Dia mengusirnya kemudian kalang kabut mencari gadis itu lagi.

Dia akan pulang sekarang, menghentikan sikap konyolnya dan istirahat dengan nyaman di kamarnya.

Hujan belum juga reda, kepalanya pening, Sial. Jam berapa ini?

Dia hampir sampai rumahnya, melihat taman yang ada di seberang jalan, itu adalah taman yang terbuka untuk umum. Taman itu cukup luas dan biasanya memiliki banyak pengunjung, apalagi akhir pekan.

Saat siang, itu memang terlihat baik-baik saja dengan pemandangan indahnya, tapi ditengah malam dan hujan yang mengguyur kota, itu menampilkan pemandangan yang terlihat mati dan suram.

Kris ntah bagaimana memiliki rasa dingin yang merambat di punggungnya, menyisir rambut pirang platinanya dengan jari, dia sebenarnya berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Tapi kemudian ada sesuatu yang bergerak disana, kursi ayunan di taman benar-benar bergerak maju dan mundur, dibawah hujan, ada sosok samar yang duduk disana. Gerakan lambat itu membuat Kris menelan ludah payah.

Dia tidak pernah mendengar taman itu berhantu, tapi kali ini dia benar-benar melihatnya?

Sosok itu dibalut warna hitam, dibawah hujan dan pekatnya malam itu menjadi semakin tidak jelas.

Tapi tunggu..

Kris menyempitkan matanya, sepertinya dia melihat sesuatu, ada angka '00' di punggung sosok yang terlihat kabur di bawah hujan?

Ah?

Ada kernyitan diantara alis tajam pria itu,

Sepertinya itu tidak asing..

Kris menghentikan mobilnya, mengamati lebih jelas, dia akhirnya benar-benar menangkap itu. Itu t-shirt hitam yang dia berikan untuk dipakai gadis kucing!

Jadi dia dari tadi disini?!

Kris keluar dari mobilnya begitu saja mengabaikan hujan yang masih mengguyur, membanting pintu mobilnya dengan sepenuh hati, dia mengambil langkah panjang ke arah taman.

Kris menyentak lengan gadis itu, "Ternyata kau disini?!" Dia ntah kenapa didorong emosi yang meluap berteriak marah pada sosok di depannya.

Dia benar-benar mengelilingi kota dan gadis ini ternyata hanya di depan hidungnya!

Sementara itu, gadis yang memiliki wajah pucat melebarkan matanya, menatap pria tinggi yang baru saja meraung dalam kemarahan, dia membuka dan menutup bibir kucingnya kebingungan.

"Uncle Kris disini?"

Mendesis diantara rahangnya yang mengeras, Kris menyeret gadis itu ke arah mobilnya dan menempatkannya di samping kemudi, mengabaikan basah yang menetes, dia menjalankan mobilnya memasuki halaman.

Gadis kucing itu keluar dari mobil dan berjalan mengekori pria dewasa yang berjalan cepat menuju pintu utama, mengabaikan sepenuhnya tetesan air yang ditinggalkan di setiap pijakan, Kris sebenarnya tidak memperdulikan gadis itu sepenuhnya setelah membawanya kembali.

Peduli setan! Otaknya sangat panas!

"Tunggu disini."

Kris akhirnya bersuara sebelum gadis itu terus mengikutinya ke arah kamar, berjalan ke atas untuk mengambil baju ganti untuknya sendiri, setelah beberapa lama dia kembali ke lantai dasar dengan dua potong pakaian di tangannya.

"Uncle!" Gadis itu berseru saat melihat Kris akhirnya kembali.

"Tetap disana! Jangan mendekat ke arahku." Kris menekan tonasi di setiap kalimatnya. Tidak mau meletakkan pandangan lebih jauh pada gadis yang berdiri di depannya, dia mengulurkan apa yang dibawanya.

Dia benar-benar memiliki hati yang enggan saat ini. Jadi dia tidak ingin melihat gadis kucing bagaimanapun juga.

Atau sebenarnya, dia hanya tidak mau mata emasnya melihat pemandangan laknat saat t-shirt hitam basah yang membalut tubuh ramping gadis itu.

Otaknya yang suci tidak akan dia biarkan menerima pemandangan tercela.

"Ini.. pakai ini. Pergi ke ruangan itu." Dia menunjuk ruangan di sebelah kiri dengan dagunya.

--

Di bawah lampu redup living room rumah besar itu, dua orang duduk berseberangan, dengan satu cangkir di masing-masing tangan mereka, ada keheningan panjang yang terlihat mengganggu.

Gadis kucing secara berkala meminum coklat panasnya, dia kemudian melihat pria dewasa dengan rambut setengah basah yang terdiam cukup lama.

"Umm.. Uncle Kris?"

Panggilan dari suara kecil itu menarik jiwa Kris yang tersebar, iris dark choconya menatap sosok yang sekali lagi duduk disana seperti tadi pagi. Padahal dia ingat dia tadi sudah mengusirnya, tapi kenapa gadis itu ada disini lagi?

Oh dia yang membawanya pulang! Dia dengan sangat sinting berkelililing kota hanya untuk mencari gadis yang ternyata hanya bermain ayunan di depan rumahnya!

Dengan wajah yang sepenuhnya pulih dari seputih kertas kemudian mengembalikan warna merah jambu di pipinya setelah mendapatkan kehangatan, rambut panjang yang basah itu masih membawa beberapa tetes air pada pakaian ke tiga yang diberikannya, melihat gadis yang melihat kearahnya dengan wajah polos dan polos, Kris mengusap wajahnya saat dia mengerang kesal.

Kenapa dia yang selalu memiliki pengendalian diri yang sempurna bisa melakukan hal yang diluar kendali seperti ini?!

Gadis kucing itu mengangkat kedua alisnya terkejut, ada apa dengan erangan yang tiba-tiba itu?

"Uncle Kris sakit?" Zizi bertanya dari tempat duduknya, sebenarnya dia ingin mendekat ke arah Kris dan bergelung di pangkuan pria itu seperti tadi malam, tapi sepertinya Kris sangat marah.

Kris memijat pangkal hidungnya, dia sebenarnya memiliki sakit kepala yang buruk sekarang. Jadi dia hanya menggumam saat menjawab pertanyaan gadis itu.

Zizi menggigit bibir bawahnya terlihat menimbang, dia sangat tidak ingin membuat Kris memiliki perasaan yang lebih benci padanya. "Uncle Kris harus tidur,"

Dan akhirnya Kris bisa kembali ke kamarnya setelah menempatkan gadis itu di ruangan di sebelah miliknya. Dia melihat layar jam yang ada di atas nakasnya dan itu menunjukkan pukul dua dini hari.

Akhir pekan yang berantakan.

--

Kris memijat pelipisnya, masih ada jejak rasa pening yang menggelayuti kepalanya di pagi berikutnya.

Tapi ini adalah hari kerja.

Sial!

Dengan menyeret kakinya, pria dewasa itu berjalan ke arah kamar mandi.

Kris keluar dari kamarnya setelah mengenakan setelan kerjanya, melihat pada pintu yang masih tertutup, menimbang beberapa waktu, dia mengabaikan itu dan berjalan menuruni tangga.

Tapi sebelum mencapai lantai dasar, indra pendengarannya menangkap sesuatu, menyapukan iris dark choco nya ke sekitar, suara itu memang datang dari arah dapur.

Kris berjalan ke arah suara itu berasal dengan perasaan tidak enak.

Dan langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat seseorang disana.

Ada gadis yang berdiri di dapurnya di pagi hari, terlihat sibuk dengan sesuatu. Pemandangan itu seharusnya dia miliki setelah dia naik ke pelaminan, tapi saat ini benar-benar ada sosok halus yang berdiri membelakanginya,

Hati pria dewasa itu terpacu untuk sebab yang samar.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Kris bertanya saat dia membawa dirinya lebih dekat,

Mendengar suara dalam yang mulai terdengar akrab, gadis itu berbalik. Tersenyum dan menampilkan gigi rapi dibalik bibir kucingnya,

"Uncle sudah bangun!" Gadis kucing itu berseru dan berjalan mendekat ke arah Kris, "Ini untuk Uncle!" Dengan nada semangat di setiap kalimatnya, Zizi mengulurkan cangkir putih pada pria dewasa di depannya.

Kris menerima cangkir itu ragu, "Ini minuman seperti yang Uncle Kris buat tadi malam, itu sangat enak! Zizi sudah mengambil dua cangkir pagi ini, Uncle juga harus mendapatkan minuman enak ini setiap pagi! Umm.. juga siang dan malam hari!"

Kris tidak mengatakan apapun, mengambil cangkir itu ke bibirnya, satu sesapan dan wajahnya berubah menjadi ungu.

Dengan susah payah ditelannya cairan yang terlanjur ada di mulutnya.

Shitt! Rasanya seperti neraka!

"Berapa banyak coklat yang kau masukkan kesini?!" Kris tidak bisa tidak berteriak. Dia bukan penikmat makanan manis, itu masih wajar dengan rasa normal dari coklat panas. Tapi ini seakan seluruh rasa manis di dunia dikumpulkan dalam satu cangkir di tangannya dan gadis ini memberikan racun itu padanya!

Zizi mengerutkan lehernya mendengar teriakan itu, dia tidak tau dia melakukan kesalahan apa kali ini. Dengan mencebikkan bibirnya, gadis itu memainkan jemarinya gugup, dia merasa bersalah untuk kesalahan yang belum diketahuinya.

"Umm, Itu sangat enak, Zizi ingin Uncle Kris menikmati rasa yang terbaik. Jadi Zizi mengambil lebih banyak untuk Uncle Kris."

Ah?

Dan Kris kehilangan kata-kata.

Tbc bosQue