Previously:
Handphone Johnny yang hampir tak pernah lepas dari tangannya bergetar. "Oh, sebentar, Hansol meneleponku." Johnny segera mengangkat panggilan dari Hansol itu.
"Halo Hansol- what?! Taeyong?! Ya ampun!"
"Johnny, what happen? Taeyong kenapa?"
"OK, aku dan Mark datang sebentar lagi." Johnny tak langsung menjawab membuat Mark semakin cemas, setelah panggilannya dengan Hansol resmi berakhir barulah Johnny beralih pada Mark. "Taeyong pingsan. Kita harus menjemputnya."
"Mwo?!" Mark menjatuhkan snack rumput lautnya.
TBC
xxx
AwkwarLee Brothers (Chapter 3)
"Kau yakin mau menerobosnya?"
"Eum, Shim-gyosu sudah menunggu kita 'kan?"
"Hhh... kau sih maksa tadi."
"Hehe, mian, hyung..."
"Dasar Lee Taeyong keras kepala."
Taeyong dan Hansol tengah memandang ragu keluar dari teras sebuah toko. Seperti kemarin, mereka terjebak hujan saat ingin pulang. Bedanya kemarin mereka terjebak di cafe Taeil, sekarang mereka terjebak di depan toko hadiah.
Ya, hadiah. Taeyong memaksa Hansol untuk menemaninya membeli hadiah untuk Mark. Karena semalam ia hanya memberikan snack rumput laut kering, ia ingin membelikan Mark hadiah yang lebih layak. Alasannya mengajak Hansol adalah karena Hansol lah satu-satunya di antara mereka -Hansol, Taeyong, Yuta, Ten, dan Jaehyun- yang membawa motor sport ke kampus. Tentu saja dengan motor sport mereka bisa pulang pergi toko dengan cepat di sela-sela waktu istirahat mereka. Tapi akibatnya ya ini, saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, mereka jadi galau untuk kembali ke kampus.
"Kau pakailah jaketku. Aku punya jas hujan." Hansol menyerahkan jaketnya pada Taeyong. "Atau kau yang mau pakai jas hujanku?"
"Aniya, jaket saja. Gomawo, hyung." Taeyong mulai memasang jaket Hansol di badannya. Agak kebesaran mengingat Hansol memang lebih tinggi darinya.
"Sudah siap?" Tanya Hansol begitu mereka sudah duduk manis di motornya lengkap dengan helm di kepala masing-masing.
"Let's go!"
xxx
"Oh, tidak, basah sampai ke dalam-dalamnya." Taeyong menggerutu menyadari seluruh pakaiannya tak ada yang kering.
"Kau bodoh sih. Sudah kubilang 'kan tunggu saja."
"Diam kau hyung-yang-bajunya-tidak-basah-karena-pakai-jas-hujan!" Seru Taeyong dengan nada menuduh.
"Ya! Tadi 'kan sudah kutawari kau pakai jas hujanku!" Hansol mendengus.
"Andwae...nanti bajumu basah semua..." Taeyong tiba-tiba bersikap sok manis dan memasang wajah sedih.
"Dasar aneh."
Hansol dan Taeyong berjalan bersisian dari tempat parkir menuju studio dance mereka. Sambil mencari-cari jalanan yang teduh dari hujan, mereka berjalan dalam diam.
"Kau harus lepas jaketku, Taeyong-ah. Sudah basah sekali." Hansol melirik Taeyong di sebelahnya.
"Tapi dingin hyung..." rengek Taeyong.
"Akan tambah dingin kalau kau terus pakai jaketku yang basah itu."
Taeyong akhirnya menurut untuk melepaskan jaket Hansol. Bisa Hansol lihat lengan kurus Taeyong yang bergetar dan jari-jarinya yang mengeriput, apa begitu dingin? Ia sendiri biasa saja.
"Ayo percepat jalannya, biar kita bisa cepat ganti baju."
Taeyong mengikuti langkah Hansol yang semakin cepat, tapi sesuatu yang tiba-tiba teringat membuatnya menghentikan langkah.
"Hyung, mana kado untuk Minhyung?"
Hansol berhenti mendengar pertanyaan Taeyong, bukannya menjawab ia malah menepuk dahinya keras. Ia ingat tadi menyelamatkan benda itu di balik jas hujannya tapi setelah itu...
"Ya ampun, aku lupa meninggalkannya tercantel di motor! Tak apa Taeyong-ah, nanti bisa kau ambil- YA! Kau mau ke mana?!" Hansol berteriak melihat sosok di belakangnya tiba-tiba sudah berlari ke arah berlawanan yang mereka tuju.
"Kuambil dulu, takut hilang!" Samar di antara suara hujan Hansol mendengar jawaban Taeyong.
"Anak itu! Aish!"
xxx
Sampai di studio dance bersamaan, keadaan Taeyong dan Hansol benar-benar berbeda. Hansol setengah kering sementara Taeyong sangat basah sampai rambutnya ikut lepek. Salahkan aksi nekatnya kembali ke tempat parkir untuk mengambil kado Minhyung.
"Taeyong-hyung habis tenggelam di mana?" Pertanyaan dari Ten itulah yang menyambut kedatangan Hansol dan Taeyong. Ten memang suka bercanda, tapi ia jugalah yang berinisiatif mendekati Taeyong dan Hansol sambil membawa dua handuk kering.
"Taeyong-ah, sebaiknya cepat mandi dan ganti bajumu sebelum masuk angin." Yuta menimpali.
Taeyong hanya mengangguk sebelum menghilang dibalik pintu ruang ganti. Hansol hanya perlu mengganti celananya ia rasa, karena bajunya masih cukup kering untuk dipakai. Ia bisa menggantinya setelah Taeyong selesai.
"Hhhh... kalian tahu? Aku kesal sekali dengan Taeyong..." Hansol mendudukkan dirinya di antara Ten dan Yuta. Jaehyun tak ada di antara mereka karena ibunya menyeretnya pulang ke rumah setelah berkunjung kemarin.
"Kenapa hyung?" Ten jadi penasaran, tidak biasanya Hansol bicara buruk tentang Taeyong.
"Dia itu keras kepala sekali, dan nekat. Huh, kau pasti juga akan kesal kalau di posisiku." Hansol pun menceritakan apa saja yang terjadi selama perjalanan pulang tadi.
"Itu sih sudah biasa, hyung." Tanggap Yuta santai. Ia memang sudah hafal sekali sifat Taeyong yang itu. Ialah yang mengenal Taeyong paling lama di antara mereka, sudah sejak kelas 3 SMA.
"Sudah berkali-kali dia begitu dan ujung-ujungnya hanya akan menyusahkan dirinya sendiri." Tambah Yuta.
"Kalau kau kesal, itu artinya kau peduli dan khawatir padanya, hyung." Ten menyemangati(?) Hansol.
"Omong-omong Shim-gyosu tadi ke sini?" Tanya Hansol mengingat karena orang itulah mereka nekat menerobos hujan.
"Yap, tapi pergi lagi begitu melihat hanya ada aku dan Yuta-hyung."
"Apa dia marah?"
"Tidak tahu, Shim-gyosu 'kan wajahnya memang selalu judes jadi susah juga membedakan dia marah atau..." Yuta mengangkat bahunya tanda tak tahu.
xxx
"Taeyong kok lama sih?" Pertanyaan Hansol memecah keheningan setelah dua puluh menit mereka sibuk dengan hp masing-masing sejak percakapan terakhir mereka.
"Coba lihat, hyung, lagi galau sambil shower-an kali." Ten menyeletuk dengan senyum bercanda khas miliknya.
Hansol beranjak dari duduknya. Celananya sudah hampir kering juga, tapi ia tetap berniat mengganti celananya.
"Taeyong-ah, kau sudah selesai?" Hansol mengetuk pintu ruang ganti. Tak ada jawaban. "Kau masih di kamar mandi? Cepatlah, aku juga mau ganti celanaku..." Masih tak ada jawaban.
"Kau masih hidup, Tae?" Yuta ikutan mengetuk pintu ruang ganti. Yuta menatap Hansol. "Perasaanku tak enak, hyung." Yuta meraih kenop pintu dan memutarnya. Dikunci dari dalam.
"Taeyong-hyung~" Ten bergabung dan memanggil lebih keras.
"Ya! Taeyong! Jangan bercanda! Jawab atau buka pintunya!" Hansol mulai tak sabaran.
"Dia belum keluar 'lkan?" Yuta memastikan pada dua temannya bahwa Taeyong memang benar masih di dalam.
"Dobrak saja, hyung." Usul Ten. Hansol menatap horor pada Ten karena idenya. "Urusan ganti-ganti pintu bisa diurus belakangan." Tambah Ten.
"Kajja!" Yuta bersiap-siap. Hansol dan Ten ikut bersiap.
"Satu...dua...ti-"
'CKLEK'
"...ga... stop, stop, stop!"
"Kalian kenapa sih? Berisik sekali." Taeyong muncul dari balik pintu, tampak sudah berganti pakaian.
"Kau, kau tak apa-apa?" Yuta mendekatinya, meninggalkan dua orang yang masih melongo di belakangnya.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Taeyong heran.
"Kau sudah terlalu lama di dalam hyung. Kau tak juga menjawab meski dipanggil. Kami hampir saja mendobrak pintunya, mengira kau pingsan di dalam." Jelas Ten.
'Memang benar...' ringis Taeyong dalam hati. Ia rasa ia memang sempat pingsan di dalam, entahlah ia juga tak tahu. Kepalanya sudah pusing sejak pagi dan semakin parah setelah hujan-hujanan tadi. Dengan kepala berdenyut ia ingat masih sempat membilas tubuh dan berganti pakaian, namun setelahnya ia tak ingat lagi. Ia hanya kembali tersadar saat teriakan Ten disertai gedoran pintu terdengar. Tubuhnya terasa sangat lemas, tapi mendengar rencana mereka mau mendobrak pintu membuatnya segera bangkit.
"Kau benar-benar tak apa 'kan? Wajahmu pucat tahu..." Hansol masih terlihat khawatir.
"Tak apa hyung..."
"Sudah tak dingin lagi?"
"Sudah lebih baik." Taeyong tersenyum meyakinkan.
"Hyung, kau bikin heboh saja." Ten menyenggol pelan lengan Taeyong.
Ten dan Hansol mungkin sudah percaya Taeyong baik-baik saja, tapi Yuta tidak. Matanya tak lepas mengikuti gerak-gerik Taeyong sejak saat itu, bahkan saat Shim-gyosu datang lagi dan mereka memulai latihan koreografi baru mereka di bawah pengawasan Shim-gyosu.
"Taeyong, fokus! Gerakanmu kurang power. Ulang lagi!" Perintah Shim-gyosu.
Tak perlu menoleh, sisa tiga orang lain di ruangan itu pun bisa melihat gerakan Taeyong yang berbeda dari biasanya. Semuanya terlihat di cermin besar yang mengelilingi mereka.
"Jwesonghamnidahh..." Jawab Taeyong tersengal.
Ke empat orang yang tergabung dalam satu tim itu mengulang kembali gerakan dance mereka persis seperti sebelumnya.
Taeyong berusaha untuk tidak mengacau lagi kali ini. Tapi tubuhnya seperti tidak sejalan dengan otaknya. Setelah gerakan memutar yang rumit, tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Bukan karena gerakannya yang tidak sempurna, tetapi karena kepalanya yang terasa berputar sampai pandangannya pun memburam. Ia butuh sesuatu untuk dijadikan pegangan atau ia akan jatuh. Ruangan itu ikut berputar di mata Taeyong, padahal ia jelas telah berhenti bergerak sedetik yang lalu. Kenapa...
"Taeyong-hyung!"
Itu suara teriakan Ten.
BRUK!
Itu suara tubuhnya yang jatuh menabrak lantai.
"Taeyong!"
Yuta.
"Ya ampun, Taeyong!"
Dan Hansol.
Setelah itu tak terdengar apa-apa lagi.
xxx
Mark menggigiti bibir bawahnya, tanda ia sedang cemas. Matanya memang melihat ke luar jendela mobil namun pikirannya melayang pada Taeyong.
Taeyong pingsan.
Itulah kabar yang didengarnya dari Johnny yang ditelepon oleh Hansol. Bagaimana bisa Taeyong pingsan? Taeyong baik-baik saja semalam meskipun sedang flu. Oh tidak, Mark mulai berpikiran macam-macam. Ia harus menepis segala pikiran buruk itu.
Hujan masih mengguyur saat Mark dan Johnny tiba di kampus Taeyong. Sebuah kampus seni terbesar di Seoul. Bangunannya yang megah memang sangat cocok dengan gelar kampus seni terbesar dan sekarang mereka bingung harus kemana. Kampus yang besar itu terlihat sepi karena memang telah masuk masa liburan. Dan hampir tak ada orang yang berkeliaran di luar karena hujan masih mengguyur sejak tadi.
"Akan kutelepon Hansol lagi." Johnny berinisiatif. Baik Johnny dan Mark masih berada di dalam taksi yang mereka tumpangi. Tentu saja kalau mereka mau menjemput Taeyong, taksinya harus masuk ke dalam, tak mungkin orang pingsan disuruh berjalan ke taksi sendiri.
"Eung, klinik Gedung G? Oke... Taksi boleh masuk? Mmm... yes. Kami sudah di depan. Oke, kami masuk. Thanks Hansol."
"Pak, masuk ke dalam saja." Johnny meminta supir taksi untuk masuk ke wilayah kampus, menelusuri jalannya dan mencari gedung yang diberitahukan Hansol.
Sampai di depan gedung yang dimaksud, mereka bisa melihat klinik kecil yang ada di bagian kanan. Sepertinya di sanalah Hansol dan yang lainnya berada.
"Parkir di depan klinik itu, Pak!" Pinta Johnny pada supir lagi. Johnny merasa harus mengambil alih urusan penjemputan ini karena Mark terlalu kalut untuk berkata apapun.
Johnny dan Mark turun dari taksi dan segera memasuki klinik untuk menghindari terkena hujan. Mereka langsung melihat Ten dan Hansol di lobby klinik.
"Di mana Taeyong?" Johnny lagi yang bertanya.
"Di dalam. Ada Yuta yang menemaninya."
Tanpa berkata-kata, Mark menerobos masuk ke ruangan yang ditunjuk Hansol. Beruntung tak ada pasien lain jadi tak apa kalau mereka sedikit menimbulkan keributan.
"Hyung!" Mark kembali mendapatkan suaranya.
"Ssstt... dia baru saja tidur setelah minum obat."
"Yuta-hyung, Taeyong-hyung kenapa? Bagaimana dia bisa pingsan?"
"Taeyong demam sejak pagi dan tambah parah karena kehujanan." Jawab Yuta masih tak lepas menatap Taeyong.
Mark meraba kening Taeyong, panas, seperti dugaannya. "Haaah..." Mark mendesah. "Seandainya aku bangun lebih awal pagi ini, aku akan mencegahnya berangkat."
"Kalau kami tahu dia sedang demam juga kami akan menyuruhnya pulang. Kebiasaan, Taeyong suka menyimpan sendiri sakitnya." Yuta geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Dokter bilang apa, hyung? Apa sakitnya berbahaya?" Mark bertanya lagi.
"Tidak. Dokter bilang karena kelelahan dan stres daya tahan tubuhnya menurun jadi mudah terserang penyakit. Tapi selain disuruh istirahat dan minun obat, dokter tak bilang apa-apa lagi. Aku minta bantuanmu untuk mengurungnya di rumah tiga hari ke depan, eoh?"
"Ne, hyung."
Johnny masuk tak lama kemudian. "Kita bawa Taeyong pulang sekarang. Supir taksinya masih menunggu.
"Tapi Taeyong-hyung masih tidur."
"Tak apa, lebih baik istirahat di rumah. Aku akan menggendongnya, bantu aku."
Dengan bantuan Mark dan Yuta, Taeyong telah berada di punggung Johnny dengan aman. Yuta menyerahkan tas Taeyong pada Mark, tak lupa obat dari dokter juga.
"Ah, iya, ini untukmu." Yuta hampir lupa menyerahkan kantung plastik yang berisi kado untuk Mark.
"Ini apa, hyung?"
"Tanya Taeyong saja nanti." Yuta mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum jahil.
Tidak bertanya lagi, Mark mengekori Johnny yang berjalan lebih dulu, Yuta di belakangnya.
Ten dan Hansol sudah siap dengan payung masing-masing agar perjalanan Johnny dan Taeyong menuju taksi aman dari hujan yang tinggal gerimis.
"Hyungdeul, gamsahamnida~ terima kasih sudah menjaga hyungku."
"Gwaenchana Mar-ups-Minhyung-ah~ hehe, hanya pastikan dia terikat di kasurnya." Ten melambai pada Mark.
"Tak apa kalau mau memanggilku Mark, hyung."
"Jinjja? Baguslah, namamu agak sulit diucapkan sih."
"Katakan itu pada pemilik nama terpanjang dan tersulit di kampus ini." Sindir Hansol menatap sinis Ten.
"Ya! Chittapon Leechaiyapornkul itu tidak susah tahu!" Ten protes.
Teman-teman Taeyong memang menyenangkan, buktinya mereka masih bisa membuat Mark tersenyum di tengah kekhawatirannya pada Taeyong.
"Mark! Hurry up or we have to pay million won to this driver!" Seru Johnny dari dalam taksi.
"Ok. Hyung kami pulang dulu ya~" Mark melambai pada Ten dan Hansol sebelum bergabung dengan Taeyong di kursi belakang taksi.
xxx
"Yes, thank you mom... I wish a happy birthday, too... Tidak, Taeyong hyung sakit. Hhh... aku cemas sekali tadi... Hanya ada aku dan Johnny di rumah. Appa belum pulang dari luar kota. Aku mau mengabarinya tapi Taeyong hyung bilang tak usah. Cuma sakit biasa. Tapi aku tak bisa tak mengabarimu mom... Mmm, akan kusampaikan padanya salam dari mom... Yeah, miss you, too."
'PIP'
Mark mengakhiri panggilan internasional dengan ibunya. Ia baru saja mengabari perihal sakitnya Taeyong. Ia baru ingat lagi ini masih hari ulang tahunnya. Taeyong yang sakit membuatnya melupakan segalanya. Termasuk makan siangnya. Sekarang ia lapar, tapi ia tak mau nekat memasak, daripada malah menghancurkan dapur kesayangan Taeyong. Lebih baik ia turun ke bawah, mengunjungi cafe Taeil dan membeli makanan, mungkin bisa juga memesan bubur untuk Taeyong.
Suara bel berbunyi. Membuyarkan lamunan Mark soal makan malam mereka hari ini. Siapa sih?
Rupanya itu Jaehyun. Ia datang dengan raut wajah cemas. Tapi ia tak datang sendiri. Ada seorang lelaki berjas putih di belakangnya.
"Aku datang bersama dokter keluargaku, dokter ini bisa memeriksa Taeyong-hyung. Dia di dalam 'kan?" Tanya Jaehyun begitu Mark membukakan pintu untuknya.
"Eo-eoh, ne. Masuk saja, hyung." Mark mempersilakan dua tamunya masuk.
Johnny yang baru selesai mandi kaget melihat Jaehyun sudah ada di ruang tengah bersama laki-laki asing. "Siapa itu Jae, ayahmu?"
"Bukan hyung, dokter keluargaku. Aku sengaja minta izin eomma untuk mengajak dokter Kim ke sini. Aku dengar dari Yuta-hyung, Taeyong-hyung pingsan saat latihan."
"Wow. Kau bahkan punya dokter keluarga! Silakan saja kalau mau periksa Taeyong, dia di kamarnya. Tapi tadi sudah diperiksa dokter di klinik sih, iya 'kan Mark?"
Mark datang dengan nampan berisi dua gelas jus minuman. "Ne, hyung."
"Aku lebih percaya pada dokter Kim. Boleh kami ke kamarnya sekarang?"
"Silakan..."
Taeyong sedang melamun di kamar saat Jaehyun masuk. Ia memang sudah bangun sejak tadi, tapi terlalu lemas untuk bangkit dari posisi tidurnya.
"Hyung..."
"Eoh? Jaehyun-ah, wasseo?"
"Ne, hyung. Bagaimana perasaanmu?"
"Aku... baik. Kau tidak kabur dari rumah 'kan?"
"Hyung~ kau ini. Aku datang bersama dokter keluargaku."
Taeyong menyadari ada orang lain di belakang Jaehyun.
"Annyeong haseyo." Taeyong mengangkat kepalanya sedikit untuk menunduk dan dibalas bungkukan singkat dokter Kim.
"Tuan muda Jaehyun meminta saya memeriksa Anda, Taeyong-ssi. Boleh saya periksa sekarang?" Dokter Kim mulai mengeluarkan peralatan seperti stetoskop dan lainnya.
"Eh? Jaehyun-ah, kenapa kau repot-repot? Aku ingat tadi sudah diperiksa dokter di klinik kok." Taeyong jadi salah tingkah.
"Aku akan percaya kau baik-baik saja kalau yang memeriksa dokter Kim. Dokter Kim periksa saja dia, tak usah didengarkan apapun yang dikatakannya."
Taeyong memajukan bibirnya tak terima. Setelah memeriksa dan menanyai Taeyong sedikit, dokter Kim mengatakan persis seperti yang dikatakan dokter di klinik kampus.
"Kalau Anda sudah mendapat obat dari dokter sebelumnya, maka harus dihabiskan. Saya hanya akan menambahkan resep suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh Anda."
"Ne, gamsahamnida, dokter Kim."
Setelahnya, dokter Kim pamit diantar Jaehyun. Taeyong kira Jaehyun akan pulang ke rumahnya, tapi ternyata anak itu kembali bersama Mark.
"Hyung, kau mau makan apa malam ini? Aku berencana membeli makanan di cafe Taeil-hyung." Mark duduk di tepi ranjang seraya memijat-mijat pelan kaki Taeyong.
"Aku tak ingin makan apa pun, Minhyung-ah..."
"Jangan kekanakan, hyung. Kau harus makan sebelum minum obat!" Tegas Jaehyun.
"Tapi, Jaehyunni..."
"Tak ada tapi-tapian. Aku sendiri yang akan memastikan kau makan dengan benar."
Taeyong memandang Jaehyun agak lama. "Geurae..." Mata Taeyong kini beralih pada Mark. "Minhyung-ah, bisa kau keluar? Ada yang ingin kubicarakan dengan Jaehyun. Berdua saja." Taeyong memberi penekanan di akhir.
"Eoh?" Mark cukup terkejut mendapat usiran halus dari Taeyong. Sebegitu rahasianyakah pembicaraan Taeyong dan Jaehyun? Jaehyun juga tampak terkejut karena raut wajah Taeyong yang tiba-tiba serius.
"Eum, kalau begitu, aku pergi ke cafe sekarang saja. Aku akan beli makanan untuk kita semua. Tak apa 'kan kalau sama seperti kemarin?" Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang di kamar itu, Mark undur diri.
Entah kenapa ia merasa sakit hati. Moodnya memang sedang buruk hari ini, disenggol sedikit saja rasanya sudah menyebalkan, tapi diusir? Oke, ini saaaangat menyebalkan. Memangnya dia apa? Nyamuk?
"Apa yang mau kau bicarakan sampai mengusir Minhyung segala, hyung? Kalau aku jadi dia aku akan sebal padamu." Jaehyun menduduki tempat yang sebelumnya diduduki Mark.
"Hehehe...menyebalkan, ya? Baguslah kalau begitu."
"Aneh..."
"Ini juga demi Minhyung. Kau tahu 'kan hari ini ulang tahunnya?"
"Tentu saja, kemarin 'kan kau cerit...aaa, jangan-jangan kau mau-"
"Ya, tepat sekali, Jaehyunni yang pintar. Aku mau memberi kejutan untuk Minhyung. Langkah pertama kita kerjai dia dulu, hehehe."
"Hyung~ kau ini benar-benar. Jangan sok mau buat kejutan-kejutan deh. Kau bangun saja tak bisa." Cibir Jaehyun.
"Makanya aku butuh bantuanmu, Jaehyun-ah..." Pinta Taeyong dengan wajah memelas yang tak bisa ditolak Jaehyun.
"Baiklah..." Jaehyun hanya bisa pasrah.
"Sip, pertama-tama panggil Johnny ke sini. Dia juga harus membantu kita jadi jangan biarkan dia ikut Minhyung ke cafe. Lalu kau telepon Taeil-hyung untuk menahan Minhyung selama mungkin di cafe. Kau bisa 'kan?"
"Yes, sir!"
"Ah, ada satu lagi." Jaehyun yang baru akan keluar menoleh lagi.
"Bisa kau tolong aku masakkan sup rumput laut untuk Minhyung? Aku sudah janji padanya akan memasak itu, tapi..."
Jaehyun mengangguk, sebuah senyum pengertian terpasang di wajahnya.
xxx
"Hyung, aku mau pesan makanan yang biasanya dipesan Taeyong hyung." Mark telah berada di cafe Taeil dan Doyoung berperan sebagai pelayannya hari ini.
"Mmm... sebentar ya, kulihat dulu stok menu itu masih ada atau tidak, hari ini ramai sekali sih."
"Baiklah..." Doyoung memberikan segelas air putih sebagai servis selama Mark menunggu.
Sesuai rencana Taeyong, Jaehyun telah lebih dulu menelepon Taeil yang bekerja sama dengan Doyoung untuk melakukan apapun supaya bisa mengulur waktu Mark di cafe.
Johnny juga sudah diajak kerja sama. Ia yang membantu Taeyong menyiapkan segala sesuatu di rumah, seperti beres-beres dan menghias ruangan. Sementara Jaehyun sibuk di dapur membuat sup yang diminta Taeyong. Taeyong hanya mengawasi sambil terduduk di meja makan karena berdiri sedikit bisa membuat kepalanya terasa berputar lagi dan ia bisa jatuh kapan saja.
xxx
Mark memandang keadaan cafe yang sepi. Mana ramainya? Mungkin tadi, pikir Mark, berusaha positif. Dan ia pun sibuk dengan pikirannya sendiri selagi menunggu.
Bolehkah Mark berkata kalau ia sebal pada Taeyong? Ya, ia sebal pada Taeyong barusan Entahlah, ia sendiri bingung kenapa ia sebal. Tadinya ia biasa saja, lalu Jaehyun datang. Taeyong mengusirnya. Lalu semuanya jadi menyebalkan. Johnny juga ikut-ikutan menyebalkan. Ia tak mau diajak ke cafe. Ditambah pesanan makanan datangnya lama sekali. Ia sudah lapar karena tak makan tadi siang. Benar-benar menyebalkan!
Demi apapun ini ulang tahun terburuknya!
"Huuuft..."
Mark sebenarnya tak ingin marah pada siapapun. Apalagi pada Taeyong yang sedang sakit. Tapi perasaannya benar-benar sedang sensitif hari ini. Seperti wanita yang sedang PMS. Yah, ia tak pernah PMS sih, tapi ia tahu bagaimana sensitifnya wanita yang PMS, melihat contoh dari ibunya.
Dan perasaannya pada Jaehyun belum jelas. Maksudnya apakah ia membencinya, hanya tidak suka, hanya iri, atau sebenarnya biasa saja? Ia tak terlalu suka kalau Jpaehyun ada di sekitar Taeyong. Karena Jaehyun berbeda dengan teman Taeyong yang lain. Jaehyun terlalu dekat dengan Taeyong dan kenyataan di mana Taeyong tidak keberatan soal itu, membuat Mark makin tak suka. Oke sepertinya ia mengidap brother complex pada Taeyong. Mungkinkah ini efek tak bertemu selama sebelas tahun?
Terlalu banyak melamun soal Taeyong membuat Mark tak sadar Taeil sudah duduk di depannya. Laki-laki berwajah teduh itu memandangi wajah Mark yang berubah-ubah ekspresi saat melamun.
"Aku tak menyangka Taeyong punya adik seimut ini."
"Eh?"
"Aku iri pada Taeyong karena adikku Doyoung sangat tidak imut."
"Tidak salah, hyung? Aku ini yang terimut di lingkungan ini." Doyoung yang sedang membawa alat pel menyambar.
"Ckck, kembali bekerja saja sana Doyoungi..."
"Hmph..." Doyoung melengos pergi.
"Pesananmu sedang dibuat chef kami. Kuharap kau sabar ya." Kata Taeil lagi pada Mark.
"Ne, hyung. Ng, tapi tidak ada yang menyebutku imut sebelumnya." Mark tertawa canggung.
"Tak apa, Minhyung-ah. Itu pujian. Tetapi kalau kau tak suka, aku tak akan menyebutmu begitu."
"Aniya, hyung, gwaenchanayo..."
Taeil mengacak rambut Mark gemas, lalu beranjak ke balik konter dan kembali membawa sebuah kotak.
"Kudengar Taeyong sakit. Bisa berikan ini padanya? Sampaikan padanya semoga cepat sembuh, maaf aku tak bisa menjenguknya." Taeil menyerahkan kotak itu pada Mark.
"Ne, hyung. Terima kasih."
Mark heran, berita sakitnya Taeyong seperti trending topic saja, semua orang mengetahuinya dengan cepat. Yah semua orang itu memang teman Taeyong sih, tapi Mark tetap harus bersyukur karena masih banyak orang yang peduli pada hyungnya itu disaat ia sakit. Setidaknya ia tidak khawatir sendirian.
"Kau mau tambah minumnya? Atau ingin cake?" Tanya Taeil melihat isi gelas Mark telah tandas.
"Ng, tak usah hyung, aku tak terlalu suka makanan manis."
"Kau berbeda sekali dengan Taeyong."
"Beda apanya, hyung?"
"Kalau Taeyong itu, bisa seharian tak makan nasi asal ia makan sesuatu yang manis-manis, misalnya coklat, cake, cookies, es krim, yah seperti itulah. Terutama kalau appanya sedang dinas keluar, biasanya ia akan malas memasak dan mampir ke sini untuk makan tapi yang dipesannya hanya cake."
"Eh? Tapi kau tidak membuatkan cake 'kan untuk pesananku kali ini?"
"Hm?"
"Itu... tadi aku bilang pada Doyoung-hyung mau pesan makanan yang biasa dipesan Taeyong-hyung."
"Hahaha... tentu saja tidak, Minhyung-ah, aku juga mengerti. Biasanya Taeyong pesan jjampong, tapi karena dia sedang sakit, kubuatkan bubur khusus untuknya."
"Ah, untunglah..."
Untung saja Taeil menemaninya selama menunggu pesanan makanannya jadi, Mark tak jadi mati kebosanan karenanya. Mood Mark pun sedikit membaik. Lain kali ia berjanji akan lebih sering mengobrol dengan Taeil-hyung.
xxx
"Ya... kita harus cepat. Taeil-hyung bilang, Mark sudah pulang dari cafe."
"Ugh... kalian seharusnya tidak menyuruhku meniup balon sebanyak ini." Keluh Johnny yang mengaku bibirnya sudah kebas akibat meniup balon.
"Berikan padaku, John-"
"Hyung diam saja atau acaranya batal nih." Ancam Jaehyun pada Taeyong yang baru saja mau meraih balon.
Taeyong memberikan tatapan minta maaf pada Johnny.
"Ya sudah segitu saja cukup balonnya. Sekarang kita bereskan kekacauan yang dibuat Johnny-hyung lalu matikan lampunya."
Walaupun protes Johnny tetap mengikuti perkataan Jaehyun. Kalau bukan demi kelancaran hubungan Mark dan Taeyong, ia mana mau disuruh-suruh laki-laki yang dua tahun lebih muda darinya itu.
Setelah semuanya selesai sesuai rencana, ketiga orang di dalam apartemen itu pun mulai mengambil posisi tersembunyi agar mereka bisa mengejutkan Mark begitu ia masuk apartemen.
Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu apartemen. Itu pasti Mark, pikir ketiga orang yang tengah bersembunyi.
"Eoh? Kenapa gelap semua? Hyung...? Johnny...? Kenapa sepi sekali?" Mark yang bingung mulai bertanya-tanya. Di tengah gelap ia meraba-raba tembok mencari saklar terdekat.
Saat menemukan saklar itu tiba-tiba saja ketakutan menyergapnya, suasana sepi ini... sangat tak wajar. Bagaimana kalau ada perampok di dalam yang sudah membantai Hyungnya dan Johnny.
'GLUK' Mark menelan ludahnya takut.
"Haruskah aku panggil bantuan?"
'Kenapa Minhyung lama sekali?' Bisik Jaehyun pada Taeyong di sebelahnya. Ia tahu Mark sudah masuk dari tadi tapi kenapa ia tak juga menyalakan lampu?
Mark menggigit bibirnya, ragu. Nyalakan? Tidak? Nyalakan? Tidak?
"Ah, molla~" Sambil menutup mata, Mark menekan saklar lampu.
'CRIING' Lampu yang menyala tiba-tiba, membuat ketiga orang yang sedang sembunyi terkejut dan kehilangan timing mereka untuk memberikan kejutan. Beberapa detik berlalu, Mark masih menutup matanya. Jaehyun, Taeyong, dan Johnny masih membiasakan mata mereka pada cahaya terang.
Jaehyun yang sadar lebih dulu memberikan aba-aba, 'Hana, dul, set...'
"SURPRIIIIISEEEE!!!"
Seruan tiga orang itu berhasil mengejutkan Mark sampai jatuh terjengkang. Tapi Mark tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat membuka mata dan melihat ruangan itu tak seperti saat ia tinggalkan tadi.
"Woaah! You guys made this for me? Woaaah..."
"Saengil chukka hamnida... saengil chukka hamnida... Saranghaneun uri Minhyung... saengil chukka hamnida... wooo!" Nyanyi Jaehyun kelewat bersemangat. Johnny dan Taeyong ikut bernyanyi meski tak seheboh Jaehyun.
Mark belum bisa menutup mulutnya saat berjalan mendekat.
"Hey, isn't it awkward if there's no cake on a birthday?" Tanya Johnny.
"Minhyung-ah, Taeil-hyung memberimu sesuatu tidak?"
"Taeil-hyung? Eoh, ne. Dia memberikan ini untuk Taeyong hyung." Mark menunjukkan kotak yang terpisah dari kotak makanan pesanannya.
"Bukalah Minhyung-ah..." pinta Taeyong dengan senyum di wajahnya. Mark mengikuti perintah Taeyong. Dibukanya kotak bertuliskan Moon cafe itu.
"Woaaah..." Mark lagi-lagi ber-woah ria. Sebuah cake coklat bertuliskan "Happy birthday 이민형" kini berada di tangannya.
"Hyung... kau sudah merencanakan ini?" Mark bertanya pada Taeyong. Taeyong mengangguk.
Yah, sebenarnya tidak seperti ini rencana Taeyong. Pingsan di kampus tidak termasuk dalam daftar rencananya. Tapi ada hikmahnya juga, ia bisa pulang cepat dan mengadakan pesta kecil untuk Mark lebih awal. Ditambah ia bisa mengerjai Mark.
"Apa mengusirku juga termasuk dalam rencana?"
"Mengusirmu?"
"Iya, tadi waktu kau bilang mau bicara berdua saja dengan Jaehyun."
"Hyung, sepertinya yang tadi berhasil." Jaehyun tampak senang sekali sampai dimple-nya terlihat sangat dalam.
"Mark itu memang mudah sekali dibohongi. Tak heran." Johnny menimpali.
"Johnny Seo, kau ikutan juga? Aku benci padamu!"
"Yeah, I love you too, Mark Lee."
Mereka semua tertawa bersama.
"Bagaimana kalau kita ke meja makan sekarang. Johnny bilang kalian tak makan siang tadi."
"Ya, karena kau hyung..."
"Kau harus coba sup rumput lautnya. Jaehyun yang buat sih. Tapi masakan Jaehyun juga enak."
"Aniya... hyung, masakanku lebih enak dari masakanmu." Timpal Jaehyun pede.
"Terserah saja, yang penting aku lapar." Johnny sudah tak tahan dengan suasana basa-basi itu.
Mark membantu Taeyong berjalan tanpa diminta. Ia takut hyungnya itu jatuh kalau tidak dibantu berjalan dan memang benar sih, Taeyong sangat berterima kasih untuk itu.
"Gomawo, Minhyung-ah~" katanya begitu duduk dengan aman di kursi meja makan.
Suasana yang dingin setelah hujan memang membuat nafsu makan meningkat. Baik Mark, Johnny, maupun Jaehyun makan dengan lahap semua makanan yang tersaji di meja makan. Mark terutama memuji sup rumput laut yang dibuat Jaehyun. Rasanya sangat mirip seperti yang dibuat grandma atau mom-nya.
"Tentu saja mirip, resepnya 'kan dari Taeyong hyung." Jawab Jaehyun dengan mulut penuh makanan.
Mark menatap Taeyong penuh arti, tetapi tatapannya segera berubah prihatin karena makanan Taeyong tak berkurang banyak.
"Kenapa hyung? Kau tak suka buburnya? Taeil hyung sengaja membuatkannya untukmu loh, habiskan, ya?"
Taeyong mengangguk, meskipun mual ia tetap memakannya pelan-pelan. "Ini enak, tapi di lidahku tak ada rasanya. Gwaenchanayo... akan kuhabiskan..l."
"Kau mau makananku, hyung? Mungkin yang ini ada rasanya."
"Aniya... kau habiskan saja punyamu."
"Tapi hyung..."
"Aku tak mau, Minhyungi~"
"Aduuuh... sepertinya aku jadi nyamuk di sini... Enaknya makan sambil nonton tv kali, ya?" Johnny beranjak dari meja makan membawa kotak makannya. Jaehyun yang membaca situasi mengikuti jejak Johnny tak lama kemudian.
"Apaan sih Johnny itu?" Gerutu Mark.
"Kau tak memanggil Johnny dengan sebutan hyung, Minhyung-ah?"
"Mwo? Oh itu... karena di Kanada tidak ada panggilan seperti hyung untuk orang yang lebih tua aku jadi terbiasa memanggilnya Johnny saja."
"Apa kau juga lebih suka dipanggil Mark saja?"
"Eh? Aku tak masalah kok dipanggil apa saja."
"Aku lebih suka Minhyungi~"
"Kalau begitu panggil aku itu saja, hyung."
"Gomawo..."
"Tak usah berterima kasih, hyung."
Hening tercipta saat Taeyong dan Mark sama-sama sibuk kembali dengan makanan masing-masing. Sepuluh menit berlalu, Mark telah membersihkan jatah makanannya. Tapi tidak dengan Taeyong. Ia terkadang berhenti menyendok bubur agak lama dan tampak berusaha keras menelan makanan yang sudah masuk ke mulutnya. Mark jadi kasihan melihatnya.
"Sudah hyung, jangan dipaksa. Kau bisa berhenti kalau tak sanggup menghabiskannya." Mark memberikan segelas air hangat untuk Taeyong.
"Aku ingin banyak makan supaya cepat sembuh, tapi susah sekali ya?" Taeyong mendesah lega saat mengetahui Mark tak lagi memaksanya menghabiskan makanannya.
"Pelan-pelan saja, kau tak mungkin pulih dalam semalam. Yuta hyung bilang aku harus mengurungmu di rumah sampai tiga hari ke depan."
"Itu terlalu lama, aku akan sangat tertinggal dalam latihan." Taeyong merajuk dengan wajah memelas berharap Mark tidak benar-benar mengurungnya.
"Tak akan mempan hyung, aku tetap akan mengurungmu."
"Ya! Lee Minhyung!"
"Omong-omong, terima kasih kadonya hyung, bajunya keren." Ujar Mark tak mempedulikan protes Taeyong.
"Eh? Kau sudah melihatnya? Kau menyukainya?"
"Yes. Sangat sesuai dengan gayaku. Tapi..."
"Tapi..?"
"Tapi aku tak akan menerima hadiah darimu lagi kalau untuk membelinya kau sampai harus hujan-hujanan."
Taeyong tersedak air yang sedang di minumnya. Dari mana Mark tahu?
"Tidak kok..."
"Tak usah bohong hyung, teman-temanmu itu kan geng gosip, mereka pasti menceritakan semuanya padaku yang kau lakukan."
Mark benar, teman-temannya memang geng gosip, terutama Ten dan Yuta. "Hhhh..." Taeyong lelah sendiri kalau memikirkan mereka.
"Makanya... kau tak usah memberiku hadiah pun aku sudah senang. Semua kejutan ini dan ucapanmu semalam sudah lebih dari cukup, hyung. Hanya... kalau aku boleh minta satu hal padamu..." Mark menatap Taeyong penuh harap.
"Apa itu?"
"Biarkan aku merawatmu malam ini hyung, besok, dan seterusnya sampai kau sembuh."
"Apa aku bisa berkata tidak?" Senyum di wajah Taeyong mengembang di saat ia melontarkan sebuah pertanyaan yang tak perlu Mark jawab.
xxx
Sudah seminggu berlalu sejak ulang tahun Mark. Taeyong sudah sehat dan kembali berlatih bersama tim dancenya. Jangan lupakan juga Jaehyun yang mulai bergabung latihan setelah cideranya pulih. Kali ini mereka optimis bisa meraih juara pertama. Terkadang Mark dan Johnny berkunjung ke studio dance Taeyong dan kawan-kawan karena mereka bilang boleh datang kapan saja. Lagipula perkuliahan normal sedang libur, kecuali Taeyong dan kawan-kawan yang sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi, tak banyak mahasiswa yang mengunjungi kampus.
"Johnny, bagaimana menurutmu kalau aku melanjutkan study ku di sini?"
"Maksudnya?"
"Apa mom akan mengizinkan kalau aku bilang ingin kuliah di sini dan tinggal bersama Taeyong-hyung?"
"Kau gila?! Aku suka idemu."
Mark memutar bola matanya malas. "Aku serius Johnny, aku benar-benar bertanya pendapatmu."
"Ya, I'm serious, tanyakan langsung pada your mom lah. I don't have the right to decide what you have to do."
"Hmm... mungkin aku juga perlu meminta pendapat Taeyong-hyung dan appa. Oh ya? Aku sudah bilang belum? Malam ini appa pulang!"
xxx
"Terakhir kali kita berbelanja itu... di hari kedatanganmu. Itu sudah lebih dari seminggu yang lalu. Aku jarang masak sih akhir-akhir ini..." Taeyong bicara pada Mark yang mendorong troli, tapi ia tak mengharap jawaban apapun.
"Hmm..." Mark pun hanya menggumam sebagai balasan.
"Apa yang biasanya ingin orang makan sehabis berpergian?"
"Ng... makanan enak?"
Taeyong memandang Mark gemas. "Iya makanan enak, tapi makanan enak 'kan banyak, Minhyung-ah~"
Mark memutar matanya, tampak mengingat-ingat. "Seingatku appa sangat senang kalau mom memasakkan samgyetang untuknya di musim panas."
"Samgyetang?"
"Eoh..."
"Hmm... aku sudah lama sekali tak memakan samgyetang buatan eomma. Terakhir yang kumakan buatan ibu Jaehyun dan rasanya sedikit berbeda. Aku ingin coba membuatnya sendiri, tapi aku tak tahu resepnya."
"Mau tanya pada mom langsung?"
"Eh?"
"Kau juga... sudah lama tak bicara dengan eomma 'kan?"
Mark sudah menduga pembicaraan antara ibu dan anak itu akan dipenuhi keharuan, tapi nyatanya? Taeyong malah mendesis tak suka saat mendengar entah apa itu dari ibunya. Mark tak berani bertanya karena ekspresi Taeyong mengeras setelah ia memutuskan panggilan itu.
"Kau suka samgyeopsal 'kan?" Mark hanya mengangguk saat ditanya itu. Sepertinya Taeyong sama sekali tak berminat membuat samgyetang lagi.
xxx
Perjalanan pulang dari supermarket pun menjadi canggung karena Taeyong tak bicara sedikit pun. Mark juga tak berani memulai pembicaraan karena Taeyong selalu menatap ke arah lain saat Mark memandangnya. Mark sangat penasaran tapi juga bingung bagaimana menanyakannya. Apa yang tadi dibicarakan Taeyong dengan ibu mereka?
"Hyung-"
'DUK'
Seseorang menabrak bahu Mark. "Ah, jwesonghamnida..." Mark tak jadi mengajukan pertanyaannya dan malah membungkuk pada seorang ahjussi bermantel lusuh. Mantel di musim panas? Aneh, pikir Mark.
"Kau... Lee Taeyong?" Bukannya balas meminta maaf, ahjussi aneh itu malah menanyakan sesuatu yang membuat Mark tercengang. Ahjussi itu mengenal Taeyong?
Tapi lebih dari Mark yang tercengang, Taeyong bahkan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun begitu matanya bertemu pandang dengan mata merah ahjussi aneh bermantel lusuh itu. Matanya membulat, tenggorokannya tercekat, dan dalam sekejap saja dia merasa ciut.
Sebuah senyum atau lebih tepatnya seringai tercetak di wajah tak terawat ahjussi itu. "Kau sudah besar rupanya..." sebuah kekeh tak menyenangkan mengakhiri kalimatnya.
Mark bisa merasakan keresahan Taeyong. Meskipun tak terlalu kentara, Taeyong memundurkan langkahnya dan mengeratkan genggamannya pada plastik belanjaan. Mark semakin yakin Taeyong pun mengenal ahjussi itu meski hubungan mereka tampaknya tak baik.
"Selama mendekam di sana aku terus berpikir... penjara terasa kurang menyenangkan tanpamu. Hahahaha..."
Ahjussi itu menepuk pelan pundak Taeyong sebelum melanjutkan perjalanannya. Meninggalkan dua bersaudara yang masih mematung, sibuk dengan pikiran masing-masing.
'Penjara? Apa lagi ini? Apa yang tak kuketahui tentangmu, hyung?'
TBC
xxx
Drama yang sesungguhnya baru akan dimulai... *jeng jeng*
Setelah ini, apdet cerita ini akan menjadi lelet sekali, karena stok cerita yg sudah diketik sudah habis sodara-sodara... Apalagi kalo respon dan minat readersnya kurang, makin males aja ngetik lagi huhuhu... *cry* #alasan #nyalahinreaders #maapkeun *sungkem ke readers*
Thanks untuk semua readers yg menyempatkan baca, follow, fav, dan review. I love you~
Akhir kata saya ucapkan, "keep reading and give your feedback!"p
