Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Uzumaki Naruto/Hyuuga Hinata
Warning : AU, OOC, Typos, OC, Gag Jelas, Terlalu menghayal
Rated :T
Don't Like? Please, Don't read...
~AUREOLE~
Part-4
"Haha...lihat, kamu bahkan tidak bisa melindungi tunanganmu sendiri Ro-ku-da-i-me-sa-ma," dengan tatapan mengejek Karada menekankan kata terakhir dari ucapannya. Belum pernah sekali dalam seumur hidupnya ini dia bisa merasakan kesenangan ini, mempermalukan orang yang disebut-sebut sebagai 'sang penyelamat'.
"Bagaimana rasanya? Sakitkan? Itulah yang aku rasakan ketika melihat Sara membeku di hadapanku," Karada menatap tubuh Hinata yang kini berada dalam dekapan Naruto.
Naruto menatap geram laki-laki berambut panjang yang kini berada di hadapannya. "Kau, benar-benar brengsek!" Pupil matanya berubah menjadi tanda minus, tanda dia akan menjadi lebih serius sekarang.
"Ho...kita lihat apa kamu yakin akan menyerangku setelah ini," Karada tersenyum sinis. Ini yang dia tunggut-tunggu, pertunjukkan puncak yang akan membuat ketiga lawan di depannya tidak berkutik. Walaupun licik tapi ia harus menang, demi Sara, demi dirinya dan demi orang itu.
Naruto berjalan mendekat, "Jangan mengatakan hal yang membuatku muak setelah kau membuat Hinata seperti itu," Dia benar-benar marah. Harusnya dia bisa melindungi Hinata. Dia marah pada Karada, akibat semua kata-kata dari laki-laki itu benar. Musuh di depannya benar, dia tidak bisa melindungi Hinata. Matanya menatap tubuh lemah yang kini tergolek dalam pelukannya. Perlahan diletakkannya tubuh Hinata di atas tanah. Matanya menatap sengit lawan di depannya. Dia harus menyelamatkan Hinata. Harus.
Tangan terlatih berwarna tan itu mulai membentuk segel, matanya berkilat marah "Kagebunshin no jutsu," sesosok tiruan dirinya berdiri tegak disampingnya.
"Jangan lupakan kami, Naruto" Sakura berdiri di samping kanannya. Matanya melihat sosok Sasuke di sebalah kiri tubuhnya yang sedang bersiaga dengan katana-nya.
"Kami akan menyerangnya duluan Naruto, agar dia tidak bisa membentuk kubah cakra tersebut setelah itu dia milikmu," Sakura membisiki Naruto tentang rencana mereka. Kalau boleh jujur, tangan Naruto sudah betul-betul gatal untuk menghabisi musuhnya. Tapi jika bertindak serampangan, itu akan buang-buang energi, jurusnya tidak terlalu mempan untuk jarak jauh. Naruto mengangguk mengerti.
Sakura memberi aba-aba pada Sasuke, dan dalam hitungan ketiga mereka berlari melesat menyerang musuh mereka dari samping.
Sasuke yang pertama menyerang, mulutnya mengeluarkan semburan api untuk serangan pertama. Seperti yang mereka duga, Karada langsung membuat perlindungan dari sulur cakranya. Belum sempurna kubah tersebut, Sakura meretakkan tanah yang mereka pijak dengan tinju miliknya "Shannaro!" Kubah perlindungan Karada seketika lenyap ketika dia harus melompat untuk menghindari dirinya terkena serangan gadis berambut merah muda tersebut.
Di belakangnya Sasuke sudah menunggu dengan Chidori-nya. Karada ingin membalas walaupun kulitnya terbakar akibat serangan Sasuke. Tangannya sudah bersiap dengan sulurnya ketika Naruto menyerangnya dengan Rasengan yang ukuranya lebih besar.
Serangan beruntun itu, membuat musuh mereka akhirnya terkapar tak berdaya. Darah di bagian dada yang tak tertutup itu menggambarkan bagaimana dasyatnya serangan kombinasi team milik Kakashi itu. Mereka cukup terkejut ketika melihat tubuh Karada yang masih bisa bergerak, berusaha tegak. Ketiga pasang mata tersebut memandang lawannya dengan siaga, "Kalian kira ini sudah selesai?"
Kata-kata dingin Karada membuat ketiga sosok yang masih berdiri tegak tersebut menegang. Karada tiba-tiba melompat dan berdiri di atas dahan pohon, memandang kepada ketiga lawan dibawahnya. "Kalian membuatku muak!" seruan Karada diiringi munculnya sulur-sulur yang kini ukurannya tampak membesar, kalau tadi terlihat seperti tali biasa kini malah terlihat seperti akar pohon besar.
Mereka bertiga berusaha menghindar, menghalangi setiap gerakan sulur yang seakan ingin menikam mereka. Sasuke menebas sulur cakra itu dengan katana-nya tapi tetap saja sia-sia sulur itu kembali memanjang dan berusaha mengincar tubuhnya.
"Aaarghh!" Teriakan Sakura membuat kedua rekannya mengalihkan perhatian mereka pada Sakura yang kini terikat tali cakra pada dahan pohon.
"Tenang saja, Uchiha-kun pacarmu akan baik-baik saja, mungkin dia hanya akan kelelahan,"
Sasuke memandang Karada sengit, dia menatap gadis musim seminya yang kini tampak kelelahan.
"Amaterasu," Kobaran api hitam mulai melalap tubuh Karada. Tapi sulur cakra pada Sakura tetap tidak menghilang.
Tiba-tiba sesosok tubuh melesat melewati Naruto dan Sasuke menerjang tempat Karada. Helaian Indigo yang tertangkap mata Naruto membuatnya sadar siapa sosok itu.
"Sasuke hentikan!" Naruto meneriaki Sasuke yang sepertinya menikmati acara bakar-membakarnya. Sasuke menghentikkannya. Menghilangkan kobaran api hitam yang hampir menghanguskan tubuh Karada.
"Cih! Panas sekali Uchiha, bukan begitu Hyuga-chan" Karada menatap sosok yang kini berada dalam dekapannya. Naruto yang melihat adegan di depannya menggeram marah "Lepaskan tangan busukmu itu,"
"Tenanglah Rokudaime-sama, untuk saat ini sepertinya tunanganmu lebih memihak padaku," Sebuah kunai menempel erat pada leher Hinata.
"Jangan coba-coba," suara rendah Naruto memperingati lawan di depannya.
"Jangan melawan kalau begitu,"
Mendengar itu, Naruto mengembalikan keadaan matanya seperti biasa, begitu juga dengan Sasuke. Melihat lawannya yang kini menuruti kemauannya, Karada mengeluarkan sulurnya dan menawan tubuh Naruto dan Sasuke pada batang pohon.
"Nah, Hinata-chan lakukan tugasmu,"
Hinata yang kini memberikan tatapan kosongnya mulai berjalan melangkah mendekati Naruto dengan kunai di tangannya. Naruto menatap khawatir gadis di hadapannya. Dirinya harus melakukan sesuatu.
Hinata kini hanya berjarak setengah meter dari Naruto, "Hime," Naruto mencoba mengembalikan kesadaran gadis Indigo tersebut. Langkah Hinata terhenti ketika mendengar suara Naruto. Serasa suara tersebut menjadi mantra untuk dirinya. Tapi dirinya tak melihat pemilik suara itu. Merasa sia-sia dia mulai menggeleng-gelengkan kepalanya, mengabaikannya dan mulai melangkah mendekati Naruto lagi.
"Hinata," panggil Naruto lagi kini lebih keras ketika jarak mereka tinggal selangkah lagi. Hinata terdiam "Da..re?" bisikan lirih Hinata membuat Naruto menegang. Hinata tidak mengenali dirinya.
"Brengsek! Kau apakan Hinata?!" Naruto menggeram marah kepada Karada. Yang ditanya hanya terkekeh licik. "Tak kusangka akan semenyenangkan ini," jawaban dari Karada semakin membuat emosi Naruto bergejolak.
"Hinata!"
Oo00oO
Tempat ini gelap. Tidak ada siapapun disini. Kuseret langkahku, berjalan lebih jauh semoga saja ada jalan keluarnya.
"Hime," sebuah suara terdengar. Siapa? Kenapa aku tidak ingat apapun.
"Hinata," suara itu lagi. Hinata? Siapa itu? Namaku?
Aku harus mencari tahu. Aku ingin keluar dari sini.
"Hinata!" suara itu kini lebih keras seakan menamparku.
Sebuah kenangan tampak melayang mengelilingiku memutarnya seperti film layar lebar. "Hentikan!" sesosok anak kecil dengan kulit kecoklatan dan rambut jabrik berwarna pirang sedang berusaha menghentikan tiga anak lainnya yang sedang mengganggu anak perempuan dengan rambut indigo.
"Itu..aku?" aku berusaha menggali lebih dalam lagi. Sampai rasanya kepalaku mulai berdenyut-denyut.
"Hinata-chan! Ganbatte!" panggilan itu lagi. Kenangan tadi telah terganti, sekarang menampakkan dua orang yang sedang bertarung.
Aku menatap gadis indigo itu lagi. Iya, itu aku dengan Neji-ni san. Tapi, anak pirang itu siapa?
Seakan menjawab pertanyaanku, kini tampak dua orang yang sedang berpelukan erat di pinggir air terjun. Seorang dengan rambut Indigo, seorang lagi dengan rambut pirangnya yang kini tampak lebih dewasa.
"Aishiteru yo, Hinata," kalimat itu seakan menghantamku. Kepalaku terasa berdenyut hebat.
"Na..na..ru..to-kun?" sesak. Dadaku terasa sesak. Aku ingat sekarang, itu Naruto.
Aku harus kembali. Kulangkahkan kakiku mencari jalan keluar. Kini aku melihatnya, melihat cahaya terang itu. Aku kembali Naruto.
Oo00oO
Mata putih Hinata, kembali seperti semula. "Na..ru..to-kun?" panggilan lirih Hinata membuat Naruto sadar bahwa gadisnya telah kembali. "Hinata! Menyingkir dari sana sekarang," Naruto memperingatkan.
"Oo...rupanya sudah sadar, yah apa boleh buat harus gunakan cara kasar," Karada merapalkan segelnya "Chisi yon-dankai! Chakura-ropu" sulur-sulur cakra kini tampak mengikat tubuh Hinata.
"Hikitsugu!" tiba-tiba tubuh Hinata mengejang. Dirinya dikendalikan.
"Lepaskan dia!" teriakan Naruto tidak menyurutkan aksi Karada. Dia sudah akan melepaskan tali-tali cakra itu, andai saja jika Hinata tidak menaruh kunai di lehernya.
"Seigyou-hontai!" Hinata menurunkan kunainya mencari dada kiri Naruto. "Na..naruto-kun, aku..aku tidak bisa bergerak," Hinata terbata-bata, air matanya mulai menggenang. Dia lebih baik mati daripada harus membunuh Naruto dengan tangannya sendiri.
Naruto memperhatikan gadisnya yang kini sedang bergulat dengan tubuhnya sendiri, dia harus melakukan sesuatu. Pandangannya beralih pada Karada yang mengarahkan sulurnya kepada Hinata dari belakang seakan mengancam Naruto jika dia melakukan hal yang tidak diperlukan.
Mungkin bisa dengan cara itu. Dia melirik Sasuke. Dan sepertinya sahabatnya itu mengerti.
"Yah..ucapkan selamat tinggal pada tunanganmu tersayang Rokudaime-sama, Hakai!" Hinata mengayunkan tangannya. Matanya menatap ngeri tangannya yang bergerak tak terkendali. Dia menatap sapphire yang selalu membuatnya teduh.
Naruto menatap Hinata yakin seakan mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. "Jangan...jangan..." Hinata berusaha menghentikkan tangannya sesaat sebelum kunai itu menyentuh jounin vest Naruto.
Keringat membasahi sekujur tubuh Hinata. Dia berusaha menahan serangannya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan," dia berusaha mengendalikan tangannya.
"Ck, keras kepala!" Karada menggeram marah.
Kunai itu mulai maju secara perlahan, tangan Hinata bergetar menahannya "Ber..henti.." Kunai dalam genggamannya sudah menembus jaket Naruto dia bisa merasakan kulit Naruto dari kunainya.
Air mata sudah membanjiri wajah porselen Hinata, ia menatap Naruto "Na..na..ru..to-kun, kumohon..hen..hentikan..aku,"
"Jangan banyak bicara! Seigyou-hontai!"
"Aaaarggh!" Hinata menjerit kesakitan. Naruto menggeram marah "Karada! Kau bajingan! Jangan lukai Hinata!" Karada hanya terkekeh.
Hinata dapat merasakan kunainya mulai menembus kulit terluar Naruto. "Ja..ja..ngan!" Hinata menggeleng kuat-kuat, matanya menatap ngeri, ketika darah mulai merembesi jaket Naruto.
Naruto mengernyit sakit, tapi dia harus bertahan. Hanya ini kesempatan yang dia punya.
"Cih! Cepat lakukan," Karada menggeram marah.
"Tidakk!" Hinata berteriak ngeri ketika kunainya menembus kulit tan Naruto. Darah merembes keluar.
"Naruto-kun!" Hinata mencabut kunainya dan menubruk tubuh Naruto. Naruto mengelus pelan rambut Hinata.
"A...apa? dia lepas?" Karada tampak gugup sekarang.
Sasuke bertindak cepat, aliran listrik menyerang tali cakra yang mengikatnya dan dia terbebas. Hal yang sama dilakukan Naruto, dia mengaliri tali tersebut dengan cakra kyubi. Masih dengan darah yang merembes dari dada kirinya, dia mengulurkan tangannya pada Hinata "Ayo Hime! Kita balas perbuatannya,"
Hinata mengangguk mantap. "Juho soshiken" Kedua tangan Hinata memukul dada Karada, disusul Sakura menghantam perut Karada dengan tendangannya. Tampaknya Sasuke membebaskan gadis pink itu.
Sasuke dan Naruto menggabungkan chidori dan rasengan mereka. "Rasakan! Ini untuk Hinata dan Sakura," Naruto berteriak murka. Segala gejolak emosi yang ditahannya tadi guna untuk menyelamatkan Hinata, akhirnya bisa ia keluarkan.
"Uaaaghh!" Tubuh Karada yang kali ini tampak babak belur tepat menghantam tanah. "Kamu kira dengan begini, pacarmu akan tenang hah?" Naruto menarik baju bagian depan Karada. "Kau benar-benar rendah!"
Tanpa di duga aliran air tampak menggenang di mata coklat Karada. "Sa..sara..dia..berjanji padaku untuk kembali...ketika kami harus...ber..beda kelompok..saat perang,"
Naruto membiarkan Karada untuk duduk, "Tapi..ta..pi..yang terjadi berikutnya...kelompok Sara...tidak datang saat perang akan berkumpul...dia..dia dibunuh, tidak ada yang peduli! Kau tahu, kalian tidak peduli bahwa ada duri yang bersiap menghancurkan! Sa..sara..bermimpi hidup dalam dunia tanpa perang..tapi itu tidak pernah terwujud, karena kalian tahu kenapa? Dia dibunuh! Gara-gara kau! Andai saja kau menyerahkan dirimu tentunya tidak akan ada korban! Andai saja kau tidak ada!" Karada berteriak marah.
Plaaak!
Tamparan telak pada pipi kiri Karada. Tangan Hinata tampak bergetar. "Jangan...jangan..sekali-kali kau berani menyalahkan Naruto-kun, tanpa dia kami tidak akan bisa berjuang sejauh ini, apa dunia yang diinginkan Sara-san adalah ketika kalian semua dijadikan budak?!"
Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya, gadisnya tampak bergetar. Hinata marah.
Karada terdiam sejenak. Dia menutup mata mengingat kenangannya.
Oo00oO
"Karada-kun! Lihat! Aku juga ikut menjadi salah satu bagian dari aliansi " Sara tersenyum senang sambil menunjuk ikat kepalanya.
"Aku akan ikut! Aku ingin mengakhiri perang, hehe"
Karada memeluk gadisnya "Akankah ini berakhir?" Sara yang kini berada dalam dekapan Karada mengangguk yakin.
"Bisakah kamu berjanji untuk pulang dengan selamat?" Karada semakin mengeratkan pelukannya.
"Walaupun aku tidak bisa menepatinya, bukankah kamu akan melanjutkan cita-citaku?" Sara tersenyum.
Karada mengangguk memberi keyakinan. "Apapun itu,"
"Hiduplah dengan bahagia Karada-kun, ada ataupun tidak aku disampingmu kamu harus bahagia, "
Tubuh Karada bergetar menahan tangisnya "Aishiteru yo,"
Sara tersenyum cerah "Aishiteru mo,"
Oo00oO
"Pantai utara," bisikan lirih Karada membuat empat pasang mata memberi perhatian lebih kepada lawan mereka yang kini mulai tampak melemah. "Jika, kalian ingin mencari Hakai, dia ada di pantai utara,"
"Sakura," suara rendah Naruto memberi tanda pada Sakura. Sakura mengangguk mengerti. Cakra kehijauannya mulai berpendar menyembuhkan luka-luka pada tubuh Karada.
"Orang yang penting bagimu, harusnya kamu bisa melindunginya. Melindunginya dengan seluruh kekuatan yang kamu miliki," perkataan Naruto menghantam Karada. Dia hanya bisa menunduk, membiarkan Sakura menyembuhkan luka-lukanya.
Karada melihat Naruto menjauh bersama Hinata.
"Dia pasti mengerti perasaanmu, mulai sekarang hiduplah lebih baik. Kami akan berusaha mewujudkan dunia tanpa perang seperti yang diimpikan Sara-san," Sakura menghentikan pengobatannya dan beralih pada Sasuke yang masih menunggunya.
Karada memandang kedua orang yang pergi mengikuti Naruto. Dia tersenyum "Akhirnya aku lega," Dia pun menghilang.
"Arigatou," bisikan lirih tersebut seakan menggelitik indra pendengaran Naruto. Dia menoleh kebelakang dan tidak menemukan tubuh Karada. Naruto tersenyum "Douta,"
~TBC~
Minna...gomenasai...
Yuu updatenya lama sekali...
Ini hasil setelah bertapa berhari-hari depan laptop...
Benar-benar suatu hal yang luar biasa Karada-kun bisa dikalahkan..hehehe..
Karada itu licik, bukannya kuat...banyak yang bertanya..apa lawannya kuat sekali..
Sebenarnya tidak..dia itu licik...
Sosok ini terinspirasi dari Sasori..dan jurus pengendalian darahnya Katara...
Kombinasi aneh...
Bagi yang puas dengan chap ini...silakan reviewnya..
Bagi yang tidak puas silakan komentarnya...
Yuu kira mungkin fict ini akan berakhir di chap 10 atau lebih..bisa juga kurang..
Yuu masih kelimpungan dengan ide..hehe
Arigatou bagi minna yang udah mau meluangkan waktunya untuk membaca dan mengetik komentar untuk fict ini...
Yuu senang sekali...
Ditunggu di chap berikutnyaa...
Salam hangat,
Yuu ^_-
