A/N: gzzz-,- serius ini saya lagi galau*?* pengumuman lulus-lulusan dua jam lagiT^T saking takutnya sampe ngetik fic ini buat lupain hasil UN asdfghjkl itu DX maaf deh chap ini agak jelek… soalnya ngebuatnya sambil pecah belah pikirannya. antara galauin UN, frustasi ga bisa namatin game karena gak konsen, dan galau mikirin di SMA nanti nasibnya gimana #alahbanyakbacot

Doakan kelulusan saya, Minna! Dengan nilai yang bagus tentunya T^T huwaaaa 2 jam lagi itu ga lama aaaa! Ngeri bayangin nasib 2 jam di masa depan.


Balesan Review:

Update jangan lama-lama? Ga bisa T^T tangan saya Cuma dua. Naruto jadi seme? Iya.-. soalnya saya suka seme yang gak peka dan uke yang tsun kayak Naruto dan Sasuke. Maaf ya, ga sesuai keinginan kalian. Sasu sama Naru napak? Gak terbang? Iya, mereka jalan kayak kita manusia biasa, tapi bisa terbang juga. Sayap mereka bisa muncul atau hilang sendiri sesuai keinginan mereka. Chap 4 dipanjangin? Aduh… semoga aja ini udah panjang deh :') Siapa Sakura di sini? Dia manusia… kan udah dijelasin dari awal malah.-. Iblis sama malaikat penjaga Sakura sebelumnya siapa? Jujur saya gak kepikiran buat nentuin siapa yang jadi penjaga Sakura sebelumnya. Anggap aja character yang gak kita kenal *?*

Makasih atas review kalian :') seenggaknya saya jadi semangat lagi buat ngelanjutin fic ini dan melupakan sedikit kegalauan saya *?*

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Inspiration by: Black Butler Comic (Kuroshitsuji), budhis culture

Pairing: NaruSasu/SasuNaru

NaruSaku

Story by: Kuas tak bertinta

Warning:Supernatural fic, shou-Ai, straight, OOC, typo(s), not standard language, freak story, bad ending, etc.

Rate : T

Summary:Apa jadinya jika malaikat jatuh cinta pada iblis yang harusnya menjadi rival dan membenci manusia yang harusnya dilindungi, si iblis malah jatuh cinta pada manusia yang harusnya dibenci…


When the Angel Falls in Love with the Devil

"Hey, Sasuke! Sedang apa kau di sini? Tumben sekali kau datang ke perpustakaan pribadi keluarga Haruno ini…" sebuah suara lain yang datangnya dari ambang pintu menyadarkan Sasuke dari khayalannya tentang siapa Sakura sebenarnya.

Sasuke menolehkan kepalanya sejenak lalu mendecih sinis, decihan yang ditujukan untuk iblis sang lawan bicaranya kini.

"Hey… tidak usah sinis begitu… sudahlah, aku tahu bahwa akhirnya kau juga tertarik untuk membaca buku ini, bukan?" iblis penjaga ayah Sakura itu menunjukan sebuah buku dengan sampul bewarna kuning yang sudah sangat kita tahu bahwa buku itu be rate-M dengan bangganya. Ya, hobi khas Kakashi.

"Aku tidak semenjijikan itu, Kakashi," Sasuke memutar bola matanya bosan.

"Hahaha, berbulan-bulan kita tinggal satu rumah dan kau selalu berbicara ketus begini? Belum lagi kalimatmu sangat singkat!" Kakashi tertawa garing, merasa keadaan semakin absurd.

"Hn."

"Oh, ayolah Sasuke, kau tahu? Iruka saja yang malaikat alim sekalipun tidak seketus ini padaku… sejijik itukah kau pada kaum kami?" Kakashi tak menyerah, mencoba memancing Sasuke dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting.

"Bisakah kau berhenti, Kakashi? Kalau aku baik padamu kau mau apa?!" Sasuke menjawab semakin garang.

"Tidak… abaikan saja ucapanku yang tadi," Kakashi langsung bungkam dan segera membuka buku di tangannya, berpura-pura membaca buku itu dengan sangat serius.

Sasuke mendengus kesal lalu berniat meninggalkan ruangan pengap berhiaskan debu ini dengan segera.

"Er… Sasuke…!" Kakashi kembali berseru.

"Apa?! Tidak puaskah kau membuatku kesal terus?!" Dan bentakan terakhir Sasuke kembali membuat Kakashi ciut, dengan segera iblis itu menggelengkan kepalanya seolah jika dia berkata sedikit lagi saja nyawanya akan melayang.

Sebenarnya Kakashi melihat semuanya. Ia penasaran foto apa yang diam-diam diambil Sasuke tadi. Atau jangan-jangan… Sasuke mengambil foto itu? jadi… Sasuke sudah mengetahui semuanya? Ah tidak, tidak mungkin Sasuke mengetahui semua itu dengan cepat. Lagipula jika Sasuke mengerti maksud foto itu, ia pasti tak akan percaya begitu saja. Karena semua yang terjadi sangat tidak sesuai dengan logika yang ada. Tapi Sasuke kan jenius?

Mulai detik ini, Kakashi benar-benar berjanji akan merahasiakan semua arti dari foto itu dari Sasuke maupun Naruto. Biarkan Sasuke dan Naruto sendirilah yang mengetahui semuanya. Karena menurut Kakashi, cerita ini akan menjadi sangat menarik.

Apa mungkin ia harus memberitahu Iruka, Madara, Dan Hashirama? Ya, malaikat-malaikat dan iblis itu harus diberitahu agar mereka juga tutup mulut mengenai kebenaran foto yang ada di tangan Sasuke saat ini.

Dan dibalik maskernya, Kakashi menyeringai… seringaian khas kaum iblis yang menjadi lambang kebanggaan semua kaum iblis.

.

"Sakura-chan, kau sedang apa?" Naruto dengan beraninya bertanya pada majikannya, tidak seperti dulu. Mungkin sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan Sakura. Tidak ada lagi rasa malu yang menari dalam tubuhnya sampai wajahnya memerah hebat jika berada di dekat Sakura.

"Ini, belajar buat ulangan Matematika besok. Kenapa Naruto? Kau mau menghasutku agar tak belajar?" Sakura menyeringai, menebak maksud pertanyaan Naruto. Tentu saja tidak, kan? Naruto tidak mungkin melakukan hasutan-hasutan itu dengan sengaja pada Sakura karena dia sendiri menyukai Sakura. Kecuali saat si Teme sensian itu yang menyuruhnya. Bukannya dia ikhlas disuruh-suruh begitu dengan Sasuke, tapi dia tidak mau dibilang pengecut dan tak professional.

"Menghasut? Kau bercanda? Hahaha… Mana mungkin, Sakura-chan. Aku tidak sejahat itu," Naruto tertawa garing, membuat suasana sekitar menjadi awkward.

"Benarkah? Kupikir semua setan pasti ingin manusia yang dijaganya masuk neraka, kan? makanya dia menghasut kami para manusia agar menjadi pendosa?" Sakura menanggapi tawa Naruto dengan pertanyaan kembali. Namun ia berkata sambil tetap focus mengerjakan soal-soal latihan.

"Yah… sebenarnya sih begitu. Tapi…" 'hal itu tidak berlaku untukku kepadamu, Sakura-chan,' Naruto melanjutkan kalimatnya di dalam batin. Bisa kaget kan si Sakura kalau dia ngomong begitu secara blak-blakan? Hello, itu sama saja menyatakan cinta secara tak langsung. Dan Naruto bukanlah orang yang sebodoh itu.

"Tapi apa? Kau mau bilang kalau kau berbeda? Atau… ah aku tahu!" Sakura mengalihkan pandangannya dari buku ke arah Naruto. Pena yang tadi digenggamnya pun kini dilepaskan. Seolah dia menarik suatu kesimpulan yang akurat.

Naruto diam. Masak sih Sakura beneran bisa baca pikiran orang? Naruto membatin miris dalam hati. Oh Tuhan, kenapa Naruto harus menjadi iblisnya manusia yang bernama Sakura ini? Manusia yang benar-benar tidak jelas berapa inderanya. Jangan-jangan dia juga punya indera lebih dari enam? Dan lagi kenapa dia bisa suka sama manusia yang harusnya dia ceburin ke dalam neraka jahanamlah sekalian. Aaaa! Apa benar Sakura bisa membaca pikirannya?

"Tau apa?" Naruto berusaha berbicara se-natural mungkin. Mencoba menenangkan jantungnya yang sudah berdetak super duper kencang. Persis seperti author yang saat ini deg degan kembali inget gimana nasibnya jam setengah empat nanti.

"Aku tahu… kau… dan Sasuke bertukar peran kan selama ini? Bahkan dari awal saat kalian datang menjadi iblis dan malaikat penjagaku? Kalian sudah merencanakan ini bahkan sebelum aku terbangun di hari pertama waktu itu, kan?

Naruto sukses hilang arwah saat Sakura melontarkan argumennya. Astaga, jantungnya sudah jedak-jeduk takut kalau selama ini Sakura bisa baca pikirannya dan kembali mengerjainya seperti waktu itu. ternyata Sakura masih memiliki indera yang cukup normal. Dan hal itu membuat Naruto sedikit lega.

"Hey ayo jawab?! Iya kan? Kalian menipuku selama ini? Sial… padahal pertamanya aku yang menipu kalian dengan berpura-pura menjadi manusia normal yang tidak bisa melihat makhluk seperti kalian, eh taunya kalian juga menipuku… Hhh!" Sakura marah-marah tidak jelas. Membuat Naruto sweatdrop.

"Errr, memang apa yang membuatmu berpikiran seperti itu, Sakura-chan?" Naruto mencoba memancing Sakura.

"Hal apa? Tentu saja aku tau! Aku bukan orang bodoh. Dari awal sebenarnya aku tau kalau ada yang aneh dari kalian berdua. Sasuke tingkahnya menyebalkan seperti iblis, dan kau malah baik padaku seperti malaikat. Iya, kan? Ayo mengakulah!" Sakura masih bersikeras mempercayai argumennya.

"Hah?" Naruto cengok lagi mendengar jawaban Sakura. Bagus bagus… itu artinya Sakura bukanlah manusia yang peka. Terbukti dari argumennya yang super duper salah.

"Pft… tentu saja bukan! Memangnya aku dan Teme itu pembohong? Haha, bisa-bisanya kau berpikiran begitu…" Naruto menahan tawanya.

Sakura masih memasang wajah curiga. Melihat hal itu Naruto menghela napas sesaat.

"Begini… memang mungkin aku dan Sasuke tidak seperti para malaikat dan iblis pada umumnya. Namun… kupikir itu normal, itu karakter kami masing-masing. Seperti aku yang seperti ini, Sasuke yang tsundere akut, dan teman-teman kami lainnya. Ada yang angkuh padahal dia malaikat, ada yang lebay… ya begitulah," Naruto mencoba menjelaskan. Walau penjelasannya sedikit tidak nyambung.

Sakura terdiam sesaat lalu mengatakan oh dan kembali melanjutkan belajarnya yang tertunda. Naruto hanya bisa menatap Sakura dalam diam. Hah…

Padahal, dalam hati Sakura sudah menyeringai-nyeringai tidak jelas. Tentu saja dia tahu bahwa Naruto menyukainya. Ia juga bahkan tahu bahwa Naruto dan Sasuke tidaklah bertukar peran sejak awal. Dia bukan orang bodoh, hey. Namun dia hanya berpura-pura bodoh, dia hanya mencoba memancing Naruto. Entah Naruto yang terlalu naïf atau Sakura yang terlalu berbohongnya.

Baru beberapa detik suasana kembali damai, Sasuke si sarkastik datang memecah kedamaian. Dengn lankah angkunya, lalu dengan cueknya dia duduk di ranjang milik Sakura, tepat di sebelah Naruto.

"Teme, dari mana saja kau? Hebat sekali… betah sekali kau ngambek sampe malam begini baru kembali lagi…" Naruto menanyakan pertanyaan yang tidak penting. Dan tentu saja disambut dengan wajah bosan Sasuke.

"Sasuke… kenapa kau tadi pergi begitu saja?" Sakura memutar kursinya menghadap ke arah tempat tidur. Sasuke tetap tak bereaksi.

"Oh ayolah, Teme… kau sensian sekali! Labil seperti ibu-ibu hamil! Sebenarnya kau kenapa sih?" Naruto masih mencoba mencairkan pertahanan Sasuke.

"Ah, mungkin itu memang karakternya Sasuke, Naruto… sudahlah… tidak apa-apa kok," Sakura tersenyum.

"Hm, ya mungkin… memang karakternya sensian ya, Sakura-chan? Bahkan kesenstifannya mengalahkan kau yang bergender perempuan. Hahaha," bagus, setelah kalimat itu keluar dari mulut Naruto, Sasuke langsung mendelik.

Sasuke kesal. Sangat kesal. Kenapa? Kalian tanya kenapa dia kesal? Jawabannya mudah saja. Satu… dimulai saat Sakura ketahuan menipunya dengan berpura-pura menjadi manusia normal, dua… si hentai Kakashi mengganggunya, tiga… dia dihina oleh partnernya sendiri. Dan empat… dia cemburu… Heh?! Apa yang ke empat? Apa author salah ketik? Baiklah… Sasuke memang cemburu, kok. Ya akhirnya dia mengakui… jika Haruno itu benar-benar membawa bencana bagi kehidupannya. Dia iri. Kenapa Naruto bisa-bisanya tertawa dengan Sakura tepat di depannya? Mana menghinanya lagi… Gzzz.

"Bisakah kau berhenti tertawa, Dobe? Tawamu memuakkan!"

"Tidak bisa, Teme. Kesensianmu benar-benar menggelikan!" Naruto nyengar-nyengir menahan tawa. Dia tak ingin Sasuke kembali mengamuk karena ulahnya.

"Naruto…" Sakura memanggil Naruto dengan wajah serius. Membuat suasana garing seketika.

Sasuke memandang was was ke arah Sakura. Apa lagi sekarang? heh… jangan bilang kalau si Haruno itu ingin menyatakan cinta pada Naruto? Seperti yang di komik-komik shoujo itu… heh, dan dari mana pula Sasuke mengetahui seluk-beluk komik shoujo?

"ya, Sakura-chan? Kenapa?"

"… Tidak… tidak apa-apa, hahaha," Sakura tidak jadi bicara.

Hell, apa Haruno itu sudah sinting, sekarang? batin Sasuke ngeri. Sasuke baru tahu bahwa otak manusia yang memiliki indera lebih itu ternyata lebih freak dari yang ia bayangkan. Mana sampai tertawa tidak jelas begitu.

"Haruno. Bisa kita bicara sebentar?" Yeay! Bahkan sekarang Sasuke yang lebih sinting. Buat apa dia bicara dengan Sakura? Berdua saja lagi. Katanya dia benci Sakura? Atau… jangan-jangan dia juga lagi yang jatuh cinta sama Sakura? Perlu ubah pairing jadi SasuSaku? Hhhh…

Sakura terdiam sesaat lalu mengangguk. Naruto hanya diam melihat keduanya. Tapi Naruto benar-benar tak meletakkan rasa cemburu pada Sasuke sedikitpun. Ya… namun Naruto merasa sedikit curiga. Tak biasanya Sasuke beramah-tamah pada Sakura? Mungkin Sasuke tahu sesuatu.

.

"Akhirnya kau mau berbicara padaku, Sasuke-kun, bahkan berdua saja," Sakura membuka pembicaraan. Diiringin dengan seringaian andalannya yang entah kenapa author rasa Sakura ini yandere-nya kerasa banget.

"Hn… tidak usah sok ramah padaku," Sasuke mendengus sinis.

"Hey… sok? Kau pikir keramahanku padamu ini sok?"

"Ya, apa lagi?"

"Hah… ayolah. Kau tau, aku memang salah karena membohongi kalian berdua. Dan aku sebenarnya tahu kalau Naruto menyukaiku," hey, Sakura… kenapa kau begitu jujur di depan Sasuke?

"Lalu? Kau juga menyukainya?" dalam hati sebenarnya Sasuke berdoa agar Sakura berkata tidak.

"Tidak… karena sebenarnya. Aku tertarik padamu."

TBC or End


A/N: okesip chap ini selesai dengan sangat pendek. Mana ga diedit. Saya mau otw ke sekolah liat kelulusan saya. *bawa muka flat*

Mind to review minna?

Kuas tak bertinta