Disclaimer : Masashi Kishimoto

Insptiration: Vikings Remake, NaruSasu version

Pair: NaruSasu

Rat: T+

.

.

.

Matahari baru muncul di ufuk timur ketika seratus prajurit berkuda menyebar ke seluruh bagian pelosok Kattegat. Orang-orang yang baru akan memulai aktifitasnya, terbengong-bengong melihat kerusuhan di pagi buta itu. Di tengah-tengah para prajurit berkuda, terlihat sosok Danzo dengan berpakaian perangnya yang lengkap. Tatapannya keras dan penuh kuasa. Mulutnya tidak berhenti memberikan perintah kepada seluruh parjurit-prajuritnya, suaranya lantang dan penuh kemarahan.

"Temukan Uzumaki Naruto! Temukan dia dan berikan padaku!"

.

.

The Rare One

(Chapter 4)

.

By Midory Spring

.

.

WARNING: OOC, YAOI, TYPO, MPREG, CHARACTER DEATH

.

.

Happy Reading!

.

.

Chouji sedang tertidur di depan pondok Lee ketika suara tapak kaki memecah kesunyian. Dengan mata berair yang masih mengantuk, ia menatap ke sekelilingnya. Sekitar puluhan prajurit berperisai telah berada lima meter dari halaman pondoknya, berjalan cepat menyerbu pondok. Pemandangan itu langsung membuat kedua mata Chouji melebar, kaget. Rasa kantuknya menghilang begitu saja. Prajurit itu mengepung seluruh pondok, beberapa diantara mereka bahkan membawa busur dan berjalan pada posisi siap tidak, Chouji tidak gentar dengan puluhan prajurit itu. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun, maka ia dengan berani berjalan ke halaman dan mendatangi langsung sekelompok prajurit itu.

"Apa yang kalian inginkan?" Tanyanya sambil memasang senyum ramah yang sebenarnya enggan ia berikan.

Salah satu prajurit menyapu seluruh pondok dengan matanya sebelum melimpahkan perhatiannya kepada pria bertubuh besar itu. "Kami mencari Uzumaki Naruto."

"Naruto?" Chouji mengernyitkan dahi mendengar nama itu. "Bukannya Damyo menangkapnya?"

"Ia melarikan diri, dan kami yakin kalian pasti telah menyembunyikannya."

Chouji terpaku selama beberapa saat. Naruto melarikan diri? Berita ini sangat mengejutkannya. Tapi ia tahu ada sesuatu yang tidak beres semenjak Shikamaru dikabarkan menikah dengan Danzo.

Chouji menatap langsung mata sang prajurit tanpa ragu, suaranya lantang saat ia menjawab."Naruto tidak disini. Kami bahkan tidak tahu bahwa ia kabur dari penjara." Jelas Chouji.

Ekspresi sang prajurit menunjukkan ketidak percayaan. Tanpa mengindahkan Chouji, ia memberi kode pada rekannya dan mereka langsung menyebar, menggeledah tempat itu.

"Aku katakan padamu bahwa Naruto tidak ada disini." Chouji memasang badan saat salah satu dari prajurit akan memasuki pintu pondok. Ia tidak bisa membiarkan mereka masuk, di dalam ada banyak sekali emas yang disembunyikan, sisah hasil jarah mereka dari Barat.

"Ini perintah Damyo." Kata sang prajurit tegas. Ia kembali maju, tapi Chouji tetap menolak untuk minggir.

"Naruto benar-benar tidak ada disini." Desisnya keras kepala.

Sang prajurit mundur, lalu menoleh ke Fuu yang merupakan pemimpin dari kelompok prajurit ini. Fuu menatap Chouji sejenak kemudian ia menganggukkan kepalanya dengan santai. Berikutnya sang prajurit telah menarik pedangnya dan langsung menusuk Chouji tepat ke perutnya.

Chouji terpaku sebentar dengan bibir terbuka tanpa suara. Ia menatap pedang yang menembus perutnya dengan ekspresi luar biasa kaget. Sama sekali tidak menyangka dengan serangan yang tiba-tiba itu. Darah merembes ke pakaiannya, ia mengangkat kepalanya, tangannya gemetar dan tiba-tiba saja tangannya menjadi lemas begitu saja. Keringat dingin mengalir dari pelipis Chouji ke dagunya. Ia berusaha bernapas seraya berjalan mundur dengan perlahan menuju ke pondoknya dengan kaki gemetaran. Matanya yang memerah mangarah ke sepuluh prajurit pemanah diatas pelana kuda. Chouji meneguk ludah ketika menyadari ujung panah dari setiap pemanah itu mengarah lurus ke jantungnya. Selama beberapa detik ia tidak bergerak, membeku dalam ketakutan akan kematian. Tapi kemudian ia sadar dengan siapa dirinya.

Kematian bukanlah akhir. Kematian adalah awal dari kehidupan selanjutnya.

Ia tidak akan mati dalam ketakutan, ia akan menyambut kematiannya dengan tangan terbuka.

Tapi sebelum itu, ia tidak akan membiarkan dirinya mati sia-sia.

Sang pemimpin mengangkat tangan menahan serangan prajuritnya. Sepertinya Chouji telah menarik perhatiannya. Ia menunggu dengan kalem apa yang akan dilakukan pria bar-bar satu ini. Pemuda Kattegat memang lebih kuat dari pemuda lainnya.

Chouji, dengan keringat dan darah yang membasahi tubuhnya, membuka mulutnya, menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya. Para pemanah itu tidak bergerak, seakan-akan menunggu Chouji melakukan sesuatu. Kemudian lewat helaan napas yang kuat, dan dengan kekuatan yang tersisa ia mencengkram pergelangan tangan sang prajurit. Ia mendorong prajurit itu, urat-urat matanya memerah, tusukannya begitu dalam. Sambil berteriak keras, ia melepaskan sendiri pedang itu dari perutnya dan balik menancapkannya tepat ke mata prajurit yang menusuknya.

Bagai hujan panah, akhir dari teriakan Chouji diikuti dengan melesatnya anak-anak panah ke udara. Menusuk ke berbagai tempat termasuk dirinya. Para prajurit berperisai merengsek maju, menyerbu pondok itu. Orang-orang di dekat pondok keluar karena teriakan Chouji, beberapa diantaranya berusaha meloloskan diri ke hutan untuk menghindari panah-panah dan hujaman tombak.

Situasi benar-benar kocar-kacir. Beberapa pondok dan lahan pertanian di bakar. Orang-orang ditangkap dan dibunuh. Dalam sekejap, tempat yang awalnya sunyi itu dipenuhi dengan teriakan-teriakan yang mengerikan.

.

.

.

"Setelah kupikirkan lagi. Kurasa enam orang anak jauh lebih baik. Anak kedua harus kembar, punya rambut blonde sepertiku. Tiga orang dominan dan tiga orang submissive. Setiap pagi dua diantaranya akan pergi ke gunung mencari jamur-jamur lezat, duanya lagi pergi menangkap ikan, dan dua sisanya pergi mencari kayu."

Naruto dan Sasuke tengah menuruni jalanan tanjakan gunung. Mereka berjalan bersama menuju ke jalan setapak yang mengarah lurus ke perbatasan Kattegat. Sambil bertopang pada tongkat kayu yang dipungutnya dengan sembarangan, Naruto bercerita dengan penuh hayal tentang keluarga kecilnya dimasa depan.

"Tidakkah menurutmu itu ide bagus?" Tanyanya meminta persetujuan.

"Kau sedang menceritakan anak-anak kita atau para budak?" Balas Sasuke seraya melompati sebuah batu besar dan berpijak ke tanah yang datar. Ia berhenti di sana menatapi sekelilingnya.

"Bukan budak. Itu yang disebut dengan keluarga harmonis." Balas Naruto yang mengcopy jejak Sasuke.

Sasuke menoleh pada Naruto, satu alisnya terangkat. "Dan apa yang kau lakukan saat anak-anak kita mencari makan untuk mengisi perutmu itu?"

Sudut bibir Naruto terangkat membentuk seringai. Ia mendekatkan kepalanya ke Sasuke lalu berbisik dengan seduktif. "Bercinta denganmu." Balasnya yang langsung dihadiahi dengan desahan malas dari Sasuke.

Naruto tertawa terbahak-bahak. "Aku hanya bercanda." Katanya. Mereka keluar dari pepohonan, sampai ke bukit kosong yang langsung mengarahkannya pada langit. Tapi ada sesuatu yang ganjil disana, bukan warna biru yang menyapa mereka seperti biasa melainkan asap hitam yang hampir memenuhi seluruh langit di Kattegat.

Tawa Naruto terhenti, wajahnya berubah menjadi serius. "Apa yang terjadi?" Serunya seraya menatap kepulan asap itu dengan shock. Ia berjalan ke ujung tebing dan menatap kota Kattegat dari atas. Sasuke mengikutinya dari belakang.

Kepulan asap itu berasal dari pondok-pondok dan lahan pertanian yang terbakar, api menari-nari dengan mengerikan menjilati sepertiga kota Kattegat, semuanya adalah tempat-tempat yang sangat dikenal Naruto. Pondoknya sendiri, pondok Sasuke, pondok para sahabatnya, dan lahan-lahan pertanian penduduk yang cukup akrab dengannya.

"Mereka telah menyadari bahwa kau telah melarikan diri." Tebak Sasuke. Ekspresinya mendadak waspada. "Kita harus segera pergi sebelum mereka mencapai kemari." Sasuke berbalik dan berjalan dengan langkah lebar menjauh dari Kattegat.

Tapi setelah berjalan beberapa langkah, Naruto tidak kunjung mengikutinya.

"Naruto!"

Naruto masih menatap kota Kattegat yang terbakar. Safirnya bergetar penuh emosi. "Mereka membakar kota hanya karena diriku."

"Naruto, kita tidak punya banyak waktu." Tegur Sasuke.

"Mereka akan membunuh orang-orang hanya karena aku."

"Itu konsekuensinya! Dan itu bukan urusan kita lagi! Ayo kita pergi!"

Naruto akhirnya menoleh pada Sasuke. Pandangannya keras. "Aku tidak bisa meninggalkan teman-temanku." Sahutnya dengan nada tegas. "Aku akan kembali."

Dan tanpa mengatakan apap-apa lagi, Naruto berlari kembali ke kota. Sasuke yang panik langsung mengejarnya, menahan pemuda blonde itu. "Dia akan membunuhmu jika kau kesana." Kata Sasuke.

Naruto tidak mendengarkannya, ia berjalan melewati Sasuke. Semakin lama, langkahnya semakin cepat. Sasuke tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Ia tahu Naruto tidak akan mendengarkannya. Mereka berlari menuruni bukit. Sasuke menarik pedangnya keluar saat mereka sampai kembali di pinggir kota dimana api membakar habis seluruh lahan. Tempat itu bahkan masih penuh dengan prajurit. Naruto menyambar kapak yang masih menancap di pohon, langsung melemparkannya ke kepala seorang prajurit yang sedang memegang obor berniat membakar pondok.

Kapak itu menancap tepat di hidung sang prajurit dan dalam sedetik seluruh orang menyadari keberadaan Naruto.

"Itu dia!" Salah satu prajurit berteriak. "Tangkap dia!"

Api mulai melahap pondok kayu, ketika seluruh prajurit berjalan satu persatu menyerang Naruto dan Sasuke. Dengan saling menjaga punggung masing-masing, Naruto dan Sasuke berhambur masuk ke dalam lautan prajurit, melawan balik dengan membabi buta. Naruto menyambar perisai yang tergeletak ditanah menggunakannya untuk menahan terjangan panah, dan Sasuke menusuk satu prajurit tepat didadanya yang baru akan menyerang sisi kiri Naruto. Udara begitu panas dan berbau amis karena darah. Prajurit terus berdatangan dari berbagai arah. Naruto telah merampas salah satu pedang prajurit dan menyerang, membunuh setiap prajurit yang mendatanginya dengan Sasuke yang juga melakukan hal yang sama tidak jauh darinya.

Suasana menjadi semakin rusuh, dan kemudian suara tangisan terdengar dari balik kobaran api. Sasuke membeku, ia menoleh menatap pondok yang terbakar, suara itu berasal dari sana.

"Ada seseorang." Ia memberitahu Naruto saat mereka pada posisi bertahan dengan bahu saling menempel.

"Pergi dan selamatkan dia." Balas Naruto seraya mengayunkan pedangnya pada salah satu prajurit yang hampir menyabet lengan kanan Sasuke. "Ada perahu di dekat sungai sebelah kirimu, gunakan itu dan pergilah ke tempat Sora."

"Tapi bagaimana denganmu?"

"Aku akan menyusulmu."

Sasuke tidak yakin Naruto akan menyusulnya. Tapi api yang membakar pondok semakin besar dan dia tidak punya pilihan lain selain mempercaya pemuda blonde itu.

"Berjanjilah kau akan menyusulku." Kata Sasuke.

"Ya, aku berjanji." Balas Naruto dengan penuh keyakinan.

Sasuke mengangguk lalu menendang prajurit yang menghalangi langkahnya. Ia menunduk menghindari anak panah lalu bangkit dan melempar pedangnya sendiri ke arah si pemanah. Berikutnya ia telah melompat dan menabrakkan punggungnya ke pintu depan pondok. Ia melirik sedetik ke Naruto yang masih kokoh di tempatnya, menyerang dengan luar biasa cepat. Ia kemudian menahan napas dan masuk ke dalam pondok.

Tangisan itu begitu keras dan melengking, seperti tangisan anak-anak. Api telah melahap setengah dari isi pondok, hawanya panas sekali. Sasuke mulai khawatir ia tidak akan bisa menyelamatkan anak itu tepat waktu. Tapi saat ia menghambur masuk ke dalam kamar, seorang bocah dengan pakaian tidur tengah menangis di sudut kamar.

Sasuke menghela nafas lega lalu mendatanginya.

"Tenang aku akan menyelamatkanmu." Ia memberitahu anak itu. Bocah itu tidak lebih dari enam tahun, saat matanya yang berair menemukan Sasuke, ia langsung berhenti menangis dan dengan patuh melingkarkan tangannya ke leher Sasuke.

Sasuke menggendongnya dan berjalan ke pintu belakang. Ia melindungi kepala bocah itu dengan tangannya menembus api. Sasuke tidak sempat melihat bagaimana keadaan Naruto. ia telah berlari keluar rumah lalu berjalan memasuki pepohonan menuju sungai. Seperti yang dikatakan Naruto, ada satu perahu yang tertambat dipinggir sungai. Sasuke menurunkan sang bocah diatas perahu, lalu menoleh ke tempat Naruto. Haruskah ia pergi?

Pepohonan terlihat kosong, yang terdengar hanyalah teriakan-teriakan dari kejauhan. Sasuke menoleh menatap bocah itu lagi. Bocah itu berambut blonde panjang sampai sepundak dan matanya berwarna hijau dengan bulu mata lentik yang sewarna dengan rambutnya. Ia seorang submissive.

"Siapa namamu?" Tanya Sasuke.

Bocah itu dengan bibir pucat yang gemetar menjawab. "I-inojin." Katanya. "Kakak, a-apa kita akan mati?"

Sasuke memerhatikan air mata yang masih menetes turun dengan perlahan dari pipi sang bocah. Ia kemudian menarik napas berat dan menggeleng. "Tidak, kita tidak akan mati." Jawabnya dengan menenangkan. Sasuke lalu mulai melepaskan ikatan perahunya dan mendorongnya ke tengah.

Kau harus menyusulku Naruto.

.

.

.

Naruto tidak berhenti melemparkan tatapannya ke arah pondok. Bertanya-tanya apakah Sasuke telah keluar dari sana dengan selamat? Naruto percaya Sasuke pasti sudah keluar dari sana. Ia pasti telah menunggunya sekarang. Naruto sangat tahu, Sasuke adalah pria yang sangat kuat. Tapi masalahnya, prajurit terus bermunculan tidak ada habisnya. Mereka pasti telah mengirimkan orang untuk memberitahu yang lain bahwa Naruto berada disini.

Naruto mengayunkan kapaknya dengan cepat, menyerang dan menangkis dengan bar-bar. Ia menghindari serangan prajurit pertama lalu menancapak kapaknya ke punggungnya, kemudian dia menendang prajurit kedua yang hampir menyabet dadanya, lalu menarik kembali kapaknya dari punggung si prajurit pertama lalu memukulkannya tepat ke wajah prajurit ke tiga, sayangnya ia tidak cukup cepat menghalau prajurit keempat. Prajurit itu mengiris pahanya, Naruto sedikit terseok tapi Berhasil menghindari terjangan prajurit berikutnya. Ia mengarahkan kapaknya ke wajah prajurit dan kemudian sebuah panah tiba-tiba menusuk dadanya.

Naruto terjatuh ke lututnya dengan napas memburu. Mereka banyak sekali. Ia menyambar panah itu lalu mematahkannya. Seketika ia merasakan tangan kirinya lumpuh, tapi ia berhasil menancapkan kapaknya ke leher prajurit ke enam yang hampir menyerangnya dari belakang. Naruto menatap sekelilingnya, para prajurit sekarang telah mengambil jarak darinya. Mereka membentuk barisan melingkar dengan Naruto di tengah-tengah.

"Uzumaki Naruto." Suara tidak asing terdengar dari balik barisan. Danzo muncul, menatap Naruto yang telah terpojok dengan penuh kemenangan.

Pria yang menyandang status Damyo itu melangkah lalu berhenti di depan Naruto yang berlutut dengan napas memburu. Tubuhnya telah dipenuhi dengan luka tusukan. Danzo berjalan kehadapan Naruto, berhenti tepat di depan pemuda blonde itu. Ia menatap Naruto dengan ekspresi angkuh.

"Tidak ada gunanya kau melawan." Katanya penuh kuasa.

Naruto memegangi tangan kirinya yang lemas. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Paru-parunya bekerja ekstra keras untuk mendapatkan oksigen. Ia menatap prajurit yang berkumpul di belakang Danzo. Ada satu, dua, tiga, masih ada puluhan. Naruto mendengus, ia kemudian melemparkan kapaknya ke kaki Danzo, tanda menyerah.

"Apa sekarang kau mengaku bersalah?" Danzo menundukkan kepalanya sambil menatap Naruto.

Naruto terlihat sempoyongan, suaranya terdengar parau saat ia menjawab. "Aku bersalah, tuan."

Danzo tersenyum, "Kau siap mati untuk menebus kesalahanmu itu?"

Naruto tidak langsung menjawab, ia masih menundukkan wajahnya. tapi kemudian dia bergumam dengan suara yang sangat kecil.

Danzo tidak bisa mendengarnya, ia membungkukkan kepalanya. "Katakan lagi." Perintahnya.

Naruto akhirnya mengangkat kepalanya, seringai muncul diwajahnya dan mata safirnya berkilat. Itu bukan ekspresi kekalahan. "Aku bilang tidak." Kata Naruto, dan sebelum Danzo sempat bereaksi Naruto telah mengambil kembali kapaknya, lalu bangkit dengan gesit. Ia menendang tepat ke dada Danzo dan dan melempar kapaknya ke prajurit yang sedang duduk diatas pelana kudanya.

Prajurit di atas pelana terjatuh, dan Naruto berlari menuju sang kuda, menarik pedang Sasuke yang menancap di mayat salah satu prajurit yang tergeletak, lalu melompat naik ke kuda tanpa berhenti sedetikpun. Berikutnya, kudanya telah berlari meninggkan tempat itu. Danzo menggeram marah.

"Kejar dia!" Perintahnya. Semua prajurit bergegas, menghambur mengejar Naruto. Beberapa diantaranya langsung menaiki kudanya dan menyusul Naruto.

.

.

.

Sasuke terus menatap ke belakang, Naruto masih belum muncul juga. Ia mengepalkan tangannya dengan khawatir, apa sebaiknya dia kembali saja. Perahu makin lama makin jauh dari daratan dan asap membumbung di atas langit. Inojin hanya diam membisu, sudah sedikit lebih tenang tapi masih gemetaran karena kejadian mengerikan yang baru saja terjadi.

Kemudian Sasuke mendengar suara dengisan kuda. Ia mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat seekor kuda putih yang mengamuk dengan kedua kaki depannya terangkat. Sasuke bangkit seraya menyipitkan matanya untuk memandang lebih jelas. Seseorang yang berada diatas pelana itu turun dari kuda, ia berjalan ke ujung tebing, dan saat melihat rambut blondenya berkibar Sasuke sadar bahwa itu adalah Naruto.

"Itu dia!" Sahut Sasuke dengan perasaan lega. Ia menatap Naruto, tapi pria itu terlihat berdiri dengan sempoyongan dan kemudian bersamaan dengan suara menahan napas Inojin, Naruto menjatuhkan dirinya dari atas tebing. Sasuke sama sekali tidak bisa membedakan, apa ia menjatuhkan dirinya dengan sengaja atau ia terjatuh karena hilang kesadaran. Tapi ketika tubuh Naruto jatuh dari atas tebing setinggi seratus meter dan saat tubuhnya menghantam air dengan suara byurr keras, Sasuke tidak melihat pergerakan sedikitpun.

Air seperti menenggelamkan tubuh Naruto, tidak ada cipratan lain atau gelombang apapun juga.

"Apa dia mati?" Tanya Inojin yang juga sedang menatap Naruto dengan ketakutan.

Sasuke menggeleng, ia kemudian melompat dari perahu dan berenang menuju Naruto.

Naruto pingsan, saat Sasuke berhasil meraihnya. Sasuke melingkarkan tangannya ke punggung Naruto, menariknya ke perahu. Inojin mengulurkan tangannya yang kecil untuk membantu Sasuke mengangkat tubuh Naruto ke atas perahu.

"Ia masih bernapas!" Inojin memberitahu Sasuke.

Naruto memang masih bernapas, tapi ia terlihat sangat lemah. Sasuke menyobek pakaiannya sendiri dan menekan kain itu ke dada Naruto dimana terdapat luka tusukan. "Tahan." Ia menyuruh Inojin. Inojin mengikuti perintah Sasuke dan pemuda raven itu langsung menyambar dayung dan mulai mendayung perahu dengan cepat.

Mereka harus sampai sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.

.

.

.

Kankuro terduduk di dalam sel tahanan dalam kesunyian. Kazuma dan Lee juga berada disisinya. Bersandar ke tembok yang dingin sambil menempelkan wajahnya ke sel untuk mengintip apa yang terjadi di luar sana.

"Apa kau pikir mereka akan membunuh kita?" Lee bertanya.

Kankuro mengangkat bahu.

"Jika mereka benar-benar membunuh kita, aku harap mereka melakukannya tanpa mengikat tanganku. Aku setidaknya ingin membunuh salah satu dari mereka sebagai balasan atas kematian Chouji." Sahut Lee.

"Aku tidak boleh mati, Sora membutuhkanku." Sahut Kazuma. Dia adalah yang paling pucat diantara kedua sahabatnya.

Lee dan Kankuro terdiam. Sora, submissive Kazuma, sedang mengandung sekarang, dan sebentar lagi ia akan melahirkan. Itu berarti Kazuma akan menjadi seorang ayah. Sungguh tidak adil jika ia terbunuh di saat-saat penting seperti ini. Kankuro mengerang, habis kesabaran, ia berjalan ke pintu sel dan meraba gembok besar yang menguncinya.

"Hei apa kalian membawa sesuatu yang kecil seperti jarum atau peniti?" Tanyanya.

Lee menggeleng, tapi Kazuma langsung meraba lehernya dan melepaskan kalungnya. "Yang seperti ini?"

Sebuah kalung yang penuh dengan peniti diberikan Kazuma ke tangan Kankuro.

"Kenapa kau membawa peniti sebanyak itu?" Lee bertanya heran.

"Sora marah padaku karena terus minum-minum, ia menolak menjahitkan celanaku. Jadi aku harus sedia peniti jika robekan celanaku semakin parah."

Mendengar ini, Lee tertawa terbahak-bahak. "Apa-apaan itu, kenapa setelah menikah hidupmu melarat sekali?"

"Diam! Ini juga salah damyo yang menyita semua emasku sebelum aku bisa memamerkannya pada Sora!"

"Tapi sungguh! Apa hidupmu semerana itu setelah menikah?"

"Bisa kalian diam? Kalian mengganggu konsentrasiku." Tegur Kankuro. Tangannya masih kesulitan memasukkan peniti ke dalam lubang kunci gembok.

Lee dan Kazuma langsung menutup mulutnya. Sementara Kankuro masih bergelut bersama lubang kunci, ia memasukkan peniti itu ke dalam lubang dan mulai memutar-mutarnya dengan sembarangan.

Lee menempelkan kepalanya ke sel berusaha melihat apa yang sedang dilakukan Kankuro. "Apa peniti itu bisa membuka gembok?" Tanyanya.

"Aku pernah melihat Shikamaru melakukan ini." Jawab Kankuro.

Ekspresi Lee langsung berubah menjadi berang saat nama Shikamaru disebutkan. Ia berdecih dengan kesal."Cih, Shikamaru, kira-kira dimana pengkhianat itu? Jangan-jangan sekarang dia sedang berada di ranjang Danzo menikmati emas-emas kita."

"Sayangnya, aku tidak disana Lee." Seseorang tiba-tiba menyahut. Sontak ketiga sel tahanan itu mematung. Semuanya menatap ke satu tempat di depan sel dimana seorang pemuda tengah berdiri, menatap balik ke arah mereka dengan sebuah seringai.

"Shikamaru!" Kankuro berseru dengan mata melebar tak percaya.

"Apa yang kau lakukan disini brengsek!" Lee mengumpat, menatap Shikamaru dengan penuh kebencian. "Apa kau datang kemari untuk menertawai kami?"

Shikamaru berdecak, "Merepotkan." Gumamnya. "Kau pikir aku datang susah-susah kemari hanya untuk menertawai kalian?"

"Lalu apa yang kau inginkan?" Kankuro berkata pelan. Tatapannya menatap Shikamaru dengan penuh perhitungan.

Shikamaru mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya. Sebuah kunci.

Kazuma menahan napas, dengan mata penuh harap ia mendekat ke Shikamaru yang berdiri tepat di depan sel. "Kau datang untuk membebaskan kami?" Tanyanya.

Shikamaru tidak mengatakan apapun, tapi ia berjalan mendekati pintu sel dan memasukkan kunci itu ke dalam gembok. Dengan bunyi klik pelan gembok terbuka.

"Apa yang kau rencakan?" Tanya Kankuro dengan alis berkerut. Matanya masih mengawasi Shikamaru saat pemuda itu membuka pintu sel.

"Rencana?" Dengus Shikamaru. "Kau tidak perlu tahu. Lebih baik kalian pergi sebelum para pengawal kembali."

"Ide bagus!" Seru Kazuma yang langsung menerjang keluar sel. "Terima kasih Shikamaru."

"Tunggu," Lee menahan pundak Kazuma. Ia menatap Shikamaru curiga. "Kau tidak menjebak kami kan?"

Shikamaru menatap balik Lee, tepat ke matanya dengan berani. "Tentu saja tidak."

"Lalu kenapa kau melakukan ini?"

"Karena aku sadar ini semua adalah kesalahanku. Dan walau kalian sekarang membenciku, aku tetap menganggap kalian sebagai sahabatku."

Semuanya terdiam. Ke tiga dominan itu tahu, bahwa Shikamaru berkata dengan tulus. Walau pakaian mewah Shikamaru membuat penampilannya jadi sangat berbeda, tapi mereka bisa melihat sosok sahabatnya yang dulu di balik itu semua.

"Pergilah, aku tidak bisa membantu kalian lagi jika prajurit kembali." Perintah Shikamaru. Ia menarik Kankuro untuk segera keluar dari sel.

Tapi Kankuro menarik balik tangan Shikamaru, dan menatap matanya dengan khawatir. "Lalu bagaimana denganmu?" Tanyanya.

"Tenang saja aku punya rencana." Balas Shikamaru.

"Apa rencanamu?"

Shikamaru menatap Kankuro sejenak. Suaranya agak kecil saat ia menjawab pertanyaan pemuda itu, seakan ia tidak suka mengatakannya kepada Kankuro. "Rencanaku… aku akan menggunakan kekuasaanku sebagai seorang omega. Aku akan menurunkan Danzo dari tahtanya"

Kankuro menggeleng, "Dan kau pikir Danzo akan membiarkanmu? Dia licik dan haus akan kekuasaan, dia tidak akan membiarkan itu terjadi."

Shikamaru tersenyum pahit. "Tapi tetap layak untuk dicobakan? Aku sudah melakukan kesalahan besar. Jadi setidaknya biarkan aku memperbaikinya."

"Tapi ini bukan hanya kesalahanmu, ini juga kesalahan Naruto!"

"Kita harus segera pergi!" Kazuma yang sudah berdiri di muka pintu ruang bawah tanah, berteriak pada Kankuro dengan tidak sabaran. Dari kejauhan ia bisa melihat lentera Damyo berkibar-kibar. "Danzo sudah kembali!" Sahutnya panik.

"Benar, biarkan Shikamaru yang mengurus segalanya." Timpal Lee, ia memegangi pundak Kankuro.

"Ikutlah denganku Shika." Kankuro memohon. Ia mencoba memegang tangan Shikamaru, tapi submissive itu menghentakkan tangannya dengan kuat.

"Aku sudah menikah Kankuro." Balas Shikamaru tajam.

Kankuro tertegun. Kata-kata Shikamaru seperti menusuknya tepat di jantungnya. Tatapan tajam Shikamaru membuatnya sadar. Sadar bahwa pemuda itu selama ini telah mengetahui bahwa Kankuro menyukainya. Shikamaru tahu bahwa Kankuro memendam perasaan cinta padanya. Tapi kenapa? Kenapa dia pura-pura tidak sadar. Kenapa dia bersikap seakan-akan tidak tahu.

Emosi bergejolak di dada Kankuro. Ia menatap Shikamaru nyalang. Hanya ada satu orang yang bisa disalahkan karena sikap Shikamaru ini. Semuanya salah Naruto.

"Kenapa kau tidak mau ikut! Apa karena aku bukan Naruto!" Kankuro tidak sadar bahwa dirinya sedang berteriak.

Tapi Shikamaru telah mengacuhkannya, ia menoleh pada Lee. "Bawa dia pergi. kalian tidak akan selamat jika Danzo sampai menemukan kalian."

Lee mengangguk "Kita harus pergi!" Ia memaksa seraya menyeret Kankuro yang awalnya masih keukeuh ingin tinggal. Tapi melihat tatapan dingin Shikamaru, Kankuro akhirnya menyerah juga. Ia melangkahkan kakinya dengan enggan lalu pergi bersama Lee meninggalkan Shikamaru.

"Ayo cepat!" Seru Kazuma, ketika melihat kedua temannya berlari ke arahnya.

Ketiga pemuda itu keluar dari ruang bawah tanah, dan langsung berbelok lewat pintu belakang. Danzo telah sampai di halaman rumahnya bersama puluhan prajuritnya yang tersisa. Kazuma mengendap-ngendap paling depan, memanjat tanpa suara menaiki tembok pembatas kediaman damyo lalu mengulurkan tangan untuk membantu sahabatnya.

"Ayo Kankuro!" Kazuma mengulurkan tangan pada Kankuro. Tapi pemuda itu hanya diam.

"Kankuro!" Panggil Kazuma lagi.

Kankuro seperti sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia mengepalkan tangannya, kemudian mengangguk seakan-akan telah mencapai pada kesimpulan dari pergelutan batinnya sendiri.

"Kalian pergilah." Pesannya, lalu tanpa menoleh langsung berbalik dan kembali ke tempat tadi.

"Gila dia!" Sahut Lee. Ia turun dari atas tembok dan mengejar Kankuro.

"Sialan! Kenapa sih tidak ada yang memikirkan posisiku!" Umpat Kazuma berang. Dia yang ingin sekali kembali ke rumahnya, akhirnya memilih turun dan mengejar kembali kedua sahabatnya.

Kankuro dan Lee berdiri di balik tembok, mengintip ke halaman utama yang langsung berhadapan dengan ruang bawah tanah. Kazuma berdiri tepat di samping mereka.

"Apa yang ter—" Ia baru akan bertanya, tapi Lee menempelkan telunjuknya ke bibir menyuruhnya diam.

Kazuma menjulurkan kepalanya dan langsung tahu kenapa Lee menyuruhnya diam. Danzo berdiri di halaman bersama pasukan bayarannya. Disana Shikamaru berdiri menghadap Danzo, membelakangi Kankuro dan yang lainnya. Mereka tidak tahu apa yang sedang kedua orang itu bicarakan. Tapi kemudian mereka melihat senyuman licik Danzo merekah di wajahnya. Pria tua itu berjalan mendekati Shikamaru, kemudian dengan lembut memeluk submissivenya itu.

Kankuro mengepalkan tangannya saat satu tangan Danzo merengkuh Shikamaru, dan kemudian bibir Danzo bergerak. Untuk pertama kalinya mereka bisa mendengar apa yang diucapkan sang Alpha kepada Omeganya.

"Aku tidak butuh seorang submissive yang tidak bisa setia padaku." Katanya dingin. Danzo kemudian mengeluarkan pedangnnya lalu menusuk Shikamaru tepat ke jantungnya, pedangnya langsung menembus ke punggung tubuh pemuda jenius itu.

Lee mencengkram bahu Kankuro dengan kuat, menahan tubuh sahabatnya yang tiba-tiba mengejang hebat. Kankuro tidak bisa mempercayai matanya. Otaknya bekerja lebih lambat untuk mencerna apa yang dilihatnya.

Danzo menarik pedangnya dari tubuh Shikmaru. Ia menatap wajah submissivenya untuk yang terakhir kali. Ia tersenyum dingin, kemudian berbalik dan membiarkan tubuh Shikamaru jatuh ke tanah.

.

.

.

Sasuke duduk di dekat tubuh Naruto yang kini terbaring tidak sadarkan diri. Kain basah ia gunakan untuk melap keringat di kening pemuda blonde itu. Wajah Naruto sudah tidak sepucat sebelumnya. ia kelihatannya sudah lebih mendingan. Sasuke terus berada disisi Naruto, menunggu pemuda itu sadar. Makanan yang diberikan Sora untuknya masih belum disentuhnya hingga sekarang. Ia terus mengkhawatirkan Naruto hingga napsu makannya hilang entah kemana.

Sasuke menarik napas berat. Naruto akan baik-baik saja, ia menyakinkan dirinya. lukanya sudah dijahit dan demamnya sudah turun. Naruto hanya butuh istirahat. Sasuke akhirnya beranjak keluar kamar. Ia berada di rumah Sora sekarang. Rumah Sora terletak cukup jauh dari pusat Kattegat, posisinya tepat di perbatasan pulau Skandinavia.

Sasuke berdiri di muka pintu, Inojin sedang duduk di depan perapian bersama Sora. Mereka sedang asyik bercerita sambil meneguk teh hangat. Saat Sasuke ikut bergabung bersama mereka, Sora menuangkan segelas teh lagi untuk Sasuke.

"Bagaimana keadaan Naruto?" Tanya Sora.

"Sudah lebih baik." Kata Sasuke. "Bagaimana kabarmu?" Ia bertanya pada Inojin yang kini sudah berganti pakaian dan terlihat lebih bersih. Sora membantunya mengikat rambutnya.

Inojin hanya tersenyum sedih. Sasuke tahu tidak ada yang baik-baik saja disini. Inojin kehilangan orang tuanya dan Sora masih menunggu kepulangan Kazuma yang tidak pasti.

Sasuke mengelus kepala Inojin lembut.

"Tidak apa-apa, kau punya aku sekarang." Katanya.

Senyuman Inojin menjadi sedikit lebih ceria. "Terima kasih karena sudah menyelamatkanku." Gumam bocah kecil itu pelan. Ia menundukkan kepalanya sambil menatap teh hijaunya yang berada dalam genggamannya.

Sasuke menatap bocah itu sejenak. Dia benar-benar anak yang tegar. "Jangan mengatakan terima kasih padaku." Katanya. ia meneguk teh hijaunya, langsung merasa sedikit lebih baik saat cairan panas itu menghangatkan tenggorokannya.

"Lebih baik kita tidur." Kata Sora. Ia menepuk sisinya yang kosong pada Inojin. Bocah submissive itu mengangguk lalu tidur didalam pelukan Sora. Saat matanya tanpa sengaja bertemu pandang pada Sasuke, bocah itu tersenyum sekilas.

"Boleh ku sentuh perutmu?" Kata Inojin pada Sora.

"Ya, tentu saja." Sora berkata.

Inojin menyentuh perut Sora yang buncit dengan lembut. Ia tersenyum lembut. "Kau sudah memberinya nama?"

"Belum. kau punya saran yang bagus?"

Sasuke mengawasi kedua submissive itu yang masih mengobrol sambil berbaring. Sasuke tahu ini akan menjadi malam yang panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke tiang sambil menatap perapian. Malam ini ia tidak akan tidur. Ia akan memastikan mereka tidak mendapatkan serangan pada malam hari. Walau tempat ini adalah tempat yang paling aman dari jangkauan Danzo tapi ia tidak bisa lengah. Ada submissive hamil, bocah kecil, dan pria terluka bersamanya.

Beberapa menit kemudian Inojin dan Sora telah berhenti bercerita. Mereka telah tertidur lelap sambil berpelukan. Sasuke tinggal satu-satunya orang yang masih terjaga. Ia meneguk teh hijaunya dan terus menambah kayu bakar agar perapian tidak mati. Terkadang berjalan mondar-mandir ke kamar Naruto untuk memastikan keadaan pemuda itu.

Sasuke keluar dari pondok Sora untuk menyegarkan tubuh saat subuh hampir datang. Ia berjongkok di tepi sungai sambil membasuh wajahnya dengan air dingin. Semuanya begitu tenang. Suara burung hantu telah menghilang sepenuhnya. Sasuke mendongak saat melihat matahari mengintip dari ujung timur. Saat pandangannya menyapu sekitar, disaat itulah Sasuke menyadari bahwa ada perahu yang bergerak pasti menuju ke tempatnya.

Sasuke menarik pedangnya dan menyipitkan mata untuk melihat siapa gerangan orang yang berada di atas perahu itu. Perahu itu terlalu kecil untuk menampung belasan prajurit Danzo, dan Danzo tidak mungkin mengirimkan prajuritnya hanya dengan satu perahu.

Perahu semakin lama semakin mendekat, Sasuke bisa melihat bahwa ada dua orang tengah duduk diatas perahu. Saat akhirnya perahu melewati bagian dimana ada cahaya, Sasuke langsung menurunkan kewaspadaannya.

Itu Kazuma dan Lee.

"Sudah kuduga itu pasti kau." Sapa Kazuma saat perahu merapat.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke seraya memasukkan kembali pedang ke sabuk pengamannya.

"Kami melarikan diri." Jelas Lee yang tampak kacau.

Sasuke menghadiahinya sebuah kerlingan ingin tahu, tapi Kazuma cepat-cepat menggeleng. "Kita bicara di dalam saja."

Mereka berjalan memasuki pondok. Sora yang sudah bangun langsung melompat memeluk Kazuma begitu melihat dominannya pulang dalam keadaan utuh.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Kazuma.

Sora mengangguk dan tersenyum penuh kelegaan. "Akan ku buatkan teh panas untuk kalian." Katanya lalu pergi mengambil teko tehnya.

"Siapa bocah ini?" Tanya Lee begitu melihat Inojin yang sedang mengucek-ngucek matanya masih mengantuk.

"Inojin. Kami menemukannya saat berkelahi dengan prajurit Danzo."

"Kami?" Alis Kazuma terangkat.

"Aku dan Naruto."

"Naruto disini?"

Sasuke mengangguk. "Ya, dia terluka cukup parah." Katanya sambil mengedikkan bahu ke arah kamar.

Lee sedikit tersenyum pada Sora yang menawarinya secangkir teh panas. Tapi saat ia telah menundukkan tubuhnya di kursi ia menghela napas berat "Danzo sudah keterlaluan." Komentarnya sambil mengingat apa yang baru saja terjadi.

"Dia menyerbu rumahku, membakar seluruh lahan, pondok apapun yang bisa ia bakar. Dia membunuh Chouji dan menangkap kami."

"Dan mengambil semua emas kita." Timpal Kazuma. "Itulah kenapa dia bisa membeli banyak sekali pasukan. Dia menggunakan emas hasil jerih payah kita untuk menghabisi kita semua. Tidak ada dominan di Kattegat yang tertarik untuk menjadi pengikutnya meskipun dia seorang alpha sekalipun."

Inojin yang terlihat ketakutan, bergeser ke dekat Sasuke. Sasuke menatapnya, mengelus rambut ekor kudanya perlahan. Ini pembicaraan yang terlalu mengerikan untuk bocah berumur enam tahun.

"Pergilah bermain." Perintah Sasuke. Dan bocah itu langsung pergi ke luar pondok.

Kesunyian yang berat sempat menyapa selama beberapa saat. Kemudian Kazuma menoleh pada Sasuke. "Bagaimana keadaan Naruto?"

Sasuke memangangkat bahu. Naruto masih belum sadar hingga sekarang. Ia tidak yakin apakah Naruto baik-baik saja. "Ia akan baik-baik saja." Katanya.

Kazuma kemudian menggeram, letih dengan semua kekacauan yang terjadi. Ia melihat Sora lalu tersenyum padanya. "Danzo tidak akan tahu bahwa kita disini." Katanya. "kurasa tempat yang paling aman sekarang adalah rumahku."

"Dimana Kankuro?"

Suara serak tiba-tiba menyahut. Semua orang menoleh dan menemukan Naruto tengah bersandar lemah di dekat pintu. Sasuke langsung berdiri dengan khawatir, tapi Naruto mengangkat tangannya dan menyuruhnya untuk kembali duduk. Dengan nafas berat dan kernyitan menahan sakit, Naruto berjalan perlahan dan duduk disamping Sasuke. Ia menatap sahabatnya satu persatu.

"Aku tidak melihat Kankuro." Katanya lagi.

Lee dan Kazuma saling tatap. Ekspresi mereka muram, seakan-akan tidak ingin membicarakan masalah ini.

"Ia ingin sendirian." Lee akhirnya menyahut. "Dia begitu terguncang atas kematian…" Lee menggantung kalimat sejenak, ia mengerling Naruto dengan khawatir. "Kematian Shikamaru."

Ruangan mendadak menjadi dua kali lebih suram dari biasanya.

"Danzo membunuh Shikamaru karena membantu kami melarikan diri." Sambung Kazuma. "Ia membunuh Chouji lalu Shikamaru, submissivenya sendiri."

Sora menahan napas, ia menatap dominannya dengan tidak percaya. Sasuke hanya menatap Naruto tanpa mengatakan apapun. Lewat pantulan cahaya yang redup, Sasuke bisa melihat keterkejutan sekaligus kemarahan di mata safir pemuda blonde itu. Rahangnya mengeras dan mendadak ia bangkit dan membanting gelasnya dengan penuh emosi.

"Brengsek!" Teriak Naruto.

Sora sedikit tersentak, Lee menggeleng dengan frustasi, dan Kazuma hanya menundukkan kepalanya. Dan Sasuke masih tetap diam mengawasi Naruto.

Naruto mengambil napas dengan tersengal-sengal. Kemarahan naik hingga keubun-ubunnya tangannya mengepal erat.

"Aku tidak akan membiarkannya melakukan lebih dari ini." Naruto berkata sambil menahan geramannya. Emosdinya begitu meluap-luap. Ia berjalan keluar untuk menenangkan diri. Sepertinya kemarahannya telah membuatnya lupa bahwa ia sedang sakit. Ia berdiri di muka pintu menghirup udara segar dalam-dalam.

Sasuke meletakkan gelasnya dan beranjak mendatangi Naruto. Ia berdiri disamping pemuda itu. Mata onyx menatapnya lekat. "Apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya.

Naruto hanya melirik Sasuke sekilas. Lalu membuang pandangannya kembali. Ia tampak gundah dan kesal di saat yang sama. Dilain pihak ia juga terlihat tidak ingin menatap mata Sasuke. Naruto melambai pada Lee, menyuruh sahabatnya itu untuk mendekat padanya.

Tanpa memandang Sasuke, Naruto berbisik tepat di telinga Lee. Suaranya cukup keras untuk ditangkap oleh si pemuda raven. "Aku punya permintaan untukmu. Aku ingin kau ke Kattegat, temui Danzo dan katakan padanya bahwa aku Uzumaki Naruto menantangnya bertarung satu lawan satu." Naruto menatap mata Lee lekat-lekat. "Katakan bahwa aku ingin bertarung untuk memperebutkan posisi Alpha."

Sasuke tertegun mendengar kata-kata Naruto. Posisi Alpha? Sasuke tahu bagaimana peraturannya dalam melakukan duel antara dominan demi mendapatkan posisi Alpha. Mereka akan berduel sampai mati.

"Ia akan senang mendengar hal ini." Sambung Naruto. "Ini adalah kesempatannya untuk membunuhku di depan seluruh penghuni Kattegat."

Lee mengangguk, ia menepuk bahu temannya dengan bangga. "Aku akan memberitahunya, kawan." Katanya lalu segera bergegas, meninggalkan Naruto dan Sasuke.

Sasuke menatap Naruto, menunggu pemuda itu mengatakan sesuatu padanya. Tapi Naruto hanya menutup mulutnya rapat-rapat. Ia bahkan tidak menatapnya. Naruto hanya berdiri bersandar dipintu, masih kelihatan lemah dan rapuh.

Sasuke menghela napas berat. "Enam orang anak huh?" Sindirnya.

"Aku akan menang." Kata Naruto pelan, masih menghindari tatapan Sasuke.

"Kau bahkan tidak bisa berdiri dengan benar!" Bentak Sasuke tajam.

Naruto menggelengkan kepalanya dengan frustasi. Ia akhirnya menoleh menatap Sasuke. Jemarinya bergerak menggenggam jemari sang raven. "Maafkan aku Sasuke." Katanya dengan penuh penyesalan. "Aku tidak bisa meninggalkan sahabatku."

"Aku tahu." Kata Sasuke, ada nada kekecewaan dibalik suaranya. Ia menggertakkan gigi untuk menguatkan diri. "Ini benar-benar mengesalkan. Tapi melihat sifatmu yang seperti ini malah semakin membuatku jatuh cinta padamu."

Naruto menatap onyx Sasuke dalam-dalam. Ia mengulurkan tangannya dan mengelus wajah sang raven. "Aku akan menang. Aku akan membunuhnya."

Sasuke menatap Naruto lama. Hatinya terasa sedih dan gelisah. Ia tidak percaya dengan Naruto. Wajahnya saja sangat pucat. Bagaimana dia bisa mengalahkan Danzo yang merupakan seorang Alpha yang tak tertandingin hingga saat ini. Sudah banyak dominan yang menantang Danzo untuk memperebutkan posisi Alpha, tapi semuanya berakhir dengan tragis.

"Biarkan aku yang melawan Danzo." Kata Sasuke.

Naruto menarik tangannya dari pipi Sasuke. "Jangan gila!" Sahutnya tegas.

"Aku bisa melakukannya."

"Ini bukan masalahmu Sasuke!"

Sasuke terdiam, ia menundukkan wajahnya dengan tertekan. "Kurasa apapun yang kukatakan tidak akan merubahmu." Katanya. Pemuda blonde itu tidak pernah mau mendengarkan orang lain.

Naruto menggeleng. "Maafkan aku." Bisiknya lagi dengan penuh penyesalan.

.

.

.

Tbc

.

Hahaha mau fokus ke FF sebelah, malah balik lagi ke sini. Habis banyak yang nagih sih. Midory jadi bingung sendiri. Berhubung The beast masih ngadat, jadi biarlah Midory lanjutin ini.

Btw beneran gak ada yang suka DanShika ya? Malah banyak yang benci sama Shikamaru. Disini Shikamaru Midory matiin, pada seneng nggak? #Plak

MI: Cinta bisa membuat kita jadi bodoh #sokpuitis

Call Me Mink: Belum nantilah, nanti hehehe

dekdes: Gak berani bikin adegan berdarah

Nanio : Makasih. Jadi malu #kedip2

InspiritWoohyunI: Hahaha masa sih? Kasih aja lah toh chapter depan gak akan muncul lagi

NamiMirushi: Ya ampun masa? Jadi terharu, padahal Midory kalau update lama banget

ABABIL : Eh busyeeet masa Sasuke dinikahin sama Danzo

Cherry blosoom: Mau kok Sasukenya, mau banget malah hehehe siapa sih yang nggak mau hamil anak Naruto. Gennya bagus dia, cuman Sasuke rada tsundere emang.

tanoyuka0307 : Nggak ada. Wkwkwk

hedictator: Shikamaru emang OOC banget. Rada bingung sebenarnya waktu mau pilih karakter yang pas, karakter yang tampangnya seme tapi dijadiin uke dan suka sama Naruto. nah berhubung Shika itu lumayan dekat sama Naruto di Canon jadi dia ajalah wkwkwk. Midory kalau update selalu lelet hehehe

Tomoyo to Kudo: NaruSasu mau kawin di KUA wkwkwk #kidding

suki da shaany: Nggak zaman Vikings juga sih, anggap aja ini di dunia mereka sendirilah. Mengenai Alpha dan Omega, itu harus ada, yah gunanya kayak buat chapter ini.

aicHanimout: Makasih hehehe

: Ditunggiin gedean dulu.

eL Donghae: Midory nggak tahu ultah Sasuke kapan. Jadi nggak siapin apa-apa #digeplak

Sora: Wah sahabat Naruto ada yang mati nih. Biarinlah supaya greget

Ruth nana: Akun fb aja ya? Search aja Midory Spring hehehe

Terima kasih yang sudah membaca dan special thanks untuk semua yang sudah meriview. Makasih ya, maap lama:

andiiramayana, Who, MI, Onyx Dark Angel, Ns gues, sekikaoru, nelsonthen52, Guest, .12, Call Me Mink, dekdes, Lhanddvhianyynarvers, Guest, askasufa, Eun810, Nanio, suira seans, CorvusOnyx, Ini nama, mjyunjae, Dahlia Lyana Palevi, wajib di baca, Neliel Minoru, yassir2374, InspiritWoohyunI, NamiMirushi, ABABIL, Namikaze Chi, ItachiDeidara, Oranyellow-chan, .vikink, Kuro Rozu LA, youngnoona, Cherry blosoom, takahashiriho, Sinush, tanoyuka0307, .777, Uchiha Iggyland, hedictator, little lily, Ruth nana, clara dewi, Aoi, LKCTJ94, Khioneizys, Tomoyo to Kudo, FriendShit, vipbigbang74, guest, nicisicrita, LoliMcCrownd, airahara, suki da shaany, BraveKim94, uzumaki megami, KutangDewaJashin, OchaTehOolong, chika sasulover, aicHanimout, , eL Donghae, namie, Sora, Ruth nana, babyberry, ArabelleArden, ursocool