Tsuna dan Hollan tengah bersembunyi diantara semak-semak belukar, badan mereka menempel ketanah berupaya sebaik mungkin agar tidak terlihat. Mereka memundurkan badannya sedikit saat sekelompok polisi bersenjata berlari mendekati tempat mereka bersembunyi.
"Sialan.." Umpat pelan Hollan, menggretakkan giginya. Dia tak menyangkan jika situasi mereka berada diujung tanduk seperti ini.
1 jam sebelumnya
Tsuna mengikuti Hollan yang berlari didepannya. Kepulan asap keluar mengepul dari mulut mereka karena hawa dingin dan adrenalin yang sedang mereka rasakan saat ini. Hollan memelankan lajunya secara tiba-tiba membuat Tsuna hampir menubruknya dari belakang. Dia langsung berjongkok yang langsung diikuti dengan Tsuna, tangannya memberi isyarat untuk melanjutkan jalanya tanpa mengubah posisi jongkoknya.
"Ada apa?" Bisik Tsuna.
Hollan berhenti, dia menempelkan jari telunjuknya kemulut menyuruhnya untuk diam dan menunjuk kearah sekelompok polisi yang tengah berkumpul membelakangi mereka. Tidak mungkin jika mereka dapat melewati kumpulan polisi tanpa tertangkap jadi Hollan memberi keputusan untuk berbalik arah dan memilih melewati jalur yang berbeda.
Tsuna sebaik mungkin untuk tidak berbuat kesalahan yang akan menarik perhatian polisi. Berjalan sambil berjongkok itu sangatlah susah dan melelahkan, karena kakinya harus menumpu sebagian badannya agar tidak terjatuh. Dia berharap degupan jantungnya yang begitu kencang tidak sampai terdengar oleh mereka. Merasa sudah berada jauh dari jangkauan Tsuna dan Hollan menegakkan badannya dan segera berlari melewati belakang rumah bobrok, mereka berdua memasang telinga dan pandangannya tajam-tajam. Sesekali mereka berhenti untuk melihat keadaan sebelum melanjutkan larinya lagi.
Akhirnya dengan perasaan lega bercampur lelah mereka tiba berada di tujuan. Tempatnya ditutupi dengan jeruji tinggi dengan pintu masuk yang masih tergembok dari dalam, terdapat 2 cctv menyala didepan pintu masuk yang tidak memungkinkan mereka untuk membobolnya dan masuk begitu saja. "Bagaimana kita masuk tanpa terlihat?"
Hollan memberi isyarat untuk mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah katapun, wajahnya terlihat begitu tegang dan serius. Tsuna mengikutinya dalam diam memutari jeruji sampai dia berhenti didepan jeruji yang telah terpotong berukuran kecil tetapi cukup untuk dilewati. Hollan pertama masuk kedalam dengan merangkak sebelum dirinya setelah mengoper anak serigala kepada Hollan.
"Terima kasih." Ucapnya saat Hollan membantunya untuk berdiri dan memberikan anak serigalanya kembali padanya. Mereka harus melewati satu halangan lagi yaitu dengan memasuki gedung. Menaiki tangga yang terpasang dibelakang gedung, melompat masuk melewati jendela dan kini mereka berada dilantai dua dalam gedung. Gedung tersebut ternyata lebih besar dan luas dari yang Tsuna perkirakan. Begitu banyak mesin didalamnya dengan ukuran yang besar, diapun melihat ada . Tetapi dia tak melihat adanya daging.
"Tsuna, disini." Panggil Hollan yang telah berada didepan pintu besi. "Dagingnya berada didalam pintu besi ini." Ucapnya. "Pintu ini dapat kita buka hanya dengan pin. Untungnya saat itu aku pernah masuk dan mengirim drone kecilku untuk dapat memantau kedalam gedung tanpa terlihat. Tanpa sengaja ada salah satu pegawai yang ingin masuk kedalam pintu besi ini."
Hollan mengambil sarung tangannya terlebih dahulu sebelum menekan kode tersebut dengan cepat dan lampu merah berubah menjadi hijau dengan suara 'Ting' yang menandakan jika pintunya sudah dapat dibuka. "Sebelum menekan kode atau memegang sesuatu saat berada ditempat tertentu lebih baik memakai sarung tangan agar sidik jari kita tidak menempel. Jadi lebih baik selalu membawa sarung tangan setiap saat." Hollan berkata mengingatkan.
Hawa dingin berembus menerpa wajah mereka saat pintunya terbuka lebar. Tsuna merapatkan jaketnya dan memeluk erat anak serigala dari balik kain. "Sebaiknya kita melakukan ini dengan cepat. Aku tidak ingin membeku disini."
"Tentu saja." Kekeh Hollan. Dia mengambil 2 kantong plastik dari dalam tasnya dan diberikan satu kepada Tsuna. "Sebaiknya kita hanya mengambil dari bagian rak-rak disana. Karena hanya disitulah dagingnya yang telah dipotong kecil-kecil."
Tsuna mengangguk setuju, dia menaruh anak serigalanya didalam box kosong bekas daging terlebih dahulu agar dirinya dapat bergerak leluasa. Setelah itu, Tsuna dengan gesit menumpahkan setiap rak berisi daging kedalam kantong pelastik hingga memenuhi setengah dari plastik tersebut dan menutupinya dengan es, barulah dia mengikatnya.
"Tsuna bawa kesini jika sudah selesai." Seru Hollan. Tsuna mendekati Hollan yang sedang berjongkok dan membuka tas backpacknya lebar-lebar. "Apa bisa ini semua masuk kedalam tasmu?" Tanya Tsuna mengamati Hollan yang saat ini sedang memasukkan koran kedalam tas. "Darimana kamu mendapatkan koran dan plastik itu?"
"Tentu saja bisa tetapi aku harus memasukkan koran terlebih dahulu agar tidak mengenai barang-barangku. Aku membawanya sebelum ketempat pertemuan kita untuk jaga-jaga jika aku memperlukan keduanya, lihatkan sekarang? Kalau saja aku tidak membawa keduanya entah bagaimana kita bisa membawa daging ini."
"Ah, kau benar."
Hollan memasukkan plastik berisi daging satu persatu kedalam tas. Dia memerlukan sedikit dorongan agar dapat di tutup kembali. "Hohoho lihatkan. Semuanya beres." Dia menepuk-nepuk tasnya, menyeringai lebar.
Tsuna mendengus kencang. Dia merasa lega karena Hollan telah berubah kembali seperti semula, dia tidak menyukai sikap temannya yang berubah menjadi serius dengan wajahnya yang tertekuk. Suasananya hanya membuat dirinya merasa tak nyaman dan canggung. "Mungkin kita harus pergi dari sini sekarang juga karena sudah menunjukkan pukul 4." Dirinya berkata setelah memeriksa jam tangannya. Dia berjalan kearah box yang dia simpan anak serigalanya dan menggendongnya kembali.
"Lumayan berat juga." Eluh Hollan saat dirinya mengangkat tasnya dan menyelempangnya ke punggung. "Ayo."
Hollan menutup pintu besi sampai warna pinnya berubah menjadi merah. Setelah itu mereka berlari keluar dari gedung dan merangkak keluar melalui jeruji. Mereka berlari melewati jalan yang tadi, tak menyadari jika ada salah satu polisi tengah bersembunyi sebelum semuanya terlambat. Polisi itu menghadang mereka sambil mengancungkan pistolnya.
"Diam ditempat dan angkat tangan! Dan nak, taruh barang bawaanmu yang ditangan ketanah. " Perintah polisi itu.
Tsuna menggigit bibirnya tak tahu harus melakukan apa. Dia melirik kearah temannya yang berdiri disebelahnya. Oh.. Dia tidak menyukai wajah yang sedang diperlihatkan temannya ini. Wajah cerianya berubah menjadi datar tanpa ekspresi dengan aura jahat keluar mengelilinginya.
"Cepat lakukan atau aku akan melakukannya dengan cara kasar!" Perintah polisinya dengan nada tak sabar.
"Tsuna." Panggil Hollan.
Tsuna yang terbilang panik hanya bisa menatap temannya dengan putus asa. Tak disangka, Hollan mengangkat kedua tangannya mengikuti apa yang diperintahkan polisi itu. Tsuna tak mengerti apa yang ada di pikiran temannya saat ini, menyerah begitu saja dan membiarkan dia dibawa kembali ke tempat yang tidak dia inginkan? Oh lebih baik dia mati tertembak ditempat.
"Kamu cepat lakukan atau aku akan menembakmu dalam 3 detik!" Ancam polisi tersebut, dia mengancungkan pistolnya kearah Tsuna.
"3.."
"Tsuna!" Hollan menggeram kearahnya. Matanya terlihat serius. "Kamu tidak ingin mati bukan?"
"Tapi, Hollan-"
"2.."
"Sekarang!" Perintah Hollan.
Polisi tersebut hendak melanjutkan hitungannya dengan tangannya yang hendak menarik pelatuk saat Tsuna cepat-cepat meletakkan kain yang menutupi seluruh tubuh anak serigala tersebut ketanah secara perlahan dan segera mengangkat tangannya keudara. Berdecak kencang, polisi itu menurunkan pistolnya.
"Tidak susah bukan?"
Tak satu pun dari mereka berdua mengatakan apapun, lagipula Tsuna masih merasa jengkel karena rencana pelariannya berhenti dalam sekejap. Seharusnya dia tidak mengikuti perintah temannya ini, tetapi melihat matanya yang terlihat percaya diri seakan semuanya akan baik-baik saja membuatnya mempercayai dia.
Terlalu berkecamuk dengan pikirannya Tsuna tak menyadari disaat polisi itu pandangannya teralihkan untuk menghubungi teman-temannya lewat walkie-talkie, Hollan dengan gesit berlari menghampiri polisi tersebut dan merampas pistol dari tangannya. Tak sampai disitu, sebelum polisi itu dapat bereaksi, Hollan melakukan tendangan kuat kearah polisi hingga tubuhnya terjungkal kebelakang dan menghantam tanah dengan keras.
Tsuna yang menyaksikan kejadian yang berlasung beberapa detik saja hanya diam terpaku.
"Tsuna ayolah! sebelum polisi itu memanggil teman-temannya!" Suara Hollan membuyarkan keterkejutannya. Tsuna cepat-cepat mengambil anak serigala tersebut dan segera mengikuti temannya.
Mereka dapat mendengar jika polisi itu menyuruh mereka untuk berhenti, tetapi diurungkannya dan tetap berlari menjauh.
Seperti itulah kejadian sejam yang lalu, walaupun mereka berdua dapat menghindar dari salah satu anggota polisi tetapi dewi fortuna tidak berada dipihak mereka hari ini yang mengantar mereka ke polisi yang lain dan parahnya berkelompok. Mana mungkin mereka berdua dapat melumpuhkan mereka semua.
Saat ini mereka tak punya pilihan lain, hanya bersembunyi dibawah gerobak yang dikelilingi oleh semak-semak lebat dan berharap sekelompok polisi itu tak menemukan mereka.
Sejam akhirnya berlalu dan matahari sudah terlihat akan terbit kembali menyinari Jepang. Mereka benar-benar kehabisan waktu dan Hollan hendak mengambil langkah akhir yaitu dengan menembaki pistolnya kearah polisi saat suara walkie-talkie menyala dantara salah satu polisi tersebut.
Tsuna dan Hollan tidak dapat mendengar apa yang dibicarakan antara polisi itu dan orang dibalik walkie-talkie, tetapi sesaat setelah percakapannya selesai polisi itu membubarkan seluruh unitnya untuk mundur dan pergi. Perasaan lega menyeruak keseluruh tubuh mereka seakan ada yang menarik tuas, badannya tak lagi menegang dan jantungnya pun tak lagi berdegup kencang sampai terdengar begitu jelas.
Hollan yang terlebih dahulu keluar dari persembunyiannya untuk memastikan jika keadannya sudah benar-benar aman. Disaat memang dia tak dapat melihat satupun polisi yang masih berada disana, dia memberitahukan kepada Tsuna jika dia sudah dapat keluar dari balik gerobak.
"Oh tuhan tadi itu benar-benar intense." Hollan berkata sambil tertawa kecil.
"Menakutkan. Bagaimana kamu masih bisa tertawa seperti itu setelah yang baru saja terjadi? Jika saja mereka mengetahui persembunyian kita dan menangkap kita, sudah pasti dirimu tidak ingin tertawa." Ucap Tsuna.
"Tapi nyatanya tidak bukan?" Timpal Hollan santainya.
Tsuna memasang wajah tak percayanya dan memilih untuk tidak membalas ucapan dari temannya ini. Lagian ujung-ujungnya pasti dia lagi yang kalah.
#Skip#
Akhirnya mereka berhasil sampai ditujuan terakhir untuk pergi dari Jepang. Bandara.
"Jadi bagaimana caranya kita masuk?" Tsuna merasakan kainnya bergerak pelan, karena itu dia membuka sedikit untuk mengelus kepala anak serigala tersebut mencoba menenangkannya.
Hollan mengamati interaksi mereka berdua sekilas sebelum meng-fokuskan kembali pandangannya kedepan. "Aku mempunyai kenalan yang akan membantu kita agar bisa lolos dalam pemeriksaan nanti disana, tetapi yang jadi masalah dia tidak mengetahui jika kita membawa seekor binatang. Sebaiknya kamu melakukan sesuatu terhadap'nya' terlebih dahulu."
"Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja disini!" Terka Tsuna dengan kelas, secara insting dirinya langsung memeluk anak serigalanya dengan erat. Tsuna mengoper anak serigalanya ke Hollan. Dia melepaskan tasnya dan membuka resletingnya untuk mengeluarkan sebagian isi didalamnya yang dia pindahkan ke resleting depan. "Masih punya koran yang tersisa?"
"Hanya plastik hitam." Hollan mengambil kantong plastik pada sakunya setelah menggendong anak serigala tersebut dengan tangan kirinya dan memberikannya kepada Tsuna. "Sebaiknya kita cepat."
Tsuna merobek plastiknya agar bisa dilebarkan dan mearuhnya didalam tas. Setelah semuanya selesai, dia mengambil kembali anak serigalanya dan melepaskan kainnya untuk menjadi alas kedua sebelum memasukkan anak serigala tersebut kedalam tas. Memberikan elusan terakhir kali. "All done!" Tsuna menyeleting tasnya sedikit, setidaknya dapat memberi udara yang masuk kedalam tas.
"Dirimu benar-benar terikat dengannya huh. Sebaiknya dia tidak melompat keluar karena kita punya waktu untuk mengejarnya." Ucap Hollan.
"Nah.. tidak perlu khawatir akan hal itu." Balas Tsuna. Dia menyelempang lagi tasnya kepunggung. "Dia terlalu lemah untuk dapat melakukan hal itu. Lagian aku merasa dia akan sangat berguna kedepannya." Lanjutnya.
Hollan mendengus kencang, "Kuambil ucapanmu itu, Tsuna. Akan kuingat perkataanmu. Dan jika dugaanmu salah, aku tak akan segan-segan membuang serigalamu itu." Tantangnya. Tsuna mengangguk, mata cokelatnya berubah sekilas menjadi orange tanpa sepengetahuannya, tetapi Hollan melihat perubahan tersebut dan memutuskan tak mengatakan apapun. 'Oh~ itu menarik.' Pikirnya.
Sesaat setelah memasuki bandara, Hollan menghubungi temannya dan memberitahukan jika mereka berdua telah berada di bandara.
Sementara Hollan mencoba untuk menghubungi temannya, Tsuna berkeliling untuk melihat-lihat isi dalam bandara dan berhenti saat melihat adanya layar lebar menayangkan jadwal-jadwal kepergian dan kedatangan pesawat terbang.
Tsuna berbalik arah saat didapat temannya berjalan kearahnya bersama dengan seseorang. Orang tersebut memiliki badan yang besar dan gempal dengan rambutnya yang terlihat lepek seakan memakai gel rambut terlalu banyak.
"Tsuna perkenalkan Sakamoto. Dia satu-satunya orang yang kupercaya selain dirimu untuk membantu kita."
Orang gempal itu.. Makudku Sakamoto dengan ramah menjabat tangan Tsuna. "Senang berkenalan denganmu, temannya Hollan. Aku mendengarkan semua yang terjadi dan aku dengan senang hati akan membantu kalian sampai dapat naik kedalam pesawat." Ucapnya.
"Terima kasih Sakamoto-san, aku tidak mengetahui jika kalian berdua benar-benar dekat sampai-sampai Hollan memberitahukan semuanya." Tsuna berkata yang diam-diam menatap ekspresi geli dari Hollan.
"Tenang saja aku sudah cukup lama mendapatkan kepercayaannya walaupun agak susah." Jawab Sakamoto. Tsuna hanya tersenyum kecil. "Oh iya, aku tadi sudah memberitahukan Hollan jika penerbangan selanjutnya baru ada pada pukul 10 siang ini jadi kaliam harus menunggu."
Tsuna memeriksa jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 pagi. Jadi mereka hanya perlu menunggu 3 jam lagi. Tidak terlalu buruk, dia termasuk orang yang sabar dalam menunggu. Tetapi ada satu yang meresahkannya. "Keberangkatan kemana dijam 10 itu?"
"Itali."
Itali.. Tempat dimana arcobaleno dan vongola berada. Semua itu adalah kenalan dekat dengan ayahnya, Iemitsu. "Apa tidak ada keberangkatan yang lain selain ke Itali?" Tanyanya dengan resah.
Sakamoto berpandangan dengan Hollan sejenas sebelum menjawab pertanyaan dari Tsuna. "Sayangnya adanya lagi nanti malam ke Switzerland, selain itu tidak ada lagi.."
"Ada apa Tsuna?" Tanya Hollan saat melihat keresahan dari wajah temannya.
"Bisa kita berdua berbicara sebentar?"
"Baiklah." Hollan mengangguk kearah Sakamoto. "Nanti jam 10 bertemu ditempat ini lagi, Saka." Ucapnya.
"Baiklah." Jawab Sakamoto, dia membungkukkan badannya dan beranjak pergi untuk melanjutkan tugasnya lagi.
"Jadi ada apa?"
Tsuna memijat pelipis dan matanya untuk menghilangkan rasa pening dikepala. "Dirimu tau dengan anggota Arcobaleno dan Mafia Vongola?" Tanyanya terlebih dahulu.
"Ya.. Tentu saja, nama itu begitu terkenal didunia bawah tanah."
"Dan kamu tau kan kalau keduanya berada di Itali?"
"Ya, tentu aku tau. Terus hubungan dengan itu-"
"Iemitsu bekerja di Vongola dan sangatlah mengenal Arcobaleno layaknya seorang rekan! itulah hubungannya!" Jawab Tsuna setengah berteriak kearah Hollan. "Yang kutakutkan kalau saja Iemitsu sudah meminta bantuan dari Arcobaleno. Dan kita tamat."
"Woohh.. Tsuna tenanglah. Dirimu akan terkena serangan panik jika seperti itu jadi tenanglah."
Tsuna berjalan kearah tempat duduk dan merebahkan dirinya disana setelah melepaskan tasnya kelantai. Tangannya mengusap kasar wajahnya, menatap tak percaya kearah Hollan. " Tenang? Bagaimana bisa kita untuk tetap tenang?! Kita akan menghadapi bahaya yang lebih parah disana nanti! Dan.. Dan bagaimana kalau Iemitsu benar-benar sudah meminta bantu dari Arcobaleno dan mereka tengah terbang menuju Jepang untuk mencariku?! Kita kacau.. Sangatlah kacau!" Jelasnya penuh emosi, tangannya bergerak kesana kemari.
Hollan mengerti betapa terkenalnya anggota Arcobaleno. Mereka salah satu anggota terkenal di dunia bawah tanah dan menjadi musuh terkuat. Sudah banyak yang menjadi korban karena mencoba menantang anggota tersebut yang akhirnya tak satupun yang berhasil menumbangkan anggota yang terdiri dari 6 orang. Terdapat satu orang terkuat dari anggotanya dan dia dikenal dengan nama Reborn. Hollan belum pernah melihatnya secara langsung, tetapi banyak yang mengatakan jika orang itu memancarkan aura jahat setiap kali berpapasan dengannya. Seberapa kuatnya kah Arcobaleno itu? Jika memang benar, mungkin apa yang dikata Tsuna itu benar. Mereka sangatlah kacau.
"Tsuna kamu mau untuk kembali ketempat ayahmu itu dan mengulangi kehidupan kelammu lagi? Hell, mungkin saja akan lebih parah setelah perbuatanmu yang mencoba melarikan diri darinya. Kau mau hal itu terulang lagi?"
"Tentu saja tidak.. Aku sudah muak dengan perlakuan mereka terhadapku.."
"Maka dari itu kita tidak bisa menyerah begitu saja!" Timpal Hollan cepat-cepat, nadanya yang tinggi membuat Tsuna terlonjak kaget dan menengadah menatap temannya. "Aku sudah berjanji denganmu untuk membantumu bukan? Kita akan mencari jalan keluar saat berada di Itali agar dapat lolos dari mereka. Lagipula kita pun tidak perlu berlama-lama tinggal disana, kita bisa berpindah-pindah tempat selama kita dapat lolos dari pemeriksaan. Dirimu tak sendiri Tsuna, kita akan saling membantu." Jelas Hollan dengan serius.
Tsuna mendengus pelan dan tertawa terbahak-bahak. Dia memberikan ancungan jempolnya kearah temannya yang menatap heran kearahnya. "Dirimu bipolar ya." Ucap Hollan datar, walaupun begitu dia tak dapat menyembunyikan perasaan geli dan ikut tertawa kecil.
"Seharusnya kamu melihat wajahmu itu dikaca sambil mengulangi perkataanmu tadi." Tsuna berkata disela-sela tawanya. Oh sepertinya mereka memang tak perlu mengkhawatirkan Arcobaleno ataupun Vongola, hanya perlu saling mempercayai satu sama lain dan saling membantu semuanya akan baik-baik saja.
Jika para Arcobaleno memang diutus Iemitsu untuk memburunya dirinya dan Hollan, mereka sudah siap dengan kemampuan mereka masing-masing. Lagipula Tsuna dan Hollan memiliki banyak koneksi yang dapat dihubungi jika saja mereka membutuhkan bantuan. Tetapi untuk saat ini, mereka berdua akan membuat sebuah rencana.
Mata biru bersinar terang sekilas dari makhluk yang ada didalam tas Tsuna.
SoraNarukami13 Terima kasih sudah dengan sabar menunggu! Dan makasih juga sudah ngoreksi kesalahan nama wkwkwk
