PERHATIAN
Ff ini mengandung unsur dewasa, hubungan sesame jenis dan dikhusus kan untuk para fujoshi dan fudanshi. Terdapat banyak typo, bahasa yang berantakan dan kesalahan lainnya yang tidak terkoreksi oleh author. Dan mohon maaf apa bila terdapat bahasa yang rancu dan suli dimengerti karena tidak semua laki-laki~ *abaikan* manusia sempurna. Sekian dan selamat membaca.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
-dan lainnya-
DON'T SAY 'I LOVE YOU'
Chapther 3
"Ka-kau…. Kau pasti… berbohong." Baekhyun masih tidak bisa mempercayai perkataan dari adiknya itu.
"Kau tidak mempercayaiku?" tatapan sedih membuat Baekhyun tersentak. Baru kali ini ia melihat tatapan sedih dari sang adik, karena setaunya, Chanyeol adalah kepribadian yang riang dan tidak pernah terilhat bersedih. Tapi kali ini…
Yang lebih muda memejamkan matanya, ia juga menelan ludah dengan susahnya sebelum akhirnya berkata, "Apa perlu aku membuktikannya?" dengan segala pemikiran yang acak di otaknya ia tak tau lagi harus berbuat apa.
"Bagaimana caramu membuktikannya?"
"Temani aku ke atap gedung perusahaan ayah…" ucapnya tanpa berpikir. Yang lebih tua mengeryit untuk mengartikan kata-kata sang adik.
"Lalu?" tanyanya karena bingung. Chanyeol menarik kedua tangan hyungnya lalu mengecup punggung tangan yang lebih tua sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Lalu aku akan terjun untuk membuktikan kalau aku mencintaimu." Chanyeol beranjak seraya menggenggam sebelah tangan Baekhyun. Rupanya sang kakak masih mencerna perkataan si adik tapi sedetik kemudian ia menahan tubuh itu untuk menarik kenop pintu.
Langkahnya terhenti dan tangan yang tadinya akan meraih kenop pintu itu pun turun. Chanyeol diam untuk merasakan tarikkan tangan sang kakak di sebelah tangannya. Tapi pada akhirnya ia memandang kearah lengannya dan menemukan dua genggaman di lengan kekarnya.
"Ja-jangan lakukan itu." Cegahnya. "A-ku hanya…" kalimatnya mengantung dengan wajah yang tertunduk. Ia menggelengkan kepalanya keras-keras sebelum akhirnya menatap ke mata si jangkung. "Be-beri aku waktu."
"Waktu?"
"Waktu… untuk… meyakinkan perasaanku padamu." Dan setelah jawaban itu, Chanyeol menarik tubuh rampng itu pada sebuah pelukan. Si jangkung ingin kalau perasaan mereka tersalurkan dari pelukan hangat itu sebelum yang lebih tinggi mengecup kening si mungil lalu tersenyum.
…
Sebulan kemudian keadaan membaik. Tidak ada perdebatan tiap paginya atau sekedar berebut kamar mandi. Chanyeol juga tidak pernah lagi menganggu atau menjahili Baekhyun, juga si kecil Baekhyun tidak pernah mengomeli adiknya dalam bentuk kesalahan apapun. Semua Nampak normal di mata keduanya tapi pemandangan tidak biasa di mata semua penghuni rumah.
Tidak ada yang berani menanyakannya karena di mata sang ibu, mereka sudah tumbuh besar dan sudah mengibarkan bendera putih dan gencatan senjata. Intinya perdamaian di antara keduanya.
Pagi ini Baekhyun membantu Chanyeol memasangi dasinya karena kegiatan itu selalu rutin ia lakukan kalau rapat dadakan di hari libur.
"Kenapa hari libur begini harus rapat?" tanya yang lebih tua seraya melilitkan dasi di balik kerah Chanyeol. Si jangkung sedikit membungkuk untuk mempermudah Baekhyun memasangkan dasinya. Seringkali Baekhyun mengomel karena si tiang ini terlalu tinggi dan apa Chanyeol harus menyalahkan ibunya karena hal itu?
"Ada sedikit masalah." Jawabnya singkat dan itu tidak membuat Baekhyun puas.
"Masalah apa?"
"Kau ini cerewet sekali." Ia mencubit ujung hidung mancung sang kaka gemas. "Aku tidak akan menemui gadis atau pria manapun di sana. Jadi jangan kawatir dan jangan banyak bertanya." Baekhyun terkiki karena itu.
"Mau kau menemui gadis lain ataupun pria lain, itu bukan urusanku."
"Ya tapi kau akan sangat berisik kalau aku melakukannya."
"Tidak!"
"Kau ya. Siapa yang tak henti-hentinya menyindirku hanya karena tetangga kita mengirimi makanan dan aku mengorol sebentar di depan gerbang?" mati kutu. Baekhyun langsung diam dengan bibir mengerucut lucu. Walau perasaannya belum pasti pada sang adik, perasaan tidak terima saat ada wanita atau bahkan pria lain di sekeliling sang adik akan berdampak padanya.
"Ya sudah aku tidak akan berisik lagi. Sekarang kau sarapan dan cepat berangkat." Setelah ucapan itu, Chanyeol melingkarkan tangannya di pinggang sang kakak dan mendekatkan wajahnya, memandang dalam pada manik kecoklatan milik yang lebih kecil.
"Apa aku belum boleh menciummu?" bisikan lembut yang membuat Baekhyun terlena karena nada sang adik yang terdengar menawan di telinganya. Salahkan pendengarannya!
Baekhyun menggeleng dan itu membuat yang lebih tinggi tersenyum lalu mengelus lembut pucuk kepala yang lebih tua lalu berjalan menuju meja makan.
.
.
"Enak yah di manja hyung kita." Sindir Chanlie di tengah perjalanan. Mereka menggunakan bus umum menuju sekolah khusus pria di kota Seoul.
Chanyeol hanya tertawa menangapi sindiran itu. Ia sudah menceritakan pada kembarannya itu prihal sang kakak yang meminta kesempatan untuk memastikan perasaannya. Dan tanggapan dari si adik hanya keterkejutan dan umpatan "dasar gila." Dan Chanyeol hanya tertawa.
"Kalau kau iri, carilah kekasih untuk bermanja-manja. Tapi jangan kau dekati hyung, kalau tidak mati kau!" ancaman yang bernada serius itu terdengar berbahaya.
"Aku tidak segila kau sampai meyukai hyung dan benar-benar menyatakan perasaanmu padanya. Lagian kenapa juga hyung sampai harus memastikan perasaanya padamu? Apa dia juga gila?" dan taunya Chanyeol memukul belakang kepala sang adik yang ternyata bodoh pikirnya.
"Kalau bicara itu di pikir dulu! Berani sekali kau mengatai kakakmu sendiri gila!" omel yang lebih tua. Ia memang sedikit sensitive kalau membahas tentang sang kakak itu. Cinta membutakan segalanya.
.
.
"Baekkie, tolong bawakan belanjaan ibu." Siang ini si ibu menyiibukan diri dengan berbelanja beberapa bahan makanan. Memang biasanya ia yang mebeli keburtuhan sehari-hari, tapi pada hari libur, ia akan menolak semua perintah sang ibu tapi tidak dengan bersih-bersih atau sekedar membawakan belanjaan dari ruang tamu sampai dapur. Itulah Park Baekhyun.
"Hari ini makan apa?" ia menaruh kantung belanjaan di atas meja. Ia mengeluarkan beberapa barang dari kantong plastic dan memindahkannya ke lemasi es. Membantu sang ibu yang juga melakukan hal yang sama.
"Kenapa tidak jalan-jalan atau bermain dengan temanmu saja?" sang ibu menyuci beberapa sayur. Baekhyun yang tidak ada kerjaan hanya duduk sambil memakan beberapa potongan tomat di atas talenan.
"Aku lebih suka di rumah."
"Tapi kau harus mencari teman atau seorang kekasih. Ibu tidak masalah kalau kau sering pulang malam dengan kekasihmu."
"Kalau aku mencari kekasih, Chanyeol akan mengacaukannya lagi." Adunya seakan bernostagia dengan kejadian terdahulu.
"Ibu akan memarahinya kalau itu terjadi." Bela sang ibu yang menghangatkan hatinya. Ia menghampiri si ibu dan memeluknya sayang.
.
.
Ponsel Baekhyun bergetar di atas meja di ruang santai. Si pemilik langsung berlari dari dapur mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang masuk ke inboxnya. Tidak ada nama yang tertera hanya deretan angka tidak dikenal yang ia lihat di sana.
-nomer tidak di kenal-
Ini aku Oh Sehun, apa kau ada waktu hari ini?
09:08 AM
Pria bermarga Park itu memiringkan kepalanya lalu mengeryitkan dahinya karena pesan itu. Seingatnya saat bertemu dulu, ia belum sempat memberikan nomer ponselnya pada pria ini. Tapi bagaimana ia bisa mendapatkan nomor nya?
Baekhyun-
Ya, aku ada waktu hari ini.
09:09 AM
Oh Sehun-
Kalau begitu, aku tunggu di halte bus dekat sekolah kita dulu. Kutunggu jam 11 siang ini.
09:10 AM
Dan pesan itu tak di balas oleh Baekhyun karena pria itu langsung berlari ke kamar meninggalkan ponselnya yang tergeletak mengenaskan di atas meja.
.
.
Singkat cerita, Baekhyun pernah mengagumi Sehun yang teman sekelasnya. Tapi karena Sehun sering dikerumuni para gadis membuatnya urung untuk mendekatkan diri dengan si pria albino itu. Lagian lelaki mungil itu tidak tau rasa kagumnya itu rasa kagum karena ia ingin seperti dirinya yang disukai banyak wanita atau rasa kagum yang lain. Hanya saja ia senang saat mendapatkan pesan yang berisi pria tampan itu mengajaknya bertemu.
Baekhyun melangkah dengan riang menuju halte yang di maksud Sehun. Ia sudah memikirkan hal menyenangkan yang akan ia lakukan bersama teman lamanya. Bukan teman lama sebenarnya karena selama ia sekelas dulu, bisa dihitung dengan jari si mungil itu bertegur sapa dengan Sehun dan kenangan paling indahnya adalah ketika ia sekelompok dengan si jangkung itu. Walau ya tidak ada perbincangan santai selama mereka bekerja sama.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, Baekhyun bisa melihat si albino yang duduk manis di bangku halte sambil memainkan ponselnya dan tak berapa lama benda persegi panjang itu bergetar dan menampilkan nama Oh Sen di layarnya. Bibirnya tak bisa menahan senyum saat panggilan itu ia angkat dan terdengarlah suara khas dari si pria albino itu.
"Kau di mana?" tanya pria itu di seberang sana. Baekhyun hanya tersenyum sambil memandang pria itu.
"Aku sudah sampai." senyuman itu masih terpatri di sana. "Aku sudah melihatmu." dan kemudian sambungan terputus. Sehun segera mencari sosok itu dan saat matanya terarah pada sosok yang berjalan mendekat, Baekhyun melambikan tangan dengan senyum lebar yang ia miliki.
.
.
"Dapat dari mana nomer ponselku?" tanya yang lebih kecil ketika mereka melewati sebuah taman. Suasana sedang ramai saat itu dan karena hari libur, taman menjadi pilihan para orang tua mengajak anaknya untuk piknik dan bermain.
"Aku mendapatkannya dari buku tahunan." Jawabnya santai. Si kecil hanya ber'oh' dan kembali memandang ke depan.
"Lalu kenapa mengajakku bertemu?" Sehun kembali menoleh pada Baekhyun. Ia tersenyum menawan pada Baekhyun membuat pria mungil itu nyaris jatuh pingsan.
"Apa salah kalau aku mengajak bertemu teman lama?" ucapnya dan kembali Baekhyun ber'oh'ria dan taunya Sehun tersenyum karena itu. "Kau sedang berkencan?" lanjutnya. Baekhyun menggeleng karena ia memang tidak sedang berkencan dengan siapapun saat ini.
"Baguslah kalau begitu." Ucapan itu membuat yang lain mengerutkan keningnya dan bertanya bingung dalam hatinya. Tak jauh dari tempat mereka berada sepasang mata mengawasi si kecil yang tersenyum karena gurawan Sehun.
.
.
"Tadi siang hyung ke mana?" introgasi sang adik ketika baru sedetik ia menginjakan kakinya di ruang santai.
Tidak langsung menjawab, pria bertubuh kecil itu melewati si jangkung dan duduk di sofa besar nyaman di ruangan itu.
"Pergi bersama teman." jawabnya santai karena ia merasa kalau hal ini sesuatu yang wajar. Tapi rupanya tidak menurut sang adik yang pencemburu berat.
Tanpa sabar, ia menarik pundak itu agar sang kakak menghadapnya. Matanya menatap dalam pada manik kecoklatan milik yang lebih tua. Cengkramannya kuat pada pundak sempit Baekhyun hingga ia mengeryitkan dahinya juga memejamkan sebelah matanya.
"Aku tidak suka kalau hyung bersama pria lain!" mata sipit itu membulat sempurna. Dari mana sang adik tau kalau ia bersama seorang pria tadi siang.
"Terlebih itu Oh Sehun!" makin menatap tak percaya ia karena lagi-lagi Chanyeol tau siapa orang itu. Ia memang tidak berkata-kata, tapi sang adik tau dari raut wajahnya kalau ia kebingungan dalam situasi ini.
"Dia adalah pria berengsek hyung." mulainya. "Dia banyak mempermaikan para wanita dan aku tidak mau kau menjadi salah satu korbannya."
"Aku tidak memiliki rasa padanya, Chanyeol. Lagian dia normal, mana mungkin dia melirikku." itu pemikirannya tapi lain halnya Chanyeol. Sebenarnya ia sama sekali tidak mau mendebatkan masalah ini. Niatnya hanya menanyakan dan memastikan apa hyungnya berkata jujur saat ditanya mengenai hal ini, atau justru ia berbohong tapi bagusnya ia berkata jujur.
"Aku tidak tau hyung memiliki rasa padanya atau pria itu tidak akan melirik hyung. Tapi yang jelas aku takut kalau perasaan itu akan muncul di antara kalian berdua. Hyung harus ingat, kalau kau masih memastikan perasaanmu padaku." ucapnya dengan nada serius. Yang lebih tinggi menepuk pundak Baekhyun lalu bangkit untuk meninggalkannya merenung sendirian di ruang santai keluarga mereka.
…
Kegiatan rutin di sekolah kembali menyibukan semua siswa. Terutama para OSIS yang kembali disibukan dengan kegiatan sekolah yang akan mengadakan sebuah perayaan budaya. Jadi mau tidak mau mereka harus kembali pulang malam dan terganggu dengan kegiatan pelajaran.
Suasana serius melingkupi rapat di sekolah khusus laki-laki ini. perdebatn kecil sesekali terjadi tapi bisa ditangani dengan kepala dingin si ketua OSIS yang bijak dan dengan si pintar Chanyeol di sana semua bisa terselesaikan dengan mudah.
"Rapat kita sudahi sampai di sini." Sehun menutup rapat. Semua menutup buku mereka dan membereskannya. Sebagian sudah berdiri dan meninggalkan ruang rapat. Chanyeol yang baru menyimpan buku catatannya di lemari, berjalan mendekati Sehun dan menepuk bahunya.
Sehun menoleh dan pria lain di belakangnya berujar, "Kau mengenal Baekhyun?" tanya yang lebih muda. Pria berkulit pucat itu berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab "Ya." Tatapan Chanyeol langsung berubah tajam menatap manik kelam yang lain di hadapannya. "Jangan dekati dia lagi." Perintah Chanyeol sebelum akhirnya meninggalkan si jangkung yang menjabat ketua OSIS itu.
…
"Hyung." Pangil Chanyeol dan pria yang dipanggi itu pun menunduk karena sang adik sedang berbaring dan menjadikan pangkuannya bantalan kepala.
"Ada apa?"
"Kau tidak bertemu dengan pria itu lagi kan?" Baekhyun kembali dengan kesibukannya. Bukan maksut mau membohongi sang adik, tapi kalau ia belum melihat sendiri, ia tidak akan percaya apa kata orang lain sekali pun itu adik nya sendiri.
Tangannya masih sibuk mengetik tapi ia membuka mulutnya untuk berbicara. "Tidak. Memang kenapa?" ini memang benar karena ia belum menemui teman lamanya itu.
"Tidak. Aku hanya memastikan kalau hyung tidak menemui pria itu lagi."
"Lagian kenapa kau bilang kalau dia itu bukan pria yang baik?"
"Karena waktu itu dia bolos rapat dan menemuimu." Ada rasa jengkel di nadanya karena ia harus mengurusi rapat sendirian kala itu.
"Hanya karena itu?" benda persegi itu ia taruh di sampingnya. Chanyeol mengangkat tubuhnya untuk duduk dan menghadap yang lebih tua juga Baekhyun yang memandang bingung pada sang adik.
"Dia banyak menyakita hati para gadis dan aku tidak mau kau menjadi salah satu targetnya." Penjelasan yang membuat dahi yang lebih kecil mengeryit.
"Tapi aku bukan serang gadis."
"Luhan." Katanya. Baekhyun mengurungkan niatnya untuk berkata-kata. "Dia adalah korbannya di sekolah kami." Baekhyun harus ingat kalau sekolahan adiknya itu hanya khusus para laki-laki, jadi dia memutuskan untuk kembali mendengarkan.
"Dia hanya dianggap pelacur oleh si brengsek itu lalu dibuang begitu saja." tuturnya.
"Apa dia tidak melapor pada pihak sekolah?"
"Tidak ada yang percaya dengan ucapannya dan dia dibully oleh semua fans si keparat itu." jelasnya. Ia meraih jemari lentik si kecil lalu mengelus punggung tangannya lembut. "Aku hanya tidak ingin kau seperti itu. jadi kumohon hyung, jangan dekati dia lagi. Ehm?"
Baekhyun berpikir sejenak tanpa melirik sang adik yang terus memandangnya menunggu. Ia bingung.
…
Pagi ini seperti biasa Baekhyun menunggu Jongin halte bis. Ia membalas beberapa pesan yang dikirimkan adiknya, karena yah Chanyeol berubah protektif pada si munggil ini. Dari mulai menyuruhnya untuk tidak membalas pesan-pesan si Sehun juga melarang si kecil ini untuk menganggkat panggilan dari nomer yang ia tidak kenal. Intinya benar-benar diawasi.
Tak lama orang yang ditunggu datang dengan senyum yang sangat aneh menurut Baekhyun. Pasalnya pria bermarga Kim ini tidak pernah bersikap aneh selama ia berteman baik dengan si hitam Jongin.
"Kenapa kau?" tanya si kecil yang sudah mengambil duduk di salah satu bangku di dalam bis.
"Abaikan aku dan kembali dengan kesibukanmu." Perintah si hitam. Itu menimbulkan kerutan di dahi Baekhyun.
"Kau demam? Atau lupa minum obat?" celetuknya takut kalau sahabatnya ini ternyata mengidap penyakit aneh dan berdampak buruk bagi kelangsungan hidupnya. Tidak merespon, Jongin hanya tersenyum pada layar ponsenya yang membuat Baekhyun sedikit curiga. Ia mencondongkan tubuhnya untuk melihat isi pesan yang ia kirim pada orang entah siapa.
"Nanti sore ku jemput di sekolahmu?" eja Baekhyun membaca pesan itu. Dengan cepat Jongin menyembunyikan layar ponselnya ke dada dan melirik takut pada pria di sampingnya.
"Kau sedang berkencan?" tanya Baekhyun dan mata Jongin melebar karena pertanyaan itu. masih memandang takut, jongin mengangguk sekali. "Dan kau tidak memberitauku?" ucapnya lagi.
"it-itu,,"
"Aku kira, kita bersahabat. Jadi seperti ini caramu bersahabat? Baiklah jangan harap aku membantumu mengerjakan semua tugasmu, Nini." Matilah Jongin kalau sudah seperti ini.
.
.
Jongin masih membujuk si kecil untuk memaafkannya. Hanya sekedar mendengarkan penjelasannya, tapi Baekhyun tidak mau tau dan terus sibuk dengan ponselnya.
"Hallo Sehun?" ia mengangkat panggilan dari seseorang yang ia panggil Sehun itu. "Oh, ya? Baiklah aku menunggumu di depan sekolah nanti." Lalu sambungan terputus. Jongin masih menatap sahabatnya dengan rasa bersalah. Pasalnya ini pertama kalinya Baekhyun benar-benar mendiaminya setelah dua tahun pertemanan mereka.
"Kau menghubungi Sehun?"
"Ada masalah?"tanyanya sinis.
"Eh, tidak. Hanya saja…"
"Kau bisa menjemput kekasihmu nanti sore. Aku akan pulang bersama Sehun." Dan si pria berkulit tan itu mati kutu.
.
.
Malamnya, Baekhyun diantar pulang oleh Sehun dan dipaska mampir oleh si kecil ini. Ia lupa fakta bahwa sang adik pernah menyuruhnya untuk menjauhi mahluk tampan bernama Sehun dan parahnya ia membawa pria itu datang ke rumah.
"Aku pulang." Sapanya pada semua penghuni rumah. Tidak ada sahutan hanya keadaan kosong ruang santai. "Sepertinya semuanya belum pulang."kata si kecil.
"Sebaiknya aku pulang ini sudah-"."Aku akan kekamar sebentar, kau bisa menunggu di sini sampai aku selesai."Baekhyun memotong perkataan Sehun sebelum pria berkulit pucat itu selesai dengan kalimatnya. Saat ia akan mengulangi kata-katanya, Baekhyun sudah terlebih dulu menaiki tangga dan hilang di belokan.
Ia hanya bisa menghena napas dan duduk di sofa empuk di ruangan itu. pandangannya ia bawa berkeliling melihat setiap sudut ruangan yang ada di sana.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya sosok jangkung dengan suara bas. Pria yang berusia lebih tua dua tahun darinya itu tersentak dan mendapati Chanyeol yang menyandarkan bahunya di tembok dekat sebuah pintu.
"Berkunjung, ada masalah?" santai yang lebih tua. Chanyeol berpindah posisi, ia menyandarkan punggungnya di dinding dan melipat tangannya di dada. Pandangannya tajam pada sosok yang duduk santai di ruang tamu rumahnya itu.
"Aku sudah pernah memperingatkanmu."ingat si jangkung.
"Kau hanya memperingatkanku. Dan aku baru tau kalau kau adik dari Park Baekhyun. Ck ck adik yang protektif sekali."
"Aku hanya tidak mau kalau kakakku kau permainkan seperti Luhan."tatapan dan nada sinis itu masih setia ia gunakan untuk menaku-nakuti musuhnya.
"Kalau aku bilang aku serius dengan hyungmu itu, bagaimana?"
"Jangan bercanda." Ia terkekeh.
"Aku memang tidak bermain-main dengan hyungmu. Aku benar-benar tertarik dengannya sejak lama dan," ia menjeda kalimatnya dan menatap serius pada pria jangkung yang lain di sana. "Aku akan mendapatkan hati hyungmu itu." dan tak lama Baekhyun turun dan menyapa keduanya.
.
.
Kebiasaan Chanyeol adalah menerobos masuk pintu kamar Baekhyun tanpa pernah mengetuknya. Itu yang selalu membuat kesal pria bertubuh mungil itu karena ia takut kalau ia sedang berganti baju dan sang adik melihat bagian privasinya. Tapi kini hal yang ia takutkan terjadi. Karena kejadian ia yang melupakan banyak barang saat mandi, Baekhyun memutuskan untuk berganti baju di kamarnya. Dengan resiko mengunakan pakaian sebelumnya untuk menuju kamar.
Kembali pada kesalahan Baekhyun yang tidak mengunci pintu kamarnya. Jadi setelah kepulangan temannya Sehun, Baekhyun memutuskan mandi karena yah, dia merasa berkeringat dan itu tidak membuatnya nyaman untuk beristirahat maka ia memutuskan mandi. Namun saat ia sedang bergant baju, Chanyeol dengan tidak sopannya menerobos masuk kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"KYAAAA" jeritan histeris dari si kecil yang membuat nyaris kota Seoul teekena gempa bumi. Chanyeol yang kaget hanya menutupi kedua telinganya dan menutup matanya. Suara lengkingan itu benar-benar menyakitkan.
"Tidak usah berteriak, hyung!" ia membuka matanya dan langsung tersuguh oleh pemandangan indah di hadapannya.
"Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?" kembali pria mungil itu meninggikan suaranya. Chanyeol masih membeku di tempat karena pemandangan indah yang sayang untuk di lewatkan. "YAK!" dan si jangkung itu pun tersadar.
"Ehh,,"
"Apa yang mebuatmu masuk terburu?"
"Ada hal penting yang harus ku tegaskan!"
"Apa?"
"Aku sudah bilang untuk tidak menghubungi pria itu."
"Aku tidak menghubunginya."
"Ya, dan aku juga pernah berbicara tentang jangan membalas semua pesannya." Pria kecil itu membuka mulutnya namun yang lebih muda mendahluinya. "Dan aku sudah memperingatkanmu tentang jangan menerima panggilan dari orang asing."
"Dia bukan orang asing Chanyeol"si kecil mlai merengek karena ia sudah lelah berdebat hanya karena hal sepele menurutnya.
"Dia orang asing karena dia tidak berhubungan denganmu cukup lama."perdebatan ini sudah berlangsung satu jam kalau boleh tau dan yang lebih muda terus-terusan mengomel seperti orang tua yang melihat anak gadisnya berpacaran dengan seorang brandal.
"Baiklah, terserah apa katamu. Sekarang kau keluar, karena aku mau berpakaian." Si kecil ini mengingatkan si jangkung kalau dirinya belum mengenakan pakaian. Hanya selembar handuk yang menutupi bagian bawahnya dan sebuah kaos yang masih di genggam sang kakak menutupi bagian atasnya.
Chanyeol menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Menutupi kekikukannya saat itu dan harus merasa kecewa karena pemandangan itu harus segera berakhir. Goodbye pemandangan indah dan akhirnya tubuh jangkung itu menghilang di balik pintu.
…
Kita jelas sudah tau bagaimana perasaan seorang Park Chanyeol terhadap Park Baekhyun. Walau sang kakak berkata meminta waktu untuk memastikan perasaannya terhadap sang adik, sifatnya tidak pernah menunjukan ketertarikan pada sang adik. Inilah yang membuat si jangkung penasaran dan akhirnya mengambil keputusan untuk membuatnya cemburu. Jadi di sinilah mereka, kencan buta yang dibuat secara dadakan oleh Chanyeol.
Ia mengajak serta kembarannya dalam rencana ini dan bodohnya si jangkung kedua di keluarga Park itu mau jasa diajak berkerja sama.
Chanyeol tau kalau sang kakak sedang berada di luar rumah dengan Jongin bersamanya. Ia sudah tidak mencurigai si hitam Jongin sebagai saingannya karena ternyata ia sedang dekat dengan teman sekelasnya yang bermata bulat dan tubuh munginya. Si jangkung ini bisa sedikiet bernafas lega. Kembali pada rencana membuat sang kakak cemburu.
Sebenarnya Chanyeol malas mengikuti kencan buta seperti ini karena tujuan cintanya hanya pada sang kakak yang menurutnya lebih cantik dari wanita manapun. Ia sering menolak ajakan kencan buta yang di tawarkan teman-temannya. Tapi kini ia yang dengan semangat menerima ajakan itu bahkan sebelum ajakan itu benar-benar mereka tawarkan padanya.
"Namaku Park Sooyoung." Seorang gadis dengan senyum manis mengawali pertemuan mereka. Di meja ini duduk tiga orang pria juga tiga orang gadis yang saling berhadapan.
Chanyeol mengedarkan pandangannya di café itu, mencari sosok hyungnya yang katanya berada di sana juga. Si gadis bernama Sooyoung itu melirik si jangkung berkuping peri itu dari balik bulu matanya. Chanlie menangkap sinyal kalau si gadis tertarik pada kembarannya itu dan ia pun mulai beraksi untuk mencegah hal yang tidak di inginkan terjadi.
"Sooyoung-ssi, makanan apa yang kau sukai?" dan gadis itu merotasi pandangannya pada sosok serupa di sebelah Chanyeol.
"Aku suka makanan manis dan pedas. Kala Chanyeol-ssi?" chanyeol masih sibuk dengan kegiatannya mencari sang kakak sampai ia tidak mendengarkan si cantik yang sedang menanyainya. "Chanyeol-ssi?" panggilnya lagi. Si jangkung yang dipanggil menoleh.
"Ya?" tanyanya tak mengerti. Sikuta dari kembarannya menyadarkan pikirannya. "Aku suka semua jenis makanan." Jawabnya asal tapi saat ekor matanya menemukan sosok sang kakak yang baru memasuki pintu café, senyumnya mengembang dan ia langsung antusias dengan acara kencan buta ini.
"Kau suka membaca?" Chanyeol memulai obrolan membuat Sooyoung tersenyum manis..
"Aku suka membaca novel dan beberapa komik."
"Wah, komik tentang apa? Aku juga suka membaca komik." Jawabnya antusias yang dibuat-buat. Matanya sesekali melirik sang kakak yang masih memesan minuman di kasir. Ia berharap kalau sang kakak melihat ke arahnya dan ia bisa melihat apa reaksinya bagamana.
Doa Chanyeol terkabul, si kakak membalik tubuhnya dan mendapati si jangkung yang baru saja melirik kembali lawan biaranya. Dahinya berkerut karena sosok itu nampak akrab dan nyaman dengan gadis itu. ia ingat dengan perkataan sang adik soal ia menyukainya, tapi lihat siapa yang sekarang mengikuti kencan buta dan asik mengobrol dengan gadis itu.
"Jongin, tunggu." Ia menarik lengan temannya yang akan melangkah. Matanya masih memandang ke arah sang adik yang terlihat asik tertawa. Sialnya tawa dibuat-buat itu terlihat natural di mata Baekhyun. Ada perasaan sakit juga perasaan aneh di dalam hatinya. Ada apa ini?
.
.
Langit sudah gelap dan jam sudah menunjukan pukul 8 malam, kedua anak kembar dari keluarga Park itu baru tiba di rumah. Mereka berganti sepatu dengan sandal rumah dan memasuki ruang santai dengan kedua orang tua mereka yang sedang menonton televisi.
"Ganti baju kalian dan segera makan." Perintah sang ibu yang memeluk mesrah sang kepala rumah tangga di sofa mahal mereka. Kedua anak itu hanya mengangguk dan memasuki kamar masing-masing.
Baru saja pintu ditutup dan Chanyeol memutar tubuhnya menghadap lemari pakaiannya, ia sudah dikejutkan dengan kehadiran sang kakak yang berdiri melipat tangannya di depan dada.
"Bagaimana rasanya mengobrol dengan para gadis cantik itu?" nadanya sedikit sinis tapi itu yang ingin ia lihat dari sang kakak. Rasa cemburu yang membuktikan kalau Baekhyun mulai menaruh perasaan padanya.
Chanyeol terkekeh dan melempar jas almamaternya di atas ranjang dan menjatuhkan tubuhya di atas ranjang itu juga. Kedua tangannya menopang berat badannya lalu memandang si kakak yang masih berdiri dan sekarang menghadapnya.
"Kau cemburu?" tanyanya. Baekhyun membulatkan matanya ketika sebuah seringayan menghiasi wajah si tampan.
"Cemburu? Untuk apa?"
"Sikapmu itu menunjukan kalau kau cemburu hyung."
"Aku tidak cemburu, hanya saja kau harusnya ingat dengan ucapanmu tentang kau menyukaiku. Tapi sekarang kau malah asik dengan kencan buta?" ia berkacak pinggang.
"Aku ingat semua ucapanku padamu tentang aku yang mencintaimu."ralat yang lebih muda. "Tapi sepertinya kau yang lupa kalau kau sedang dalam masa meyakinkan perasaanmu padaku." Mati kutu. Baekhyun terdiam seketika ketika tubuh jangkung si adik bangkit dan berjalan ke arahnya. Memojokan yang lebih pendek pada pintu lemari dan mengurungnya dengan kedua lengan kekar miliknya.
Wajah Baekhyun menoleh ke samping saat wajah sang adik mendekat dan memandangnya lekat. Ia mulai gelisah karena detak jantungnya berdetak di atas rata-rata dan kerinat dingin mulai membanjiri pelipisnya. Udara di sekitarnya mendadak panas dan ia tidak bisa bernapas dengan normal.
"Jadi," mulainya. Baekhyun menelan ludahnya payah menunggu kalimat berikutnya terlontar dari bibir tebal si raksasa. "Hyungku ini mulai menyimpan perasaan padaku?"
"Tidak."
"Tatatap mataku dan katakana dengan jelas." Ia menantang yang lebih tua dan taunya Baekhyun mempertemukan kedua manik coklat gelap mereka. Menatapnya tajam walau ia tidak yakin akan mengatakan dengan benar tentang apa yang ia katakana sebelumnya. Ia menelan ludahnya lagi, membuat tengorokannya naik turun dengan kentara.
"Aku…" gugup.
"Aku.. tidak…"menelan ludahnya lagi.
"Tidak…" satu bulir keringat turub dari pelipisnya.
"Tidak apa?"goda yang lebih tinggi seraya mendekati wajah yang lebih pendek. Baekhyun menggerakan matanya gelisah, ia seakan tidak bisa meneruskan kata-katanya yang tinggal sedikit lagi itu.
Merasa iba dengan si kecil yang merasa terpojok, Chanyeol menjauhkan tubuh mereka dan kembali duduk di atas ranjangnya. Baekhyun menarik udara banyak-banyak dan mengelus dadanya yang terasa sesak sedari tadi.
"Kembalilah ke kamarmu. Aku tau kau lelah menungguku di sini dan belum makan malam kan?" mata sipit sang kakak membola. Ia manatap tak percaya pada sosok itu. Dari mana ia tau ia belum makan malam? Pikirnya.
"Kembali ke kamarmu atau makanlah dulu. Aku sudah makan malam tadi." Pria itu kembali berucap dengan sebuah senyuman menawan. Baekhyun yang sempat terpesona menggelengkan kepalanya keras sebelum akhirnya meninggalkan kamar sang adik. Rencananya berhasil, setidaknya ia tau kalau kakaknya itu mulai menyukainya.
…
Pesta kebudayaan sekolah khusus pria itu di buka untuk umum. Ada banyak stan juga kegiatan yang di adakan tiap kelas di sekolah itu. Dari mulai rumah hantu, cafe juga beberapa pentas seni yang ditampilkan oleh penghuni sekolah.
Chanyeol tidak mengikuti kegiatan-kegiatan itu karena menurutnya ada banyk hal yang bisa ia lkukan selain bertingkah bodoh dengan koatum aneh dan melayani tamu yang tidak ia kenal.
Tigasnya hanya berkeliling, mengecek setiap kegiatan kelas yang sudah di ubah sedemikian rupa untuk mencuri perhatian pengunjung. Ada banyak gadis dari sekolahan lain yang berkunjung. Pemandangan yang tidak biasa sebenarnya tapi ia hanya menyukai hyungnya jadi mahluk-mahluk dengan rok mini itu tidak termasuk pada minatnya saat ini. Atau bahkan selamanya.
"Kau mengundang hyung untuk datang?" itu Chanlie dengan berbagai macam atribut di tangannya. Si kembar itu hanya menggeleng karena memang ia tidak mengundang Baekhyun untuk datang. Sebodoh apa dirinya mengajak pujaan hatinya datang dan bertemu si pemangsa ganas yang ada di sekolahnya.
"Tapi aku melihatnya berjalan bersama Sehun sunbae di tempat bazar." mata besar itu membola. Ia langsung berlari ke luar gedung sekolah untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan.
.
.
Ada banyak orang di sana dan akan menjadi hal yang sulit menemukan dua orang. Ia bersyukur karena memiliki tubuh jangkung yang bisa dengan mudah melihat sekeliling di kala banyak orang yang berkerumun. Halaman luar sekolah mereka sudah di sulap menjadi bazar ramai dengan banyak atraksi juga orang-orang yang berjualan.
Matanya dengan jeli melihat sekeliling dan saat sosok pria bertubuh ramping itu berjalan di sektar stan mainan, ia menerobos kerumunan orang yang berdesakan memenuhi jalan. Bergerak cepat untuk mendekati pria itu tapi langkahnya terhenti ketika seorang berkulit pucat dan bertubuh tinggi menepuk pundak si kecil yang lalu menoleh dan tersenyum pada pria lain.
Pemandangan yang membuat hatinya sakit. Pasalnya sang kakak tidak pernah tersenyum setulus itu padanya. Walau mereka sudah bernaikan, tapi obrolan mereka tak pernah membuat yang lebih tua tersenyum dan membelai wajahnya seperti apa yang ia lakukan pada si ketua OSIS itu.
Ia kembali takut kalau sang kakak tidak akan melihatnya dan memilih pria lain. Ia belum siap melihat pria yang ia cintai berada di pelukan orang lain. Dan melihat lah ini menjadi bukti kalau benar-benar tidak bisa menghadapai hal ini.
Apa ia harus menjadi pengecut dan pergi? Atau ia harus merebuat apa yang seharusnya menjadi miliknya? Namun tubuh itu hanya diam membeku di tengah keramaian pesta kebudayaan itu.
.
.
.
TBC
Hai-hai,, ada yang rindu ff ini? hehehe….
Aku usahain ini ff upnya cepet dang a akan aku buat panjang. Jadi paling 5 atau 6 chapter beres… so
Buat yang nungguin ini ff bakal beres dengan depet seperti ff aslinya cuman aku perpanjang beberapa
cepter…
balesin review
eun810 :aku chanbaek kok sama hunhan shipper,, klo itu aku cuman ga sengaja ngetik aja wkwkwkwk dia ga numpang lewat cuman aku bingung aka cara dia deketin baekhyun gmn soalnya kan aku rombak dari ff asli yang aku buat dulu heheh..
batagor: ini apapulah lg nama akunya wkwkwkwk.. hayo deketin siapa? Wkwkwkwk
lee da rii : ini di lanjut
makasih yah buat yang udah review… met ketemu di chapter berikutnya :))
