Boys Love, DLDR
Mingyu X Wonwoo
Typo, un-edited
Mingyu P.O.V
Cuaca pagi ini begitu dingin, aku masih terlelap bergelung dalam hangatnya selimut, ketika ponselku berbunyi menandakan adanya panggilan masuk. Astaga siapa yang menghubungiku jam segini.?! Aku masih sangat mengantuk dan ketika aku berusaha membuka mata, benar saja hari masih gelap. Dalam keadaan setengah tidur aku berusaha meraih dan menjawab panggilan masuk ke ponselku.
"Yeoboseyo" aku menjawab telfon dengan suara serak.
"Ming…hhmm… Minggyuu-yahhhh..!"
Ini suara Wonwoo Hyung, mengapa dia terdengar seperti orang kesakitan. Aku bangkit dari posisi tidurku sembari mengucek mata,
"Wonwoo Hyung..? A-ada Apa..?"
Aku bertanya dengan nada khawatir.
"Bi…bisakah kau ke a..apartemenku sekarang..? Pe…Perutku rasanya mulas sekali..Shhh"
Bisa kudengar suara ringisan Wonwoo hyung yang terdengar begitu kesakitan.
"Tunggu disitu hyung, aku segera ke sana."
Aku segera bangun dari tempat tidur, mengambil kunci mobil dan hoodie yang tergeletak di meja belajar dan memakainya sambil berlari menuju garasi. Sungguh aku sangat panik sekarang. Memikirkan Wonwoo hyung kesakitan seorang diri di apartemennya membuat berbagai macam pikiran negatif bermunculan dikepalaku. Aku memacu kendaraanku dengan kencang, untung saja hari masih pagi, sehingga suasana jalan masih lengang.
Aku sangat khawatir dengan keadaan Wonwoo hyung. Aku teringat dulu pernah menemukannya dalam kondisi terbaling lemas di apartemen sewaktu ia baru saja menjadi mahasiswa. Saat itu Wonwoo hyung melewatkan sarapan dan hanya makan cup ramyun untuk makan siang dan makan malamnya. Ketika diperiksa oleh dokter, ternyata maag Wonwoo hyung yang memang sudah cukup parah kambuh. Sejak itu aku akan selalu mengirimkan pesan singkat sekedar untuk mengingatkannya makan jika dia sedang tidak bersamaku. Terkadang aku mungkin terlihat seperti ibunya, karena sering sekali mengomeli kekasihku itu jika dia mulai terlalu sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang berujung dengan mengabaikan kesehatannya.
Sepanjang perjalanan aku merutuki diriku sendiri. Kemarin sepanjang hari aku sengaja tidak menghubungi Wonwoo hyung. Bukan apa-apa, hanya saja setelah kejadian kemarin emosiku masih belum stabil, aku takut jika nanti apa yang kuucapkan memancing pertengkaran diantara kami. Selain itu juga, aku berpikir mungkin dengan tidak berhubungan selama beberapa hari, akan memberikan waktu bagi kami berdua untuk dapat berfikir dan merenungkan masalah ini secara lebih baik.
Aku tidak menduga akan menjadi seperti ini. Wonwoo hyung terkadang memang ceroboh, terutama dalam menjaga kesehatannya sendiri. Sifatnya yang suka makan makanan instan, ditambah kecintaannya terhadap kopi dengan kondisi fisiknya yang memang sudah memiliki gangguan pencernaan itu sejak lama itu seringkali membuatku khawatir. Arghh… aku benar-benar menyesal mengabaikannya kemarin.
Perjalanan menuju apartemen Wonwoo hyung yang biasanya membutuhkan waktu 30 menit kali ini berhasil kutempuh dalam 15 menit saja. Sesampainya di komplek apartemen Wonwoo hyung dan memakirkan mobil, aku bergegas berlari menuju lantai 5, lantai dimana Wonwoo hyung berada. Aku memasukkan kode pin apartemen Wonwoo dengan tergesa-gesa. Setelah pintu terbuka aku langsung masuk dan menuju kamar Wonwoo hyung. Kulihat ia disana, di atas kasur dengan posisi fetus dengan kedua tangan memegangi perutnya. Suara ringisan masih terdengar pelan di kamar itu. Aku menghampirinya dengan cepat. Ya Tuhan…Wajahnya begitu pucat, keringat dingin memenuhi wajah dan lehernya. Ia terlihat sangat kesakitan. Sungguh, aku tidak tega melihat Wonwoo hyung seperti ini.
"Hyung, apa yang terjadi padamu hmm?" aku bertanya cemas. Tanganku mengusap surainya lembut.
"Ming…Mingyu… Pe-perutku.. Perutku melilit… Hummph... rasanya perih sekali " kulihat bulir airmata kecil mengalir di sudut matanya. Pasti sangat menyakitkan pikirku.
"Tahan sebentar ya Hyung" ucapku sambil menggenggam tangan Wonwoo hyung.
Segera aku menelepon Dokter Han, dokter yang dulu memeriksa Wonwoo Hyung ketika hal serupa terjadi. Aku pun memberitahukan kondisi Wonwoo hyung melalui telepon. Untungnya Dokter Han bekerja di salah satu Rumah Sakit yang dekat dari sini, sehingga ia bisa tiba kurang dari 10 menit. Saat ini aku berdiri di sisi ranjang sembari menunggui Dokter Han memeriksa Wonwoo Hyung.
Author P.O.V
"Sama seperti dulu Mingyu-yah. Sepertinya Wonwoo melewatkan jam makannya, selain itu mungkin dia juga mengkonsumsi makanan pedas atau terlalu banyak mengkonsumsi kopi sehingga asam lambungnya naik, dan menyebabkan maagnya kambuh." Ujar dokter Han, setelah memeriksa Wonwoo
"Apa yang harus aku lakukan dok..?" Mingyu menatap dokter muda itu dengan wajah bingung.
"Aku akan berikan beberapa obat untuk penyakitnya, namun pastikan Wonwoo makan sesuatu terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi obatnya" Dokter Han berkata seraya memberikan bungkusan obat kepada Mingyu
"Ingat, bahwa Wonwoo belum boleh memakan makanan yang pedas dan asam untuk sementara waktu"
"Baik dok, aku mengerti, terima kasih" Mingyu bicara sambil membungkukkan badannya
Setelah mengantarkan dokter Han sampai pintu depan, Mingyu menuju dapur, berusaha mencari botol kosong, kemudian ia isi botol tersebut dengan air hangat. Mingyu kembali masuk ke kamar melihat Wonwoo yang masih kesakitan memegangi perutnya.
"Aku akan memasakkan sesuatu untukmu hyung. Sementara itu tahan botol ini diperutmu, mungkin akan membantu mengurangi rasa sakitnya… Tunggu sebentar ya hyung" Mingyu berbicara lembut sambil mengusap keringat di dahi Wonwoo dengan handuk kecil sebelum beranjak ke dapur.
Sesampainya di dapur, Mingyu membuka kulkas. Berusaha mencari bahan makanan yang bisa ia gunakan, tapi yang tersedia hanya beberapa kaleng dada ayam olahan, beberapa botol jus buah dan susu. Mingyu memutuskan membuat bubur ayam, karena hanya itu yang bisa ia buat dengan bahan yang tersedia. Setelah sekitar 15 menit, bubur pun siap dan Mingyu membawa semangkuk bubur hangat ke kamar Wonwoo.
Dilihatnya kekasihnya itu masih terbaring lemah, dengan tangan kiri masih memegangi botol yang diberikan Mingyu tadi.
"Hyung, ayo makan dulu" Mingyu berkata lembut.
Wonwoo membuka matanya pelan menatap Mingyu, Mingyu meletakkan mangkuk di nakas untuk membantu Wonwoo duduk di kasur.
"Jaa.. Ayo makan dulu hyung, agar kau bisa minum obat." Mingyu menyendokkan sesuap bubur, dan ditiupnya beberapa kali, sebelum menyuapkannya kepada Wonwoo.
"Bagaimana..? Enak tidak..?" Wonwoo hanya mengangguk pelan sembari mengunyah bubur
Sebenarnya Mingyu sangat pandai memasak, sehingga masakan apapun yang dibuatnya akan terasa enak. Mingyu kembali menyuapkan bubur tadi kepada Wonwoo. Setelah hampir setengah mangkuk bubur itu habis, Wonwoo meminta Mingyu berhenti, karena ia sudah kenyang. Mingyu tahu bahwa Wonwoo memang tidak bisa makan dalam jumlah banyak dengan kondisinya saat ini. Mingyu meletakkan mangkuk bubur, lalu menyodorkan gelas air putih kepada Wonwoo. Mingyu lalu menyiapkan obat dan dengan sabar menunggui kekasihnya itu selesai meminum obatnya.
Setelah Wonwoo selesai, Mingyu membantu Wonwoo untuk kembali berbaring, lalu menutupi tubuh Wonwoo dengan selimut, meminta Wonwoo untuk mencoba tidur kembali. Mingyu baru saja bangkit dari sisi ranjang, berniat kembali ke dapur untuk membereskan peralatan memasak yang ia gunakan tadi, ketika tangan Wonwoo menggenggam lengannya lemah.
"Jangan pergi Gyu, temani aku disini." Dengan nada lemah Wonwoo bicara dengan mata sayunya sambil menatap Mingyu
"Aku hanya akan membereskan ini sebentar hyung, setelah itu aku akan kembali, Eoh..?"
Wonwoo menggeleng,
"Tidak mau, nanti saja cuci piringnya ya.." Wonwoo berucap lirih
Mingyu menyerah, kembali Ia duduk disisi ranjang, ketika Wonwoo membuka sebagian selimut yang menutupi tubuhnya, dan menepuk sisi kosong di ranjangnya sambil tetap menatap Mingyu.
"Temani aku sampai aku tertidur ya…?" Wonwoo berkata sambil memberikan puppy eyes dengan mata sipitnya, membuat Mingyu tertegun.
Mingyu mengerti apa maksud Wonwoo, hanya saja ini pertama kalinya Wonwoo bersikap manja seperti ini. Mingyu terdiam beberapa saat seakan tidak percaya Wonwoo bisa bersikap begitu menggemaskan. Jika saja Wonwoo sedang tidak sakit, mungkin Mingyu sudah menggodanya sampai pipinya memerah dan berakhir dengan Wonwoo yang memukuli Mingyu karena kesal bercampur malu.
Suara lembut Wonwoo yang memanggil namanya, menyadarkan Mingyu dari lamunan singkatnya. Mingyu pun menuruti keinginan Wonwoo. Ia masuk ke dalam selimut dan berbaring di sebelah Wonwoo, lengan kirinya ia jadikan sebagai bantal, kemudian menarik kekasihnya itu ke dalam dekapannya, memeluknya lembut.
Tangan kirinya mengelus surai hitam Wonwoo perlahan, sedangkan tangan kanannya mengusap perut Wonwoo lembut, berharap dapat membantu mengurangi rasa sakit di perut kekasihnya itu. Wonwoo meletakkan kepalanya di antara ceruk leher Mingyu. Tangan kirinya memeluk pinggang Mingyu erat. Wonwoo tidak tahu apa yang merasukinya hingga ia bersikap seperti ini. Yang ia tahu, ia hanya ingin Mingyu menemaninya, memastikan Mingyu akan selalu ada di sisinya hingga saat dia bangun nanti.
Elusan lembut dikepala Wonwoo, membuatnya mengantuk. Perlahan-lahan Wonwoo mulai terlelap, deru nafasnya yang teratur menandakan dirinya sudah tertidur pulas. Mingyu yang sedari tadi berbaring bersama Wonwoo juga ikut mengantuk. Terbangun terlalu pagi karena telepon dari kekasihnya yang tengah sakit ini membuat Mingyu kehilangan beberapa jam tidurnya yang berharga. Beberapa saat setelah Wonwoo tertidur, Mingyu pun akhirnya mulai terlelap perlahan. Namun ketika baru akan terlelap, Mingyu mendengar Wonwoo mengigau dengan suara lemah.
"Mingyu-yah, Mianhae. Maafkan aku…Jangan acuhkan aku lagi…eummm..?" kemudian terdengar isakan kecil dari bibir Wonwoo. Beberapa saat kemudian, nafas Wonwoo kembali teratur, menandakan dirinya sudah kembali tertidur. Suara imut Wonwoo yang sedang mengigau, ditambah dengan kalimat permohonan maaf Wonwoo yang begitu menggemaskan, membuat senyuman kecil menghiasi bibir Mingyu. Mingyu mengecup kening Wonwoo lembut, kemudian meng-eratkan pelukannya, menarik Wonwoo lebih dekat ke dalam dekapannya, sebelum ia pun ikut tertidur pulas.
Mingyu P.O.V
Aku terbangun dengan mendapati diriku tengah memeluk Wonwoo hyung erat. Wajah damainya yang sedang tidur terlihat sungguh menggemaskan. Kulihat jam di samping nakas, menunjukkan pukul 9 pagi, aku tertidur sekitar 1 jam rupanya. Perlahan aku berusaha melepaskan pelukan Wonwoo hyung di pingganggku, dan bangkit perlahan dari kasur, berusaha untuk tidak membangunkan kekasih emo ku ini. Aku menyelimutinya kembali, sebelum beranjak membawa mangkuk dan gelas ke dapur, bermaksud membereskan peralatan masak yang tadi kugunakan.
Setelah membereskan urusanku di dapur, Aku merasa gerah dan memutuskan untuk mandi. Aku mengambil satu kaos oblong biru dan celana basket di lemari Wonwoo hyung untuk aku kenakan, karena aku tidak membawa pakaian ganti. Untunglah postur tubuh Wonwoo hyung hampir sama denganku jadi aku bisa meminjam pakaiannya, meski tubuhnya terlalu kurus jika dibandingkan denganku. Aku kembali masuk ke kamar, dan ternyata Wonwoo hyung masih terlelap. Aku berniat untuk duduk disisi kasur, menemani Wonwoo hyung, ketika aku melewati meja belajar Wonwoo hyung, dan mataku tertuju pada sebuah amplop biru dengan namaku tertulis di bagian depannya.
"Apa ini..?" Pikirku dalam hati, sebelum aku membuka amplop tersebut dan mendapatkan dua lembar kertas berisi tulisan tangan Wonwoo Hyung.
.
.
.
.
to be continue….
Halo dear readers…
Isi suratnya di next chapter yah…hehe
Makasih buat yang masih meluangkan waktu buat baca fanfic gaje ini.
Makasih banyak juga buat yang terus ngasih review, bikin author semangat buat update ff ini.
Tetep Read and Reviews yah.
Kalo ada saran/request baik buat ceritanya atau cara penulisannya silahkan disampaikan.
Happy reading ….^_^
