Disclaimer: DEMI TUHAAAAN! Gundam Seed/Destiny bukan milik Saya! . Love in Trattoria milik Washio Mie.

Pairing: Athrun dan Cagalli foreva!

Warning: AU, sangat OOC sekali, Typo(s) bertebaran di mana - mana, Un-Beta-Ed, non-EYD, sudah pasti ketebak alurnya kemana, sedikit percakapan dewasa, bahasa gaul tapi gj.

This fic is mere fiction. If there's a similarity or resemblance of the situation and the story with another or other story fic form it is not intentional.

A/N: Orb adalah salah satu kota di Jepang. Maaf atas keterlambatan meng-update fic ini. *bow*

Enjoy then~

Summary: Kira dan Cagalli Hibiki, kakak-beradik yatim piatu, membuka sebuah restoran, yang parahnya sedang mengalami krisis keuangan. Suatu hari Kira menolong pemuda yang hampir mati kedinginan karena hujan di depan restorannya, tak di sangka ternyata sang pemuda tampan tersebut jago memasak. Masalahnya adalah sang pemuda dan Cagalli seperti bulan dan matahari, siang dan malam, kucing dan anjing, hitam dan putih. Dapatkan mereka menjalankan restoran tersebut dengan damai.

Genre: Romance, Humor, Family, Friendship.

Rating: T+


Narita International Airport.

Tanpa melepaskan kacamata dark pink Channel-nya, mata sapphire-nya yang indah masih mencari sosok yang familiar baginya.

Hanya diam di tempat selama dua menit saja, gadis bersurai pink tersebut sudah banyak menarik perhatian orang-orang yang secara sengaja atau tak sengaja memandangnya.

Samar-samar terdengar suara seperti, "Cantiknya," "Wow," "Anggun benar!", "Artis kah?," "Siapa dia?," yang ditanggapinya ramah dengan senyuman.

Akhirnya pencariannya berbuah hasil. Seorang lelaki berambut merah berkulit gelap tengah melambaikan tangannya.

Senyum gadis itu kembali mengembang dan ia membalas dengan lambaian kecil seraya berjalan ke arah laki-laki tersebut.

Sang pria segera berlari kecil menghampiri gadis berparas cantik itu.

"M-maaf... A-ada kecelakaan... J-jadi... Sedikit macet." Katanya tersengal-sengal sambil menundukkan kepala memberi salam pada gadis berambut merah muda itu.

Sang gadis kembali tersenyum, "Tidak apa-apa Dacosta-san, aku juga baru sampai." Bukan hanya wajahnya saja yang cantik suaranya juga begitu merdu.

Pria yang diketahui bernama Martin Dacosta itupun hanya menunduk malu. "B-biar saya bawa barang anda nona." Ujarnya lalu membawa koper dan sebuah tas kecil limited edition milik gadis itu.

"Dacosta-san?"

"I-iya nona?"

"Sebelum pulang ada tempat yang ingin kukunjungi terlebih dahulu." Ujar gadis ini lembut.

Martin menunjukkan ekspresi kebingungan, "K-kemana nona? T-tapi Siegel-sama sud -"

"Ayah pasti mengerti. Tolong ya..." Potong pemilik angelic voice itu sedikit memohon.

Ia menghela napas kecil. Martin jadi tak enak hati menolaknya. Kalau majikan ini berkata demikian, apa boleh buat, dia harus melaksanakannya.

Dia membalas dengan anggukan kepala sekali, lalu bertanya, "Kemana kita akan pergi Lacus-sama?"

"Kediaman Zala... Aku ingin bertemu Athrun."


Leggi Alba

.

.
.

Story 4: Silent Plea


"Ah... Sial... Habis!" Kira menggerutu dan sedikit mengumpat karena bahan makanan yang benar-benar di butuhkannya raib alias habis.

Pria beriris amethyst ini pun menanggalkan celemeknya. Ditengoknya pria dibelakangnya.

"Nee... Alex-kun, maaf ku tinggal ke minimarket dulu, kita kehabisan parsley, keju riccota dan farfale." [1]

Alex mengangkat alisnya, tak lama ia mengangguk kecil menjawab Kira.

Kira tersenyum kecil lalu beranjak meninggalkan dapur. Tiba-tiba saja Alex teringat sesuatu. Dihentikannya acara mengatur bahan makanan di pantry.

"Kira-san..." Alex memanggilnya.

Kira menoleh, "Ya?"

"Bisa titip sesuatu."

Kira mengangkat satu alisnya lalu mengangguk sekali, senyumnya juga tak pernah lepas dari wajah manisnya, "Tentu."

Kira memiringkan kepalanya heran melihat Alex menuliskan sesuatu pada kertas putih, menyobeknya lalu memberikan pada Kira.

Kira membaca sejenak, apa saja titipan Alex tersebut.

Dalam hati Kira berdoa semoga Alex tidak titip barang yang aneh-aneh, dalam jumlah banyak (letak minimarket 'kan jauh bisa-bisa dia langsung jadi binaraga gara-gara angkat beban berat), mahal (sebenarnya ini alasan utama Kira karena persediaan uang di celengan pink piggie-nya sudah menipis) apalagi kelewat langka (seperti solar, minyak tanah atau minyak bumi, mau cari di mana dia, masak harus menyelam dulu ke laut Indonesia)

Kira menghela napas lega setelah membaca note dari Alex yang isinya ternyata beberapa bahan makanan yang memang diperlukan restoran. Tapi ada yang mengganjal dari dua barang titipan Alex yang terakhir. Dua pesanan itu bukan bahan masakan.

'Conditioner rambut dan pakaian...?' Pikir Kira bertanya-tanya. 'Apa ada makanan berbahan dasar dua item tersebut? Makanan apa itu? Kalau di suruh mencicipi, aku harus bilang apa padanya? Tidak sopan kalau menolak tapi...' Seraya larut dalam pemikiran anehnya, Alex menaikkan satu alisnya.

"A-anoo... Alex-kun yang dua ini, a-apa ya? Yang paling bawah sendiri?" Tanya Kira ragu sambil memperlihatkan catatan yang Alex berikan.

Alex mendekat dan memperhatikan arah jari telunjuk Kira. Setelah ber'o'ria, pemuda tampan itupun menjawab santai, "Ah itu, untuk seseorang... jika kau tak keberatan."

Mata amethyst Kira sedikit membulat. "Siapa?" Kira bertanya pada pemuda berambut navy blue itu.

Tanpa Kira sadari seringai tipis muncul pada wajah pemuda bermata emerald yang flawless itu. "Nanti kau juga tau," jawabnya singkat.

Giliran Kira kali ini yang ber'o'ria dengan sedikit penasaran meninggalkan Alex ke tempat tante-tante, maksudnya, minimarket langganannya.


"Hasil ujian kali ini akan saya bagikan besok. Selamat Siang." Ucap seorang Sensei berambut hitam seraya meninggalkan ruang kelas.

"Selamat siang Bu..." Balas semua siswa di ruangan itu kompak dengan nada malas sedikit menggerutu, tidak ikhlas bahkan ada yang hanya mangap-mangap saja.

Mengapa? Karena guru yang dikenal killer bernama Natarle itu mengadakan ujian secara mendadak, membuat hampir semua siswa terkejut setengah mati. Bisa di tebak wajah-wajah tak enak di pandang berterbaran ke seluruh ruang.

Tak perlu menunggu malam Jum'at Kliwon jika ingin melihat hal-hal yang menakutkan di sekolah ini. Cukup sediakan guru killer di tambah matematika ditambah ujian dadakan bin ruwet sama dengan muka suram nan angker para siswa.

Termasuk si quartet sahabat itu yang sepertinya terpesona eh... terpaku dengan ujian tadi. Untungnya, setelah ujian yang tak diharapkan itu adalah jam istirahat makan siang.

Hampir semua siswa memilih meninggalkan kelas untuk menghirup udara kebebasan sejenak.

"Arrrrghhh! Kepalaku mau pecah!" Ujar Cagalli kesal sambil mengacak-acak rambut blonde-nya.

"Nightmare." Luna mengeluh memijit-mijit pelipisnya lelah.

"Mati deh..." Meer membenturkan kepalanya di meja.

"Menyedihkan." Keluh Cagalli menerawang hasil ujiannya nanti

"Sungguh tega." Luna mendesah kesal pada Sensei-nya.

"..." Tak ada sahutan dari Meer. Karena dia sudah tew- ehem... maksudnya ia sudah kehabisan tenaga akibat ujian menguras pikiran tadi.

Sebenarnya tidak berpikir juga, Meer terlalu terpana dengan deretan angka berpangkat-pangkat, huruf x dan y di mana-mana belum lagi kata-kata aneh macam con, sin, dan tan, dsb.

Maka dari itu ia menutup matanya, memutuskan dengan bijaksana dan penuh keadilan dalam menjawab soal mutiple choice itu.

Tunggu sebentar! Lalu di mana Milly, gaung suaranya belum terdengar sama sekali. Ternyata, Milly hanya memandang heran ketiga perilaku ketiga temannya itu.

"Ayolah guys! Ini bukan akhir dunia!" Milly mencoba menghibur sahabatnya.

Sontak, ketiga gadis itu memberinya death glare level tiga yang konon dapat membuat es di kutub utara meleleh, Milly membalasnya dengan cengiran.

Diantara keempatnya, Milly bisa di bilang paling encer otaknya terbukti dengan seringnya si gadis berambut coklat itu langganan masuk peringkat 20 besar di sekolah.

"Aku butuh makan!" Cagalli teriak frustasi, tenaganya terkuras habis untuk berfikir.

"Aku butuh refreshing!" Luna ikutan mengeluh.

"Aku butuh Auel!" Meer tak mau kalah, cuma kebutuhan si rambut hitam ini terbilang unik atau bisa dikatakan nyleneh.

Milly menggelengkan kepalanya, dia harus segera mengubah topik kalau tidak selama seharian penuh bakal mendengar keluhan tidak jelas mereka "Gals, weekend ini kita ada rencana apa?"

Sontak ketiga gadis itu menoleh ke arah sumber suara dan merapatkan barisan, "Aku tak ada rencana apapun." Luna menjawab.

"Inginnya sih shopping~" Meer menjawab santai.

Milly mengangguk-angguk kecil mendengar jawaban mereka, tapi satu suara belum ia dengar. Si blonde aka Cagalli belum menjawab pertanyaannya.

Milly memalingkan pandangannya pada si kepala pirang itu, Cagalli menaikkan satu alisnya, setelah beberapa detik ia akhirnya mampu menangkap maksud dari pandangan Milly. "Oh... Kalau aku..." ia mengangkat satu tangannya di bawah dagunya seolah berpikir keras, "Mungkin... Mau tidur saja, sebelum kerja di tempat Luna!"

Meer memberikan Cagalli gak-asik-banget glare yang tidak dipedulikan oleh si pirang.

"Kau tidak membantu Kira-nii?" Luna bertanya.

Wajah Cagalli mendadak berubah menjadi serius, seserius saat mengerjakan ujian sesaat tadi yang sebenarnya ia jawab apa kata tangannya bukan kepalanya. "Aku mau tapi..." Cagalli tak langsung melanjutkan peryataannya. Ia menggembungkan pipinya kesal, "Ada Gojira sialan di restoran kami!"

Lagi-lagi ketiganya bertemu pandang.

'Gojira!?' pikir mereka bersama-sama.

"Nee... Cagz, bukannya T-rex!?" tanya Meer di sambut antusias oleh yang lain.

Cagalli mengerutkan alisnya, "Hmm, sama saja 'kan!? Sama-sama buas, mengerikan dan menyebalkan." Jawabnya dengan nada kesal.

'Sebenarnya makhluk macam apa yang ada di rumah Cagalli?' Batin Luna sambil ber-sweatdrop-ria.

Milly pun tak kalah berfantasi ria seperti Luna, 'Penasaran... Orang macam apa si t-rex ini?'

"Heh!? Kira-ku~ dalam bahaya!? Aku harus bertindak!" Meer tiba-tiba bangkit dari kursinya.

Milly menanggapi bosan perilaku Meer yang kelewat lebay itu. "Lalu kau mau apa? Cagalli saja tidak melakukan apa-apa!? Berarti Kira-nii masih utuh lahir batin!"

Mendengar celotehan Milly tiada tara, Meer pun duduk kembali dengan tak lupa memberi Milly tatapan mematikan ala racun kobra.

"Haaah~" Cagalli mendesah panjang, "Kalau aku Superman sudah aku laser dia dengan mataku, kubuat dia menjadi mumi dengan kekuatan jaring laba-laba Spiderman, kuremukkan dia berkeping-keping dengan kekuatan Hulk dan terakhir kusetrum dia dengan 10.000 megawatt punya Pikachu." Ujarnya menggebu-gebu dengan semangat '45 ala Bung Tomo.

Sweatdrop sebesar bola sepak dan rahang mulut menganga menghiasi wajah para gadis itu.

Ternyata Gojira tersebut mampu membuat kesal si gadis bermahkota pirang itu tapi tak pelak menghilangkan rasa penasaran, sebenarnya seberapa menyeramkan dan menyebalkan orang yang sebegitu di benci oleh Cagalli.

"Baiklah... Sudah di putuskan!" mendadak Luna menepukkan tangannya sekali.

"Apa?" Meer bertanya pada si rambut magenta itu.

Yang lain pun tak kalah penasaran.

"Weekend ini, sebelum Cagalli kerja part time, Bagaimana kalau kita ke rumah Cagalli? Hitung-hitung membantu Kak Kira." Ucapnya ceria dan di sambut dengan anggukkan antusias Milly dan Meer, dimana di mata mereka nampak bintang-bintang kecil berkelip-kelip.

"Dan jika kita berhasil maka Kira-nii bisa menendang pantat kadal besar itu keluar dari rumahmu Cagz!" Milly ikut-ikutan memberi saran.

Batin Cagalli menjerit mendengar usul Luna dan Milly, 'What the hell!'

"Bagaimana Cagz?" seketika itu pula mata ketiga gadis mengarah pada mata amber Cagalli yang sekarang ber-sweatdrop-ria.

"Err..." Cagalli bingung menjawab apa dan lagi mereka sudah memasang puppy eyes no jutsu yang membuat Cagalli tidak tega melihat tatapan ngenes mereka.

'Kalau mereka melihat Alex, bisa-bisa fansgirl mode mereka keluar? Wajah Alex 'kan tam -ehem- agak di atas rata-rata.' Cagalli berpikir sejenak, 'Bisa-bisa mereka malah merepotkan aku dan Kira-nii. Tapi usul mereka boleh juga meski aku sangat nggak yakin. Paling-paling mereka mau menggoda Kira-nii!'

Cagalli menghela napas panjang, "Baiklah..." ia menyerah mengabulkan permintaan sahabatnya. "Tapi kalian jangan heboh ya?" Cagalli mengingatkan mereka dan membuat mereka heran dengan peringatan yang tidak terlalu jelas itu.

Tentu saja keputusan Cagalli di sambut gembira oleh ketiganya. Dan kalau bisa Meer ingin sekali menyalakan kembang api ala tahun baru serta tebar bunga ala festival melihat bunga sakura demi menyambut pertemuannya dengan Kira.


Meanwhile... Back to the boys! Kedua cowok tampan itu masih bergeliat sibuk di restoran sejak matahari nongolin sinarnya ke bumi.

Walaupun mereka menyibukkan diri semenjak pagi tentu saja mereka tak lupa mandi dan gosok gigi plus menaburkan bedak bb dan cologne untuk penunjang tampilan mereka. Secara sedari tadi berkutat dengan api yang equal panas dan gerah. Walaupun peluh menyelimuti mereka, tak melunturkan ketampanan dan keharuman wangi tubuh mereka.

Back to main topic. Tampaknya mereka sedang sibuk membicarakan sesuatu, tanpa menyadari sesosok manusia telah memasuki wilayah mereka.

"Tadaima." Teriak Cagalli sambil membuka pintu restoran itu sehabis kerja rodi (baca: part time) di rumah Luna.

Tapi tak ada yang menjawab sapaannya itu. Sehabis menutup pintu, ia tak lanjut beranjak. Sedikit terheran karena biasanya, sesibuk apapun Kira selalu berusaha membalas salamnya.

Cagalli mendengar sedikit suara gemerisik dari arah dapur. Segera saja ia melangkahkan kakinya ke sumber suara tersebut.

Dari depan pintu dapur ia melihat dua pemuda sedang asyik mendiskusikan sesuatu dengan memunggungi Cagalli.

Cagalli mengerucutkan bibirnya sampai lima seperempat senti kurang sedikit, akhirnya dia menemukan si culprit yang membuat sang kakak tak menyambutnya.

'Gara-gara Gojira itu!' Gumamnya kesal memberikan tatapan menusuk pada pria berambut navy-blue itu.

"Tadaima..." Ucapnya sekali lagi dengan menipiskan mata coklat madu.

Hening!

Karena the boys masih bergelayut dengan obrolan serius mereka.

Cagalli menggembungkan pipinya. Ia mencoba sekali lagi, "Kira-nii, Aku pulang!"

Hening!

Muncul sudut siku di kepala si pirang. Suasana suram nan kelam kembali menyelimuti tubuh pemilik mata beriris amber itu.

Sesuram dan seangker wajah dan suasana hati Cagalli tak berimbas pada duet maut chef tampan di depannya. Mereka dengan wajah damai mengamati detail setiap masakan yang mereka buat dan letakkan di meja makan.


Ternyata benar pasangan -ehem- patner memasak tersebut benar-benar larut dalam dunianya sendiri, sampai tak menyadari kedatangan Cagalli.

"Wow... Kau memang hebat Alex-kun! Kalau begini jadi kelihatan enak. Boleh aku foto?" Ujar Kira mengamati benar perbedaan dua macam makanan yang serupa tapi tak sama yang diketahui bernama spaghetti alle vongole. [2]

Hasil masakan Kira disajikannya pada piring putih bundar seadanya dengan porsi dashyat ala kuli berbeda dengan tampilan dari Alex yang terlihat high class dengan porsi yang pas dan tepat.

"Pertama-tama, perbaiki penyajian yang berlebihan..." Alex dengan mimik serius memberikan Kira petunjuk.

Kira yang mengamati sambil mendengarkan Alex hanya bisa mengangguk-angguk sesekali menulis sesuatu di buku catatannya.

"Lalu ini juga kenapa semua seafood dimasukkan ke sini!" Walaupun dengan Kira, Alex berkata tegas jika itu sudah menyangkut masakan.

"Ini in rosso atau in bianco?" [3] Tanyanya lagi pada Kira.

Kira tak langsung menjawab tampak pemuda berambut coklat itu berpikir sejenak. "Aku rasa... Ehm... Rosso."

Alex menggelengkan kepala, membuat Kira sweatdrop. Alis Alex mengeryit, "Kenapa kau tambahkan tomatnya banyak sekali?"

"Heh!? Benarkah aku rasa itu cukup lagipula aku suka tomat. Semakin banyak tomat dan sayuran semakin baik dan tentu saja sehat." Jawabnya polos sepolos bayi baru lahir. Dan terdengar seperti mengkampanyekan hidup sehat pada seluruh dunia.

Alex menghela napas ringan. Sesungguhnya begitu banyak yang harus ia bantu perbaiki di restoran Hibiki.

"Kita perbaiki spageti Kira-san nanti untuk selanjutnya..." Alex memperhatikan beberapa macam makanan di meja untuk diperbincangkan lagi.

"Ini..." Seraya mengangkat salah satu piring dan ditunjukkan pada Kira, "...ravioli."

Dan bla-bla-bla...

Cagalli yang mengamati mereka berdua merasa gemas. Gemas karena mereka tak menjawab panggilannya, gemas pada Alex yang oh-I-am-so-perfect-chef pada Kira, gemas karena menghancurkan mood-nya, gemas untuk tidak mengkuliti dan memutilasi dua makhluk di depannya karena mereka mengacuhkannya.

Sampai kapan dia harus berdiri mematung layaknya patung 'selamat datang' ala Pancoran's version di depan pintu dapur begini.

Dia menghirup napas dalam-dalam kalau mungkin bisa, udara satu Jepang ia hisap semua, supaya si Gojira didepannya bisa mati kehabisan nafas.

"TADAIMA!" Cagalli setengah berteriak ralat berteriak sangat kencang, dan...

Berhasil!

Alex dan Kira tersentak. Kira tersedak ravioli yang baru dilahapnya, dengan buru-buru dia mengambil air minum dan meminumnya sekali teguk.

Alex menoleh ke pemilik suara pencabut nyawa tersebut (karena Kira hampir dibuat mati tersedak), menyipitkan matanya pada si pirang. "Hei rambut ijuk! Tidak bisakah kau berkata dengan sopan dan lembut."

Kira dengan muka yang masih memerah mencoba membuka suara untuk menghentikan (lagi) pertengkaran mereka.

Tapi suaranya masih parau dan lirih bahkan semut pun kesulitan mendengar sehingga meledaklah sudah amarah sang Lioness di sertai sfx raungan singa sebagai background-nya.

"# =*¥%#&!" Umpat Cagalli pada si Alex yang harus di sensor karena mengandung unsur kekerasan tingkat tinggi dan butuh bimbingan orang tua.

Setelah tiga setengah menit puas mengomel sampai nama-nama hewan di kebun binatang disebutkan semua akhirnya Cagalli berhenti karena kehabisan napas dan kehabisan nama hewan yang akan disebutkan.

Alex hanya memandang Cagalli, stoic. Ekspresinya datar cenderung bosan tanpa menanggalkan sisi cool-nya, menunggu Cagalli berhenti mengumpat tidak jelas.

"C-cagalli maaf, kami tak mendengarmu. Tapi..." Kira akhirnya bisa bicara juga, "Kau tak seharusnya bicara tidak sopan seperti itu. Masih ada kata-kata yang lebih baik dari itu 'kan?"

Entah karena efek tersedak atau apa, Kira tiba-tiba menjadi sangat bijaksana (Bapak-Bapak version mode on).

Pipi Cagalli sedikit merona akibat meluapkan kemarahannya tadi dan sedikit malu karena Kira menasehatinya.

Alex berjalan mendekati Cagalli yang masih sibuk menggerutu dan menggumamkan kata-kata yang tak terjangkau oleh para pria.

Tiba-tiba Alex mengcengkram bahu Cagalli, membuat si pirang mendongakkan kepalanya menatap Alex dengan ekspresi terkejut. Mata amber-nya membulat sempurna dan pipinya mulai terasa hangat.

"A-apa y-yang kau lakukan, D-dino?" Tanya Cagalli tergagap ria. Jantungnya berdetak di atas kecepatan normal.

Alex tak menjawab, malah menarik paksa Cagalli menuju kamar mandi, meninggalkan Kira terngaga-ria.


"A-pa yang kau lakukan! Hei Dino!" Cagalli menuntut penjelasan setelah mereka sampai di kamar mandi dan Alex melepaskan pegangannya, tapi Alex malah sibuk membuka pakaian chef putih itu.

Muka Cagalli benar-benar terbakar sekarang, ia langsung menutup ke mukanya dengan kedua tangannya.

"D-dasar h-hentai...!" Ia berteriak lantang.

"Buka matamu dan lihat siapa yang mesum?" Ucap Alex datar tanpa ekspresi berlebihan dan semuanya terlihat pas.

Cagalli membuka tangan dan matanya dengan slow motion. Dia lega sekaligus kecewa -ralat senang ternyata pria bermata emerald ini masih melapisi pakaian chef-nya dengan t-shirt sederhana berwarna biru muda.

Karena merasa malu, Cagalli hanya membalas tatapan bosan Alex dengan cengiran.

"Kau... Buka jasmu." Alex berkata seraya menunjuk jas sekolah milik Cagalli. Cengiran Cagalli hilang seketika digantikan rasa kaget.

Mata Cagalli membulat sempurna, tangannya secara reflek dan otomatis disilangkan menutup dadanya. Mukanya kembali memerah. Kembali Cagalli mengumpat tak jelas pada Alex.

Alex menghela nafas, menatap Cagalli tajam dengan mata emerald-nya. Tanpa di duga kepala Cagalli di dorong paksa ke arah wastafel.

Sesaat kemudian, Alex menyiram si rambut pirang dengan air secara paksa, "A-apa yang -"

"Mencuci rambutmu." Jawab Alex stoic.

'Mencuci rambutku? Rambutku sudah bersih, bodoh!' Teriak Cagalli dalam hati.

Ia ingin memberontak, menjilat -eh menjitak, berteriak, bahkan membunuh tapi anehnya dia tak memberontak malah pasrah menuruti Alex.

"Sudah kubilang 'kan, tomboi boleh saja, tapi setidaklah rawatlah rambutmu ini." Ujar Alex dengan suaranya yang ramah. Mungkin ini jugalah yang membuat Cagalli menghentikan pikiran untuk 'berkudeta'.

"Nggak ada hubungannya dengamu, Dino baka!" Ucap Cagalli. Terlihat Alex menuangkan cairan sampo ke telapak tangannya.

Setelah di rasa cukup, dia pun kembali mengutak-atik (baca: mencuci) rambut Cagalli.

"H-hei!" Ronta Cagalli.

Sedangkan Alex tak mengindahkan tetap meneruskan 'kegiatannya', seraya berucap, "Diam saja."

'Ugh... Aku kalah!' Batin Cagalli, pipinya kembali merona. Tak dipungkiri ia sedikit menikmati pijatan tangan Alex yang lembut. Sangat berbeda dengan mulutnya yang tajam.

Cagalli pun mulai terbuai dengan pikirannya.

'Ia juga tak mengerahkan semua tenaganya, berbeda saat menarik tanganku tadi. Rasanya...nyaman. Sungguh ajaib.'

'Perasaan ini... Sudah lama sekali. Perasaan ini mirip pada saat ibu mencuci rambutku dulu.'

'Walaupun sudah besar, terkadang ibu selalu memaksaku untuk mandi bersama. Haha... Kalau diingat lagi jadi kangen...'

Ia teringat masa lalu dengan keluarganya… saat masih utuh.

"Ca-chan sayang~ ayo kita mandi bersama~" Via Hibiki merayu si gadis pirang berusia delapan tahun di depannya.

"Eh!? I-ie...Aku 'kan sudah besar bu! Aku bisa sendiri!" Jawab Cagalli menolak mentah-mentah.

"Tapi... Ca-chan~ " rayu sang ibu sekali lagi.

Cagalli hanya menggelengkan kepalanya.

Cagalli menolak karena sehabis mereka mandi sang Ibu pasti memaksanya memakai baju ala maid atau lolitha atau princess-like plus dandanan aneh super menor.

Tapi Cagalli mengakui, cara Via mencucikan rambutnya, menggosok punggungnya, menyisir rambutnya terasa sangat lembut dan nyaman.

"Ca-chan~ kita bisa melakukan girl's talk." Rajuk sang Ibu.

Memutar bola matanya dan kembali, Cagalli menggelengkan kepalanya.

Kira membatin, 'Ibu 'kan sudah tidak girl lagi!' Bila Via mendengar isi hati Kira, bisa dipastikan Kira akan dikembalikan ke dalam perutnya lagi.

"Ayolah Cagalli turuti ibumu atau kita tidak di beri makan malam olehnya!" Ayah Cagalli, Ulen Hibiki kali ini ikut meramaikan proses merayu si bungsu.

"Kenapa Ayah ikut-ikutan! Kalau Ibu tak mau memasak... Ya Ayah saja! Ayah 'kan chef terkenal!" Balas Cagalli.

Si gadis hasil copy dari sang Ayah ini memang keras kepala.

Sang Ibu pun memasang jurus puppy eyes di wajahnya sang cantik pada Ulen dan Kira, agar ikut serta membujuk Cagalli lebih keras lagi.

Kira mendesah dan menggumam, "Kenapa aku di ikut sertakan sih!"

Ulen memberi Kira bantu-Ibumu-tersayang-atau-uang-jajanmu-hangus glare. Membuat Kira menelan ludah.

Kira kembali mendesah dan berkata setengah malas, setengah tidak ikhlas, setengah terpaksa, setengah berbisik dengan nada setengah oktaf, "Cagalli turuti saja, please. Demi kelangsungan hidup damaiku!"

Cagalli men-death-glare kakaknya itu, membuat Kira menutup rapat-rapat mulutnya. Sebelum uang jajan hangus, Ia akan mati di tangan Cagalli terlebih dahulu.

"Kenapa tidak kau saja Kak yang mandi bersama Ibu!" Cagalli menyeringai menunjuk Kira.

Mendengar perkataan Cagalli, Kira dan Ulen tersentak.

"A-apa! A-aku 'kan sudah besar!" Kilah Kira.

"Sama! Baka nii-chan!" Balas si gadis pirang.

Tiba-tiba saja, Via menepuk tangannya sekali dengan wajah riang kelewat polos, dia berujar, "Ah~ Ide bagus! Kenapa kita berempat tidak mandi bersama-sama saja? Nee~"

Ulen, Kira dan Cagalli terkejut bukan main-main. Mata mereka membulat sempurna. Sambil menatap horror pada Via yang masih tersenyum lembut versi malaikat, mereka serempak kompak bersama-sama menyeruakkan...

"TIIIIDDDDAAAAAAAAAAAAKKKKKK!"

Senyum Via menghilang menatap lembut anggota keluarganya, "Ara~ kenapa?"


"Oi."

Hening.

"Hei."

Masih tidak ada jawaban.

"Woi... Cewek!"

Mata Cagalli seketika terbuka dan terkejut. Tanpa sadar sekarang dia sudah duduk di depan cermin dengan rambut yang tertata rapi berbeda dengan sebelumnya.

Cagalli mengusap sedikit rambut pirang sebahunya itu. Pipinya juga ikut ber-blushing-ria.

'H-hebat... Lembut sekali...' Cagalli tak percaya rambut kasarnya bisa berubah menjadi sehalus sutra.

"L-lembut sekali D-dino-san." Ucap Cagalli masih sibuk memandang dirinya sendiri di cermin dengan nada terkesan dan takjub.

Rambut yang tadinya seperti bulu singa, menyeruak keluar dan berantakan di mana-mana menjadi sangat lurus dan tertata rapi. Sejenak deskripsi tadi seperti tatanan jalan raya dan kebun di tengah kota.

Alex tak mengomentari pernyataan Cagalli, dia memilih untuk membereskan peralatan yang digunakan untuk merapikan rambut pirang Cagalli.

"D-dino-san...?"

"Hmm."

"Kau... Itu... Penyihir ya?"

"Ha?"

"Penyihir? Ibu peri? Master sulap? Atau apalah itu? Atau kau dulunya tukang salon?"

"..."

"B-bukan ya? Hehe... M-maaf..."

Alex menghela napas, mendekati si pirang dari arah belakang, merapikan sedikit rambut Cagalli. Membuat wajah si gadis makin memerah.

"Padahal kalau di rawat jadi terlihat cantik begini." Ujar Alex seraya mengusap lembut rambut Cagalli.

Perkataan Alex barusan membuatnya terkejut, sesaat mata amber-nya membulat. 'H-ha!'

Cagalli mendongakkan kepalanya ke arah Alex dengan wajah merona dia bertanya, "T-tadi k-kau b-bilang aku c-cantik -"

Belum selesai benar atau Alex sengaja menghindar, tiba-tiba saja pemilik mata hijau itu menyodorkan sesuatu tepat ke muka Cagalli. Cagalli pun menerimanya.

'A-apa ini? C-conditioner rambut! Ini... Dia sengaja menyiapkan untukku ya?' Batinnya bertanya-tanya. Tak selang berapa lama sebuah bungkusan berwarna coklat mendarat di kepalanya.

"Aw..." Cagalli mengerang. 'A-apa ini?'

"Itu seragam yang sudah kusiapkan untukmu. Mulai sekarang akan kuajarkan bagaimana menyambut tamu..." Alex menjelaskan Cagalli serius seraya membalikkan badannya, berjalan menuju restoran, "Ganti pakaianmu dan segera kembali ke restoran."

Mendengar perkataan Alex, Cagalli terlihat shock.

'S-seragam m-maid itukah!?'

Dia masih terlihat terdiam di tempatnya, tak mengikuti langkah si rambut navy blue itu.

'Ternyata begitu, aku sempat berpikir kalau dia adalah orang yang baik. Ternyata... -Aku memang bodoh.' Ucap Cagalli dalam hati, menilai salah tindakan Alex tadi. 'Ternyata dia hanya menggapku alat pemanis restoran saja!'

Cagalli menyeringai getir, melemparkan bungkusan itu sehingga mengenai punggung Alex dan membuat Alex menoleh.

"Maaf saja Tuan Gojira! Sudah kubilang 'kan aku tidak sudi menyambut tamu dengan memakai pakaian melambai-lambai itu dan bersikap oh-I'm-so-cute."

Menghilangkan seringainya, mencoba menahan amarahnya walaupun wajah Cagalli terlihat sangat merah, ia melanjutkan. "Kau memang lulusan luar negeri, jenius, pintar dan ahli memasak tapi kau tidak berhak menginjak harga diri seseorang!"

Alex memungut hasil lemparan Cagalli tadi lalu mendengarkan si gadis pirang ini dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kau... Kenapa tidak bekerja di tempat lain!? Dengan kemampuanmu itu pasti banyak restoran besar mau menerimamu! Bukan malah berlagak mau membangkitkan kembali restoran kecil seperti ini! Dengar ya..."

Mengambil jeda sebentar, "Aku tidak mau jadi waitress!" Ucap Cagalli tegas.

Suasana menjadi hening seketika. Kira yang mendengar perkataan Cagalli menghampiri mereka. Dia takut kalau terjadi peristiwa yang tak diinginkan.

Sedetik Kira tiba di belakang mereka, Alex menghela nafas saat Cagalli menatap tajam ke arah Alex. Tak lama kemudian, Alex membuang muka.

"Tsk... Ternyata aku hanya buang waktu saja." Kata Alex sambil berlalu, melewati Kira.

Raut muka Kira terlihat kecewa. "C-cagalli... Gomen ne... Aku tidak akan memohon lagi. Tapi... Kalau pembukaan kembali restoran ini tidak berjalan lancar, image restoran ini pasti rusak."

'Eh!?' Cagalli tersentak. Baru kali ini dilihatnya wajah Kira seperti itu.

"Sekali saja... Aku ingin menjalankan restoran ini bersama keluargaku... Cagalli." Lanjutnya tersenyum simpul seperti menahan sesuatu, lalu kembali ke dapur.

Cagalli terdiam, menatap sayu punggung Kira, terbayang ekspresi Kira.

Benar-benar kecewa... Kira benar-benar... Menahan... Menahan kesedihannya... Seperti saat itu.

Saat dua bersaudara itu kehilangan milik mereka yang berharga...

'Kalau sudah begini... Bagaimana aku bisa menolak... Baka.' Cagalli berkata pada dirinya sendiri.


"Kak Kira kenapa Ayah dan Ibu belum pulang juga? Kenapa mereka belum menghubungi kita? Biasanya Ayah selalu –"

"Ca-cagali, a-da yang mau ku katakan padamu."

"Hmm.. apa? Eh, kenapa wajahmu pucat sekali kak. Apa kau sakit?"

"T-tidak, d-dengarkan tentang orang tua kita."

"Mereka menghubungimu! Kapan? Apa kata Ayah? Bagaimana Ibu? Aku sangat merindukan mere –"

"C-cagalli..A-a-yah d-dan I-ibu s-sudah m-meninggal!"

"Hah...? A-apa m-maksudmu...? K-kau bercanda 'kan?!"

"Maaf, Cagalli..."

~TBC


A/N: Sekali lagi, maaf buat keterlambatan update. *bungkuksujudbungkuk*

Ada yang sudah liat GSD:remastered phase 8, Athrun proposing Cagalli's scene? Saya sampai di buat tidak bisa berhenti smilling and grinning like fool karenanya. Lol xD

Those re-draw was freakin' AWESOME! Long live AsuCaga~

And... Happy Birthday to our beloved twin ever, Kira and Cagalli. Maunya bikin fic spesial buat mereka tapi... Sigh... Hidung buntu ternyata membuat otak saya ikutan buntu juga. Hahaha...

Lastly, dengan sangat beratz hati dan berat badan (?) saya harus mengatakan hal ini, saya akan HIATUS dulu. Dikarenakan jadwal saya yang hectic, ruwet bin amburadul, setidaknya sampai selesai sidang skripsi saya.

Feel free to PM me or visit my Facebook.^^

Minta review, please... *plackers + hajared + gebukers + geplaked*

Notes: info saya dapatkan dari eyang zyuboer #kidding# google-lah! Bunch of thanks for Google. ^^

[1] Sebenarnya ini random saja saya sebut. Nama laim Parsley adalah piterseli. Keju Ricotta adalah keju segar dari Italia yang dibuat dari air dadih sisa pembuatan keju lain yang dimasak lagi. Falfare adalah salah atu jenis pasta. Umumnya dikenal sebagai pasta kupu-kupu. Nama ini berasal dari bahasa Italia, Farfalla (kupu-kupu).

[2] Spaghetti Alle Vongolle atau Spageti dengan remis/kerang, salah satu hidangan pasta yang berasal dari Napoli.

[3] Di Italia, spageti ini dapat disajikan in rosso atau in bianco. Versi in rosso adalah dengan menambahkan tomat pada spageti dan kerang. Sedangkan versi in bianco tanpa menggunakan tomat.

Special Thanks to: Bara no Chikai, FTS-Peace, Popcaga, Cyaaz, Lezala:kemaren sudah diperbaiki entah kenapa kembali ke awal lagi mungkin internet connectionnya buruk, makasih reviewnya ^_^, Seiba Artoria, Ritsu-ken, Pandamwuchan, Setsuko Mizuka, and Silent reader (bila ada).

Many Thanks,

Fighting!

Nel. ^o^)9