Scar

-Chapter 4-

Author's note: Typo(s), AU, harsh word, Rated T+


"Akhir-akhir ini kau selalu pulang telat ya Levi."

Lelaki yang disebut namanya itu berjalan malas dengan wajah datar melewati ruang tamu. Beberapa pelayan berseragam segera menghampiri lelaki yang baru saja kembali di kediamannya tersebut.

"Aku sudah kelas tiga," sahut Levi datar sambil memberikan mantel panjangnya pada salah satu pelayan, "aku belajar di perpustakaan sepulang sekolah."

Wanita yang sedang duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut berdiri menghampirinya.

"Benarkah?" kata wanita itu, ia menyentuh jas seragam Levi, "aku tidak yakin karena aku mencium aroma lain di seragammu ini."

Levi mendengus, ia melepaskan tangan wanita itu pelan dan menghambur menuju kamarnya.

"Kau tahu," ujar wahita tersebut, "kau bisa menceritakan semua masalahmu padaku Levi."

Lelaki beriris kelabu itu menghentikan langkahnya tepat di depan anak tangga mewah berlantai marmer putih. Pegangan tangga itu terbuat dari kayu yang mengkilap, panjang setiap anak tangga mungkin muat untuk tujuh orang seukuran Levi .

"Sama sekali tidak ada masalah," jawabnya, "kau tidak perlu khawatir," lanjutnya seraya menoleh dan tersenyum pada wanita yang memandanginya tersebut.

Wanita itu bersidekap sambil memperhatikan Levi, rambut hitam wanita tersebut tergerai dan mengikal di bawah. Baju terusan berwarna putih yang membalut tubuhnya memperlihatkan lekuk badan yang sangat indah. Bibir merona merah karena lipstick itu melengkung.

"Dasar anak itu."

.

.

Dari : Bajingan

Ke atap sekarang juga budak.

Mikasa baru saja menarik nafas setelah selesai mengerjakan ujian Biologi pagi ini. Berharap akan mendapatkan istirahat setelah hari yang cukup berat—dimana hari itu adalah setiap hari—tetapi pesan singkat di ponselnya itu malah mengirimkan sakit kepala luar biasa padanya.

"Levi lagi?" Eren melongo mengintip layar ponselnya dari belakang, "kau masih saja jadi pesuruhnya Mikasa?"

Mikasa menggerutu dan menaruh ponselnya di saku, "ya, bisa dibilang begitu."

"Aku selalu penasaran," ujar Armin, "kenapa hari itu tiba-tiba Levi mengantarmu pulang?"

Gadis yang jadi topik utama tersebut menghela nafas, "aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi," ujarnya, "ia hanya ingin menghancurkan kehidupan SMA-ku."

"Tapi ia baik denganku kok," sahut Eren.

Mikasa dan Armin segera menoleh pada lelaki bersurai coklat itu, wajah mereka memandang Eren penuh tanda tanya.

"Maksudmu?" tanya Armin.

Eren mengangkat pundaknya, "ia kadang memberiku catatan penting untuk belajar, dia juga memberiku tips luar biasa yang membuatku dapat diterima menjadi tim inti futsal."

"Jadi dia alasan nilaimu akhir-akhir ini membaik?" Mikasa menatap Eren dalam.

Eren manggut-manggut, "bisa dibilang begitu," katanya sambil nyengir, "dia memang benar-benar jenius ckckck…"

Armin memegangi dagunya dengan jemarinya, ia terlihat seperti sedang berfikir, "pantas aku sering melihat Levi menghampirimu saat ada jam kosong," gumamnya.

"Tapi atas dasar apa ia membantumu?" pinta Armin, "eh Mikasa? Kau mau kemana?"

Gadis bersurai hitam tersebut sudah berada di depan pintu kelas mereka, "Si cebol itu memanggilku," sahutnya sebelum menghilang dibalik pintu.

"Kau tahu Armin," kata Eren, "mungkin ini hanya perasaanku, tapi…"

Armin mendelik ke arah Eren, lelaki beriris hijau itu duduk di atas mejanya sambil mengerutkan alisnya. Eren menarik nafas sebelum melanjutkan perkataannya, "apa menurutmu Levi senpai itu naksir Mikasa?" tanya Eren.

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Yah… kau tahu lah, ia seperti berusaha mendapatkan perhatian Mikasa dengan berbagai cara," ujar Eren, "dan menurutku dia tidak benar-benar menjadikan Mikasa budaknya."

"Mungkin saja." Armin menatap Eren tajam, "apa jangan-jangan kau cemburu?"

"Huh?" Eren tertawa geli, "Mikasa sudah kuanggap seperti keluarga sendiri sejak kejadian beberapa tahun lalu, aku sama sekali tidak punya perasaan seperti itu padanya."

Armin mengangguk-angguk sambil tersenyum, "aku tahu kok," ujarnya, "hanya memastikan."

Lelaki pirang tersebut memandang ke luar jendela, "tapi kejadian itu memang berdampak sangat buruk pada Mikasa."

.

.

"Apa saja yang kau lakukan bocah, aku sudah menunggu selama sepuluh menit."

Mikasa berjalan santai menghampiri Levi, "kau kan tidak memberiku tenggat waktu di pesanmu."

Levi mendengus, ia berjalan dari tepi pagar besi menuju sebuah bangku kayu panjang.

"Mana kotak bekalmu?" tanyanya ketika melihat Mikasa datang dengan tangan kosong.

Gadis itu mengerutkan dahinya, "ada di kelas," jawabnya datar.

"Dasar bodoh," sahut Levi.

"Kotak bekalmu kan sudah kuberi di tempat parkir tadi!"

"Aku bertanya tentang punyamu bodoh."

"Hei! Berhenti memanggilku bo—" Mikasa melihat kotak berwarna biru tersebut di atas bangku kayu yang diduduki Levi.

"Kenapa kau membawa makananmu kesini?" tanya Mikasa reflek, ia melihat Levi tertawa jengkel menanggapi pertanyaannya.

"Bawa kotak bekalku?"

"Pergi ke atap?"

"Bersama dengannya?"

Kedua mata gadis itu membulat sempurna, "Jangan bilang kau—" Mikasa menatap Levi tidak percaya "—mengajakku makan siang bersama disini."

Lelaki itu menarik pergelangan Mikasa kasar, membuat gadis tersebut terpaksa mendaratkan bokongnya di tempat kosong tepat di sebelah Levi.

"Menyuruhmu," ujar Levi dengan tekanan di setiap suku kata, "menyuruhmu makan siang bersama, kau paham bocah?"

Mikasa memutar bola matanya, "ah tentu saja," sahutnya sarkas, "tuan Levi yang maha kuasa."

Lelaki yang gatal karena nada bicara Mikasa itu melemparkan tatapan tajamnya, di tambah paket bibir yang merenggut.

"Kalau kau pintar," kata Levi, "kau seharusnya membawa bekalmu kesini."

"Ah," dengus Mikasa, "bukannya kau selalu memanggilku si gadis bodoh? Jadi kali ini kau memanggilku pintar?" Gadis itu bersidekap memandangi Levi.

"Tutup mulutmu dan makan saja bekalku." Levi mengambil kotak biru tersebut dan menaruhnya di atas rok Mikasa, gadis itu hanya menggerutu.

"Aku tidak ma—"

"Makan atau hukuman."

Gadis itu mendengus sambil membuka kotak bekal tersebut, "lalu bagaimana dengan bekalku—"

"Kau bisa memakannya di rumah bocah," potong Levi.

IBLIS PENDEK

Kedua Ackerman itu langsung mengarahkan sorot matanya pada tulisan berwarna merah di atas nasi tersebut saat Mikasa membuka kotak bekalnya.

"Kau tahu," ujar Levi, "kau tidak perlu susah-susah menulis tulisan-tulisan romantis itu, pasti menyita waktumu bukan?"

"Romantis?" Mikasa seperti ingin teriak di kuping Levi.

"Kau tahu, aku berubah pikiran," kata Levi, "karena kau lupa membawa bekalmu kau akan kuberi hukuman."

Bibir Mikasa terbuka, matanya membesar melotot pada Levi, "dasar cebol! Kau tidak bilang kalau akan ada hukumannya sialan! Kau juga tidak memberitahuku untuk membawa be—"

"Aku tidak bilang bukan berarti aku tidak bermaksud," potong Levi.

"Kau! Dasar—" Mikasa menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya, ia melihat ke sekeliling mencoba menjernihkan kepalanya yang hampir meledak karena lelaki pendek di sebelahnya.

"Baiklah," ujar Mikasa pelan, "apa hukumannya?"

"Suapi aku."

Mikasa bergeming, ia menatap Levi tidak percaya yang membalas tatapannya datar. Kemudian gadis tersebut menghela nafas dan tertawa jengkel.

"Senpai," ujar Mikasa, "kau masih punya dua tangan yang berfungsi baik, kenapa tidak digunakan untuk hal-hal yang baik juga huh?"

"Buang-buang waktu," kata Levi, "cepat."

Mikasa menggerutu pada seniornya itu, ia dengan malas mengambil sumpit dengan tangan kanannya dan menyumpit satu potongan daging. Badan Mikasa merinding hebat saat ia mengarahkan sumpitnya menuju mulut Levi, rasanya seperti diberi hukuman gantung diri di penjara bawah tanah.

Potongan daging tersebut sudah di dalam mulut Levi dan lelaki itu mengunyahnya.

Tolong siapapun, Mikasa ingin terjun dari atap saja sekarang.

"Kau makan juga," kata Levi.

Alis Mikasa mengkerut, apa urat malu Levi sudah putus?

"Apa?!" serunya, "tidak, tidak, tidak senpai, aku memilih terjun dari atap ini daripada harus berbagi bekal denganmu."

Levi mendengus, "bocah keparat," gumamnya kemudian kembali mengunyah makanan yang baru saja disuapi—disodok kemulutnya—oleh Mikasa.

"Tch, lagaknya seperti raja saja," batin Mikasa.

Gadis tersebut bersyukur sekali tidak ada orang selain mereka di tempat itu sekarang. Tidak bisa ia bayangkan apa yang akan terjadi padanya jika ada yang melihat mereka saat ini. Skandal dua Ackerman, membayangkannya saja sudah membuat badan merinding hebat.

"Oh iya, Levi." Mikasa masih menyuapi isi kotak makanan tersebut sedangkan Levi menyandar pada sandaran bangku dengan kedua tangannya di belakang.

"Hmm," sahut Levi dengan mulut yang penuh.

Gadis itu sempat bergeming menatap seniornya, ia lalu menghela nafas.

"Terima kasih," kata Mikasa, "sudah membantu Eren." Gadis itu membuang tatapannya kea rah lain, sengaja agar ia tidak perlu memandang seniornya itu. Mau bagaimana juga, senior paling menyebalkan sedunia tersebut sudah membantu sahabatnya.

Lelaki yang sedang menikmati makanannya itu tertawa renyah, "anggap saja itu sebagai balasan kecil."

"Huh?"

Levi melonggarkan kerah kemejanya, "Lupakan itu, ohya kau ikut aku pulang sekolah nanti."

Mikasa mengeratkan pegangan tangannya pada sumpit yang ia genggam, "apa lagi huh?"

"Ada yang mau kutunjukkan."

Gadis dengan manik obsidian tersebut memberi suapan terakhir ke mulut Levi dengan kasar, lelaki yang jadi korban suapan mautnya itu menatapnya tajam. Mikasa sudah lelah beradu mulut dengan seniornya tersebut, lebih baik ikuti saja permintaannya, toh ia tidak pernah melakukan hal yang tidak senonoh.

"Tunggu, sejak kapan aku berpikir seperti itu?" rutuk Mikasa dalam hati.

Mata gadis tersebut tiba-tiba terfokus pada leher Levi yang terekspos karena seniornya itu melonggarkan kemejanya. Bukan, bukan lehernya yang membuat Mikasa memperhatikan seniornya itu, tapi seutas tali yang melingkar disana.

"Tidak kusangka," kata Mikasa, "seseorang sepertimu memakai kalung ke sekolah."

Levi memandang Mikasa seakan terkejut, ia menatap ke lehernya dan menarik tali itu.

"Kau orang kedua yang sadar aku memakai ini," katanya, "Hanji yang pertama kali menyadarinya," lanjut Levi seakan tahu pertanyaan Mikasa selanjutnya.

Sebuah batu berwarna hitam kehijauan menggantung saat Levi menarik nya keluar. Batu itu tidak besar, tidak lebih besar dari kelingking manusia setidaknya dan ia memantulkan cahaya saat terkena sinar matahari. Bandul kalung tersebut dipandangi pemiliknya sebelum ia kembali memasukannya dibalik kemejanya.

"Indah," gumam Mikasa.

"huh?"

"Ah, tidak, tidak ada apa-apa," kata Mikasa terbata-bata.

Levi mendengus, ia melihat arloji di tangannya dan berdiri dari kursi tersebut, kedua tangannya ia masukan ke saku celananya.

"Ayo kembali budak," kata Levi, "sebentar lagi bel."

.

.

Mikasa belum pernah berkeliaran di bagian gedung sekolah yang berada di lantai empat. 'Majikan'nya barusan mengirim pesan untuk pergi kesana setelah pulang sekolah.

Berkat seniornya itu ia hampir saja tidak dapat makan siang, beruntung pekajaran terakhir di kelasnya kosong dan Mikasa dapat menghabiskan bekalnya.

"Oi Mikasa."

Si pemilik nama tersebut melihat sosok 160 senti berdiri di depan sebuah kelas—yang terlihat beda dari kelas lainnya—sambil bersidekap. Masih ada beberapa murid yang berlalu lalang, tapi mereka semua terlihat asing bagi Mikasa. Mereka pasti senior kelas dua atau tiga, karena senior yang dikenal Mikasa hanyalah yang berada di klub Karate dan si cebol yang ada dihadapannya sekarang itu.

"Ruang musik?" tanya Mikasa saat ia melihat papan nama yang tergantung di depan kelas tersebut. Levi mengabaikan pertanyaannya itu dan menghambur ke dalam ruangan.

Dari luar, kelas tersebut terlihat kecil, tapi saat mereka masuk ke dalamnya, besar ruangan itu tak kalah dengan Dojo Karate di sebelah gedung olahraga. Hanya saja kelas itu penuh dengan berbagai alat musik dan tiang-tiang partitur yang tersebar di seluruh sudut ruangan.

Ada sebuah lemari besar di dekat piano hitam di pojok kelas, Mikasa dapat menebak isi lemari itu yang pastinya penuh dengan buku-buku partitur tua.

"Kau anak klub musik juga?"

Levi menghampiri Piano hitam tersebut, "tidak," jawabnya, "hanya membantu sedikit."

Mikasa mengerutkan alisnya.

"Cepat bawa kakimu kesini bocah," kata Levi yang sudah berdiri di depan piano.

Mikasa mendengus, "kau menyuruhku kesini hanya untuk mendengarmu memainkan benda ini?"

"Duduk saja disini sialan."

Gadis itu mendaratkan bokongnya di kursi tersebut dengan kesal. Sedangkan Levi membuka penutup Grand Piano tersebut, Mikasa dapat melihat senar-senar yang tertata rapi di dalamnya.

"Beberapa hari yang lalu banyak bocah ingusan main-main di ruangan ini dan mengacaukan piano ini," kata Levi, ia memperhatikan untaian senar di dalam piano tersebut dan mengeluarkan beberapa benda yang aneh dari tasnya.

"Maksudmu dengan mengacaukan?"

"Bajingan-bajingan itu membuat Hammer tuts nya menyangkut," gumam Levi, "dasar sialan."

"Levi, aku bertanya disini!"

Lelaki itu mendelik ke arah Mikasa, "kau tidak mengerti? Kau kan juga punya piano di kamarmu."

"Sudah kubilang itu milik kakakku."

Levi mendengus, ia mengambil salah satu barang yang ia bawa tadi, terlihat seperti karet. Ia menaruhnya di antara senar.

"Suara piano ini sudah tidak selaras," ujar Levi, "aku diminta menala Piano ini, atau yang orang sering bilang di 'stem'."

"Kau bisa melakukannya?!"

"Hei, tekan tuts itu," perintah Levi.

"Tunggu, kau tidak butuh alat tuner? Dulu orang yang pernah menala piano di kamarku membawa alat itu." Mikasa ingat seorang pria lanjut usia yang datang memperbaiki suara pianonya membawa alat tersebut untuk mengetahui nada yang benar.

Levi tertawa sekilas, "aku tidak butuh benda itu," katanya, "cepat tekan tutsnya bodoh."

Mikasa menggerutu, "kau kira bisa membuatku terkesan karena hal ini huh?" batin Mikasa, "dasar tukang pamer."

Mikasa tidak terlalu mengerti apa saja yang dilakukan Levi dengan senar-senar yang ada di dalam Grand Piano tersebut. Yang gadis itu lakukan hanya membantu menekan tuts saat Levi memutar pin hitam yang membuat nada yang keluar naik dan turun. Pekerjaan ini memakan waktu yang cukup lama, sekitar satu jam mereka sibuk menyelamatkan suara piano tersebut.

Jujur, bagi Mikasa ini hal yang menarik, dan anehnya ia merasa seperti bernostalgia.

"Sudah selesai."

"Eh?" gumam Mikasa, "benarkah? Bagaimana kau tahu?"

Levi memasukkan kembali alat-alat yang barusan ia gunakan untuk menala Piano itu ke tasnya. Ia berjalan mengitari piano dan tiba-tiba duduk di sebelah Mikasa.

"Tentu saja dengan memainkannya," jawab Levi datar.

Kedua tangan Levi sudah berada di atas tuts piano tersebut, Mikasa berniat berdiri dan memberikan tempat yang lebih leluasa untuk seniornya itu bermain tapi Levi menarik lengannya, "kau tidak perlu berdiri, jangan kemana-mana."

Berdecak jengkel Mikasa bersahut, "baiklah."

Satu tuts ditekannya, dan nada yang keluar tersebut menggema ke seluruh ruangan. Tangan Levi yang sebelah kiri mulai menari di sana, membuat untaian melodi yang indah bersamaan dengan tangan yang satunya.

Lagu yang sering terdengar di café-café itu memang terdengar beda jika dimainkan langsung. Seingat Mikasa itu salah satu lagu Chopin, karena ibunya punya beberapa CD miliknya.

"Sudah selaras bukan?"

Mikasa tersenyum, ia sempat terbawa pada permainan Levi barusan, "yang tadi itu hebat sekali," gumamnya.

"Ho, kau sekarang kagum padaku huh?" Levi menatap Mikasa.

Gadis itu mendengus kesal, "aku kagum pada tanganmu ini, bukan kau," oceh Mikasa, ia menunjuk-nunjuk tangan Levi yang ada di atas tuts piano.

Lelaki itu menarik tangan kanan Mikasa, "mau tangan ini mengajarkanmu satu lagu?"

Mikasa menarik tangannya kasar, "aku bisa memainkan satu lagu kok," pintanya tak mau kalah.

Levi menaikkan alisnya, "kalau begitu coba mainkan."

Mikasa menggigit bibir bawahnya saat ia mengangkat telapak tangannya di atas tuts piano, sedikit berdebar-debar karena sudah lama ia tidak menyentuh dan memainkan piano sejak—

Gadis tersebut menekan tiga tuts bersamaan dengan tangan kirinya yang merangkai sebuah kunci nada, tangan kanannya memainkan melodinya. Walau sedikit tersendat-sendat, gadis itu bisa memainkan lagu 'Air' oleh Bach tersebut sampai habis.

"Payah," komentar Levi.

Mikasa mendengus kesal, "itu karena aku hanya belajar memainkannya sekali dulu."

"ohya," pinta Levi menatap Mikasa dengan satu alis tertekuk—sangat menjengkelkan—"itu karena jari-jari tanganmu itu pendek."

Kali ini Mikasa tertawa, "memangnya tanganmu tidak?," seru Mikasa, "badanmu saja pendek, apalagi tanganmu."

Levi menggerutu, ia menarik tangan Mikasa kasar dan menaruh telapak tangan gadis itu menempel dengan telapak tangannya. Mikasa meronta tapi tangan Levi yang satunya menahan pergelangan tangannya yang lain.

"Kau lihat?" kata Levi, "tanganmu itu kecil."

Dengan jengkel Mikasa memperhatikan tangannya yang menempel dengan tangan Levi, panjang jarinya memang lebih pendek dari jari –jari Levi. Dan ukuran jari-jarinya terlihat kurus dibanding tangan Levi. Mikasa menarik tangannya kembali perlahan dan merutuk sendiri.

"Itu karena aku perempuan dan kau laki-laki," kata Mikasa, "tentu saja ada perbedaan disana."

Levi tersenyum seperti mendapatkan kemenangan kali ini, lelaki tersebut kembali memainkan jemarinya di atas piano.

Tapi kali ini lagu yang ia mainkan terdengar tidak asing di telinga Mikasa. Seakan ia pernah mendengar lagu itu sebelumnya, di suatu tempat. Tidak yakin dengan ingatannya, Mikasa terus memperhatikan Levi saat ia bermain, berusaha mengingat lagu apa yang sedang Levi mainkan.

Lelaki yang merasa diperhatikan tersebut memandang balik, "ada apa?" tanyanya datar.

"Lagu itu," pinta Mikasa, "aku pernah dengar."

Tangan Levi berhenti bermain, "kau pasti salah."

Mikasa manatap Levi bingung, "maksudmu?"

"Itu lagu ciptaanku, tidak banyak orang yang pernah mendengarnya," ujarnya, "dan aku yakin kau juga."

Alis Mikasa menyatu seakan berpikir keras, "tapi aku tahu lagu itu," gumamnya, "seseorang… seseorang memainkannya untukku waktu itu—" gadis itu tiba-tiba memegangi kepalanya.

"Oi ada apa Mikasa?!" seru Levi menahan punggung Mikasa yang oleng ke belakang.

Gadis itu mengeleng-gelengkan kepalanya dan menepis tangan Levi, "hanya pusing," katanya, "aku pulang sekarang senpai, kita sudah selesai kan?"

"Ah, aku akan mengantarmu."

"Tidak usah!" bentak Mikasa, Levi nampak sedikit terkejut dengan suara Mikasa yang tiba-tiba meninggi, ada hal aneh yang terjadi pada gadis itu.

"Aku naik bus saja."

.

.

Melodi itu menggema di seluruh ruangan putih yang besar tersebut.

Mikasa dapat melihat seseorang bermain di atas piano putih beberapa meter dari tempatnya berdiri. Lelaki yang bermain itu mengenakan baju serba putih.

Lagu yang sangat akrab.

Nada yang menyejukkan.

Mendengarnya membuat hati ini damai.

Mikasa berjalan perlahan menghampirinya, seakan terbuai dengan lagu yang memabukkan tersebut.

Tapi seiring langkah Mikasa yang makin mendekat ke sosok yang bermain itu, melodi tersebut menjadi tajam. Setajam bilah pisau yang seakan menusuk-nusuk kepalanya. Nada itu keluar seperti kobaran api dan membuat dadanya panas dan sakit.

"Kakak!" seru Mikasa.

Tiba-tiba matanya terbuka lebar, kesadarannya berangsur pulih ketika dapat dilihatnya beberapa pasang mata yang memperhatikannya dengan kebingungan.

Gadis itu melihat keluar jendela bus yang sekarang ia tumpangi, bola matanya ia edarkan ke seluruh penanda jalan, matanya masih mengerjap-ngerjap. Sadar akan situasi, ia kemudian langsung menyambar tas sekolahnya dan berlari menuju supir.

"Maaf pak, saya turun disini."

Beruntung ia tidar tertidur lebih lama, karena sekarang ia melewati satu halte dari halte rumahnya. Sakit kepalanya setelah keluar dari ruang musik tadi membuat matanya berat saat duduk di dalam bus.

"Menyebalkan…" rutuk Mikasa.

.

.

"Jadi kau membawanya ke ruang musik hanya berduaan?!"

"Ya, memangnya kenapa?"

Kacamata Hanji memantulkan cahaya kilatan lampu restoran pasta tempat mereka duduk sekarang. Matanya tak nampak karena pantulan cahaya di kacamatanya tersebut, sahabat Levi itupun tersenyum.

"Levi, kau tidak melakukan apa-apa pada anak baru itu kan?" ujarnya.

"Dasar bodoh," kata Levi, "aku hanya menyuruhnya membantuku menyetem piano disana."

Mata Hanji muncul kembali di balik kacamata, perempuan itu memajukan bibirnya, ia terlihat kecewa, "yahh.. kukira kau akan menyatakan cintamu padanya disana."

Levi tersedak. Air jus jeruk yang baru saja di sedotnya sedikit keluar dari mulutnya saat mendengar tanggapan Hanji barusan.

"Aku tidak menyukainya!" seru Levi.

"Ya,ya,ya… terus saja mengelak," kata Hanji sambil memutar-mutar garpu spagettinya, "kau itu gampang ditebak olehku Levi."

Levi mendecih, "aku tidak mengerti apa maksud perkataanmu."

Hanji menggebrak meja, beberapa pelanggan yang berada di restoran tersebut sempat memperhatikan mereka sebelum Levi menghadiahkan death glare pada mereka—juga pada Hanji—kemudian lelaki itu mengacuhkan sahabatnya itu dan kembali menyeruput jusnya.

"Oh lihat si murid teladan yang hobi menyangkal ini," oceh Hanji dengan nada dibuat-buat, "kau tidak pernah sedekat itu dengan perempuan selain aku, kau tahu?"

"Kau pengecualian karena aku tidak pernah menganggapmu perempuan."

"Kau benar juga sih, aku sendiri tidak menganggap aku perempuan,"sahut Hanji penuh persetujuan, lalu ia kembali menatap Levi.

"Kau jatuh cinta dengan gadis itu Levi," kata Hanji pelan, "kau harus mengakuinya."

Levi memutar bola matanya dan membalas tatapan Hanji, "kalau begitu buktikan."

Hanji mendesah, "ckckck masih saja in denial," gumamnya, "begini, kenapa kau sangat tertarik menjadikannya 'budak'?"

"Itu karena dia bocah kurang ajar yang berani memukulku di depan umum."

"Okay." Hanji menarik nafas, "kenapa kau menyuruhnya membuatkan bekal untukmu?"

"Hukuman tambahan, tadinya hanya untuk sebentar tapi karena masakannya enak kubiarkan saja."

Hanji membetulkan kacamatanya, "kenapa kau menjemputnya setiap hari?"

"Bocah sialan itu bisa saja kabur kalau aku tidak menjemputnya."

"Kau bisa saja menyuruh salah satu pelayanmu yang menjemputnya kan? Kenapa repot-repot?"

"Aku tidak mempercayai mereka."

"Kau segitu tidak inginnya kehilangan Mikasa?"

"Aku—" Levi bergeming.

"Bingo."

Levi mendengus dan menyingkirkan gelas jus di hadapannya. Ia memangku wajahnya dengan telapak tangannya dan mengurut-urut dahinya.

"Kau mengerti sekarang Levi?" ujar Hanji sambil tersenyum, "terima saja, bagimu Mikasa itu istimewa bukan?"

Levi tidak menjawab, ia terlihat sedang berpikir keras. Hanji menghela nafas dan bersidekap menatap Levi sambil menyandarkan punggungnya.

"Apa saja yang kau lakukan di ruang musik?" Hanji mendekatkan wajahnya menatap Levi intens, "selain menala senar piano huh?"

"Hanya bermain beberapa lagu, dia sendiri bisa memainkannya juga," kata Levi, "yah.. walaupun sangat payah, jarinya kurang lincah kukatai saja ia punya tangan pendek."

Hanji mengangguk-angguk, "lalu?"

"Ia tidak terima jadi aku bandingkan saja telapak tanganku dengannya."

Hanji lagi-lagi menggebrak meja, "kau melakukan apa?"

"aku memb—"

"Kau menyentuh dan menggenggam tangan Mikasa!" potong Hanji, "aku benar kan?"

Sedikit terkejut dengan reaksi Hanji—yang memang selalu mengejutkan—kerutan di antara alis Levi makin jelas saat sahabatnya itu menarik tangannya. Sontak Levi menepis tangan Hanji.

"Kacamata sialan, ada apa denganmu huh?"

"Ada apa denganku?" Hanji sekarang tertawa lepas, "ada apa denganmu Levi!" serunya sambil menunjuk wajah lelaki bersurai hitam itu.

"Huh?"

"Kau tidak pernah suka di sentuh, apalagi dengan wanita," ujar Hanji, "dan kau menyentuh Mikasa bahkan memegang tangannya, kau sering melakukannya kan?"

"Itu bukan hal yang istimewa Hanji."

"Tidak! Bagi seorang clean freak sepertimu," sahut Hanji.

"tch…"

Lelaki itu mengalihkan pandangannya dari Hanji dan menatap langit-langit, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Mengingat-ingat kapan saja ia menyentuh Mikasa tanpa sadar.

"Aku pernah memegang tangannya berkali-kali, memapahnya, menggendongnya," batin Levi, lelaki itu menghela nafas panjang, "sial… apa mungkin si kacamata sialan ini benar, tch…"

"Apa kau tertarik karena wajah cantiknya?" tanya Hanji datar, ia sudah kembali menjadi manusia normal.

Levi kembali menatap sahabatnya itu, "yang benar saja, bahkan beberapa pelayan di rumahku jauh lebih cantik daripadanya."

"Kalau begitu? Apa yang membuat seorang Levi Ackerman jatuh cinta pada Mikasa Ackerman huh?"

Levi terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Hanji. Suara bel restoran dan bisingnya pelanggan seakan menjadi samar-samar. Ia membayangkan sosok Mikasa dalam benaknya, membayangkan suara gadis itu, membayangkan celotehannya dan cara ia menggerutu setiap kali Levi menghukumnya.

Ada yang sangat akrab dari semua hal itu, seakan Mikasa seperti pantulan dirinya sendiri. Seakan gadis itu berpikir dengan cara pikir yang sama dengannya, seakan gadis itu mengetahui apa yang ia mau. Cara ia menjatuhkan tubuh Levi saat bertarung, cara ia membuatkan bekal dengan tulisan mematikan. Tidak ada yang punya keberanian dengan wajah rupawan seanggun itu. Tidak ada seingat Levi, selain dia.

Lelaki yang duduk di hadapan Hanji itu tersenyum kecil.

"Gadis itu," gumamnya, "dia memang istimewa."

.

.

Suara air pancuran itu mengiringi waktu mandi seorang Mikasa Ackerman yang sedang seorang diri di rumahnya. Ibunya baru saja memberi kabar kalau ia mungkin pulang subuh hari ini. Gadis itu sendiri sudah biasa dengan kegiatan sehari-hari tanpa ibunya.

"itu lagu ciptaanku—"

Kali ini suara Levi kembali terngiang di kepalanya saat ia mematikan keran air pencurannya, lagu yang lelaki itu mainkan tak lepas dari benaknya sejak ia turun dari bus.

"Aku yakin sekali pernah mendengarnya…"

Mikasa keluar dari kamar mandi dengan piyama dan handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Kamarnya terlihat rapi setelah ia menyapunya sepulang sekolah tadi.

Ia berjalan menuju tempat tidur dan menarik laci lemari yang ada di sampingnya.

Ada bingkai foto yang sudah retak kacanya didalam sana, Mikasa hanya memperhatikannya sambil menghela nafas. Bingkai fotonya dan kakaknya sewaktu mereka kecil itu pecah saat ia tak sengaja berlari-lari di kamarnya mengejar tenggat waktu Levi untuk keluar rumah. Itu hari sebelum Levi menggendongnya ke kamar tersebut saat ia Anemia.

"Kakak, maaf ya aku tidak sempat membeli frame baru," pinta Mikasa.


"…Salju pertama…"


Lagi-lagi gelombang sakit kepala itu datang lagi, akhir-akhir ini kepalanya seringkali terserang pusing yang tiba-tiba. Gadis itu meraba-raba kasurnya dan duduk disana, terengah-engah setelah menahan rasa sakit di kepalanya barusan.

"Suara apa itu?" gumamnya.

Kali ini ada suara dentingan piano yang menggema, sontak Mikasa menoleh pada piano yang ada di pojok kamarnya. Tapi bahkan penutup tutsnya tidak terbuka.

"Ah… aku butuh istirahat…" Gadis itu menggeleng-geleng dan membaringkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamarnya dan memejamkan mata. Semua perasaan lelahnya seakan terkubur bersamaan dengan alam mimpi yang datang menghampiri.

Suara lelaki yang sangat akrab itu terngiang di kepalanya

Di ruangan yang serba putih.

"Mikasa…

Mikasa…

Ini lagu yang bagus kan?

Mikasa…

Mikasa…"

"Kakak?" gumam Mikasa dalam mimpi.


"Hebat! Hebat! Mikasa sudah bisa memainkan lagu itu!" seru gadis kecil tersebut sambil tertawa lebar pada lelaki yang duduk disampingnya.

"Mikasa memang jenius!," puji lelaki itu, " karena itu tentu saja kau cepat belajar, padahal kau hanya dua tahun dibawahku, adikku memang hebat!"

"Aku pintar karena kakakku juga pintar."

Lelaki itu tersenyum dan mencubit pipi Mikasa gemas. Ia kembali memainkan nada-nada ceria pada piano kayu di hadapannya sedangkan Mikasa bersenandung mengikuti iramanya.

"Ini lagu apa kak?" tanya Mikasa, "aku baru mendengarnya."

"Ini lagu buatan kakak," jawabnya sambil terus memainkan.

Mikasa memejamkan matanya seiring lantunan melodi yang lembut itu membuai gendang telinganya. Lagunya sangat lembut dan terdengar sangat manis.

"Hebat! Kakak membuat itu?!" seru Mikasa saat lelaki itu berhenti bermain.

"Ini lagu yang bagus kan?" katanya terkekeh sambil mengusap kepala Mikasa, "judulnya adalah—"

"—Salju Pertama."


"Mikasa! Mikasa! Mikasa!"

Guncangan itu menyadarkan gadis yang sedang terbuai dengan alam mimpinya tersebut. Ia merasakan peluh turun dari kening dan lehernya, padahal sekarang sedang musim gugur.

"Mikasa! Kau bermimpi buruk?!" seru wanita yang membangunkannya itu, "ada apa?!"

Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan bangkit dari kasur, "tidak ada apa-apa," jawab Mikasa, ia terengah-engah efek dari mimpi barusan.

"Tunggu.. Mimpi barusan? Itu?"

"Ibu sudah pulang?" Mikasa memaksa untuk tersenyum menyambut ibunya itu.

"Iya, baru saja," kata wanita tua itu, "ini masih pukul lima subuh, apa kau mau tidur sebentar lagi?"

Mikasa melempar selimutnya dan duduk di tepi kasur, "tidak usah bu, aku akan bersiap-siap ke sekolah sekarang."

"Baiklah, ibu akan menyiapkan sarapan."

Gadis itu menyentuh pundak ibunya pelan, "tidak usah ibu, kau istirahat saja," ujar Mikasa, "aku tidak mau ibu sakit."

Wanita lanjut usia itu menghela nafasnya, "baiklah, aku mengerti, hati-hati memasaknya ya sayang," ujarnya sambil mengelus pipi Mikasa dan mengecup keningnya sebelum ia keluar dari kamar gadis tersebut.

Mikasa mengurut keningnya, mimpi barusan terasa sangat nyata, dan membuat tubuhnya panas dingin. Mimpi tersebut terlalu nyata, seperti pecahan memori.

Mata Mikasa membulat.

"Ini pernah terjadi sebelumnya," gumam Mikasa, tenggorokannya tercekat, "waktu itu… aku bermimpi di dekat sungai, dan sekarang…"

Mikasa berdiri dan membuka jendela, ia melihat keluar halamannya tempat biasa Levi duduk bersama motor kesayangannya siap menjemput Mikasa. Tapi hari masih gelap gulita, ia belum ada disana.

"Lagu di mimpi itu—"gadis tersebut menoleh pada pianonya"—dan lagu yang dimainkan Levi."

"…Salju pertama…"

.

.

Ini sudah pukul setengah tujuh lewat tapi tidak ada pesan dari si cebol itu dan sosoknya tidak muncul-muncul di halaman rumah Mikasa.

Gadis tersebut mendengus, "apa orang itu sedang sembelit?" Mikasa sudah siap dengan tas dan sepatunya, ia berjalan keluar gerbang, "ah masa bodoh, aku akan naik bus saja."

Mikasa berjalan dengan kesal menuju halte yang tak jauh dari rumahnya itu. Syal dan sarung tangan ia gunakan untuk menahan hawa dingin yang dibawa musim itu.

"Awas saja kurcaci itu," gumam Mikasa, "dia seharusnya memberitahuku kalau dia tidak datang, dasar iblis," rutuknya sambil menaiki bus yang baru saja datang, ia mengambil tempat duduk di dekat jendela dan meniup-niup tangannya yang dingin.

"Lagu itu…" Mikasa menghela nafas sambil memperhatikan mobil yang lalu lalang, "aku harus menanyakannya…"

.

.

"Lho? Mikasa?" Lelaki pirang yang barusan memanggilnya itu berlari kecil mengejar mikasa yang sudah sampai di depan gerbang sekolah.

"Kau tidak dijemput Levi senpai?" tanyanya.

"Apa tidak ada sapaan lain, Armin?" ujar Mikasa, "seperti Selamat Pagi Mikasa! bukannya membicarakan si pendek itu."

Armin tertawa renyah, "kau mulai terdengar seperti dia," kata lelaki itu, "Selamat pagi Mikasa! Nah, jadi ada apa?"

"Aku tidak tahu, mungkin dia sekarat," pinta gadis tersebut, "aku harap."

Lelaki pirang itu mengeleng-gelengkan kepalanya masih heran dnegan lancarnya bibir sahabatnya itu menyumpahi seniornya sendiri. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju gedung sampai Armin menangkap sosok 160 senti yang sensasional itu berdiri di rak sepatu.

"Mikasa, itu bukannya Levi senpai?" ujar Armin, tapi sahabatnya itu sudah menghambur ke seniornya tersebut sebelum ia sempat memberitahunya.

Mikasa menyodorkan kotak bekal biru yang masih hangat itu tepat di depan wajah Levi, "senpai, kenapa kau tidak mengabariku pagi ini? Aku hampir saja telat!"

Levi menerima kotak tersebut dengan malas, "aku ada urusan tadi pagi." Lelaki itu membalikkan badannya dan meninggalkan Mikasa.

"Levi!" Mikasa menarik pundak seniornya itu, "kau ada waktu luang siang nanti? Ada yang ingin kubicarakan."

Levi menepis tangan Mikasa dari pundaknya pelan dan menatap Mikasa datar, "aku sibuk seharian ini," ujar Lelaki itu.

Alis Mikasa naik sebelah, aneh sekali senior yang selalu meluangkan waktu untuk menyiksanya tersebut sekarang tiba-tiba sibuk.

"Ah, aku tidak bisa menjemputmu beberapa hari ini," ujar Levi, "kau juga tidak perlu membuatkan bekal lagi besok."

Lelaki itu berjalan mengacuhkan ekspresi penuh tanda tanya di wajah Mikasa, ia menghilang di belokan tangga selama Mikasa memandanginya.

"Apa-apaan kurcaci itu?!" rutuk Mikasa sambil mengepalkan tangannya dan meninju salah satu loker disana.

Armin yang baru saja lewat menatap sahabatnya itu lebih kebingungan.

"Bagus sekali!" seru Mikasa, "malah bagus jika kau berhenti menjemputku, aku jadi lega tahu!" Mikasa berjalan dengan langkah yang di lebih-lebihkan.

"Mikasa? Kau kenapa?" tanya Armin.

"Aku juga tidak perlu repot-repot membuat dua porsi bekal," gumam Mikasa mengabaikan pertanyaan sahabatnya barusan, ia menatap Armin dan tersenyum lebar.

"Aku tidak usah berlari-lari ke kelasnya untuk melakukan tugas-tugas gila." Mereka menaiki tangga dan membelok di salah satu lantai menuju koridor panjang yang menghubungkan gedung tersebut dengan gedung lain.

"Neraka dunia berakhir juga," gumam mikasa lagi.

Gadis tersebut tiba-tiba berhenti, ia menangkap sosok seniornya itu duduk di kelasnya saat melintas di depannya. Lelaki itu tampak sedang berbincang-bincang dengan sahabatnya Hanji.

"Mikasa?" Armin memandangi temannya itu.

"Apa kau sedang memperhatikan Levi senpai?"

.

.

To Be Continued

.

.

A/C

AHHH MAAF MAAFKAN AUTHOR YANG LELET APDETNYA INI _(:'3

MAAF BENERAANNN, LIGHT MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESARNYAA

Seminggu ini aku ga fokus karena nungguin hasil sbmptn, trus sibuk daftar ulang jadi agak telat apdetan di chapter ini. Maaf ya :'D tapi aku usahain chapter depan ga selelet ini, maaf! Maaf!

Dan makasih banyak, benar-benar makasih banyak atas review di chapter yang kemarin! Aku bakal balas review tiap dua chapter jadi bakal aku balas di chapter selanjutnya ya :))

Semua review kalian buat aku senyum-senyum sendiri sumpaah :') aku bahagia punya readers macam kalian, aku akan terus belajar agar tulisanku makin baik :)) dan makasih juga bagi yang baru follow dan fav fic ini, kukirim kecupan panas di mimpi kalian nanti malam *CHU~ :*

Bagi yang mendambakan interaksi rivamika yang unyu2 lagi, mungkin yang bakal kalian dapet di chapter depan bakalan angst *hahah maap :')

Aku harap kalian terus mengikuti cerita ini ya :)

Terima kasih sudah membacanya fic ini!

Nantikan terus perkembangan aksi Duo Ackerman ini yaa c: