Jongin menggeleng cepat. "tidak.. Bukan begitu"

"Aku sih bisa saja, apalagi bertemu Haowen. Hanya saja" jongin mencoba mempertimbangkan pertanyaannya.

"Hanya saja?"

"Ibunya Haowen"

Oh...

Sehun mengerti. Jadi itu yang dikhawatirkan Jongin.

"Makanya kita harus bertemu di akhir pekan. Kalau menceritakannya sekarang itu terlalu panjang"

Jongin melirik jam di tangannya. Astaga, sudah pukul 10 malam. Bagaimana ini?

"Sudah malam kan? Makanya ada baiknya aku antar kau pulang sekarang" ucap Sehun, ia merogoh kantung kemejanya untuk mengambil kunci mobil.

"A.. Anda serius?"

"Kenapa? Waktu itu saja aku mengantarmu pulang dengan selamat kan?"

Jongin mengangguk.

Sehun ini memang tampan. Tapi yang jadi masalah tampangnya ini terlalu dewasa untuk pemuda sepolos Jongin. Bisa bisa nanti beredar kabar Di lingkungannya kalau anaknya si janda cantik itu menggaet Om-om lagi. Apalagi sudah punya anak. Pasti negatif saja yang dipikirkan orang lain. Sudah om-om, suami orang lagi.. Hadeuh-. -

.


.

.

.

Bab 5

.

.

.

.

"Kemarin kau pergi berkencan dengan Wonshik?"

Jongdae hyung menatapnya begitu serius.

"Kencan?"

"Iya, kencan" kata Jongdae.

Jongin menggeleng, dan berkata jika 2 hari yang lalu itu mereka tidak berkencan. Tetapi hanya semacam malam bersama saja di cafe.

Apa Jongdae percaya? Tentu saja tidak! Orang dewasa mana yang akan mempercayai hal itu? Apalagi Jongdae tahu sendiri, kalau Wonshik itu memang sudah menyimpan rasa selama 3 bulan Jongin bekerja di sini.

"Jongin, jawab dulu!" Jongdae agak memaksa. Dia kan kepo juga.

"Jawab apa, hyung?"

Jongin meletakan buku terakhir di tangannya itu di atas rak. "Kami hanya makan, tidak lebih"

"Kau pikir aku percaya?" tanya Jongdae. "Hey, Jongin... Wonshik itu menyukaimu tahu"

"Memangnya kenapa?"

Kim Jongdae menepuk dahinya. Dan berkata, sebenarnya Jongin ini polos atau bodoh sih?

"kau menerima perasaannya atau tidak?"

Tentu saja tidak! Jongin kan hanya menganggap Wonshik sebagai seorang kakak. Karena usia mereka terpaut 1 tahun, dan Jongin rasa sifat Wonshik yang perhatian padanya itu sama sekali tidak merubah perasaan Jongin kepadanya.

"Kenapa? Dia kan tampan"

"Ibuku bilang, jika aku tidak menyukainya aku tidak harus menerimanya"

"Kau polos sekali sih" cibir Jongdae. Ia menepuk pelan pipi chubby Jongin. "Sudahlah, aku ke depan dulu ya"

.

.

.

.

Seminggu yang lalu Luhan cerita mengenai seorang namja yang tak sengaja ia temui di toko bunga. Dia sangat manis dengan tubuh mungilnya. Orang yang cerewet dan energik seperti seekor beagle menurut Luhan.

Sehun memutar mata bosan. Luhan kan niatnya mau membeli bunga untuk pacarnya. Tapi melihat sosok bening di toko bunga malah membuatnya kepincut. Memang sekali playboy Terap playboy kan ya?

"Aku sama sekali tidak bisa melupakan wajahnya"

"Kau hanya penasaran saja. Yakinlah" Sehun berkata, matanya masih terpaku ke arah komputer.

"Jangan sok tahu begitu! Aku serius nih"

Oh Sehun memutar mata bosan. "Dulu waktu dengan Mindi, kau juga berkata seperti itu. Tapi apa? Kau malah meninggalkannya juga"

Kelihatannya Sehun memang sudah hafal bagaimana kakak sepupunya itu bertingkah. Si Playboy yang sok romantis, dan selalu berhasil membuat hati para yeoja hancur berkeping-keping. Entah kapan karma datang menghampirinya. Sehun jadi bingung sendiri. Dia saja yang tak Pernah menyakiti hati orang lain malah dapat cobaan berat lah Luhan? Jangankan karma, merasa sedih saja juga tidak pernah.

"Memang siapa sih namanya?"

"Itu dia" sahut Luhan. "Aku belum kenalan"

"Bagaimana bisa?"

"Aku malu tahu"

"Punya malu juga" gumam Sehun.

.

.

.

.

"Jongie hyung"

Haowen berlari ke arah Jongin dengan kedua tangan ia sembunyikan di belakang.

Sabtu siang yang cerah, dan Jongin pun berpamitan pada ibunya untuk menghabiskan waktu pekannya bersama Oh Sehun dan putra kecilnya.

Beberapa hari yang lalu mereka sepakat untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Sehun beralasan jika Haowen menyukai Jongin, dan sekali-sekali memiliki waktu bersama yang lebih lama lagi dibandingkan biasanya.

Jongin tentu saja bersedia. Dia juga tidak tahu kenapa. Meski otaknya terus memikirkan apa yang harus ia lakukan. Mungkin dia pikir, dia memang harus memiliki waktu liburan bersama teman. Karena dia tidak punya teman lagi setelah lulus dari SMA beberapa bulan yang lalu. Jadi ini adalah kali pertamanya Hang out di akhir pekan bersama seseorang yang bisa ia sebut teman.

Dulu ada Baekhyun yang selalu bersedia hang out bersamanya. Tetapi sejak kejadian memuakan itu terjadi, Jongin jadi malas untuk bertemu Baekhyun. Dengan sengaja ia menghapus semua akun sosialnya hanya untuk menghindari apapun mengenai masa-masa sekolahnya.

"Ini"

Haowen menyorongkan setangkai bunga mawar ke arah Jongin dengan senyum malu-malu.

"Ya ampun, terimakasih" ucapnya.

Ia menyamakan tingginya dengan tinggi Haowen. Memeluk bocah itu setelah menerima bunga di tangannya, dan memberikan satu kecupan di kening Haowen. Sumpah, Jongin sama sekali tidak sadar dengan hal itu.

"Hallo"

Jongin tersenyum ke arah lelaki jangkung itu. Oh Sehun dengan kaos polos dan celana jeans hitam terlihat cocok sekali dengan tubuhnya yang proporsional.

"Papa menyuruh Haowen untuk membeli bunga ini" kata Haowen.

"Terimakasih, Tuan Oh" ucap Jongin. Ia berdiri dan membungkuk hormat ke arah Sehun.

"Sama-sama" sahutnya.

.

.

Yuan meletakan sebuah amplop tebal ke atas meja. Matanya yang sempit, dengan polesan eyeliner itu terlihat runcing dan pastinya akan membuat para kaum adam terkesima melihatnya.

"Tuan Kang menemuiku kemarin. Ku rasa aku bisa membayar hutangku lebih cepat dari biasanya"

Kyungsoo mengangguk, biasanya Yuan tidak pernah ingat meskipun ia berhutang banyak pada sang kakak. Apalagi Kyungsoo punya sifat yang tidak mau ambil pusing dengan orang-orang yang pernah berhutang padanya.

"Kau simpan saja semuanya" kata Kyungsoo.

"Kenapa? Kau menolak bayarannya?"

Yeoja itu mengulum senyuman. "Kau akan membutuhkan ini, percayalah"

Setidaknya Yuan ingin membalas perbuatan baik kakaknya kan? Tapi mau bagaimana lagi? Kyungsoo menolaknya, dan Ia pun mau tak mau berpikir juga. Apa yang Kyungsoo katakan itu Benar. Cepat atau lambat pasti ia membutuhkan uang untuk segala macam kebutuhannya.

.

.

.

Hari ini berlangsung menyenangkan. Mereka menghabiskan waktu dengan mengunjungi game centre, nonton bioskop, dan menikmati makan siang mereka yang telat beberapa jam dari semestinya.

Haowen terlihat senang, dan menikmati jalan-jalannya kali ini. Bocah itu terus menyeret Jongin ke sana kemari, seolah Jongin adalah baby sitternya.

Oh Sehun berulang kali mengucapkan maaf atas nama putranya. Tapi Jongin berkata tidak apa-apa, diiringi senyum tulusnya yang lagi-lagi membuat seorang Oh Sehun nyaris berhenti bernapas.

"Aku tak pernah melihat Haowen sebahagia tadi" Sehun memulai percakapan mereka.

Haowen terlelap di punggung sang ayah. Begitu lelap, dan damai.

"Benarkah?" sahut Jongin.

Dia pura-pura terkejut. Padahal jantungnya terus berdegup, dan ia berusaha untuk meminimalisirkan detak jantungnya.

"Ya.. Dia sangat menyukaimu, Jongin-ssi"

Ah..

Jongin masih tidak percaya bagaimana kedekatan mereka terjadi. Selain yang ia ingat adalah, beberapa waktu yang lalu ia menolong seorang anak kecil yang terluka dan memberikan senyuman yang menurut dirinya biasa saja. Namun berdampak hebat untuk anak itu (dan juga ayahnya).

Jongin tidak pernah merasakan hidupnya akan seperti ini. Begitu dramatis dan tidak masuk diakal. Niat awalnya hanya menolong haowen. Tapi takdir malah membawanya bertemu dengan sosok Ayahnya Haowen, yang ternyata adalah seorang duda.

"Haowen tidak pernah menyukai orang lain seperti ini"

Agak mengecewakan mendengarnya. Apalagi bagi wanita-wanita yang menginginkan Oh Sehun menjadi suaminya. Pasti putranya, Haowen akan menentang keras dan orang seperti Oh Sehun itu tidak bisa menjadi sosok egois untuk putra kecilnya itu.

"Tapi Haowen anak yang baik dan aku menyukainya"

Sehun tersenyum simpul. Mereka berjalan langkah demi langkah, karena Oh Sehun memutuskan tidak membawa mobil agar mereka bisa menikmati waktu lebih lama lagi.

"Kau juga"

"Aku?"

Pria itu menoleh, dan Jongin merasakan wajahnya hangat detik itu juga.

"Kau baik meski aku tidak terlalu mengenal dirimu"

Sehun berdehem, dan buru-buru memperbaiki kata-katanya. "Kau masih muda sekali. Ada niat untuk kuliah?"

Jongin menghentikan langkahnya. Kuliah? Mungkin Iya. Tapi ia juga harus memperhitungkan semuanya dengan sangat matang. Kuliah itu butuh biaya yang besar, dan Jongin tidak mau membuat ibunya kesusahan lagi hanya untuk biaya kuliahnya.

"Ya.. Tapi ku pikir tidak sekarang"

"Maaf, kalau boleh tahu.. Memangnya kenapa kalau sekarang?"

"Aku butuh biaya yang besar untuk itu" kembali berjalan lagi.

Pria tampan itu terkekeh. "Kau orang yang pantang menyerah ya"

"Entahlah" kata Jongin. "Ku harap sih begitu"

"Banyak anak seusiamu lebih memilih bermain dibandingkan bekerja. Tapi kau berbeda"

Sehun tidak pernah memuji orang lain tepat di hadapan orangnya langsung. Tapi kini berbeda, Oh Sehun baru saja berterus terang memuji seorang Kim Jongin.

"Mungkin jika aku punya teman aku akan melakukannya" Kata Jongin, seraya merapatkan sweaternya.

"Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud"

Seharusnya Sehun tidak mengatakan hal yang membuat wajah Jongin jadi tidak nyaman begitu kan? Tetapi Jongin malah tertawa pelan, dan berkata jika ia sama sekali tidak keberatan dengan kata-kata ayah muda itu.

"Aku orang yang kaku, dan membosankan. Ku harap kalian menikmati hang out kali ini, Tuan"

Lelaki tampan itu mengulum senyum. Dengan cepat ia menjelaskan jika ia sangat menikmatinya. Haowen pun juga begitu. Putra kecilnya itu tidak pernah menunjukan raut wajah bahagia seperti tadi. Diajak jalan-jalan bersama mantan pacar Papanya saja yang ada cemberut terus.

30 menit mereka berjalan. Dan tak terasa mereka sudah tiba di ruko Jongin. Kedai makan ibunya sudah tutup, dan menyisahkan pemandangan Remang di depan rukonya. Ibu pasti sedang nonton TV, pikir Jongin. Suatu kebisaan yang ibu lakukan untuk melepas penat.

Jongin mendongak ke lantai dua. Lampunya menyala, dan semakin yakin jika ibunya masih terjaga di dalam.

"Aku tinggal di sini sejak kelas satu sd" Jongin berkata. Ia sedikit minder ketika menunjukan ruko sederhana milik ibunya pada Oh Sehun.

"Maksudku, aku dan ibuku"

"Kalian berdua?"

Jongin mengangguk pelan. Dan berkata jika ia hanya seorang anak single parent yang membuka sebuah usaha kedai makan sederhana di pinggiran kota. Oh Sehun yang mendengar itu jadi tidak enak hati. Ia pun paham, mengapa Jongin tidak melanjutkan jenjang perkuliahan meski usianya masih sangat muda (dan malah bekerja di sebuah toko buku).

Diusia 19 tahun, Sehun malah jadi seorang ayah akibat keteledorannya sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, masa mudanya jauh lebih beruntung dibandingkan pemuda manis itu.

"Apa anda mau mampir?"

Sehun menoleh. Senyuman tulus seorang Kim Jongin kembali membuat jantungnya berdegup cepat. Haowen kecil melenguh dalam tidur. pertanda ia sama sekali tidak nyaman dengan posisinya.

"Ku rasa tidak, ini sudah malam. Dan Haowen agak rewel saat ia merasa lelah"

"Aku akan menemani kalian selama anda memesan taxi" Jongin berkata. Ia berjalan ke arah bangku panjang yang terletak di depan rukonya.

Lampu depan yang agak temaram itu sama sekali tidak membuat mereka terganggu. Mungkin besok Jongin harus mengganti lampu depan rukonya dengan lampu yang watt-nya lebih besar lagi dari ini.

.

.

.

.


Pagi yang cerah, dan ibu hendak bersiap untuk membuka kedai makannya yang sederhana itu.

Wajah ibu masih terlihat muda, walau usianya sudah nyaris 40. Ibu masih sangat cantik dengan rambut ikalnya yang berwarna hitam. Meski kedai makan ibu tidak besar, kedai ini sangat ramai dan kebanyakan adalah para namja genit yang bukan hanya sekedar makan, tapi juga untuk menggoda ibunya.

"Kemarin ibu beli obat herbal penurun kolesterol" kata ibu. Hanya ada 10 menu makanan rumahan yang akan dijual ibu hari ini.

"Badan ibu jadi agak ringan dari biasanya" lanjut ibu. Seraya menggerakan kedua tangannya berlawanan arah.

Jongin terkekeh. Dan mengucapkan kata syukur dengan nada pelan.

"Kau mau makan apa? Nanti ibu buatkan"

"Aku Mau oat, bu" kata Jongin.

Ibu menyipitkan kedua matanya. "Kau tidak akan kenyang kalau cuma makan oat"

"Tapi aku mau makan oat saja hari ini"

"Baiklah" Ibu menyahut.

Ibu menyiapkan bahan-bahan yang akan dibutuhkan Jongin saat membuat bubur oat. Selama ibu berkutat, Jongin memeriksa ponselnya dan mendapati satu pesan masuk dari Tuan Oh. (Kemarin mereka sempat bertukar nomor ponsel).

From : Oh_Sehun

Selamat pagi.. Ku harap aku tak mengganggu harimu. Haowen bilang dia ingin beli sebuah buku. Tapi aku tak bisa mengantarnya ke toko bukumu Hari ini. Mungkin kakak sepupuku akan mengantarnya ke sana. Bisakah kau membantunya, Jongin-ssi?

Dengan cepat ia membalas iya. Entah apa yang membuat dirinya setuju dengan usul Sehun untuk bertukar nomor telepon agar saling mengenal satu sama lain. Sehun bilang sekarang mereka adalah teman. Jelas saja Jongin yang polos dan ansos itu percaya. Sehun bukan orang yang jahat, Jongin tahu itu.

'Selamat pagi'

Kris melayang dan mendudukan dirinya di samping Jongin.

"Baru kelihatan" Jongin berbisik pelan.

Namja itu memutar mata bosan. 'Kau melupakan aku kemarin'

"Hmm, begitu saja ngambek"

...

Kyungsoo menoleh ke arah meja makan. Dimana ia mendapati putranya tengah tertawa seorang diri, seakan ada sosok lain di sana.

Ia menatap putranya sendu. Kekhawatiran seorang ibu selalu ia rasakan sejak pertama kali putranya mengatakan jika ada seorang namja bernama Kris yang selalu menemaninya kemana pun Jongin pergi.

Bagaimana ia tak sedih? Sejak kecil Jongin tidak pernah punya teman. Karena anak-anak kecil terlalu takut dengan putranya yang terkenal selalu berbicara sendirian seperti orang gila.

Ia mengusap air mata di pipinya dengan sangat perlahan. Kemudian kembali membuat semangkuk oat kesukaan putranya itu.

'Ya Tuhan, sebenarnya ada apa dengan putraku' ia berkata dalam hati. Memendam kesedihannya seorang diri tanpa Pernah mau berbagi.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.


OMAKE...

'Beraninya' pikir Yuan.

Yeoja itu terlihat menahan emosi di balik senyumannya.

"Tapi dia bodoh dan tolol, ku rasa dia tidak akan tahu jika selama ini dia sudah dibodohi oleh banyak orang"

Pria itu sepertinya tahu lebih banyak Daripada yang diketahui oleh Yuan sendiri.

"Tidak ada orang baik yang bodoh, Tuan Kim" kata Yuan.

Senyuman remeh terlukis di wajah tampan itu. Yuan benci senyumannya. Apalagi ketika lelaki itu terus-terusan menghina sosok kakaknya dengan kata-kata bodoh, idiot, dan tolol.

Sejak kecil Kyungsoo memang sangat polos. Bahkan banyak yang mengira Kyungsoo orang yang kurang dalam segi mentalnya.

"Kakakku orang yang baik, meski banyak yang mengira dia idiot. Kyungsoo tidak idiot, dia hanya percaya jika kebaikan yang tulus akan membuahkan hasil yang tidak menyecewakan untuk ke depannya nanti"

Sang pria masih mempertahankan senyum remehnya.

"Apa selama ini orangtuanya memikirkan hal yang sama dengan yang kau pikirkan, Yuan?"

Yuan mengepalkan kedua tangannya. Ia bahkan melupakan jajaran busana-busana mahal yang dijual diskon di butik langganannya itu.

"Apa kau tahu bagaimana Kyungsoo hidup selama ini? Tidak kan? Maka berhentilah berkomentar sinis tentang apa yang kau lihat mengenai dirinya" kata Yuan. "Kau tidak pantas mengomentarinya dengan segala pemikiran picikmu itu" lanjutnya.

Yuan segera beranjak pergi dari butik itu tanpa menoleh lagi ke arah namja tampan itu. Ia rasa sudah cukup, dan tak ada lagi yang perlu dibahas lagi diantara mereka. Orang boleh menyakiri hatinya, tapi menyakiti hati seorang Kim Kyungsoo, sama sekali tak bisa ia maafkan.

Pria berusia 40tahunan itu menatap sendu kepergian Yuan.

'Mengapa kau begitu bodoh, Kyungsoo' batinnya, miris.

.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

A/N : Hello, there...terimakasih udah review ya. Dan sesuai janji aku, semakin byk review semakin cepat update-nya. Maaf gak bisa balas satu-satu. Hehehe..

Terimakasih juga buat kritikan kalian. Aku suka cara salah satu readers yg kritik seperti mengoreksi kata-kata yang salah atau PENGGUNAAN HURUF KAPITAL YANG TIDAK EFISIEN *lol. Ini bukan salah Author lho. Ini salah jempol author yang terlalu besar dan layar handphone yang ukurannya cuma 5Inch. Huehehe. Sorry guys, selama ini aku Nulis pake hp. Terlalu malas buat nulis di laptop, karena ujung-ujungnya aku ngantuk dan gabisa nerusin lagi.

Yuan di sini yang pernah main sama CY ya? Bukan.. Hehehe.. Aku lagi suka aja sama nama itu. Kebetulan temennya nyokap punya anak, namanya Yuan. Umurnya baru 4tahunan lah ya. Lucu banget:3 dan terbentuklah salah satu chara bernama Yuan, hehey.

Lagi lagi Wonshik yg jadi cinta sepihaknya. Well? Gaboleh ya? Habis menurutku yg cocok sama nini itu cuma Wonshik doang sih kalo di luar member exo huehehehe.. Wonshik kan tampangnya manly manly gimana gitu.. Kebetulan aku suka Ravi hihihi

Kris nya bakalan mirip let's fight Ghost gak thor? Hampir sih.. Hehehe..

Ini terlalu pendek? Ya. Sengaja ya..lagi mau jadi orang jahat yg bikin readers nya gregetan*lol

Well done... Gimana? Lanjut tidak? Semakin banyak review semakin ASAP ya? Review 20? No! 30 kalo bisa*ngelunjak hahaha. *bercanda bercanda