"dimana ini?"
Sakura terbangun dari tidurnya dan menyadari dirinya berada didalam kamar. Tapi bukan kamar Sakura
"beristirahatlah, kau kurang tidur Sakura"
Naruto mendekat kearah ranjang. Sakura bangkit Narutopun mendekat ikut bangkit dan meraih pundak Sakura pelan dan menyandarkan tubuh Sakura ke dalam dada bidangnya, menenggelamkan Sakura dalam pelukanya
"tak apa Sakura.. menangislah. Menangislah sepuasmu"
Pertahanan Sakurapun runtuh. Dia yang awalnya tak menunjukan ekspresi apapun kini menangis. Awalnya isakanya pelan kemudian menjadi isakan yang memilukna dan dengan tubuh bergetar dan tergugu disela tangisanya. Naruto mengeratkan pelukanya dan mengusap punggung Sakura. berusaha menghentikan guncangan tangisan dari tubuh mungil Sakura
"tak apa Sakura. Aku disini untukmu, menangislah sepuasmu agar kau bisa merasa lega. Aku akan menjadi sandaranmu"
Sakura mendekap menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang Naruto dia menangis dalam pelukan Naruto. Menangis karena sakit dan kehilangan, serta memasang topeng palsu atas sikap dinginya yang pada hal hatinya sedang runtuh. Narutopun menemani Sakura sampai gadis itu tenang. Sakura masih menangis kini dalam posisi terduduk diranjang dan tetap dalam pelukan Naruto. Sakura menangis sampai kelelahan, dia baru berhenti menangis saat dia tak sadar tertidur dalam tangisanya sendiri. Naruto membaringkan tubuh Sakura di kasur king sizenya. Kemudian menyelimuti Sakura. Naruto memandangi wajah sembab Sakura, dengan tatapan dingin, misterius dan tidak terbaca. Kemudian membiarkanya sendiri, meninggalkan Sakura beristirahat sendirian dikamar
.
.
Sejak kematian orang tuanya Sakura tinggal dirumah Naruto. Naruto yang memaksanya karena pasti banyak wartawan diluar sanah. Sakurapun akhirnya menuruti keinginan Naruto. Perlahan-lahan kesedihanya menghilang dengan Naruto yang ada disisinya. Naruto menghujani Sakura dengan banyak perhatian dan menghilangkan kesedihanya. Sakura bisa bangkit kembali, bahkan cintanya kini telah tumbuh mengakar kuat dihatinya Sakura yakin Naruto adalah orang yang tepat untuknya terlebih permintaan orang tuanya untuk menikah dengan Naruto.. maka saat Naruto bertekuk lutut dihadapan Sakura dan memintanya untuk mempercepat pernikahanya Sakura setuju saja dengan tawaran itu. Tanpa ragu, tanpa ada kebimbangan. Yang Sakura fikirkan adalah Naruto orang yang baik, dan tempat sandaranya saat ini ketika dia telah kehilangan kedua orang tuanya. Tanpa tau apa tujuan sebenarnya Naruto menikahinya...
.
.
.
Pesta itu luar biasa mewah, dengan dekorasi yang elegan. Makanan yang terhidang lezat untuk para tamu undangan. Naruto dan Sakura tampak serasi bersanding dikursi pelaminan dengan gaun indah menjuntai dan setelan jas yang seragam dengan Sakura. Tak henti-hentinya para tamu mengucapkan selamat kepada Naruto dan Sakura. Sakura tampak cantik menawan dan senyuman yang tak henti-hentinya menghiasi wajahnya. Pesta itu berlangsung cukup lama dan baru selesai pukul 12 malam. Sakura memutuskan untuk ke kamar pengantin duluan karena dia merasa lelah. Semenatara Naruto masih meladeni para tamu yang belum beranjak pergi dari pesta pernikahan. Sakura hampir saja tertitdur duluan saat Naruto memasuki kamarnya wajah Sakura bersemu merah
"Naruto-kun.. mau melakukan itu sekarang?"
Tanyanya sambil malu-malu. Tapi Naruto malah mengernyit
"kenapa belum tidur juga?"
"a-aku menunggumu"
"tidurlah ini sudah malam"
Naruto berbicara dingin kepada Sakura. Sangat berbeda dengan Naruto yang tadi bersanding denganya dikursi pengantin. Sakura lebih tercengang lagi saat Naruto meninggalkanya sendiri didalam kamar. Apa ini yang dinamakan malam pengantin? Naruto benar-benar dingin
.
.
Sakura terbangun saat cahaya matahari menerobos masuk kedalam kamarnya. Sakura mengernyit saat dia melihat Naruto sedang mengancingi jasnya
"kau mau kemana?"
"kantor"
Kemudian Naruto beranjak pergi meninggalkan Sakura yang penuh dengan tanda tanya besar. Apa dia tidak salah dengar? Naruto pergi ke kantor saat kemarin mereka baru saja melangsungkan pesta pernikahanya? Bukanya pengantin baru menghabiskan waktunya bersama? Dan sudah bukankah sudah seharusnya menikmati waktu bulan madu mereka sebagai pasangan baru? Sungguh Sakura tidak mengerti. Naruto sudah bergegas pergi meninggalkanya dengan mobil sport birunya. Sakura memandangi kepergian Naruto dari balkon kamarnya, seperti ada yang mengiris hatinya. Sakura mandi dan bergegas turun. Dia merasa lapar, para pelayan Naruto berbisik-bisik dengan keanehan tuan dan nyonya barunya dirumah. Namun saat Sakura turun menuju dapur mereka menghentikan pembicaraan mereka
"selamat pagi nyonya"
Pelayan tua itu membungkuk hormat kepada Sakura
"nama saya Chiyou, nyonya bisa memanggil saya nenek Chiyou saya kepala pelayan disini bila nyonya membutuhkan sesuatu, nyonya bisa memanggil saya"
"aku lapar nek, bisa kau membuatkan sesuatu untuku?"
"tentu saja"
Nenek Chiyou menyuruh pelayan membuatkan sesuatu untuk Sakura. Sakura duduk termenung sesekali menyuapi mulutnya dengan pancake manis bersauskan madu dan toping yang lezat. Apanya yang disebut sebagai pengantin? Apanya yang malam pertama? Apanya yang bulan madu? Naruto malah pergi meninggalkanya ke kantor. Sakura meraih ponselnya dan menghubungi seseorang
"hallo Ino? Kau ada dimana sekarang?"
.
.
.
Sakura sudah berada di cafe dengan seorang wanita berambut pirang panjang. Dia memutuskan untuk pergi dari rumah karena merasa bosan
"wah..wah forehead. Aku tak menyangka pengantin baru malah mengajak menagernya yang menganggur kesini"
"diamlah pig"
"apa kau sudah melakukan malam pertamamu dengan Naruto?"
Kali ini wajah Sakura tampak kusut
"dari raut wajahmu aku bisa menebak jawabanya. Ada apa forehead?"
"entahlah Ino. Naruto dia.. bersikap dingin padaku dan malah pergi ke kantor, pada hal kemarin kami baru saja menikah"
"masa sih? Naruto bersikap dingin padamu? Sebagai managermu bahkan aku harus menolak tawaran pekerjaan karena pernikahanmu"
"ya makanya aku bingung"
Ino menyeruput capucinonya yang sudah dia pesan
"mungkin dia gugup Sakura. Ya kebanyakan laki-laki kadang suka bersikap aneh saat malam pertamanya"
"mungkin kau benar"
"ya sudah jangan sedih. Nanti saat Naruto pulang, cobalah perhatian padanya. Dia pasti akan senang"
Mungkin apa yang dikatakan oleh Ino ada benarnya juga. Sore hari suaminya belun pulang juga, sakura memutuskan untuk memasak dengan resep yang dia dapat dari internet. Semoga saja Naruto suka. Sakura akan membuat kastela dengan bahan-bahan yang sudah tersedia. Jam sudah mulai memasuk waktu petang hari tapi Naruto belum pulang juga. Sakura memutuskan untuk menonton tv sambil acak mengganti chanel karena tayangan yang kurang menarik. Terdengar suara bel nyaring didepan nenek Chiyou bergegas hendak membukakan pintu
"biar aku saja nek"
'itu pasti naruto' fikir sakura. Sakura membukakan pintu berharap Naruto senang
"Naruto-kun sudah pulang? Sini biar aku bawakan tasmu"
"tidak perlu"
Naruto beranjak pergi meninggalkan Sakura
"kau sudah makan? Aku membuatkan kastela untukmu"
"aku tidak lapar"
Lagi-lagi Sakura diacuhkan oleh Naruto
"nenek tolong air panasnya aku ingin mandi"
"baik tuan"
"biar aku saja"
"tidak usah Sakura"
Sakura mendecak merasa kesal, tapi sebisa mungkin tidak dia tampakan wajah kesalnya pada Naruto. Sakura menyiapkan baju untuk Naruto, Naruto keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit disekitar pinggang Naruto
"sudah selesai? Ini aku siapkan piyama untukmu"
"bisakah kau keluar? Aku mau dibaju"
Sakura mengernyit. Keluar? Bukankah mereka suami istri? Bukankah wajar-wajar saja bila Naruto memakai baju didepan Sakura?
"i-iya"
Sakura menuruni tangga menuju dapur mengambil kastelanya ditemani teh hijau panas buatan nenek Chiyou. Hatinya tak karuan, sebenarnya apa yang ada difikiran Naruto? Mengapa dia memperlakukan istrinya sebegitu dinginya, sebegitu acuhnya. Apa salah Sakura pada Naruto? Sakura mengacak-acak kastela yang seharusnya dia makan bersama suami tercintanya
.
.
.
TBC
