Previous Chap :
Saat dia sudah berdiri depan depan kamar adiknya itu, Ino inginnya langsung membukakan kunci, lalu langsung meminta maaf secara langsung kepadanya. Tapi karena situasi kemarin benar-benar memungkinkan Naruto yang marah besar kepadanya, ia memutuskan cara lain.
Sambil menelan ludah, Ino mengangkat tangannya, dan mengetuk pelan kamar tersebut, tiga kali.
Tok tok tok.
Tidak ada jawaban. Ino merasa maklum karena ini juga masih jam 05.00 pagi. Karena itu Ino melakukan step selanjutnya, yaitu membukakan kunci.
Cklek.
Ketika kunci sudah dia buka, masalah selesai. Setelahnya Ino langsung memutuskan untuk pergi ke kamar agar dapat mandi dan bersiap-siap ke sekolah.
.
.
Sreek.
Tepat di jam 16.00, terdengarlah suara pintu geser yang terbuka. Ternyata itu adalah Ino yang baru saja sampai ke rumah—sepulang dari kegiatan belajarnya di sekolah. Usai melepaskan sepatunya di depan, ia mulai berjalan ke bagian dalam rumah yang terlihat sepi.
Ketika ia memasuki daerah ruang tengah, Ino langsung duduk di sofa dan kemudian menaruh tas ke pangkuannya. Ia menyandar, menghela napas, lalu memejamkan matanya. Entah kenapa hari ini ia benar-benar kelewat lelah. Padahal tidak ada yang dia lakukan selain duduk di meja sekolah untuk memperhatikan penjelasan guru.
Perlahan-lahan, suara detikan jarum jam merajalela di indra pendengarannya. Tanpa di minta, Ino kembali membuka kedua kelopak mata, dan mengedip beberapa kali. Ia menguap pelan. Dia ngantuk.
Sesudahnya, ia terdiam. Bersama tatapan mata malas, Ino mengedarkan pandangannya ke sekitar. Baru ia sadari bahwa TV tidak sedang menyala. Padahal sudah menjadi kebiasaan dari lama bahwa... Naruto sering menonton TV di sore hari.
Mengingat Naruto, kedua matanya terbelalak.
Sontak saja ia langsung menegakkan posisi duduknya dan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dari matanya yang menoleh ke kanan-kiri, dapat dipastikan bahwa Ino sedang mencari sesuatu—atau lebih tepatnya... seseorang.
Ya, dia mencari Naruto.
Setelah meyakini bahwa di lantai satu ini tidak ada siapa-siapa; tidak ada tanda-tanda keberadaan saudaranya, Ino segera menghadap ke arah tangga atas. Pandangannya menerawang.
Apa jangan-jangan Naruto masih berada di kamarnya?
.
.
.
HEART & CLOVER
"Heart & Clover" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Naruto Namikaze x Ino Yamanaka]
Romance, Family Hurt/Comfort
AU, OOC, Typos, Incest, Semi-M, etc.
.
.
FOURTH. Saudara?
.
.
Karena firasat itu sedikit mengganggunya, Ino berkeinginan untuk bangkit dari sofa dan segera ke lantai atas. Tapi tubuhnya tidak bergerak. Ia tetap duduk di permukaan sofa yang empuk.
Gadis berwajah cantik itu menggeleng pelan.
Untuk apa ia memedulikan Naruto? Paling saat ini Naruto sedang tidur atau jalan-jalan keluar...
Ino mendesah malas. Pikiran yang menumpuk di otaknya ini semakin membuat tubuhnya lelah.
Mendapati suasana di dalam rumah yang terus hening, Ino memalingkan wajahnya. Dia mencoba melakukan sesuatu hal yang dapat mengalihkan pemikirannya dari Naruto. Pertamanya, ia menaikkan kedua kaki jenjangnya ke sofa—sehingga ia bisa tidur dengan posisi telentang. Ia ambil remote yang sempat tertiban oleh punggungnya, lalu ia menyalakan TV.
Sebuah program TV sempat membuat kedua iris biru pudar itu terpaku selama beberapa detik. Namun, lagi-lagi bayangan tentang Naruto menghampirinya. Bola matanya melirik ke arah kanan atas, tanda ia sedang berpikir.
Coba biarkan Ino untuk mengingat-ingat sebentar...
Kalau tidak salah, kemarin ia memang sempat mengunci Naruto di dalam kamar. Namun tadi pagi ia yakin dirinya sudah membuka kunci tersebut. Lalu kenapa pria jabrik itu—terlihat seperti—belum turun? Apa mungkin Naruto belum sadar kalau kamarnya sudah tak terkunci lagi?
Sedikit demi sedikit perasaan tidak enak mulai menghampiri ruang hati Ino. Entah kenapa ia menjadi cemas dan juga kepikiran. Apa mungkin... terjadi sesuatu yang buruk ke Naruto di dalam kamar itu?
Diawali dengan menelan ludah, Ino berdiri. Dirinya—yang masih mengenakan seragam sailor khas SMA-nya itu—segera menaiki tangga atas. Setelah dirinya berada di lantai dua, dari tempatnya berdiri, ia pandangi pintu kamar Naruto yang masih tertutup. Ino pun mendekat dan melihat sebuah kunci yang tertancap di lubangnya—menandakan bahwa Ino benar-benar telah membuka kuncinya tadi pagi; sebelum sekolah.
Ino ingin sekali memastikan—apakah Naruto ada di dalam kamar, atau sudah keluar—namun ia masih sedikit ragu.
Gadis itu menyempatkan diri untuk memejamkan kedua mata, lalu menghembuskan napasnya secara perlahan. Dia ulurkan tangannya, lalu menyentuh daun pintu.
Setidaknya... tak apa-apa kan kalau hanya sekedar memeriksa?
Cklek.
Ketika ia membuka pintu kamar Naruto, terlihatlah sebuah ruangan kecil yang lumayan rapi dan sepi. Dapat terasa secara jelas bahwa pria itu sedang tidak ada di dalam.
Karena rasa penasarannya telah terpenuhi, Ino pun berniat untuk langsung menutup kembali pintu tersebut dan melanjutkan aktivitas sorenya seperti biasa. Namun niat Ino terhenti, ia tidak jadi menutup pintu. Itu disebabkan oleh adanya sesuatu yang seperti menahannya—agar tidak langsung meninggalkan kamar Naruto.
Gadis pirang yang rambutnya dikuncir ponytail itu menurunkan tangannya; melepaskan daun pintu. Ia melamun sewaktu melihat kamar Naruto yang bercatkan warna peach pucat tersebut. Kalau dilihat-lihat, semua perabotan minimalis—yang ada di sana—tertata dengan baik, lantai bersih tanpa debu, dan tak ada satu pun noda di dinding. Ino lumayan terkejut. Tampaknya Naruto benar-benar merawat kamar ini.
Sejujurnya, ia sudah tak pernah lagi membereskan kamar Naruto semenjak adiknya itu berusia 5 tahun. Tapi kenapa ruangan ini bisa lebih bersih—bahkan jauh lebih bersih—daripada kamarnya sendiri?
Otomatis kaki Ino berjalan maju. Dirinya memasuki kamar Naruto.
Setelah berjalan sebanyak lima langkah, Ino terdiam. Pupil matanya menangkap sebuah benda yang membuatnya sedikit mematung.
Tepat di hadapannya, terlihatlah sebuah meja belajar berukuran kecil. Buku-buku pelajaran kelas 1 berjejer dengan rapi di sana. Dimulai dari buku belajar membaca, menulis angka, dan bahasa Inggris dasar.
Melihatnya tentu saja Ino tidak bisa menahan rasa kagetnya.
Ternyata benar... dia bukannya sedang stress atau pun gila. Naruto yang setahunya masih kelas 1 SD itu bukanlah hal maya, ilusi, atau apalah namanya. Dia nyata. Naruto adalah adiknya, bukan kakaknya—seperti apa kata orang-orang.
Dalam diam, Ino mengambil salah satu buku pelajaran yang terjejer dan membukanya. Benar saja, tertulis nama Naruto Namikaze di sana.
Tapi... bagaimana caranya Naruto bisa berubah menjadi dewasa dalam proses satu malam?
"Hffhh..." Ia memejamkan matanya.
Sangat irasional, memang. Meski alasannya masih tidak jelas, mau tidak mau Ino harus memaksakan otaknya untuk mempercayai ketidakjelasan ini.
Karena bukti perubahan Naruto—dari kecil ke besar—terdapat di kamar ini; yang mungkin memang hanya ada di sini.
Ino menaruh kembali buku tersebut di permukaan meja. Sedetik kemudian, kedua matanya menemukan beberapa frame foto dengan berbagai macam ukuran di sudut belakang meja. Gadis remaja itu mengambil frame tersebut dan melihat foto apa yang terpajang di sana. Ternyata itu adalah sebuah foto keluarga, di mana ada mereka bertiga di dalamnya—ayah, ibu dan dirinya yang masih kecil. Di dalam foto lusuh barusan, dapat terekspos dengan jelas kalau perut ibunya terlihat 'besar'. Itu dikarenakan Naruto yang masih berada di dalam kandungan.
Di sana mereka semua tersenyum bahagia.
Raut Ino berubah datar. Apalagi sesaat ia mendapati wajah ayah tirinya—Minato Namikaze. Dialah seorang pria yang sudah membuat keluarganya hancur berantakan. Tapi ia tepis terlebih dulu pemikiran itu, karena ada satu hal yang membuatnya lebih terheran.
Dari mana Naruto medapatkan foto lama ini? Kalau tidak salah setahun yang lalu ia pernah meremas foto tersebut lalu melemparkannya ke tong sampah. Apa jangan-jangan Naruto memungutnya?
Ino mendesah malas. Dia lempar frame plastik itu begitu saja ke meja. Ketika ia berniat akan keluar kamar, lagi-lagi niatnya batal karena dirinya sempat melihat sebuah frame yang kali ini lumayan besar.
Ino mengambilnya. Dan sewaktu ia melihat apa yang terpajang di foto tersebut, Ino terbelalak. Ternyata di dalam frame barusan... ada sebuah kertas yang berasal dari buku tulis—yang mungkin sengaja Naruto sobek. Di permukaannya ada sebuah gambar yang Naruto buat dengan krayon. Meski tidak begitu bagus dan terkesan jelek, Ino masih tetap mengerti apa maksud dari gambaran Naruto.
Di sana tergambar jelas seorang perempuan. Berponi samping, serta rambut yang diikat satu. Sedangkan di sebelahnya ada seorang anak laki-laki berambut jabrik—selayaknya matahari. Kedua orang itu tersenyum lebar. Tak lupa, ada sebuah garis menyatukan tangan mereka. Di bawah semua itu, tertulislah sebuah kalimat.
'Aku dan kakak tersayang.'
Ino terdiam.
Di gambar itu... pasti dia dan Naruto.
Ino menelan ludahnya. Kedua bola matanya memanas, segenang air bening memburamkan pandangannya. Ino segera mengadahkan wajah, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam hati, ia terus menyemangati diri sendiri agar tidak menangis karena hal sepele seperti ini.
Namun secara mendadak, ada sebuah hal yang mengejutkan terjadi dari arah belakang.
BLAM!
Suara bantingan pintu itu sontak saja membuat Ino tersentak dan membalikkan tubuh.
Dan saat ia melihat Naruto yang sudah berada di depan pintu kamar yang tertutup rapat, Ino terbelalak. Terutama sewaktu ia melihat raut wajah Naruto yang menunjukan kemarahan yang teramat sangat dalam.
"Kenapa? Lagi bernostalgia dengan barang-barangku, hm?" Tanyanya dengan suara sinis, nyaris menyiratkan sebuah dendam yang hendak ia balaskan sekarang juga.
Cklek.
Ino berniat menjelaskan, namun karena mendapati Naruto yang sedang mengunci pintu kamar—terlihat dari gerakan tangan yang bergerak di balik punggungnya—Ino langsung membeku di tempatnya berdiri. "Ke-Kenapa kau mengunci pintu?"
Sesudahnya, Naruto mendengus. Ia mengangkat kedua tangannya, membuat pose menyerah. Sembari menyeringai, ia pun berjalan mendekati Ino. "Iya, ya. Aku lupa. Untuk apa dikunci? Jelas-jelas hanya kita berdua yang berada di rumah ini..."
Ino yang menyadari adanya keanehan dari Naruto pun langsung memundurkan langkahnya sampai pinggangnya menyentuh meja. "Ma-Maksudmu?"
"Masih bertanya, eh?" Desisnya, yang sedikit terdengar penuh amarah. Kini ia sudah berada tepat di depan Ino. Bila diukur mungkin jarak wajah mereka hanya tinggal sejengkal. Naruto pun mencondongkan wajahnya ke depan, kemudian Lalu pemilik kulit tan itu mengulurkan tangannya, lalu mencengkeram erat dasi seragam sailor Ino yang berwarna merah.
Ino berniat menepis tangan Naruto, tapi nyatanya pria itu sudah duluan bertindak. Ditariknya dasi Ino, lalu dia lempar gadis pirang itu ke ranjang kecil yang berada tepat di sebelah mereka.
Sontak saja punggung Ino menabrak kasur. Ino yang terkejut bukan main itu langsung membuka kedua matanya yang sempat tertutup. Ia ingin langsung beranjak, namun sayangnya Naruto sudah menibannya.
Tanpa asas kelembutan, Naruto mencengkram kedua pipi Ino dengan telapak tangannya dan kemudian berdesis di depan wajahnya. "Kemarin kau menggodaku. Ingat? KAU MENGGODAKU AGAR BISA DAPAT MENGUNCIKU DI SINI, SEHINGGA KAU BISA BERCINTA DENGAN GAARA, KAN!?"
Bentakan Naruto membuat tubuh Ino bergetar hebat.
Ia ingin melawan—ingin membalas ucapan dari pria dewasa itu.
Tapi... Ino ketakutan. Rahang mulutnya terasa kaku.
"Karena itu..." Dengan merendahkan intonasi suaranya, Naruto berucap lirih dan menyeringai. "Sekarang... aku menuntut untuk melanjutkan apa yang kemarin kau minta."
"A-Apa—?"
Belum sempat Ino berbicara, Naruto tiba-tiba memaksa kepalanya untuk naik. Detik berikutnya Naruto membenamkan wajahnya ke leher Ino. Saat Ino merasakan ada gigitan besar nan kasar di sana, kedua matanya terbuka lebar. Gigi-gigi tajam Naruto seakan menembus kulitnya. Pria itu menggigitnya keras. Sebuah jeritan keluar. Kedua bahu Ino naik; ia dibuat tegang akibat rasa sakit yang ia rasakan.
"SA-SAKIIT! LEPAS! LEPAS, NARUTO!"
Ketika Naruto melepaskan gigitannya, Ino melemas—seolah-olah baru diberikan kesempatan untuk bernapas lagi. Tapi Naruto belum mau berhenti. Lidah pria itu keluar dan mendesak kulitnya. Menyentuhnya, membasahinya.
Ino memejamkan matanya rapat-rapat, dan mulailah ia memberontak. Tangan kanannya menjambak helaian jabrik Naruto, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk mendorong tubuh pria yang semakin menekannya di kasur itu.
"Sakit! Minggir! Minggir dariku—ukh!"
Naruto sama sekali tidak menyerah, ia malah mengunci kedua tangan Ino—yang tadi terus-terusan memukulinya—di atas kepalanya. Naruto pun menggunakan kesempatan itu untuk menarik seragam sailor yang dikenakan Ino, berniat membukanya. Suara kain yang ditarik paksa itu menyebabkan seragamnya terancam melar.
"Ja-Jangan, Bodoh!"
Ino menjadi cemas.
"Ce-Cepat lepaskan aku!" Susah payah Ino melepaskan pegangannya dari Naruto dan mencoba menggerakkan telapak tangannya dengan kencang.
PLAK!
Tamparan tadi membuat Naruto sedikit terdiam. Di kesempatan itu, Ino berteriak dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. "Kita bersaudara! Ingat itu!"
Naruto keras. "Apa katamu? Bersaudara?"
"IYA! KITA BERSAUDARA! SEHARUSNYA KAU TAU—HMPPH!"
Sebuah ciuman kasar diterima di kedua belah bibir Ino. Jeritan Ino terbenam. Wajahnya memerah. Kedua kakinya yang tadinya menendang-nendang kini menjadi kaku dan tidak bisa digerakan. Semua itu dikarenakan syaraf di otaknya yang sedikit membeku akibat lumatan-lumatan yang diciptakan oleh Naruto kepadanya.
Kecapan demi kecapan terdengar. Suara engahan napas serta erangan menjadi latar belakang dari itu semua. Sampai akhirnya Naruto melepaskan ciumannya untuk mengambil pasokan udara—tapi sama sekali tidak berniat untuk melepaskan bibir Ino darinya.
"Katamu... kita itu bersaudara..." Karena sebuah emosi yang membuatnya jadi panas, Naruto menggeram. "Tapi dulu... sejak kapan kau menganggapku adik, hah? SEJAK KAPAN!?"
Usai dibentak seperti itu, Ino pun menangis terisak. Ia memiringkan kepala sekaligus menunduk. Tangannya yang sudah dilepaskan oleh Naruto pun mulai menutupi bibirnya yang basah dan memerah.
Melihat Ino, mulanya Naruto merasa sedikit kasihan. Tapi ketika ia kembali mengingat segala perbuatan yang pernah Ino lakukan bersama Gaara, rasa simpatinya tertebas habis. Emosinya kembali memuncak. Layaknya orang yang gelap mata, Naruto kembali memaksa Ino untuk mengadah agar bibirnya bisa kembali mencium bibir lembut Ino.
Hanya decapan lidah dan suara ranjang yang sedikit berdecitlah yang mendominasi ruangan, namun sebuah pemikiran membuat Naruto mengendurkan serangannya. Ino langsung menyampingkan wajah, mengambil oksigen. Suara napas Ino yang begitu terdengar menyesakkan itu menyita perhatian Naruto.
"Sudah..."
Naruto tersentak. Apalagi saat ia menyadari apa yang barusan ia perbuat ke Ino. Naruto memundurkan kepalanya, lalu iris mata sapphire itu—yang kini terbelalak—langsung melihat penampilan saudara tirinya. Ia tak berkedip. Dipandanginya lagi baju seragam sekolah Ino yang sedikit berantakan. Terutama helaian rambutnya—karena tergesek-gesek permukaan kasur.
"Ja-Jangan..." Ino memohon lagi. Kali ini dengan suara yang lebih serak. Tetesan air mata terus keluar dan mengaliri pelipisnya.
Secara cepat Naruto menghentikan segala niat perbuatannya. Mata pria itu menyipit. Ia berdesis. Tak lama kemudian, Naruto memejamkan matanya rapat-rapat. Ia kepalkan tangannya erat-erat.
"Khh... sial..." Pria itu bergumam. Sisanya tak ada suara. Hanya isakan tangis Ino lah yang kini mendominasi seisi ruangan.
Tak lama kemudian, Naruto membuka kelopak matanya. Ia menatap manik itu dengan pandangan nanar.
"Kenapa kalau kau sama Gaara mau... tapi kalau bersamaku tidak, hah?" Naruto berbisik.
Setelahnya Naruto menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Jika dilihat dari mata Ino yang sedang berkaca-kaca, gadis berambut pirang itu tau bahwa wajah Naruto sedang menunjukkan raut penyesalan.
Ya, Naruto menyesal. Bahkan ia tidak tau apa dorongan dari dalam dirinya sehingga ia bisa berbuat seperti itu.
Naruto pun mengangkat tubuhnya, menjauhkan diri. Lalu ia berdiri dan berbalik untuk berjalan keluar—menggunakan kunci pintu yang telah ia buka.
Sepeninggal Naruto, Ino hanya bisa memandangi plafon kamar, lalu memejamkan mata. Dia hela napas panjang-panjang dan barulah ia mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya dengan punggung tangan.
.
.
~zo : heart & clover~
.
.
Keesokan harinya, keadaan cuaca di atas rumah tidak menunjukan perbedaan dari hari-hari sebelumnya, masih cerah seperti biasa. Namun tampaknya ada yang terasa lain dari kedua manusia yang menghuni rumah bernuansa soft yellow itu. Terutama seorang gadis yang bernama Ino Yamanaka.
Pertama, dia terlambat bangun. Dan saat menyadarinya pun Ino masih bergerak dengan lesu. Masalahnya, peristiwa yang terjadi kemarin benar-benar membuat mood-nya untuk ke sekolah menjadi hancur.
Kalaupun ia berniat membolos, itu lebih parah lagi. Kan Naruto berada di rumah. Pasti ia akan bertemu dengan pria itu apabila ia memutuskan untuk tidak masuk.
Ino mengenakan seragamnya dalam diam. Setelah merasa dirinya rapi, Ino melihat dirinya sendiri di cermin. Seperti biasa, ia mengikat rambutnya dengan gaya ponytail. Sesudah sedikit puas dengan penampilannya, Ino menurunkan pandangannya ke arah leher. Di permukaan lehernya—yang sedikit mengarah ke bahu—terdapat sebuah bekas gigitan Naruto yang sangat besar. Apalagi luka itu berwarna merah yang sangat mencolok.
Ino menghela napas lewat hidung. Ia coba terlebih dulu untuk menyentuh luka itu dengan ujung jarinya, tapi seperti dugaan, ia berdesis. Rasanya sakit dan perih. Dengan memejamkan mata, ia mencoba menutupi bekas gigitan itu dengan cara menekankan telapak tangannya ke leher.
"Sakit..."
Kedua matanya mengernyit. Ino pun segera membuka matanya. Lalu melihat ekspresi tersiksa miliknya di pantulan cermin. Tampaknya ia harus menutupi bagian lehernya, tentunya agar tidak ada yang dapat melihat bekas ini.
Segeralah Ino membuka lemari bajunya dan mengambil syal. Ia kalungkan syal itu ke lehernya. Karena bekas tersebut telah tertutup dengan baik, Barulah Ino mengambil tasnya dan keluar. Ia akan pergi sekolah.
.
.
~zo : heart & clover~
.
.
Seperti dugaan Ino yang sebelumnya, pagi ini bel masuk berbunyi ketika Ino baru saja melewati gerbang sekolah. Gadis berambut pirang yang terlihat panik itu terus saja berlari menuju kelas di mana ia diajar. Di sela larian, tangannya terus memegangi syal dan tak jarang juga membenarkan poni serta rambutnya.
Ketika sudah di berada di koridor depan kelas, ia memelankan langkahnya sampai akhirnya berhenti. Dia tempelkan punggungnya ke dinding—yang berada tepat di sebelah pintu masuk. Dia menghirup banyak oksigen, lalu menghelanya cepat-cepat. Ia sedang bersusah payah untuk mengatur kembali napasnya yang terengah-engah.
Setelah menghabiskan waktu selama semenit, ia hembuskan napasnya keras-keras, lalu berbalik.
Tok tok tok.
"Permisi..."
Ketika Ino membuka pintu geser dan memasuki kelas, Sakura yang berada di bangku tengah langsung tersenyum lega melihat sahabatnya. Tapi tampaknya sang guru yang sedang mengajar kali ini mempunyai reaksi yang berbeda. Pria berwajah seram itu terlihat kesal karena ada muridnya yang tidak disiplin—sampai-sampai bisa datang terlambat.
"Yamanaka, kau tau ini jam berapa?"
Ino melirikkan matanya ke sekitar. "Ng... i-iya..."
"Baguslah. Sekarang berdiri di koridor." Katanya sambil menunjuk pintu keluar.
Ino menggigit bibir bawahnya, tapi tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain mematuhi beliau.
.
.
~zo : heart & clover~
.
.
Sesudah jam pelajaran Asuma-sensei yang berlangsung selama sejam itu selesai, guru bertubuh tegap tersebut keluar kelas. Ino—yang sebelumnya menyandar di dinding pun—langsung segera menegakkan kembali tubuhnya. Diliriknya Asuma-sensei yang sedang memperhatikannya dengan tatapan malas.
Tak lama, terlihatlah Sakura yang juga mengikuti guru sejarah itu untuk keluar kelas.
"Haruno..."
"Ya, Sensei?"
"Urusi sahabatmu..." Ia berkata sembari melanjutkan perjalanannya ke kelas yang akan ia ajarkan selanjutnya.
Setelah Asuma-sensei pergi, Sakura mendekati Ino yang masih memasang wajah lesu. Melihat Ino yang seperti itu, kedua tangan Sakura menangkup pipi Ino agar membuatnya sedikit mengadah.
"Kau kenapa? Kesal karena Asuma-sensei menghukummu, ya?"
Iris aquamarine Ino menatap lekat kedua mata Sakura. Ia menggeleng pelan.
"Lalu kenapa? Kau lagi sakit?"
"Tidak." Ino mencoba tersenyum.
"Terus kenapa terlambat?"
"Aku bangun kesiangan."
Sembari menghembuskan napas lewat hidung, Sakura melepaskan kedua tangannya. Ia mundur selangkah, kemudian memperhatikan penampilan Ino.
"Aneh..."
"Hm? Aneh kenapa?"
"Kau bilang dirimu terlambat, tapi kau masih sempat-sempatnya memakai syal..."
Di saat itu Ino sedikit tersentak. Segeralah ia mengencangkan syal yang melingkari lehernya. "Ng, i-iya. Tadi kebetulan aja ada di dekat tas, jadi kupakai. Lagi pula... memangnya ada apa dengan syal? Kan aku hanya lagi mencoba trend baru."
"Itu trend yang sudah kuno, Ino. Lagi pula, siapa sih yang senang memakai syal di saat cuaca sedang panas seperti ini?"
Ino hanya bisa menyunggingkan senyumannya yang sedikit memaksa. Berhubung ia tidak ingin terlalu lama berada di depan Sakura—karena takut ketahuan—akhirnya Ino berbisik pelan. "Sakura, aku mau ke toilet dulu. Kau tunggu aku di kelas aja, ya. Bye..."
Sakura mengangguk, dan Ino pun lega. Akhirnya ia bisa menghindari topik yang membahas syalnya ini.
Namun ketika Ino yang sedikit berlari itu melewati pintu, tampaknya ia sedang mendapatkan kesialan. Karena dengan tidak sengaja ujung syalnya tersangkut di bagian pintu, sehingga syal tipis itu terlepas begitu saja ke lantai.
Ino terkejut. Dengan buru-buru ia langsung berbalik dan mengambil syalnya. Namun ketika ia akan memakai syal itu kembali, suara Sakura membuat jantungnya berdetak kencang. "Ino... lehermu luka, ya?"
"E-Eh?" Ino mulai terbata sewaktu Sakura menghampirinya secara langsung.
"Tadi aku melihat ada sesuatu yang merah... di lehermu."
"Yang mana? Aku tidak luka kok."
"Itu, yang dibalik syalmu!" Nada Sakura naik satu oktaf. Tampaknya ia khawatir. Dengan buru-buru ia menarik lagi syal Ino dan terlihatlah sebuah memar yang menyerupai bekas gigitan. "Ini... bekas apa?"
Pertanyaan Sakura membuat Ino menelan ludah.
"Be-Bekas? Apa maksudmu, Forehead? Aku tidak melihatnya."
"Mana mungkin kau tidak tau, Ino. Jangan membodohiku..."
Merasa ada dua manik emerald yang menatapnya, Ino memalingkan wajah. Ia menyesal telah menguncir rambutnya tinggi-tinggi. Seandainya ia menggerai rambut pirang panjangnya, mungkin memar itu tidak akan terlalu terekspos.
"Ino, jawab aku..."
"Hanya gigitan nyamuk."
"Tidak mungkin."
Ino memandang mata Sakura. "Kalau bukan, memangnya apa lagi?"
"Lebih baik kau jelaskan yang sebenarnya kepadaku..."
Ino menghela napasnya panjang-panjang. "Kau inginnya aku memberikan keterangan yang jujur atau yang bohong?"
"Jujur."
Ino terdiam. Ia sedikit ragu untuk mengatakannya, tapi ia harus menjawab pertanyaan Sakura.
"Aku... digigit paksa."
Kedua mata Sakura terbelalak. "Sama siapa!?"
Ino menggeleng, lalu ia mengawali kalimatnya dengan jeda yang lumayan panjang. "Itu perbuatan... Naruto."
"Tidak mungkin!" Tolaknya dengan cepat. "Pasti Gaara, kan!?"
"Sayangnya ini perbuatan Naruto, bukan Gaara."
"Aku tidak percaya!" Sakura menggenggam tangannya. "Kau harus jujur kepadaku, Ino!"
"Sudah kubilang ini perbuatan Naruto, bukan dia! Gaara sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini!"
"Aku tidak percaya! Kau pasti menyalahkan Naruto karena kau tidak mau aku menyalahkan pacar rusakmu itu, kan!?"
Merasa Sakura telah menjelek-jelekan Gaara di depannya, Ino menjadi sedikit kesal. "Gaara tidak rusak! Dan juga aku heran, untuk apa kau menyambungkan ini ke Gaara!?"
"Karena Gaara itu terlalu posesif! Pasti dia memaksamu, kan!? Jujur!"
"Bukan!" Ino bersikeras. "Sudah kubilang kalau gigitan ini perbuatan Naruto! Kenapa kau masih tidak percaya denganku!?"
"Iya! Aku memang tidak bisa percaya! Sebenarnya, aku sudah tidak pernah lagi percaya denganmu sejak kau pacaran dengan Gaara! Kau berubah! Kau jadi sering berbohong kepadaku!"
"Aku memangnya pernah berbohong apa!?"
"Kau pikir aku tidak tau apa saja yang sudah kau perbuat dengan Gaara?" Suara Sakura memelan, tapi tetap saja terdengar menusuk. "Dan kau... tidak menceritakan apa-apa kepadaku. Kau hanya bilang kalau Gaara itu adalah sosok pria yang menyenangkan untuk dijadikan kekasih. Tapi... nyatanya apa? Dari semua yang kutau: kau hanya dibuatnya rusak, Ino."
Ino terdiam. Kedua matanya tidak berani membalas tatapan mata Sakura yang mendesaknya.
Memang, ia juga sadar akan hal itu. Dia banyak berbohong. Bahkan ia tidak bercerita apapun ke Sakura mengenai kegadisannya yang sudah direbut Gaara. Dan sekali lagi... Ino membenarkan ucapan Sakura. Gaara merubah hidupnya. Gaara membuatnya lebih bahagia... dan rusak. Tapi untuk apa yang dibahas saat ini—tentang siapa yang menggigitnya—adalah benar; bukan kebohongan. Naruto lah yang menggigitnya, bukan Gaara.
"Dan karena itu semua, aku yakin sekali kalau gigitan itu pasti perbuatan Gaara—"
"CUKUP!"
Bentakan Ino membuat Sakura yang sedang emosi itu berhenti berbicara. Dilihatnya Ino yang sudah berkaca-kaca. "Kau mau percaya padaku atau tidak... terserah! Aku tidak peduli!"
Sesudah mengatakan itu, segeralah Ino berbalik dan langsung berlari untuk pergi. Sepertinya ia benar-benar membutuhkan toilet untuk bisa menghapus air matanya dengan air wastafel.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Aaaa, gomen ne lama update-nya. Tapi semoga saja kalian masih sudi baca.
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
meinkmpf, wikan, abi-putraramadhan, Moku-Chan, miikoichi, Guest, Mistic Shadow, gdtop, Chika, Nana, me, Iztii Marshall, kobato-chan, Sukie 'Suu' Foxie, Pig in The Sky, BlueSapphire-Marine, zielavena96, the lonely keybearer, asep w c, uchiha cullen.
.
.
Pojok Balas Review :
Update-nya kelamaan. Gomenn. Utang fict-ku banyak sih di sana-sini sih. Kok Naruto punya kekuatan untuk tumbuh besar? Bukan kekuatan, tapi keajaiban hehe. Nanti aku jelasin deh pokoknya. Naruto ngapain aja di kamar? Apa dia pingsan? Ahaha, dia cuma diem. Mudah-mudahan Ino sayang ke Naruto-nya sebagai saudara, bukan cinta. Lalu bagaimana dengan Naruto-nya? /jejeng. Chap 3 kemaren kayak nonton film action? Eh? Action? :)) Meskipun banyak yang irasional, tetep seru. Arigatou... karena review ini, aku langsung mikir gimana cara bikin yang irasional menjadi sedikit rasional :') Gaara dibuat sama Hinata dong. Pairing yang kubawa di sini udah dua. Kalo kebanyakan, susah aturnya huhu. Buat Hinata jadi jahat dong. Wah, mana mungkin aku tega ngebuat Hinata jadi jahat. Chap depan kasih kebahagiaan untuk Naruto dong. Ngg, apa chap ini udah disebut bahagia? #dor. Apa nanti Ino bakalan minta maaf ke Naruto? Liat aja nanti. Adegan Ino nge-flirt Naruto bikin deg-degan. Arigatouu. Gomen chap ini flirt-nya lebih parah, soalnya emang semi-M sih. Setauku melakukan hubungan xyz dengan pacar tuh udah umum untuk remaja Jepang. Ah, baguslah. Jadi di sini pasti ngga ada yang protes (selain Naruto) :') Sangkain pas Ino buka pintu, bakalan ditarik sama Naruto. Sebenernya sih pengennya chap ini gabung sama chap 3, tapi karena kepanjangan, aku potong hehe.Kenapa ngga pindah ke rated M? Karena aku ngga mau mindahin.
.
.
Next Chap :
"Tumbenan Gaara-kun tidak memberikan kabar mau ke sini..."
"Na-Naruto? Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Ck, cepat kubilang turunkan dia..."
"Kalau tidak dibeginikan, bagaimana bisa sembuh? Naruto no Baka..."
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
