Disclaimer :
Inuyasha - Rumiko Takahashi
Naruto - Masashi Kishimoto
Chapter 04
Sudah beberapa jam Konohamaru mengikuti Shiro dari belakang, berjalan di hutan tanpa sepatah katapun. Jika Shiro tidak mau bercerita tentang apa yang terjadi padanya, Konohamaru merasa tidak pantas untuk memaksanya bercerita lagipula tidak ada luka pada Shiro, yang berarti karena masalah perasaan. Berjalan kesana kemari tanpa arah, Konohamaru menyadari kalau Shiro mulai tersesat namun tidak berani berkata apa-apa pada Konohamaru yang sedaritadi mengikutinya. Konohamaru menahan senyumnya melihat tingkah gadis yang bejalan didepannya mulai panik sendiri.
Sore pun tiba, langit yang biru sudah berganti menjadi jingga. Konohamaru dan Shiro sampai disebuah desa dengan penduduknya yang masih beraktivitas.
"Shiro, sebaiknya kita bermalam disini. Besok pagi baru melanjutkan perjalanan kembali.", ucapan Konohamaru dibalas dengan anggukan Shiro tanda setuju.
"Selamat datang ..", sambut seseorang yang berdiri tidak jauh dari Konohamaru dan Shiro berada dengan wajah tersenyum.
Orang ini terlihat sudah dewasa, berparas tampan, mengenakan kimono putih dan hakama biru tua dengan rapi, rambutnya coklat, telinga yang sedikit meruncing dibagian ujungnya, juga buntut berwarna krem yang fluffy. Berpenampilan seperti Geki (versi laki-laki dari miko).
"Siapa kau ? Han'yo ?", tanya Konohamaru dengan sikap siaga melihat orang yang menyambutnya bukan manusia biasa.
"Han'yo ? Aku adalah Yokai penjaga kuil sekaligus desa ini. Kalian boleh memanggilku Shippo.", jawab Shippo sambil memerhatikan Shiro yang bersembunyi dibelakang Konohamaru.
"Sepertinya kau tidak berniat buruk, kore.", Konohamaru tidak merasakan keinginan untuk menyerang dari Yokai dihadapannya.
"Tentu saja.", jawab Shippo singkat.
"Ada keperluan apa kalian datang ke desa ini ?, tanya Shippo melanjutkan.
"Kami, ingin menginap disini karena sudah terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan.", jawab Konohamaru sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Begitukah ..kalau begitu kalian bisa menggunakan kuli untuk menginap, masih banyak ruangan kosong", Shippo mulai berjalan menuju kearah kuil.
Shiro menarik tangan Konohamaru yang mulai melangkah mengikuti Shippo.
"Tenang saja, dia tidak berbahaya.", jawab Konohamaru seakan mengerti arti dari tarikan Shiro yang memasang wajah khawatir.
Mereka bertiga berjalan menuju kuil yang berada persis ditengah-tengah desa. Kuilnya tidak besar, dan tidak mewah tapi cukup untuk menampung orang satu desa jika semuanya datang ke kuil disaat bersamaan.
"Kalian bisa membersihkan diri terlebih dahulu menggunakan onsen yang ada di kuil ini.", ucap Shippo.
Konohamaru dan Shiro membayangkan onsen campuran, wajah keduanya memerah ketika saling menatap satu sama lainnya.
"Onsen terpisah antara pria dan wanita, dan onsen ini tertutup jadi bisa menikmati onsen dengan tenang. Pakaian gantinya akan kusiapkan.", ucap Shippo membuyarkan apa yang ada dipikiran Konohamaru dan Shiro saat ini.
"Te-terima kasih ..", keduanya mengucapkan secara bersamaan.
Konohamaru dan Shiro menikmati onsen yang hangat dan menyegarkan. Mereka duduk saling membelakangi dipisahkan oleh deretan bambu sebagai pembatasnya.
"Konohamaru ..terima kasih sudah menemaniku.", ucap Shiro.
"Tak masalah ..", jawab Konohamaru.
Lalu keduanya kembali hening dalam keadaan masih berendam.
"Shiro, bagaimana dengan luka dipinggangmu?", tanya Konohamaru mencoba melanjutkan percakapan.
"Luka ?", seketika Shiro teringat dengan luka dipinggangnya, wajahnya kembali memerah mengingat tubuhnya disentuh lelaki.
"Sudah sembuh, tidak ada bekasnya sama sekali. Obat yang kau berikan luar biasa, Konohamaru.", jawab Shiro berusaha senormal mungkin.
Konohamaru merasa aneh karena seharusnya walaupun sudah tertutup luka tersebut masih meninggalkan bekas, tidak hilang begitu saja.
Selesai berendam, Konohamaru dan Shiro menuju ruangan utama mengenakan kimono putih dan hakama merah tua yang tadi sudah disiapkan Shippo.
Di ruangan utama terlihat makanan yang sudah dihidangkan untuk 3 orang, dan Shippo yang menunggu keduanya untuk makan bersama. Konohamaru dan Shiro duduk seiza seperti Shippo dan saling behadapan.
"Terima kasih, untuk semuanya Shippo-san.", Shiro berusaha sopan kepada tuan rumah yang sudah menjamu mereka berdua.
"Akhirnya kau bicara juga, Shiro-chan.", jawab Shippo sambil tersenyum.
"Kau mengenalku ?", tanya Shiro heran. Karena dari awal mereka belum memperkenalkan diri pada Shippo.
"Tentu saja, karena- ..", belum selesai Shippo menjawab, seseorang menggeser pintu ruangan itu dan melangkah masuk.
"Rambut putih, pakaian kimono merah. Kau ..han'yo itu !", dalam sekilas lihat Konohamaru yakin orang yang masuk ini adalah han'yo yang membekukan desa dan Konohamaru bersiap untuk menyerang.
.
.
~ bersambung ~
Note :
Kimono : pakaian tradisional Jepang.
Hakama : pakaian luar tradisional Jepang yang dipakai untuk menutupi pinggang sampai mata kaki.
Geki : penjaga kuil pria.
Miko : penjaga kuil wanita.
Onsen : sumber mata air panas untuk mandi dan berendam.
Seiza : cara duduk yang formal, sopan untuk duduk di lantai tatami Jepang.
