The Past

Chapter 3

Author : zyjizhang

Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Wu YiFan (Kris), and others

Rate : T

Genre : Romance

Desclaimer : Semua cast dalam cerita ini bukan milik saya. Saya hanya meminjam nama dan wajah mereka untuk keperluan cerita. Tapi cerita ini asli miliki saya.

Thanks To:

Jjong86; ;

Jonginisa;sejin kimkai;

Nadiaa; ;

Kamong Jjong;sexkai

MC : If you're not an EXO member, who will you be?

Kris : I am EXO's fan.

..

..

Happy Reading…

..

..

Don't be a plagiator.

..

..

TIGA

NAMUN nyatanya hidung Jongin sama sekali tidak baik-baik saja. Dia terbangun keesokan harinya dan mendapati dirinya susah bernafas. Dia pilek dadakan karena semalam keluar rumah dan berdiam diri di luar dengan udara dingin. Dan sedikitnya Jongin juga merasakan badannya panas. Demam ringan, pikir Jongin. Sudah terlalu sering dia mengalami hal-hal seperti ini.

Dan Jongin tetap bersiap-siap untuk ke kampus seperti biasanya. Kejutan menyenangkan menyambutnya saat dia keluar dari kamar, dalam bentuk Ibunya yang saat ini sedang menyiapkan sarapan untuk Jongin. Tumben sekali beliau jam segini masih di rumah, biasanya dia sudah meninggalkan rumah bahkan sebelum Jongin bangun dari tidurnya. Untuk berkerja, tentu saja.

"Pagi, Momma. Ibu tidak bekerja?" Jongin menyai Ibunya dengan suara sengau. Seketika saja Ibunya menoleh dengan cemas saat mendengar suara sengau Jongin.

"Astaga Nak! Apa yang kau lakukan dengan hidungmu? Kau pilek?" Ibunya sudah menghampiri Jongin bahkan sebelum ia sampai di meja makan. Kemudian ia menyentuh dahi Jongin dengan punggung tangannya. Reaksi spontan seorang Ibu, dan Jongin tak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu. "Badanmu juga panas Jongin. Kau demam! Sebaiknya kau tidak usah ke kampus."

"Oh ayolah Bu. Hanya demam ringan, palingan sebentar lagi reda. Kenapa Ibu tidak bekerja?" tanya Jongin lagi sembari duduk di salah satu kursi meja makan itu.

"Libur. Kau yakin akan tetap ke kampus?" Ibunya mengambilkan roti untuk Jongin yang segera saja Jongin makan dengan lahap. Jarang-jarang Ibunya bisa menemaninya sarapan seperti ini.

"Yakin Bu." Kata Jongin sementara matanya masih berfokus pada roti yang sedang di pegangnya.

Lagi pula, pikir Jongin, di kampus nanti dia akan bertemu Sehun. Setelahnya Sehun akan membawa Jongin ke studio seperti biasanya dan bertemu Kris. Atau Baekhyun dan Chanyeol kalau Jongin agak sial sedikit. Memikirkannya saja sudah membuat Jongin tersenyum senang.

..

..

..

Ruang latihan tari itu jadi tampak terlalu kosong. Jongin sudah berada disana sekitar satu jam yang lalu. Tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda kedatangan Sehun. Mau tidak mau Jongin jadi cemas juga. Bagaimanapun tadi malam Sehun sudah berdiri terlalu lama di luar rumah Jongin. Bagaimana kalau dia sakit?

Pikiran Jongin jadi terpecah. Dia tidak konsentrasi lagi melakukan gerakan tariannya hingga membuat tarian itu kacau. Dia sibuk memikirkan Sehun dan sebagian lagi memikirkan apa yang di lakukan Kris di studio saat ini. Karena sepanjang pengamatan Jongin, laki-laki itu sama sekali tak pernah meninggalkan studio. Dan Jongin curiga bahwa selama ini laki-laki itu bahkan tak pernah keluar dari studio. Terus saja mendekam di dalam sana seperti vampire yang takut terkena sinar matahari.

Setelah diam di ruang latihan itu selama lima belas menit lagi, dan tak bisa mengurangi rasa ingin tahunya, akhirnya Jongin memutuskan untuk pergi saja ke studio itu. Ini masih terlalu pagi untuk datang kesana. Karena biasanya Jongin kesana saat sudah hampir mendekati senja. Jongin tidak tahu apakah mereka menerima tamu di pagi hari. Well, kalau mereka tidak menyukai kehadiran Jongin yang terlalu kepagian dan tanpa di temani Sehun, mereka kan tinggal mengusirnya. Tidak terlalu susah kok.

Maka dengan itu pun akhirnya Jongin mengemas lagi barangnya, bersiap-siap meninggalkan ruang latihan tersebut.

..

..

..

Studio itu masih tampak sama dari luar. Pintunya yang tebal, tertutup. Sejenak Jongin ragu-ragu untuk membukanya. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Ia sudah terlanjur datang kesini, tidak mungkin dia berbalik begitu saja. Maka Jongin membulatkan tekad dan mendorong pintu itu hingga terbuka.

Persis seperti dugaan Jongin, Kris duduk di sofa itu. Apakah dia tidak pernah merasa bosan duduk di tempat itu terus?

"Ehem…" Jongin berdehem guna menyadarkan Kris bahwa dia sekarang ada disini. Kris mendongakkan kepalanya sebentar, kemudian menunduk lagi. Jongin menganggap itu berarti dia boleh masuk tanpa takut di usir. "Ano, Kris…Sehun ada disini?" Jongin mulai bertanya.

Kali ini Kris benar-benar mengangkat wajahnya dan menatap Jongin, "Sehun tidak…" Namun kemudian Kris berhenti dan menyipitkan matanya memandang Jongin. Itu membuat Jongin bergerak tak nyaman. Apa yang salah dengan dirinya hingga membuat Kris menatapnya seperti itu? "Kau sakit." Dan itu hanya sebuah pernyataan.

Kris langsung berdiri dengan gesit, dan dalam sekejap saja dia sudah berada di depan Jongin. Tangan Kris terangkat untuk menyentuh dahi Jongin, yang membuat Jongin tersentak kaget karena tak menyangka Kris akan melakukan hal tersebut. Belum lagi ini merupakan sentuhan pertama mereka, yah, kedua sebenarnya. Yang pertama adalah saat pertama kali Jongin dan Kris saling berjabat tangan.

"Badanmu panas." Jongin mendengar ada nada goyah dalam suara Kris. Tidak sedatar dan sekaku biasanya.

"Tidak apa-apa. Hanya panas biasa." Ujar Jongin enteng. Kris menunduk menatap Jongin masih dengan mata menyipit. Dan Jongin merasa mengkeret di pandangi seperti itu. Tapi, Jongin juga merasa senang Kris bereaksi seperti itu.

"Kau pilek." Lagi-lagi Kris mengatakan sesuatu yang tak bisa Jongin bantah. Karena memang seperti itulah adanya. "Dan demam juga." Yang satu ini juga benar. Jadi Jongin hanya tinggal mengangguk.

Kris kemudian menarik tangan Jongin dan membawanya ke depan sofa.

"Duduk disini. Aku akan mengambilkanmu obat." Dan tanpa menunggu persetujuan Jongin, Kris sudah menghilang di pintu sebelah peralatan drum, yang Jongin tidak pernah tahu itu pintu untuk menuju ruangan apa.

Mengikuti nasehat Kris, Jongin duduk di sofa itu. Dia merasa mengantuk sekarang. Suasana disini begitu nyaman. Hingga membuatnya ingin tidur saja disana. Tapi pikiran itu terhenti saat Kris sudah kembali ke ruangan itu sambil membawa segelas air dan obat di tangan kanannya. Dia duduk di sebelah Jongin. Walaupun aura Kris yang mencekam itu tidak hilang, namun Jongin untuk sekarang merasa tidak terlalu takut. Entahlah, ada sesuatu yang berbeda dalam diri Kris sekarang. Mungkin saja ini karena Jongin sudah merasa terbiasa dengan kehadiran Kris.

"Minum ini." Kris menyerahkan obat serta air itu kepada Jongin yang menerimanya dengan patuh. "Biasanya bisa menurunkan demam dengan cepat." Kata Kris dan memperhatikan Jongin meminum obat itu dengan dahi berkerut. Jongin agak berjengit sedikit saat obat itu melewati kerongkongannya. Dia tidak terlalu suka obat.

"Apa kau selalu meminum obat ini saat demam?" Jongin bertanya sambil meletakkan gelas ke meja di depan sofa itu.

"Ya, walaupun aku jarang sakit." Kris berujar, masih menolak untuk mengalihkan pandangannya dari Jongin. Dan Jongin juga sama sekali tak merasa keberatan. Kehadiran Kris disebelahnya, entahlah, rasanya seperti memiliki tameng yang sangat kuat hingga tak akan ada satupun masalah yang akan menghampirinya selama ada Kis di sampingnya.

Jongin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mata yang semakin memberat. Obat itu pastilah mengandung obat tidur. Dia jadi ngantuk berat.

"Kau ngantuk. Itu biasa, memang seperti itu cara kerja obatnya." Samar-samar Jongin mendengar Kris berkata. Namun tak memiliki cukup banyak tenaga untuk membalasnya. Mata Jongin sudah tertutup dan hampir tak sadarkan diri. Padahal saat itu dia masih dalam keadaan duduk. Dia ngantuk sekali.

Jongin merasa dia sekarang berada antara sadar dan tidak sadar. Dia sudah tertidur tapi masih bisa mendengar samar-samar suara di sekitarnya. Saat itulah Jongin merasa tubuhnya terangkat. Beberapa saat kemudian, dia sudah berada dalam kunkungan sesuatu yang nyaman, keras dan hangat. Jongin tidak tahu itu apa, tapi Jongin menyukainya. Maka Jongin pun terlelap semakin dalam. Rasanya begitu nyaman.

..

..

..

Jongin bermimpi aneh sekali. Mimpinya hanya berupa bisikan-bisikan tidak jelas dan tepukan-tepukan di kepalanya. Jongin seperti berada di tempat yang begitu indah, dan Jongin merasa begitu hangat dan nyaman.

Beberapa saat kemudian, bisikan-bisikan dalam mimpi Jongin berubah menjadi senandung ringan. Bukan senandung dengan suara merdu, suara itu begitu berat. Tapi anehnya membuat senandungan itu seperti lullaby yang membuat Jongin semakin nyaman dalam tidurnya.

Setelah dia berpikir sebentar dalam tidurnya, bahwa mungkin saja yang menyenandungkannya adalah seorang malaikat, Jongin kembali terjatuh dalam tidur tanpa mimpi. Mimpi-mimpi itu lenyap dan Jongin tertidur pulas.

Jongin baru terbangun dari tidurnya saat seseorang menyalakan musik klasik. Jongin mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian Jongin duduk dengan cepat. Dia tidak mengenali tempatnya berada. Jongin sekarang sedang duduk di sebuah springbed putih bersih. Dan ruangan itu juga sama sekali tidak di kenal. Temboknya di dominasi warna putih dengan beberapa lace hitam. Sangat elegan. Tapi itu membuat pertanyaan yang lain semakin mendesak. Dimana ini?

"Kau sudah bangun?" suara berat itu meningkahi dentingan piano yang saat ini terdengar dari suatu tempat di ruangan ini. Jongin menoleh untuk melihat siapa yang berbicara. Ternyata dia adalah Kris. Laki-laki itu berjalan pelan mendekati tempat tidur yang Jongin duduki. Gerakannya pelan, dengan setelan pakaian kasual itu, Kris jadi terlihat terlalu mewah.

Kemudian akhirnya Kris duduk di pinggiran springbed itu. Memandang Jongin masih dengan wajah datarnya. Tangannya terangkat, dan otomatis Jongin menengadah. Entah kenapa, Jongin tahu bahwa Kris berniat memeriksa kembali suhu badannya. Maka dia akan membuatnya semakin mudah.

Kris tersenyum kecil sekali saat Jongin melakukan itu, kemudian tangan Kris menempel di kening Jongin. Wajahnya tampak serius, seakan dia itu seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya.

"Demammu sudah reda." Kata Kris. Tangannya berpindah dari dahi Jongin, hingga sekarang tangan itu menyisir rambut depan Jongin yang tampak berantakan.

"Kan sudah aku bilang ini hanya demam ringan." Balas Jongin. Kemudian mata Jongin kembali meneliti isi kamar itu lagi. "Dimana kita?" tanya Jongin.

"Kamarku." Kris menjawab tangannya kini sudah turun sepenuhnya dan diam di samping tubuhnya. "Kamarku di studio." Jelas Kris lagi saat Jongin menatapnya dengan mata kebingungan.

"Oh." Jongin mengangguk-angguk. Kemudian saat dia kembali menekuri selimut yang saat ini menyelimuti tubuhnya hingga ke pinggang, Jongin kembali teringat tujuannya datang kesini. "Sehun dimana? Dia tidak datang ke kampus hari ini."

Mata Kris kembali mengeras saat Jongin menanyakan itu. "Dia tidak disini. Dia ke Cina."

"Cina? Buat apa dia kesana?" Jongin bertanya dengan keingintahuan yang terlalu kentara. Kris terdiam sejenak, seakan menimbang akan memberi Jongin jawaban yang benar atau tidak.

"Ayahnya menyuruhnya pulang sebentar." Kata Kris akhirnya.

"Ayah? Ayahnya di Cina?"

"Sehun tidak pernah memberitahumu? Kami dari Cina." Ujar Kris sembari membenarkan duduknya.

Jongin terdiam sebentar. Sehun dan Kris berasal dari Cina? Kan, apa kata Jongin, tidak ada orang Korea asli yang memiliki garis wajah seperti itu. Jongin masih tetap diam dengan kening berkerut. Hal itu membuat Kris menatapnya dengan gelisah, mungkin saja karena pria itu ingin tahu apa yang sedang di pikirkan Jongin.

"Kalau begitu, apa hubunganmu dengan Sehun?" akhirnya Jongin berucap sambil menengadah. Bahkan dengan posisi duduk seperti ini pun, Kris masih jauh lebih tinggi daripadanya.

Mata Kris tiba-tiba saja mengeras, bibirnya mengatup, seakan dia sedang bersumpah tak akan menjawab pertanyaan yang Jongin lontarkan. "Itu bukan urusanmu Jongin." Kris memang tidak membentak, tapi ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuat jantung Jongin berdebar-debar keras. Kris kembali menghadirkan aura mencekam yang pernah Jongin rasakan saat pertama kali bertemu pria itu, tapi kali ini beberapa kali lipat lebih parah karena sepertinya Kris sedang marah.

Jongin meneguk ludahnya dengan susah payah sebelum kembali berujar, "Ah ya, itu, itu memang bukan urusanku." Suara Jongin agak sedikit bergetar, yang berusaha setengah mati Jongin tahan agar tak terlalu terdengar Kris.

Namun kelihatannya Kris tetap menyadarinya, karena setelahnya mata Kris melembut saat ia bergeser mendekati Jongin.

"Tidak, tidak. Jangan takut. Aku hanya kaget mendengar pertanyaanmu." Tangan Kris singgah di pipi Jongin saat mengatakannya. Sejenak Jongin takut tangan kokoh Kris akan meremukkannya.

"Aku, aku tidak takut." Akhirnya Jongin menjawab. Ini benar-benar awkward. Posisi mereka saat ini, membuat Jongin mau tidak mau merasa agak canggung.

"Bagus kalau begitu." Kris menjawab, dan kentara sekali dia lega mendengar jawaban Jongin. "Kalau begitu, mau jalan-jalan?"tawar Kris sambil menatap langsung mata Jongin.

"Kemana?" tapi sebenarnya pertanyaan Jongin adalah, jam berapa ini? Dan beruntunglah di dalam kamar itu terdapat jam dinging yang—juga—berwarna putih. Pukul empat sore kurang sepuluh menit. Ah, masih ada banyak waktu sebelum waktunya pulang.

"Kau ingin pergi kemana?" Kris menanyai Jongin yang saat ini menatap matanya. Jongin suka melihat mata itu walaupun tak ada terlalu banyak emosi yang di sampaikan lewat matanya.

"Ada satu tempat yang sering aku datangi dengan Taemin, dan aku ingin kesana."

"Siapa Taemin?" Ah, Jongin lupa bahwa Kris sama sekali belum tahu siapa itu Taemin. Karena orang yang baru mengetahuinya hanya Sehun.

"Sahabatku. Yang setahun lalu pindah ke Jepang." Jelas Jongin singkat. Kris menyipitkan matanya, seakan ia bertekad akan menemukan kebohongan dalam mata Jongin. Tapi tentu saja tidak ada, karena apa yang Jongin sampaikan memang benar.

"Kalau begitu, ayo kesana." Jongin melonjak senang saat Kris menerima usulannya. Cepat-cepat Jongin menyibak selimut dan kemudian turun dari tempat tidur itu. Dia bahkan berdiri lebih cepat dari pada Kris yang saat itu duduk di pinggiran ranjang. Senyum Jongin tersungging demikian lebarnya.

"Ayo!" ajak Jongin, dan Kris ikut berdiri setelah dia merapikan selimut yang Jongin buang asal-asalan tadi.

"Rapikan dulu bajumu." Kata Kris ketika dia melewati Jongin. Mendahului pemuda tan itu untuk keluar dari kamar. Jongin menunduk untuk melihat pakaiannya, dan mengerang putus asa. Bajunya begitu berantakan dan kusut. Tadi Jongin tidur atau berkelahi?

..

..

..

Jongin tertawa senang sesampainya mereka di tempat yang di tuju. Sudah lama sekali dia tidak kesini. Sejak Taemin pergi, rasanya tempat ini menjadi semacam sejarah yang tidak boleh di datangi semena-mena. Karena itulah Jongin tidak pernah datang kesini sebelumnya. Dan lagi, pergi seorang diri ke tempat ini akan menjadi hal paling menyedihkan yang pernah terjadi. Untuk itu Jongin harus berterima kasih pada Kris, kalau bukan karena pria itu, barangkali saja Jongin sampai sekarang akan tetap merindukan tempat ini.

Bicara soal Kris, dimana dia sekarang?

Jongin menoleh kebelakang untuk mencari keberadaan Kris. Rupanya Kris tertinggal jauh di belakang. Berdiri diam di depan pintu masuk tempat ini dengan mimik wajah putus asa. Maka Jongin memutuskan untuk menyusul pria itu kesana.

"Hai Kris, ayo kita masuk." Ajak Jongin antusias. Tapi Kris terlihat sama sekali tak antusias.

"Jongin, game center? Kau mengajakku kesini?" pandangan Kris menyapu satu persatu mainan yang ada disana. Dan mendadak kepalanya menjadi pusing.

"Ya! Ya! Game center! Ayo Kris, masuk!" Jongin menarik lengan kanan Kris untuk memaksanya masuk. Mau tidak mau Kris mengikuti Jongin. Barangkali saja dia tidak ingin membuat Jongin kecewa dengan mengatakan bahwa dia benci tempat-tempat seperti ini.

"Kau bisa memainkan semua benda ini?" tanya Kris saat dia melewati salah satu permainan yang entah apapun namanya. Melihat semua peralatan itu membuat Kris sedikit meringis.

Jongin menatap Kris dengan mata berbinar. "Bisa. Tidak tahu namanya tapi, karena Taemin yang menghafal semua namanya untukku." Sahut Jongin.

Kris hanya diam saja, saat Jongin mulai memainkan satu permainan tembak buruan. Jongin berkonsentrasi pada permainannya. Ia sudah lama sekali tak memainkan permainan ini. Namun saat dia menoleh ke samping untuk melihat Kris yang saat itu sedang memasang wajah datarnya lagi, Jongin melihat banyak sekali gadis-gadis abg yang menatap memuja pada Kris. Jongin lupa, Kris terlalu tampan dan mewah untuk di bawa masuk ke dalam game center ini. Dan entah kenapa melihat pandangan gadis-gadis itu membuat Jongin jengkel, maka Jongin pun meletakkan alat tembakannya dan kembali menarik lengan kanan Kris, mengajaknya pergi dari sana.

"Kita sudah mau pulang?" Kris bertanya agak sedikit berharap. Tentu saja ini siksaan baginya.

"Tidak. Hanya berganti permainan."

..

..

..

Tapi tampaknya yang mereka lakukan bukan hanya sekedar berganti permainan, karena Jongin mendatangi hampir semua stand permainan disana. Kris mengikuti Jongin dengan ekspresi seakan sebentar lagi dia akan di eksekusi. Namun entah kenapa, Kris sama sekali tak mengeluh. Dia tetap menemani Jongin berkeliling game center tersebut tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya.

Sampai akhirnya Jongin menghampiri Kris dengan nafas terengah-engah. Rupanya dia kelelahan karena mencoba semua permainan itu.

"Kau berkeringat." Kris berkata sambil tersenyum. Jongin suka melihat Kris tersenyum seperti itu. Tangan Kris masuk ke dalam saku jaketnya dan mengeluarkan sapu tangan yang masih terlipat rapi. Kemudian tanpa meminta pendapat Jongin, Kris mengelap keringat yang tampak membanjiri dahi pemuda itu. Sesaat Jongin merasa kepalanya berkunang-kunang dan jantungnya berdebar keras.

"Tadi itu menyenangkan! Aku sudah setahun tidak memainkan semua permainan itu. Dan sekarang aku sudah mencoba semuanya lagi." Kata Jongin bersemangat. Dia membiarkan saja Kris mengelap keringatnya sementara dia bercerita tentang kegiatannya tadi.

"Sebegitu menyenangkannya?" Tanya Kris, sekarang dia membutuhkan dua tangan untuk mengelap keringat Jongin. Sebelahnya dia gunakan untuk menahan rambut depan Jongin, sebelahnya lagi untuk memegang sapu tangan. Jadi sekarang mereka berdiri saling berhadapan. Jongin jadi menyadari betapa tingginya Kris.

"Ya. Bagaimana kalau kapan-kapan kita kesini lagi?" ajak Jongin. Tentu saja dia ingin kesini lagi. Dengan Kris. Saat itulah Kris menurunkan tangannya.

"With pleasure." Kris tersenyum. Dan kemudian Jongin tertegun. Dia baru menyadari bahwa sedari tadi Jongin sama sekali tak merasakan aura gelap Kris. Laki-laki itu tampak normal-normal saja sekarang. "Kita pulang, sudah waktunya kau kembali ke rumah."

Tapi tepat pada saat itu, ponsel Kris berdering. Kris segera membuka ponselnya. Tampaknya itu hanya sebuah pesan. Jongin menatap ingin tahu pada Kris, karena seketika raut wajah Kris mengeras.

"Apa?" tanya Jongin hati-hati. Tak ingin membuat Kris marah padanya lagi.

"Lusa." Kris memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku jaketnya.

"Lusa? Apanya yang lusa?" Jongin bertanya dengan bingung. Kris menatap lagi mata Jongin, dan Jongin rasanya mengetahui apa yang di maksud Kris saat menatap wajah Kris langsung. Sesuatu yang memang selalu membuat wajah Kris mengeras setiap kali nama itu disebut. Orang itu, Sehun akan kembali kesini.

"Sehun kembali lusa." Jawab Kris dengan suara kaku.

Jongin tak mengerti apa yang terjadi dengan dua orang ini. Tapi yang Jongin tahu, hubungan mereka buruk. Walaupun mereka bersusah payah untuk menutupinya, tapi tetap saja itu dapat terbaca dengan mudah.

Dan Kris, sebenarnya apa yang Jongin rasakan pada orang ini? Rasa protektif Jongin, bahkan lebih besar kepadanya daripada Sehun.

Senja itu, saat Jongin berada dalam mobil Kris dalam perjalanan pulang, Jongin menyadari perasaan itu. Harusnya Jongin memang sudah tahu, tapi karena rasanya terlalu mendadak dan terlalu halus, Jongin bahkan tak pernah memikirkannya.

..

..

..

*Masih Berlanjut*