A Misc. Plays/Musicals Fanfiction..

Freedom Alliance (FA), present..

My Baby..

Rate: T

Genre: Drama, romance, comedy, SHONEN-AI, YAOI

Disclaimer: L'Arc~En~Ciel milik Ki/oon Records dan Sony Music

GACKT milik Nippon Crown dan Avex Trax

Warning: mengandung YAOI, gaje, gak nyambung, dsb hihihihi ^o^V

Insert Song: "WINTERFALL" by L'Arc~en~Ciel

Pairing: Gackt Camui x Hyde Laruku (GakuHai)


Summary:

Pertemuan dua insan manusia Hyde Laruku dan Gackt. Sejalan dengan pertemanan mereka, tumbuh perasaan cinta di hati mereka masing-masing. Sayangnya mereka selalu menyangkal perasaan mereka, setiap hari mereka bertengkar, dan bersikap jaim. Mungkin tuhan geram melihat tingkah mereka akhirnya Tuhan berkehendak lain, mereka diberikan cobaan dan cobaan itu adalah menjadikan mereka sebagai orang tua angkat seorang bayi!

Apakah dengan cobaan itu mampu mempersatukan mereka? Mari kita cekidot sama-sama.

.

.

MY BABY: PART 4


* 3 PM *

Sekitar jam 3 sore, sebuah bus meluncur dengan kecepatan sedang di antara padatnya jalanan ibu kota. Di dalam bus itu ada Hideto yang sedang duduk tenang di bangku deretan samping kiri sambil mendengarkan lagu melalui earphone handphone-nya. Kedua matanya masih melihat suasana kota Tokyo yang terkenal sibuk itu.

Ckiirrtttttt..

Suara rem dari bus itu terdengar. Bus itu telah menepi dan berhenti di depan halte bus. Hideto menyadari bahwa halte tujuannya sudah sampai, diapun segera beranjak dia bangkunya dan berjalan keluar dari bus itu.

Brooommmm..

Deru mesin bus yang tadi Hideto tumpangi akhirnya meninggalkannya.

Hideto segera melanjutkan perjalannya menuju salah satu studio rekaman yang terkenal dan bergengsi di Jepang. Studio rekaman itu adalah So 'n Ey Music, yang dipimpin oleh You. Setelah 10 menit berjalan akhirnya Hideto berada di depan sebuah gedung megah yang terkenal dengan melahirkan sederet artis dan aktor terkenal mulai dari band, solo karir, boyband dan girlband. Hideto menarik nafas untuk menghilangkan rasa nervous yang dia alami sekarang. Akhirnya dia memantapkan diri masuk ke dalam gedung tersebut.

Ini adalah langkah awal menjadi bintang. Semangat! Osh!

Perlahan Hideto memasuki gedung dengan pintu otomatis yang terbuat dari kaca lebar.

"Whoaaaa~"

Hideto merasa takjub meskipun kemarin dia sudah ke sana, melihat artis-artis terkenal hilir-mudik keluar-masuk gedung.

Kalau saja aku berhasil masuk, dikontrak, dan bergabung dengan agensi itu dan rekaman di sini. Membayangkan semua itu sudah membuatku bahagia. Bagaimana kalau sampai terjadi sungguhan? Hehehe..

Tanpa disadarinya, Hideto sampai tersenyam-senyum sendiri. Tingkahnya mengundang tatapan aneh orang-orang di sekitarnya.

"Akh..! Sudah jam segini! Aku harus cepat menemuinya!" seru Hideto setelah melihat jam di tangannya menunjukkan hampir jam 4 sore.

Tanpa pikir panjang Hideto langsung berjalan sedikit berlari menuju lift terdekat. Di dalam lift Hideto mendengarkan musik melalui earphone yang masih terpasang pada kedua telinganya. (kebiasan author klu nge-kampus).

Hideto masih ingat letak kantor You-san yang dicarinya kemarin. Tidak sulit baginya menemukan ruangan itu, kantor pemilik agensi sekaligus dapur rekaman tersebut berada di lantai 3. Setelah sampai di lantai 3 tinggal belok kiri sudah menemukan tempatnya. Sebuah ruangan khusus dan sedikit berbeda dengan ruangan yang lain.

Tok..tok..tok..

Hideto mulai mengetuk pintu di depannya dengan perasaan sedikit gugup. Tidak begitu lama akhirnya pintu itu terbuka, namun yang membukanya bukan sang CEO-nya melainkan sekretaris yang kemarin mengantarnya.

"Maaf, saya Hideto Takarai. Saya ingin bertemu dengan You-san. Apakah beliau ada?" tanya penuh sopan.

"Apakah Anda sudah membuat janji dengan beliau?" tanya sang sekretaris memastikan.

"Hai'! Kami sudah janjian untuk bertemu sekitar jam 4 sore hari ini."

"Kalau begitu, silakan masuk Takarai-san. Silakan duduk, saya akan panggilkan You-san. Mohon tunggu sebentar."

"Arigato."

Sang sekretaris itu meninggalkan Hideto di dalam ruang tunggu yang biasa digunakan untuk menjamu teman-teman You. Diapun menuju ke sebuah tempat sang CEO berada. Hideto menunggu dengan tenang.

.

.

* Minoru_666 *

.

.

"Konnichi wa..! Takarai-kun..," sapa You tidak lupa senyuman ramah menghiasi wajahnya.

Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu menampakkan batang hidungnya.

You mengulurkan tangannya, tanpa harus disuruhpun Hideto menyambut uluran tangan You. Mereka saling berjabat tangan, tidak ada suasana tegang yang dirasakan Hideto. Justru suasana yang friendly yang dirasakannya sekarang ini. You memang ramah, mudah tersenyum kepada siapa saja maka dari itu tidak heran para karyawan maupun artis yang dia bina sangat betah berkerja sama dengannya. (Editor: You kayak Sai -Naruto- dong? Senyam-senyum gaje)

"Bagaimana Takarai-kun? Apa Anda sudah siap mengikuti audisi kami?" tanya You memulai pembicaraan.

"Saya siap You-san, semakin cepat semakin baik kan?"

Hideto tersenyum manis pada You.

Kawaii..pikir You dalam hati.

You terdiam seketika melihat senyuman menawan milik Hideto. Kejadian sama yang pernah dialami oleh Gackt, sahabatnya, walau You tidak mengetahuinya. Tiba-tiba You tersadar.

"Kalau begitu ikut dengan saya," ajak You.

Hideto mengekor You kemana pria itu pergi. Melewati koridor yang panjang lalu belok kanan. Nampak sebuah ruangan besar dengan interior indah berada di depan Hideto dan You. Mereka melihatnya melalui kaca besar yang ada di samping ruangan itu. You tersenyum ketika melihat Hideto terdiam dengan mulut sedikit menganga. You membuka pintu

Whooaaa..keren~!

Hideto merasa takjub melihat ruangan itu begitu luas, peralatan rekaman super canggih dan lengkap. Terlihat pula beberapa ruangan khusus dengan peralatan musik yang lengkap untuk band, untuk orchestra, dan latihan koreografi. Semua itu berada pada ruangan luas itu. Ruangan dalam ruangan.

Hideto memperhatikan beberapa orang sedang bekerja dengan seorang artis. Mereka sedang merekam sebuah lagu, mungkin lagu barunya. You sengaja tidak mengganggu mereka agar mereka bisa bekerja semaksimal mungkin. Dia hanya tersenyum melihat mereka, sesekali menganggukan-anggukan kepalanya mengikuti irama musik.

"STOP!" perintah sang produser tiba-tiba, menandakan bahwa hasil merekamnya telah sempurna.

"Plok..plok..plok.. Bagus! Sempurna..," kata You sembari memberi aplouse kepada mereka.

Mendengar suara tepuk tangan tadi otomatis menarik perhatian orang-orang itu.

"Ah! You-san, apa kabar? Tumben Anda kemari. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang manager.

"Kabarku baik-baik saja Kei-san. Oh ya, saya membawa calon vocalis baru untuk proyek band rock kita," papar You.

"Tentu saja You-san. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai manager rekaman."

"Takarai-kun, kenalkan ini Kei-san. Dialah manager rekaman paling hebat di sini. Dan Kei-san, dia adalah Hideto Takarai."

Hideto dan menejer itu saling berkenalan dan saling berjabat tangan.

"Baiklah Takarai-kun, Anda bisa masuk ke dalam ruang rekaman," kata Kei-san seraya mempersilahkan Hideto memasuki ruangan dengan peralatan musik yang lengkap.

Hideto masuk ke dalam ruangan itu dengan canggung. Seorang pemuda berambut coklat datang menghampirinya seraya membantunya mengenakan headphone khusus untuk rekaman. Pemuda itu membawa sebuah gitar di punggungnya. Sepertinya dia seorang gitaris.

"Takarai-kun? Kau bisa mendengarku?" tanya Kei-san melalui microphone di depannya.

Microphone itu tersambung dengan headphone yang dipakai Hideto. Jadi dia bisa mendengar suara Kei-san walau berada di ruangan kedap suara.

"Hai'!" seru Hideto di depan microphone besar di depannya.

"Nanti lepaskan suaramu se-natural mungkin. Tidak perlu gugup. Santai saja, anggap Anda sedang berkaraoke."

Hideto mengagguk mantap.

"Oke siap? Ichi, ni, san! Mulai!" aba-aba dari sang manager seraya memberi kode dengan jentikan jari.

Hideto memejamkan kedua matanya lalu menghela nafas panjang. Diapun mengeluarkan suaranya yang indah perlahan. Hideto mulai bernyanyi. Awalnya tanpa musik apapun. Lalu perlahan terdengar suara petikan gitar yang dibawa pemuda berambut coklat tadi.

.


"..Masshiro na toki wa kaze ni sarawarete..
Atarashii kisetsu o hakobu
Koboreta shita te no hira no yuki wa
Hakanaku kirameite..

Irozuki hajimeta machi
Kizukeba nori okureta mitai
Me o tojita boku wa fuyu no tsumetasa o
Ima demo atatakaku kanjiteiru

Setsugen no daichi ni futari kiri no toiki ga mau
Tsunaida yubisaki ni
Taisetsu na kimochi o oboeta yo

Kakedasu sekai ni kokoro ubawarete..
Mujaki na hitomi ni yureru
Furi sosogu yuki wa yasashiku egao tsutsumu kara
Boku wa eien o negatta..

Kanojo ga mitsumeteita
Modobe ni okareta GARASU zaiku
Toomei na yuki no kesshoo no kagayaki o
Omowasete wa setsunaku kasanaru

Kokoro no rasen yuri sama yoi tsuzukeru boku ni
Ayamachi wa totsuzen me no mae o fusaide aza warau

Masshiro na toki wa kaze ni sarawarete..
Atarashii kisetsu o hakobu

Ima mo mune ni furi tsumoru omoi nagamete wa
Mienai tameiki o ukabeta

Sobietatsu sora kakomarete furueru kata o iyasenai
Kogoeru kumo ni oowarete shiran kaode moeru taiyoo

Seijaku no kanata ni kegarenai kimi o mitsume
Ososugita kotoba wa moo todokanai ne

Miserare kakedasu sekai ni kokoro ubawarete..
Mujaki na hitomi ni yureru
Furi sosogu yuki wa yasashiku egao tsutsumu kara
Pieces of you, pieces of you, lie in me inches deep

Masshiro na toki ni kimi wa sarawarete
Odayaka na hizashi no naka de
Boku wa nakushita omokage o sagashite shimaukedo
Haru no otozure o matteru
Sobietatsu sora kakomarete
Shiran kaode moeru taiyou.."

(WINTERFALL by L'Arc~en~Ciel)


.

"Oke! Semua sudah saya record," ujar Kei-san pada You.

You menanggapinya dengan senyuman. Rekaman yang dilakukan untuk mengukur kemampuan bernyanyi dan vocalnya Hideto telah selesai. Pemuda itupun keluar dari dalam ruang rekaman setelah menyanyikan beberapa lagu sesuai perintah sang manager.

"Untuk Takarai-kun, tinggal menunggu kabar dari pihak rekaman. Karena kami akan mendiskusikan dulu dengan pihak-pihak yang lain," tambah sang Produser rekaman yang berdiri di samping You.

"Hai! Baiklah Tuan, saya akan tunggu keputasannya."

Hideto membungkuk memberi hormat kepada sang produser dan sang manager, tidak lupa senyuman manisnya turut menghiasi wajah cantiknya itu.

"Semoga kita bisa bekerja sama, Takarai-kun," ujar You tiba-tiba.

"Iya, saya juga mengharapkannya. Lalu apa ada tes yang lain?" tanya Hideto.

"Hm..tidak ada, kurasa sudah cukup untuk bahan pertimbangan kami nanti."

"Yogatta. Kalau begitu saya permisi pulang. Ini sudah hampir malam."

Hideto membungkuk memberi hormat sekali lagi pada tiga orang petinggi dalam perusahaan itu.

"Tidak perlu terlalu formal..," kata You sambil mengibas-kibasnya tangannya.

"Matta ne You-san."

"Hm!"

Hideto berjalan meninggalkan ruangan itu. Hatinya bahagia, sangat bahagia.

"Bagaimana menurutmu?" tanya You pada dua orang di hadapannya.

"Menurutku warna suaranya unik, penampilan juga lumayan bagus," jawab sang produser.

"Kurasa..jika kita melatihnya sedikit lagi, dia akan sempurna," ujar sang manager memberi pendapat.

"Hahaha..menurutku oke juga. Tapi belum tentu dengan yang lainnya kan?" tanya You dengan santai.

.

.

* Minoru_666 *

.

.

Hideto menyusuri koridor dengan santai. Sedikit bersenandung kecil. Diliriknya jam tangan yang ada pada pergelangan tangan kanannya. Jam tangan itu sudah menunjukkan pukul 7 malam.

"Sudah malam! Tak kusangka mengikuti serangkaian audisi itu membutuhkan waktu lama," gumamnya.

Diapun mempercepat langkah kakinya menuju pintu keluar yang hanya tinggal beberapa meter lagi dari tempatnya berdiri. Diraihnya earphone yang disimpannya di dalam saku celananya tadi.

Sementara itu di depan pintu masuk terlihat seorang pemuda bermantel coklat berjalan lurus ke arah depan. Pemuda itu mengalihkan matanya ke depan dan melihat sosok pemuda yang dikenalnya dan ingin ditemuinya sejak kemarin. Pemuda itu tersenyum. Diapun berjalan cepat menghampiri pemuda itu.

"Hideto! Hei…! Hideto..!" panggil pemuda itu.

Gakuto-san..?

Gackt tersenyum ketika Hideto melihat ke arahnya. Tiba-tiba Hideto berbalik dan berjalan menjauhi Gackt. Diapun keluar dari gedung itu melalui pintu samping. Gackt mengikutinya. Hideto terus berjalan menyusuri trotoar yang cukup ramai tanpa menoleh ke belakang.

"Hideto..! Hideto..! Tunggu..!" panggil Gackt sambil sedikit berlari karena tidak ingin tertinggal.

Hideto semakin mempercepat langkah kakinya. Diperbesarnya volume music pada handphone-nya. Dia tak ingin mendengar suara Gackt. Sementara orang-orang di sekitarnya menoleh ke arah Hideto dan Gackt dengan tatapan aneh.

"HIDETO STOP!" teriak Gackt sekali lagi dengan kerasnya dan kali ini sukses membuat pemuda yang namanya dipanggil itu berhenti.

Hideto menundukkan kepalanya. Perlahan dia menoleh ke belakang dimana sumber suara itu berasal. Kedua mata mereka bertemu. Gackt berjalan cepat menuju tempat Hideto berdiri. Tapi Hideto brbalik dan menyeret kaki jenjangnya untuk berlari secepat kilat menghindar dari Gackt. Karena dia tidak ingin bertemu dengan lelaki itu setelah kejadian semalam. Dalam hatinya masih ada rasa kesal terhadap Gackt.

Gackt yang melihat Hideto menghindarinya, tentu saja Gackt tidak mau kalah. Diapun ikut berlari mengejarnya. Akhirnya mereka berdua saling kejar-kejaran, dan kejadian itu sempat menimbulkan perhatian orang-orang sekelilingnya.

"Hosh..hosh.. Sial! Larinya cepat sekali!" gerutu Gackt kelelahan. "Sial! Kalau begini terus, aku tidak bisa bertemu dengannya lagi."

Gackt mempercepat laju larinya. Bagaimanapun juga Gackt lebih tinggi dari Hideto.

Grep!

Gackt berhasil meraih tangan putih Hideto. Menggenggamannya dengan kuat sampai Hideto mau tak mau harus menghentikan larinya.

"Uh! Lepas..aku bilang lepaskan!" pinta Hideto galak sambil terus meronta. "Ittai na..!"

Pergelangan tangannya sudah mulai sakit dan memerah.

"Calm down Hideto! Hosh..hosh.. Calm down, aku hanya ingin bicara denganmu. Aku minta maaf atas ulahku kemarin," ucap Gackt dengan nafas sedikit tersengal-sengal.

"Aku bilang lepaskan tanganku! Gakuto-san!" teriak Hideto sambil mencoba melepaskan tangannya.

"Aku tidak akan melepaskanmu jika kau tidak mau diam. Dan dengarkan aku kalau bicara!" bentak Gackt pada pemuda manis di depannya.

Hanya ini cara yang terlintas di pikiranku untuk membuatmu tenang, Hideto..kata Gackt dalam hati.

Hideto tersentak. Sedikit tenang namun raut wajahnya masih terlukis rasa jengkel yang teramat sangat.

"Baiklah kudengarkan. Tapi lepaskan dulu pergelangan tanganku! Ittai na!" bentak Hideto kesal.

Gackt melepaskan pergelangan tangan Hideto dengan terpaksa. Dengan posisi sedikit membungkuk karena mensejajarkan wajahnya dengan wajahnya Hideto, tangan-tangan berkulit putih mulus pemilik laki-laki cool dan tampan itu memegang kedua bahu Hideto dengan sedikit erat. Dan dalam sekejap mereka menjadi pusat perhatian semua orang.

"Hideto dengarkan aku. Aku minta maaf atas kejadian kemarin malam."

"..."

Tak ada jawaban dari Hideto.

"Aku..aku..saat itu hanya bercanda dan aku tidak tahu semuanya akan menjadi seperti ini."

"..."

"Aku menyesal.."

"..."

"Gomen.."

"Heck! Mudah sekali meminta maaf. Bagaimana kalau Gakuto-san yang berada di posisiku? Harga diriku sudah dipermainkan laki-laki aneh sepertimu!" bentak Hideto dengan senyum sinisnya.

Sudah kuduga ini takkan mudah.

Hideto mengalihkan kedua matanya dari Gackt, enggan melihatnya. Tiba-tiba Gackt menggenggam kedua tangan Hideto dan meletakkannya pada dada seperti sedang meminta ampun kepada kekasihnya!

Kedua mata Hideto terbelalak melihat perlakuan Gackt padanya. Begitupun dengan orang-orang di sekitar mereka. Di antara kerumunan itu ada beberapa gadis menatap mereka dengan seringaian licik di wajah mereka. Tak lupa sebuah kamera ada di genggaman mereka.

"Please Hideto..," bujuk Gackt dengan tatapan sendunya.

Eeh..? Apa yang dilakukannya sih? Gerutu Hideto dalam hati.

Jujur karena perbuatan Gackt tadi sempat membuat Hideto sedikit luluh dan malu-malu, tapi egonya lebih mendominasi pikirannya.

"Please.."

Hideto berpikir sejenak.

"NO! Tidak! Tidak akan!" jawab Hideto dengan penekanan pada setiap katanya.

Diapun membuang muka dari Gackt.

Tak terasa tubuh Gackt sudah dalam posisi bertekuk lutut ala abad pertengahan. Layaknya seorang pangeran yang membujuk sang putri dengan tulusnya. Entah kenapa Gackt menjadi pria cengeng seperti ini bila berhadapan dengan Hideto.

"Hideto..gomen nasai.."

"A, apa..apa yang kau lakukan? Ini memalukan! Cepat berdiri Gakuto-san!" perintah Hideto dengan wajah sedikit merona.

"Aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkanku." (Editor: Cieh..cieh..)

Hideto membuang nafas dengan berat.

"Aa..?"

"AHH..! GACKT! My best friend~!" teriak seseorang sambil berlari dari arah belakang.

Siapa? Tanya Gackt penasaran.

Tanpa sadar Gackt beranjak dari tempatnya berlutut.

Tadi kau bilang kau tidak akan berdiri sebelum kemaafkan. Huh! Pembohong!

Bruugh.. Argh!

Tidak segan-segannya pemuda itu memeluk Gackt dari belakang. Hideto hanya bisa menonton. Tetapi kedua mata indahnya membulat sempurna ketika menyadari siapa pemuda yang memeluk Gackt itu. Hanya satu orang yang berani melakukan hal konyol seperti itu kepada Gackt.

Aiissshhh…orang ini mengganggu saja! Sial..! Batin Gackt kesal.

"You! Apa-apaan kamu? Ini memalukan! Cepat lepaskan aku!" perintah Gackt dengan kasar.

"Biarkan saja..," ujar You dengan santai.

Kali ini You sedikit kelewatan. Reputasi Gackt sebagai seorang artis tampan, cool, dan fashionable yang perfectionist ternoda oleh kejadian ini. Sementara itu Hideto yang sedari tadi melihat tingkah laku mereka sedikit iritasi.

Apa-apaan mereka ini? Melakukan hal seperti ini di tempat umum. Memalukan!

"Gakuto-san lebih baik aku pergi saja, tidak enak mengganggu acara mesra-mesraan kalian," ujar Hideto sambil melambaikan tangannya lalu pergi dari hadapan Gackt.

"Hah! Ini tidak seperti yang kau pikirkan.. Tunggu Hideto..! Heii..!" panggil Gackt.

Namun Hideto terus melangkah pergi.

Raut wajah Gackt menyiratkan penyesalannya. Sekarang tak ada yang bisa dilakukannya untuk meminta maaf pada Hideto. Apalagi kesalahpahaman di antara mereka semakin bertambah besar. Sedangkan You masih dalam posisi memeluk tubuh Gackt dengan santainya. Sepertinya You tidak merasa bersalah akibat perbuatannya.

"Hee~ Sepertinya kalian sedang sibuk ya? Sepertinya aku sudah mengganggu kalian," kata You.

Muncul empat perempatan di urat pelipis Gackt. Melihat tingkah sahabatnya yang memasang tampang innocence membuat amarah Gackt tak bisa dibendung lagi. Aura kegelapan mulai menyeruak dari seluruh tubuh Gackt. Mendadak suhu udara di sekitar Gackt dan You menjadi dingin.

"O'oo.."

Alarm bahaya milik You berbunyi. You melepaskan pelukannya pada Gackt. Merasa nyawanya sedang dalam bahaya, dia mulai berjalan mundur menjauhi Gackt. Sepertinya Gackt akan mengeluarkan semua kemarahannya pada You.

"YOUUU...!" panggil Gackt dengan suara menggelegar.

"Ehk! Gackt, sadarlah.. Aku temanmu kan? Hehe."

"Kau harus menerima akibatnya!"

Gackt berjalan mendekati You dengan aura seramnya. Orang-orang yang ada di sekitar mereka telah berhamburan pergi menjauh. Gackt mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Sang pengeran kegelapan telah bangkit dari tidur panjangnya. Tak ada senyum ramah ala malaikat menghiasi wajah Gackt. Yang ada hanyalah seringaian ala setan.

BRUAG..! BAK! BUK!

"KYAAA...!" jerit You begitu Gackt mulai menyerangnya bertubi-tubi.

Sekitar sepuluh menit kemudian terlihat seorang pria tergeletak tak berdaya di trotoar dalam keadaan wajah berhias dengan memar-memar dan tubuhnya terlihat babak belur. Disinyalir pria itu adalah korban dari keganasan Gackt. Pria itu adalah You. Poor You.

.

.

* Minoru_666 *

.

.

* 10 PM *

Hari ini adalah hari tersial untuk Gackt. Pertama, dia sudah gagal mendapat maaf dari Hideto. Kedua, mendapat gangguan dari makhluk planet Mars bernama You yang memperparah kesalahpahamannya dengan Hideto.

Gackt duduk di jok belakang mobilnya dengan lesu. Tatapan kedua matanya sendu, tidak ada gairah untuk hidup. Gackt mendengus. Sesekali dia memijat keningnya yang terasa sedikit pusing.

Ckiiirtt..

"Tuan Gackt, kita sudah sampai rumah," ucap Pak Jun, sopir Gackt seraya membukakan pintu mobil di samping Gackt.

"Ah..! Iya."

Gackt tersadar dari melamunnya. Diapun segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari mobilnya.

"Arigato."

Gackt berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumahnya yang tinggal bebrapa meter lagi. Tidak sengaja matanya menangkap suatu objek tak jauh dari tempatnya berdiri. Objek itu berada di antara semak-semak di halaman depan rumahnya. Penasaran. Gackt melangkahkan kakinya mendekatinya. Objek itu terlihat makin jelas. Kedua mata sipit Gackt terbelalak sempurna.

"GYAAAA..!" teriak Gackt sekencang mungkin.

Pepohonan sampai bergoyang dan dedaunan sampai berguguran..karena angin ditimbulkan oleh Gackt.

"Oh, my God! Oh, my God! ARGH..! Cobaan apalagi ini, Kami-sama?" tanya Gackt sraya mendongak ke langit di atas sana.

Diapun berjalan mondar-mandir seperti setrika.

Calmdown Gackt..calmdown.. In pasti cuma mimpi! Ya! Ini mimpi!

"Huff.. Tarik nafas..hembuskan.."

Gackt menutup kedua matanya dan mencoba mengatur pernafasan. Menenangkan diri.

Srak..srak..srak..

Terdegar langkah kaki mendekat ke arah Gackt berada.

"Ada apa, Tuan Gackt?" tanya pak Jun sedikit khawatir.

"Ah! Err..hahaha..tidak ada apa-apa. Tadi cuma teringat sesuatu. Ada file yang tertinggal di tempat kerja," jawab Gackt sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Gackt tersenyum paksaan karena di pikirannya bagaimana caranya agar orang tua separuh baya itu pergi dari hadapannya dan tidak curiga.

"Apa perlu saya antar kembali ke kantor sekarang juga?"

"Ah..tidak..itu bukan file penting. Oya, besok jangan lupa mengantarku ke tempat You sekitar jam 3 sore."

"Baik Tuan. Ada hal yang lain lagi?"

"Istirahatlah. Kau sopirku yang paling kupercaya."

"Baik Tuan."

Akhirnya pak Jun beranjak menuju pondok kecil yang tersedia khusus untuknya. Gackt menghela nafas lega. Diapun mendekati semak-semak yang menadi perhatiannya tadi. Mengamati objek itu dengan seksama. Kedua alisnya bertautan. Heran.

Kalau dibiarkan di sini semalaman, kasihan juga. Cuacanya dingin. Lebih baik kubawa masuk saja.

Gackt mengangkat objek itu dengan kedua tangannya. Dengan cepat dibawanya masuk ke dalam rumahnya. Lalu meletakkannya di meja tamu. Gackt duduk di depannya.

"Hei..kenapa kau bisa ada di sini? Apa yang kau lakukan sendirian di luar sana? Dimana rumahmu?" tanya Gackt bertubi-tubi pada objek yang ada di atas meja.

Tak ada jawaban dari objek itu.

"Kalau ada yang bertanya, jawablah.. Jangan hanya diam saja. Itu tidak sopan kan?"

Mungkin stress yang melanda Gackt membuatnya bicara sendiri dengan objek itu. Atau mungkin ada yang salah dengan urat syarafnya. Sepertinya dia sudah mulai gila.

.

.

~ To be Continue ~


Author's Note: Apa yang ditemukan Gackt di depan pintu rumah mewahnya itu sehingga menambah frustasi dirinya? Jangan lupa ikutin terus ff ini yah para readers tercinta, jgn lupa tinggalkan jejak kalian, saran, kripik atao pujian jg boleh nyehehehehXD


Balasan review:

futari chan: thnx reviewnya. Biasalah uke kan melibatkan perasaan. Gackt juga keterlaluan sih..

Aihi Mizuhara: iya, sepertinya bakal ada perpecahan tim.

Thnx to MIZU Keylayg sudah menambahkan ke favorite.