Dislaimer:
Masashi Kishimoto
Pair:
SasuFemNaru
Warnig:
Sho-ai untuk menunjang jalannya cerita
Setelah Naruto dibawa pulang oleh kakaknya, aku segera beranjak memasuki kamar dan meninggalkan anikiku yang sepertinya masih bingung dengan apa yang terjadi. Aku segera memasuki kamar mandi yang berada didalam kamarku. Setelah aku menanggalkan seluruh pakaianku, aku pun segera memasuki bathtub yang sebelumnya telah kuisi dengan air hangat dan berendam didalamnya. Ah, rasanya nyaman sekali. Penat yang tadi bergelayut manja ditubuhku mulai menghilang sedikit demi sedikit. Bibirku mulai terangkat kala wajah tan dengan tiga garis halus dimasing-masing pipinya itu menyeruak masuk kedalam kepalaku. Rasanya lucu sekali saat melihat kedua pipinya menggembung dengan bibir yang sedikit dimajukan saat ia kesal, dan bagaimana tiga garis halus itu akan tampak jelas terlihat pada saat dia tertawa. Rasa hangat menjalar didalam dadaku saat mengingatnya. Tapi ada rasa sesak ketika cairan bening menetes dari mata birunya yang indah. Ah, apa aku terlalu keterlaluan padanya? Apa sebaiknya aku mengurangi atau bahkan menghilangkan hukumannya? Tidak, tidak, seorang Uchiha tak akan melakukan hal itu, ini semua sudah menjadi tanggung jawabku dan menjadi resikonya karena telah melanggar tata tertib yang ada. Seandainya saja dia menurut dan tidak melakukan hal aneh, hukumannya pasti tak akan sebanyak itu yang mengharuskanku memutar otak untuk mencari hukuman yang tepat dan membuatnya jera.
Tok Tok Tok
Buyar semua lamunanku ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mandiku. Kuhiraukan ketukan itu dan menutup mataku sambil kembali membayangkan gadis berkulit tan itu.
Tok Tok Tok
Ketuka itu kembali terdengar dengan sedikit keras dan kembali melenyapkan sosoknya dalam kepalaku.
"Ada apa?" ujarku dingin dengan sedikit berteriak.
"Cepat selesaikan mandimu! Tousan dan kaasan sudah menunggu kita di meja makan," ujar seseorang yang kukenal dari balik pintu.
"Hn."
Setelah tak terdengar suaranya lagi, aku pun segera menyelesaikan mandiku dengan cepat.
XOXOXOXOXO
Ah, sungguh makan malam yang membosankan. Tidak ada hari tanpa membicarakan bisnis. Memangnya tidak ada hal lain yang lebih menarik selain bisnis. Ck, dasar penggila kerja. Kuhempaskan tubuhku ke atas kasur, kuletakkan kedua tanganku dibelakang kepala dan menjadikannya sebagai bantalku dengan pandangan menatap langit-langit kamar. Wajahnya ketika tersenyum kembali terlihat jelas, dadaku kembali menghangat saat melihatnya, Kupejamkan mataku untuk menikmati kehangatan ini.
Drrrrtt Drrrrt Drtrrt
Mataku kembali terbuka saat terdengar sesuatu yang bergetar. Kupalingkan wajahku ke arah sebuah meja kecil disamping tidurku. Terlihatlah sebuah ponsel dengan wrna kuning yang mencolok tengah bergetar dengan lampu layar yang berkedip-kedip dengan nama wakil perkasa calling. Tanpa ragu segera kureject panggilan itu. Kupandangi layar ponsel itu lekat-lakat. Sedetik kemudian tawa kecil keluar dari bibirku. Dasar bodoh, umpatku. Orang akan memasang wajah tercantik mereka sebagai wallpapernya, tapi tidak dengan gadis pemilik ponsel tersebut. Sebuah photo yang full dengan wajah seorang gadis berkulit tan berkuncir dua dengan pipi yang digembungkan dan jari telunjuk yang menekan bagian depan hidungnya sehingga membuatnya terlihat seperti sebuah hidung babi menjadi wallpaper ponsel itu.
Ponsel itu kembali bergetar, kali ini seseorang dengan nama kakak pertama sok acuh yang memanggilnya. Tanpa berpikir panjang, panggilan itu pun segera kureject.
Setelah melihat wallpaper yang terpampang dilayar ponselnya, aku pun mulai penasaran dengan photo-photo gadis pirang itu. Aku pun membuka menu dan membuka gallery. Belum selesai loading untuk membuka gallery itu, ponsel kembali bergetar, kakak tengah china calling. Panggilan itu pun kembali kureject seperti dua panggilan sebelumnya. Tanganku kembali bermain diatas keypad ponsel tersebut dan membuka sebuah folder dengan nama photo. Ponsel kuning ditanganku kembali bergetar, kali ini bukan sebuah telepon, melainkan sebuah pesan. Kuhiraukan pesan itu dan kembali membuka folder photo itu.. Didalamnya masih terdapat beberapa folder lagi. Aku pun membuka satu per satu isi folder itu. Tak ada yang lebih menarik daripada photo gadis berkulit tan itu. Dari seluruh photonya, ada satu yang menarik perhatianku. Photo yang menampilkan sosok dirinya tengah duduk disebuah ayunan dengan dress selututnya dengan rambut pirang panjang yang tergerai dan menari searah hembusan sang angin seraya tersenyum manis. Kurasakan jantungku yang berdetak lebih cepar dari biasanya dan sepertinya pipiku mulai memanas. Namun rasa bahagia itu terusik oleh getaran ponsel ditanganku yang menandakan adanya sebuah, ah, tidak. Dua. Ah, tidak, kini sms itu terus bertambah dan berhenti setelah lima belas pesan masuk. Tak mau terganggu oleh pesan tak berguna itu lagi, aku pun segera membalas semua pesan itu yang semuanya berasal dari para fuhikogo anggota Naruto tanpa terlebih dahulu membaca isi pesan itu.
''Ah, begini lebih baik, tenang dan damai tanpa gangguan,'' gumamku.
Aku kembali melakukan aktivitas yang sempat terganggu. Beberapa gambar dirinya mulai berpindah kedalam ponselku. Setelah selesai, aku kembali melihat-lihat photonya.
"Eh, apa ini?" mataku kini tertuju pada sebuah folder dengan nama yaoi. Tanpa membuka dan melihat lebih dahulu isi photo tersebut, aku segera menghapus folder tersebut.
Malam telah semakin larut, kantuk pun mulai menyerang. Sepertinya aku akan tidur. Ya, tapi setelah aku menghapus video-video tak berguna dari ponselnya.
XOXOXOXOXO
Matahari kembali bersinar setelah sinarnya redup oleh malam kelam. Sinar matahari mulai masuk menyinari melalui tirai putih yang menari-nari lembut sesuai hembusan angin yang masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.
Seorang pemuda dengan rambut pirang panjang terlihat tengah memasuki kamar dengan nuansa orange secara perlahan. Pemuda itu pun mendudukkan dirinya ditepi ranjang, membelai sayang gadis yang identik dengannya.
"Naru, ayo bangun. Kau bisa terlambat, un." Ditepuknya perlahan pipi yang memiliki tiga garis halus itu. Mata itu perlahan terbuka, senyum pun tersungging dibibirnya saat melihat sang kakak.
"Ayo cepat siap-siap. Aku akan mengantarmu," ujar Deidara. Pemuda itu pun beranjak dari kamar bernuansa orange itu setelah sebelumnya mengacak rambut sang adik.
Dengan kesadaran yang sudah terkumpul sepenuhnya, Naruto turun dari kasurnya dan..
Bruk
..dia terjatuh.
"Ugh, kaki sialan," umpatnya. Kemudian kembali berdiri dan berjalan seraya memegang segala sesuatu yang dapat membantunya menopang tubuhnya agar tidak jatuh lagi.
XOXOXOXOXO
Setelah memakan sarapannya, Naruto segera diantar oleh sang kakak. Awalnya Naruto heran kenapa sang kakak yang biasanya akan menolak untuk mengantarnya pergi ke sekolah, kini dengan senang hati dan tanpa diminta mau mengantarkannya. Yup, apalagi kalau bukan karena kaki sang adik yang terkilir dan mengharuskannya menggunakan sebuah tongkat untuk membantunya berjalan.
Setelah lima belas menit, mobil berwarna biru itu berhenti didepan sebuah gerbang besar. Dengan sigap Deidara segera turun dan membantu Naruto keluar dari mobil dan akan mengantarkannya hingga ke kelas jika saja Naruto tak bersikeras menolak tawarannya tersebut.
Dengan sedikit terpincang dan bantuan sebuah tongkat, Naruto melangkahkan kakinya memasuki halaman Konoha High School.
'Eh, kenapa mereka melihatku seperti itu? Ah, pasti karena kakiku ini. Ugh, dasar Teme jelek! Lihat saja, aku akan membalas perbuatanmu. Kaki harus dibalas dengan kaki,' batin Naruto.
XOXOXOXOXO
"Eh, jadi kalian mendapat pesan seperti itu juga?" Tanya seorang gadis berambut merah jambu tak percaya.
"Iya, aku kaget. Bagaimana bisa dia berkata kita mengganggunya dan memutus persahabatan kita. Padahal dia yang selalu mengingatkan kita kalau kita itu satu dan tak boleh terpisahkan hanya karena masalah sepele. Sekarang lihat, siapa yang merusaknya? Padahal kita hanya ingin bertanya tentang keadaannya. Menyebalkan," ujar gadis berambut pirang yang diikat tinggi seraya memukul meja dihadapannya dan membuat beberapa siswa di kelas itu menatapnya.
"Apa? Kalian tak pernah melihat orang marah?" teriak Ino saat tersadar dirinya menjadi perhatian murid yang lain. Merasa ada bahaya, para siswa itu berhenti menatap Ino dan melanjutkan kegiatan mereka.
"Sa-sabar Ino-chan. Mungkin dia tak ingin diganggu a-atau mungkin bu-bukan dia yang membalas pesan ki-kita," ujar Hinata yang menatap takut Ino yang marah.
"Iya, mungkin Hinata benar. Dia hanya tak ingin diganggu atau.. eh, tunggu. Apa maksudmu dengan yang membalas pesan kita bukan dia? Kau tahu sendiri, dia tak akan meningalkan atau meminjamkan ponselnya pada siapa pun termasuk anikinya," ucap Tenten sambil mengusap punggung Ino agar gadis pirang itu tenang.
"Uhm.. isi pesannya te-terlalu singkat dan te-terkesan dingin," jawab Hinata. Keempat gadis cantik itu kembali teringat dengan pesan balasan yang mereka terima.
Pertemanan kita sampai di sini. Jangan ganggu aku lagi. Pengganggu.
Mereka mennganggukan kepala saat menyadari perkataan Hinata. Tapi yang menjadi pertanyaan mereka kini adalah siapa yang membalas pesan mereka kalau memang itu bukan dia?
Grek
"Ohayou minnaaaaaaaa," teriak seorang gadis dengan senyum kelewat ceria dengan sebuah tongkat yang membantunya berjalan. Baru selangkah memasuki kelas, gadis berambut pirang itu terjatuh karena tongkatnya tersandung. Semua mata melebar saat melihat hal itu. Para Fuhikogo yang melihat sahabat mereka terjatuh langsung menghampirinya dan membantunya untuk duduk ditempat duduknya. Rasa khawatir meliputi wajah cantik mereka saat melihat Naruto yang terjatuh dan kakinya yang terbalut perban. Rasa kesal yang tadi menyelimuti mereka pun menghilang seketika.
"Naru, kakimu kenapa?"
"A-apa itu sakit?"
"Pasti si Uchiha itu yang melakukannya padamu kan?"
"Beraninya dia melakukan hal ini padamu!"
"Iya, kita harus memberi pelajaran pada dia secepatnya!"
"Eh, teman-teman-"
"Tenang Naru, kami akan membelamu. Cih, tak peduli dengan kekuasaannya itu!"
"Iya, seenaknya saja dia-"
"Teman-teman!" Mendengar teriakan dari gadis dihadapan mereka membuat mereka terdiam seketika. Setelah mengambil napas panjang, Naruto segera menjawab kekhawatiran sahabatnya itu, "Aku tak apa-apa. Ini hanya terkilir, seminggu juga sudah sembuh," jawab Naruto.
"Kalau memang hanya terkilir, kenapa mesti diperban?" Tanya Tenten.
"Eh, ini? Ini karena Dei-nii yang memaksa dokternya, hhehe."
"Anikimu terlalu berlebihan Naruto," ujar Ino.
"Kau seperti tak tahu Dei-nii saja, Ino," celetuk Sakura dan membuat mereka tertawa. Tawa mereka terhenti ketika menyadari kelas yang tadinya ramai berubah menjadi tenang seketika. Pandangan mereka kini tertuju pada sosok pemuda berambut raven yang memasuki kelas dengan gaya angkuhnya. Wajah mereka mengeras dengan tangan terkepal. Kembali para Fuhikogo itu berdiri didepan Naruto untuk melindunginya, bahkan Sakura pun ikut melindungi Naruto meskipun dirinya masih belum terlepas dari rasa takut akibat perbuatan Uchiha itu padanya. Naruto bangun dari duduknya saat Uchiha itu sudah berada didepan teman-temannya. Murid-murid yang lain pun menahan napas mereka menunggu apa yang akan dilakukan oleh ketua OSIS mereka. Bahkan kini terlihat beberapa siswa yang menyembulkan kepala mereka dipintu kelas untuk melihat apa yang akan dilakukan Uchiha bungsu itu.
Tidak ada perintah atau katak-kata pedas yang biasa keluar dari bibirnya, hanya sebuah tangan yang terulur dengan sebuah ponsel kuning ditangannya.
"Kau lupa membawa poselmu."
Dengan ragu Naruto mengambil ponsel miliknya dari tangan Sasuke. Setelah urusannya selesai, Sasuke berjalan meninggalkan kelas Naruto. Namun Sasuke kembali berbalik menghadap Naruto dan berkata, "Berterima kasihlah padaku karena semua yang tak berguna dalam poselmu sudah lenyap." Sasuke kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan membuat para siswa yang mengintipnya dari pintu segera berlari menjauhi tempat itu.
Sakura, Ino, Tenten dan Hinata saling berpandangan setelah Sasuke menghilang dari pandangan mereka.
"Jadi yang semalam membalas pesan kita memang bukan Naruto, tapi Sasuke," ujar Ino tak percaya. Sedetik kemudian mereka berteriak senang dan saling berpelukan. Bahagia karena apa yang mereka pikirkan tak terbukti benar. Naruto tak mungkin menghancurkan persahabatan mereka dan tak akan pernah mungkin.
Sementara keempat Fuhikogo itu berpelukan bahagia, Naruto kini tengah mengecek isi ponselnya sambil bertanya-tanya apa maksud perkataan Sasuke padanya. Setelah menyadari ada yang hilang, Naruto pun paham dengan perkataan Sasuke. Merasakan ada aura menyeramkam dibelakang mereka, keempat Fuhikogo itu membalikkan badan mereka dan mendapati Naruto yang menunduk dengan dada yang naik turun dengan cepat.
"Beraninya."
"Na-Naru, kau tak apa-apa?"
"Beraninya dia menghapus koleksi yaoiku," ujar Naruto dan terkesan dingin.
"Naru, ada apa?" Tanya Sakura hati-hati.
"SASU-TEME, AKAN KUBUNUH KAU," teriak Naruto yang membuat teman-temannya kaget dan merinding.
TBC
Huwaaaaa.. maafkan chira jika ini tak memuaskan T_T hanya ini yang bisa chira kasih untuk chapter ini. Maaf jika masih banyak kesalahan dalam fic ini m(O.O)m
Berhubung aku tak pandai berkata-kata, jadi langsung balas review ja deh^^
Zee Rasetsu
Huwaa.. gomen, salahkan saja sekolahku yang pelit dengan libur tapi tugas dan ulangan menumpuk T.T
Eh, hhehe.. makasih.
Apa ini sudah cepat? Makasih dah mereview, ni dah apdet^^
Naru3
Eh? =.=a
Makasih dah review^^
Zoroutecchi
Eh, suka itadei? Gyaa~ aku juga suka benget#dilempar
Makasih dah review^^
Vii no kitsune
Hhehe..maaf. tapi ini dah cepet kan?
Pair? Ada leeSaku, SaixIno, NejiGaa, Itadei, KakaIru..umm, yang lain mungkin menyusul. Tapi pasangan itu ga terlalu aku ekspos..
Makasih dah review^^
Baka nesiachan
Ugh.. gomen. Tapi ini dah cepetkan?
Rate-M? hhehe..aku belum bisa buat yang seperti itu..
Makasih dah reiew^^
Ru Seychelles
Hhaha..dia emang dah beringas dari sananya XD *dichidori*
Makasih dah review^^
Uzumaki Andin
Huwaa nee~ #hug balik
Aku ga jahat nee, kan yang ngelakuin Sasuke dan bukan aku. Jadi aku ga jahat kan? Hhehe..
Sejak jadi fujoshi, jadi dia pinter boong, kan diajarin Naru #dilempar
Kyuubi sepertinya ada, tapi bukan jadi pihak 3 sasunaru..
Makasih dah review^^
Huwaaa… sekali lagi maaf kalo kemaren apdetnya lama. Guru-guruku pada tega, ngasih tugas sama ulangan yang banyak belum lagi ulangan umum yang menyakitkan hati..huhuhu #dilempar gegara curcol
Tapi ini udah diusahakan cepet. Maaf kalao ga memuaskan dan pendek.
Makasih buat semua yang udah baca dan review, buat silent reader, buat yang udah fav. Chira sayang kalian semua *hug satu-satu*
Kritik? Saran?
~RnR please~
