A Bunch of Roses for Baekhyun

by Chocobanana614

Rated: T

Pairing(s): Chanbaek, slight!KaiSoo, slight!HunHan, slight!KrisHo(?)

It's a really slow build fanfiction and yep, it's my first work.

I gain nothing from this and I don't own anything beside the plot.

...

Baekhyun berasal dari keluarga yang berkecukupann dan sangat hangat. Ayah dan ibunya adalah sepasang dokter di rumah sakit yang beroperasi di pusat kota Seoul. Ayahnya seorang dokter spesialis bedah tulang, sedangkan ibunya adalah seorang dokter kandungan. Baekhyun memiliki seorang kakak laki-laki yang saat ini juga kuliah kedokteran di Jepang. Walaupun mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing, tetapi mereka tidak pernah melewatkan jadwal liburan bersama di tiap kesempatan yang ada. Ayah Baekhyun selalu mengutamakan keharmonisan keluarga di atas pekerjaannya.

Melihat silsilah keluarganya yang merupakan keturunan dokter sejak kakek buyutnya, seharusnya ia juga mengikuti keluarganya untuk terjun ke dunia medis. Namun, lain dengan Baekhyun, karena ia tidak ingin menjadi dokter seperti keluarganya dan orangtuanya pun tidak memaksa ia untuk mengikuti jejak mereka. Untuk merawat luka sendiri saja ia masih belum mampu.

Akan tetapi Baekhyun tidak tahu apa passionnya. Ia bisa menyanyi, punya suara yang bagus dan sudah diakui kemerduannya oleh semua orang, tetapi ia tidak ingin menjadi penyanyi. Ia suka pelajaran biologi dan kimia di sekolahnya, tetapi ia tidak ingin menjadi ilmuwan. Ia pandai menghitung di pelajaran matematika dan ekonomi, tetapi ia tidak ingin menjadi seorang akuntan atau semacamnya. Ia tidak akan mengambil sastra karena ia memang lemah dalam berbahasa dan tidak akan mengambil sejarah karena memang ia tidak minat.

Lalu, bagaimana ia memilih jurusan untuk kuliahnya nanti jika saat ini ia masih tak tahu ingin menjadi apa ia kelak?

Baekhyun tengah mengganti bajunya di ruang ganti sebuah kedai kopi. Liburan yang panjang sesungguhnya sangat membosankan ketika tidak ada hal yang dapat ia kerjakan. Ayah dan Ibunya sedang mendapatkan jadwal operasi yang padat meskipun ini musim libur. Kyungsoo sahabat dekatnya sedang berwisata bersama keluarga ke Jeju dan Sehun yang juga teman baiknya sedang liburan bersama kekasih barunya, seorang ketua klub sepak bola –yang dulu pernah menjadi musuh bebuyutan karena sering berdebat merebutkan masalah ruang ganti sekolah yang hanya tersedia satu-satunya- merupakan siswa blasteran China-Korea dan orang itu bernama Luhan.

Untuk itu ia melamar kerja paruh waktu di sebuah toko kopi yang memiliki papan nama 'LOEY' di atasnya dan jaraknya hanya beberapa blok dari komplek perumahannya. Selain ia bisa melalui hari liburnya yang baru dua belas hari berlalu dan masih menyisakan tiga puluh tiga lagi, ia juga mendapatkan uang tambahan untuk ia tabung.

Usai berganti pakaian, ia berjalan menuju meja kasir. Hari ini adalah hari pertama ia bekerja sebagai kasir sebab ia baru diterima beberapa hari yang lalu. Ia mendapatkan giliran bertugas dari siang hingga malam dengan jam kerja selama enam jam dan hanya pada hari Senin sampai Kamis.

Sang manajer toko mengatakan bahwa barista pembuat kopi ternikmat di toko itu ternyata hanyalah seorang pelajar seperti Baekhyun. Para pelanggan sangat menyukai kopi buatan orang itu, menurut mereka kopi buatannya seolah dibuat oleh ahlinya dan toko akan ramai dipenuhi pelanggan jika ia yang menyajikan kopinya.

Ketika Baekhyun sedang kesulitan mengikat tali apronnya, lonceng yang tergantung di sebelah pintu berbunyi karena getaran yang dihasilkan tiap kali ada orang yang masuk atau membuka pintu dari luar.

"Selamat datang, mau pesan apa?" Baekhyun masih sibuk dengan tali apronnya itu sehingga ia tidak melihat orang yang datang. Maklum saja karena ini pertama kalinya ia memakai apron.

"Baek, apa yang sedang kau lakukan di sana?" Chanyeol berdiri di depan pintu, kamera tidak pernah lepas dari lehernya.

"Hai, Yeol. Aku bekerja di tempat ini mulai hari ini. Kau mau pesan apa?"

"Suatu kebetulan karena ini adalah tempat kerjaku dan aku lah yang bertugas membuat kopi."

"Oh Chanyeol, kau sudah datang. Cepat ganti bajumu sebelum pelanggan mulai berdatangan."

Chanyeol mengangguk lalu pergi, mematuhi perintah sang manajer. Baekhyun masih memproses kenyataan bahwa ia dan Chanyeol ternyata satu tempat kerja. Itu artinya bahwa mereka juga akan menghabiskan liburan musim panas mereka bersama, walau hanya di dalam kedai kopi yang luasnya tak seberapa ini. Akhirnya liburan musim panasnya tidak akan semembosankan yang ia kira.

Chanyeol keluar dengan seragam dan apron yang sama seperti Baekhyun, namun kacamata tebal yang biasa ia gunakan tidak terlihat. Saat Chanyeol berdiri di belakang mesin espresso yang ada di seberang meja kasir tempat Baekhyun bertugas, ia mampu melihat Chanyeol memakai contact lens berwarna noir sebagai ganti kacamatanya itu. Menatap iris mata Chanyeol saat ini seperti ia melihat langit yang ada di luar angkasa, begitu luas dan dalam. Nampaknya juga ia memotong poninya sebab poninya lebih pendek dari terakhir kali mereka bertemu di depan loker.

Kacamata ternyata memang membawa pengaruh besar untuk penampilan seseorang. Baekhyun yakin orang-orang di sekolahnya tidak akan menyebut Chanyeol sebagai orang aneh lagi apabila mereka melihat penampilan Chanyeol yang sekarang.

Chanyeol yang saat ini terlihat normal seperti orang biasa dan Baekhyun terpana dibuatnya.

Toples-toples berisi biji kopi yang telah dipanggang dan tersimpan di rak paling atas, Chanyeol turunkan dengan mudahnya serta ia tata secara horizontal di meja yang sama. Ia mulai menggiling biji-biji kopi tersebut dengan mesin penggiling manual. Otot-otot tubuh bagian belakangnya terlihat bergerak di balik seragam yang ia kenakan. Setelah dirasa ia menggiling biji kopi yang cukup untuk hari ini, Chanyeol mulai mengoperasikan mesin espresso dan mesin penyeduh kopi itu dengan mahir. Chanyeol lanjut pergi ke arah dapur dan kembali dengan membawa dua nampan besar berisi croissant yang baru matang.

Baekhyun memerhatikan gerak-gerik Chanyeol yang terlihat seperti sudah lama bekerja di tempat ini. Sayangnya, perhatiannya itu harus teralihkan karena pelanggan mulai berdatangan.

Baekhyun sangat disibukkan di hari pertamanya ia bekerja. Ternyata manajer tidak berbohong ketika ia mengatakan toko akan penuh jika Chanyeol yang sedang menjadi barista. Ia terus berjalan bolak-balik meja kasir dan etalase penyimpanan kue untuk disajikan kepada pelanggan.

Siang berganti malam dengan cepat. Dalam waktu beberapa menit gilirannya akan berakhir. Segelintir pengunjung masih menempati beberapa meja di kedai tetapi manajer sudah memperbolehkan Baekhyun untuk beristirahat. Baekhyun tersadar bahwa ia tidak sempat duduk sama sekali semenjak pelanggan pertama datang dan kini kakinya terasa tegang dan pegal. Mungkin ia akan terbiasa kedepannya nanti.

Sebuah cangkir berbusa putih dengan hiasan krim cokelat membentuk gambar anak anjing yang imut di atasnya tersaji di hadapan Baekhyun. Kepulan asap yang berasal dari kopi tersebut menandakan bahwa kopi itu memiliki suhu yang sangat panas. Aroma kopi menguar samar dari cangkir itu yang membuat hidung Baekhyun merengut. Chanyeol mengambil tempat duduk di sebelah Baekhyun di meja kasir.

"Minumlah. Kau sudah bekerja keras hari ini." Kacamata tebal itu kembali bertengger di pangkal hidung Chanyeol. Apronnya sudah ia lepaskan.

"Kenapa anak anjing?" Tanya Baekhyun penasaran.

"Karena aku tidak bisa melukis wajahmu. Jadi anak anjing adalah alternatif sebab kalian berdua mirip."

Sesungguhnya, Baekhyun bukanlah penggemar berat kopi. Tetapi ia tetap menyecap kopi yang masih panas itu dengan hati-hati. Dan yang mengejutkan adalah bukan rasa kopi yang sangat kuat yang Baekhyun rasakan, melainkan ia merasakan perpaduan cokelat yang dicampur dengan kopi. Atau ini sebenarnya adalah kopi yang dicampur cokelat?

Sekali lagi, Baekhyun tak tahu karena ia bukan seorang penggemar kopi. Tapi satu hal yang ia tahu yaitu ini adalah kopi terlezat yang pernah Baekhyun nikmati seumur hidupnya.

"Itu chocolatey. Perpaduan antara dark chocolate dan cappucino. Aku yang membuat resepnya sendiri untuk orang yang tidak terlalu suka rasa kopi yang tajam tapi masih ingin mencoba meminumnya."

Baekhyun mengetahui hal baru dari Chanyeol. Ia memang pembuat kopi yang hebat. Baekhyun tahu seorang barista memiliki peran yang sangat penting selain menjalankan mesin pembuat espresso dan meracik kopi. Tidak hanya sekedar menyeduh kopi, barista harus memiliki keahlian dan juga cita rasa yang tinggi sebab secangkir kopi bisa terasa lezat di lidah penikmat yang bergantung pada keahlian barista dalam menghasilkan foamed milk yang sempurna.

"Apa kau punya lisensi barista, Chanyeol? Karena kopi ini lezat sekali bagi aku yang bukan seorang penggila kopi sampai mengakuinya." Baekhyun mengekspresikan keterkagumannya pada bakat yang dimiliki Chanyeol. Chanyeol memang orang yang tidak terduga.

"Sepertinya aku punya satu di rumah." Chanyeol menarik bibirnya dan membentuk sebuah senyuman yang tulus.

Chanyeol menemani Baekhyun menghabiskan kopi buatannya seraya menuliskan hasil pendapatan hari ini ke dalam buku besar. Baekhyun meminta Chanyeol untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebab ia harus mencuci gelas bekas kopinya itu. Ketika ia masuk ke dalam ruang ganti, ia tidak melihat Chanyeol di dalam sana.

Mungkin Chanyeol sudah pulang, pikirnya.

Tapi tentu saja Chanyeol adalah orang yang penuh kejutan karena ternyata ia menunggu Baekhyun di luar kedai kopi seraya menaiki sepedanya yang tinggi. Kameranya masih setia menggantung di leher.

"Kau pulang naik apa, Baek?"

"Jalan kaki. Rumahku tidak jauh dari sini."

"Mau aku antar pulang? Ini sudah sangat larut dan sepertinya kau bukan tipe orang yang suka berpergian keluar rumah hingga larut malam." Tawar Chanyeol dengan diiringi godaan yang mendapatkan pukulan tanpa tenaga di pundak.

"Aku bukan perempuan, Yeol. Aku bisa pulang sendiri."

"Uh, maaf karena menawarkan padamu sepeda jelekku ini. Mungkin ia memang tidak layak untuk ditunggangi seorang bintang sepertimu."

Baekhyun benar-benar memukul punggung Chanyeol dengan keras kali ini seraya naik ke atas bantalan tempat duduk di belakang Chanyeol. Ia tidak suka mendengar Chanyeol berkata seperti itu sebab memang bukan karena itu ia menolak tawaran dari Chanyeol. Chanyeol sungguh bodoh karena telah berpikir demikian. Ia hanya tidak ingin terlihat seperti seorang anak gadis seperti yang Chanyeol katakan tadi.

"Kau berisik. Cepat jalan."

Baekhyun memegang jaket Chanyeol di bagian pinggang sebab tidak ada tempat lain untuk ia pegang agar tidak terjatuh. Chanyeol mengayuh sepedanya tidak terlalu cepat karena ia harus mengikuti petunjuk Baekhyun untuk tiba di rumahnya.

Angin malam bertiup lembut menerpa wajah Chanyeol, namun tidak dengan Baekhyun yang terlindungi oleh punggung Chanyeol yang lebar. Lagi-lagi Chanyeol menyenandungkan lagu yang ia tidak kenal. Perjalanan mereka sangatlah singkat seperti kata Baekhyun dan ia pun turun dari atas sepeda Chanyeol.

"Apa rumahmu di sekitar sini?"

"Tidak. Rumahku ada di arah yang berlawanan dari rumahmu."

"Benarkah?" Tanya Baekhyun tak percaya. "Maaf karena kau harus mengayuh dua kali lebih jauh dari biasanya." Baekhyun tentu merasa bersalah ketika mendengar fakta bahwa arah rumah mereka ternyata tidak sama.

Chanyeol tertawa kecil seraya menjawab, "Aku yang menawarkannya padamu, kau ingat?"

Baekhyun mengangguk. "Hati-hati di jalan, Yeol."

"Selamat malam juga, Baek.

…..

Baekhyun dan Chanyeol menjadi semakin dekat setelah hari itu. Ia mulai terbiasa dengan jadwal liburannya ini yaitu pergi les di pagi hari dan kerja part time dari siang hingga malam hari. Chanyeol selalu datang ke kedai untuk mengantarkan Baekhyun pulang meskipun ia tidak sedang bekerja hari itu. Begitu pula dengan Baekhyun, ia akan tetap datang ke kedai entah untuk duduk sebentar atau mengerjakan tugas yang diberikan guru di tempat lesnya sampai Chanyeol selesai shiftnya. Pulang bersama sudah menjadi rutinitas baru mereka.

Terkadang mereka tidak akan langsung pulang dan singgah sejenak ke toko swalayan untuk membeli ramyun dan memakannya di sebuah taman yang minim akan lampu penerangan di wilayah komplek perumahan Baekhyun. Chanyeol akan memotret pipi Baekhyun yang menggembung saat sedang makan ramyun dengan kameranya.

Atau ketika mereka berdua sedang tidak dalam keadaan yang berselera untuk makan, mereka akan membeli dua stik es krim dan memakannya di perjalanan. Tentu saja, stik es krim Chanyeol Baekhyun yang pegang sebab ia masih harus memegang stir sepedanya.

Biasanya, Baekhyunlah yang bertugas untuk berbicara sedangkan Chanyeol hanya menjadi pendengar. Ia akan bercerita apa saja dengan tidak menentu sesuai topik yang terlintas dalam kepalanya pada Chanyeol selama mereka bersama. Chanyeol sebagai pendengar yang baik, menimpalinya dengan seimbang untuk meyakinkan bahwa ia mendengarkan apa yang Baekhyun katakan.

Baekhyun berjalan menjinjing kantung plastik putih berisi air mineral dan Chanyeol jalan mengikutinya di belakang dengan membawa dua cup ramyun panas. Sepedanya mereka parkirkan di depan swalayan di seberang taman. Mereka memilih tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk dan dekat dengan lampu taman yang redup. Chanyeol memberikan cup di tangan kanannya pada Baekhyun. Cup itu bertuliskan ekstra pedas, karena Baekhyun lebih suka makanan pedas yang berkebalikan dengan Chanyeol yang tidak tahan dengan makanan pedas.

Suara sluurp khas yang keluar tiap kali seseorang menyedot untaian mie yang panjang juga terdengar dari bibir mereka.

"Apa ada orang yang kau sukai saat ini, Yeol?"

Pertanyaan Baekhyun sukses membuat Chanyeol tersedak saat ia sedang menyeruput kuah dari ramyunnya. Chanyeol terbatuk dan ia merasakan hidungnya sakit karena kuahnya yang tidak sengaja tersedot. Dengan sigap Baekhyun memberikan botol minuman pada Chanyeol dan menepuk punggungnya pelan.

"Pertanyaanmu membuat aku terkejut karena terlalu tiba-tiba." Kata Chanyeol seusai menengguk minuman yang diberikan olehnya. Hidungnya memerah.

"Maaf. Tapi jawablah, aku ingin tahu." Baekhyun meminta maaf dengan tulus karena memang ia tidak bermaksud membuat Chanyeol terkejut hingga tersedak seperti itu. Pertanyaan itu murni karena rasa penasarannya.

"Ku rasa tidak ada."

"Bagaimana dengan tipe idealmu?" Tanya Baekhyun lagi.

"Hmm, seseorang yang kecil, mungil dan menggemaskan seperti sahabatmu Kyungsoo, mungkin? Aku juga tak tahu pasti, Baek." Chanyeol memberikan jawaban dengan acuh.

"Dengan kata lain kau menyukainya? Mau aku bantu untuk dekat dengannya? Kebetulan dia juga single." Baekhyun mendekatkan wajahnya ke Chanyeol yang saat ini wajahnya tersembunyi di balik mangkuk plastik ramyun. Ia sedikit menunduk untuk menatap mata Chanyeol dan beberapa helai rambutnya terjatuh di kening ketika ia melakukan hal itu.

Chanyeol meletakkan ramyunnya di tempat duduk sebelah kanan dan menangkup pipi tembam Baekhyun yang kenyal di kedua tangannya itu. Bibir Baekhyun berubah menjadi bentuk kerucut seperti ikan akibat perlakuan Chanyeol tetapi Baekhyun tidak menarik dirinya dari sentuhan Chanyeol. Hanya berjarak beberapa inci, bibirnya dan bibir Chanyeol akan dapat bersatu.

Ia dapat mendengar detak jantungnya yang mulai berpacu dengan cepat tiap kali Chanyeol melakukan kontak sentuhan kulit dengan Baekhyun ataupun berada di jarak yang terlalu dekat.

"Duh, Baekhyun. Bagaimana kau bisa mencapai kesimpulan yang seperti itu? Aku sungguh heran padamu."

Chanyeol mencubit pipi Baekhyun dengan sangat gemas dan saat cubitan itu terlepas, Baekhyun mengusap-usap pipinya. Berharap usapan di pipinya itu juga dapat menetralisir degup jantungnya yang tidak karuan. Beruntung rona merah di pipinya bisa ia sembunyikan karena hasil cubitan Chanyeol itu.

"Kau bisa meminta bantuanku jika kau memang memerlukannya." Tambah Baekhyun yang seakan-akan tengah menjodohkan Chanyeol dan Kyungsoo. Tangannya sibuk menggulung mie dengan garpu.

"Tidak terima kasih. Dan kau, apa ada orang yang kau suka? Kapten basket kah?"

"Aku menolak Sehun sudah sejak lama."

"Oh, aku baru dengar yang ini. Lalu siapa orang yang kau suka saat ini, Baek?"

"Aku tidak tahu apa ini bisa dibilang suka tetapi yang jelas aku menaruh ketertarikan pada seorang pengagum rahasiaku."

"Seperti yang diharapkan dari kehidupan seorang bintang sekolah." Goda Chanyeol saat mendengar Baekhyun yang suaranya perlahan melembut saat menceritakan pengagumnya itu.

"Aku bahkan tidak tahu siapa dia tetapi aku selalu menantikan hadiah dan mawar berwarna apa yang ia berikan padaku tiap minggunya. Apa itu masuk akal, Yeol?"

"Entahlah. Kau bertanya pada orang yang salah Baek, sebab aku belum pernah jatuh cinta pada siapapun selama aku hidup."

Jawaban Chanyeol membuat Baekhyun tertegun. Tidak mungkin ia tidak pernah jatuh cinta. Dunia ini penuh dengan cinta yang dapat dirasakan dimana-mana. Tidak harus cinta pada orang lain, cinta pada orang tua, cinta pada saudara, cinta pada teman, cinta pada hewan, cinta pada lingkungan dan cinta pada diri sendiri juga adalah bentuk dari jatuh cinta.

"Yuk pulang?"

Baekhyun mengangguk dan kini ia yang berjalan mengikuti Chanyeol. Ia mendengar Chanyeol bersenandung lagu yang berbeda namun masih ia tidak ketahui sementara Baekhyun larut dalam pikirannya. Tiba-tiba ia teringat akan perkataan Chanyeol di atas atap waktu itu.

Apakah Chanyeol memang sesendirian itu?

…..

Baekhyun mendorong pintu untuk masuk ke dalam kedai dan menimbulkan suara dari lonceng. Persiapan sebelum ujian masuk perguruan tinggi sangatlah sulit. Tugas terus diberikan oleh gurunya dan ia juga mengatakan bahwa hari pertama Baekhyun masuk kembali ke sekolah adalah hari yang sama untuk simulasi ujian.

Baekhyun mengambil tempat di meja paling pojok dekat jendela dengan dua tempat duduk agar ia lebih fokus belajar seraya ia menunggu Chanyeol. Hari ini adalah hari liburnya dari bekerja. Kantung plastik berisi buku-buku latihan baru yang ia baru beli di toko buku sepulangnya dari tempat les dan ia meletakkannya di atas meja bersamaan dengan tasnya. Ia mengambil buku tugasnya dari dalam tas dan mulai berkutat dengan soal-soal yang tertulis di sana.

Tangannya tidak berhenti bergerak menulis jawaban dari tiap soal. Keningnya ia topang dengan tangan kiri saat ia sudah mulai masuk soal tahap sulit. Ia mencoret-coret bukunya dengan berbagai macam rumus karena tidak mendapat jawaban yang tepat.

"Ku rasa kau seharusnya pakai rumus yang ini untuk soal nomor 88."

Chanyeol menyodorkan sebuah tisu dengan rumus yang Baekhyun lupakan dan ditulis dengan tinta merah menyala. Tulisannya sangat berantakan serta hampir sulit dibaca.

"Lipstick siapa yang kau gunakan untuk menulis ini? Ew, menjijikkan." Chanyeol terkekeh geli mendengar keluhan Baekhyun dengan nada yang tidak sepenuhnya jijik.

Secangkir chocolatey yang menjadi minuman favoritnya yang baru setelah susu cokelat juga ditaruh di atas meja oleh Chanyeol. Baekhyun menuruti saran dari Chanyeol dan mencoba untuk menghitung dengan rumus itu.

Tepat.

Jawaban yang ia cari sejak tadi langsung ketemu saat Chanyeol memberikan rumus itu. Baekhyun merasakan sepasang mata yang mengawasi pergerakannya dari tempat duduk di seberangnya.

"Ku rasa kau harus ikut belajar juga, Yeol. Ujian tinggal sebentar lagi, kau tahu?"

"Aku tahu, Baek."

"Universitas mana yang menjadi targetmu? Dan kau mau ambil jurusan apa? Aku harus mengantisipasi orang-orang di dekatku agar tidak mengambil jurusan yang sama."

"Uh, sepertinya aku tidak minat apapun."

"Yap, itulah yang aku rasakan sebelum liburan. Tapi tenang, Yeol. Ketika petunjuk yang diberikan Tuhan telah datang dalam mimpimu, ikuti itu saja. Karena aku pun juga begitu."

Ia tidak mengalihkan pandangannya yang tetap terpaku pada buku penuh angka itu. Baekhyun melanjutkan mengutak-atik soal dengan Chanyeol yang masih memperhatikannya di depannya.

Baekhyun mengacak-acak rambut pinknya, kesal karena tidak dapat menyelesaikan soalnya lagi. Chanyeol merebut pulpen yang ada digenggaman Baekhyun, menuliskan sesuatu di tisu bagian yang masih bersih dan menyodorkan tisu itu kembali pada Baekhyun. Tidak sampai satu menit, soal itu terselesaikan oleh Baekhyun.

"Kau ingin jadi apa memang, Baek?"

"Guru atau dosen. Intinya diantara kedua itu. Aku masih belum tahu pasti."

"Alasannya?"

"Kau ingat ceritaku tentang keluargaku?" Baekhyun melihat Chanyeol menganggukan kepalanya dari ekor matanya tanpa perlu ia mengangkat wajah dari buku di hadapannya, "Aku tidak ingin menjadi dokter, tapi aku ingin menjadi seseorang yang berguna dan mampu membantu kehidupan orang lain seperti ibu dan ayah. Lalu mimpi itu datang dan aku berpikir kenapa aku tidak mencobanya saja."

"Jujur saja, aku tidak bisa membayangkan seseorang seperti mu mengajari orang lain yang lebih muda darimu, Baek."

"Kenapa memang?"

"Karena sifatmu jauh lebih kekanakan dibandingkan mereka nantinya."

Baekhyun menyangkal ucapan Chanyeol dengan memberikan cubitan di tangannya yang ia letakkan di atas meja. Orang yang dicubit hanya meringis kesakitan.

Baekhyun membalikkan lembaran buku tersebut ke halaman selanjutnya dan dihadapkan dengan soal dari mata pelajaran yang berbeda. Target yang diberikan oleh gurunya adalah ia harus menyelesaikan tiga paket soal sampai ia bertemu dengan gurunya itu lagi. Baekhyun membuang nafas dengan kasar, ia akui ia sangat lemah di mata pelajaran bahasa inggris.

Ia pun mengambil istirahat sejenak dan meneguk kopi yang Chanyeol telah buatkan untuknya. Chanyeol membalik buku Baekhyun sehingga kini menghadap Chanyeol. Tangannya secara otomatis menggoreskan sesuatu di buku itu seolah sudah terbiasa.

"Untuk melengkapi penggunaan tenses di soal-soal semacam ini, kau harus lihat kata sebelum dan sesudahnya, Baek. Kalau memang tidak ada kata tambahan penanda waktu, kau harus lebih hati-hati. Oh, untuk soal cerita juga pahami kata-kata kuncinya dan jangan sampai terjebak."

Chanyeol menuliskan 16 grammar tenses yang ia tulis dengan tulisan sangat kecil di bagian atas soal-soal di buku itu. Ia menulisnya seakan rumus tenses itu sudah terukir secara permanen di kepalanya karena ia menuliskannya dengan mudah juga lengkap dengan contoh.

"Biasanya soal ujian masuk perguruan tinggi di Korea tidak akan mengeluarkan soal bahasa inggris yang terlampau susah. Tetapi tetap membingungkan sih. Saranku, perbanyaklah membaca pengetahuan umum, karena biasanya soal cerita akan mengambil tema-tema itu."

"Kau berbicara seolah kau bukan siswa Korea, Yeol." Cibir Baekhyun.

Chanyeol tertawa terbahak-bahak yang menarik perhatian pengunjung yang lain. Tawa Chanyeol juga mendapat teguran dari koki pembuat kue yang diikuti jeweran pada telinga Chanyeol dari manajer toko yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat duduk mereka.

Semakin Baekhyun mengenal Chanyeol, semakin jauh definisi seorang Chanyeol yang orang-orang di sekolahnya sering sebutkan untuk mendeskripsikannya.

Penampilan Chanyeol memang sedikit aneh dengan kawat gigi dan kacamata persegi panjangnya yang tebal, namun kepribadiannya tetaplah sama seperti anak-anak yang lain.

Chanyeol ternyata adalah orang dengan kepribadian yang hangat dan senang mendengarkan orang lain, sangat mirip dengan ayah Baekhyun. Baekhyun dapat bercerita tentang hal apa saja sesuka hatinya pada ayahnya dan begitu juga dengan Chanyeol, ia dapat menghabiskan waktu terus berbicara tentang hal yang tidak masuk akal sekalipun.

Chanyeol juga memiliki selera humor yang sama seperti Baekhyun dan berbicara dengannya saat ini sudah tidak sesulit pertama kali mereka baru berkenalan. Jika mereka tidak ada hal yang ingin dibicarakan, mereka akan diam dan duduk bersebelahan, menikmati kehadiran satu sama lain. Chanyeol jauh lebih baik dari mereka yang sering membuat dan menyebarkan berita yang belum tentu dapat dipercaya kebenarannya. Chanyeol juga tidak sebodoh yang orang-orang ketahui selama ini, karena..… tunggu sebentar.

"Bagaimana kau bisa tahu aku harus pakai rumus itu untuk mengerjakan soal yang tadi?"

Chanyeol terdiam. Bola matanya terus bergulir berusaha untuk terlepas dari tatapan Baekhyun yang seolah menguncinya, namun sepertinya nihil.

"Kenapa kau bilang soalnya tidak akan terlalu sulit karena ini Korea?"

Baekhyun baru sadar bahwa ada yang aneh dari Chanyeol.

Chanyeol, si pemilik gelar terbodoh di sekolahnya yang selalu dipanggil oleh wali kelas, mampu mengerjakan soal yang bahkan tidak bisa Baekhyun kerjakan. Chanyeol, si orang yang tidak pernah mendapat nilai lebih dari 40 di tiap mata pelajaran –kecuali olahraga dan ekonomi terapan-, bisa menuliskan tenses lengkap hanya dalam beberapa menit disertai dengan contohnya.

Sepertinya satu-satunya deskripsi yang tepat yang dibicarakan orang lain tentang Chanyeol adalah di bagian misteriusnya.

Lonceng pintu berbunyi lagi. Seorang dengan tinggi tubuh yang melebihi Chanyeol masuk dari pintu itu dengan menggenggam tangan seorang lelaki yang tingginya sekitar Baekhyun. Wajah seperti turis asing adalah tampang dari si pemuda tinggi itu tadi, sementara yang pendek memiliki kulit seputih salju. Chanyeol mengikuti sorot mata Baekhyun dan ia melihat ekspresi Chanyeol yang terkejut serta bercampur dengan ekspresi yang Baekhyun tidak ketahui dan ia langsung menghadap Baekhyun dengan cepat. Tetapi sepertinya dua orang itu sudah melihat Chanyeol juga sebab mereka berdua menghampiri meja Baekhyun.

"Chanyeol? Apa yang kau lakukan di Bucheon? Aku kehilangan jejakmu di Se—" Chanyeol bangkit dari tempat duduknya, membungkam mulut lelaki itu dengan kedua tangannya dan mendorongnya hingga keluar kedai. Orang yang lebih pendek ditinggalkan begitu saja oleh kedua manusia tinggi itu. Baekhyun memberikan senyuman canggung pada orang asing di hadapannya.

"Ada apa sebenarnya?" Tanyanya pada orang asing yang kini menempati tempat Chanyeol duduk sebelumnya.

"Sepertinya ada yang perlu dibicarakan antara Chanyeol dan Yifan. Aku Junmyeon, kau?"

"Baekhyun. Apa kau yakin mereka tidak apa-apa? Karena aku lihat Chanyeol memasang ekspresi yang baru pertama kali aku lihat selama aku mengenalnya."

"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Kau bilang tadi namamu Baekhyun? Boleh aku tahu nama depanmu?"

"Byun. Byun Baekhyun."

Junmyeon menganggukkan kepalanya beberapa kali yang Baekhyun tidak mengerti apa maksudnya. Mereka saling tatap dan melemparkan senyuman aneh pada satu sama lain ketika mata mereka tidak sengaja bertemu, untung saja Chanyeol kembali masuk ke dalam dan di belakangnya adalah lelaki tinggi tadi yang sekarang kemejanya sangat berantakan. Entah mereka habis berbuat apa di luar sana.

"Ayo pulang, Baek. Aku sudah selesai."

Nada bicara Chanyeol sangat dingin dan berbeda sekali dari intonasinya yang biasanya hangat. Ia juga tidak menatap mata Baekhyun saat mengajaknya dan justru langsung berjalan ke arah ruang ganti seraya melepas apronnya.

Baekhyun merapikan barang-barangnya dan meresleting tasnya, memberikan senyuman canggung sekali lagi kepada kedua orang yang baru ia temui dan berjalan keluar. Junmyeon terlihat sedang merapikan kemeja Yifan dan mendengar ia bertanya ada apa sebelum Baekhyun berbalik arah untuk keluar.

Ia menunggu Chanyeol di tempat Chanyeol biasa memarkir sepedanya. Chanyeol keluar dengan menggunakan topi hitam berlogo yang sama seperti tas sekolahnya dan ujung topi itu hampir menutupi wajahnya karena ia menariknya terlalu ke bawah. Ini pertama kalinya Baekhyun melihat Chanyeol memakai topi.

Baekhyun hanya menundukkan kepalanya saat Chanyeol memutarbalikkan posisi sepedanya. Ia menyuruh Baekhyun untuk naik dan Baekhyun pun patuh.

Ia ingin bertanya banyak hal pada Chanyeol seperti tentang apa yang terjadi, siapa orang-orang itu, ada apa dengan Chanyeol tetapi niat itu ia urungkan karena pertanyaannya yang sebelumnya saja tidak terjawab.

Perjalanan pulang mereka kali ini dihabiskan dalam kesunyian. Tidak ada senandung lagu yang tidak dikenal dari Chanyeol, tidak ada tawa lepas dari Baekhyun dan tidak ada obrolan yang berlangsung. Dinginnya malam di musim panas semakin membuat tubuhnya menggigil ditambah dengan atmosfer yang tidak bagus yang menyelimuti mereka saat ini.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu mereka menjadi dekat, Baekhyun memberanikan diri untuk memeluk pinggang Chanyeol, membenamkan wajahnya di punggung lebar yang selalu ia amati dari belakang tempatnya duduk. Segala pertanyaan terus berputar-putar di kepala Baekhyun.

Setidaknya ia masih bisa merasakan kehangatan tubuh Chanyeol ketika hatinya sedang dingin. Ia tidak mempedulikan detak jantungnya yang berpacu semakin cepat saat ia memeluk Chanyeol seperti ini.

Sebab yang memenuhi kepalanya saat ini adalah suatu pertanyaan yang ingin sekali Baekhyun tanyakan yaitu siapa Chanyeol sebenarnya. Ia sangat ingin meneriakkan itu di wajah Chanyeol.

Karena semakin ia mengenal Chanyeol, semakin ia juga tidak mengenal Chanyeol pada waktu yang bersamaan.

...

Minggu pagi seharusnya menjadi hari dimana Baekhyun dapat tidur hingga siang hari tanpa perlu khawatir berangkat les atau ada giliran kerja. Tapi tentu saja, rencana indahnya itu tidak berjalan sesuai yang ia inginkan.

Baekhyun menghabiskan Jumat malam sampai Minggu dini hari bermain game online, sebuah hobi yang ia sudah tinggalkan karena ia sadar itu hanya membuatnya malas. Ia mengurung diri di kamarnya dan hanya keluar untuk makan bersama kedua orang tuanya.

Ia butuh pengalih perhatian pikirannya dari Chanyeol dan karena usianya belum legal untuk pergi ke bar atau minum alkohol, oleh karena itu ia tidak dapat melakukannya. Diapun ingat kalaupun usianya sudah lebih dari 20 tahun, ia yakin orang tuanya akan sangat tegas melarangnya untuk minum minuman yang membawa dampak buruk bagi tubuhnya.

Ia tidak mengerti kenapa Chanyeol sangat mempengaruhi moodnya akhir-akhir ini dan juga kenapa ia harus memusingkan masalah Chanyeol, ia sungguh tidak mengerti.

Ketukan lembut ibunya di pintu membuat ia terbangun.

"Baek? Chanyeol ada di bawah. Cepat bangun."

Orang terakhir yang Baekhyun ingin temui justru datang ke rumahnya di pagi hari di hari yang damai.

Baekhyun mencuci wajah, menyikat gigi dan mengganti baju tidurnya sebelum turun ke ruang tamu tempat Chanyeol menunggu. Chanyeol sedang duduk di sofanya, mengelus bulu anak anjing peliharaannya yang saat ini ada di pangkuannya. Kaos polo putih dan celana jeans belel adalah pakaian yang ia kenakan untuk menemui Baekhyun. Ia terlihat sangat kasual karena selama ini Baekhyun selalu melihat Chanyeol memakai kemeja atau kaos lengan panjang.

"Aku datang untuk minta maaf, Baek."

Baekhyun hanya menggumam tanpa memandang Chanyeol. Anak anjingnya berlari ke arah Baekhyun seolah tahu siapa pemilik sebenarnya. Baekhyun dapat merasakan tatapan mata Chanyeol yang seperti membakar tubuhnya hingga bolong karena terlalu fokusnya ia pada Baekhyun.

"Aku pamit kalau begitu. Karena hanya itu tujuan aku datang kesini."

Saat Chanyeol bangkit dari tempat duduknya, Baekhyun menahan Chanyeol dengan mengeluarkan pertanyaan yang tidak seharusnya ia ucapkan.

"Kau tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi padaku?" Suaranya terdengar ketus, bahkan di telinganya sendiri. Kemudian Baekhyun mengutuk diri sendiri karena ia terlihat dan terdengar seperti seorang kekasih yang sedang merajuk dan meminta penjelasan pada pacarnya.

Padahal mereka hanya sepasang teman yang kebetulan satu tempat kerja. Padahal mereka hanya teman yang baru-baru ini menjadi dekat karena sering pulang bersama –atau yang lebih tepatnya sering diantar pulang olehnya-. Ia ingin mengubur diri hidup-hidup rasanya.

Chanyeol tersenyum dengan manis dan berkata, "Tidak. Sampai jumpa di kedai lusa, Baek."

Dengan begitu, Chanyeol meninggalkan Baekhyun yang semakin bingung dan kesal padanya.

Dasar Giant Yoda! Park Dobi! Chark Panyeol! Baekhyun mengumpat dalam hatinya.

…..

Semester terakhir dari masa sekolah menengah atasnya sudah dimulai terhitung hari ini. Baekhyun melihat banyak orang berlalu lalang dengan setidaknya satu orang yang menemani mereka untuk mengobrol. Baekhyun pun begitu.

Namun ia justru menjadi obat nyamuk diantara Kyungsoo dan Jongin yang baru ia ketahui bahwa mereka sebenarnya sudah pacaran sejak lama tanpa sepengetahuannya. Kurang ajar memang Kyungsoo. Berani-beraninya tidak memberitahu Baekhyun kalau ia sudah punya pacar.

Saat Baekhyun baru melangkahkan kaki satu langkah ke dalam koridor penyimpanan loker, penggemarnya yang biasa memberikan hadiah pada Baekhyun di lokernya, kini mereka memberikannya secara langsung pada Baekhyun. Mereka beralasan bahwa ini adalah semester terakhir mereka akan bersama Baekhyun karena belum tentu mereka akan berada di satu kampus yang sama dengannya nanti, jadi mereka akan menggunakan kesempatan di waktu yang singkat ini untuk lebih gigih mendapatkan Baekhyun. Baekhyun hanya menyunggingkan senyumnya saat mendengar alasan mereka sebab Baekhyun sangat yakin akan hatinya yang tidak akan mudah berubah haluan.

Baekhyun sangat menghargai usaha mereka dan Baekhyun juga cukup baik mengenal orang-orang itu, tapi Baekhyun tidak akan jatuh cinta pada mereka. Itulah prinsip yang ia buat untuk diri sendiri ketika ia mulai terkenal di sekolah ini. Lagi pula, mereka hanya menyukai satu sisi Baekhyun yang selama ini mereka lihat saja. Mungkin pengagum rahasianya itu juga seperti penggemarnya yang lain.

Baekhyun masih memiliki sisi lain yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun kecuali pada keluarganya, Kyungsoo dan Chanyeol.

Ngomong-ngomong soal Chanyeol, sepertinya hubungannya dengan Baekhyun kembali seperti semula saat mereka baru pertama kenal. Canggung.

Walaupun tiga hari terakhir –sebelum ia memutuskan berhenti- di tempat kerjanya Baekhyun masih bekerja secara normal dengan Chanyeol, dan Chanyeol masih mengantarkannya pulang hampir setiap hari, namun ada yang berbeda kali ini. Baekhyun tidak dapat berbicara dengan bebas pada Chanyeol seperti sebelumnya karena ia selalu mati-matian menahan dirinya untuk tidak bertanya hal-hal yang terus mengusik pikirannya.

Sesungguhnya Chanyeol tetap bersikap seperti biasa seolah mereka tidak ada masalah, ia tetap menyuguhkan chocolatey untuknya selepas bekerja dan tetap bersenandung lagu yang selalu Baekhyun tidak ketahui. Jadi pada dasarnya, hanya Baekhyun saja yang terlalu sensitif dan banyak memikirkan pertanyaan yang belum terjawab hingga saat ini.

Ya, Baekhyun yang sesungguhnya adalah seseorang yang manja, kekanakan, agak sensitif, keras kepala, kurang percaya diri akan bakat yang ia punya dan terlalu banyak berpikir hal-hal yang tak tentu. Menjadi anak bungsu yang selalu dimanjakan oleh keluarganya merupakan salah satu faktor terbesar kepribadian Baekhyun itu terbentuk.

Ia tidak pernah menunjukkan sisinya ini pada orang lain di sekolahnya karena mereka selalu melihat Baekhyun yang tampil bersinar di atas panggung saat menyanyi ataupun melihat dirinya saat hasil ujian diumumkan. Wajahnya yang cantik atau tampan –terserah mereka mau menyebutnya apa- hanyalah nilai tambah dari keseluruhan eksistensi seorang Baekhyun.

Tangan Baekhyun penuh dengan hadiah-hadiah, bahkan ada beberapa yang dibawakan oleh Jongin dan Kyungsoo. Hadiah itu ialah oleh-oleh dari liburan mereka, begitulah yang mereka katakan. Baekhyun meminta kedua orang yang dimabuk cinta itu untuk menemaninya menaruh benda-benda tersebut ke dalam loker. Kyungsoo memutar kode dari loker Baekhyun yang merupakan hal yang telah diketahui oleh semua orang di sekolahnya dan tidak pernah terlintas sekalipun di pikirannya untuk mengubah kata sandi itu.

"Baek, sepertinya pengagum rahasiamu benar-benar punya kebun mawar." Ucap Kyungsoo ketika pintu loker telah terbuka. Baekhyun melepas pelukan dari hadiah-hadiah itu dan menjatuhkannya ke loker bagian bawah.

Satu buket mawar berwarna-warni seperti yang pernah ia terima sebelum-sebelumnya bertengger dengan indah dan menjadi penghuni loker atas satu-satunya selain buku-buku Baekhyun. Ia mengambil buket bunga tersebut dan menghitung jumlahnya yang ada tiga belas.

Seperti biasa, ia tidak melihat ada warna merah dari mawar yang diberikan padanya itu.

"Selama ini selalu mawar yang berbeda yang diberikan olehnya, apa kau tahu makna dibaliknya, Baek?"

"Tentu saja aku tahu."

" Atau jangan-jangan orang itu hanya ingin berbeda dari yang lain agar bisa menarik perhatianmu?"

"Tidak mungkin orang yang memberikan mawar-mawar yang indah ini bisa sebodoh itu, Soo. Jelas aku tahu simbol dari mawar yang selama ini ia berikan. Kali ini jumlahnya tiga belas yang artinya pengagum rahasia. Tetapi aku tidak tahu mengapa tersusun dari mawar yang berbeda-beda." Sebuah kartu ucapan terselip diantara bunga-bunga itu dan ketika Baekhyun membukanya, tidak ada sepatah katapun yang tertulis di sana seperti biasanya.

"Jongin! Orang yang tidak Baekhyun ketahui saja bisa romantis seperti itu padanya, mengapa kau yang sudah menjadi pacarku tidak?"

Jongin hanya menyeringai dengan bodohnya ketika Kyungsoo mengekspresikan rasa irinya yang membuat Baekhyun tertawa melihatnya.

Baekhyun tidak melihat Chanyeol sama sekali pada hari pertama di semester terakhir, tetapi setidaknya ada hal yang bisa mengalihkan pikirannya untuk tidak terus-terusan memikirkan si pemuda tinggi pemilik senyum aneh yang hangat.

Tiba-tiba ia teringat bahwa hari ini adalah hari pertama simulasi ujian masuk.

Dan tiba-tiba juga perut Baekhyun bergolak karena mengingatnya.

a/n: sejujurnya aku ga terlalu paham sistem ujian masuk universitas di Korea itu seperti apa. Umur mereka yang aku pakai disini juga ga +1 sesuai yang di sana. Therefore, I kinda forgive if I am too sotoy haha.

For ChanNhye: wahahaha thanks sudah review dari awal^^

Btpra: CY itu Chanyeol '-'

Nurfadillah: uh iyakah? Maapkeun kalo pendek hahahaah

Guest ssi: I told you didn't I? ini emang cerita klise dan mainstream banget karena tiba-tiba kebayang gimana kalau chanbaek jadi anak SMA yang masih polos gitu hahahaha. Syukurlah gaya bahasaku ada yang suka hehe thanks yaaaa^^