(a/n: direkomendasikan untuk membaca sambil mendengarkan Fine on the Outside milik Priscilla Ahn.)
4
.
Morgiana memang pernah melihatnya di suatu masa.
Ia mencari fokus lain: mencuri tatap pada langit. Abaikan saja pemuda itu. Meski nyatanya, dia meliriknya lagi lewat sudut mata yang sempit, takut ketahuan telah menguntit.
Di atas, mendung sudah berlari entah ke mana.
Kereta juga sudah berlari entah ke mana.
Di stasiun antah berantah, di antara dengung manusia yang pulang-pergi, Morgiana berdiri. Novel di tangan. Angin di haluan. Galur-galur pikirannya tidak repot memperhatikan daun gugur yang berpuntir di udara. Senja. Hanya kata, kalimat, paragraf, cerita. Dan Morgiana akan mengangkat kepalanya jika sudah terlalu gelap untuk membaca.
Dia pulang dengan kereta tepat pukul tujuh.
Dan dia mengulangi siklus hidupnya seperti pergantian musim berlalu.
Ingatannya tertumpah keluar, mengambang. Tidak utuh, hanya berupa kilasan yang meragukan; entah terjadi atau tidak, entah nyata atau palsu. Tapi ingatan itu menghablur dan tidak mau pergi. Berubah bentuk menjadi mimpi.
Seringnya, gadis itu berdiri diam di peron, terkantuk-kantuk oleh suara sumbang jangkrik musim panas. Angin menembusnya, mengibarkan rambut dan menyalurkan suam-suam matahari. Melihat kereta melaju dengan kilau keperakan juga hobinya. Pikirannya berkelana, menebak siapa saja yang menaikinya, ke mana tujuan mereka, apa yang mereka pikirkan. Tapi Morgiana lebih senang bertanya-tanya sampai mana kereta akan berhenti. Di mana akhirnya? Apa memang harus ada akhir?
Sampai kapan dia akan begini?
Hari di mana senja terbakar kuning, Morgiana memutuskan akan mencintai langit.
Gadis itu tak punya banyak teman. Sejauh yang dia ingat, dia selalu ada di perpustakaan kota, bersembunyi dari dunia. Menyaksikan segelintir manusia masuk melalui pintu yang sama, saling diam, tapi sama-sama menjejali kepala dengan buku. Dia terlanjur suka tempat itu. Rak-rak tinggi kecokelatan, bau kertas tua dan tinta, tekstur sampul di bawah tangannya, suara srek-srek halus setiap kali seseorang berpindah halaman. Bahkan gumaman, bisikan, tarikan napas. Morgiana, yang tidak tahan dengan euforianya, mengambil satu buku lalu pergi ke beranda.
Di teras lantai dua, sebuah kursi berdiri kesepian. Ada semacam teleskop murah yang ditanam di selusur langkan depan kursi itu. Mungkin perpustakaan ini ingin jadi observatorium mini, tapi butuh banyak biaya dan tidak sebanding dengan peminat. Atau ini hanya ulah iseng pemiliknya yang suka menonton langit. Apa pun itu, senang rasanya punya tempat bersembunyi di dalam tempat sembunyi.
Dia nyaris tidak ingat sejak kapan semua ini jadi rutinitas. Tapi, dia ingat pernah jatuh dan menabrak teleskop itu dengan hidungnya ketika lulus kelas enam. Terlalu antusias. Namun SMP lebih jauh dari rumahnya, Morgiana tak punya sisa waktu untuk perpustakaan lagi. Dia beralih meminjam satu buku tiap minggu, menyempatkan diri menjadi penyanjung langit, lalu pulang dengan kereta.
Begitulah, hingga saat jejak ingatannya berhenti di satu pagi musim panas.
Morgiana terbangun dengan sentakan keras.
Selalu seperti itu. Selalu mimpi buruk untuk mengawali hari, dan jam aneh menggantung di udara yang menunjukkan waktu inkoheren. Jam itu selalu ada di sana, walau mulanya tidak mengkhawatirkan. Morgiana menganggapnya wajar, kecuali jarumnya yang perlahan bergerak berlawanan; dari angka satu menuju ke dua belas. Ia tidak ingin menebak apa yang terjadi jika jarum itu sampai ke angka terakhir.
Yang lebih aneh, gadis itu selalu terbangun di kursi peron. Seperti apa pun usahanya mengingat, dia tidak tahu di mana rumahnya, atau apa yang terjadi malam sebelumnya. Morgiana bertanya pada petugas suatu pagi, tapi pria itu mengabaikannya dan hanya menghirup apa pun yang ada di termosnya. Morgiana menyerah, memutuskan lebih baik naik kereta.
Entah ke mana. Dia mengikuti saja. Melewati hutan, kota, gedung-gedung. Jika ada tempat indah, dia akan turun di stasiun lalu membaca. Jika cuaca mendung, dia akan menepi di tempat yang terlihat hangat. Seragamnya jadi tidak bermakna karena Morgiana sama sekali tidak tahu di mana ia bersekolah. Toh tidak ada yang bertanya atau memberinya perhatian.
Tak ada, kecuali seseorang.
Mimpinya selalu dimulai dengan buku yang terbuka di kata 'Selesai'.
Morgiana, yang tidak ingat sudah membacanya atau belum, lantas menutup bukunya. Itu adalah satu pagi yang sibuk di stasiun. Lautan manusia mengantre bersamanya hingga kereta datang. Tak lazim, karena stasiun itu selalu identik dengan sepi.
Dia selalu memimpikan ini. Nyaris hapal setiap kejadian, setiap detail, semua obrolan pagi di sekitar. Setelah ini, dia akan menatap angkasa kosong. Setelah itu, dia akan menoleh ke kereta yang hampir sampai. Setelah itu, seorang wanita berteriak. Setelah itu, seorang anak kecil yang tengah berlari menabrak kakinya.
Dia limbung. Bukunya jatuh lebih dulu, berdebum kecil di atas rel besi. Sampulnya menyilaukan sedetik itu, ketika dia sadar kereta sudah terlalu dekat untuk berhenti. Kemudian ...
Kemudian ...
.
"Hai, mm, boleh berdiri di sini?"
Percaya atau tidak, hari di mana dia menatap Alibaba, Morgiana memutuskan untuk jatuh cinta.
.
Saat jatuh, seluruh hal yang ada di sekitarnya tampak tidak nyata. Komikal. Rasanya lama sekali hingga tubuhnya menabrak besi dingin, batu dan pasir. Tidak nyata. Aku akan jatuh, aku akan jatuh, kenapa aku belum jatuh? Kapan aku jatuh?
Dia memikirkan segalanya: hidup, langit, buku. Perpustakaan itu akan kehilangan satu bukunya kalau tidak Morgiana kembalikan, tapi dunia masih akan berputar tanpanya. Kakaknya akan menangis, tapi pasti akan tetap melanjutkan hidup. Kelasnya akan berkabung, tapi mereka bisa tertawa di pelajaran berikutnya. Rasanya aneh. Seakan seluruh waktu pepat dalam detik-detik lambat.
Kemudian dia benar-benar jatuh.
Ada teriakan. Ada lengking peluit. Lebih banyak kepanikan. Morgiana bisa menatap langit. Biru. Biru. Dan betapa cerah langit itu. Tapi, Morgiana suka yang agak gelap. Atau langit fajar dengan awan berundak-undak. Kenapa segalanya terasa sangat indah saat dia tahu ini yang terakhir?
Seseorang menggapainya.
"Apa yang kau lakukan?! Cepat bangun!"
Pemuda itu tidak lebih tua darinya. Rambutnya pirang dan matanya hangat. Alisnya berkerut dan terlihat khawatir. Dia menjangkau dari tepi peron, tangannya gemetar meminta Morgiana menyambutnya. Cepat, cepat. Dadanya sesak menggelegak, nyeri, hampir pecah. Kerumunan makin mendesak. Kereta hampir tiba dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika—
Seandainya kita tidak pernah bertemu.
Morgiana tersentak.
Stasiun lengang seperti biasa. Dia meluruskan bahu dan duduk tegak. Nyatakah mimpi itu? Apa yang dilakukan Morgiana setelahnya? Apa akhirnya? Sempatkah ia berterima kasih?
Dia menutup mata. Pola-pola multiwarna mulai timbul-tenggelam di kelopaknya. Mata ini nyata. Digenggamnya tangan, tubuhnya nyata. Dan betapa pun Morgiana memikirkannya, semua hal mulai membuatnya gila.
Kereta sepi seperti biasa. Pukul enam. Dia menunggu—meski dia sendiri yang berkata untuk tidak bertemu lagi.
Alibaba datang. Matanya mencari, tapi Morgiana bersembunyi. Gadis itu berani bertaruh Alibaba tidak tidur dan langsung ke stasiun seusai kerja. Saat kereta berhenti dan dia menepi ke sudut di mana Alibaba tidak bisa melihatnya, Morgiana memperhatikan. Menjadi penguntit selama beberapa hari, sambil melawan perasaan aneh yang tumbuh di dalam dirinya. Di hari ke sekian, Alibaba berhenti mencoba.
Meski Morgiana tidak pernah berhenti berharap.
Bahkan ketika dia dan Alibaba mulai membuat janji, mimpi itu tetap menghantui.
Dia tidak dapat menjelaskan beberapa hal. Seperti alamat rumahnya, mengapa ia selalu memakai seragam, atau tatapan kosong yang diberikan kepadanya dari orang selain Alibaba. Apa kesalahannya? Morgiana hanya bermimpi, bangun, melihat jarum jam bergerak mundur, novel baru di pangkuan, menanti di kereta seperti orang bodoh.
Alibaba tidak datang.
Tidak datang.
Novel baru tentang kastil rahasia di tengah hutan rahasia dia baca dengan sepi.
Tidak datang.
Morgiana menatap sinar terakhir matahari yang terbakar di sebelah barat.
Tidak datang.
Jarum jam hampir sampai ke angka dua belas.
(Tubuhnya yang nyata, kini mulai terasa tidak nyata.)
.
.
.
Di hari terakhir liburan musim panas, Alibaba masuk ke keretanya.
Napasnya memburu, seakan habis mengerahkan segenap tenaganya untuk berlari. Gadis itu terkesiap. Tidak menyangka dan agak takut. Dia ingin bersembunyi di bawah kursi, atau kabur ke gerbong lain. Tapi Alibaba menangkap tatapannya lebih dulu.
"Morgiana. Syukurlah kau ada." Saat Alibaba tersenyum, dia baru menyadari betapa terlambatnya rasa rindu ini muncul. "Aku tahu kau bilang tidak ingin bertemu, tapi aku terus memikirkannya dan kurasa ini benar.
"Mau berkereta denganku?"
Selewat beberapa stasiun, Morgiana hanya mampu menoleh sebentar, untuk kemudian mendapati pandangan Alibaba juga terpaku padanya. Mereka membuang muka bersamaan.
Dulu Alibaba yang selalu memulai: bicara, mengajaknya menjelajah. Alibaba sering berkata ada stasiun yang bagus dekat sini, dan mereka turun. Mulai dari stasiun besar ke stasiun reyot tepi kota, kereta A ke kereta B. Berganti kereta menjadi hal yang menyenangkan saat pemuda itu tak bosan-bosannya bercerita tentang sesuatu: senior-seniornya di SMA, rekan di tempat kerja, teman-teman sesama pemain sepak bola. Sementara Morgiana mengagumi dunia yang keluar dari kalimat Alibaba, ia juga memperhatikan langit biru hampa, atau lantai stasiun yang dipenuhi debu musim panas, atau pandangan dan kernyitan yang diberikan orang-orang pada Alibaba. Dari sana, dia sudah menduga ada yang salah.
Tapi, sekarang, Alibaba bahkan tidak bersuara.
Mereka melewati beberapa stasiun dalam bisu. Kadang saat Morgiana kehilangan ragu, dia hampir menawarkan diri untuk membaca novel. Tapi saat menoleh dan melihat Alibaba lagi-lagi menatapnya, Morgiana berhenti dan menunduk, mengutuk diri sendiri. Lagi. Dan lagi.
Kata-kata terus mengkhianatinya.
Ia baru saja memanggil, "Alibaba," sementara di saat yang bersamaan, pemuda itu berbisik, "Morgiana."
Gadis itu hampir tersedak. "Ah, maaf. Silakan duluan."
"Tidak, tidak," ujarnya seraya menggeleng. "Kau saja, Mor."
"Tapi, Alibaba sepertinya ingin bicara hal penting. Duluan saja."
"Kau lebih mendesak. Lanjutkanlah."
"Begitukah?"
"Begitulah."
Tiba-tiba saja, segala kecanggungan ini terasa bodoh. Alibaba terkekeh samar, menyandarkan kepalanya ke belakang dan menutup mata. Morgiana menumbuhkan senyum kecil di bibirnya. Berharap suaranya tidak aneh saat berujar, "Apa kabarmu?"
"Baik, mor." Suara gelaknya sekonyong-konyong hilang. "Dan, yah, aku sudah berhenti kerja sambilan."
Morgiana menoleh cepat, "Kenapa?"
Alibaba menjawab dengan santai, "Karena liburannya sudah selesai."
"Oh, benar."
Morgiana tidak berani menatap lebih dari tiga detik. Dia alihkan matanya ke hal lain. Ke tangannya, ke kaca jendela, ke pemandangan kabur yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Agaknya Alibaba paham.
"Maafkan aku baru menemuimu sekarang."
Rambut merah Morgiana menyapu bahu saat menggeleng, menjawab, "Tidak. Aku yang salah, Alibaba."
"Aku sudah tahu, mor."
Dan Morgiana baru sadar kalimat itu terdengar sangat menakutkan. "Soal?"
"Soal kau." Pemuda itu menatapnya hati-hati. Dahinya berkerut, ada ragu dalam suaranya. "Tapi yang aku tidak mengerti adalah siapa kau? Kita pernah bertemu sebelum ini, tapi kapan dan kenapa?" ia meringis, "Aku tidak ingat itu."
Morgiana menutup mata. Rasanya menyakitkan berusaha untuk tidak menangis saat tidak ada air mata yang benar-benar keluar. Rasanya masih menyakitkan.
"Tidak apa. Aku juga baru ingat beberapa hari lalu." Dengan cara yang menyakitkan, lanjut Morgiana dalam hati. Tapi, sekarang bukan waktunya mengeluh. Dia mencari pandangan Alibaba, "Mau kuceritakan?"
.
—dia menangkap tangan pemuda pirang itu.
Tubuhnya ditarik, dan Morgiana berangsur berdiri, menumpukan sebagian berat tubuhnya pada penyelamatnya waktu memanjat naik. Dunia berputar-putar liar di sekelilingnya. Tinggal sedikit lagi, sedikit lagi. Dia bisa merasa akan menjejakkan kaki di peron lagi, akan bernapas lagi, akan menikmati langit lagi. Semua hanya karena sepasang tangan yang menangkapnya ini. Morgiana hampir tersenyum, namun menyadari bahwa pemuda itu terlalu mencondongkan tubuh. Dia akan jatuh menggantikan Morgiana.
Dan bukan ini yang dia minta.
Gadis itu melirik ke kereta yang hampir tiba. Terlambat, terlambat. Dia harus memutuskan! Dipandanginya mata amber itu, sebelum melepaskan tangan—membuat si pemuda terdorong menjauhi kereta.
Jika ada penyesalan selama dia hidup, Morgiana yakin ini bukan salah satunya.
.
"Aku sudah meninggal."
Alibaba tidak terkejut. Atau barangkali hanya menutupi. Matanya terpaku ke lantai kereta. Morgiana mendapati betapa berat menceritakan ini dari sisinya, tapi dia tetap melanjutkan, "Aku menemuimu karena ingin mengatakan sesuatu."
Alibaba tersenyum. Senyum sedih yang tidak pernah dia tunjukkan. "Kuharap bukan untuk memberitahu kalau aku yang membuatmu mati."
"Tidak, tidak!" Morgiana ingin tertawa, tapi tak bisa. Lagipula Alibaba tidak terlihat sedang bercanda. "Kau menyelamatkanku. Saat kelas dua SMP, di musim panas. Satu stasiun sebelum tempat kau biasa pergi. Apa kau ingat?"
Alibaba menggeleng.
"Aku jatuh. Kau berusaha menarikku sebelum kereta datang. Tapi tidak sempat, kurasa." Kilasan mimpinya mulai terjalin saat Morgiana mengatakannya. Mimpinya adalah segalanya, dan segala ini bukan mimpi. "Aku ingin berterima kasih, tapi kau tidak pernah datang ke stasiun itu lagi."
"Jadi aku gagal menyelamatkanmu," Alibaba mendengus, "lalu melarikan diri dan melupakannya."
"Bukan! Bukan begitu, Alibaba," dia mencapai tangan Alibaba, agak semu dan jauh, namun dia bertahan. "Kau menyelamatkanku. Kau mungkin tidak ingat karena itu membuatmu trauma. Aku tidak ingin kau menyalahkan diri. Percayalah."
Morgiana menunggu. Menunggu. Menunggu. Alibaba memejamkan matanya kuat-kuat, beberapa kerutan muncul di tepi kelopaknya. Ketika dia membuka mata, dia menatap Morgiana. Warna amber itu temaram disaput bayangan.
"Jadi, itu menjelaskan kenapa kau kembali. Untuk bertemu denganku?" dia tersenyum tulus. "Apa hanya aku yang bisa melihatmu?"
Morgiana tak bisa menahan diri untuk mengangguk.
"Apa ... apa aku tidak bisa mengambil fotomu?" Alibaba merogoh kantung celana, mengibaskan ponselnya ringan. Dia masih berusaha tersenyum, meski Morgiana tahu sandiwaranya payah. "Katakanlah, dua kali? Tiga? Atau berfoto bersama?"
Ketika Morgiana tidak menjawab, dia tertawa serak. "Oh tak apa. Aku—tunggu. Aku ada ide! Kurasa aku menyimpannya di ... ah! Ketemu." Kali ini dia merogoh kantung kemeja putihnya. Mengeluarkan secarik kertas tisu dan pensil yang terlalu pendek. Dia meluruskan lipatan kertas itu di atas kakinya, dan mulai melakukan sesuatu dengan pensil. Menggambar? Menulis? Morgiana tidak tahu, bertahan dan menanti.
"Nah, ini dia."
Alibaba memberinya kertas tadi. Di tengah, agak ke bawah, sebuah gambar tertangkap pandangan Morgiana. Gambar kasar seseorang berambut panjang dengan kuncir samping, tengah tersenyum lebar dengan mata menutup. Gambar itu begitu aneh, bergetar dan banyak sapuan pensil yang tidak rata. Beberapa malah bolong karena Alibaba terlalu menekannya. Tapi Morgiana diam saja.
"Bagaimana? Jelek, ya?" Alibaba menggaruk kepala. Senyumnya bergetar, sama seperti gambarnya. Tapi, hangat. Hangat, seperti gambarnya. "Kau cantik sekali, sih, aku jadi grogi waktu menggambarmu."
Morgiana tak bisa memandang Alibaba. Awalnya ia mengatur agar bibirnya melengkungkan senyum, tapi ketika isakannya keluar, Morgiana baru sadar tengah menangis.
"Apa—Mor?!"
Sakit. Sakit sekali. Morgiana tidak tahu menangis bisa sedemikian menyiksa. Dan tidak, dia tidak baik-baik saja. Tidak pernah merasa baik-baik saja. Hidupnya tidak berarti, kecuali saat terakhir ketika dia mati. Apa karena ini bukan mimpi? Sebab Morgiana mencari, tapi tidak terasa aliran darahnya, detak jantungnya, suara napasnya.
Namun, sakitnya tersisa.
"Morgiana?"
Kenapa kau begitu baik padaku? Kenapa menolongku? Kenapa peduli? Aku tidak ingin merasa istimewa, ketika pada akhirnya aku akan dilupakan. Aku tidak ingin dilupakan ...
Tidak. Morgiana tidak sanggup bertanya.
"Maafkan aku."
Dia menutup wajahnya dengan tangan, membiarkan semuanya keluar dengan air mata. Dia bahkan tidak tahu apa ini nyata atau tidak. Tangisan, bahunya yang bergetar, hatinya yang hancur. Dia sudah mati. Dia tidak mungkin terus berada di sini.
Alibaba meraih bahunya, bisikannya menyelisip lembut di antara isakan Morgiana, "Kau boleh menangis, tapi biarkan aku memelukmu."
"Tapi—tapi Alibaba akan," Morgiana menggeleng, terseguk, mencoba menghapus air mata meski hasilnya sia-sia, "Alibaba akan dianggap gila lagi."
"Kuanggap itu sebagai 'iya'."
Morgiana menurunkan tangannya, mendapati Alibaba mendekat dari tempatnya duduk sebelum ini, merentangkan tangan, mengirimkan wangi musim panas dan warna bunga matahari. Tangan Alibaba merengkuh Morgiana perlahan, mungkin takut semua ini hanya khayalan, tapi saat akhirnya wajahnya terbenam di ceruk bahu Alibaba, dia tidak memikirkan hal lain.
Morgiana tersesat. Tapi Alibaba menemukannya dan memeluknya erat.
"Jangan pikirkan. Lagipula, saat aku bertemu denganmu, aku sudah jadi gila, Mor."
.
.
.
Senja merayap jingga di kaki langit.
Mereka menyandarkan kepala ke jendela, saling besentuhan. Cahaya keemasan tersiram masuk dan menciptakan bayangan di lantai. Hanya satu. Hanya ada bayangan Alibaba.
Morgiana mengangkat telapak tangannya impulsif. Seringan udara. Di bawah sinar, wujudnya hampir transparan. Jam aneh yang tak pernah dia singgung keberadaannya sudah hampir sampai di angka dua belas. Ah, jadi ini yang terakhir. Ia mendesah, "Terima kasih atas segalanya, Alibaba. Aku akan pergi hari ini."
"Apa?" Alibaba terduduk tegak, melongo. "Pergi itu, maksudmu ..."
"Aku sudah bertemu Alibaba. Aku sudah menyelesaikan apa yang aku inginkan. Setelah stasiun ini dan kau pulang, saatnya aku pergi."
Alibaba mencari sesuatu di matanya. "Kita akan bertemu besok?"
Morgiana menggeleng pelan.
"Ta—tapi, bagaimana denganku?"
Morgiana ingin menjawab, 'Sederhana. Lanjutkan hidupmu, Alibaba,' tapi ia meragu. Tidak sesederhana itu. Tidak. Tidak pernah ada sederhana dalam hidup ini. Morgiana hanya sulit menerimanya.
Benar. Bagaimana dengan Alibaba?
"Lupakan aku."
Alibaba tertawa gugup. "Mor."
"Aku hanya salah satu bagian musim panas, seperti salah satu serpihan dari ingatanmu yang hilang. Melupakanku akan lebih mudah untukmu."
Kereta hampir berhenti. Begitu pula waktu di sekeliling mereka.
Ah. Lagi-lagi terulang. Seolah seluruh kejadian pepat dalam detik lambat: perpustakaan, Morgiana menanti kereta, sendirian. Seorang anak kecil menabraknya—hal paling tak terduga dalam hidupnya. Alibaba, datang, memintanya hidup meski mereka tidak saling mengenal. Lalu kereta datang dan—
Alibaba, menghampiri, menanyakan namanya. Buku yang mereka baca, lagu yang mereka dengar. Musim panas yang benar-benar panas: suara jangkrik, kumbang, angin yang menggesek daun. Bayang-bayang memanjang setiap kereta berlalu. Petualangan, berbagai macam serpihan perasaan. Perpisahan.
Selalu ada perpisahan dalam sebuah cerita.
Kereta berhenti. Alibaba tersenyum lagi. Bibirnya membentuk kata, tapi dia menggeleng, menunduk, tersenyum lagi.
"Aku menyukaimu."
Seakan belum cukup, dia berdiri dan menampilkan wajah senang. "Aku bahagia karena menyukaimu." Dia mulai berjalan ke pintu. Satu langkah, dua langkah. Lalu berbalik. Menatap Morgiana lurus-lurus di mata. "Jadi, jangan minta aku melupakanmu, oke?"
Alibaba menapaki peron saat Morgiana berlari dan menggapai tangannya tepat di ambang pintu. Ia hanya punya satu menit. Tidak lebih.
Ingatannya tertumpah keluar, mengambang. Tangan ini adalah tangan yang menggenggam hidupnya dulu, saat dia masih hidup. Tangan ini adalah tangan yang dia rasakan sengatan listriknya dulu, saat dia menginginkan hidup. Tangan ini tidak terasa lagi.
"Terima kasih."
Tubuhnya menghilang perlahan, menyatu dengan udara, menjadi serpihan musim panas. Jam aneh itu sudah pecah dan memenuhi matanya dengan warna-warni, menyesakkan. Dia menggenggam lagi, tangan Alibaba tidak terasa. Tidak tergapai.
"Mor—"
"Aku juga. Aku suka! Aku tidak ingin berpisah, tidak ingin menghila—" Morgiana kehilangan suara. Matanya mencari dan Alibaba tersenyum lebar untuk terakhir kali.
"Ayo, kita bertemu di musim panas berikutnya."
Pintu tertutup. Kereta pergi menantang waktu. Memisahkan jarak yang tidak bisa bersatu, seolah menertawakan dunia. Dan Alibaba yang tertinggal. Dan Morgiana yang menghilang dalam kerlipan merah. Beberapa serpihannya berpuntir di udara sekitar pemuda itu, yang memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam. Menangis dalam diam.
(Tapi, Alibaba tidak tahu bahwa takkan ada musim panas berikutnya untuk Morgiana.)
.
end
a/n: terima kasih untuk reycchi-senpai, thelastconstellations, Ramyeon, ajisaidera, koniko ninov, Fujimaki Hirano, clearpearll yang telah ada di sini, menanti bersama saya. dan untuk Cooliceprincess, yang udah bikin saya berusaha keras untuk fik ini, terima kasih banyak! (peluk ice-chan) TTATT meski banyak sekali kekurangannya, akhirnya bisa selesai. ini adalah fik mc pertama yang saya publish, jadi kalo ada kesalahan, mohon beritahu. saya masih harus banyak belajar TTvTT
terlepas dari semua itu, akan sangat menyenangkan kalau kalian senang membaca contre temps, seperti saya yang senang membuatnya (ಥuಥ) terima kasih banyak!
.
Pemuda itu masih terpaku pada padang bunga matahari yang terhampar. Kuning dan hijau di bawah langit senja musim panas. Menggenggam secarik kertas tisu lusuh, menunggu seseorang muncul di kereta.
Untuk kesekian kalinya.
