Cerita tentang Hyungseob dan pria bernama Woojin/"Kak Woojin!"/[Romance—maybe—/A lil' bit cheesy/Produce 101 S2]


Jihoon tengah merenung di lapangan tenis yang ada di area komplek perumahan yang ia tempati. Bibir penuhnya terkatup, sementara arah pandangannya ia fokuskan ke arah depan. Pikirannya jauh melambung, melanglang buana entah kemana. Benaknya mulai memutar ingatan atas pembicaraan antara dirinya dengan sang kekasih beberapa hari yang telah lalu.

Hembusan napas berat terdengar setelahnya. Membuat beberapa anak kecil yang memperhatikan dirinya di seberang lapangan menghentikan aktifitas mereka yang tadinya tengah berkejar-kejaran satu sama lainnya.

"Kak Jihoon kok aneh?" Seru salah seorang anak dengan rambut berpotongan bob, dan poni layer yang asyik menyedot kotak susu strawberry di pojok lapangan. "Dari tadi bengong terus. Apa berantem sama kak Guanlin?"

Pertanyaan yang ditujukan sang gadis kecil pada sosok laki-laki berdarah campuran di sebelahnya di sambut dengan gelengan cepat; pertanda bahwa lelaki itu pun tak mengetahui sebab sang submisif manis yang memang dekat dengan anak-anak disekitarnya itu nampak lesu. Detik selanjutnya, hanya tersisa si rambut bob dan si blasteran. Yang lain melanjutkan aktifitas larinya yang sempat tertunda.

Tak berapa lama kemudian, sosok jangkung dengan balutan jaket denim hitam, dan celana semi-jeans menghampiri kedua anak tersebut. Ditangannya terdapat dua buah kantung belanja berlogo mini market ternama, dengan senyum manis; menimbulkan cacat wajah yang jadi point charmingnya muncul. "Halo, adik-adik!" Ia bersuara.

Kedua anak itu dengan serempak menoleh, kemudian menatap sang pemilik suara dengan netra yang berbinar-binar. "Kak Guan!" Melesat menghampiri pemuda yang kini berjongkok, dan merentangkan lengan panjangnya kemudian. Kini dua anak yang mengenyam pendidikan anak usia dini itu sudah terkungkung sempurna oleh pelukan hangat Pemuda Lai. Pria tampan itu terkekeh ringan, sebelum akhirnya menghampiri Jihoon dengan kedua anak yang ada di gendongannya.

"Masih kepikiran apa yang kita bicarain beberapa hari yang lalu, heum?"

Suara berat milik Guanlin membuat Jihoon terlonjak di tempatnya terdiam. Iris indahnya sesekali berkedip, memastikan bahwa refleksi seseorang yang dikenalinya ini nyata adanya. "H—huh? Guan? Sejak kapan sampe sini?"

Guanlin menggeleng dengan senyum kecil. Ia mendudukkan tubuh jangkungnya tepat di sebelah Jihoon, dengan kedua anak yang ada di pangkuannya. "Arin sama Ryan sampe ketakutan lho liatin kamu bengong, Ji." Dimple kembali muncul; efek sang pemilik menarik sudut bibirnya ke atas. "Aku datang belum lama sih."

"Aduh maafin Kakak ya" Jihoon langsung mengambil alih lelaki kecil—Ryan—dari pangkuan Guanlin."Pasti tadi kakak cuek ke kalian, ya?"

Yang ditanya mengangguk mengiyakan, dengan ekspresi wajah yang polos. "Malahan Kak Jihoon bengong juga, kok" tuturnya lugas.

"Aku sama Arin malah nyangkanya kakak berantem sama kak Guan.." Ryan Oh—Si anak dengan darah campuran— bersuara, membuat Jihoon menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. "Aku takut Kak Jihoon kaya tadi tau, kak."

"Tapi, berhubung Kak Jihoon nggak kenapa-napa, Aku sama Ryan pergi dulu ya.." Arin memberontak di pangkuan Guanlin, dan untungnya pria jangkung itu mengerti, jadi ia menurunkan tubuh mungil si gadis dengan hati-hati. Telapak tangan lebarnya mendarat di puncak kepala si bungsu Choi, mengusak rambutnya pelan, dengan senyum hangatnya yang khas; dan entah kenapa terlihat seperti senyum seorang Ayah yang bahagia karena tingkah menggemaskan putri kecilnya—ehem—,"Terimakasih kak Guan... Buat snack sama bukunya... Arin sama Ryan sayang kakak sama kak Jihoon juga.." Lengan mungil itu melingkar di leher Guanlin, berlanjut di leher Jihoon. Setelahnya, ia dan Ryan melambai antusias dan berlari meninggalkan taman karena Nyonya Choi dan Nyonya Oh sudah menunggu kedua peri kecil itu di ujung lapangan yang lain. Bahkan, kedua ibu muda itu tersenyum ramah dan berucap terima kasih tanpa suara yang mereka tujukan kepada dua anak adam yang memang selalu menemani si kecil bermain.

Dan tentunya di balas anggukan oleh Guanlin dan Jihoon. Suasana diantara keduanya kembali hening. Hingga yang lebih muda menghela napas, kemudian angkat suara. "Kamu masih mikirin problemnya Hangyul sama Kak Woojin?"

Jihoon tersenyum miris. Sebelum ia membuka mulutnya untuk merespon pertanyaan Guanlin. "Jujur aja, iya. Pake banget malah." Kakinya yang memang menggantung; tidak menapak dengan sempurna di permukaan lapangan tenis ia ayunkan berkali-kali. "Nggak nyangka aja gitu akar permasalahan mereka sebenarnya nggak terlalu berat."

Guanlin tertawa terbahak-bahak. Sejujurnya ia pun berpikiran sama dengan Jihoon, sebelumnya. Karena ia yang akhirnya tahu permasalahan antara dua pria itu berkembang dengan pesat menjadi lebih kompleks.

"Kamu kok ketawa sih, Guan?"

Pria muda Lai menggeleng. "Awalnya aku juga sempat punya pikiran kaya kamu." Ia menatap lurus ke arah pepohonan di sudut kanan sana. "Hangyul yang ambisius, mulai mencari ulah dengan menyulut api permusuhan pada Kak Woojin yang kita tahu betapa sabarnya dia. Sejatinya, dia sebenarnya ada masalah justru sama Kak Woojin yang lain. Hahahahaha dunia ini lucu nggak, sih?"

Jihoon ikut tertawa; tawa hambar. Seperti Guanlin. Ia juga menyayangkan sikap Hangyul. Setahunya, Hangyul bukanlah orang yang suka mencari gara-gara dengan kakak Tingkat setingkat Woojin—Kim—dan juga Bang Chan, tapi karena faktor X, dia berani juga menyulut kemarahan Ketua Klub Kendo.

Hasilnya? Sudah bisa ditebak bukan? Mendapat skorsing dan juga makin banyak yang cibiran yang tertuju padanya, adalah hasil dari apa yang Hangyul tanam.


.

.

.

二人の男

[Futari no otoko]

Pt. 4 —Aku Tersenyum—

© Aaltonen Ryuunosuke—as known as— Caspian

Produce 101 S2/Wanna one x Yuehua's Project Fiction x Stray Kids

Main Pair : JinSeob vs ChamSeob

Genre : Romance, a lil' bit cheesy, humor and friendship. Also a lil' bit hurt. Dramatic

Alert : Boyxboy, bukan homophobic area. Cast diluar dugaan. Akan ada selipan harem!Hyungseob.

Slight pair Panwink. Yang bukan sekapal silahkan bisa meninggalkan lapak. Hehehe...

Chapter ini disarankan sambil dengerin lagu Day6 - I Smile

.

.

.


Senja itu suasana kampus tempat Hyungseob menuntut ilmu tidak seramai biasanya. Desas-desus mengenai baku hantam antara Hangyul—Woojin—Hyunmin rupanya telah merebak, meski dari anggota senat maupun Dekan belum memberi tindakan dengan jelas. Namun, mengingat bagaimana kontribusi Woojin terhadap kampus, akan teramat disayangkan jika pria berjuluk beruang itu mendapat sanksi. Sedangkan mereka sendiri tahu, jika lelaki Kim tidak akan berulah jika duo preman kampus itu tak berulah berlebihan.

Hyungseob yang memang bisa dikatakan sebagai saksi pada hari itu merasa gusar. Ia sebenarnya ingin membombardir seorang Hwang Hyunjin dengan berbagai pertanyaan, ketika mendapati wajah babak belur anggota klub dance dan juga taekwondo itu. Hyungseob meringis ngeri, pikirannya mulai memproyeksikan kemungkinan terburuk. Ayolah Hwang Hyunjin sang wakil ketua klub Taekwondo saja bisa begitu kacau apalagi Kim Woojin yang pada faktanya spesialisasi olahraga bela diri dengan alat? Dan Hyungseob tahu betul bahwa Hyunmin dan Hangyul selain menguasai Taekwondo, mereka juga menguasai Karate dan Judo.

Pemuda Ahn menghela napas panjang, sebelum akhirnya—dengan terpaksa—menyeret kakinya guna menyusuri koridor kampus, melangkah dengan enggan menuju lobby utama.

Di saat yang bersamaan, Kim Woojin yang memang sedang mengenakan sweater kumal warna hijau army, dengan rambut coma hairstyle, riped jeans[1], menenteng bomber hitam dan helm full face andalannya, mulai menghampiri Hyungseob yang kini mengerucutkan bibirnya lucu di lobby kampus; dengan ransel Rilakkuma yang melekat di punggungnya.

Wajah tampan yang kini berhiaskan lebam dibeberapa spot; sudut bibir, pipi atas dekat dengan mata, kening dan juga hidung yang dilekati band aid bening, karena tulang hidungnya yang nyaris patah, itu tetap terlihat menawan namun juga menenangkan, karena pancaran matanya yang hangat, dan penuh perasaan. Dan itu hanya ia tujukan pada Ahn Hyungseob seorang.

Sementara itu, Woojin Park yang bersandar di pilar Fakultas Teknik—tak jauh dari posisi dua anak Adam yang kian akrab bahkan lengket bak permen karet—hanya bisa menatap datar. Rahangnya mengeras, dengan telapak tangan yang mengepal erat di balik saku hoodie navy blue yang dikenakannya. Ia akui jika dirinya memang kalah langkah dari sang rival. Agaknya kata-kata Bang Chan beberapa waktu yang lalu tepat adanya. "Aku, benar-benar kalah langkah?" Ia mendengus. "Ini semua gara—gara keparat Lee itu!" Gusarnya.

Ia mencoba tersenyum, ketika netranya bersirobok dengan netra bening dan selalu terlihat polos milik Hyungseob. Apapun yang berhubungan dengan si Mungil Ahn, ia akan menanggapinya dengan senyuman. Meskipun jauh di lubuk hatinya ia menangis; menangisi perasaannya yang terkoyak, juga kekalahan mentalnya yang begitu telak.

Satu hal yang paling penting, Woojin begitu merindukan Hyungseob, meskipun ia tak ingin kelincinya itu mengetahuinya.[2]

Beruang Kim dan Hyungseob berlalu dari pelataran parkir. Lengan mungilnya melingkar erat di pinggang sang dominan. Kepalanya ia sandarkan di bahu tegap lelaki yang sudah membantunya bangkit dari keterpurukan. Ia tak peduli jika orang-orang hendak berkata apa atas hubungannya dengan sang kakak tingkat. Yang jelas, Hyungseob akan berlaku egois, untuk kali ini, demi kebahagiaannya yang sempat menghilang, seiring dengan kepergian Woojin Park dari sisinya, dua tahun silam.

Ia muak dengan segala omong kosong dan ucapan Woojin berjuluk burung pipit itu. Maka tidak heran kata-kata benci ia lontarkan di apartemen pria Park, meskipun ia sendiri juga merasa sakit. Yeah, cinta pertama tak mungkin menghilang tanpa bekas sedikitpun, bukan?

Hyungseob tersentak. Rupanya Pria Kim menghentikan laju kuda besinya di area trade center. Pria tampan itu tersenyum, kemudian mengajak Hyungseob turun, dan diiyakan oleh sang submisif. Keduanya memasuki sebuah bangunan dengan gaya klasik. Dan Hyungseob terperangah begitu mengetahui interior bangunan dengan luas 36 meter persegi itu.

"Kita ngapain ke salon, kak?" Hyungseob angkat suara. "Kakak mau potong rambut lagi? Jangan ih.. Nanti nggak cocok." Tanpa sadar ia mengerucutkan bibirnya.

Woojin terbahak mendengar rentetan pertanyaan si Mungil. Ia mengacak lembut surai kecoklatan Hyungseob kemudian menepuk ringan bahu yang terbalut bomber miliknya. "Nggak, dek. Kakak cuma mau ganti warna rambut. Siapa tau bisa buang sial." Jawabnya sembari terkekeh menyebalkan.

"Dih mitos aja dipercaya. Lagian kakak mau ganti warna apalagi sih, kak?" Cibir Hyungseob. Entah mengapa ia merasa kesal ketika kakak kesayangannya itu hendak merubah warna rambut kesukaannya—ehem—."Ngeselin ih kakak bukannya jawab senyum terus.."

Akunya nggak kuat disenyumin gitu sama kakak.—Inner Hyungseob.

"Ya udah maafin kakak, ya?" Woojin menangkupkan kedua tangan Hyungseob di dadanya. Posisinya yang saat ini jongkok di hadapan membuat si Mungil gusar. Ia malu... Apalagi tatapan pengunjung salon saat ini yang seolah menggodanya, membuat si Ahn ingin mengubur dirinya sendiri detik itu juga. "Kakak apaan sih.." Cicitnya dengan wajah memerah.

Woojin menggeleng kecil. Ia mengelus lembut pipi berisi Hyungseob. "Kalau kaya gitu, kaya biasa ya.. Pilihin warnanya. Yang gelap ya, dek."

Hyungseob mengangguk antusias. Hatinya berdesir, dan juga menghangat. Entahlah, ia merasa Woojin begitu menghargai dirinya. Meskipun hanya seperti ini, tetapi ia merasa luluh lantah. "Kalau kaya gitu.. Eummm.. Caramel? Atau Dark Brown?" Hyungseob berpikir sejenak. Pandangannya ia edarkan ke sekelilingnya. Dan pandangannya terhenti ke sebuah cermin besar tak jauh darinya, yang kini menampilkan refleksi Hyungseob dan Woojin sendiri. "Ah, Dark Brown ya, kak?"

Woojin mengangguk. Ia menghampiri sosok lelaki yang dikenalnya yang sedari tadi memperhatikan interaksinya dengan Hyungseob. Senyum menggoda terulas, membuat Hyungseob secara refleks memalingkan wajahnya yang memerah. Ia meraih perangkat pintar miliknya dan mulai larut dalam dunia virtualnya.

Satu jam berlalu...

Hyungseob nyaris terlelap sebelum siluet sosok yang dikenali olehnya berdiri tepat dihadapannya. Kelopak matanya melebar, ketika mendapati Woojin yang tersenyum dengan surai kecoklatan—sesuai permintaannya—yang masih ia pertahankan coma hairstylenya. Pria itu menarik lembut lengan Hyungseob, beranjak dan menghampiri pria yang membantunya mengganti warna rambut. "Terima kasih Jungwoo-ya. Lain kali aku akan mampir lagi."

Pria manis bernama Kim Jungwoo itu tertawa. "Tentu saja, Kak. Jangan sungkan. Jangan lupa ajak pacarmu ini juga. Ugh, kalian nampak semakin serasi dengan warna rambut kalian.. Aku gemas.."

Blush

"Hahahahaha.. Makanya, ajak Yukhei juga untuk berpasangan warna rambut denganmu! Jangan terlalu cuek! Kami pamit, ya?"

Kedua anak adam itu meninggalkan salon diiringi dengan omelan pria bernama Jungwoo itu karena Woojin yang menyinggung sang Kekasih—Lucas atau yang bernama asli Wong Yukhei—.

Kini, Woojin dan Hyungseob kembali menyusuri pendestrian. Tujuan mereka kali ini adalah sebuah outlet pakaian yang menjadi langganan keluarga Kim. Woojin bermaksud membelikan Hyungseob pakaian yang hangat mengingat si Mungil begitu ceroboh. Bayangkan saja, menjelang musim dingin seperti sekarang, Hyungseob selalu lupa mengenakan paling tidak jaket tebal alih-alih pakaian rajut tipis yang kadang membuat Woojin nyaris berang.

Keduanya memasuki bangunan yang di dominasi kaca transparan setelah menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh menit dengan hening. Woojin yang nampak fokus dan Hyungseob yang berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Mereka disambut oleh seorang wanita dengan seragam outlet yang khas, begitu melalui pintu yang dibuka oleh Woojin.

Sosok lain dengan pena dan papan jalan di tangan dengan antusias menyambut kedatangan kedua anak adam itu dengan excited, seolah-olah memang menanti kedatangan mereka dengan sengaja.

"Aku kira kamu bohong, Jin!" Suara wanita itu terdengar pecah. "Aduh imut banget sih, dek. Pantesan Woojin sampe tergila-gila sama kamu."

Woojin meringis, kemudian mengedikan bahunya acuh tak acuh. Ia memberi gestur kepada seorang pegawai yang berdiri di sebelah Hyungseob, hingga kemudian ia menghampiri sofa panjang yang ada di sudut ruangan. Tangannya meraih botol mineral yang ada di ranselnya. "Aku kan nggak pernah bohong sama Kak Jaekyung[3]. Dan tolong berhenti godain Hyungseob, kasian mukanya udah merah banget itu kaya lipstick kakak."

"Kak Woojin diem!?"

Hyungseob memekik sementara orang-orang disekitarnya tertawa kencang. Ia menghentakkan kakinya ke arah fitting room, sementara Woojin menggeleng ringan, mengambil langkah menuju ruangan khusus di lantai dua. Ia memang sudah berniat untuk membersihkan diri di ruang kerja sang kakak sepupu, dan Jaekyung hanya tertawa maklum. Sebelum menyusul Woojin dan menyerahkan jaket pesanan si Beruang.

Tak perlu waktu lama, Woojin menuruni tangga dengan balutan celana denim putih, kaos v-neck abu-abu dan jaket bomber berwarna salem[4]. Surai cokelatnya yang sedikit basah ia tata seadanya, dan dengan gaya yang biasa, coma hair.

Beberapa pegawai yang berlalu lalang hanya tertunduk malu, dan ditanggapi dengan raut tak terbaca si Pria Kim. Ia memilih menunggu Hyungseob di sofa dengan tangan yang mencengkeram erat botol mineral yang sempat ia abaikan.

Woojin mulai mengalihkan isi dari botol bening itu, dengan tatapan tajam yang ia arahkan ke arah Hyungseob yang muncul dari balik tirai ketiga. Kini, pria Ahn itu terbalut oleh kemeja pink over—size, denim berwarna biru pudar dan kets putihnya. Sementara coat hitam tersampir di salah satu lengannya. Matanya berkedip lucu, mendapati pemandangan Woojin yang sedemikian rupa tak jauh darinya.

Pria Kim menghentikan aktifitasnya, kemudian beranjak dari posisinya guna menghampiri Hyungseob yang mematung. Senyum tampan terukir, ia meraih lembut telapak mungil Hyungseob, sebelum akhirnya menautkan jemari lentik kelinci itu dengan miliknya sendiri. Ia menghampiri Jaekyung, dan mengambil 3 paper bag yang berisi mantel dan jaket khusus untuk Hyunseob yang masih di ambang kesadaran.

Hyungseob bahkan tidak sadar jika kini kaki jenjang Woojin mengajaknya menjauhi outlet. Bahkan ketika lengan kekar Woojin melingkari pinggangnya, membantu Hyungseob untuk menaiki motor sport milik Woojin, Hyungseob masih terdiam; berusaha mencerna apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Klik.

Suara kaitan helm yang terlepaslah yang justru menyadarkan Hyungseob. Ternyata mereka telah sampai di depan rumah Hyungseob. Woojin tersenyum, kemudian membantu Hyungseob turun. Ia mengacak pelan surai Hyungseob—sudah menjadi kebiasaan—, setelahnya berpamitan. Rupanya Hyungseob keberatan, bahkan memaksanya mampir.

"Maaf, dek. Kakak harus segera menemui Ketua Senat. Ini berkaitan dengan keributan kemarin. Maaf ya.. Sampaikan salam kakak ke Papa dan Mamamu."

Hyungseob mencebik. Ah, ia hampir melupakan itu. Ia meraih lengan Woojin dengan tiba-tiba, membuat yang lebih tua mengernyit heran. Dan kecupan halus dari bibir Hyungseob yang mendarat di pipinya membuat ia tersentak. Belum sempat ia menanyakan maksud Hyungseob, si Mungil sudah beranjak—lari—memasuki rumah sembari berteriak(berpesan)agar dirinya berhati-hati.

Woojin tertawa—lagi—kemudian mulai mengemudikan kuda besinya meninggalkan kediaman keluarga Ahn.

Dan di seberang sana, di belakang pohon peneduh, Woojin yang lain menatap nanar interaksi keduanya.


.

.

.

Kkeut

.

.

.


[Notes :]

[1] sweater kumal warna hijau army, dengan rambut coma hairstyle, riped jeans : Style Woojin di live stage di KBS Music Bank :)

[2] Sebenarnya penjabaran dari penggalan lirik I Smile 😂

[3] Jaekyung, Kim Jaekyung : Ex-Rainbow. Kenapa aku pakai kakak cantik ini? Karena dia pada real nya ngambil jurusan fashion design di Dongguk Women University 😃

[4] style Woojin di Fansign dan Music Core Show 10 April.

[Rambling's Area] :

Part ini Aal tulis dengan iringan cover I Smile-nya Day6 by Kim Woojin. Heran sih sama kembaran(?) Aal yang satu ini kok demen banget nyanyi lagu ini. Pas Aal search translete-nya.. Terpelatuq lah Aal. Jero kampret lagunya 😂 Apakah ini semacam curhatan Kim Woojin? Kan di Fansign, VLive, bahkan di After School Club juga doi nyanyi ini lagu. Hipotesa dari Aal, yaitu Woojin—Kim—adalah seorang Masochist perasaan level menengah Wkwkwkwkwkkwkwk alias BUCIN juga HAHAHAHAHAHAH— /digebok fangirl Woojin/ 😂

Sekali lagi Thanks, hountouni Arigatou buat yang udah fav/follow/bahkan nyempetin waktu buat review. Aal terhura asli. /sungkem berlanjut joget hula—hula/

So?

Gimana lanjutannya? Delete or next?

.

.

.

Sign,

Orang—ngotot—Tampan.