In a Suburban field, 16.30 KST
Semburat orange menghiasi langit kota sore itu. Seoul masih sibuk dengan lalu lintas jalanan yang seolah tak ada jedanya, lalu lalang manusia juga tak kalah ramainya. Anak sekolah yang baru pulang, para pekerja paruh waktu yang baru akan berangkat untuk shift malam, atau pegawai kantoran dengan langkah gontai berjalan menyusuri jalanan kota yang begitu padat dengan suara bising kendaraan mendominasi.
Namun apa yang terlihat di sebuah lapangan luas di pinggiran kota ini sedikit berbeda dengan gambaran yang terlihat di pertengahan Seoul sana. Disini, di lapangan luas yang jarang dijamah masyarakat ini, sebuah pertarungan sengit rupanya sedang berlangsung.
Buaaak!
Oh, bahkan suara pukulan dan teriakan penuh umpatan kebencian masih terdengar memekakkan telinga bahkan sejak setengah jam yang lalu.
Apabila ditelisik lebih dekat, siapa lagi yang bertarung jika bukan pemeran utama di cerita ini?
Sang ketua geng dari Hwa Dokgo.
Park Chanyeol.
E)(O
"Pecundang ini sudah gila rupanya, berani sekali kau dan geng busukmu menantang ketua kami! Menantang Hwa Dokgo?! Hah dasar bocah tengik!" Jongdae menendang musuh terakhir mereka sore itu.
Laki-laki penuh luka lebam dan berdarah itu hanya satu dari sekian banyak anggota geng sekolah lain yang telah tumbang setelah mencoba untuk mengalahkan sang ketua dari Hwa Dokgo beserta seluruh anak buahnya.
Malangnya, mereka malah kalah dengan predikat pecundang tersemat karena beberapa anggotanya lari tunggang langgang bahkan sebelum lima belas menit pertarungan dimulai.
Chanyeol bahkan tidak mendatangkan seluruh bala pasukannya untuk melawan musuhnya kali ini, Justru musuhnya kali ini yang ternyata berasal dari Sekolah Industri Nangjin itu mendatangkan pasukan penuh. Tujuh kelas dengan murid pria dari masing-masing kelas mencapai tiga puluh orang.
Semua sekolah di dalam cerita ini adalah sekolah khusus laki-laki, by the way.
Sudah bukan rahasia lagi jika isu tentang gelapnya dunia gangster sekolah memang benar adanya terutama di kalangan sekolah khusus pria yang notabene punya penghuni yang sebagian besar memiliki sifat dasar untuk mendominasi, mengalahkan, dan ingin menjadi yang terkuat.
Meski tidak semua memiliki sifat-sifat yang disebutkan di atas, biarpun mereka semua laki-laki.
Juga bukan hal aneh bila mendengar kata seme dan uke di dalam sekolah-sekolah itu karena oh, kata-kata yang berasal dari serapan bahasa Jepang itu adalah penanda untuk hubungan sesama jenis yang terjalin di sana.
Banyak pria dalam satu tempat, berkumpul selama kurang lebih tujuh hingga delapan jam sehari—belum lagi jika ada tambahan pelajaran atau kegiatan club—membuat hubungan semacam ini bukan tidak mungkin akan terjadi.
Ya, ketua geng dari Hwa Dokgo ini salah satunya, dengan uke kecil menggemaskannya.
Chanyeol menyugar rambut apinya ke belakang, mencoba kembali fokus ketika tiba-tiba Ia teringat kekasih kecilnya yang saat ini sedang ada di perpustakaan kota untuk belajar demi test Matematikanya besok.
"Keparat-keparat ini sungguh minta diludahi. Lihat saja ketuanya bahkan pingsan duluan." gumam Chanyeol sambil menatap jengah pada seorang pria berbadan tambun berambut hijau tua yang masih belum sadarkan diri si tengah-tengah lapang.
"Kau bisa meludahinya dulu sebelum pergi, ketua." Ucap Johnny sambil menyalakan sepuntung rokok.
"Bahkan aku tidak sudi meninggalkan air liurku di atas tubuh pecundang itu." Ujar Chanyeol datar, "Kita pergi, urusan kita dengan Nangjin selesai sampai disini."
E)(O
Begitulah hari berganti, dari pertarungan satu ke pertarungan yang lain.
Chanyeol menjalani hari-harinya sebagai ketua gangster sekolah yang sudah terkenal kasar, bengis, dan tak terkalahkan dalam tawuran antar geng. Siapapun yang berhadapan dengannya, tidak akan ada kesempatan untuk mendapat pengampunan dari sang ketua geng.
Tantangan demi tantangan berdatangan setiap hari dari geng sekolah lain. Perebutan wilayah kekuasaan, dendam, dan pembuktian siapa yang terkuat kerap kali menjadi alasan dibalik sengitnya pertarungan adu jotos serta tergeletaknya tubuh-tubuh bersimbah darah yang bahkan masih memakai seragam sekolah itu.
"Sampah-sampah itu sepertinya menggunakan Hwa Dokgo sebagai tolok ukur kekuatan. Sial, ini tidak akan ada habisnya!" Jongdae mengumpat ketika petang itu mereka kembali dicegat di persimpangan dekat sekolah. Kebetulan hanya Chanyeol, Jongdae, Jhonny, dan anak kelas dua yang baru satu bulan pindah dari Jepang bernama Matsumoto Yuta yang saat ini harus berlari dulu ke tempat lapang agar tak menimbulkan keresahan bila bertarung di jalanan padat penduduk.
"Bajingan-bajingan ini dari Geonsan." Gumam Chanyeol sambil terus berlari menembus gang sempit bersama ketiga teman se-gengnya.
Ia melihat pria yang tempo hari terkena tendangan keras Jongdae saat pertarungan di Busan saat itu, namanya Jongup dan orang itu ikut mengejar mereka berempat di belakang.
"Mereka menuntut balas atas kekalahan Jung Daehyun waktu itu? Saat kau mendatangi mereka ke Busan karena bajingan itu membicarakan Byun Baekhyun?" tanya Jhonny sambil sesekali menendang jatuh tong sampah di sekitarnya untuk sedikit memperlambat musuh mereka di belakang sana.
Chanyeol mengangguk, "sepertinya begitu, aku sudah membuat gigi ketua mereka rontok karena mengerahkan kekuatan di tinjuku, membungkam mulut sialannya yang menginginkan milikku."
Jongdae dan Yuta mulai merenggangkan otot-otot mereka, bersiap untuk gelombang serangan karena di depan sana sudah terlihat sebuah gudang tua dengan halaman yang cukup luas. Tempat ini yang paling dekat dengan sekolah mereka dan mereka sering menggunakan halaman ini untuk menghajar geng lain bila mereka tiba-tiba mendatangi Hwa Dokgo.
"Kalian siap? Aku tidak akan memanggil bala bantuan kali ini. Masih ada waktu untuk berhenti, ada belokan terakhir di ujung sana. Pergilah jika kalian tidak yakin." Ucap Chanyeol dengan mata tajam yang terus terarah ke depan. Tak ada keraguan sama sekali di mata hitam besar itu.
"Aku bukan pecundang, ketua." Jongdae berucap dengan seringai di bibir.
"Kami tidak akan membiarkan ketua kami bertarung sendirian, bukan." Jhonny berucap sambil melirik Yuta yang tengah menaikkan resleting jaketnya ke atas.
"YOSH!" teriak laki-laki itu dengan logat Osaka samar.
"Bersiaplah."
Dan pertarungan pun terjadi antara Hwa Dokgo dan Geonsan.
E) (O
Baekhyun merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Oh, rumus limit fungsi dan trigonometri sungguh membuatnya hampir kehilangan kewarasan.
"Aku ingin mengumpat!" gumam Baekhyun pelan karena oh, dia masih ingat kalau masih berada dalam lingkup perpustakaan. "Rumus-rumus ini sungguh keparat!"
Namun setelah itu Ia langsung menepuk-nepuk bibir tipisnya pelan, "maafkan Aku ya Tuhan, jangan bilang-bilang pada Chanyeollie kalau akhir-akhir ini Aku sering mengumpat."
Kemudian ketika anak manis itu akan melanjutkan latihan soalnya, tiba-tiba Ia mendapatkan telepon dari seseorang.
Itu anak buah Chanyeol.
"Channie kenapa?" tanyanya pelan, oh dan sebelum orang di seberang sana selesai berbicara, Ia segera membereskan segala buku dan peralatan sekolahnya, memasukkannya secara tergesa ke dalam tas ransel lalu beranjak pergi dari meja setelah mengembalikan buku referensi yang tadi diambilnya dari sebuah rak.
Tanpa pikir panjang Ia segera menyetop taksi dan duduk di bangku penumpang dengan perasaan khawatir yang membuncah di puncak kepalanya.
E) (O
Kemudian sekitar setengah jam kemudian Baekhyun akhirnya menginjakkan kakinya disana.
Itu sebuah Klab Malam.
Klab malam eksklusif, lebih tepatnya.
Apa yang tidak Baekhyun mengerti, mengapa salah seorang teman se-geng Chanyeol yang mengaku bernama Yuta memberi tahunya bahwa Chanyeol ada di tempat ini dan ingin Baekhyun datang. Mengapa bukan Chanyeol sendiri yang meneleponnya?
Kecemasannya seolah menyembur bak lava pijar dari gunung berapi ketika Jongdae datang menyambutnya di pintu masuk dan mengantarnya menuju lounge dimana pemilik hatinya sekarang berada.
Baekhyun melihat sekelilingnya dengan dahi mengernyit dalam dan sebelah tangannya yang menutupi telinga kanannya yang terasa berdenging mengerikan kala pertama kali masuk tadi. Oh damn, suara musiknya sungguh keras.
Mata kecilnya juga melihat wanita-wanita seksi sedang meliuk di panggung tengah memamerkan tubuh mulusnya yang dibalut dengan pakaian kurang bahan, ada pula laki-laki cantik yang sedang melakukan pole dance di sisi ruangan yang lain.
Well, ini pertama kalinya Ia datang kesini. Ini klab malam baru baginya karena Chanyeol belum pernah mengajaknya kemari.
"Jongdae-ssi, sebenarnya Chanyeol-sunbae kenapa? Apa dia terlibat tawuran lagi? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Baekhyun sambil melihat me arah pria tampan pemilik mata melengkung itu.
"Kau akan tahu nanti, Byun. Sekarang kau masuklah, Ketua ada di dalam." Jongdae membukakan pintu dan Baekhyun hanya mengangguk sambil mengucapkan terimakasih kemudian berjalan masuk dengan kedua tangan yang menggenggam erat tali tas ranselnya.
"Hyun?" suara berat itu terdengar dari pojok ruangan, seorang pria tinggi berambut api dengan ketampanan tak terelakkan duduk di sebuah sofa single berwarna hitam dengan ukiran rumit berwarna emas yang terlihat mengkilap tertimpa cahaya lampu remang di lounge itu.
Beberapa anak buah Chanyeol yang ada disana diam-diam melirik penampilan bocah SMA tahun kedua itu dan mereka selalu dibuat kagum oleh visual si bocah yang begitu manis namun menggairahkan di saat yang bersamaan.
Rambut hitam yang terlihat lembut bila dibelai, pinggul menggoda dengan lekukan bagai gitar Spanyol, serta celana jeans ketat yang membungkus kaki pendeknya. Oh itu membuat paha dan pantatnya terpampang jelas.
Oh dan mata kecilnya yang kini menatap Chanyeol dengan hangat dan penuh perhatian. Sungguh membuat para Dominan mendadak meneguk ludah dengan visi kotor dalam otak mereka.
"Channie?" Baekhyun masih betah berdiri di tempatnya, perlahan pegangan tangannya pada tali tasnya mengendur ketika melihat kekasihnya baik-baik saja meski terdapat luka-luka di beberapa bagian wajah dan tangannya.
"Hmm?" suara Chanyeol memberat di telinga Baekhyun.
"Kau terluka?"
"Tidak Hyun, kemarilah"
Baekhyun melangkah mendekat ke arah sang ketua dan menyentuh sudut bibir Chanyeol yang membiru.
"Ini luka Channie, sebentar ya—" Baekhyun baru akan membuka ransel untuk mengambil kotak obat daruratnya ketika Chanyeol berdiri dari singgasananya dan melepaskan ransel anak itu dari bahunya kemudian melempar tas ransel Baekhyun serta mantel merah yang dibawanya ke sofa panjang terdekat.
Baekhyun berdebar ketika kekasihnya kembali duduk dan menatap tepat kedalam mata kecilnya.
"Kemarilah." Chanyeol menepuk pahanya, seketika Baekhyun mendekat dan duduk menyamping di atas paha sang ketua gengster.
"Kalian semua boleh pergi, pembicaraan hari ini cukup sampai disini." Chanyeol menyapu seluruh penghuni ruangan dengan tatapan tajam tak terdefinisikan, "Bersiaplah untuk perang minggu depan dan jangan lagi menatap milikku dengan tatapan seperti tadi atau aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada mata kalian."
Ruangan itu senyap.
Para anak buah itu mulai membayangkan pencongkelan mata dan adegan sadis lainnya.
"Mengerti?"
"MENGERTI KETUA!" ucap mereka bersamaan setelah itu mereka pergi dari sana setelah membungkuk hormat pada sang ketua.
Meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun berdua di lounge itu.
"Memangnya mereka menatapku?" suara merdu itu mengalihkan atensi Chanyeol serta menghilangkan kerutan tajam yang tadi dilayangkan Chanyeol pada anak buahnya yang telah kurang ajar menatap Baekhyunnya dengan tatapan menginginkan.
"Iya sayang, aku benci ada yang menatapmu seperti itu." Chanyeol menyatukan dahinya dengan dahi kekasih kecilnya.
Baekhyun tersenyum, "kau menakutkan."
"Aku akan menjadi menakutkan untuk melindungimu."
"Terimakasih Chanyeollie" Baekhyun mencium pipi Chanyeol singkat.
Kemudian tiba-tiba tangan Chanyeol menyelip di antara ketiak anak itu dan mengubah posisi duduk anak itu hingga mengangkangi pahanya.
"ehm Yeollie...i—ini dekat sekali." Anak itu berucap gugup saat ketua geng sekolahnya mulai menciumi lehernya.
"Hmm, tapi tidak sedekat ketika aku mengurungmu di atas ranjang." Pukulan ringan dari tangan kecil Baekhyun mendarat di dada Chanyeol.
"Sakit, sayangku." Sang ketua geng tersenyum main-main.
"Bicaramu itu benar-benar..." Baekhyun mencebik lucu sambil menatap pemilik hatinya dengan jengkel.
"Aku ingin melanjutkan cerita ranjang kita, tapi selalu berhenti di bagian aku yang menindihmu dengan tubuhku di atas ranjang." Chanyeol merengkuh pinggang Baekhyun dan menariknya semakin menempel ke tubuhnya.
Baekhyun menunduk dalam, "m-maafkan aku Chanyeollie"
Chanyeol perlahan mencium telinga Baekhyun dan menggigit kecil cuping telinganya, "Kau selalu bisa membuat gairahku membuncah tiap melihatmu, bahkan hanya dengan mendengar suaramu saja sudah membuatku gila dengan fantasi kotor dirimu yang terbaring pasrah tanpa pakaian di atas ranjangku, mendesah memanggilku untuk menggagahimu, Hyun." Suara Chanyeol semakin memberat secara bertahap ketika mengucapkan kata-kata itu.
"Hentikan Yeollie." Baekhyun menolehkan muka ke samping berusaha menjauhkan telinganya dari bibir sialan kekasihnya yang terus membisikkan dirty talk di telinganya.
"Baekhyunnie tatap aku." Oh suara berat dengan nada memerintah itu adalah satu dari sedikit hal di dunia ini yang tak sanggup Baekhyun tolak.
"Iya?"
"kau merasakannya?"
Bohong jika Baekhyun tak merasakan gairah Chanyeol yang terbangun di sela pantatnya, anak itu jelas merasakannya namun berusaha mengabaikan.
Astaga dia malu setengah mati!
"Merasakan apa? Ahhm~" Baekhyun terkejut dengan desahannya sendiri karena Chanyeol tiba-tiba mennggerakkan tubuh Baekhyun hingga tubuh bagian bawah mereka bergesek dengan begitu erotis.
"Gairahku, baby boy. Kau merasakannya?" Chanyeol bicara di depan mulut Baekhyun sembari mejilat belahan bibir anak itu, "Seburuk itu aku menginginkanmu."
"Chanyeollieh" Baekhyun menggigit bibir bawahnya lagi ketika Chanyeol kembali memggerakkan tubuhnya maju mundur.
"Sial, kau tahu, aku tadi sangat lelah setelah bertarung dengan para bajingan itu, tapi sekarang semuanya hilang saat berdekatan denganmu seperti ini."
Baekhyun memeluk kekasihnya dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Chanyeol, "t-tapi jangan menggerakkan tubuhku seperti itu, rasanya geli."
Chanyeol terkekeh kecil, "itu bukan geli sayang, itu nikmat."
"Chanyeollie!"
Sang ketua gangster mencari bibir Baekhyun dan melumatnya pelan, "Milikku masih keras Hyun, bisakah kau membantuku?"
"Membantu apa?" Baekhyun mengernyitkan dahinya, terlihat berpikir keras.
Chanyeol menghela nafas penuh kesabaran ketika Baekhyun mengedipkan matanya secara beruntun, seperti meminta penjelasan darinya.
"Lupakan, lain kali saja aku akan mengajarimu." Chanyeol kembali menyandarkan kepala Baekhyun di bahu lebarnya.
"Aku penasaran Yeollie."
Chanyeol menyeringai, "akan ada saatnya hyun. Aku akan mengajarimu semuanya."
Baekhyun diam-diam meneguk ludah gugup.
Mengajari itu...tentang bercinta kah?
Baekhyun merinding hingga ke tulang belakangnya.
"By the way, semangat untuk test Matematika mu besok." Chanyeol berucap sembari mengelus lembut punggung Baekhyun.
Baekhyun mengabaikan segala pemikiran buruknya dan mengangguk di bahu Chanyeol.
"Terimakasih Channie! Aku mencintaimu."
"Hmm, aku juga."
Kemudian malam itu terlewati dengan pelukan erat dan Sang ketua geng yang menggendong kekasih kecilnya yang tertidur keluar dari gedung itu.
TBC
A/N :
Masih adakah yang menunggu ini up? maaf jika menunggu lama~
Jika ada kritik dan saran ketik di kotak Review yaaa~
Always happy and sweety kalian semua!
with Love, Chika.
