FINAL CHAPTER:
For Sehun the answer is always Luhan
.
.
"Luhan," panggil Sehun lembut sambil mendekati tempat tidur Luhan. Luhan menggigit bibir bawahnya yang pucat. Tanpa Sehun duga Luhan melemparkan nampan alumunium yang ada dimeja kearah Sehun, mengenai lengan Sehun dengan keras.
"Pergi!" pekik Luhan sambil terisak.
"L-Luhan."
"Kubilang pergi!Pergi!" teriak Luhan histeris. Sehun tidak ingin pergi, ia ingin memeluk Luhan, menenangkan Luhan dalam dekapannya.
"Sehun." Sebuah tangan mencegat Sehun untuk mendekati Luhan yang masih mengamuk, "Pergilah. Kami akan meneleponmu jika Luhan sudah lebih tenang."
Sehun menatap ibu Luhan, ia tidak ingin berdebat lebih lama dengan ibu Luhan yang terlihat kelelahan. Sehun menurut dan akhirnya keluar dari kamar Luhan.
Sehun berjalan tidak bersemangat dan tanpa arah. Ia hanya jalan lurus sepanjang jalanan Beijing yang ramai. Sehun menghentikkan langkahnya saat ia melihat sebuah bar yang tidak terlalu ramai dan memilih untuk tinggal disana hingga orang tua Luhan menghubunginya.
Entah sudah berapa lama ia berada disana,dengan segelas bir yang ia pesan namun tak ia sentuh sedikitpun, ketika ponselnya berdering. Sehun kira orang tua Luhan yang menghubunginya. Namun tanpa ia duga,Luhanlah yang mengirim pesan, menanyakan keberadaan Sehun. Setelah membayar ,Sehun dengan cepat berlari menuju rumah sakit.
.
.
Luhan berjalan bolak-balik dengan gelisah didalam kamar rawatnya. Ponselnya yang berwarna putih ia genggam dengan erat, sudah satu jam setelah ia mengirim pesan kepada Sehun,Sehun tidak juga membalasnya.
Apa Sehun membencinya?
Itu wajar,karena Luhan sudah kasar kepadanya tadi. Dan Luhan sudah terlihat jelek sekarang dengan kepala yang gundul.
Luhan mengalihkan pandangannya ke pintu yang dibuka oleh seseorang dan Sehun masuk kekamarnya.
"Sehun!" Luhan melangkah menuju Sehun,dan berdiri sambil menjaga jarak dengannya dan Sehun. Ia berpikir,Sehun mungkin tidak ingin dekat-dekat dengannya karena ia begitu jelek.
"A-apa kau baik-baik saja?" tanya Luhan khawatir, "Maafkan perbuatanku tadi a-aku-"
Sehun melangkah mendekati Luhan,lalu menarik laki-laki tercintanya itu kedalam pelukannya.
"Kenapa kau tidak memelukku? Apa kau tidak merindukanku?"
Tangan Luhan dengan ragu melingkar dipinggang Sehun. Saat Sehun mengeratkan pelukannya ditubuh Luhan,tanpa sadar Luhan menghela nafas lega,dan menyamankan posisinya didekapan Sehun.
"Aku sangat merindukanmu. Maaf karena aku telah berbuat kasar padamu Sehun."
Amarah dan kekecewaan yang Sehun pendam menguap ketika tubuh kurus Luhan sudah berada di dekapannya. Tentu saja walaupun ia marah,ia pasti akan memaafkan Luhan.
"Aku melakukan itu karena aku tidak mau kau melihatku dengan kondisi seperti ini," Luhan terisak,menenggelamkan wajahnya didada Sehun, "Aku terlihat menyedihkan dan buruk rupa. Aku tak pantas dicintai Sehun."
Sehun melepas pelukannya dari Luhan dan melepas topi yang sedari tadi dipakainya. Ia lalu tersenyum kearah Luhan, "Kalau aku berpenampilan seperti ini apakah kau masih mencintaiku?"
Luhan terkejut melihat kepala plontos Sehun, rambut tebalnya ia pangkas habis hanya menyisakkan anak-anak rambut berwarna hitam.
"Luhan," panggil Sehun lembut, "Apa kau tetap mencintaiku walau penampilanku seperti ini?"
"Tentu saja," jawab Luhan mantap, "Aku mencintai semua yang ada didirimu."
Sehun tertawa lalu menangkup pipi Luhan dan menyatukan dahi mereka, "Lalu kenapa kau berpikir kalau aku akan berhenti mencintaimu hanya karena penampilanmu yang berubah?"
"Cintaku untukmu tidak ada bedanya dengan rasa cintamu padaku. Penampilan bukan segalanya,aku telah mencintai segala yang ada pada dirimu. Baik maupun buruk. Maka dari itu penampilan bukan alasan kenapa aku mencintaimu."
Luhan meneteskan air matanya, tangan kurusnya menangkup tangan Sehun yang berada dipipinya.
"Aku mencintaimu karena kau Luhan. Kau Luhan-ku." Sehun lalu mengecup bibir Luhan.
Setelah hari itu,Cinta mereka bertambah kuat. Namun sebaliknya dengan Luhan, kondisinya semakin parah. Tubuh Luhan lebih kurus dari sebelumnya karena setiap makanan yang masuk kedalam tubuhnya ia muntahkan lagi sampai habis. Emosi Luhan berubah-ubah. Kadang ia merasa sangat bahagia, terkadang ia merasa kesal dan yang lebih sering ia merasa sedih dan menangis seharian tidak ingin ditemani siapapun.
Suatu malam,Luhan menyandarkan kepalanya didada Sehun. Sehun dengan lembut mengelus kepala Luhan dan mencium wajah Luhan sambil bersenandung.
"Sehun," panggil Luhan lemah.
"Hmm?"
"Aku ingin pulang," ucap Luhan, matanya yang diliputi lingkar hitam menatap sayu Sehun.
Sehun tersenyum, "Apa yang kau bicarakan? Kita sudah ada dirumah."
Luhan menggeleng, "Aku ingin pulang ke rumah kita di Seoul."
"Tapi kau tidak boleh berpergian terlalu jauh. Kondisimu belum stabil."
Luhan meneteskan air matanya, "Sehun-ah,Please?"
Luhan mengeratkan genggamannya dikemeja Sehun, "Aku tidak betah disini. Aku ingin pulang ke Seoul."
Sehun memeluk Luhan erat, "Baiklah. Kita akan pulang ke rumah."
Setelah Luhan tertidur. Sehun menemui orang tua Luhan dan meminta izin untuk membawa Luhan pulang ke Seoul. Orang tua Luhan tentu menentang, namun Sehun bersikeras bahwa itu keinginan Luhan. Akhirnya demi kebahagiaan anaknya, orang tua Luhan setuju dan mengizinkan Sehun membawa Luhan pulang ke Korea.
Mereka kembali ke Seoul, setelah rumah sakit Beijing memastikan bahwa kondisi Luhan baik dan ia bisa pergi ke Seoul. Wajah pucat Luhan tak henti-hentinya mengembangkan Senyum, matanya yang berkilau mengisyaratkan kegembiraan yang ia rasakan.
"Kita sampai." Ucap Sehun sambil memarkirkan mobilnya didepan rumah mereka.
"Home sweet home!" teriak Luhan kegirangan. Sehun tertawa lalu membantu Luhan masuk kedalam rumah mereka.
Didalam Luhan mengitari rumah mereka, merasa rindu dengan suasana nyaman dirumah yang sudah lama ia tinggalkan.
"Sehun!" panggil Luhan riang, "Lihat!Pemandangannya sangat indah bukan!"
Luhan menunjuk kaca besar di ruang tengah mereka , disana terlihat bintang-bintang yang berkilauan. Rumah Sehun dan Luhan terletak jauh dari keramaian kota Seoul, dimana lampu-lampu menerangi kota Seoul hingga menimbulkan polusi langit dan bintang tak terlihat. Itulah mengapa Luhan sangat menyukai rumah mereka, karena disana ia masih bisa melihat benda langit favoritnya berkelap-kelip.
"Ayo kita duduk disana!" tunjuk Luhan ke lantai tepat dihadapan jendela,tempat ia dan Sehun biasanya duduk bersama didalam selimut sambil bercerita.
Sehun tersenyum lembut, "Baiklah,aku akan mengambil selimut dulu. Kau tunggu disitu ok?"
Sehun pergi mengambil selimut sementara Luhan dengan patuh duduk dilantai sambil memandangi kota Seoul dengan takjub.
"Thanks," ucap Luhan saat Sehun menyelimuti tubuhnya. Sehun ikut masuk ke selimut itu lalu menarik Luhan kedalam pelukannya.
"Indah 'kan Sehun?" tanya Luhan yang sudah dengan nyaman bersandar didada Sehun.
"Iya,sangat Indah," jawab Sehun sambil memperhatikan wajah Luhan. Matanya berbinar memandang langit.
Sehun dan Luhan sama-sama melihat bintang.
Namun ketika Luhan memandang bintang dilangit, Sehun memandangnya di tempat yang berbeda.
Ia memandang bintang yang berkilau terang di mata Luhan yang indah.
'Luhan,Apakah saat kau menatap bintang dilangit kau merasa bahagia?
Apakah kau merasa bahagia seperti aku merasa bahagia saat aku menatap bintang dimatamu?'
"Ayo kita menikah."
Luhan terperanjat kaget mendengar kalimat yang keluar dari bibir Sehun.
"Sekarang?"
"Sekarang."
Sehun beranjak lalu masuk ke kamarnya, ia lalu kembali membawa kotak cincin pernikahan mereka dan kembali duduk disebelah Luhan.
"Luhan, apakah kau bersedia menerima Sehun sebagai Suamimu? Apakah kau bersedia hidup dengannya dalam senang maupun sulit, dalam keadaan Sehat maupun sakit? Dan saat Oh Sehun terlihat tampan maupun bodoh?"
Luhan terkikik geli lalu menangkup pipi Sehun, "Aku bersedia menjadi suami Oh Sehun. 10 tahun hidup dengannya dan masih disini hingga sekarang membuktikan bahwa aku bersedia hidup dengannya lebih lama lagi dalam keadaan apapun."
"Oh Sehun, Apakah kau bersedia menjadi suamiku?" tanya Luhan.
Sehun tersenyum, "Tentu saja, Oh Luhan."
Sehun memasangkan cincin dijari manis Luhan,walaupun cincin itu sedikit longgar dijarinya tapi cincin itu masih terlihat cocok terpasang dijari-jari lentik Luhan.
Luhan memasangkan cincin satunya dijemari Sehun, "Sekarang Sehun resmi menjadi suami Luhan dihadapan bintang-bintang dilangit."
Luhan dan Sehun terkikik geli.
"Sekarang kau boleh mencium suamimu." Ucap Luhan. Sehun tersenyum lalu mencium bibir Luhan.
"Dimana kau ingin berbulan madu?" tanya Luhan dengan nafas yang tersengal akibat pergulatan bibir mereka.
"Dikamar," jawab Sehun, "Sekarang,dikamar."
Esoknya mereka pergi untuk meresmikan pernikahan mereka di kantor pengadilan. Setelah itu mereka mengundang kerabat-kerabat terdekat ke pesta pernikahan sederhana mereka di halaman belakang rumah.
Kyungsoo mengunjungi Luhan setelah tahu Luhan sudah kembali. Ia begitu baik menawarkan diri untuk merawat Luhan ketika Sehun harus pergi bekerja walaupun mereka sudah tidak terikat pekerjaan. Sehun masih bekerja diperusahaan di perusahaan kontraktor milik Chanyeol, namun ia juga bekerja untuk Wu enterprise menjadi arsitek pribadi untuk mendesain hotel-hotel yang sedang mereka bangun. Sehun kerja ekstra keras untuk mengumpulkan uang dan membangun rumah impiannya bersama Luhan. Sehun menabung gaji yang ia dapat. Kerja lembur untuk mendapatkan bonus dari Chanyeol. Setelah pulang, walaupun ia harus lembur dan kelelahan ia masih menyempatkan diri untuk merawat Luhan dan sekedar menemani Luhan untuk mengobrol hingga ia tertidur. Mereka sering berimajinasi tentang dimana rumah mereka akan dibangun, seperti apa bentuk rumah mereka, dan bagaimana kehidupan mereka setelah tinggal dirumah tersebut.
Suatu hari saat ia sedang dikantor,Kyungsoo meneleponnya.
Kyungsoo tidak akan meneleponnya saat bekerja jika tidak ada hal genting yang terjadi.
"Luhan pingsan Sehun! Aku sedang menuju rumah sakit Pusat, cepat menyusul!"
Sehun dengan panik mengendarai mobilnya dengan cepat ke rumah sakit pusat. Disana Luhan sudah ditangani oleh dokter ahli,Kyungsoo menunggunya didepan ruang pemeriksaan.
"Kyungsoo," panggil Sehun. Kyungsoo mendongak, matanya yang bulat berkaca-kaca.
"Se-Sehun. Luhan sedang diperiksa dokter," ucapnya sambil gemetar.
"Kyungsoo-ya,Luhan tidak apa-apa ok? Jangan khawatir." entah kenapa Sehun bisa mengatakan hal itu padahal dirinya sendiri tidak bisa memungkiri rasa khawatir yang begitu besar dalam dirinya.
Sang dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan mengajak Sehun untuk berbicara.
"Kondisi Luhan sudah semakin parah. Kita harus melakukan operasi untuk membuang sel kanker diotaknya."
Sehun terperangah, "Bu-bukankah operasi itu berbahaya untuk Luhan?"
Sang dokter mengangguk, "Tapi hanya cara itu yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkannya."
Sehun menggigit bibir bawahnya, "Berapa persen kemungkinannya ia akan sembuh?"
"40% sampai 90% jika kankernya tidak menyebar ke organ yang lain."
"Menyebar?"
"Ya, untuk itu kita harus cepat melakukan tindakan tuan Oh."
"Ya lakukan operasinya. Lakukan apapun untuk kesembuhannya."
Akhirnya operasi dilakukan. Sesaat sebelum operasi berlangsung, Sehun duduk disebelah Luhan yang terbaring lemah. Luhan dengan mata yang berat menatap Sehun, tangannya yang kurus mengelus-elus tangan Sehun.
"Apakah aku harus dioperasi?" tanya Luhan lemah.
Sehun mengangguk dan tersenyum.
"Tapi Sehun, biayanya sangat mahal."
"Sayang," ucap Sehun sambil mengelus kepala Luhan lembut, "Jangan khawatirkan hal itu. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu ok?"
Sehun tersenyum miris. Luhan tidak perlu tahu kalau Sehun memakai tabungan pembangunan rumah untuk biaya operasi Luhan. Rumah impian mereka bisa dibangun kapan saja,tapi kondisi Luhan tidak bisa menunggu.
Saat operasi berlangsung, Sehun masih berada didalam ruang operasi. Dokter harus mengecek tingkat kesadaran Luhan dan memastikan tidak ada syaraf motorik Luhan yang terganggu akibat operasi yang berlangsung dengan cara mengajak Luhan berbicara. Maka dari itu Sehun meminta dokter untuk mengizinkannya tinggal dan mengajak Luhan berbicara.
"Luhan," panggil Sehun lembut.
Luhan yang matanya terus terbuka dan tertutup dengan berat dan jantungnya yang berdetak normal merespon dengan gumaman lemah.
"Suatu hari nanti, saat kita mempunyai rumah baru, kita akan mengadopsi anak. Bagaimana dengan ideku? Apa kau setuju dengan ideku?"
"Iya aku setuju," jawab Luhan. Luhan menutup matanya karena efek obat bius membuatnya mengantuk, tapi membuka matanya kembali dengan lemah dan meremas tangan Sehun.
"Berapa anak yang ingin kau adopsi?"
"Tiga."
"Tiga anak?"
"Ya," jawabnya, "Aku ingin anak perempuan Sehun."
"Perempuan? Kau ingin anak perempuan?"
Luhan menggumam, "Anak perempuan yang cantik. Yang mempunyai rambut panjang dan senyum yang manis."
Sehun meneteskan air matanya melihat Luhan berjuang keras untuk tetap tersadar, "Akan kau beri nama apa untuknya?"
"Jinhee," jawab Luhan, "Oh Jinhee."
.
.
Operasi untuk Luhan berhasil. Ia segera dipindahkan kekamar rawat dan Sehun menjaganya hingga Luhan sadarkan diri. Setelah sadarkan diri Luhan kembali normal dan periang. Kulitnya tidak lagi sepucat dulu, nafsu makannya kembali hingga pipinya yang tirus kembali berisi. Rambutnya yang sudah tumbuh terlihat bersinar saat diterpa matahari.
Sehun dan Luhan memutuskan untuk mengadopsi anak dari sebuah panti asuhan. Disana Luhan bertemu dengan anak perempuan cantik berumur 5 tahun. Rambutnya panjang dan senyumnya begitu manis. Anak itu terlihat malu-malu ketika Luhan dan Sehun melewati kamarnya. Dari pertama Luhan menghampiri anak itu, dan anak itu menatap Luhan dengan penuh harap Luhan sudah menetapkan keputusan untuk mengadopsinya dan anak itu ia beri nama Jinhee.
Jinhee sangat senang bisa hidup bersama keluarga barunya. Walaupun ia mempunyai orang tua yang berbeda dari teman-temannya disekolah, tapi Jinhee tetap senang karena ia mempunyai dua orang ayah yang sangat menyayanginya.
Setelah ada Jinhee, Kebahagiaan di Hidup Sehun dan Luhan bertambah.
"Aku pergi dulu ya," ucap Sehun sambil mengusap punggung Luhan.
"Kau tidak bisa libur?" tanya Luhan sambil mengerucutkan bibirnya, "Ini perayaan hari pernikahan kita yang kedua!"
"Andai aku bisa , aku akan tinggal dirumah seharian dan bercinta denganmu."
Luhan mendecih, "Dasar mesum!"
Sehun tertawa lalu mengecup bibir Luhan, "Aku akan pulang dengan cepat untuk merayakan hari jadi kita."
Luhan mengangguk lucu.
"Ah dan Jongin akan kesini untuk mengantarkan laporan katakan padanya untuk tinggal dan menungguku dirumah. Ok?"
"Ok!" seru Luhan.
"Aku senang kau tidak lagi takut kepada Jongin," ucap Sehun sambil mengacak rambut Luhan.
"Perbuatannya dulu hanya masa lalu!" gerutu Luhan sambil merapikan rambutnya, "Lagipula ia sudah meminta maaf dan ternyata ia tidak semenakutkan yang ku bayangkan. Sejujurnya ia begitu bodoh."
Sehun tertawa mendengarnya.
"Senang mendengarnya. Kalau begitu aku pergi dulu ya? Jangan rindukan aku." Goda Sehun sambil mencium bibir Luhan.
"Bukankah kau yang akan merindukanku tuan Oh?"
"Kau benar,Aku yang akan merindukanmu." Sehun mencium bibir Luhan lagi kali ini lebih panas dari sebelumnya. Ia mengulum bibir Luhan dan menghisap bibir bawah Luhan hingga Luhan melenguh.
"Simpan hal ini untuk nanti Sehun," ucap Luhan setelah terlepas dari ciuman Sehun, "Sekarang kau harus berangkat kerja sebelum Chanyeol memecatmu karena kau terlambat terus!"
Sehun menurut lalu mencium dahi Luhan, "Aku berangkat. Jangan lupa meminum Obat ok? Aku mencintaimu."
"Iya aku takkan Lupa. Aku juga mencintaimu."
Akhirnya Sehun pergi menuju kantor. Luhan dengan riang membereskan rumah mereka sambil bersenandung.
Setelah menjemput Jinhee disekolah, Ia berencana memasak makanan kesukaan Sehun untuk makan mala. Tapi tiba-tiba ia lupa apa makanan yang disukai Sehun. Luhan ingat ia sering memasakannya untuk Sehun tapi ia benar-benar Lupa makanan jenis apa yang Sehun sukai tersebut.
Luhan tenggelam dalam pemikirannya,masih berusaha menggali ingatannya ketika bel rumahnya berdering. Luhan berjalan untuk membukakan pintu dan ia terkejut saat melihat sosok yang berdiri didepannya.
"Sore Luhan!" Sapa Jongin antusias, "Ini laporan pembelian bahan-bahan pembangunan perusahaan ayahku. Sehun bilang ia membutuhkannya."
Luhan masih membeku ditempat, tangannya terasa dingin dan tubuhnya gemetar.
Jongin yang merasa aneh dengan tingkah Luhan, mencondongkan tubuhnya untuk memperhatikan wajah Luhan lebih dekat, "Luhan? Kau baik-baik saja?"
"Jangan mendekat!" teriak Luhan histeris. Ia langsung berlutut lemas didepan Jongin, "Ku-kumohon jangan sakiti aku lagi Jongin.."
Jongin kembali bingung dengan sikap Luhan, "Apa yang kau bicarakan Luhan? Aku tidak akan menyakitimu."
Luhan menepis tangan Jongin yang berusaha membantunya berdiri, "P-please Jongin jangan menindasku lagi."
Luhan menangis ketakutan.
"Aku tidak akan melakukan itu Luhan! Oh Astaga, ada apa dengan dirimu?"
"Sehun!" seru Luhan saat ia melihat Sehun menaikki tangga dan berjalan mendekati mereka. Ia berlari secepat mungkin dan bersembunyi dipunggung Sehun dengan takut.
"Apa yang terjadi?" tanya Sehun bingung.
"Aku tidak tahu ada apa dengan Luhan. Tiba-tiba ia ketakutan melihatku dan memohon agar aku tidak menindasnya."
Sehun mengernyit bingung, ia lalu menarik Luhan agar berdiri didepannya.
"Baby, ada apa denganmu hmm? Kenapa kau menangis?" tanya Sehun lembut sambil mengusap air mata Luhan.
"Se-sehun lindungi aku. Jo-jongin akan menindasku lagi, dia akan menghajarku lagi."
"Sssttt Baby, Jongin tidak akan menindasmu. Ia sudah meminta maaf, kau ingat?"
Sehun memeluk Luhan erat dan menenangkannya. Luhan masih menangis tersedu dengan tubuh yang gemetar.
Aneh melihat Luhan ketakutan seperti ini lagi saat melihat Jongin. Padahal beberapa waktu kebelakang Jongin memperlakukan Luhan dengan baik, bahkan mereka sudah menjadi teman dekat.
Akhirnya Sehun membawa Luhan menuju kamar. Luhan terlelap setelah menangis tersedu dipelukan Sehun. Saat Sehun keluar dari kamar, ia melihat Jongin menunggu didepan pintu dengan resah.
"Jongin, maaf. Luhan tidak bermaksud untuk membuatmu sedih. Ia mungkin kelelahan." Ucap Sehun merasa bersalah melihat Jongin yang kebingungan dan terlihat sedih.
Jongin tersenyum kecil, "Tidak apa-apa. Kalau begitu aku pulang dulu ya."
"Kalau ia sudah tenang, bisakah kau mengatakan padanya bahwa aku tidak akan pernah menyakitinya lagi? Ia temanku."
Sehun mengangguk lalu mengantarkan Jongin sampai balkon.
.
.
"Sehun?" panggil Luhan. Sehun masuk kekamar lalu duduk disebelah Luhan.
"Kau sudah merasa baikkan?"
Luhan mengangguk, "Uh Kenapa aku tidur dikamarmu?"
Sehun mengernyit, "Ini bukan kamarku lagi tapi Kamar ini sudah menjadi kamar kita sayang."
Sehun mengecup bibir Luhan hanya untuk mendapati tubuhnya didorong keras oleh Luhan.
"Apa yang kau lakukan Sehun?!" tanya Luhan sambil membelalakan matanya.
Sehun menganga tak percaya. Hatinya terasa sakit karena Luhan menolaknya.
"Luhan kau ini kenapa?!"
"Aku yang harusnya bertanya kau ini kenapa!" bentak Luhan tak mau kalah, "Kau menciumku! Kenapa kau menciumku?!"
Sehun semakin kesal dibuatnya. Apa yang merasuki otak Luhan sehingga ia bersikap seperti itu?
"Aku suamimu! Apa aku tidak boleh mencium pasanganku sendiri? Sebenarnya kau ini kenapa? Kenapa kau mempermasalahkan masalah sepele seperti ini?"
Luhan membelalak kaget, "Menikah?"
"Ya kita menikah. Apa kau lupa juga dengan pernikahan kita?" ucap Sehun, "Apa kau lupa walaupun cincin pernikahan kita terlingkar dijarimu?"
Luhan mengangkat jarinya dan melihat cincin emas putih terlingkar dijari manisnya.
"Tidak mungkin," lirihnya lalu berlari keluar kamar. Di luar kamar ia melihat seorang anak perempuan berdiri sambil memeluk boneka rusa kesayangan Luhan.
"Kau siapa?"
Anak perempuan itu mengernyitkan alisnya, "I-ini Jinhee, appa."
"A-appa? Siapa appamu?" tanya Luhan bingung.
Bibir Jinhee bergetar dan air mata mengalir dipipinya, "Bukankah Luhan appa adalah ayahku?"
Luhan melangkah mundur dengan kakinya yang gemetar. Seingatnya ia tidak punya anak. Hal itu membuat kepala Luhan bertambah pusing dan tanpa ia sadari ia sudah pingsan dan terjatuh ke lantai.
"Luhan!" suara itu suara terakhir yang ia dengar sebelum akhirnya ia pingsan.
Sehun duduk dengan muram dilorong kamar rawat Luhan. Jinhee sudah dibawa pulang oleh Kyungsoo yang tadi sempat menjenguk.
Rasanya hampa,ia seperti tercekik hingga dadanya sesak.
"Sel kanker yang Luhan punya adalah Sel kanker jenis malignant dimana sel kanker itu bisa tumbuh lagi walaupun sudah dioperasi. Dan Sel kanker itu kembali menyerang cerebellum otak Luhan. Dimana pengontrol memori dan pikirannya berada."
Penjelasan sang dokter terus terngiang diotak Sehun. Ia ingin menangis, tapi rasa sakit yang ia rasakan didadanya tidak akan bisa menguap hanya dengan sebuah tangisan.
"Sehun."
Sehun mendengar namanya samar-samar dipanggil dari kamar Luhan dan langsung masuk kedalam kamar.
"Apa kata dokter?" pertanyaan itu langsung keluar saat Luhan meyadari keberadaan Sehun.
Sehun tersenyum lemah dan duduk disamping Luhan. Ia mengambil tangan Luhan dan menciumi tangan yang berada didalam genggamannya tersebut.
"Ada kanker di otakmu Luhan. Kanker itu menyerang sistem kontrol memorimu," jawab Sehun dengan jujur. Matanya masih terpejam menikmati tangan Luhan yang mengusap pipinya.
"Begitukah?"
Sehun mengangguk lemah, "Kau harus melakukan terapi dan operasi lagi."
"Sehun-ah," panggil Luhan. Sehun membuka matanya perlahan dan mendapati Luhan tersenyum lembut kearahnya.
"Aku tidak mau lagi melakukan itu semua. Aku sudah lelah melawan kanker ini."
"Tapi Lu-"
"Menurut sekali ini saja kepadaku please?" mohon Luhan sambil membelai pipi Sehun, "Aku lebih baik menunggu ajalku daripada aku harus melakukan terapi menyakitkan itu lagi. Terapi itu membunuhku dengan lebih menyakitkan dibanding penyakit yang kuderita."
Sehun menggigit bibir bawahnya. Dan saat ia merasa ia tidak lagi bisa membendung tangisannya, ia menenggelamkan wajahnya diranjang Luhan.
"Kenapa kau menyerah?!" tanya Sehun sambil terisak, "A-aku tidak mau kau menyerah Luhan!Aku tidak mau kehilanganmu."
Malam itu Luhan tidak lagi berkata apa-apa. Hanya mengusap kepala Sehun yang terus menangis.
.
.
Luhan meminta untuk dibawa pulang ke rumah dan Sehun menurutinya. Tidak seperti dulu,walaupun kanker menggerogotinya Luhan masih terlihat riang. Walaupun ia pucat, ia tidak sekurus dulu.
Luhan masih mengalami gejala lupa ingatan. Ia lupa apa lagu favoritnya, Ia lupa hari ulang tahunnya dan ulang tahun Sehun, Ia Lupa hari pernikahan mereka. Tapi pada akhirnya ia masih mengingat seberapa besar cintanya untuk Sehun.
Sehun sedang memeluk Luhan disofa ruang tengah mereka, sambil menghirup aroma rambut Luhan. Luhan sedang memainkan rubik ditangannya. Ia lupa bagaimana cara mengatur rubik itu agar warnanya sama. Padahal dulu ia bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 3 menit.
"Aku menyerah," ucap Luhan sambil menaruh rubik dan menyenderkan kepalanya didada Sehun.
Sehun tertawa sambil mengelus kepala Luhan lembut.
"Sehun-ah."
"Hmm?"
"Kita belum merayakan 2 tahun pernikahan kita."
"Kau mau merayakannya?"
Luhan mengangguk, "Aku ingin mengundang baba,mama,Kyungsoo,Jongin,Chanyeol.."
Luhan diam sebentar sebelum meneruskan perkataannya dengan ragu, "Dan ayahmu."
Tubuh Sehun menegang mendengar nama itu.
"Kita tidak perlu mengundangnya," ucap Sehun sambil menenggelamkan wajahnya diceruk leher Luhan.
Luhan mendesah pelan, "Sehun-ah, ini saatnya kalian memperbaiki hubungan kalian. Menyelesaikan masalah-masalah kalian dimasa lalu."
"Tidak ada masalah diantara kami. Ia meninggalkanku dan itu bukan masalah untukku."
"Tentu itu jadi masalah untukmu," protes Luhan, "Apa kau kira aku tidak tahu kau membuat pesan untuknya agar datang ke pernikahan kita?"
Sehun terkejut. Ia ingat betul ia mengundang ayahnya untuk datang ke pesta pernikahannya dan tidak jadi mengirimnya karena ia tahu ayahnya tidak akan datang.
Seperti membaca apa yang dipikirkan Sehun, Luhan membalikkan badannya dan menangkup pipi Sehun.
"Kau tidak akan pernah tahu jika kau tidak mencoba," ucapnya sambil mencium dahi Sehun.
Sehun akhirnya mengirim pesan pada ayahnya, mengundangnya ke rumah dan dibalas setelah beberapa saat dengan ayahnya meminta alamat rumah Sehun.
.
.
Dimalam dimana ia merayakan ulang tahun pernikahannya dan Luhan, Sehun berdiri terpaku didepan pintu melihat ayahnya berdiri dengan tegap dihadapannya.
Sehun melihat kerutan yang ada diwajah ayahnya namun wajah ayahnya itu tetap terlihat tegas dan tubuhnya tetap tegap sempurna, walaupun rambutnya yang tebal sudah memutih.
"Masuk," ucap Sehun akhirnya. Tanpa berkata apapun ayahnya masuk ke rumah Sehun.
Luhan yang sedang menyuguhkan makanan ringan untuk Chanyeol menyadari keberadaan pria yang pernah ia lihat di foto yang Sehun sembunyikan dibalik bantalnya. Dengan cepat ia menghampiri pria itu dan menyapanya.
"Selamat datang tuan Oh, Aku Luhan," sapa Luhan dengan ramah. Tuan Oh menatap Luhan dengan tatapan tajam. Matanya menulusuri sosok Luhan dari atas hingga bawah.
"Ia Luhan, suamiku," tambah Sehun yang langsung berdiri dsamping Luhan dan memeluk pinggang Luhan, "Terima kasih kau sudah mau datang."
"Bisakah kita berbicara sebentar?" tanya tuan Oh pada Sehun dengan suara yang datar dan tegas.
Sehun akhirnya mengajak ayahnya menuju taman belakang rumahnya yang sepi.
"Apa yang kau ingin bicarakan?" tanya Sehun ketus.
"Tinggalkan pria itu."
Sehun tertawa mengolok-olok, "Siapa kau memerintahku dengan seenaknya?"
"Kau tahu pernikahan ini tidak benar. Apa yang orang-orang katakan jika melihatmu bersamanya?"
"Apa karena itu kau meninggalkanku?" tanya Sehun, "Apa karena kau malu anakmu seorang gay?"
"Oh Sehun aku tahu kau marah kepadaku karena aku meninggalkanmu. Aku tahu aku bodoh, tapi sekarang aku sudah menyadari kesalahanku. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu, harusnya aku berada disisimu untuk membimbingmu ketika kau beranjak dewasa. Maka dari itu sekarang, aku akan membayarnya. Tinggalah bersamaku. Aku akan mewariskan perusahaanku untukmu."
Sehun mendengus, "Kau pikir hartamu bisa memperbaiki semua yang telah kau lakukan dulu?Kau adalah seorang ayah yang jahat. Harta dan waktu tidak akan pernah merubah itu."
"Kau berani-beraninya mengatakan itu kepada ayahmu Oh Sehun?!"
Sehun tersenyum meremehkan, "Kalau kau tidak jahat, katakan padaku apa kau bahkan menyayangi aku dan ibu?Bahkan saat ibu meninggal dan dimakamkan kau tidak datang!"
Ayah Sehun tidak berkata apa-apa. Tangannya terkepal erat.
"Oh Sehun, kuperingatkan sekali lagi. Tinggalkan pria itu. Ia sakit keras dan kau tidak tahu kapan ia akan meninggalkanmu. Lebih baik kau tinggalkan dia sekarang sebelum kau terluka. Aku akan membiayai pengobatan dan biaya hidupnya jika kau ikut denganku."
"Cukup!" Sehun dengan kasar menghapus air matanya, "Kau boleh merasa malu terhadapku. Tapi jangan pernah membicarakan Luhan seperti itu! Ia manusia, hell, ia manusia terindah yang pernah kutemui. Ia seseorang yang berharga untukku jadi jangan pernah merendahkan Luhan seperti itu!"
"Dan kau tahu ayah? Luhan adalah orang yang menyuruhku untuk menghubungimu."
Sehun masuk kerumah meninggalkan ayahnya. Ia melangkah pelan menuju ruang tamu yang bising.
Meninggalkan Luhan katanya?
Apakah itu sebuah lelucon?
Sesakit apapun Sehun saat melihat Luhan melupakan hal-hal yang penting dalam hubungan mereka, bahkan melupakan dirinya ataupun Jinhee, tidak terlintas sedikitpun dalam otaknya untuk meninggalkan Luhan.
Ia akan terus menjadi knight in a shining armor untuk Luhan.
"Sehun," panggil Luhan lembut.
Sehun mendongak dan melihat Luhan berdiri tidak jauh dari tempatnya sambil tersenyum dengan sangat manis. Ia memakai sweater putih, dan celana pendek selutut berwarna putih.
Luhan begitu indah, bagaimana bisa Sehun meninggalkannya?
Sehun membalas senyumannya, namun senyum itu meredup saat melihat air mengalir dari dalam celana Luhan kekakinya hingga menggenang dilantai.
"Astaga," ucap Kyungsoo yang melihatnya juga. Dengan cepat Sehun berlari menuju Luhan dan mendorongnya menuju kamar. Ia menutup kamar dan menguncinya.
"Sehun-ah," panggil Luhan lembut saat Sehun dengan panik mencari handuk. Setelah ia mengambil handuknya dilemari, Sehun langsung melap kaki Luhan. Ia membuka celana Luhan beserta dalaman Luhan yang basah. Ia lalu melilitkan handuk itu dipinggang Luhan.
"Sehun-ah." Luhan masih memperhatikan Sehun dengan polos, tidak sadar dengan apa yang terjadi.
"Oh Luhan," tangan gemetar Sehun menangkup pipi Luhan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan pernah."
Sehun memeluk Luhan erat sambil menangis keras. Punggungnya gemetar,suara yang keluar dari bibirnya saat ia mengatakan 'Aku akan terus melindungimu Luhan' Berkali-kali, terputus karena tangisannya tidak mau berhenti.
Luhan tersenyum sambil mengusap punggung Sehun. Menyenandungkan lagu mandarin favoritnya.
' Aku Lihat, tidak ada waktu yang tersisa
Untuk membuat harapan, aku berharap akan ada satu hari lagi
Hari esok milik kita.
Aku bertanya, berapa waktu yang tersisa
Tepat dimataku, aku mengira akan ada satu hari lagi
Untuk memenuhi janji kita
Kenangan
Yang akan menjadi abadi.' ( -Our tomorrow)
Penyakit Luhan bertambah parah. Ia lupa ingatan, dan kehilangan kontrol akan tubuhnya. Ia tidak bisa mengontrol air urin yang keluar,seperti saat di perayaan ulang tahun pernikahannya dan Sehun. Kakinya lumpuh hingga ia tidak bisa berjalan. Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa Luhan harus dirawat di rumah sakit.
.
.
Suatu hari Luhan terbangun dan mengingat semuanya. Sehun,Jinhee bahkan lagu favoritnya.
Sehun berbaring disebelahnya, memeluk Luhan erat dan Luhan mengistirahatkan kepalanya didada Sehun.
"Sehun-ah, apa kau bahagia bersama denganku?" tanyanya.
"Tentu aku bahagia Luhan. Tidak ada yang bisa membuatku bahagia selain dirimu."
Luhan tersenyum lalu memeluk Sehun lebih erat, "Bagus kalau begitu."
Luhan mendongak matanya yang indah menatap Sehun, "Jadi bolehkah aku beristirahat sekarang? Aku lelah."
Rasa sakit tiba-tiba saja terasa dihati Sehun saat ia menatap Luhan sambil mengelus pipinya lembut.
"Ya,Kau boleh beristirahat sekarang," Ucap Sehun "Kau telah banyak menderita. Kau menanggungnya dengan baik."
Sehun memeluk Luhan dengan senyum pahit dan air mata jatuh ke pipinya.
"Terima kasih Sehun-ah," ucap Luhan sambil menyamankan kepalanya didada Sehun, "Bisakah kau menyanyikan lagu favoritku?"
Sehun mengangguk dan memeluk Luhan erat.
Ia mulai bernyanyi sambil mengusap punggung Luhan lembut.
"Aku mencintaimu Sehun."
Sehun menahan tangisnya dan menghela nafas, "Aku juga mencintaimu Luhan."
Luhan tersenyum mendengarnya lalu menutup mata, tertidur berkat lagu favoritnya yang Sehun nyanyikan untuknya.
.
Tuan Lu berjalan dengan cepat, dengan istrinya yang terlihat panik dan Jinhee digenggamannya. Pagi itu dokter menelepon, menyuruhnya untuk datang secepat mungkin.
Seorang suster mengantarkan mereka kekamar Luhan. Sayangnya Jinhee tidak diizinkan masuk sehingga dengan terpaksa Tuan Lu meninggalkan Jinhee yang merengek bersama sang suster.
Saat ia masuk ke kamar, hatinya langsung terenyuh melihat pemandangan didepan matanya.
Istrinya terkesiap dan dengan gemetar memeluknya dan menangis didadanya.
"Kumohon,jangan ambil dia," Sehun memohon sambil mendekap erat Luhan, "Ia baik-baik saja. Jangan pisahkan aku dengannya."
Dokter melihat Sehun dengan iba, "Tapi kami harus memeriksa waktu kematian tuan Lu-"
"Tidak!" teriak Sehun, "Ia belum meninggal. I-ia hanya tertidur. Ia kelelahan."
Ayah Luhan menggigit bibir bawahnya menahan tangis karena melihat menantunya masih mendekap anaknya dengan erat.
"Sehun-"
"Tidak! Aku tidak akan melepaskannya!" teriak Sehun sambil terisak, "Aku harus melindungi Luhan. Aku harus."
"Luhan.." lirihnya, "Luhan."
Semakin lama Luhan tidak menjawab juga,semakin keras tangis yang keluar dari Sehun.
Ibu Luhan menangis didekapan suaminya yang melihat Sehun dengan iba.
Tidak tega untuk mengatakan hal itu kepada Sehun.
Sehun terlihat rapuh.
Ia tidak tega memisahkan Sehun dari Luhan.
Ia tidak tega untuk berkata kepada Sehun bahwa Luhan sudah tiada.
Sehun berdiri seperti tidak bernyawa didepan makam Luhan. Melihat orang yang ia cinta pergi, lalu terkubur disana membuat Sehun berharap tanah yang ia pijak terbuka hingga ia terjatuh kedalam jurang gelap yang tak berujung. Setidaknya itu lebih baik daripada harus kehilangan seseorang yang ia cintai.
Ia berbalik untuk meninggalkan makam Luhan saat ia melihat sang ayah berdiri didepannya.
Tiba-tiba amarah Sehun bergejolak melihat sosok sang ayah. Ia mengabaikan ayahnya itu dan hendak pergi meninggalkan ayahnya.
"Setiap waktu," ucap ayahnya membuat langkah Sehun terhenti, "Aku menyayangimu dan ibumu setiap waktu."
"Maaf karena aku pernah menyuruhmu meninggalkan Luhan. Karena aku tidak mau kau tersakiti sepertiku. Aku tidak mau kau merasakan pahitnya kehilangan sama seperti aku kehilangan ibumu." Ucap ayah Sehun dengan sangat menyesal.
"Kehilangan ibumu adalah hal yang paling membuatku tersiksa. Aku menghadiri pemakamannya,tapi aku tidak mempunyai nyali untuk menampakan wajahku dihadapanmu. Tapi melihat cintamu untuk Luhan. Aku mengerti, uang tidak lebih berharga dari waktu yang kita habiskan bersama orang-orang yang kita cintai. Harusnya aku menghabiskan waktuku bersama kalian. Aku benar-benar menyesal."
Sehun tidak mengatakan apa-apa, ia kembali berjalan meninggalkan ayahnya.
.
.
Sehun terduduk dilantai kamarnya bersama Luhan. Menatap tempat tidurnya dan Luhan yang kosong. Tanpa Luhan disana ia seolah sedang berada didasar jurang yang gelap. Tidak ada yang menyelamatkannya, karena ia tidak ingin diselamatkan.
Surat Luhan yang terlipat rapi masih ia genggam dengan tangannya.
Setelah menghela nafas, ia membuka surat itu dan membacanya.
Sehun-ah,
"Sehun-ah." suara Luhan terngiang membuat Sehun tersenyum. Bahkan belum beberapa hari berpisah, ia sudah merindukan sosok suaminya itu.
Aku membiarkanmu masuk kehidupanku. Ketika tidak ada seorangpun melakukannya bahkan mencobanya.
Aku berterima kasih untuk waktu yang kita habiskan bersama.
Kau membuatku merasa spesial.
Kau membuatku merasa berharga.
Dan kau membuatku merasa hidup.
Kau menggenggam tanganku,bermain dengan rambutku, mencium bibirku, dan berbisik 'Aku mencintaimu' ditelingaku.
Untuk sekali dalam hidupku aku benar-benar bahagia.
Karena kau membuatku merasakan aku lebih berharga.
"Aku ingin berada disampingmu selamanya," aku berbisik, "Karena aku juga mencintaimu."
Sekarang, aku sudah berada di akhir hayatku.
Dan kau masih berada disisiku.
Untuk itu aku sangat berterima kasih.
Sehun-ah,
Terima kasih telah menjadi selamanya untukku.
Terima kasih telah menjadi knight in shining armor untukku.
Sekarang saatnya kau menjadi knight in shining armor untuk Jinhee.
Aku mencintaimu.
.
.
"Appa!"
Sehun terkesiap. Suara Jinhee yang memanggilnya seakan menariknya lagi dari dasar jurang menuju dataran yang diterangi sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya.
Sehun beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamarnya.
Jinhee berdiri dengan hidungnya yang memerah dan mata yang sembab.
"Appa," isak Jinhee, "Jinhee merindukan Luhan appa. Jinhee ingin melihat Luhan Appa! Kenapa tuhan mengambil Luhan Appa dari Jinhee?!"
Sehun berlutut didepan anaknya dan tersenyum tipis, "Jinhee sayang, Appa juga merindukan Luhan Appa. Bagaimana kalau kita berdoa kepada tuhan agar tuhan menyampaikan doa kita kepada Luhan Appa? Luhan appa pasti senang mendengar Doa Jinhee."
"Tuhan mengambil Luhan Appa, untuk menyelamatkan Luhan Appa dari penyakitnya," ucap Sehun sambil memeluk Jinhee.
"Appa menyayangi Jinhee. Appa akan melindungi Jinhee sampai kapanpun."
EPILOG (Sehun's POV)
Luhan,
Hidup tanpa dirimu Seperti ada yang hilang dari diriku, dari hari-hariku. Rasanya aneh melewatkan hari-hari tanpa memeluk tubuhmu yang rapuh,yang sangat pas didekapanku. Rasanya aneh bibir ini tidak mengucap cinta dan mengecup bibirmu Luhan.
Kau kemana?
Aku merindukanmu.
Luhan, apakah kau tahu rasanya kehilangan seseorang yang kau sayangi?
Apakah kau pernah merasakannya?
Aku pernah merasakannya.
Ketika kehilangan dirimu.
Rasanya hatiku hancur.
Aku ingin melompat kejurang,mengakhiri hidupku yang tidak berarti apa-apa lagi.
Tapi suara Jinhee yang memanggilku seperti menarikku dari jurang itu, menuju dataran yang terang dengan langit biru.
Aku sadar, aku harus bertahan hidup untuk Jinhee.
Aku harus menggenggam tangan Jinhee dengan kuat, agar ia tidak terjatuh dan terluka.
Jinhee tumbuh dengan baik. Ia sedikit demi sedikit mengisi kekosonganku tanpa dirimu. Senyumnya meningatkanku tentang dirimu, nyanyiannya, suara riangnya saat memanggilku 'Knight in shining armor!' Mengingatkanku akan dirimu. Seakan ada bagian dirimu didalam dirinya.
Aku memutuskan untuk menemui ayahku di rumahnya. Aku membawa Jinhee kesana.
Kau ingin aku memperbaiki hubunganku dengannya, menyelesaikan masalah yang terjadi diantara kami.
Akhirnya aku mengetuk pintu rumah ayahku. Dan tidak beberapa lama ayah membukanya.
Ia terkejut melihatku berkunjung bersama Jinhee.
"Aku memaafkanmu," Kubilang. Aku juga mengatakan padanya bahwa ia tidak perlu menyesal terhadap apa yang terjadi di masa lalu.
Aku tidak membenci ayah. Karena aku sadar, Jika ayah tidak meninggalkanku, aku tidak akan bisa bertemu denganmu, Bukankah begitu?
Jika ibu dan aku tidak pindah ke Seoul,aku tidak akan bisa melindungimu dari penindas disekolah.
Jadi, bagaimana bisa aku menyalahkan ayah untuk takdir yang terjadi padaku seperti ini?
Kalau bukan karena ayah, Aku tidak akan mencintaimu Seperti ini.
Ayah memelukku dengan erat,dan aku membalas pelukannya.
Aku sedikit bersyukur karena ayah tidak sempat melihat air mata yang menggenang dipelupuk mataku.
Dan kau tahu? Ia sangat senang bermain bersama Jinhee dan meminta Jinhee untuk mengunjunginya setiap minggu.
.
.
Luhan,
Kau membuatku menyadari betapa spesialnya dirimu,
Betapa indahnya dirimu,
Dan betapa berharganya dirimu untukku.
Kau yang membuatku memberanikan diri untuk menggenggam tanganmu,
Mencium bibirmu dan mengatakan bahwa aku mencintaimu.
Kau menyadarkanku bahwa aku bisa bahagia hanya dengan keberadaanmu.
"Aku ingin berada disisimu selamanya," kau bilang.
Tentu saja, karena tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisimu disisiku.
Karena kau telah menjadi bagian dari hidupku.
Luhan terima kasih karena sudah datang kedalam hidupku dan telah membagi waktumu yang tersisa denganku.
Walaupun kau telah pergi,
Untuk semua pertanyaan dalam hidupku,
Jawabannya akan selalu sama.
Selalu dirimu,Luhan.
.
.
Knight in shining armormu,
Oh Sehun.
END
Ending yang sudah ketebak bukan?
Maaf kalau kurang puas.
Silahkan marah-marah di page FB aku: SeLuminati
Hehehe.
Makasih buat readers yang udah Komentar (Yang engga komentar juga terima kasih Kok)
Yang udah setia nunggu FF ini.
Terima kasih untuk temen seperjuangan, Author Park Haneul.
Yang terus nagih FF ini HAHAHAHAHA
I Love you guys
And lastly,
For my beautiful Ship Sehun and Luhan.
You guys, separated for now.
But i will always treasure the memories you made.
And i will never regret my decision to ever Love you. #Selu4ever
