My high school life
Summary: Hanya sebuah kisah masa SMA seorang gadis bernama Naruto Uzumaki. Bagaimanakah masa SMA gadis ini? Apakah menyenangkan ataukah... menggila(?).
Rete: M - T (untuk bulan puasa rate diturunkan)
Warning: SasufemNaru, Author gaje, bahasa abal-abal, alur kecepatan.
Chapter 3
"Apa-apaan mereka?! Seenaknya saja mereka memutuskan hal tersebut!" Gerutu seorang gadis sambil menghentak-hentakkan kakinya setiap kali ia berjalan.
Gadis dengan surai pirang tersebut sama sekali tidak tahu, mengapa hari ini dewi keberuntungan sama sekali tidak memihaknya, bahkan sepertinya ia telah ditinggalkan oleh sang keberuntungan.
Naruto melihat keluar jendela. Langit telah berubah warna menjadi warna jingga yang indah. Suasana sepi, cukup menenangkan sang gadis. Naruto menatap keluar jendela lalu menumpukan sikunya di bingkai jendela. Gadis itu menutup matanya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.
Tiba-tiba sebuah keinginan muncul di pikirannya. Ia ingin berenang saat ini. Renang adalah salah satu kegiatan yang paling ia sukai jika memiliki masalah. Benar. Gadis itu segera berlari menuju ke kolam berenang.
Tak perlu waktu lama, Naruto telah sampai di sebuah ruangan yang sangat luas. Sebuah kolam renang besar yang bersih dan indah ada di depannya saat ini. Naruto berlari dengan tak sabar ke ruang ganti untuk mengganti seragamnya dengan baju renang. Meski akan melanggar aturan sekolah dan mendapat hukuman jika ketahuan, gadis itu tidak perduli. Saat ini, ia sangat ingin berenang.
Setelah siap, sang gadis segera melompat dengan indahnya ke dalam kolam. Suara air langsung menyapa pendengarannya. Tangan dan kakinya ia gerakkan bagaikan seorang profesional. Dengan cepat ia berenang dari ujung satu ke ujung yang lainnya.
"Naruto... sedang apa kau disini?" Suara itu langsung mengambil perharian gadis itu.
Naruto menghentikan kegaiatannya tepat saat ia telah sampai di ujung dimana terdapat pintu masuk. Dan saat gadis itu mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang telah memanggilnya, sepasang mata onix langsung bertemu tatap dengan saphirenya.
"T-teme... sedang apa kau di sini?" Tanya Naruto tak menyangka bahwa Sasuke masih ada di sekolah pada jam seperti saat ini.
"Aku mencarimu... Sedang apa kau? Bagaimana jika pengawas melihatmu. Harusnya kau tahu bahwa ini sudah melewati jam penggunaan fasilitas sekolah. Kau akan di hukum, Dobe." Kata Sasuke lalu menunduk.
"Diamlah, Teme... Aku hanya sedang ingin berenang." Kata Naruto lalu membuang muka.
Sasuke menatap sekilas ke arah pintu masuk lalu kembali menatap Naruto.
"Menyelam..." Kata Sasuke sambil berbisik.
"Apa?" Tanya Naruto.
"Menyelam Dobe..." Kata Sasuke yang langsung ikut masuk ke dalam kolam berenang dan menarik Naruto untuk menyelam.
Beberapa saat kemudian, pintu masuk terbuka. Nampak salah satu guru yang paling ditakuti muncul. Yah, Orochimaru, seorang guru dengan riasan wajah yang cukup menakutkan masuk melalui pintu dan memeriksa ruangan tersebut.
Tentu saja, sudah waktunya sekolah dikosongkan dan tidak boleh ada seorang siswapun yang ada di wilayah sekolah.
Dari balik air, Sasuke melihat Orochimaru yang sedang berjalan untuk memeriksa ruangan tersebut.
Pluk pluk pluk (suara gelembung)
Sasuke langsung berbalik dan menutup mulut Naruto yang sepertinya sudah tidak dapat menahan nafas. Nampaknya, suara tersebut sepertinya telah menarik perhatian Orochimaru sebab sang guru kembali berbalik dan melangkah untuk memeriksa ruangan sekali lagi.
Sasuke meliha kembali ke arah Naruto. Ia merasa kasihan Karena gadis tersebut terlihat sangat tersiksa saat ini. Akhirnya pemuda itu langsung mencium Naruto dan menyalurkan nafasnya ke gadis tersebut. Naruto terbelalak dengan tindakan Sasuke. Matanya langsung membola.
Tangan gadis itu berusaha mendorong tubuh pemuda itu, namun Sasuke lebih kuat. Pemuda itu memeluk tubuh Naruto untuk menahannya. Ia sama sekali tidak memutuskan ciumannya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu tertutup, menandakan Orochimaru telah meninggalkan ruangan tersebut. Akhirnya, Sasuke melepaskan ciumannya. Mereka berdua langsung muncul ke permukaan dan sebanyak mungkin menghirup udara untuk paru-parunya yang seakan telah berkerut. Meski begitu, Sasuke sama sekali tidak melepaskan pelukannya.
Setelah beberapa saat, kesadaran Naruto mulai pulih dan ia langsung mendorong Sasuke dengan sekuat tenaga.
"Apa-apaan kau, Teme?!" Marah Naruto.
"Seharusnya kau berterima kasih padaku, Dobe! Kalau aku tidak menolongmu, kau pasti sudah mendapat hukuman." Kata Sasuke.
"itu... Tapi apa harus kau... kau..."
"Menciummu?" kata Sasuke datar.
Seketika wajah Naruto memerak bak kepiting.
"Ayolah, Dobe... Tadi kau hampir kehabisan nafas. Seandainya aku tidak melakukan itu, apa kau dapat bertahan?"
"Tapi kan"
"Sudahlah, ayo naik..." Kata Sasuke lalu keluar dari kolam.
Dengan seragam basahnya, pemuda itu berjalan menuju ke arah pintu keluar. Namun...
"Ada apa, Teme?" Tanya Naruto yang sekarang telah berdiri di belakang Sasuke.
"Pintunya terkunci, Dobe..." Kata Sasuke yang tetap bertahan dengan sikap tenangnya.
"Apa?!" Pekiki gadis itu yang langsung mendorong pemuda itu menyingkir lalu berusaha membuka pintu.
Namun tetap saja hasilnya sama. Pintu tersebut tetap terkunci. Tugas dari guru piket adalah memastikan tidak ada lagi siswa yang berkeliaran di wilayah sekolah dibawah jam 7 malam dan mengunci setiap ruangan. Tentu saja, Orochimaru telah melaksanakan tugasnya.
Naruto mulai panik, ia dengan cepat berlari ke ruang ganti dan mengobrak-abrik isi tasnya untuk mencari ponsel pintarnya. Namun sepertinya sang ponsel tidak memiliki sumber daya saat ini sehingga tidak dapat dinyalakan.
"Ada apa, Dobe? Kenapa kau lari seperti orang kesurupan?" Tanya Sasuke yang entah sejak kapan sudah bersandar di pintu ruang ganti.
"Teme! Ngapain kau ikut kesini. Kau tidak dapat baca ya kalau ini ruang ganti putri?" Marah Naruto.
"Memangnya apa yang dapat aku lakukan? Aku sama sekali tidak tertarik dengan dada ratamu, Dobe..." Kata Sasuke santai sambil melipat tangan.
Wajah Naruto langsung memerah dan dengan kekuatan penuh ia melemparkan ponsel di tangannya tepat di wajah tampan Sasuke.
"Dobe, Apa-apan kau!"
"Diam saja Teme..."
Naruto langsung mendorong Sasuke kelar dari pintu dan menutup rapat pintu tersebut. Suasana langsung berubah menjadi hening. Sasuke mencoba berpikir, apakah ia mengatakan hal yang salah? Sedangkan Naruto terus merutuki Sasuke dalam hati.
Setelah mengganti pakaiannya kembali ke seragam sekolahnya, Naruto keluar dari ruang ganti sambil membawa tasnya. Ia mendapati Sasuke terduduk di pinggir kolam. Lutut kanan menjadi tumpuan tangan kanan. Baju basah yang memperlihatkan postur rubuh atletis Sasuke. Rambut emo yang masih meneteskan tetesan-tetesan air, bagai seorang model yang sedang mengambil photo untuk majalah.
"Sedang memperhatikanku, Dobe?" Suara berat itu seketika membuat jantung Naruto berdetak lebih cepat.
Sasuke sedang menatap gadis itu. Onix-nya menatap lurus ke sapphire Naruto. Lengan kanannya yang bertumpu di kaki kanannya kini telah menjadi bantalan untuk kepalanya.
"Siapa juga yang memperhatikan ayam nggak tau diri sepertimu, Teme!" Sangkal Naruto.
"Sudah ketahuan tapi tetap tidak mau mengaku rupanya..." Kata Sasuke sambil tersenyum kecil.
"Diam! Lebih baik keluarkan ponselmu dan minta bantuan!" Perintah Naruto.
Langsung saja Sasuke mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan melemparkannya ke arah Naruto.
"Ponselku basah saat masuk ke kolam tadi..." Kata Sasuke santai.
Naruto terdiam, masih berdiri di tempatnya.
"Kau tidak mengganti pakaianmu?" Tanya Naruto setelah beberapa saat hening.
"Aku baru pindah, jadi belum sempat menyiapkan seragam cadangan di loker, apalagi loker kolam..." Kata Sasuke.
Sekali lagi hening. Suasana nampak canggung saat ini dan Naruto tidak suka akan hal itu.
"Pakailah, sebelum kau masuk angin..." Kata Naruto sambil melemparkan sebuah handuk pada Sasuke.
Aroma jeruk langsung menyapa indra penciuman Sasuke, mengingatkannya akan saat-saat Naruto dekat dengannya.
"Kenapa kau pindah tanpa memberi tahuku?" Tanya Sasuke sambil menunduk.
"Untuk apa aku memberi tahumu?" Tantang Naruto.
"Karena kita sahabat..." Jawaban Sasuke membuat Naruto diam beberapa saat.
"Kau masih berpikir kita sahabat saat kau membuatku malu dulu?" Kata Naruto saat suaranya sudah kembali. Nadanya terdengar dingin dan menyayat hati.
"Itu bukan salahku, Dobe..."
"Kau masih berpikir kita sahabat setelah kau membiarkanku di bully dan kau hanya melihat dari jauh?" Kata Naruo sekali lagi saat mengingat Sasuke hanya menatapnya dari jauh saat siswi di sekolahnya menyiramnya dengan air bekas pel dan daun-daun kering.
"Itu..."
"Kau masih berani mengatakan kita sahabat setelah kau berpacaran denga perempuan yang sudah membullyku?!"
"Aku..."
"Lupakan Sasuke..." Kata Naruto akhirnya.
Tiba-tiba terdengar suara pinta terbuka dan menampakkan sesosok pemuda bersurai merah.
"Ternyata kalian ada disini. Aku..."
"Terima kasih, Kyuu-nii... Aku ingin pulang sekarang, bisa kyuu-nii mengantarku?" Tanya Naruto.
Kyuubi mengernyitkan dahi saat mendengar nada kesedihan dalam cara bicara Naruto. Kyuubi menatap Sasuke yang masih terduduk sambil menunduk lalu menatap Naruto yang telah berjalan mendahuluinya.
"Kita harus bicara, Uchiha..." Kata Kyuubi lalu berbalik dan mengejar sepupunya itu.
"Maaf..." Kata Sasuke lirih sambil memegangi kepalanya.
"Maaf Naru..."
#MHSL#
"Naru, kau kenapa?" Tanya Kyuubi sambil tetap menatap lurus jalanan di depannya.
Kyuubi merasa sedikit khawatir dengan adik sepupunya. Tidak biasanya Naruto duduk diam seperti saat ini. Dan sungguh Kyuubi tidak menyukai hal tersebut.
"Ayolah Naru, jawab jika aku bertanya. Kau tahu bukan bahwa kesabaranku sangat tipis?!" Kesal Kyuubi karena banyak pertanyaan yang telah ia lontarkan, tapi semua dihiraukan oleh si pirang Uzumaki yang sedang duduk diam di sampingnya.
"Kyuu-nii, kenapa dia harus datang?" Tanya Naruto lirih.
"Apa?"
"Kenapa walau hatiku sudah sangat sakit, jantungku tetap berdetak cepat setiap bersamanya?" Tanya Naruto sekali lagi, seakan hanya berkata untuk dirinya sendiri.
"Oh, si Uchiha..."
"Seandainya dia tidak datang, mungkin hidupku akan tenang." Kata Naruto lagi yang semakin lirih.
Kyuubi menghentikan mobilnya di sebuah rumah besar.
"Naru, betapa besar benci di hatimu, cintamu padanya jauh lebih besar. Hatimu sangat lembut, karena terlalu lembutnyalah sehingga mudah merasa tersakiti. Masuklah dan istirahat. Karin sudah menunggumu. Aku akan memarkirkan mobil..." Kata Kyuubi sambil tersenyum tulus.
Naruto memang tidak pernah menceritakan apa yang terjadi sehingga gadis itu tiba-tiba memutuskan pindah ke Jepang, namun naluri Kyuubi sebagai seorang kakak cukup paham jika penyebabnya adalah masalah hati.
Kyuubi mengelus kepala Naruto lembut sebelum Naruto turun dari mobil dan pemda itu harus memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
To Be Continue
Wahhhh, Chapter kali ini lama. Gomen, gomen... Soalnya author ada acara pribadi. Hehehe... makasih untuk semua yang sudah review, fav, dan follow. Semua jadi penyemangat buat author gaje satu ini.
maaf akan kesalahan pengetikan atau typo yang bersebaran membuat readers kurang menikmati membaca fanfic saya. tolong dimaklumi ya...
Oh ia, karena ada reader yang meminta ratenya diturunin karena puasa, author kabulin deh, soalnya mintanya tepat banget di hari spesial buat author sekaligus author harus menghormati yang sedang puasa. Tapi maaf rate status nggak diubah soalnya hanya selama puasa. Lagipula rate M untuk jaga-jaga. Oh ia ada pertanyaan nih, author jawab disini aja ya.
Q: Naru itu pacarnya Suke?
A: Jawabannya adalah tidak. Mereka sahabat sejak kecil.
Q: Kalau mereka nggak pacaran, aku mau mereka dijodohkan!
A: Heheheh, emang ini pertanyaan ya?
Q: Apakah ada Itachi disini?
A: Tentu saja, akan kurang lengkap rasanya jika Itachi nggak muncul.
Q: Apakah Itachi akan jadi gender switch? Kalau nggak, adakah unsur Itakyuu atau KyuuIta?
A: Yang ini belum dapat Author katakan. Nanti Readers akan tahu jawabannya.
Sooooo, sekian dulu. Terima kasih untuk yang sudah membaca. Dan selamat berpuasa untuk yang menjalankannya, semoga puasanya tidak bolong-bolong atau puasa setengah-setengah ya. Semangattttt!
Review?
