Suasana kamar yang sedikit remang-remang dengan cahaya lampu kamar yang sedikit redup. Kamar yang begitu luas tersebut bernuansa soft pink dan terlihat rapi. Tempat tidur berukuran king size yang dilengkapi bedcover berwarna sama dengan nuansa kamar tersebut. Terdapat banyak fasilitas yang mengagumkan di kamar luas tersebut, mulai dari piano besar berwarna putih, TV 70 inch, berbagai game console dan boneka-boneka lucu yang terlihat mahal. Bahkan di kamar tersebut terdapat dapur mini yang si pemilik kamar punya alasan sendiri mengapa diletakan disitu. Karena ia terlalu malas makan bersama keluarganya dan ujungnya hanya akan berakhir dengan pertengkaran dengan ayahnya. Di kasur tersebut terdapat Park Jihoon yang terjaga dalam tidurnya ditemani adik tirinya, Yoo Seonho yang sedang membaca buku di meja belajar sang pemilik kamar yang kebetulan tepat berada di samping ranjangnya.

Jihoon mulai berusaha menghalau cahaya remang-remang dengan lengannya, sebelum akhirnya kelopak mata itu terbuka perlahan dan menampilkan mata rusanya yang mampu membuat orang lain terjerat dalam pesona manisnya. Hal yang pertama kali menangkap indra penglihatannya tentunya adalah adiknya yang sedang membaca tersebut.

Tiba-tiba Hyungseob muncul dari balik konter dapur kamarnya membawa dua cangkir berisi coklat panas dan meletakkan salah satunya di hadapan sang empunya wajah manis yang masih menunjukan rasa kantuknya.

"Kamu sudah bangun kan? Nih minum aku buatkan khusus untuk sahabatku tercinta." Ujarnya ceria.

"Terimakasih." Jawab Jihoon seraya mengambil cangkir tersebut dan meneguk coklat panas tersebut.

"Aku tidak dikasih ya?" Ujar Seonho melas.

Hyungseob melirik Seonho dan terkekeh, "Buat sendiri sana dasar anak manja!"

Jihoon berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Dia menatap Hyungseob dengan pandangan sedih.

Hyungseob yang sadar menyuruh Seonho untuk keluar karena kebetulan ia mendengar suara mobil didepan mansion keluarga Park yang tentunya menunjukan bahwa Park Chanyeol sudah sampai kerumah.

"Padahal aku ingin mendengar cerita hyung." Ia mengembungkan pipinya dan dihadiahi Jihoon yang mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas. Setelah itu Seonho keluar dari kamar dengan tujuan untuk menyambut kepulangan sang ayah.

"Maafkan aku selalu merepotkanmu, Hyungseob-ah." Lirih Jihoon.

Hyungseob menyambar kearah Jihoon dan memeluknya dengan kencang.

"Park Jihoon! Apapun yang terjadi katakan semuanya padaku.. jangan menyakiti dirimu sendiri.." Ia menyingkap ujung lengan sweater Jihoon dan menunjukan goresan-goresan bekas sayatan di lengan kurusnya.

"Jangan melakukan ini lagi. Aku mohon padamu.. perlukah aku bersujud, Park Jihoon?" Isaknya kuat.

Jihoon beruntung mempunyai sahabat supportive seperti Ahn Hyungseob. Ia berterimakasih pada Tuhan krena telah mempertemukannya dengan Hyungseob 9 tahun yang lalu. Sungguh, ia dan Hyungseob mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang. Sifat asli seorang Park Jihoon adalah seorang yang pendiam namun ramah. Sedangkan Hyungseob itu ribut, cerewet, dan suka sekali merendahkan orang. Hanya seorang Ahn Hyungseob tahu hampir semua tentang Jihoon. Ia tahu tentang masalah keluarganya, lalu hubungannya dengan Jinyoung, tentang Jihoon yang suka menyakiti fisiknya sendiri dan tentang hubungan Jihoon dan pamannya. Memikirkan Jihoon dengan pamannya membuat Hyungseob ingin muntah bagaimana dengan Jihoon yang mengalaminya? Hyungseob menghilangkan pikiran tersebut karena ia sangat membenci hal tersebut.

"Cerita sama aku, Jihoon-ah. Kenapa kamu bisa sendirian di mobil Jinyoung?" Tanya sambil mengusap pipi Jihoon yang terbaring di kasur.

"Lupakan.. aku tidak apa, aku saja yang terlalu bodoh.."

"Jangan terlalu baik, Jihoon. Aku sayang banget sama kamu melebihi apapun."

"Lebih dari Park Woojin?"

Hyungseob menatap Jihoon sebal, "Tentu saja. Gila kamu masa aku menomorduakan kamu?"

"Hyungseob-ah, jujur tidak apa menomorduakan aku dari prioritasmu. Karena aku-pun melakukan hal tersebut denganmu dan Jinyoung." Kekeh Jihoon.

Hyungseob tersenyum lembut, "Aku tahu tapi aku tidak peduli. Kamu sahabatku, kamu sangat membutuhkan support-ku, ya kan?"

Jihoon melempar bantal disebelahnya kearah lelaki manis disebelahnya.

"Kenapa kamu begitu?!" Protes Hyungseob.

"Cheesy as fuck." Komplain Jihoon.

"Aku serius, kamu perlu aku sebagai tumpuan kamu, tapi kamu sangat membutuhkan keberadaan Jinyoung, so, aku tidak peduli. Selama kamu bahagia, it's okay."

Jihoon membalikan badannya. Airmatanya mulai tumpah.

'Tuhan, terimakasih sudah memberikan Hyungseob padaku.' Lirihnya dalam hati dan mulai menutup kelopak matanya untuk beristirahat.


Daehwi tersenyum paksa dalam sepanjang perjalanannya dengan Jonghyun yang diselimuti oleh keheningan.

Ia melihat hyung-nya sedang fokus menyetir. Ia merasa canggung dengan Jonghyun karena itu ia tidak terlalu banyak bicara.

"Daehwi-ya, kamu kenapa bisa pergi berdua terus dengan Jinyoung?" Tanya Jonghyun pura-pura tak tahu alasannya.

Daehwi membeku. Ia memang sangat ingin hubungannya dengan Jinyoung diketahui tapi ia tahu betul bahwa hal tersebut tidak akan pernah diakui oleh siapapun.

"Aku dan Jinyoung hanya teman.." Elaknya.

"Hey, teman tidak berciuman."

Bola mata Daewhi membesar saat mendengar ucapan Jonghyun.

"B-bagaimana bisa.." Daehwi tidak percaya. Seharusnya ia tidak kaget mengenal Jonghyun yang mempunyai banyak mata-mata tentang hal yang berhubungan dengan Jihoon.

Daehwi terdiam, ia benar-benar tidak tahu. Ia masih menunduk tak berani menatap Jonghyun. Ia masih mempunyai rasa malu tentang soal hubungan ini.

Tanpa sadar mobil berhenti didepan rumah minimalis yang sederhana.

Daehwi sadar bahwa ini rumahnya. Ia menatap Jonghyun bingung.

"Turunlah." Ucap Jonghyun.

"Bukankah kita akan bertemu Tuan Park?" Ia benar-benar bingung bukankah tujuan Jonghyun menariknya dari kencan dengan Jinyoung adalah untuk bertemu dengan Park Chanyeol?

"Belum mengerti juga?" Jonghyun menghela nafas.

Daehwi mengerti sekarang. Jonghyun hanya ingin menghancurkan momennya dengan Jinyoung. Ia tersenyum sedih, kecewa pada lelaki yang sudah ia anggap kakak itu.

"Aku pikir hyung akan bersifat rasional dan netral."

"Daehwi-ya, aku mencintai kamu, Jinyoung, Seonho, Hyungseob, Woojin, Guanlin dan Samuel. Hyung akan terus akan berusaha netral jika terjadi sesuatu tentang kalian. Tapi, jika itu tentang Park Jihoon? Tidak akan." Jelasnya dengan senyuman yang abstrak terhadap Daehwi.


Kaki basah Jinyoung menapaki perkarangan sebuah mansion yang besar dengan lokasi taman yang sangat luas. Mansion itu sangat indah. Karena taman yang luas itu dikelilingi oleh bunga-bunga indah yang terawat, kolam ikan yang jernih serta pancuran air yang menambah cantik pesona perkarangan mansion tersebut.

Jinyoung melihat anjing-anjing penjaganya yang dirantai menggongonginya seakan khawatir akan keadaan majikannya yang basah kuyup.

Ia mulai memasuki mansion tersebut dan ia mendengar suara ibunya yang memanggilnya dengan perasaan khawatir.

"Astaga, Jinyoung-ie!" Ibunya menghampiri anaknya yang basah kuyup.

Hawa dingin begitu menusuk kulit tubuh Jinyoung yang basah kuyup, keadaannya menciptakan jejak-jejak air yang tercetak di atas lantai.

Bae Joohyun, kakak tertuanya datang sambil mengambil handuk yang ia ambil dari kamar Jinyoung.

"Pakai ini, kamu kenapa sih? Nanti kalo appa lihat dia marah.." Ujar kakaknya sambil menyerahkan handuk biru milik Jinyoung.

Jinyoung meraih handuk tersebut, ia memang membutuhkannya untuk mengeringkan tubuh dan sedikit menghangatkan dirinya.

Demi Tuhan, Jinyoung kesal sekali dengan sikap egois Park Jihoon. Hujan memang turun sangat hebat. Beruntung saat ia pergi beranjak dari mobilnya air deras mengguyur tubuhnya, jarak menuju ke rumah sudah tak begitu jauh lagi. Jinyoung lebih memilih untuk melawan hantaman ribuan titik air walaupun durasinya bisa mencapai lebih dari sepuluh menit, dibanding harus lama-lama bersama Park Jihoon yang selalu meletup-letupkan emosinya. Tak masalah jika ia jadi kedinginan, namun bisa cepat sampai di rumah - lebih baik dibanding hal tadi.

Ibunya membantunya membasuh dirinya. Keluarganya hanyalah sebuah keluarga yang terdiri dari ayahnya, Bae Yong Joon yang merupakan direktur perusahaan Bae, ibunya, yang notabene lebih muda 10 tahun dari ayahnya, Park Soojin dan kakaknya yang dibilang mempunyai paras tercantik di Unviersitas, Bae Joohyun.

"Pasti Jihoon lagi, ya?" Irene memutar bola matanya bosan karena masalah adiknya hanya Jihoon saja.

"Berisik."

"Tidak sopan! Kamu juga tidak berterimakasih. Padahal, menurut noona, Jihoon itu adalah lelaki terbaik yang noona temui untuk kamu." Cibir Irene.

"Urusi dahulu masalahmu dengan Park Woojin, noona."

"Astaga, Jinyoung!" Pelotot Irene. Jujur, Irene hanya bermain-main dengan Woojin. Ia sama sekali tidak mempunyai perasaan dengan lelaki yang lebih muda itu, ia dan Woojin hanya mempunyai nafsu dengan satu sama lain bukan perasaan.

Ia menatap ibunya dengan intens. Park Soojin merasa kasihan dengan keadaan Bae Jinyoung yang terpaksa karena paksaan suaminya. Tapi apa boleh buat? Apa yang suaminya katakan adalah final dan tidak bisa diganggu gugat.

"Ibu.. tidak bisakah? Perjodohan ini dihentikan.." Pandangannya mulai memelas. Jika dipandang dengan seksama, air mata mulai bermunculan di pelupuk mata tersebut.

Ibunya menghampiri Jinyoung dan memeluknya. Jinyoung memeluk ibunya dengan erat. Pelukan ibunya dapat membuatnya tenang.

"Ibu.. aku mencintai Lee Daehwi.." Ucapan Jinyoung mulai menjadi isakan.

Irene yang melihat ibu dan adiknya berpelukan hanya bisa memandang simpatik akan takdir yang dijalani adiknya.

"Maafkan ibu, sayang. Jika menyangkut masalah perjodohan ini, ibu benar-benar tidak bisa membantumu, ibu sendiri sebenarnya tidak setuju dengan sikap memaksa ayahmu,tapi bagaimana lagi, ayahmu sangat serius sehingga aku pun harus mengikuti perintahnya." Lirih ibunya kushina penuh penyesalan.

Bae Jinyoung benci ayahnya. Yang hanya mementingkan harta.

Ia merasa dijual oleh ayahnya dengan dipaksa menikahi orang yang ia benci.

Irene terdiam melihat mata adiknya yang dipenuhi dengan kebencian. Dia tidak mengerti kenapa adiknya benci Jihoon? Padahal sewaktu kecil yang ia lakukan selalu menempel dengan Jihoon. Irene takut sekali apa yang dikatakan adiknya dapat menusuknya dari belakang dan berakhir dengan penyesalan. Apalagi mengetahui bahwa Park Jihoon adalah orang yang ia anggap orang yang paling tulus mencintai adiknya.


Jihoon masih terbaring di kamarnya namun bedanya sekarang Hyungseob sudah pamit pulang kerumahnya. Ia menghela nafasnya berat, lalu menutup matanya, sekejap mengingat kembali kenangan hangat masa kecilnya dengan Bae Jinyoung. Ada tawa, canda dan kehangatan yang terbayang dibenaknya, tengkuknya terasa melemah dan suasana terasa sunyi - tak ada suara hujan. Hanya tawa, canda dan kehangatan yang terbayang. Belum ada pasalnya tentang tatapan penuh kebencian yang dilemparkan Jinyoung padanya.

Jihoon tersenyum tipis. Namun di saat ia membuka matanya semua bayangan indah itu pun lenyap seketika. Ia kembali dihadapkan dengan kegelapan, kesunyian dan kenyataan. Dadanya terasa sakit, sangat sakit jika Jihoon kembali teringat keberadaan mereka yang telah lama hilang. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, tentu ia akan terus merindukan suasana itu lagi.

Samar-samar ia mendengar suara gaduh dari bawah yang ia prediksikan sebagai suara ayahnya dan Seonho yang sedang bercanda ria. Ia tersenyum sedih dan berusaha mengingat kapan terakhir ia bisa bercanda dengan ayahnya. Kira-kira 15 tahun yang lalu sebelum kedua orangtuanya bercerai.

Salah satu kontak yang ia lakukan dengan ayahnya hanyalah saat ayahnya memarahinya. Itu saja, tidak ada kehangatan. Tidak ada yang namanya keluarga di rumah ini. Ia tidak pernah merasa dirumah saat di bangunan besar ini.

Selang beberapa saat ia mulai tertidur dan dibangunkan dengan ketukan keras dari ayahnya.

Ayahnya yang masih dengan kemeja kerjanya sedang bersender didepan pintu kamarnya.

"Apa yang kuharapkan dari ahli waris tidak becus sepertimu? Jam segini kau masih bersantai-santai diatas kasur?"

Jihoon tidak menghiraukan ayahnya dan hanya menatap atap-atap kamarnya.

"Benar-benar kurang ajar. Bahkan kau tidak ingin menatapku?!" Hardik ayahnya.

Jihoon mulai terbangun dari kasurnya dan memposisikan dirinya dengan duduk di kasur.

"Aku sedang sakit." Jawabnya singkat.

"Kau bisa sakit?" Ucap ayahnya tak percaya.

"Aku manusia, abeonim."

"Tidak berubah, kau masih sama tidak sopannya seperti ibu jalangmu, Park Jihoon." Ayahnya menatap benci dirinya.

Kenapa? Ia sudah mempan. 15 tahun diperlakukan seperti ini sudah membuatnya kebal dengan segala hal kejam yang ayahnya lakukan padanya.

"Papa! Kenapa memarahi Jihoon-hyung?" Tiba-tiba Seonho masuk ke kamar dan memegang lengan ayahnya. Seakan menyuruh ayahnya untuk berhenti.

Seonho dapat dengan gampangnya memegang ayahnya sedangkan ia sudah lupa kapan terakhir kali ia melakukan kontak fisik dengan ayahnya.

Ayahnya mendecih kesal dan segera pergi dari kamarnya.

Seonho menghampiri kakaknya dengan raut yang menunjukan rasa kasihan.

"Aku tidak butuh rasa kasihanmu, Seonho-ya." Ujarnya sambil tersenyum.

Seonho mengerjapkan mata bulat hitam-nya cemas—membuat Jihoon iri pada mata mata itu. Andai ia punya mata yang bisa mengerjap seanggun itu.

Ah, Park Jihoon dan ketidakpekaannya datang lagi. Padahal jelas sekali mata rusanya tidak kalah dengan mata adik tirinya.

Beberapa menit kemudian Seonho membawa seloyang kue chiffon berwarna coklat muda yang nampak menggiurkan. Seonho sudah memanggang kue tersebut jauh sebelum ayahnya datang di oven milik Jihoon. Ia segera memotongnya dengan pisau roti dan menaruhnya dua potong pada piring kecil. Jihoon bertambah iri karena Seonho benar-benar mempunyai banyak talenta seperti memasak, menjahit, bermain piano dengan indah, dan nilai-nilainya juga selalu bagus. Jihoon memang bisa bermain piano tetapi tidak seindah Seonho dan nilainya tidak sesempurna Seonho.

Seonho mulai membuka percakapan dengan Jihoon dengan ragu, "B-bagaimana hubungan kakak dengan Jinyoung-hyung?"

Jihoon mengambil piring kecil tersebut dan melahap kue yang terletak diatasnya, "Kita baik-baik saja, kok."

"Kalau Jinyoung berani menyakiti kakak bilang aku! Biar aku marahi saja!"

Jihoon ingin tertawa mendengarnya. Seonho-nya memang sangat polos. Mungkin hanya dialah yang tidak mengetahui hubungan Daehwi, sehabat terdekatnya dengan Jinyoung, tunangan kakaknya.

"Terkadang aku berharap kamu tidak sepolos ini, Seonho-ya. Tapi untuk saat ini lebih baik kamu tetap polos dan tidak mengetahui kenyataan yang akan menyakitkanmu."

Oh, tidak. Jihoon memang iri dengan adik tirinya, namun, demi Tuhan, ia sangat mencintai adiknya melebihi apapun. Jika Seonho-nya mengetahui hubungan Daehwi yang notabene orang yang sangat dipercayainya dengan Jinyoung ia pasti akan sangat sakit hati, mungkin melebihi rasa sakitnya jika ia ditolak seorang Lai Guanlin.

Seonho menatap jam dinding kamar Jihoon dam terbelalak, "Ya Tuhan, kak! Sudah jam 10! Aku harus tidur besok kuliah pagi!" Ia berdiri dan beranjak dari kursi disamping tempat tidur kakaknya

Saat ia hendak membuka dan menutup pintu ia mengucapkan, "Selamat malam," ucap adiknya sambil tersenyum lembut.

Jihoon lagi-lagi dibuat iri dengan senyuman adiknya. Bisakah ia tersenyum lembut seperti itu?


Jihoon terduduk lesu di lantai kamar mandinya. Mengumamkan sesuatu yang tidak jelas, menggigil karena tubuhnya basah terkena pancuran air dari showernya.

Tangan sebelah kanannya memegang sebuah cutter tajam. itu mulai menggores pergelangan tangannya dan meneteskan darah segar.

Ia tertawa saat merasakan sensasi darah segar yang keluar dari lengannya. Rasanya nikmat dan ia merasa semua masalahnya terangkat. Perasaan adiktif yang dipicu oleh adrenalin saat menyayat lenganya adalah hal yang membuatnya merasa hidup.

Ia menuduk menatap lengannya yang penuh bekas luka silang-menyilang yang masih nampak di sana. Jihoon benar-benar sudah hancur. Ia merasakan perasaan adiktif yang membuatnya harus melakukan ini setiap hari. Jika tidak, maka ia tidak akan bisa tidur.

Bagaimana ya Park Jihoon dapat mendeskripsikan perasaan ini?

Darah.

Bau anyir yang menenangkan jiwa.

Perih.

Sebuah rasa yang menyakitkan dan membuat lengannya berdenyut meminta ampun namun nikmat.

Masalahnya, semua hilang ketika rasa ini datang.


Saat itu Jihoon yang masih berumur 7 tahun sedang bermain dengan adik tirinya yang masih berumur 5 tahun. Mereka sedang bermain dengan bonekanya masing-masing diatas karpet mewah kamar Jihoon.

"Hyung-ie, boneka Seonho kenapa lebih jelek dali pada punya hyung." Jihoon gemas mendengar latahan Seonho.

"Ini punya hyung! Namanya Jessy, boneka ini dikasih sama Jinyoung-ie, hihi." Ucapnya pamer menunjukan boneka beruang pink yang imut.

"Jinyoung-hyung gak pelnah kasih Seonho boneka, huh! Seonho benci Jinyoung-hyung!" Seonho membanting bonekanya.

Cklek.

Jihoon mengerjapkan matanya saat melihat pamannya memasuki kamarnya. Seonho tidak mengubris dan mulai bermain dengan bonekanya yang lain.

Jihoon sebenarnya takut dengan pamannya karena pamannya selalu menatapnya dan Seonho dengan pandangan aneh. Apalagi saat ini ayah dan ibu tirinya sedang tidak ada dirumah.

"Ahjussi, ada apa kesini?" Tanya Jihoon bingung.

Pamannya menghiraukan ucapannya dan menghampiri Seonho. Lalu pamannya memeluk Seonho dengan erat sambil menciumi rambutnya dengan gelagat yang aneh. Seonho yang polos hanya diam saja dengan perlakuan pamannya.

Jihoon saat itu memang masih kecil, namun ia merasakan hal yang menjanggal dengan pelukan tersebut. Ia berpura-pura keluar sebentar dan saat ia memasuki kamarnya lagi ia bergidik ngeri karena tangan pamannya mulai mengerayangi adiknya.

"Seonho, kamu dipanggil Jung-ahjumma. Sana pergi turun, pasti disuruh makan." Ucapnya bohong.

Seonho melepaskan pelukan pamannya dan segera pergi dari kamar itu sambil memegang boneka besarnya.

Jihoon memandang pamannya datar, "Aku memang anak kecil tapi aku mengerti kemauanmu, ahjussi."

Ayolah, saat ayah dan ibunya bercerai setahun tahun yang silam ia mengikuti ibunya selama satu tahun di Amerika Serikat sehingga walau saat itu ia masih berumur enam tahun ia mengerti apa itu hubungan intim. Baru bulan agustus inilah ia kembali lagi ke Korea.

Pamannya menatap sinis dirinya dan segera menghampiri Jihoon. Jihoon merasa terpojok karena saat itu ia masih bocah berusia tujuh tahun yang pendek dan tidak mempunyai kekuatan.

"Park Jihoon, kamu mau aku menggerayangi tubuh adikmu lagi?"

Ugh, Park Jihoon rasanya ingin muntah saat mendengar ucapan pamannya.

"Aku akan melaporkannya pada ayah." Ucapnya mantap disela ketakutannya.

"Kau pikir ayahmu akan mendengarkanmu yang ia hanya anggap omong kosong?" Ia melihat pamannya menyeringai bahagia.

"Kau cantik juga ya, bagaimana kalau main denganku?" ucap pamannya yang membuatnya merinding. Kudorong tubuhnya agar menjauh dariku, tapi aku sepertinya sudah terperangkap.

"Kau mau aku menyakiti adikmu?!" Bentaknya saat ia mendorongku.

"Aku tahu kau sangat mencintai adikmu, kalau kau menolakku, aku akan memperkosa adikmu saat ini juga." Ucap pamannya final.

Jihoon merasakan ketakutan yang besar dan pelupuk matanya mulai mengeluarkan air mata. Ia tahu bahwa pamannya adalah orang yang tertarik dengan anak kecil alias pedofil karena ia sering mendengar gossip itu. Tapi ia itak menyangka pamannya tega melakukan ini pada seseorang yang mempunyai darah yang sama dengannya.

"Nah, mari kita bermain?" racaunya. Jihoon kecil benar-benar takut. Jihoon terus berusaha mendorongnya. Namun hal itu terhenti saat pamannya menindihnya ke kasur dan mulai mengerayanginya.


Guys.. terakhir aku nulis apaan sampe mual sendiri.. jijik banget.. tapi ini demi plot guys maafin aku.. Aku udah bilang bakal ada child abuse kan T_T

Maafin aku ya, Jihoon.. anyway aku gaakan nulis secara explicit adegannya.. nanti muntah sendiri -_- sebenernya agak uncomfortable karena most of the cast still underage tapi di cerita ini aku udh ubah mereka semua ga sebagai minor supaya aku nulisnya comfortable, makanya kemarin aku banyak typo-typo SMA, sekolah, siswa, karena aku kemarin nulisnya mereka anak SMA terus aku ga nyaman karena kan nanti mereka mau nikah...

Anyway, kemarin aku liat ada ff yg direport di curhatannayana, tapi sumpah cerita ini memang ada child abuse but no intentions kearah untuk memuaskan hasrat seks pembaca, okay. Tbh, saya buat cerita ini untuk orang-orang yang depresi, mengalami child abuse, melukai dirinya sendiri, broken-home, unrequited love, etc. Aku cuman mau nunjukin bahwa di dunia ini masih ada kebahagiaan. Itu aja kok inti cerita ini. Aku gaakan nulis cerita dengan tema tersebut ngasal-ngasal karena sahabat kesayangan aku ngalamin itu. Soo, dont judge my story, thanks ^_^

Btw, yatuhannn :") aku gabenci Daehwi! Kalian gangerti perasaan aku waktu Daehwi dikasih tau diantara ranking 11-14 aku teriak tau ga "DAEHWI-YA NGAPAIN KAMU DISANA SAYANG!" sambil mau nangis-_- aku sayang semua member produce 101, daehwi termasuk! Aku sayang diaa, aku buat dia antagonis disini kan tuntutan cerita T_T nanti juga aku buat kok happy ending dia pasti.

Lanjut? Btw thankyou reviewnya 90 wooow hahaha, nambah semangat :p kalo jebol 120 lngsung update ahhh :3 /canda/ Bagi aku reviews bukan segalanya :( hehehe /muna/

Anyway, guys, kalian mau ini ada OngNiel? Tapi sebagai apa? Sarann ;( aku suka OngNiel aku lupa masukin mereka wkkwkwkw. Guys, mau mpreg ga? Hayoo ini terserah readers ya aku cuman ikutin saran readers. Terus kemarin banyak yang mau sad end hmm bener yaaa :p Aku ga nanggung2 kalo soal tragedy lohhh, bisa2 Baejin aku buat mati menyesal sampe tubuhnya gabisa berfungsi lagi /kejem/ HAHAHAHHA. Atau kalian mau itu? :p

ANYWAY DOAIN YA AUTHOR DAPET VIP PACKAGE SEVENTEEN DIAMOND EDGE HUHUHU T_T

ada yg nonton? siapa tau bisa bareng ;p

SEE YOUUUUUUU! LOVE XX