Oniichan 4

Yey~ muncul juga ide dodol di otak Beo..

Hohhohoho..

Mari kita lanjutkan ni pik~

----------------- =_="

Disclaimer : Naruto.. punyaa… hh~ Punya Sasuke..

Warning : Lime, Yaoi, Ooc..

Rate : MASIH T !! huahahah!! Jangan ngarep Lemon dulu, lhaa~

Genre : Romance, Comedy, Drama.

----------------- =_="

------=_="

Sasuke POV

------=_="

"Uchiha Sasuke! Keluar kamu dari sini! Jangan pernah kamu munculkan lagi mukamu di kelasku!" Bisa kudengar teriakan si nenek Kurenai yang suaranya menggelegar di telingaku. Hh.. sial. Padahal Cuma gara-gara aku enggak merhatiin dia aja, kok.. che.

"Ha'i.. Sensei." Ucapku sambil menekankan kata-kata 'Sensei'. Bisa kulihat muka geramnya sebelum aku melangkahkan kakiku keluar kelas.

Bodo amat! Aku enggak peduli sama guru satu itu. Mending aku ke kantin sajalah.. melepas penat.

Dan akupun melangkahkan kakiku kearah kantin. Di perjalanan menuju kantin, dari jendela aku melihat seorang pemuda sedang berbaring santai di kebun belakang. Pemuda tersebut berambut pirang, dan berkulit coklat.

Hmph.. aku tahu siapa pemuda itu.

Akupun mengurungkan niatku untuk ke kantin, dan memutar haluan kearah kebun belakang.

Setelah jarakku dan jaraknya cukup dekat, akupun menyapanya.

"Oi.. Dobe.. sedang apa kamu disini?" Sapaku sembari terus melangkahkan kakiku untuk mendekatinya.

"Hn.." Ia hanya menjawab singkat sapaanku. Sial! Dia kenapa, sih?

"Kau kenapa? Diusir?" Tanyaku kembali sembari mengambil duduk di sebelahnya. Nampaknya ia kesal dengan tindakanku. Bisa kudengar suara dengusannya.

"…" Dia tetap terdiam. Nih anak kenapa, sih?! Kesambet setan bisu, ya?! Ngeselin bener dari tadi!

"Oi.. Dobe.. kamu kenapa, sih?!" ucapku kembali sembari berusaha menarik tangan yang menutupi matanya tersebut.

Setelah tangan itu berhasil kutarik, kulihat tetes demi tetes air mata jatuh dari mata birunya.

"Naruto! Kamu kenapa?!" teriakku histeris.

"Niichan.. berisik." Ucapnya singkat sembari berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tanganku.

"Bilang padaku. Ada apa?! Siapa yang membuatmu menangis?!" Ucapku dengan nada marah.

"Ga ada. Sudah kubilang lepaskan aku!!" Teriaknya sambil terus mengibas-ngibaskan tangannya.

Kesal dengan perlakuannya, akupun membalikkan posisi tubuhku. Sekarang, aku berada tepat di atas tubuh mungilnya.

"Siapa?" Ucapku singkat sambil terus menatap mata biru tersebut.

"…" ia masih terus terdiam, lalu ia memalingkan wajahnya dari wajahku. Akupun semakin kesal. Aku mencengkram dagunya, dan membalikkannya kembali kearah wajahku.

"Kau." Ucapnya singkat.

"…aku?" ucapku bingung. Memang apa yang aku lakukan sehingga ia menangis begini?!

"Niichan udah menghancurkan hubunganku dengan Hinata-chan!" Ucapnya sebal.

"…" Akupun terdiam. Emosiku sudah memuncak. Kenapa, sih?! Kenapa selalu si perempuan enggak berpupil itu yang ada di kepalanya?! KENAPA ENGGAK AKU?! KENAPA?!

Lagi-lagi, akal sehatku tidak mau berjalan dengan baik. Tanpa sadar, aku sudah melumat bibir lembut Naruto dengan kasar.

"Mnng!!" Naruto mencoba untuk memberontak dari ciuman kasar yang aku berikan. Tapi, aku malah semakin bernafsu. Aku membuka kancing kemejanya, dan meraba-raba dada lembutnya. Iapun semakin memperkuat pukulannya. Namun, aku sama sekali tidak menggubrisnya. Aku sudah tidak peduli! Naruto hanya milikku seorang!

Aku masih terus menikmati bibir lembut Naruto, sampai ia menggigit dengan keras bibirku. Tindakannya membuat bibir pucatku mengeluarkan cairan kental berwarna merah, dan seketika, akupun melepaskan ciumannku.

"Niichan! Apa yang kamu lakukan?!" Teriaknya marah. Mata birunya melotot kearahku.

"Apa?! Aku berusaha agar kamu mau melupakan si perempuan tak berpupil itu! Aku yang sayang sama kamu, Naruto! Dan HANYA AKU YANG BOLEH MILIKIN KAMU!" Teriakku kesal sembari mencengkram dengan kuat kedua lengan Naruto.

"Niichan! Lepas ! lepaskan aku berengsek!" Teriaknya sembari berusaha untuk melawan.

"Tidak sebelum kau jadi miliku." Ucapku sembari menatap tajam kearah matanya.

"Niichan?!" Teriaknya histeris ketika aku mulai merobek dengan paksa kemeja yang sedang ia pakai.

Kini, akupun menerjang leher bening Naruto. Kucium dengan lembut, kugigit, dan kulumat dengan hati-hati titik sensitifnya. Tanpa kusadari, ia sudah menyerah untuk memberontak, dan membiarkan aku untuk melakukan semaunya.

Aku kembali melanjutkan kegiatanku di lehernya. Aku membuat beberapa kissmark yang cukup merah. Aku yakin.. siapa saja pasti bisa melihat kissmark tersebut. Biarlah… biar Dunia tahu.. kalau Naruto itu milikku.

Akupun melepas dengan kasar kemeja tak berdosa yang sedang dipakai Naruto, dan melemparkannya tak tentu arah.

Puas dengan hasil kerjaku di leher Naruto, akupun kembali melumat bibir manisnya. Akupun melingkarkan tanganku di pinggang mungil Naruto.

Aku menggigit lembut bibir bawah Naruto untuk meminta izin memasuki mulut hangatnya.

Tak kuduga, Naruto membuka mulutnya perlahan, dan membiarkan lidah manisku menjelajahi mulutnya.

Hmmnn… mulutnya berasa orange dengan sedikit campuran Strawberry mint. Rasa yang aku tidak duga. Seingatku, Naruto kan Ramenholic.. ah.. sudahlah.. Aku tidak peduli. Akupun melanjutkan kegiatanku dengan menyapu dengan lembut langit-langit mulutnya.

"Ahhn.. Ni..Niichan.." Erangnya. Iapun membalas ciumanku, dan melingkarkan tangannya di leherku.

WAW. Aku tidak menyangka dengan reaksinya ini.

Senang dengan reaksi yang Naruto berikan, akupun melepaskan ciuman. Saliva Naruto masih terhubung dengan mulutku, saliva tersebut berbentuk seperti benang tipis yang akhirnya putus.

"Nii..Niichan.." Ucap Naruto. Mukanya memerah.

"Hn?" tanyaku singkat.

"A..aku enggak tahu harus gimana.. H-Hinata-chan memutuskanku.. di..dia melihat kita berciuman tadi.. a..aku.." Ucapnya terbata-bata. Air matanya kembali mengalir dari mata birunya.

"Ssh.. sudahlah.. jangan menangis, Naru.. ada aku. Lebih baik, kamu lupakan cewek tak berpupil itu." Ucapku sambil memeluk Naruto dengan lembut.

"Nii..Niichan.. hiks.." Tangisnya memecah. Iapun membalas pelukanku.

"Ssh.. sudahlah.. sekarang kamu mau gimana? Pulang aja? Aku anter.." Ucapku sembari berusaha untuk menenanginya.

"A..aku bingung.. aku enggak bisa ketemu Hinata-chan.." Ucapnya sambil terus mengeratkan pelukannya.

"Sudahlah.. kamu biar aku antar pulang. Kamu tunggu disini. aku ambil tasmu .. erm.. pakai kemejamu.." Ucapku sambil mencoba untuk melepaskan pelukannya.

"U..uunn.." Narutopun menuruti kata-kataku, dan membiarkan aku untuk beranjak ke kelasnya.

=========== -_-"

End of Sasuke POV

=========== -_-"

Sasukepun berjalan santai kearah kelas Naruto. Mukanya berseri-seri dan bercahaya layaknya gadis iklan Pond's. sesampainya di depan kelas Naruto, iapun mengetuk pintu kelasnya untuk menunggu seseorang membukakan pintu kelas tersebut.

Pintu itupun terbuka. Sialnya, Hinata-lah yang membuka pintu tersebut.

"A..S..Sasuke-S..Senpai.." Ucap Hinata gugup.

"Kau.. che. Bisa kuambil tas Naruto? Dia enggak enak badan. Aku akan mengantarnya pulang." Ucap Sasuke dingin.

"Aah.. Maaf, S..Sasuke-senpai.. apa.. gara-gara aku?" Tanya Hinata gugup.

"Bukan urusanmu. Cepat ambil tas Naruto, dan jangan pernah kau munculkan mukamu lagi di hadapan Naruto. Got it?!" Ancam Sasuke

"A…Ha'i.. hontouni gomenasai, Sasuke-senpai.. a..aku.. enggak bermaksud untuk membuat Naruto-kun.."

"Sudah kubilang! CEPAT BERIKAN TAS NARUTO!" Suara Sasuke semakin meninggi.

"a.. Ha'i!" Ucap Hinata takut. Lalu Hinata berlari kearah kursi naruto, merapihkan barang-barangnya, dan menyerahkannya ke Sasuke.

"I..ini, Sasuke-senpai.. ano.. a..aku sungguh-sungguh minta maaf.. bisakah kau sampaikan ke Naruto?" pinta Hinata dengan muka memelas.

"Kalo inget." Ucap Sasuke dingin sembari berjalan meninggalkan kelas tersebut.

Hinata hanya cengok melihat kelakuan Senpainya itu.

--------- =_="

"Dobe.. ini tasmu." Ucap Sasuke sambil melempar tas orange milik Naruto.

"Niichan.. arigatou." Ucap Naruto menunduk.

"Kau kenapa?" Tanya Sasuke.

"Niichan.. aku pengecut banget, ya? Kabur dari permasalahan." Ucap Naruto parau.

"Naru.. kamu enggak pengecut. Sudahlah.. aku ada disini. jangan nangis lagi." Ucap Sasuke yang kembali memeluk Naruto.

"Unn.. makasih, Niichan." Ucap Naruto sembari memberikan senyuman terbaiknya.

Sasuke mmembalas senyuman Naruto, lalu menggiring Naruto untuk memasuki Porschenya, dan membawa Naruto pulang kerumah.

"Tadaima.." Ucap Naruto singkat sambil memasuki rumah.

"Hn.." Diiringi oleh Sasuke yang juga baru memasuki rumah.

"…" Kedua pemuda tersebut berjalan kearah ruang keluarga dalam diam.

Sesampainya di ruang keluarga, Naruto merebahkan dirinya di sofa empuk berwarna coklat muda, sedangkan Sasuke menyalakan TV LCD 45 inchi yang ada di ruangan tersebut.

"…" Keduanya kembali.. terdiam.

"Nee.. Dobe." Ucap Sasuke mengawali pembicaraan.

"Ng?" jawab Naruto.

"Kau.. suka padaku?" Tanya Sasuke to the point.

"Eeeh?! Eeng.. dibilang benci.. enggak.. tapi.. suka juga.. enggak.." Ucap Naruto terbata-bata.

Mendengar jawaban plin-plan dari Naruto, Sasuke menghela nafas panjang. Lalu melangkahkan kakinya untuk mendekati Naruto.

"Apa yang harus aku lakukan biar kamu suka sama aku?" Ucap Sasuke sambil meraih tangan Naruto.

"Nii..Niichan.. hentikan ini.. kita ini kan adik-kakak!" Bantah Naruto.

"Naru.. please. Aku udah enggak bisa melihatmu sebagai adik." Ucap Sasuke lagi.

"Niichan.. apa kata Otousan sama Okaasan kalo mereka tahu?!" Ucap Naruto dengan muka khawatir.

"…" Sasuke terdiam, lalu menundukkan kepalaanya dalam-dalam.

"Gomen, ne.. Niichan." Ucap Naruto pelan.

"Nee.. Naruto.." Ucap Sasuke kembali.

"Ng?" Jawab Naruto.

"Kenapa tadi kamu membalas ciumanku?" Tanya Sasuke. Mata hitam kelamnya kini menatap mata biru Naruto lekat-lekat.

"I..itu.." ucap Naruto gugup.

Sasuke menyeringai kecil, lalu mendorong Naruto agar bertelentang di sofa yang sedang mereka duduki.

"Nii..Niichan!" Teriak Naruto.

"Kamu menyukainya,, kan, Na-Ru-Koi?" Bisik Sasuke mengoda di kuping Naruto.

"Sial! Jangan memanggilku Naru-koi! Teme! Lepaskan aku!" Teriak Naruto sejadinya.

"Ckckck.. jangan membohongi diri sendiri, Naru-koi.. aku tahu.. kamu sudah sedikit menyukaiku, kan?" Bisik Sasuke.

"Enggak ! aku benci padamu!! Lepaskan aku!!" teriak Naruto. Mukanya sudah semerah buah Strawberry yang dilumuri jus tomat.

"Kamu manis, Naru.." Ucap Sasuke pelan sembari menjilati pipi Naruto yang memerah.

Sasuke melanjutkan aksinya dengan menyelipkan tangannya ke kemeja Naruto yang masih sobek tadi. Tangan Sasuke menemukan sebuah tonjolan di daerah dada Naruto yang sudah sedikit mengeras.

Sasukepun tertawa senang. Dimainkannya tonjolan tersebut dengan jari-jari pucatnya.

"Nii..Niichan.. aahhnn.." Erang Naruto.

"Aahh.. suaramu manis banget, Naru.." Bisik Sasuke sembari menggigiti dan menjilati dengan lembut cuping telinga Naruto.

"Nii..Niic..Niichan.. ahhnn…" Narutopun melingkarkan tangannya di leher Sasuke.

Sasuke menyengir senang, dan kembali melanjutkan kegiatannya.

Setelah puas menjilati kuping Naruto, Sasuke beralih ke pipi Naruto. Menciumi dan menjilati pipi yang mempunyai 3 buah garis tersebut. Setelah puas menggoda pipi Naruto, Sasuke beralih lagi ke bibir manis Naruto.

Sasuke melumat dengan lembut bibir Naruto. Menjilat bibir bawah Naruto untuk meminta izin memasuki mulut manisnya. Naruto dengan malu-malu membuka mulutnya. Dan dengan gesit, lidah Sasuke memasuki mulutnya, dan menjelajahi seluruh bagian mulut Naruto. Menyapu langit-langit mulut Naruto, dan berperang lidah dengan Naruto.

Setelah puas dengan kegiatan di mulutnya, Sasuke melepaskan ciuman tersebut. Sasuke kembali menjilati bibir Naruto, lalu turun ke dagunya, dan terus menjilati sampai lehernya.

Di leher Naruto, Sasuke menjilati titik sensitive Naruto, lalu digigit dan dilumatnya titik tersebut dengan lembut. Kegiatan Sasuke ini membuat Naruto mengerang sejadinya.

"Niichan.. Cu..Cuhkup.. aahhnn!!!"

Sasuke lagi-lagi tidak menggubris tindakan Naruto, dan kembali melanjutkan kegiatany bejatnya.

Setelah senang dengan hasil kerjanya di leher Naruto, Sasuke beralih ke dada Naruto, dan menciumi tonjolan berwarna pink yang sudah mengeras dan memerah tersebut.

"Niichan.. cu..cukup kataku.. ahh!!" Erang Naruto sembari menjambak lembut rambut ayam Sasuke.

Sasuke terus mengulum tonjolan di dada kiri Naruto, dan tangannya yang bebas memainkan tonjolan di dada kanan Naruto.

"Niichan! Cukup!! CUKUP KATAKU!!" teriak Naruto sembari menendang 'bagian bawah' milik Sasuke dengan cukup keras.

"Awwch!! Ittai.." erang Sasuke sembari memegangi 'alat bawah'nya.

"Hhh.. Niichan! Kau ngerti, ga sih?! Gimana kalo ntar Okaasan sama Otousan tau keadaan kayak gini?! Oniichan mau? Jantung Okaasan kumat lagi?!" bentak Naruto. Mukanya masih memerah.

"Uuh.. Naruto.." Ucap Sasuke yang masih mengerang kesakitan.

"Niichan.. kita sudahi aja.. sebelum semua terlalu jauh.." Ucap Naruto sembari berusaha untuk beranjak dari sofa tersebut.

"Naruto. Kumohon. Aku.. aku sayang banget sama kamu. Aku.. aku udah enggak bisa berfikir jernih lagi.. kumohon, Naru.. aku.. aku sayang kamu.. aku enggak mau yang lain selain kamu.." Ucap Sasuke dengan muka memelas.

"Tapi, Niichan! Enggak mungkin kita berhubungan kayak gini! Kita ini sesama laki-laki! Adik-kakak pula!" teriak Naruto.

"AKU ENGGAK PEDULI SAMA GENDER! AKU JUGA ENGGAK PEDULI SAMA ADIK-KAKAK ATAU APAPUN ITU SEJENISNYA!!" Teriak Sasuke lantang.

Naruto terdiam mendengar teriakan Sasuke.

"Niichan.. aku.."

"Naruto.. kumohon.. terima aku.. aku pasti jagain kamu.. kita.. pasti bisa menutupi hubungan ini di hadapan Okaasan sama Otousan.. karna itu.. Naru.." Ucap Sasuke lagi..

"…" Naruto terdiam..

"Please?" Ucap Sasuke memohon.

"… Niichan…" Ucap Naruto parau..

------------------------------- =_="

CHAP 4-END

------------------------------- =_="

YEY !! selse!

Pendek kah ? pendek ? pendek ?

Gapapa, lah.. Beo mo bikin semua yang baca penasaran soalnya..

Wohohohoho!!!

*digampar semua yang baca*

Adeehh~~ Sasuke nepshong ama ade sendiri !! aww~ aww~

Hahaahhahaha~

xDDDD

ok.. soo~~ Review, please ?

x)