*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
BROTHER
By : Kuroko Neophilina Phantomhive
Disclaimer : Matsui Yuusei
Warning : Typo, OC, OOC, Shounen-ai, Straight, Gaje, DLL
Summary : Ketika Asano Gakushuu harus menerima fakta ia akan jadi kakak dari seorang Akabane Karma, dan begitu pula sebaliknya. Bagaimanakah keseharian mereka?
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
Ruang tengah keluarga Asano kini menjadi tegang, setelah sang Kepala keluarga memerintahkan Gakushu dan Karma untuk berkumpul disana setelah makan malam. 3 gelas coklat panas, tersedia di meja uapnya masih mengebul menandakan itu baru saja dibuat. Merasa diperhatikan oleh dua bocah didepannya Gakuhou pun angkat bicara...
"Ehem...jadi, karena ini urusan yang sangat penting demi keberlangsungan hidup kalian. Otou-sama akan pergi ke Amerika selama 3 hari," ucap Gakuhou, sambil menyederkan punggungnya dibantalan sofa yang empuk.
"Otou-sama, tidak bisakah lewat internet saja?" tanya Gakushuu, menatap serius sang ayah.
"Tidak," jawab Gakuhou tegas, lalu menyeruput coklat panas miliknya dan menaruhnya kembali kemeja.
"Ada keperluan apa memangnya?" tanya Karma penasaran, karena tumben banget nih raja lipan ninggalin tahtanya sebagai kepala sekolah yang ideal.
"Bisinis keluarga, Shina juga akan hadir disana..." jawab Gakuhou, lalu menatap jam dinding yang menunjukan pukul 9 malam. "Sudah malam, lebih baik kalian tidur. Oyasumi..." lanjutnya lalu pergi meninggalkan Gakushuu dan Karma yang terdiam.
Merasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi Karma pun pergi meninggalkan ruang tengah namun pergelangan tangan kanannya ditangkap oleh Gakuhou. "Lepas," titah Karma, tanpa berbalik arah menatap Gakushuu.
"Aku masih menunggu jawaban dari pertanyaan tadi..." ucap Gakushuu dengan nada serius.
Karma pun membalikan badannya dan menatap Gakushuu. "Hah...kau tidak perlu repot dengan peran itu, karena aku juga tidak membutuhkannya..." balasnya, lalu melepas tangannya dengan paksa, lalu melangkah pergi ke kamarnnya.
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
"Hmph! Ngapain juga aku harus benar-benar, menuruti permintaanya!" ucap Asano kesal sambil memukul boneka pinguin warna birunya, lalu merebahkan dirinya dikasur. "Lagi pula, kenapa bisa aku punya sepupu kaya dia!?" lanjutnya lalu mengangkat boneka pinguin biru itu kehadapanya sehingga menghalangi terangnya cahaya lampu pada matanya.
"Tunggu, kalau gak salah..."
FLASHBACK ON
"Happy Birthday, Shuu-chan!" ucap seorang pria berambut merah dengan mata violet sambil tersenyum, sekilas pria itu adalah pria 30 tahunan namun nyatanya kini pria itu sudah berkepala 40.
"Arigatou, Ojii-sama!" balas Gakushuu kecil, yang terlihat amat senang karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Bahkan Ojii-sama dan Obaa-sama-nya sampai datang ikut merayakannya.
"Berapa umurmu sekarang?" tanya sang kakek, sambil setengah membungkuk menyaman tingginya dengan sang cucu.
"5 tahun!"
"Otou-sama, dimana Okaa-sama?" tanya Gakuhou yang kini ikut dalam perbicangan mereka berdua. Sang kakek pun menunjuk kearah istrinya yang sedang membujuk seorang bocah berambut merah keluar dari persembunyiannya, setelah dibujuk sang bocah pun luluh dan perempuan itu pun menggedongnya agar ikut berkumpul bersama yang lain. "Dimana Shina, Okaa-sama?" tanyanya lagi.
Sang ibu pun menghela nafasnya. "Hah...ia sedang ada urusan mendadak, dan menitipkan anaknya." jawabnya, lalu mengubah posisi menggendongnya dengan satu tangan dan atu tangan yang lainnya menyerahkan bungkusan pada Gakushuu. "Shuu-chan, sudah makin besar ya..." lanjutnya lalu mencium kening Gakushuu.
"Dia siapa Obaa-sama?" tanya Gakushuu, sambil memeluk hadiah dari neneknya.
"Dia sepupumu, kau tidak tahu?" tanya sang nenek, dan hanya ada gelengan pelan dari sang cucu. "Ka-chan, beri salam pada sepupumu..." lanjutnya sambil tersenyum lembut.
Sang bocah berambut merah hanya menggeleng dan mendekap sebuah boneka pinguin berwarna pink yang berada diantara dekapannnya dan sang nenek.
Gakuhou pun mendekati sang ibu. "Dengan Ojii-sama saja yah..." tawarnya, lalu sang ibu pun memindahkan bocah berambut merah itu kegendongan Gakuhou.
"Maaf yah Shuu-chan, Ka-channya masih ngambek..." ucap sang nenek lalu mengelus rambut Gakushuu.
"Tidak apa-apa Obaa-sama,"
"Gakuhou, mengapa Shuu-chan tidak tahu kalau dia punya sepupu?" tanya sang ayah, heran.
Gakuhou yang sedang menggedong bocah berambut merah itu pun, tersenyum kemudian menghela nafas. "Shina, hanya berkunjung saat 'itu...seminggu setelah kalian pulang," jawabnya. Yah saat itu...saat, sang istri tercinta pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Kau yakin tidak ingin mencari istri lagi?"
"Tidak, aku masih mencintainya walaupun ia telah pergi untuk selamanya..."
FLASHBACK OFF
"Jangan bilang bocah berambut merah itu, Akabane?" tanya Gakushuu pada dirinya sendiri setalah mengingat kejadian itu. "Akkhh! Sudahlah, lebih baik mempersiapkan untuk ujian masuk SMA.."
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
"Kenapa si lipan itu mendadak perhatian gini?" tanya Karma pada dirinya sendiri, lalu merebakan dirinya pada kasur yang empuk.
'Ini bukan salahmu...'
"Ck, kenapa harus diingat lagi!" ucap Karma frustasi, lalu melempar boneka pinguin berwarna pink yang menjadi barang terdekat untuk dilempar.
"Okaa-sama, sebenarnya apa tujuanmu?"
FLASHBACK ON
"Hiks...ini salahku, kalau saja aku lebih kuat. Aku..aku...hiks..hiks.." ucap Karma yang kini bajunya pernuh dengan darah dari temannya yang sangat berharga.
Shina pun hanya bisa memeluk anaknya, berusaha menenangkannya. Tangannya dengan lembut mengelus punggunng anaknya, menyalurkan ketenangan.
Yah...
Kini mereka sedang berduka atas kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu, dimana Karma yang hampir diculik dan diprkaos dan sang teman yang sudah ia anggap sebagai kakak, menolongnya dan menjadi korban lalu dibawa lari kerumah sakit, setelah seorang polisi yang kebetulan sedang berpatroli melihat kejadian itu dan menangkap para pelaku. Sang keluarga yang mendengar itu pun langsung pergi ke Rumah Sakit yang ditunjuk, semua biaya rumah sakit dan kebutuhan kini ditanggung keluarga Akabane karena, ini bukan masalah berhutang budi melainkan nyawa. Semejak itu Karma mulai mempelajari beberapa tehnik bela diri dan setelah 1 tahun kemudian ia lulus Sekolah Dasar, keluarganya pun kembali menyekolahkan Karma di Jepang.
FLASHBACK OFF
Karma pun berjalan mengambil boneka pinguin pink yang tadi sempat dilemparnya, "Kumohon..."
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
"Dimana Otou-sama dan Akabane?" tanya Gakushuu kepada pelayan yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.
"Asano-sama sudah berangkat sejak subuh, sedangkan Akabane-sama belum keluar dari kamarnya..." jawab sang pelayan itu sambil membungkuk hormat.
Gakushuu pun melirik jam tangannya, "Jam 6, biasanya ia sudah bangun...aku akan mengeceknya," balasnya, lalu melangkahkan kakiknya ke kamar Karma.
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
'Tok..tok..tok...'
'Tok...tok..tok..'
Merasa tidak ada respon, Gakushuu pun membuka pintu kamar Karma yang ternyata tidak terkunci. "Apa ini masih gelap? Akabane kau bisa telat, bangun!" ucapnya lalu menyalakan lampu kamar. 'Masih tidur?' pikirnya, setelah melihat Karma yang berada dalam selimut, ia pun melangkahkan kakinya mendekat dan mencoba membangunkannya, namun yang ia dapat adalah suhu tubuh yang panas.
Gakushuu pun langsung menghubungi dokter pribadi keluarga Asano, dan memanggil para pelayan untuk membantunya. Setelah beberapa menit sang dokter pun datang dan merawat Karma. "Tenang saja ini hanya demam biasa, Akabane-sama hanya perlu istirahat karena banyak pikiran..." ucap sang dokter.
"Syukurlah," ucap Gakushuu, lalu mengelus rambut Karma yang kini sedang tidur dengan nafas teratur tidak seperti sebelumnya yang terengah-engah.
"Kalau begitu saya permisi,"
"Tanaka-san, antar aku kesekolah...kita hampir telat. Kalian tolong jaga Akabane!"
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
"Nurufufufufu...sepertinya Akabane bolos lagi," ucap Koro-sensei setelah mengabsen murid-muridnya. "Nagisa, kau tahu?" tanyanya.
"Tidak tahu, Koro-sensei..." jawab Nagisa, bingung sekalipun ia dekat. Ia tak mungkin tahu kapan dimana sang setan merah berada.
"Kesiangan mungkin!" ucap Terasaka cuek, karena dengan tidak adanya setan merah itu kini tidak adalagi yang mengejeknya.
"Hah? Mana mungkin! Aku berani bertaruh 100 ribu, jika ia benar-benar kesiangan!" ucap Maehara.
'Sreeekkkk'
"Maaf, aku telat Koro-sensei..." ucap Karma yang kini sedang menagtur nafasnya yang terengah-engah, rambutnya yang sedikit basah, syal hijau yang melingkar dilehernya hingga menutupi mulutnya, dan apa itu pipinya yang merah?
"Tidak apa-apa, kenapa kamu telat?" tanya Koro-sensei yang ikut dalam pertaruhan.
"Umm..kesiangan?" jawab Karma, yang sebenarnya lebih kearah pertanyaan.
"YES! JANGAN LUPA JANJIMU MAEHARA!" teriak Terasaka kegirangan, sedangkan yang kalah hanya berdecih.
Koro-sensei dengan senyum lebarnya, pun mempersilahkan Karma duduk dikursinya dan memulai pelajaran.
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
'Tok..tok..tok..'
"Akabane-sama, saya membawakan sarapan untuk an-Akabane-sama!" teriak seorang, pelayan ia ingin memberi tahu Asano-sama tentang menghilangnya Akabane-sama, tapi sudah jam 9 jadi tidak mungkin jika untuk menghubunginnya karena sekolah udah dimulai.
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
"Nurufufufufu...terus lanjutkan, peregarakan kalian sudah mulai bagus~," puji Koro-sensei sambil terus menghindari serangan para murid 3E.
"Nurfufufufufufufufu...Nurufufufufufu...Nurufuf-DUAKKK-GYAHHHHHHHH!" teriak Koro-sensei karena, sepertinya ia tidak sengaja membuat salah satu muridnya terpental. "Gomenasai! Jangan laporkan ini, sensei belum mau dipecat!" ucap Koro-sensei dengan cepat.
Betapa shock-nya mereka ternyata yang terpental adalah sang setan merah dengan aura hitam yang mengelilinginya. "Gyahhh...Karma-kun, gomenasaiiiiiiiiii!" ucap Koro-sensei sambil meminta maaf ala kerajaan jaman dulu (lupa namanya).
Karma pun mendekati Koro-sensei yang sudah banjir keringat. "Tidak apa-apa, Koro-sensei~," ucapnya sambil tersenyum manis, oh..tak lupa background bunga-bunga sedang bermekaran.
'JEGERRRRR'
Siapapun tolong hubungi Rumah Sakit Jiwa!
"A,ano...hontou?" tanya Koro-sensei yang sebenarnya masih shock.
Karma pun menganggukan kepalanya pelan dan mengulurkan tangannya, seperti hendak berjabat tangan tanda permintaan maaf. Koro-sensei pun mulai berbunga-bungan tidak jadi dipecat dan menyambut uluran tangan itu..
'CRAATTTT'
"Hahahaha...kau masih saja tertipu, sensei.." ucap Karma disela tawanya, setelah melihat 1 tentakel Koro-sensei hancur, akibat jebakannya yang menempelkan serpihan senjatanya pada telapak tangannya.
'Ternyata tidak gila...' batin teman-temannya, yang ternyata itu adalah salah satu rencananya.
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
"A,ano...Karma-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Okuda, yang saat ini dikelompokan dengan Karma dalam kelas memasak.
"Hahahha...tidak apa-apa kok," jawab Karma, berusaha menutupi nafasnya yang terengah-engah. Sedangkan tangan kanannya masih sibuk mengaduk adonan.
Tapi, Okuda tidak semudah itu percaya pada setan merah yang menjadi andalan kelas 3E itu, jelas-jelas ia melihat kalau dia sedang terengah-engah, pipinya juga sedikit memerah. Tanpa sadar perempuan berkacamata itu menarik kerah seragam Karma sehingga membuat setan merah itu sedikit menunduk dan Okuda pun menempelkan dahinya didahi Karma.
"Panas," gumam Okuda.
"KYAAAAAAA!"
Teriakan histeris dari sang artis cilik membuat semua yang fokus pada pekerjaan pun buyar dan menatap apa yang membuat Kayano histeris.
"Tidak kusangka, ternyata Okuda itu suka nyerang duluan..." ucap Maehara yang terkejut. "Kukira kau polos.." lanjutnya.
Mendengar itu Okuda pun langsung mendorong Karma hingga jatuh, sedangkan yang didorong hanya sweatdrop . "Bu,bukan seperti itu!" bantahnya dengan muka memerah.
"Ho...lalu apa?" tanya Nakamura, yang udah senyam-senyum karena akhirnya ia punya bahan untuk mengerjai si setanmerah itu dengan menyebarkan adegan yang sempat ia foto tadi.
"A,aku hanya ingin memeriksa keadaan Karma-kun, dia terlihat terengah-engah d,dan dia bilang tidak apa-apa j,jadi...j,jadi..." jawab Okuda terbata-bata karena, malu sendiri dengan perbuatannya tadi.
Koro-sensei pun langsung mendekati Karma dan meletakan satu tentakelnya ke dahi karma dan merasakan suhu yang panas dari kulit yang disentuhnya. "Karma-kun, kau boleh pulang duluan jika kau mau...lagipula sebentar lagi sudah jam pulang. Ada yag ingin mengantarkannya?" tanyanya diikuti oleh semua murid yang mengacungkan tangannya. Siapa coba yang gak mau pulang duluan?
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri..." ucap Karma, lalu melepaskan celemeknya.
"Tidak bisa, ntar kalau kenapa-napa dijalan gimana?" tanya Koro-sensei, yang tadi sempat kekelas mengambil tas milik Akabane dengan kecepatannya.
Karma pun mengambil tasnya dari Koro-sensei. "Tidak us-
'SRETTTTT'
Pintu ruangan dengan kasarnya terbuka oleh sosok pangeran lipan yang saat ini sedang mengatur nafasnya yang tak beraturan.
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
"Hah...syukurlah hari ini bisa pulang cepat," ucap Asano, yang sedang membereskan bukunya dan merasakan handphone-nya bergetar.
'Drttt...'
'Plip'
#Asano-sama, maafkan saya! Akabane-sama hilang!
'DEG'
"Dimana dia sekarang?" tanya Asano panik.
#Sepertinya Akabane-sama berangkat sekolah
"Suruh Tanaka menjemputku sekarang! Biar kuurus dia,"
'Plip'
"Ren, aku duluan ada urusan penting. Kau urus dokumen, sisa kemarin!" titah Asano, sebelum meninggalkan ruangan. Sedangkan yang disuruh merasa bingung, kenapa anak yang katanya selalu perfect itu terlihat panik.
Dengan secapat mungkin Asano, melangkahkan kakinya untuk berlari kearah kelas 3E yang berada digunung.
"Setan merah..."
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
"Asano!" ucap seluruh murid kelas 3E yang kaget kenapa bisa anak kepala sekolah kemari? Oh, dan lihat Koro-sensei sudah bersembunyi entah diamana.
"Mau apa kau kesini?" tanya Terasaka dengan bahasa kasarnya.
Asano hanya menghiraukan jawaban itu dan berjalan kearah Karma, sedangkan Nagisa sudah menghalanginya. "Asano-kun, lebih baik kau tidak buat keributan disini.." ucap Nagisa.
"Aku tidak ada urusan denganmu!" balas Asano ketus, sambil menyingkirkan pemuda berambut biru itu dan langsung menarik lengan kiri Karma. "Pulang!" lanjutnya.
'HAH?' teriak heran anak kelas 3 E dalam hati.
"Lepas lipan!" titah Karma, berusaha melepaskan tangannya. Sedangkan Asano malah makin mencengkramnya dengan kuat.
"Tidak, ayo pulang! Orang sakit itu harusnya dirumah!"
'Kenapa Asano tahu Karma sedang sakit?'
"Tidak mau! Kau itu apa-apaan sih!"
"Kau yang apa-apan! Apa perluku hubungi Otou-sama?"
'Otou-sama? Kepala Sekolah ngapain dibawa-bawa coba?'
"Hah? Hubungi saja, paling kau yang dimarahi dasar lipan!"
"Akhhh! Cepat setan merah!" geram Asano yang udah frustasi, dan masih menari Karma sedangkan yang ditarik balas menahannnya.
"Cepat apaan lipan? Kalau mau boker ya sana! Kemar mandi,"
Entah ada angin apa Asano pun mengeluarkan senyum iblisnya. "Akabane, kau tahukan rumahku ada 'itu'nya? Aku tahu tempat yang paling banyak 'itu'nya, kalau kau tidak nurut kau tidur disana," balasnya, dengan menekankan kata itu dalam artian setan.
Karma pun mulai merinding dan dengan sangat berat hati iya menganggukan kepalanya pelan, dan dibalas dengan Asano yang yang mengusap puncak kepalanya dengan lembut, dan menarik Karma keluar ruangan.
"Siapa pun walikelas kalian, aku minta izin Akabane Karma pulang!" titahnya sebelum keluar dari ruangan.
'INI APA MAKSUD COBAAAA?'
TO BE CONTINUE
*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0*0**0*
Neo : "Yah...akhirnya update, waktunya balas review~"
Ryuuna Hideyoshi
"Ngincar siapa yah? Wkwkwk...mungkin xD"
Maya Akabane
"Ini sayang...^o^/"
Dzehel
"Aku juga mauuuuuuu..."
"Iya, tapi sekarang udah lumayan banyak kok yang kakak-adek,"
Onozuka Mikado
"Hohoho..jidup Asakaru!~"
SNJ
"Sip!"
Asakarushipper
"Iya, salam kenal juga..."
BakaiYamato
"Dewa?" OoO"
Yuukio
"Terima kasih udah baca..."
Review Please...
