Leader N Is Girl?

:V-I-X-X:

:LeoN/Neo-Ken-Ravi-Hongbin-Hyuk:

-fem!N Male!LeoKenRaviHongbinHyuk-

::

Korea

Dorm

Hakyeon menangis di dalam kamarnya saat ini. dia bimbang sekarang, saat dia sadar di hotel ketika di Jepang, CEO Hwang mengatakan agar ia sepulang dari sini siap tidak siap harus mengatakan yang sesungguhnya di hadapan para fans, Starlight, mengaku bahwa ia adalah seorang yeoja. Terlebih lagi, resiko terbesarnya adalah keluar dari VIXX.

"Aku mohon jangan menangis lagi, Yeonnie~" lirih Taekwoon. Namja tampan itu frustasi karena kekasihnya down sampai seperti ini. para member sedang keluar tadi bersama manager hyung.

"Aku belum hiks siap Wooniee belum siap hiks" tangis Hakyeon. Taekwoon memeluknya, merengkuh tubuh mungil kekasihnya. Mengusap lembut surai blonde kekasihnya.

"Kita lakukan perlahan sayang~ kita beri tahu member yang lain dulu, kasihan kalau mereka tahu bersamaan dengan saat kau mengadakan jumpa pers!" usul Taekwoon sembari menenangkan sang kekasih.

"Bagaimana kalau mereka membenciku? Bagaimana kalau mereka tak mau menemuiku lagi? Bagaimana kalau mereka tak menerimaku? Bagaimana hiks Taekwoonnie bagaimana? Hiks" Taekwoon hanya bisa mengusap lembut punggung kekasihnya.

"Aku selalu bersamamu, Yeonnie~ aku selalu bersamamu~" lirih Taekwoon.

.

"MWOYA?!" empat namja tampan itu menatap tak percaya "namja" manis di hadapan mereka.

"K-kau bercanda? M-maksudku? HYUNG! Ini tidak lucu!" ujar Ken menolak kenyataan yang baru saja ia dengar dari bibir mungil leadernya.

"Apa aku terlihat berbong, Jaehwannie?" tanya Hakyeon lirih.

"T-tapi b-bagaimana bisa?" tanya Hongbin lirih. Ravi masih dengan wajah syoknya. Hyuk?

"4 tahun kau membohongi kami?" tanya Hyuk, entah kenapa nadanya terdengar begitu sinis dan sarat kekecewaan. Hakyeon menunduk sedih. Ia tahu kalau reaksi mereka akan seperti ini. Taekwoon menepuk pundaknya lembut.

"Taekwoon hyung, kau tahu tapi kau diam saja? WAH! Jinjja!" Hyuk pergi dari sana dengan setumpuk kekecewaan. Tubuh Hakyeon merosot jatuh saat itu juga.

"Yeon-ah!" Taekwoon dengan sigap menangkapnya, dia memeluk dari belakang kekasihnya.

"Hyung, kau tahu tapi diam saja?" tanya Ravi akhirnya buka suara. Ia kecewa.

"Aku punya alasan, Wonshik!" lirih Taekwoon namun masih bisa di dengar ketiga dongsaengnya. Hakyeon berdiri dan masuk ke kamar, ia kembali menangis. Dia sudah mengecewakan hati empat namdongsaengnya.

"Mianhae hiks mianhae mian mian mian mian hiks"

Taekwoon di luar kamar masih berhadapan dengan tiga dongsaengnya.

"Aku minta maaf, benar-benar minta maaf!" Taekwoon menunduk di hadapan ketiganya, membuat mereka terkejut.

"H-hyung! A-apa yang kau lakukan! B-bangunlah!" ujar Ken sembari menegakkan badan Taekwoon.

"A-apa yang baru saja kau lakukan hyung?" tanya Ravi tak percaya.

"Aku minta maaf atas nama Hakyeon dan diriku sendiri. Tapi seperti yang aku katakan, aku punya alasan. Dan Hakyeon sendiri juga punya alasan kenapa ia seperti ini!" jelas Taekwoon. Namja tampan itu pun menjelaskan dari awal apa-siapa-dan bagaimana Hakyeon bisa bersama mereka.

.

Dorm

Keesokannya keadaan dorm masih belum dikatakan baik, mungkin ketiga dongsaeng mereka masih syok, namun sudah bisa menerima apa yang terjadi, berbeda dengan sang maknae. Namja tampan itu masih merasa dibohongi selama 4 tahun.

"Hakyeon-ah?" Taekwoon memanggil kekasihnya yang tak kunjung bangun. Biasanya Hakyeon adalah orang pertama yang bangun sebelum yang lain bangun.

"Yeonnie? Hakyeonnie?" Taekwoon bangkit dan menepuk pipi kekasihnya yang matanya terpejam enggan terbuka.

"Hak-" perkataannya terputus saat Ravi masuk ke kamarnya.

"Hyung, CEO Hwang datang dan ingin bertemu denganmu dan Hakyeon hyu- nunna!" ujar Ravi. Ia masih belum terbiasa dengan kata "nunna" untuk Hakyeon.

"Katakan aku sebentar lagi keluar!" Ravi mengangguk lalu kembali menutup pintu. Taekwoon kembali menaruh atensinya pada Hakyeon.

"Hakyeon-ah! Hakyeon-ah!" Taekwoon menepuk lembut pipi berisi Hakyeon, namun tetap tak ada respon.

"Ya Tuhan! Dia demam tinggi! Sejak kemarin ia kan belum makan!" Taekwoon panik sekarang. Dia dengan segera mencuci muka dan menggosok gigi, lalu pergi keluar kamar.

"Hyung!" panggil Ken. Taekwoon melambaikan tangannya. Menandakan ia sedang sibuk. Di dapur ia menemukan Hongbin.

"Bin-ah, kau bisa masak bubur?" tanya Taekwoon. Hongbin mengangguk.

"Kalau hanya bubur aku bisa hyung!" jawab Hongbin.

"Masak satu! Cepat, aku akan menemui sajangnim!" titah Taekwoon.

"Eoh? Eh, b-baik!" jawab Hongbin.

"Sajangnim!" panggil Taekwoon. Dia segera duduk di hadapan sang CEO. Tiga dongsaengnya berdiri di belakangnya, ya tiga, Ravi, Ken, dan Hyuk.

"Mana Hakyeon?" tanya CEO Hwang.

"Dia terserang demam!" jawab Taekwoon, membuat tiga dongsaengnya kaget.

"D-demam?" tanya Ken.

"Ne, sepertinya magh yang dideritanya kambuh, sejak kemarin ia tak mau makan!" ujar Taekwoon.

"Dia sudah bangun?" tanya CEO Hwang.

"Belum sajangnim!" jawab Taekwoon.

"Begini saja, kalau Hakyeon sudah sembuh, kita akan mulai jumpa persnya!" ujar CEO Hwang. Taekwoon gusar.

"Sajangnim, apa benar sampai harus keluar dari VIXX?" tanya Taekwoon.

"MWO? KELUAR?!" tanya keempat dongsaengnya, Hongbin yang hendak menghampiri Taekwoon dengan semangkuk bubur dikejutkan dengan perkataan Taekwoon.

"Harus seperti itu, Taekwoon! Ini untuk Hakyeon juga!" ujar CEO Hwang.

"Tak bisakah ada cara lain? Yang membuatnya tetap tinggal? Orang tuanya memutuskan untuk menetap jauh, mereka tidak di Changwon lagi!" ujar Taekwoon.

"Taekwoon, dengarkan aku! Jika Hakyeon tetap di sini, justru akan berbahaya untuknya. Ya kalau fans setuju atau mereka baik-baik saja. Kalau tidak?" Taekwoon mengepalkan tangannya.

"Kita bicarakan lain kali sajangnim. Hongbin-ah, mana buburnya?" Hongbin menyerahkan bubur hangat buatannya pada Taekwoon. Dengan segera namja tampan itu pamit untuk kembali ke kamar.

"Sajangnim? Apa benar Hakyeo hyu- nunna, harus keluar dari VIXX?" tanya Hyuk. Dia syok kemarin, tapi setelah mendengar penjelasan dari Taekwoon dan ketiga hyungnya, ia berpikir ulang.

"Ne, memang seperti itu konsekuensinya! Kalau begitu, aku kembali ke kantor dulu, annyeong~" keempatnya menunduk dan menganta sang CEO keluar dorm.

"Kenapa harus sampai keluar?" lirih mereka, kecuali Hyuk yang hanya terdiam.

.

"Hakyeon-ah?" "namja" manis itu menatap sendu kekasihnya.

"Aku mohon, makan buburnya lalu istirahatlah kembali. Aku tak mau kau jatuh sakit, dan maghmu bertambah parah!" bujuk Taekwoon.

"T-tapi-" Taekwoon menatapnya memohon.

"Hanya beberapa sendok saja, setelah itu minum obat dan vitaminmu lalu istirahatlah kembali!" Hakyeon akhirnya mengangguk setuju.

"Setelah kau tidur, aku akan menemui orang tuamu dan bicara pada keduanya!" Hakyeon menatap terkejut.

"W-wae?" Taekwoon menghela nafas.

"Harus Hakyeon!" Hakyeon menunduk dan kembali memakan buburnya.

"Mian~" lirih Taekwoon, Hakyeon menggeleng.

"Aku yang harusnya minta maaf!" ujar Hakyeon, Taekwoon tersenyum lembut.

"Obat dan vitamin!" minta Hakyeon. Setelah meminum keduanya, Hakyeon kembali istirahat.

"Tidurlah!" Taekwoon dengan setia menemani Hakyeon hingga tertidur, setelah "namja"nya tidur, dia mencium bibir kekasihnya lalu pergi dari kamar.

.

"Mau kemana hyung?" tanya Ken.

"Menemui orang tua Hakyeon!" jawab Taekwoon sembari memakai sepatu.

"Lalu kalau Hakyeon nunna mencarimu bagaimana?" tanya Ravi.

"Katakan padanya, aku akan kembali setelah bicara dengan orang tuanya!" jawab Taekwoon. Setelah selesai.

"Ken, kunci mobil!" Ken dengan segera memberikan kunci mobil.

"Jaga dia, aku pergi dulu! Jangan lupa paksa ia makan!" tiga dongsaengnya mengangguk. Hyuk sendiri masih duduk diam.

"Hati-hati hyung!" Taekwoon hanya mengangguk lalu ia keluar dorm.

'Semoga setelah ini semua baik-baik saja!'

.

.

TBC/END


chap 4nya datang!

hayoo, Hakyeonnya enaknya keluar nggak yaa?

gomawo ne udah nungguin ini ff

ditunggu read review fav dan follownya