Pergi! Hisashiburi!
Hampir aja author lupa melanjutkan fanfic ini!
Habis, selama liburan ini author jadi reader di berbagai fandom yang author sukai!
Dan butuh waktu lama untuk melahap semua fanfic yang tersedia, apalagi fandom Naruto yang sampai beribu-ribu!
Author gak heran kalau mata author maju 1 senti! Bengkak berat!
Selamat membaca!
Semua orang(dan 1 robot) di kedai Tok Aba menatap makhluk gelap yang bertengger dengan anggunnya di langit biru.
"Aduh, gawat. Dia muncul lagi..."keluhan Ochobot menarik perhatian mereka semua. Dengan kompak kepala mereka menoleh ke arah robot kuning tersebut.
"Ochobot, apa maksudmu?"tanya Yaya.
"Yalo, dan kenapa naga itu tiba-tiba muncul? Fang belum melakukan pengisian energi kan?"timpal Ying.
"Begini, kalian ingat saat aku bercerita tentang pertemuan pertamaku dengan Fang? Saat itu dia juga mengeluarkan naga bayang secara tiba-tiba tanpa pengisian energi dahulu. Nah, naga bayang ini terbentuk karena perasaan shok."jelas Ochobot.
"Shok? Bagaimana bisa?"tanya Yaya lagi.
"Prinsipnya sama dengan jam kuasa Gopal, yang menggunakan rasa takut sebagai sumber kekuatannya."
"Jadi begitu, yang pertama Fang shok karena mendapat kekuatan tiba-tiba, dan kali ini Fang shok karena difoto dengan keadaan telanjang. Yah, mengingat betapa tingginya harga diri Fang, itu mungkin sih... .Tapi, aku lihat naga ini tidak sebesar yang pernah kita lihat.."kata Gopal.
"Yah, secara teknis kekuatan naga ini hanya setengah dibanding naga bayang saat datangnya Ejo Jo. Karena itu menahannya mungkin lebih mudah. Tapi-" perkataan Ochobot dipotong oleh Boboiboy.
"Kalau begitu bial naga tanahku menahan naga itu, agal tidak melusak cekital. Boboiboy Gempa. Golem Naga Tanah!"
Kostum kelinci Boboiboy berubah warna, dari putih ke coklat, tanda aktifnya mode Gempa. Disusul munculnya Naga Tanah dari dalam tanah.
"KEJAL! Tangkap DIA!"
Naga Tanah langsung melesat ke udara, hendak menangkap si makhluk hitam. Namun...
Naga Bayang berkelit dengan mudahnya.
"-dia jadi lebih gesit. Akan susah untuk menangkapnya."sambung Ochobot. Dan memang benar, setiap kali Naga Tanah hendap menangkap Naga Bayang, Naga Bayang langsung berkelit dengan cepatnya. Apalagi tubuh Naga Tanah yang memang besar menyulitkannya untuk bergerak cepat.
"Dia kabul lagi! Lakukan cecuatu!"
"Kita harus membuat Fang pingsan! Yaya!"teriak Ochobot seraya menunjuk Yaya.
"Serahkan padaku! Tumbukan Padu!"
Tak ada hasil. Perisai ungu yang mengelilingi Fang melindunginya dari serangan Yaya.
"Tidak bisa! Kita harus menghancurkan perisai itu!"
"Biar aku mencoba. Tukaran makanan!"
Perisai itu tak berubah sedikitpun.
"Kali ini biar aku! Seribu Tendangan Laju!"
Tetap tidak berhasil. Tiba-tiba terdengar seruan dari Boboiboy.
"Aku berhacil menangkapnya! Tapi-ugh, dia telus-menelus belontak!"Ya, memang Naga Bayang itu tidak sehebat Naga Tanah dalam hal kekuatan, namun gerakan cepatnya cukup membuat Naga Tanah kewalahan. Ekor hitamnya berayun dengan cepat, memukul tubuh Naga Tanah dengan membabi-buta.
"Sial! Fang! Sadarlah! Kontrol dirimu!"teriak Ochobot dan dibalas Fang dengan terbata-bata.
"Tolong... Aku.. tak.. bica... mengendalikannya... badanku... cakit... cekali..."
"Ochobot! Gunakan gelombang energi yang pernah kau pakai!"teriak Ying.
"Aku tak berani! Terakhir kali aku menggunakannya, Fang jadi hilang ingatan. Dengan badannya sekarang, aku takut energi ini akan menghancurkan tubuhnya!"
"Aduh .. Lalu bagaimana?" Tanya Gopal panik. Ochobot tampak berpikir sebentar, ketikan matanya tertumbuk ke arah sesuatu di atas meja Kedai Tok Aba.
"Aha! Aku punya ide! Boboiboy, tetap jaga Naga Bayang sebentar! Jangan sampai lewatkan!"
"Baik! Tapi cepat! Aku cudah tidak kuat lagi!"
Secepat kilat Ochobot menuju Kedai Tok Aba, mengambil cangkir Yaya yang berisi coklat panas, dan melesat ke arah Fang. Setelah memastikan jaraknya seaman mungkin, Ochobot menuangkan coklat cair itu tepat di atas jam kuasa Fang.
Mau tanya bagaimana coklat cair itu bisa melewati perisai? Jangan lupakan fakta bahwa coklat Tok Aba merupakan sumber energi terkuat. Dan benarlah, sedetik kemudian jam tangan Fang mengeluarkan percikan-percikan api dan mati. Perisai dan Naga Bayang menghilang, digantikan tubuh mungil Fang tergeletak di tanah. Segera mereka mengerubungi Fang, yang tampak mulai membuka matanya.
"Ugh .."
"Fang! Kau baik-baik saja? Tubuhmu baik-baik saja?"tanya Ochobot bertubi-tubi.
"Ya ..." jawab Fang Lemah.
"Apa kau hilang ingatan? Coba aku siapa?"tanya Ochobot lagi.
"Ochobot .."
"Aku?"
"Yaya."
"Kalau aku?"
"Gopal."
"Aku aku?"
"Ying?"
"Hah.. hah.. kalau aku bagaimana?"tanya Boboiboy terengah-engah. Merangkak dengan cepat memang melelahkan.
"Kelinci teljelek yang pelnah kulihat. Anehnya, seingatku bajumu walna putih."
"Ini karena aku masih dalam mode Gempa tahu. Naga Bayangmu memang menyucahkan. Dan apa maksudmu kelinci teljelek hah?"Boboiboy seketika menonaktifkan mode Gempanya, membuat bajunya kembali berwarna putih.
"Ya deh, telima kacih telah menghentikanku. Kamu juga Ochobot."kata Fang sambil tersenyum, senyum pertama yang ia sunggingkan setelah ia mengecil. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
"Loh, kenapa jam kuacaku mati?"
"Umm.. Fang.. anu.. saat aku mencoba menghentikanmu, aku menyiramkan coklat ke jam tanganmu. Jadinya.. um.. jam tanganmu rusak.."kata Ochobot dengan perasaan bersalah.
Hening sejenak.
Fang melihat jam tangannya.
"APA! BAGAIMANA AKU BELTAHAN HIDUP DALAM TUBUH INI KALAU TAK ADA JAM KUACAKU!"Fang menjerit histeris.
"Tenang Pang, kamu kan macih bica belaktipitas tanpa jam kuacamu .." hibur Boboiboy dan dibalas bentakan dari yang bersangkutan.
"DENGAN TUBUH CEPELTI INI! TIDAK BICA TAHU! BAGAIMANA CALA AKU PULANG KE LUMAH DENGAN KEADAANKU YANG TIDAK BICA BELJALAN! CEKALANG CUDAH HAMPIL COLE!"
"Hmm... betul juga. Nah, siapa diantara kalian yang mau mengantar Fang kembali ke rumahnya?"tanya Ochobot kepada Ying, Yaya, dan Gopal.
"Bagaimana bila kita tentukan dengan batu-gunting-kertas?"usul Gopal yang segera disetujui oleh teman-teman perempuannya.
"BATU-GUNTING-KERTAS!"
Dan keluarlah Ying sebagai pemenang.
"Ye! Aku Menang!"
"Ying, memang kamu sebegitu inginnya mengantar Fang?"tanya Yaya keheranan.
"Hah?"
"Haduh anak ini. Kan yang menang yang bertugas mengantar Fang."kata Gopal sambil memutar matanya.
Hening sejenak(lagi).
"APA! KALIAN TIDAK BILANG!"teriak Ying.
"Hehe... apa iya? Kalau begitu kami lupa."jawab Yaya sekenanya. Sekilas ia melirik Gopal, yang dibalas dengan kedipan mata.
Tunggu, ada yang tidak beres di sini.
"Huh, baiklah. Mari, Fang."seru Ying sambil mengangkat tubuh Fang. Sebelum Fang sempat protes, Ying sudah mengaktifkan kekuatannya.
"LARIAN LAJU!"
"TUNGGU! AKU BELUM MEMBELITAHU DIMANA LUMAHKU!"
0000000000000000
Setelah melalui perjalanan panjang, dan sempat tersasar sedikit (tersasar sedikit kok sampai kutub selatan), akhirnya sampailah Ying di suatu gang.
"Campai cini caja." Kata Fang Tiba-Tiba.
"Eh? Kita kan belum sampai ke rumahmu?"
"Tidak apa-apa. Aku bica belja-makcudku melangkak cendili ke lumah. Kamu pulang caja."Fang segera berbalik dan mulai merangkak. Ying sendiri hanya menghela nafas dan berjalan ke arah yang berlawanan. Tinggallah Fang yang merangkak dengan pelan di trotoar itu. Untunglah keadaan sekitar sedang sepi. Akhirnya sampailah Fang di depan rumah kecilnya. Ia segera merogoh bawah karpet, dan mengambil kunci rumahnya, sampai ia menyadari sesuatu.
Ia tidak bisa mencapai lubang kunci pintu.
Dengan susah payah Fang mencoba berdiri, berharap tangan kecilnya sanggup mencapai lubang kunci, namun sia-sia saja. Sempat terpikir oleh Fang untuk masuk lewat jendela, tetapi ia ingat bahwa semua jendelanya telah dikunci.
"Huh.. benal-benal cucah kalau badan kecil begini.."
"Butuh bantuan?"
Suara nyaring tersebut membuat kepala Fang berputar ke belakang.
"Ying! Kenapa kamu macih di cini?"
"Untuk membantumu lah... nah, ayo kita masuk!"jawab Ying sambil mengambil kunci dari genggaman Fang, membuka pintu, sambil kemudian mengangkat tubuh Fang dan membawanya ke dalam rumah. Fang menggeliat dalam gendongan Ying.
"HOI! TULUNKAN AKU!"
"Jangan bandel. Nah, selamat datang di rumah Fang!"
"HALUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU!"
Ying segera masuk ke dalam rumah Fang, dengan Fang masih dalam gendongannya. Tak tahan dengan Fang yang selalu memberontak di gendongannya, ia meletakkan bayi jadi-jadian itu di sofa.
"Nah, cekalang belitahu aku kenapa kamu macih di cini."tanya Fang judes. Ying hanya menghela nafas.
"Apa kamu selalu bersikap judes bahkan kepada penolongmu?"
"Penolong?"
"Hei, kamu pikir kalau tak ada aku, kamu bisa memasuki rumah ini?"
"Aku tidak pelnah minta kamu untuk menolongku."
"Kamu ini memang keras kepala ya... Begini, Ochobot memintaku untuk menjelaskan kepada orang tuamu tentang perubahanmu ini.. Nah, dimana orang tuamu?"
"Olang tuaku cedang di lual negeli tahu .. Aku tinggal cendili di cini. Kamu tidak pellu menjelackan apa-apa. Cekalang pelgi."
"Apa! Kamu tinggal sendiri! berarti tandanya aku harus menginap!"
"Eh?"
"Dengan tubuhmu seperti ini, kamu tidak akan bisa mengurusi dirimu sendiri! Biar aku membantumu malam ini. Oh ya, pinjam teleponnya ya. Aku hendak memberitahu nenekku tentang hal ini."Ying segera meraih telepon di samping sofa tanpa menunggu persetujuan Fang. Ia berbicara di telepon beberapa menit sebelum menutup kembali telepon diiringi senyum lebar.
"Beres! Nenekku menyetujuinya! Nah, malam ini, aku akan menjadi pengasuhmu! Tidak, pengasuh kedengarannya tidak menyenangkan. Ah! Bagaimana kalau kakak? Aku akan jadi kakakmu hari ini Fang! Coba panggil aku kak Ying!"tutur Ying dengan bersemangat.
Fang sendiri hanya memutar bola matanya. Petualanganmu baru saja dimulai, Fang..
00000000000000000000000
"Hmm.. harus kuakui keadaan rumah ini lebih bersih dari yang aku duga.."gumam Ying sembari menatap seisi rumah Fang.
"Tentulah, begini-begini aku cukup pandai belcih-belcih tau.."jawab Fang dengan bangga yang malah memunculkan perempatan siku-siku di dahi Ying.
"KALAU KAU SEBEGITU pandainya BERSIH-BERSIH, KENAPA KAMU TIDAK merapikan KAMAR tidurmu dan MENCUCI BEKAS SARAPANMU SEBELUM BERANGKAT SEKOLAH!"
"Mau bagaimana lagi, tadi pagi aku bangun keciangan, jadi aku telbulu-bulu dan tidak ada waktu untuk membeleskan itu cemua..." jawab Fang acuh tak acuh.
"BUKAN HANYA ITU! MEJA, KURSI, PIGURA, KOLONG MEJA, KOLONG KURSI, SEMUA PENUH DENGAN DEBU! APA KAMU HANYA MEMBERSIHKAN LANTAI DAN RUANGAN YANG BISA KAMU LIHAT!"oke, kali ini Fang sudah muak. Ini rumahnya, jadi sah-sah saja Fang melakukan apapun di rumahnya. Ying ini, tidak seharusnya menceramahinya tentang cara bersih-bersih di rumah Fang sendiri. Hei, Fang memang telah berubah jadi bayi, tapi bukan berarti dia berubah jadi wanita!
"Hei, Ying! Dalipada kamu telus mengoceh tentang belcih-belcih, lebih baik kamu caja yang membelcihkan lumahku!"
Ying tampak berpikir-pikir sebentar.
"Betul juga. Baiklah, saat ini, biar kak Ying yang membereskan rumahmu. Kamu bisa menunggu di sini sambil-"
KRUUKK ~
"Itu bukan aku."
"-mengisi perutmu dengan sesuatu. Nah sekarang mari kita lihat apa yang kamu punya.."kata Ying sambil melihat-lihat isi kulkas.
"Aha! Ini susu coklat. Nih, silahkan diminum."seru Ying sambil menaruh sekotak susu coklat ke pangkuan Fang, yang segera diminum dengan lahap oleh Fang. Sementara itu, Ying memulai aktifitasnya seperti membersihkan piring, merapikan kamar Fang, dan lain-lain. Sementara itu, Fang hanya mengawasi pergerakan Ying sambil menyeruput susu coklatnya.
2 jam kemudian ...
Seluruh bagian rumah Fang berkilat-kilat. Agaknya Ying tidak melewatkan bagian rumah manapun sebagai sasaran tangannya. Fang sendiri, harus mengakui bahwa rumahnya tampak lebih bersih dan lebih indah dibanding sebelumnya.
"Hmm .. belcih cekali .. kelja Bagus Ying!" Puji Fang tulus.
"Tentulah, biarpun aku tomboy begini, aku pintar bersih-bersih, berkebun, pokoknya di masa depan aku pasti jadi istri yang ideal!"ujar Ying dengan bangga. Fang yang masih terkagum-kagum secara spontan menjawab.
"Iya, aku jadi ingin menikahimu saat becal nanti agal lumahku bica belcih celalu.."
"..."
Fang ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok sekarang atau menjahit mulutnya. Pikirannya dipenuhi dengan kalimat mati aku, mati aku, mati aku.
"Eh .. Ying .. anu ... Bukan makcudku .."
Di luar dugaan Ying tertawa sambil menjitak kepala Fang dengan lembut.
"Eit kamu ini... kecil-kecil sudah mikirin pernikahan. Nah kemarikan sini kotak susunya, biar kakak buang.."
Ying segera menuju tempat sampah dengan ringannya, ucapan Fang tadi sama sekali tidak ia anggap serius. Fang sendiri hanya menghela nafas lega.
"Aku tidak cuka dianggap anak kecil, tapi setidaknya dia tidak calah paham..."gumamnya pelan.
0000000000000000000
"Nah sekarang waktunya mandi!"teriak Ying bersemangat ke arah Fang yang masih serius menonton TV.
"Waktu mandi?"Fang mengerutkan alis keheranan.
"Iya! Lihat badanmu! Bau sekali! Kamu perlu mandi!"
"Ying, bau badan itu dicium, bukan diliat."
"Ya maksudku itulah. Sekarang kamu harus mandi!"
"Aah~ Malas Ying.. Lagi celu-serunya nih... Lagipula aku tidak punya baju ganti.."
"Soal baju ganti gampang. Sekarang yang penting kamu mandi.."
"Kan aku cudah bilang kalau aku malas.."
"Kalau kamu masih malas, bagaimana kalau aku mandikan?"
"..."
"A-aku akan mandi cekalang."
Secepat kilat Fang merangkak menuju kamar mandi diikuti Ying yang tersenyum di belakangnya.
Sesampainya di kamar mandi...
Fang segera merangkak ke dalam dan menutup pintu. Terdengar suara penuh ancaman dari dalam kamar mandi itu.
"Jangan belani-belani kamu mengintip Ying, atau kamu akan lasakan akibatnya.."
Ying hanya tertawa pelan.
"Hmph, apa yang bisa kamu lakukan dengan tubuh kecil begitu? Tapi ya deh, aku tidak akan mengintip. Sekarang buka pintunya dan berikan bajumu, biar aku cuci."
Hening melanda tempat itu sejenak.
"A-aku tidak bisa meraih kenop pintu.."
Ying memutar bola matanya.
"Dasar, nih kubuka sedikit, nah sekarang sodorkan bajumu dari celah ini."
Dari celah pintu kamar mandi terulur tangan kecil yang memegang sehelai baju kucing biru.
"Anak pintar. Biar kucuci baju ini. Bagaimanapun baju ini milik sekolah."ujar Ying seraya mengambil baju dalam genggaman Fang.
"Hey, memang kamu cudah tahu dimana mecin cuci? Dan cala pemakaiannya?"tanya Fang heran.
"Kutemukan saat bersih-bersih tadi. Tenang saja, mesin cucimu sama persis dengan mesin cuci di rumahku. Pasti aku bisa menggunakannya. Nah, aku akan mengambil baju-baju bayiku di rumah, agar bisa kau pakai. Selamat mandi!"Ying menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
"HEI! MAKCUDMU AKU HALUS MEMAKAI BAJU PELEMPUANMU! YANG BENAL CAJA!"protes Fang, namun sia-sia karena Ying sudah terlanjur pergi. Fang pasrah, dan merangkak ke bagian dalam kamar mandinya. Ia hendak memulai mandinya sebelum ia(lagi-lagi) baru menyadari sesuatu.
Dengan tubuhnya sekarang, ia bahkan tidak bisa menjangkau keran shower.
Dan sialnya, semua peralatan mandinya seperti sabun, handuk, dan sikat gigi berada di tempat yang tinggi.
Terkutuklah Adu Du dan segala perbuatannya
Haah... sekarang dengan terpaksa Fang hanya bisa duduk di lantai kamar mandi yang dingin dengan keadaan telanjang, menunggu Ying untuk membukakan pintu untuknya. Bagaimana kalau bagaimana kalau Ying baru muncul berjam-jam kemudian? Bagaimana jika dia kedinginan dan masuk angin? Pemikiran buruk menari-nari di benak Fang, sampai tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka lebar dengan Ying memasuki kamar mandi dan memindahkan letak semua peralatan mandi serta membuka keran shower. Fang yang terkejut mematung cukup lama sampai akhirnya ia menyadari keadaannya yang masih TELANJANG. Secara spontan Fang menutup bagian bawah tubuhnya dengan muka memerah.
"Ying! BELANINYA KAMU MACUK KE CINI!"
"Loh, memang kenapa? Kalau tak kubantu, kamu tidak akan bisa mandi lho..."
"YA CETIDAKNYA KETUK PINTU DULU! AKU CEDANG TELANJANG!"
"Memang kenapa? Tidak ada yang bisa dilihat di punyamu,kok. Lihat, kecil begitu."
JLEB! Rasanya ada panah imajiner yang menembus dada Fang. Ying yang melihat Fang pundung menyeringai dan meninggalkan kamar mandi sembari bergumam.
"Hehe... satu sama."
000000000000000000000
"Fang, bagaimana kalau yang merah ini?"
"TIDAK."
"Biru?"
"TIDAK."
"Ungu bagaimana? Ini warna kesukaanmu kan?"
"TIDAK."
"KAMU MAUNYA APA SIH! SEMUA WARNA TIDAK MAU!"
"AKU TIDAK PEDULI WALNA APA ACALKAN BUKAN GAUN, BODOH!"
Ya, mereka saat ini sedang memilih-milih baju bayi milik Ying yang bisa dipakai oleh Fang. dan sialnya, hampir semua baju Ying itu berbentuk gaun.
"Ini karena aku itu anak perempuan satu-satunya dalam keluargaku, jadi ibuku mengharapkanku agar feminim.."
"Yang cepeltinya gagal."
"Berisik. Nah bagaimana kalau yang ini. Ini kaus, dan punya pasangan celananya."
"Tapi itu-"
"Jangan banyak bicara dan cepat ganti bajumu."
Beberapa menit kemudian...
"Ying, apa kamu belcanda?"
"Kenapa? Cocok kok!"
"APA MAKCUDMU!"
Memang kenapa sih dengan baju yang dipakai Fang sekarang? Biar kudeskripsikan.
Baju warna merah dengan celana merah.
Polos, tanpa hiasan, renda, atau pita.
Normal bukan? Namun di tengah baju itu ada tulisan:
KATA MAMA, AKU ANAK YANG PAAAAALING CANTIK DI DUNIA!
Totally absurd.
"Jangan protes. Nah sekarang ayo makan! Aku sudah memasakkan bubur beras merah untukmu!"ujar Ying riang sedangkan Fang masih melihat bajunya dengan tatapan horor. akhirnya mereka berdua sampai di ruang makan.
"Aku tidak tahu kamu bica memacak.."kata Fang saat disodorkan mangkuk berisi bubur lembut berwarna merah.
"Gampang kok. Sekarang aa..."ujar Ying sambil mengacungkan sendok berisi bubur.
"Aku bisa makan sendiri."
"Jangan ngeyel! Brm! Pesawat mau mendarat! Tolong buka bandaranya!"
"Ying, Aku Bukan a-UMP!"
"Berhasil! Pesawat kedua hendak mendarat!"
Fang tampak melumat bubur di mulutnya.
"Enak! Kamu pintal memacak lupanya! Apa recepnya?"
"Resepnya hanya air putih hangat dan bubur Ne**le."
"..."
"KAU MEMBELIKU MAKANAN BAYI BENELAN!"
"Kenapa? Toh kamu memang bayi."
Fang akhirnya merelakan dirinya disuapi makanan bayi oleh Ying. Lagipula, rasanya memang enak kok...
000000000000000
"Sekarang saatnya tidur!"
"Ying, Yang benal caja. INI balu jam 8!"
"Hush, bayi tidak boleh tidur larut malam!"ujar Ying sambil menggendong Fang menuju kamarnya.
"Tulunkan aku!"
BRUK! Fang dihempaskan ke kasurnya.
"Nih sudah kuturunkan. Nah, selamat tidur..."ujar Ying sambil menyelimuti Fang dan berbaring di sebelahnya. 15 menit berlalu. Fang yang berbaring memunggungi Ying terus-menerus menggerakkan tubuhnya.
"Kenapa? Tidak bisa tidur?"
"Aku tidak pelnah tidul sedini ini tahu!"
"Lalu... mau kunyanyikan lagu tidur?"kata Ying sambil mengubah posisi Fang sehingga kepala Fang menghadap ke arahnya. Satu tangannya menepuk-nepuk punggung Fang pelan sambil mulutnya mulai bernyanyi.
Dear Fang, Pi juan lio
Bi shang yan jing kuan Shui jiao
Shui de zhao shen ti hao
Dear Fang ge hao shi bao bao Fang
Ying menatap sosok di pelukannya. Tampak matanya telah tertutup dengan mulut membuka. Ying tahu bahwa Fang telah tertidur. Ia mendekatkan kepalanya ke dahi Fang dan...
CUP!
Mencium kening Fang pelan. Kemudian ia mengelus kepala kecilnya sambil bergumam.
"Selamat tidur, bayi kecilku.."
Ying mengeratkan pelukannya dan menyusul Fang ke alam mimpi.
Sayangnya Fang tampaknya tidak mau disusul. Ia segera membuka matanya, terbelalak. Pipinya memerah tatkala mengetahui betapa dekatnya jarak antara muka mereka berdua.
Sepertinya Fang tidak akan bisa tertidur malam ini...
TBC
Kya! Akhirnya aku bisa bikin fic pairing FangYing!
Tapi... ROMANCEnya kagak dapet!
Heran deh, kenapa sih pas liat fic romance author lain kelihatannya baguuss banget, eh malah pas buat sendiri ancur-ancuran.
KENAPA! KWENAPHUA!*guling-guling* *ditendang*
For the last word.. Review please!
Preview:
"Aku cudah tidak kuat lagi.."
"Cabar .. kau tahu, ada pepatah mengatakan kalau kamu mencintai ceolang wanita, cintai juga anjingnya .."
"Hei! Adiknya Yaya bukan anjing!"
"Belalti kamu cuka Yaya?"
"Ugh ..."
