Chapter 4. Past Story

Until You

Cast:: park chanyeol/byun baekhyun/park sehun a.k.a oh sehun/kim jongdae/do kyungsoo/kim jongin and other cast

Pairing:: chanbaek, chensoo, sehun/jongin

Desclaimer:: all casts belong to their self and god but this story is mine

Warn:: Yaoi, Typo, AU, OOC, minim discrip... so DLDR... no siders please~

S and J

Enjoy


"Jongin? Ada apa?" tanya nya

"Urmm,"

Mendapat gumaman tak jelas seperti itu membuat Chen semakin penasaran. Ada apa dengan putra imutnya ini?

"Hey, lihat appa. Jongin ah, ada apa eum? Bilang pada appa, apa yang mengganggumu?" tanya Chen lagi dengan sabar setelah berhasil melihat wajah sang anak yang sekarang terlihat cemberut imut. Ugh, kenapa dia bisa punya anak seimut ini? Dengan gemas ia pun mencium kilat pipi tembem sang anak.

"Appa!"

"Hehe.. sekarang jawab, ada apa eum?"

Melihat sang anak yang terlihat ragu menjawab, dengan sabar di elusnya rambut lembut Jongin. "Gotjimal," gumam Jongin pelan membuat sang appa menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"

"Appa bohong!. Appa bilang anak sahabat appa kulitnya tidak putih dan tidak tampan! Appa bilang anak sahabat appa itu lucu seperti Jongiie.. tapi-tapi, itu… ugh..." Jongin kembali mengenggelamkan wajahnya yang sekarang sudah merah menahan malu. Ia marah dan malu karena melihat anak sahabat sang appa tak seperti yang diceritakan Chen. Ia jadi malu sendiri dengan warna kulitnya yang tak putih. "Uggh…." Keluhnya kesal. Jemari mungilnya mencengkram kemeja putih Chen.

Mendengar alasan Jongin membuat Chen menaikkan sebelah alisnya. Sejenak ia terdiam sebelum kekehan geli keluar begitu saja di bibir tipisnya disusul sebelah tangannya yang mengusap lembut rambut Jongin. Mengerti apa yang di katakana sang anak, iapun berucap. "Khekeke jadi kau malu? Sepertinya kau melupakan kata-kata umma, eum?" ucapnya gemas.

Perlahan Jongin kembali mengangkat wajahnya dan menatap sang appa, dengan bibir yang mengerucut imut ia bertanya, "Kata-kata umma?" "Ne, kata-kata umma tentang jangan malu dengan apa yang kau miliki. Penampilan jelek, cantik atau tampan bukan halangan untuk mendapatkan teman baru. Jongin ingin punya teman kan?" jelas Chen pelan. Menatap kedua bola mata yang menampilkan bias polos. Mata bulat lucu, mirip dengan sang istri.

Namja mungil itu terlihat memikirkan perkataan sang appa, mengingat kembali perkataan sang umma yang selalu mengatakan dia tidak boleh malu dan harus percaya diri dengan apa yang dia miliki. Mempunyai kulit yang tidak seperti kebanyakan anak-anak yang lain tapi dia memiliki kelebihan, wajah yang imut?

Baekhyun yang memperhatikan interaksi antara Chen dan Jongin, entah kenapa membuat ia sedikit iri. Chen terlihat begitu sangat menyayangi Jongin. Ehem. Bukan ia dan Chanyeol tidak menyayangi Sehun, tapi… Chanyeol...

Aah… kenapa ia jadi merindukan suami tingginya itu?

"Tapi dia putih sekali appa…" gerutuan Jongin kembali membuat Baekhyun menatap bocah manis di depannya.

"Memangnya kenapa kalau aku putih?" Tanya Sehun tiba-tiba membuat Jognin sedikit tersentak mendengar nada datar yang digunakan Sehun. Mata bulatnya menatap bocah laki-laki yang sepertinya lebih tua darinya.

"Ung? It-itu… kulit Jongin tidak putih sepertimu,"

"Tapi kau imut,"

Jawaban cepat Sehun membuat dua namja dewasa di sana sontak menaikkan alis mereka. Merasa sedikit janggal dengan ucapan bocah dengan kulit kelewat putih itu.

Merasa ditatapi, Sehun pun kembali bicara. "Aku benarkan? Umma, anak itu lucu thekali, kulitnya coklat! Aku jadi ingin makan coklat!" ucap Sehun polos membuat Baekhyun dan Chen jadi gemas sendiri setelah mengerti apa yang di katakan bocah tampan itu.

"Ne~ kau benar sayang. Jongin benar-benar imuuutt…" sahut Baekhyun

"Anniii... Jongin tidak imut! Jongin itu tampan~ ya kan appa?" seru Jongin tidak terima di bilang imut. Huh, aku ini tampan seperti appa, eh

"Hehe... ne Jongii imut dan tampan! Jadi, Sehun ah, berapa umur mu sekarang?" tanya Chen mengalihkan perhatian mereka.

"7 tahun. Umur ku tujuh tahun, ahjusii," jawab Sehun semangat tak lupa senyum andalan nya. Senyum lebar yang selalu di ajarkan sang appa. Membuat bocah itu terlihat tampan.

"Oh, benarkah? berartri kau dua tahun lebih tua dari Jongin," ucap Chen. Ah kalau dipikir-pikir Baekhyun langsung hamil ya setelah beberapa bulan mereka menikah. Hebat juga Chanyeol, pikirnya.

"Aku tak menyangka. Chanyeol hebat juga," ujar Chen pelan namun masih dapat didengar Baekhyun, membuat namja manis itu sedikit menaikkan alisnya. "Maksud mu?" "Ah. Tidak- tidak apa-apa. Umm… aku tak melihat suami mu, Sehun ah dimana appa mu?" Tanya Chen

"Appa? Molla," jawab Sehun ogah-ogahan. Raut wajahnya kembali datar saat Chen bertanya tentang Chanyeol. Ughh, sepertinya Park kecil ini masih kesal dengan sang appa.

Baekhyun hanya bisa menghela napas saat tau Sehun akan menjawab seperti tadi. Ia melirik Chen dan jelas raut bingung di wajah sang sahabat. "Dia sedang pergi kerja," jawab Baekhyun.

"Kerja? Di hari minggu? Rajin sekali dia,"

"Chanyeol bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang kkonstruksi, sebagai arsitek

dia harus pergi ke pabrik untuk memantau pekerjaan di sana. Yah, walaupun di hari libur seperti ini. Aku harap kau tak lupa dengan harapan -harapan kita dulu." Jelas Baekhyun. Chen hanya mengaggukkan kepalanya mendengar penjelasan Baekhyun.

Ia jadi teringat saat dulu mereka bercerita tentang harapan dimasa mendatang. Mereka akan bekerja sesuai keahlian mereka masing-masing. Ia yang ingin menjalankan perusahaan keluarga Kim, Baekhyun yang ingin menjadi desainer dan Chanyeol yang ingin mengembangkan keahliannya menjadi arsitek yang handal. Dan itu semua terwujud dengan usaha mereka sediri.

Dan Chen tak menyangka, Baekhyun dan Chanyeol dapat bertahan hingga seperti sekarang. Selalu bersama bahkan mereka juga dikaruniai seorang anak yang sangat tampan seperti Sehun.

Chanyeol-ah, sepertinya aku harus berterimakasih padamu, batinya.

.

.

.

Tak terasa sore sudah menjelang, Sehun dan Jongin yang memilih bermain di halaman belakang setelah makan siang –dengan memaksa dua tamunya untuk makan siang kembali- sedangkan Baekhyun dan Chen, mereka memilih kembali duduk saling berhadapan di ruang tengah. Entah apa yang akan mereka bicarakan untuk saat ini. Jujur, Baekhyun ingin sekali bertanya pertanyaan yang sedari tadi menyesak ingin dikeluarkan dari kepalanya, sedikit membuat ia pusing. Tapi namja manis itu tak tau apa yang akan ia tanyakan. Ia tak tau harus memulai dari mana.

Chen, tanpa melihat sosok di depannya itu, paham akan apa yang ingin di bicarakan. Sesaat ia menghela napas, perlahan menatap mata indah yang dulu selalu ia lihat. "Kau mau aku bercerita dari mana, Baek?" mulainya.

"Kau tau harus dari mana," ujar Baekhyun pelan dan terkesan dingin. Tak ingin membalas tatapan Chen.

"Ummh, yah. Bagaimana kalau saat aku pergi? Kalau tidak salah waktu itu aku sudah bilang padamu dan Chanyeol kalau aku akan tinggal di China. Aku akan tinggal bersama Minseok hyung dan Luhan hyung,"

"Tapi seminggu setelahnya kau kembali. Dan saat aku dan Chanyeol ingin menemuimu lagi kau malah menghilang. Kau juga mengganti nomor mu! Dan kau tau, aku seperti orang gila saat kau pergi tiba-tiba dan tak ada kabar satupun! Bahkan Chanyeol juga mendiamkanku selama seminggu penuh sebelum pernikahan kami! Kau-"

"Maafkan aku."

"Aku tak mengerti..."

Baekhyun tak tau harus berkata apalagi. Semua yang ia pikirkan sekarang hampir semuanya ia katakan. Ia tak tau bagaimana raut wajahnya sekarang. Ia merasa panas, sedih, bingung dan marah dalam satu waktu. Seakan ia akan meledak saat itu juga. Matanya memanas, siap menurunkan liquid bening di pelupuk matanya yang entah sejak kapan terkumpul.

Sungguh, Baekhyun tak ingin menjadi cengeng dan emosian seperti ini. Tapi mengingat masalalu yang selamanya tak akan pernah hilang dalam ingatanya, membuat namja manis itu tak tahan untuk meluapkan perasaannya.

Ia hanya bisa menatap mata sipit yang tersirat akan rasa bersalah itu. Bersalah, huh?

"Maafkan ku, Baekhyun-ah. Maaf membuat mu marah dan bingung seperti ini. Aku- kau dan Chanyeol, kalian berdua waktu itu..." Chen terlihat sulit untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya waktu itu. Ia tau alasan yang akan ia katakan terdengar kekanakan. Tapi ini menyangkut perasaan dan kebahagian orang yang ia sayangi. Dua sosok yang dulu selalu menemaninya. Dan seseorang yang dulu selalu mengisi hati dan pikirannya.

"Apa?"

Baekhyun bertanya pelan. Masih menatap mata yang terlihat seperti rubah itu ingin tahu. Menuntut sesuatu yang mungkin bisa meredakan berbagai perasaan tak menentu dalam hatinya.

"Setelah seminggu aku kembali ke Korea, aku mendengar kabar bahwa kau dan Chanyeol akan segera menikah. Itu terlalu tiba-tiba untuk ku. Dan entah apa yang membuatku tak ingin lebih lama tinggal di sini dan memilih pergi ke Beijing dan menetap disana. Aku... hanya tak ingin mengacaukan pernikahan kalian karena kehadiranku. Ak-"

"Apa maksudmu, kau akan menghancurkan pernikahanku? Justru aku sangat berharap kau hadir di hari yang sangat berarti dalam hidupku!"

"Kau tak mengerti,"

"Apa yang tak kumengerti? Jawab aku Kim Jongdae!"

"Aku hanya tak ingin lebih terluka saat orang yang aku cintai bersanding dan menjadi milik orang lain! Bukan menjadi milikku..."

Seketika ruangan itu hening. Bahkan untuk bernafaspun mereka seakan terjerat. Kata-kata yang tak ingin ia ucapkan seumur hidupnya harus ia keluarkan juga. Chen sudah tak tahan akan rahasia yang sedari dulu ia simpan rapat untuk dirinya sendiri –dan Minseok serta Luhan-. Tak ada satupun yang tau kecuali Chanyeol. Seseorang yang menganggap dirinya rival, musuh atau apalah itu hingga membuat ia dan namja tinggi itu dulu sering bertengkar. Bahkan mereka pernah berkelahi hanya karena ia lebih dekat dengan Baekhyun dan banyak menghabiskan waktu bersama. Tanpa Chanyeol, yang entah sejak kapan ia telah jatuh hati pada sosok manis Baekhyun.

Baekhyun hanya terdiam. Tak mampu berkata-kata. Raut wajah terkjut tercetak jelas di wajah manisnya. Bibir mungilnya sedikit terbuka menadakan ketidakpercayaan atas apa yang ia dengar. Huh? Dia bilang mencintaiku? Ckh, kau ingin mempermiankanku Kim?

"Huh? Cinta? Kau ingin mempermainkanku Kim?"

"Tidak, Byun."

"Lalu apa maksudmu kau mencintaiku, huh?! Kau-"

"Kau yang selama ini tak sadar dan peka terhadap apa yang kulakukan padamu, Baekhyun. Tapi ini juga bukan sepenuhnya salahmu. Aku yang terlalu bodoh, hanya memendam perasaan bodoh ini tanpa berterus terang padamu." Potong Chen, menatap Baekhyun sendu. Ia juga merasakan sakit dan bersalah secara bersamaan. Membuat ia telihat frustasi dan kacau jika mengingat masa lalu. Ya... itu semua masa lalukan?

"Dan aku juga tak ingin menghancurkan persahabatan kita dan memuat Chanyeol semakin membenciku. Laki-laki itu terlalu mencintaimu. Kau juga bilang kalau kalian sempat bertengkar saat kalian akan menikah. Pergi dan menghilang adalah satu-satunya jalan yang terlintas dipikiran ku saat itu, Baek..." lanjut Chen.

Kembali, suasana hening menyelimuti mereka. Rasa yang dulu di dalam hatinya kembali muncul dan membuat Baekhyun terdiam seribu kata. Ia tak menyangka, orang yang selama ini, seseorang yang sejak pertamakali ia temui di bawah pohon ditepi danau. Seseorang yang menarik perhatiannya dengan suara indah saat laki-laki itu bernyanyi. Senyum menawan yang membuat ia ingin selalu melihatnya. Rasa yang tumbuh begitu saja tanpa ia hendaki. Tanpa ia sendiri sadari hingga orang itu, seseorang yang mengenalkannya apa arti 'rasa' itu membuat ia mengerti.

Cinta tulus yang diberikan Chanyeol, membuat ia tanpa sadar salah mengartikan rasa yang ia pendam pada sang sahabat. Tersadar bahwa cinta yang pertamakali ia rasakan adalah saat bersama namja pemilik suara indah itu dan ia juga tak bisa menolak hati yang ditawarkan dengan tulus oleh seseorang yang sekarang telah menjadi milik'nya'. Ia milik Chanyeol. Bukan milik Jongdae.

Keterdiaman Baekhyun sedikit membuat Chen merasa bersalah. Dan itu terasa mengganggu perasaannya.

"Hey, jangan terlalu memikirkannya, Baek-ah. Kau tau, semua itu hanya masalalu. Yang berlalu biarlah berlalu. Walau rasa itu, mungkin tak akan pernah hilang tapi... kau sudah bahagia dengan Chanyeol. Itu tak akan merubah keadaan, kan?"

Kembali. Ia hanya terdiam mendengar ucapan Chen. Masih enggan untuknya membalas kata-kata namja dihadapannya ini. Walaupun senyum yang ditampilkannya tiba-tiba saja membuat hatinya lebih tenang. Senyum lembut yang ia rindukan. Perlahan ia juga tersenyum, "Kau benar. Semua itu masalalu. Masalalu yang masih sulit untuk ku lupakan, Dae..."

"Aku yakin, kaupun tak menyadari perasaanku sehingga kau begitu bodohnya merelakanku untuk Chanyeol. Dan aku juga bodoh karena begitu terlambat menyadari perasaan itu. Tapi.. tak apalah, yang berlalu biarlah berlalu. Yang terpenting, sekarang aku tau kenapa kau tiba-tiba menghilang begitu saja."

Ucapan Baekhyun sedikit membuat rasa bersalah didalam di Chen hilang. Ia akhirnya bisa bernafas lega dan beban yang selama ini ia rasakan dapat ia rasakan berkurang. Haah... ia tak menyangka, memberikan penjelasan seperti ini membutuhkan tenaga yang tak sedikit/?. Tiba-tiba ia merasa haus?

"Err, Baek? Bolehkah aku minta segelas minuman?"

Permintaan Chen membuat sebelah alis Baekhyun terangkat. Suasana tenang yang ia rasakan tadi entah kenapa terasa awkward dan aneh. Ckh, kenapa ia bisa berkata seperti itu? Benar-benar mengacaukan suasana saja.

"Hey, aku bilang boleh aku minta air minum? Kau tau, rasanya aku mulai dehidrasi setelah berbicara pajang lebar dengar mu," ucap Chen lagi tanpa melihat Baekhyun. Bahkan namja itu terlihat menyamankan duduknya dengan bersandar pada sandaran sofa, membuat Baekhyun tiba-tiba jengkel dengan tingkah sang sahabat yang menurutnya tak pernah berubah.

"Dari dulu sampai sekarangpun kau tak berubah, Kim. Tetap menyebalkan. Huh!" kesal Baekhyun. Namun ia tetap beranjak dari duduknya dan berjalan kearah dapur. Chen tersenyum geli melihat tingkah Baekhyun yang juga tak pernah berubah dimatanya. Ya, Baekhyun-nya tak pernah berubah.

.

.

.

"Haah.. aku tak menyangka. Mencari dua ekor hewan berisik ini membutuhkan waktu tiga jam lebih, ckh! Kalau bukan Sehun yang meminta pasti yang aku bawa sekarang adalah bebek panggang. Ah tidak, bebek peking terasa lebih enak dan mewah. Haah... menyebalkan~"

Gerutuan terus mengalir dari bibir uhuksexyuhuk Chanyeol sesaat setelah ia memasuki halaman rumahnya. Tapi ia tiba-tiba berhenti berjalan saat ia melihta mobil lain yang terparkir tepat di sebelah mobilnya. Kenapa ia baru sadar kalau ada mobil lain terparkir di sini?

Hah... ia terlalu lelah memikirkan siapa dan bagaimana mobil itu bisa berada di halaman rumahnya dan memilih masuk dengan meneteng tas kerja di tangan kanan dan sebuah kotak yang bertuliskan 'Pet Store' dengan gambar hewan sebagai hiasnya. Terdengar suara hewan dari dalam kotak itu. Hewan yang menjadi alasan kenapa namja tampan itu merutuk sedari ia pulang dari pabrik tempatnya bekerja.

Setelah membuka pintu depan –ia terlalu malas memanggil sang 'istri' untuk membukakan pintu- iapun berjalan memasuki ruang tamu dan terus berjalan hingga kaki-kaki panjangnya membawanya ke ruang tengah.

Tunggu. Kepala siapa itu? Warna rambutnya hitam. Seingatnya rambut Baekhyun berwarna light brown bukan hitam. Lalu itu siapa? Tidak mungin Sehun kan? Sehun kan rambutnya juga hitam.

Semakin ia melangkah semakin ia penasaran. Dan tepat saat itu juga Baekhyun datang dari arah dapur dan mata indahnya menangkap kehadiran Chanyeol tepat di belakang Chen yang tak menyadari seseorang tengah berjalan di belakangnya.

Dan saat itu juga mata sipit dengan hias eyeliner yang membuat mata itu terlihat semakin indah membesar. Oh! Apa yang akan terjadi setelah ini?

Tbc...

.

.

.


Hello!hello!

Saya tak menyangka masih ada yang mau baca cerita ini. Mwehehe... GomawooO~

Yah walaupun hanya beberapa yang me-review. But it's ok.

Maap saya tbc-in disini, jujur maunya gak di potong disini, tapi keadaan memaksa/?

Saya mau balas review...

neli amelia - ne hwaiting! Gomawo udah baca dan reviewnya~ di tunggu chap selanjutnya...

ChanBaekLuv – itu udah dijelasain hubungan antara ChenBaekhyun nya... semoga ngerti. Gomawo udah baca dan review~ terimaksih komentarnya~

Little Kyung Kyung – ne~ ini udah lanjut. Maap lama update-nya...Chen ama Kyungsoo kok... Gomawo udah baca dan reviewnya

askasufa – hehe iyatuh dasar, BaekHun nelantarin tamu mulu. Oh, gomawoo udah review dan baca fic absurd ini...

novisaputri09 – maap bukanya lama untuk update-nya. Saya butuh inspirasi dan bla bla untuk mengetik fic ini.. maap kan dan terimakasih sudah menunggu~

gomawo untuk review, fav dan follow-nya...

review lagi boleh?

Don't be silent reader please~

See next chap~