Pt.4
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sehun-ah," panggil Chanyeol, yang mana membuat Sehun segera menatap ayahnya bertanya.
"Apa yang kau pikirkan? Kau terlihat sering melamun, tidak seperti dirimu." Sehun merebahkan tubuhnya pada gazebo dengan satu tangan yang digunakan sebagai bantalan untuk kepalanya.
"Apa yang terjadi diantara appa dan eomma?" Chanyeol membeku di duduknya, menatap Sehun yang hanya menatap langit langit gazebo.
"Aku memikirkan itu." Jelas Sehun, "Apa yang terjadi pada appa dan eomma? Kenapa kalian terlihat saling menghindari satu sama lain? Dan banyak pertanyaan lain yang aku pikirkan, dan aku sadar jika hanya memikirkannya saja aku tidak akan mendapatkan jawaban apapun." Sehun menatap ayahnya yang menatapnya kosong.
"Jadi aku ingin menanyakannya padamu appa, apa yang terjadi di antara kalian, karena sejak awal aku merasa ada sesuatu yang belum selesai diantara kalian." Sehun beranjak dan kembali memposisikan tubuhnya untuk duduk tepat dihadapan Chanyeol.
"Aku sudah tujuh belas, dan seperti yang aku katakan dulu, aku merasa terganggu dengan suasana yang tercipta diantara kalian berdua." Sehun semakin menuntut, tatapannya yang begitu penasaran membuat Chanyeol termenung dan terdiam. Luka yang bahkan sampai saat ini tidak pernah tertutup, kini kembali terbuka lebar, sangat lebar. Membuatnya merasakan kesakitan yang luar biasa, rasa sakit yang bahkan ia tidak tahu tepatnya berasal dari mana.
"Appa...tidak tahu." Jawab Chanyeol dengan suara yang terdengar begitu parau, bahkan Sehun tidak mendengar karena suara Ayahnya yang begitu pelan.
"Apa?" Sehun menatap Chanyeol tidak sabar, dan yang ditatap malah tertawa dengan sedikit dengusan kecil.
"Apa yang coba appa katakan? Kenapa appa tertawa seperti itu?" Chanyeol menatap putranya yang terlihat tidak sabar akan jawabannya, lalu mengusak rambut Sehun kasar.
"Apa Yoora imo tadi datang?"
"Eoh?" Sehun terkejut dengan pertanyaan yang diberikan Chanyeol, ketika ia merasa menantikan jawaban Chanyeol tapi ayahnya itu malah memberikan ia pertanyaan juga.
"Appa!" Sehun kesal, sungguh. Disaat ia sedang menanyakan sesuatu yang serius, tapi Ayahnya menganggapnya seperti angin lalu dan mengabaikannya begitu saja. Apakah ia sebagai seorang anak tidak boleh mengetahui hubungan antara orangtuanya.
"Kenapa kau berteriak?" Sehun menatap jengkel pria dewasa dihadapannya.
"Appa masih tidak ingin menceritakan sesuatu padaku? Apa kalian akan terus menyembunyikannya?" Chanyeol tersenyum hangat, membuat Sehun menjadi semakin jengkel.
"Appa dan eomma menyayangimu dan Sechan." Sehun mendengus kasar, lalu bangkit berdiri dari gazebo dan mengusak rambutnya kasar. Mendengar penuturan Chanyeol, membuat Sehun benar benar muak.
"Apakah aku mengatakan jika appa dan eomma tidak menyayangiku? Apa aku mempertanyakan kasih sayang kalian padaku dan Sechan? Tidak appa! Aku yakin kalian pasti sangat menyayangi kami, aku tidak pernah meragukannya. Aku hanya mengkhawatirkan sesuatu, aku mengkhawatirkan kalian, orangtuaku." Ujar Sehun dengan putus asa, bahkan ia juga menatap Chanyeol dengan tatapan memohon.
.
I'm Sorry
.
...
Saat itu Sehun berusia lima tahun, mata kecilnya terlihat begitu sayu, kedua tangannya memeluk boneka puppy putih, dan kaki kecilnya berjalan perlahan menuju kamar tidur orang tuanya yang berada disebelah kamarnya. Jam menunjukkan pukul dua pagi, sangat tidak baik untuk balita masih terjaga di jam itu. Tapi sebenarnya Sehun sudah tidur enam jam yang lalu, dan seharusnya ia masih terlelap saat itu, namun karena ia bermimpi buruk ia terbangun dan segera beranjak berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar orang tuanya.
Sehun kecil sudah sampai di depan pintu kamar tidur orang tuanya, balita itu sempat terdiam memikirkan apakah ia akan mengganggu tidur orang tuanya, namun tak lama berpikir, ia segera meraih handle pintu. Tapi, pada saat bersamaan pintu kamar orang tuanya terbuka dan memperlihatkan Ayahnya yang berjalan keluar masih dengan pakaian kantor, tidak rapi seperti yang Sehun liat setiap pagi, melainkan terlihat kacau dan berantakan.
Chanyeol terkejut mendapati putranya berada di depan kamar tidurnya, "Sehunie tidak tidur?" tanya Chanyeol setenang mungkin, ia mengelus surai Sehun lembut lalu menuntun balita itu kembali ke kamarnya. Tapi, Sehun bergeming, ia tidak mau tidur di kamarnya.
"Ada apa sayang?" Chanyeol membawa Sehun kedalam gendongannya dan menatap Sehun perhatian, "Takut, mau tidur peluk appa eomma." Ujar Sehun lalu memeluk leher Ayahnya dan menenggelamkan wajah kecilnya pada perpotongan leher Chanyeol.
"Sehunie mimpi buruk?" anggukan kecil ia rasakan di perpotongan lehernya,
"Appa akan menemani Sehun tidur di kamar," Chanyeol akan melangkahkan kaki menuju kamar Sehun, namun baru satu langkah, balitanya sudah memberontak dalam gendongan.
"Eomma," suara rengekan terdengar, Chanyeol mengelus pundak Sehun dengan sayang menenangkan. "Eomma sedang lelah, Sehun tahu kan diperut eomma sedang ada adik bayi?" anggukan kecil Sehun berikan, "Jadi, biarkan eomma beristirahat dengan tenang dan Sehun kembali tidur di pelukan appa, oke?" Chanyeol melanjutkan langkah menuju kamar Sehun setelah menerima persetujuan dari putra kecilnya.
.
Sehun kecil terbangun dari tidurnya, Sehun merasa kehilangan sesuatu yang tanpa ia tahu apa itu, karenanya ia menangis keras menyambut paginya.
Pintu kayu putih itupun terbuka, seseorang memasuki kamarnya. Wanita cantik dengan perut yang terlihat membuncit itu berjalan pelan menuju ranjangnya, "Hey, ada apa dengan jagoan eomma?"
Sehun menggelengkan kepala, lalu memeluk Baekhyun dari samping. Rambut Sehun yang masih berantakan karena baru bangun tidur, Baekhyun rapikan dengan lembut. "Appa," rengek Sehun didalam pelukan Ibunya.
"Basuh wajahmu dan kita sarapan, eomma sudah memasak makanan kesukaan Sehunie," Baekhyun mengecup kening Sehun dan dibalas dengan anggukan patuh oleh putranya yang segera berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Baekhyun menatap Sehun dengan tatapan sedih.
.
"Chanyeol menolaknya?" Heechul datang mengunjungi rumah putrinya setelah mendapat panggilan dari Baekhyun yang menceritakan tentang kejadian semalam ketika Chanyeol pulang saat dini hari.
"Aku sudah mengurus surat perceraian, tapi ia menolaknya eomma." Baekhyun berujar dengan tangan yang ia usapkan pada perut yang membuncit.
"Chanyeol mencintaimu sayang, bukankah kau mencintainya juga?" Heechul berujar lembut, menatap Baekhyun penuh perhatian.
"Aku...aku mencintainya..ta..tapi aku juga tidak tahu."
"Apakah begitu sulit memaafkan dan mendengarkan pembelaan Chanyeol, kau tau sayang, Chanyeol sudah layaknya putra eomma sendiri, kau tahu sendiri bagaimana Chanyeol hanya memiliki nunanya dan dirimu. Bukankah itu membuatmu memberi sedikit rasa pengertian?" Baekhyun menundukkan kepala semakin dalam, tangan yang ia usapkan pada perutnya terlihat bergetar.
"Aku..butuh waktu." Heechul tersenyum lembut, setidaknya masih ada harapan untuk menantunya -pikir Heechul.
.
Namun apakah waktu yang dibutuhkan Baekhyun sebentar? Apakah penantian Chanyeol akan mudah? Sayang sekali, Baekhyun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memantapkan hatinya kembali dan membuat Chanyeol menanti dengan begitu lama.
Bukankah itu terlihat keterlaluan? Bukankah Baekhyun begitu egois dengan sesuatu masalah yang bahkan tidak begitu ia pastikan dengan benar? Dan salahkah Chanyeol memberi pengertian dengan tidak memaksakan keegoisannya kembali?
Entahlah.
...
.
I'm Sorry
.
Setelah kedatangan Yoora, suasana kediaman Chanyeol menjadi lebih tenang dan semakin terasa canggung, bahkan bukan hanya Chanyeol dan Baekhyun, kedua anak merekapun menjadi lebih banyak diam dan bersikap tenang. Saat ini Baekhyun hanya duduk di pinggir ranjang dengan tatapan kosong, memikirkan perkataan Yoora.
"Bukankah dua belas tahun cukup untukmu menghukum adikku?"
"Kau merasa terhibur ya melakukannya? Sepertinya hanya adikku saja yang tersiksa disini."
"Dia bahkan tidak melakukan kesalahan apapun, tapi dengan egois kau menghukumnya, mengabaikannya, menjauhkan dia dari kedua anaknya. Aku ragu kau mencintai adikku, ah, apa mungkin hanya adikku yang tergila gila padamu?"
Baekhyun mencengkeram erat jemarinya dan memejamkan mata lalu menghela nafas kasar. Baekhyun memang tidak pernah meminta secara langsung untuk menyuruh Chanyeol meninggalkan Korea, tepat saat satu tahun setelah kelahiran Sechan Baekhyun juga baru mengetahui alasan mengapa Chanyeol tidak pernah terlihat karena pria itu pindah ke Jepang dari Ibunya. Ia sempat terkejut, lalu saat mendengar penuturan Ibunya saat itu, Baekhyun hanya menganggukkan kepala mengerti. Pada awalnya sesuatu dalam diri Baekhyun terasa hampa, bahkan ketika ia melahirkan tidak ada lagi tangan besar yang menggenggam tangannya menenangkan, suara berat yang selalu memberi kekuatan untuknya walaupun dengan isakan parau. Meskipun begitu, Baekhyun mulai terbiasa dengan jarak yang di ciptakan Chanyeol padanya.
"Eomma juga tidak mengerti mengapa dia memilih meninggalkan Korea, dia hanya mengatakan jika dia ingin memberi waktu untukmu dan juga dirinya."
"Eomma sempat melarang, dan meminta untuk tetap berada di Korea hanya dengan sedikit menjaga jarak denganmu. Tetapi ia hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala."
Ruang tempat mereka untuk bertemu jadi semakin kecil jika Chanyeol berada di Jepang, saat awal, Baekhyun bersyukur atas keputusan Chanyeol. Tapi itu tak berlangsung lama, ketika Sehun mulai merengek mengatakan jika ia ingin bertemu dengan sang Ayah, membuat Baekhyun menjadi bingung dan memberitahukan pada Heechul. Dan Heechul mengatakan jika ada salah satu orang Chanyeol yang akan menjaga kedua anaknya, Lee Junho. Pria bernama Junho itu adalah tangan kanan Chanyeol yang Chanyeol suruh langsung untuk menjaga Anak-anak mereka. Dan mulai saat itu, saat Sehun ingin bertemu Chanyeol pasti Junho yang akan mengantar putranya bertemu Sang Ayah. Dan itu terus berlanjut, sampai Sechan ikut menanyakan Sang Ayah dan meminta untuk menemui Ayah mereka. Semuanya berjalan begitu saja, beberapa bulan sekali mereka akan berangkat ke jepang bersama Junho untuk bertemu Chanyeol. Dengan semua itu, Baekhyun mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Chanyeol, walaupun sering mendengar namanya dari mulut kedua putra dan putrinya, Baekhyun selalu dengan pelan meyakinkan dirinya jika ia baik-baik saja.
Tapi semua keyakinan diri tentang ia yang baik-baik saja musnah saat bertatap langsung dengan Chanyeol. Semua kepingan dimana Baekhyun melihat pengkhianatan Chanyeol saat mereka bertemu secara langsung benar benar membuatnya merasa terganggu, marah, muak dan juga menyesal. Baekhyun akan menjaga jarak, dan berusaha menghindari kontak mata mereka, namun ia juga menyadari bagaimana perubahan wajah Chanyeol saat melihat penolakan yang ia berikan pada pria itu, dan hal itu membuat Baekhyun merasakan rasa sakit yang begitu menyesakkan melihat tatapan Chanyeol.
Lama termenung, ia tidak sadar jika sedari tadi pintu kamarnya di ketuk dari luar, karena tidak mendapatkan jawaban, orang yang mengetuk pintu kamarnya segera membuka pintu itu perlahan dan melihat seorang wanita sedang duduk termenung di atas ranjang.
"Baek?" Mendengar suara bass yang sangat dikenalnya, Baekhyun segera menolehkan kepala dan terkejut saat melihat Chanyeol sedang berdiri di dekat pintu kamar.
"Eoh? A-ada apa?" Baekhyun bangun dan melangkah mendekat ke arah Chanyeol, tapi saat melihat Chanyeol sedikit melangkah mundur ia menghentikan langkahnya lalu tersenyum miris.
"Ah a-aku ingin mengatakan jika aku akan mengajak anak-anak untuk berjalan jalan."
"Kapan?"
"Besok, dan aku fikir kau tidak perlu ikut jika kau merasa tidak nyaman-"
"Aku ikut." Chanyeol menatap Baekhyun terkejut, sedangkan yang di tatap hanya menundukkan kepala. Dan melihat Baekhyun yang seperti itu membuat Chanyeol sadar, jika Baekhyun hanya terlalu sering memaksakan diri. Ia menghela nafas kasar.
"Kau tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu Baek, itu hanya akan menyiksamu." Baekhyun mengangkat kepala dan menatap Chanyeol, tatapan mereka bertemu. Baekhyun terus menatap Chanyeol entah apa maksud tatapan itu tapi melihat tatapan itu membuat Chanyeol mengalihkan tatapan ke arah lain tidak ingin menatap mata kecil Baekhyun. Entahlah pria tampan itu hanya merasa terpojokkan dengan tatapan seperti menuduh dari Baekhyun.
"Kenapa? Kenapa jadi kau yang seperti ini? Kenapa kau yang menjaga jarak dan menghindariku?" Baekhyun berbicara dengan geram, lalu menatap Chanyeol menuntut, dan Chanyeol hanya tersenyum remeh mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia bilang menjaga jarak, tidak sadarkah siapa yang memulainya -batin Chanyeol menggeram.
"Bukankah dua belas tahun membuatmu ingin bersikap egois, kenapa kau bertingkah seolah kau adalah korban dengan menghindariku?! Seharusnya kau yang lebih berusaha, bukannya hanya menghindar dan menjauh dariku!" Baekhyun sedikit meninggikan suaranya dan menatap Chanyeol jengkel. Baekhyun sadar semua orang di sekitarnya seolah memojokkannya karena membuat Chanyeol pergi dan membuat Anak-anak mereka menjadi sulit bertemu Sang Ayah. Semua orang menganggap Baekhyun jahat karena keegoisan yang berusaha memisahkan kedua anaknya dari Ayah mereka, ia terlihat seperti penjahat dan Chanyeol adalah korban.
Namun kenyataan memang benar adanya, Chanyeol hanyalah korban dari keegoisannya sendiri selama ini. Dan Baekhyun merutuk akan hal itu.
.
I'm Sorry
.
...
Sehun menangis saat Baekhyun melarang Sehun untuk ke jepang bertemu sang Ayah, bukan tanpa alasan ia melarang. Putranya besok akan ada Ujian kelulusan Sekolah dasar dan dengan santai Putranya mengatakan ingin bertemu dengan sang Ayah. Jika jarak bertemu sang Ayah tidak menghabiskan waktu berjam jam Baekhyun pasti tidak akan melarang, tapi mengingat jarak Korea-Jepang bahkan Baekhyun menggeram kesal. Terlebih mendengar Sehun terus berteriak dan menangis membuatnya pusing lalu diikuti Sechan yang ikut menangis karena mendengar Sang kakak menangis keras.
"EOMMA JAHAT HIKS EOMMA JAHAT SEHUN INGIN BERTEMU APPA!"
"Sehun, besok kau akan ujian lalu bagaimana dengan ujianmu jika kau menemui Appamu itu hah?!" Baekhyun sudah tidak sabar, Sehun terus merengek dan berteriak membuatnya marah dan tidak bisa bersikap sabar dengan menenangkan putranya lembut.
"APPA!" Baekhyun mengusak wajah dan menghela nafas dengan kasar mendengar Sehun kembali berteriak memanggil Ayah mereka.
"Dengarkan Eomma Sehun, kau bisa menemui ayahmu setelah menyelesaikan ujianmu, appa juga pasti tidak akan suka jika Sehun meninggalkan sekolah begitu saja, terutama ujian sekolah." perkataannya melembut, ia menatap Sehun dengan sayang seolah memberikan Sehun nasehat dengan baik, tapi bukannya diam putra tunggalnya malah semakin berteriak keras.
"SEMUANYA SALAH EOMMA. JIKA BUKAN KARENA EOMMA, APPA TIDAK AKAN PERGI MENINGGALKAN SEHUN DAN SECHAN. EOMMA JAHAT! SEHUN MEMBENCI EOMMA!" Baekhyun mengubah raut wajahnya sedih mendengar penuturan Sehun. Setelah mengatakan hal itu Sehun berlari ke kamar dan menguncinya diikuti Sechan yang terus memanggil nama Sehun di depan pintu kamar sang kakak dengan tangisan.
...
.
I'm Sorry
.
"Kau ingin aku egois?" Chanyeol menatapnya, menatap Baekhyun dengan tatapan penuh luka. Bahkan Baekhyun menyadari jika mata Chanyeol sedikit memerah dan bergerak gusar. "Kau selalu berkata aku pengkhianat, berteriak dan mengusirku menjauh." Chanyeol memandang dengan tatapan yang sangat sendu, suaranya bahkan terdengar parau dan bergetar. Baekhyun masih terdiam mematung ditempatnya mendengar penuturan Chanyeol.
"Seberapa keras aku menjelaskan, maka sekeras itu pula kau berteriak menuduh kearahku, mengatakan jika aku hanya seorang pengkhianat."
"Itu memang kau," Baekhyun menatap Chanyeol, berbicara dengan geram terdengar seperti desisan yang mana membuat Chanyeol tersenyum remeh. Wajah Baekhyun terlihat memerah dan juga mata mungilnga mulai menggenangkan air, yang siap meluncur keluar membasahi wajahnya.
"Kau jelas tahu itu hanya sebuah kesalah pahaman," Chanyeol kembali berujar dengan nada yang sangat parau, berbanding terbalik dengan nada suara Baekhyun yang terdengar menahan emosi.
"Aku melihat dengan kedua mataku! Kau menciumnya Chanyeol! Kau memeluk dan mencium wanita itu! AKU MELIHATNYA!" Baekhyun berteriak keras di akhir kalimatnya. Berteriak keras, sangat keras. Bahkan mungkin kedua putra dan putrinya bisa mendengar. Melihat Baekhyun yang tidak terkendali, Chanyeol menutup pintu kamar itu dan kembali menatap Baekhyun.
"Tenanglah Baek," Chanyeol berujar pelan, berusaha menenangkan Baekhyun. Setelah merasa Baekhyun sudah lebih tenang Chanyeol menghela nafas kasar.
"Kau menyuruhku egois bukan? Apa kau tidak sadar alasan mengapa aku menghindar dan berada di sini?" Chanyeol berjalan mendekat ke arah Baekhyun dengan perlahan. Langkah demi langkah menuju wanita mungil itu dan Chanyeol hanya meringis dalam hati saat melihat Baekhyun yang melangkah mundur.
"Aku pernah bersikap egois Baek, aku pernah memaksamu untuk percaya padaku dan memaksamu agar tetap berada disisiku." Baekhyun merasa ia tidak bisa mundur lagi, Chanyeol tersenyum kecil di depannya. Jarak mereka hanya tinggal tiga langkah lagi dan Chanyeol terlihat tidak ingin menghentikan langkah. Sungguh, Baekhyun gugup. Seharusnya ia tidak mengatakan itu. Seharusnya ia tidak meminta Chanyeol untuk egois. Tidak. Seharusnya tidak. Tetapi sesuatu dalam dirinya ingin melakukan itu, sesuatu dalam dirinya merasa lelah dan ingin mengakhiri semuanya dengan memancing segela emosi diantara mereka keluar agar tidak menahannya terus menerus.
Baekhyun melihat tatapan Chanyeol, Mata bulan purnama itu semakin memerah, terlihat perasaan luka yang sangat besar disana dan merasakan itu membuat Baekhyun meringis merasakan luka yang di rasakan Chanyeol. Bagaimanapun pria itu, pria yang masih ia cintai adalah Ayah dari kedua anaknya dan juga suaminya.
Bukan hanya satu atau dua tahun mereka saling mengenal bahkan sekarang mungkin adalah tahun ke dua puluh dan tepatnya tahun ini adalah usia pernikahan mereka yang ke tujuh belas. Sungguh tidak pernah ada yang tahu sebesar apa luka pengkhianatan yang dirasakan Baekhyun, mungkin banyak berbagai pihak yang mengatakan jika ia hanya salah paham, memberi tahu jika apa yang dilihatnya tidak seperti yang ia bayangkan, tapi entah karena perasaan cintanya yang begitu besar atau memang karena ketakutan Baekhyun akan sebuah pengkhianatan, membuat wanita itu begitu mudah terpengaruh dengan apa yang dilihat tanpa ingin mengetahuinya lebih jelas, lalu seolah menutup telinga dengan berbagai perkataan yang berusaha meyakinkannya jika itu hanya sebuah kesalahpahaman. Dan mengingat hal itu membuat Baekhyun sedikit banyak merasa menyesal.
Baekhyun melihat langkah Chanyeol terhenti, langkah Chanyeol terhenti di depannya dengan jarak satu langkah. Baekhyun mengangkat kepala dan terkejut melihat wajah pria tinggi di hadapannya sudah penuh dengan air mata. Baekhyun merasakan sesuatu mencengkeram jantung dan ulu hatinya. Sangat perih, sesak dan sakit.
"Penolakanmu Baek, penolakanmu yang menghancurkan sikap egoisku. Penolakanmu membuatku memilih untuk menjauh demi kebahagiaanmu, karena jika berada disisiku akan membuatmu merasa tersiksa. Kau bahkan tidak ingin aku menyentuhmu, tidak ingin aku menatapmu dan itu cukup membuatku sadar jika keegoisanku hanya akan melukaimu." suara Chanyeol bergetar dan begitu parau, Baekhyun melihat bagaimana air mata itu keluar dan mengalir di wajah Chanyeol dengan sangat cepat. Seolah air mata itu sudah tersimpan lama dan menunggu untuk keluar.
"Aku mencintaimu Baek, sangat mencintaimu. Dan melihat sikapmu, aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan selain menunggu dengan menjauh. Menjauh seperti yang kau katakan." Chanyeol mengusak wajahnya kasar dan menunduk menenangkan dirinya, menghela nafas lalu segera kembali menatap Baekhyun dengan senyum -yang sangat dipaksakan.
"Maafkan aku, aku jadi ikut terbawa suasana. Jika kau ingin ikut, kau boleh bergabung dengan kami." Chanyeol melangkah berjalan keluar dengan cepat membuka pintu dan kembali menutupnya pelan, meninggalkan Baekhyun yang mematung dan setelah itu ia jatuh terduduk dengan isakan yang begitu memilukan.
Tangisnya kembali pecah, tangisan yang sangat terdengar memilukan dan perasaan bersalah, mengingat penuturan pria itu membuat Baekhyun semakin terisak keras bahkan ia sampai memukul dadanya karena merasakan sesak yang begitu dalam.
"Penolakanmu Baek, penolakanmu yang menghancurkan sikap egoisku."
"Penolakanmu membuatku memilih untuk menjauh demi kebahagiaanmu."
"itu cukup membuatku sadar jika keegoisanku hanya akan melukaimu."
Dan Baekhyun hanya semakin terisak saat semua perkataan Chanyeol bagaikan kaset rusak yang berputar berulang kali di dalam otaknya. Baekhyun menutup telinga dan menggeleng gusar, mencoba untuk menghentikan kata-kata menyakitkan itu, namun hal itu tidak merubah apapun. Kalimat itu. Kalimat menyakitkan itu terus saja berputar dengan bayangan suara yang sangat parau dengan air mata yang mengalir deras.
Dan yang bisa Baekhyun lakukan adalah menggumamkan kalimat permintaan maaf dan nama Chanyeol berulang kali.
.
.
.
Sehun yang sedang sibuk berkirim pesan dengan Luhan sedikit tersentak saat mendengar suara ayahnya dikamar sebelah yang Sehun tahu adalah kamar Ibunya. Sehunpun bangkit lalu meletakan ponsel dengan asal diatas ranjang lalu melangkah pelan keluar kamar. Bukan melihat orang tuanya, Sehun melihat adiknya yang berdiri di depan pintu kamar orangtuanya yang sedikit terbuka dengan tangan yang terkepal erat dan tubuh yang sedikit gemetar.
"Kau jelas tahu itu hanya sebuah kesalah pahaman,"
"Aku melihat dengan kedua mataku! Kau menciumnya Chanyeol! Kau memeluk dan mencium wanita itu! AKU MELIHATNYA!"
Sehun melangkah dengan cepat, menarik lengan Sechan dan merangkul tubuh gemetar adiknya untuk menuruni tangga menuju kamar Sechan.
Sechan terus terisak, bahkan saat Sehun memeluknya ia tetap terisak keras sampai membuatnya sesak. Sehun tak hentinya mencoba untuk menenangkan sang adik dengan mengelus bahu dan surai sang adik dengan lembut.
"Berhentilah menangis Sechanie,"
"Eo-Eomma hiks" Sehun menghela nafasnya kasar, melepas pelukannya dan menatap sang Adik yang sudah banjir dengan air mata.
"Sechanie, dengarkan oppa," Sechan yang semula hanya menunduk terisak, segera mengangkat kepala dan menatap mata sang kakak dengan sayu dan air mata yang terus mengalir.
"Jangan menangis. Lupakan apa yang kau dengar dan bersikaplah seperti biasa, berpura puralah kau tidak mendengar apapun."
"hiks ta-tapi Oppa-"
"Dengarkan oppa Park Sechan!" Sehun berteriak tertahan, dan menggeram kasar. Namun, hal itu membuat Sechan menjadi ketakutan dan terisak.
"hiks Sechan ingin eomma,"
"Oh ya Tuhan Park Sechan. Kau sudah besar kenapa kau masih saja cengeng hah?!"
"Op-oppa hiks" mendengar suara Adiknya yang semakin bergetar ketakutan, membuat Sehun sadar dan segera menenangkan dirinya lalu memegang bahu Sechan lembut.
"Maafkan oppa Sechanie, diamlah okay?" Sechan memeluk Sehun, dan menenggelamkan kepalanya pada dada Sehun lalu terisak kecil.
.
.
.
Chanyeol berjalan menuruni tangga dengan langkah yang lemah, wajahnya masih di aliri air mata dengan hidung yang memerah. Sesekali pria tinggi itu mengusak wajahnya kasar agar air mata itu berhenti tapi semuanya terasa sia-sia, air mata terus mengalir walaupun sudah ia tahan sedari tadi. Perdebatan dengan Baekhyun membuatnya menjadi terbawa emosi, sisi melankolisnya akan keluar tanpa di undang jika itu sudah menyangkut tentang Baekhyun. Wanita yang di cintainya. Dan Chanyeol akan merasa sangat lemah jika sudah di hadapan wanita itu, entah karena apa bahkan ia sendiri menertawakan dirinya sendiri karena terlalu lemah di hadapan wanita yang berstatus sebagai istri dan Ibu dari kedua anaknya.
Saat ingin memasuki kamar, tepat saat itu Sehun dan Sechan keluar dari kamar Sechan yang tepat berada di samping kamarnya, membuat pria itu dengan cepat membelakangi kedua putra putrinya dan mengusak wajahnya agar tidak terlihat berantakan tapi rasanya itu percuma.
"Eoh? Kalian belum tidur? Ini sudah sangat larut, sebaiknya kalian cepat tidur, besok kita akan pergi setelah sarapan." Sebelum memasuki kamar, Chanyeol menyempatkan mencium kening putrinya dan mengusak kasar rambut Sehun lalu menutup pintu dengan cepat.
Sehun menggenggam jemari Sechan lembut dan menyuruh Sechan kembali memasuki kamar untuk tidur. Dan Setelah menutup pintu kamar Sechan, Sehun mengehela nafas kasar lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya sendiri.
.
I'm Sorry
.
...
Saat itu, belum genap sebulan Chanyeol menetap di jepang, Chanyeol mendapat kabar dari mertuanya jika Baekhyun akan segera melahirkan.
Dan tahukah kalian apa yang dilakukan pria itu?
Chanyeol dengan kasar melempar ponselnya kearah cermin, membuat cermin itu retak dan beberapa pecahan jatuh kelantai. Dengan langkah gontai Chanyeol berjalan dan berlutut untuk mengambil ponsel yang sudah mati dengan layar yang pecah, ketika ia ingin beranjak, tanpa sadar Chanyeol terdiam menatap refleksi dirinya pada cermin yang sudah retak itu dengan tatapan kosong, ponsel yang berada digenggamannya kembali jatuh.
Suara dentingan keras kembali terdengar, Chanyeol menghantamkan tinjunya kearah cermin hingga cermin yang sudah pecah itu semakin parah. Beberapa pecahan kecil yang terjatuh ada yang menancap pada kaki pria tinggi itu. Chanyeol menatap kakinya yang semakin lama terus mengeluarkan darah segar karena pecahan cermin, bukannya merasa sakit pria itu justru tertawa keras layaknya orang gila, dengan kasar ia melepaskan pecahan-pecahan itu dan menatap cermin yang sudah hampir tertutup darahnya sendiri.
"Kau sangat menyedihkan Park Chanyeol." Ujarnya dengan parau lalu tersenyum kecut, mengejek dirinya sendiri.
...
.
.
TBC
.
.
Part 4 meluncur.. masih di jadwal update yang sama.
jangan lupa tinggalkan kritik dan saran. sangat dibutuhkan untuk perbaikan di part yang akan datang.
.
.
Jumat, 07 April 2017
.
.
.
.
.
