Title :
More Than Closer
Main Cast :
SeHun, LuHan, Kai
Support Cast :
ChanYeol, SuHo
Rated :
M
Romantic mystery, horror, suspense
Dedicated by :
© eternal_chen
.
.
.
.
.
.
.
Present..
.
.
.
.
.
.
Enjoy~
.
.
.
.
.
CHAPTER 3
.
.
.
.
Sehun..
Sehun..
Nama Sehun terus terngiang di kepalanya, membuat pekerjaannya sedikit terganggu. Luhan tidak bisa berhenti memikirkan semua hal yang sudah ia lalui dengan lelaki itu. Bahkan saat ia sedang mengendarai scooter maticnya, sehun masih memenuhi pikirannya. Di mulai dari kejadian di toilet sampai bertemu untuk mengambil ponsel Kai. Semuanya masih terekam dengan jelas meski sudah beberapa hari yang lalu terjadi begitu saja.
Sampai saat inipun ia belum berpikiran untuk menyerahkan ponsel itu pada Kai. Saat tiba di rumah hari itu, ia buru-buru mengisi baterai ponsel Kai. Namun ponsel itu tak kunjung menyala setelah disambung pada charger.
Ia sendiri juga penasaran mengapa saat Sehun bertemu dengan Kai malam itu dia tidak sekalian memberi ponsel itu padanya. Pasti ponsel itu sudah ada pada Sehun saat mengangkat tubuhnya keluar dari dalam museum. Jika memang begitu, itu artinya Sehun pasti mengikutinya keluar dari toilet.
Untuk saat ini mungkin ia butuh memendam pemikirannya sendiri tanpa memberitahu siapapun. Bisa jadi ia salah dan Sehun ternyata bukan orang yang seperti itu. Lagipula ia baru dua kali bertemu dengan Sehun. Mungkin ia harus memastikan sendiri orang seperti apa Sehun itu. Mengapa ia tidak mengembalikan ponselnya langsung pada Kai saat tak sengaja bertemu kemarin di depan museum.
Luhan berpikir bertemu dengan Sehun sekali lagi bukanlah masalah. Berhubung ia belum mengucapkan terimakasih karena sudah membantunya, bahkan mengangkat tubuhnya yang tidak sadarkan diri keluar dari museum. Ia yakin pasti Kai sudah mewakili dirinya untuk berterimakasih, tapi menurutnya akan lebih baik jika mengatakannya secara pribadi.
Dan ia memutuskan untuk mencari Sehun.
Karena bulan april belum berakhir, pasti festival musim semi di Yeouido juga belum berakhir. Ia memutuskan untuk pergi mengunjungi tempat itu lagi setelah mengirimkan barang yang terakhir. Namun kali ini ia tidak bersama Kai untuk menemaninya. Karena jika lelaki itu tahu ia ingin bertemu Sehun, reaksinya akan sama seperti terakhir kali mereka makan siang bersama.
Luhan sangat yakin jika Sehun akan berada di festival lagi malam ini. Ia menyadari ketika pertama kali bertemu dengan Sehun, dia menggunakan kostum badut berwarna kuning dan wig merah terang yang biasa menjadi ikon McDonald's. Ia sempat berpikir untuk mencarinya di McDonald's dekat jalan Yeouido. Karena mungkin saja Sehun bekerja disana. Tapi setelah ia bertanya-tanya pada salah satu pedagang di festival, tidak ada McDonald's di sekitar Yeouido.
Suasana festival sedikit berubah semenjak terakhir kali ia pergi bersama Kai. Sudah 2 jam yang lalu setelah matahari terbenam. Kali ini pengunjung terlihat lebih padat dan makanan-makanan yang dijual terlihat lebih bervariasi. Lampu-lampu yang dipasang pada setiap pohon sakura juga terlihat lebih cantik. Rupanya pergi sendirian juga menyenangkan. Ia bebas kesana kemari melihat kreasi seni tradisional korea yang tampil berbeda malam ini.
Ia tersenyum tipis saat melihat seorang penjual sedang membuatkan permen kapas pesanannya. Berjalan sendirian tidak terlalu buruk. Kemudian ia langsung teringat jika ia kesini bukan untuk makan permen, melainkan mencari Sehun. Saat ia berjalan lagi sambil memakan permen kapasnya, ia baru menyadari jika benar-benar tidak ada tanda-tanda keberadaan Sehun. Bahkan tanpa ia kira, sebentar lagi museum Belanda itu akan terlihat di ujung jalan festival. Ia mulai berpikiran jika Sehun memang benar-benar bekerja di McDonald's.
Sempat terlintas dipikirannya untuk berbalik arah ke pintu masuk festival lagi, tapi kerumunan anak-anak kecil;-beberapa ada yang menggandeng orang tuanya, kini menarik perhatiannya. Dan saat ia melihat seseorang yang ia cari sedang membagikan balon-balon pada anak-anak kecil itu, ia yakin itu pasti Sehun.
Karena pakaiannya benar-benar sesuai perkiraannya.
Kostum badut McDonald's dengan wajah bercat putih dan wig merah terang.
Ia baru sadar jika tidak ada logo McD di dada kirinya, tapi Luhan akan terus menyebutnya kostum McD mulai sekarang.
Karena Sehun tidak menyadari keberadaannya yang sedikit jauh, ia memutuskan untuk menikmati pemandangan itu. Memandangi Sehun sedang membagikan balon-balon itu membuatnya sedikit membuang kecurigaannya. Lelaki itu terlihat baik-baik dan sama sekali tidak berbahaya. Dilihat dari caranya mengusap satu persatu kepala anak-anak itu setelah memberi mereka balon-balonnya. Andai saja anak-anak itu mengetahui tatto dibalik lengannya yang tertutupi kostum, pasti mereka akan enggan mengambil balon itu dari Sehun.
Ia tidak menyadari jika tatapannya pada Sehun membuat lelaki itu menatap balik ke arahnya. Membuat anak-anak kecil itu sedikit kebingungan karena Sehun tiba-tiba berhenti memberikan mereka balon. Seketika ia menunduk dalam dan berpura-pura mencari objek yang lebih menarik daripada Sehun. Permen kapas yang sudah menciut itu kembali ia gigit tak berperasaan. Mencoba mengendalikan rasa malunya karena tertangkap basah memandangi Sehun.
Tak beberapa lama kemudian, ia merasa sebuah tangan memegang bahu kirinya. Mengirimkan getaran yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu saat ia menoleh ke belakang, ia dapat melihat wajah Sehun dengan jelas, wig di kepalanya sudah dilepas dan cat putih belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. Lipstik merahnya juga masih menyisakan noda di sekitar bibirnya.
"Kau sendirian disini?" tanya Sehun setelah itu.
Luhanpun mengangguk dalam, "Kau terlihat sibuk. Apa kau ada waktu?"
"Tentu. Ada apa?"
"Bisakah kita bicara?"
Sehun terlihat sedikit berpikir, kemudian menolehkan kepalanya ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab, "Ikuti aku."
Dengan pasti Luhan mengikuti lelaki di depannya yang membawanya ke bawah pohon sakura. Dimana sebuah kursi panjang di terangi oleh lampu berwarna-warni yang dipasang di batang pohonnya. Sesaat setelah mendudukkan dirinya di kursi itu, ia baru ingat jika kursi adalah tempat ia menunggu Kai malam itu.
"Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Sehun seraya membuka kostumnya. Memperlihatkan Kaus lengan pendek berwarna hitam yang ia pakai di dalamnya. Ia merasa pipinya memanas ketika Sehun mulai membuka celana kostum di hadapannya. Dan ternyata lelaki itu juga memakai jeans abu-abu di dalamnya. Setelah menyampirkan kostum itu ke bahunya, Sehun mulai duduk di sampingnya. Ia bisa merasakan lengan Sehun bergesekan dengan lengannya, membuat rasa canggung kembali menyerangnya karena ia merasa sepertinya Sehun benar-benar terlalu dekat.
"Pertama... terimakasih karena sudah membantuku keluar dari museum."
Sehun menggumam santai. Lelaki itu terlihat sibuk menghapus sisa-sisa cat putih di wajahnya dengan telapak tangan.
"Ini, kau bisa gunakan ini."
Sehun akhirnya menatap Luhan dan beralih pada tisu basah yang berada di tangannya. Kemudian mengambilnya tanpa ragu.
"Aku menerima balasanmu." Kata Sehun sambil mengayunkan tisu yang kini berada di tangannya.
"Maafkan aku sudah membuatmu merasa aneh saat kita pertama kali bertemu. Kondisiku benar-benar buruk dan tak sengaja meninggalkan ponsel di toilet. Tapi, bagaimana kau membawaku keluar dari museum?"
Akui saja. Cepatlah. Katakan padaku jika kau sebenarnya mengikutiku dari toilet.
"Aku mengikutimu dari toilet." Jawab Sehun yang kini menatapnya. Ia tidak bisa memungkiri jika pengakuan Sehun membuatnya sedikit takut. Untuk apa ia mengikutinya padahal jelas-jelas Luhan ketakutan saat pertama kali melihat Sehun; orang yang ia kira adalah David Oh.
"Kau terlihat seperti orang yang akan pingsan kapan saja. Dan kebetulan kau meninggalkan jaket berisi sebuah ponsel di dalamnya. Jadi aku mengikutimu."
"Ja—jaket?" betapa bodohnya ia sekarang baru teringat jika jaket Kai juga berada bersamaan dengan ponsel itu. Kai tidak pernah menyebut jaket dan ponsel miliknya yang hilang karena ia langsung membeli ponsel yang baru.
"Ah, waktu itu aku lupa membawa jaketnya. Saat itu aku hanya fokus untuk mengembalikan ponsel."
Benar-benar pandai berbicara rupanya.
Tak ada yang terucap dari mulut Luhan setelah mendengar Sehun mengatakan itu. Jadi ia hanya mengangguk pelan sebagai balasannya, meskipun ia tahu Sehun tidak melihatnya. Lelaki disampingnya masih mengusap lipstik merah yang belum luntur dari bibirnya. Ia benar-benar terkejut saat Sehun menoleh padanya dan menatapnya sekali lagi.
"Apa wajahku sudah bersih?"
"U—uh?" Luhan menatap wajah lelaki itu lekat-lekat. Memastikan jika tidak ada yang tersisa di wajah Sehun. Lalu ia mengangguk pelan. Buru-buru Luhan memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malu yang menyerangnya tiba-tiba. Setelahnya ia mendengar suara desahan kecil berasal dari mulut Sehun yang ternyata tersenyum ke arahnya.
"Wajahmu merona." Kata Sehun singkat. Senyum pertama yang diberikan Sehun masih terlihat dari sudut matanya. Dengan cepat ia menyentuh kedua pipinya sendiri yang kini terasa panas. Sehun benar-benar...
Pandai berbicara.
Dan itu membuatnya malu.
"Kupikir aku akan segera pulang."
Buru-buru ia berdiri sambil terus menyembunyikan pipinya dari Sehun. Luhan benar-benar tidak bisa mengendalikan rasa malunya sama sekali. Tolong salahkan orang tuanya yang melahirkannya menjadi pemalu. Tapi menyalahkan orang tua yang sudah membesarkannya selama bertahun-tahun bukanlah hal yang logis.
"Baiklah. Jika aku bertemu denganmu lagi, aku pasti membawa jaketnya." Balas Sehun yang kini ikut berdiri di sampingnya.
Sebelum Sehun menghilang dari penglihatannya, sekali lagi ia memanggil lelaki itu yang baru beberapa langkah menjauhinya.
"S—sehun!"
Luhan melihat Sehun menghentikan langkahnya, tubuh lelaki itu membeku sejenak, sebelum akhirnya menoleh. Mungkin ia terkejut karena Luhan bisa mengetahui namanya tanpa perlu repot-repot memberitahunya.
"Jika ada yang bisa kubantu, tolong beritahu aku. Apapun itu. Aku akan senang bisa membantumu."
Dengan mendengar perkataan Luhan, Sehun terlihat kembali tersenyum dengan lebar padanya. Memperlihatkan bagaimana kedua matanya melengkung ke atas. Kemudian pergi menjauhi Luhan yang membatu setelah memberikan satu kedipan mata untuknya.
Luhan tidak bisa apa-apa lagi selain memandangi punggung lelaki itu mulai menjauh, meninggalkan dirinya yang terdiam di tempat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau tidak lihat sekarang jam berapa?"
Pertanyaan pedas yang keluar dari mulut Kai terdengar sangat menganggu telinganya. Baru saja Luhan menginjakkan kaki ke dalam rumah atapnya, postur tubuh Kai yang berkacak pinggang sudah terlihat di depannya.
"Kau bahkan lebih menyeramkan dari ibuku." Jawabnya sambil melewati tubuh Kai. Ia bisa merasakan sorot mata yang tajam terus memandanginya. Tapi Luhan tidak terlalu peduli. Tubuhnya sangat lelah setelah mengirim barang kesana kemari dan berakhir mencari Sehun. Saat ia melihat jam di atas meja nakas sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ternyata ia pergi cukup lama. Tanpa berpikir untuk pergi mandi, Luhan langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Ia menyadari langkah kaki Kai mulai mendekatinya dari balik punggung. Kemudian merasakan tubuh Kai duduk di belakangnya.
"Kau sudah makan?" tanya Kai pelan.
"Hmm."
"Kau butuh sesuatu?"
Luhan hanya menggeleng pelan karena ia yakin Kai pasti melihatnya.
"Apa ada masalah?"
"Tidak terlalu."
Kemudian hening memenuhi rumah itu. Tak lama setelahnya, Luhan merasa lelaki itu beranjak dari kasurnya lalu mendengar suara pintu rumah tertutup.
Itu artinya Kai sudah pergi.
Dengan cepat ia mendudukkan dirinya. Kemudian menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya sebanyak yang ia bisa.
Aku berhasil.
Ia sungguh lega sekarang karena bisa menyikapi situasi yang buruk seperti itu. Beradu mulut dengan Kai bukanlah ahlinya. Jika ia tidak bersikap seperti tadi mungkin Kai akan menambah kritikan pedas lainnya. Akhirnya iapun memutuskan untuk beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi.
Tanpa menyadari ketukan pintu dari luar rumahnya.
Sebelum pergi tidur Luhan menyempatkan diri untuk minum segelas air dingin dari kulkas yang terletak disamping jendela rumahnya. Saat meneguk airnya ia berniat untuk segera menutup tirai jendelanya, tapi setelah melihat sesuatu yang aneh di kursi panjang di depan rumahnya, Luhan menghentikan kegiatannya. Setelah lebih mendekatkan dirinya ke jendela, ternyata itu adalah seorang manusia. Air yang berada di dalam mulutnya terasa sangat sulit ditelan begitu mengetahui orang itu tertidur pulas di kursi itu. Tapi Luhan tidak yakin dengan yang dilihatnya karena hari benar-benar gelap dan hanya ada cahaya bulan yang menerangi luar rumahnya.
Iapun segera menutup tirai jendela itu dan mengunci pintu. Lalu pergi tidur sampai pagi tiba.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara nada dering ponsel yang berada di atas meja nakas berhasil mengganggu tidur Luhan. Matanya berkedip-kedip untuk menyesuaikan penglihatannya, lalu sempat melirik pada jam beker yang masih menunjukkan angka setengah delapan. Saat melihat nomor asing yang tertera pada layar 5,1 inchi miliknya, ia tahu pasti hari ini ia harus pergi mengirim barang lebih awal. Tadinya ia berpikir untuk menggeser tombol reject karena kemarin ia pulang larut. Namun akhirnya ia menjawab panggilan itu acuh tak acuh.
"Yeoboseyo."
"..."
"Ya, benar."
"..."
"Silahkan kirim alamat pengirim dan alamat orang yang akan dikirimi barang melalui sms. Jangan lupa sertakan waktunya kapan aku harus mengirimnya. Terimakasih."
Kata-kata itu benar-benar sama persis dengan yang selalu ia katakan pada setiap orang yang memerlukan jasanya. Dengan begitu ia akan langsung mengakhiri sambungannya. Namun tampaknya orang ini belum selesai berbicara pada Luhan.
"..."
Luhan memutar bola matanya dan mendesah malas. Orang ini meminta ijin padanya untuk mengirim tiga barang sekaligus ke tempat yang berbeda-beda. Dan ditambah sedikit basa-basi dengan 'apakah tidak apa-apa', 'maaf mengganggu waktumu', dan lain sebagainya. Mau tak mau Luhan membalasnya dengan sedikit acuh karena ini benar-benar mengganggu tidurnya.
"Ya tak apa, aku mengerti." Jawab Luhan yang kini mulai beranjak dari kasurnya tanpa memutus sambungan. Ia berjalan menuju kulkas untuk minum air dingin agar rasa kantuknya menghilang. Dengan mengapit ponselnya diantara telinga dan bahu kirinya, ia mulai menuang air putih ke gelasnya.
"..."
Luhanpun meneguk airnya dengan cepat, lalu membuka tirai jendela yang ada di depannya. "Ah, saat ini juga? Tapi aku benar-benar belum siap."
Saat tirai itu terbuka, sinar matahari langsung menerobos masuk ke matanya dan itu membuat Luhan sedikit menyipitkan kedua matanya. Kemudian tak beberapa lama setelahnya, ia menyadari jika memang benar-benar ada seseorang yang tertidur di kursi panjang miliknya. Tubuhnya terlihat masih terlelap di bawah sinar matahari yang perlahan-lahan mulai terik. Sampai akhirnya ia menyadari sebuah jaket baseball yang ia kenal menyelimuti sebagian tubuh itu.
Matanya membulat seketika. Ia sangat kenal jaket itu. Jaket yang tertinggal saat pergi ke festival musim semi beberapa hari yang lalu bersama Kai.
"S—sehun.."
Sekarang ia yakin bahwa semalaman pasti Sehun tertidur disana. Tak banyak waktu, ia berlari keluar rumah untuk menghampiri Sehun yang kini matanya sedikit bergetar setelah mendengar derap kaki Luhan yang cukup berisik. Luhan memandangi wajah lelaki itu yang dahinya sedikit berkerut, sampai akhirnya Sehun membuka matanya perlahan-lahan. Saat mata itu sudah terbuka, hal yang pertama kali dilihatnya tentu saja Luhan yang memasang raut khawatir ke arahnya.
"Sehun, apa yang kau lakukan disini?" ia melihat Sehun mulai bangun dari kursi itu, kemudian merenggangkan seluruh tubuhnya. Membuat jaket yang menyelimuti tubuhnya jatuh ke pangkuannya.
"Kau disini semalaman?" tanyanya lagi.
Ia melihat lelaki di hadapannya menyerahkan jaket baseball itu dengan mata sayu.
"Kau tidur disini semalaman hanya untuk menyerahkan ini?"
Luhan merasa jalan pikiran Sehun sedikit tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia menunggu semalaman hanya untuk mengembalikan sebuah jaket. Sehun bisa meletakkannya di depan pintu dan membuat catatan kecil, tapi yang ia lakukan dengan menunggu semalaman sangat tidak rasional.
"Tadi malam aku sudah mengetuk pintu, tapi sepertinya kau sudah tidur." Balasnya enteng.
Luhan dapat melihat jelas bagaimana cara bicara Sehun yang sedikit parau. Wajahnya sangat pucat jika dilihat lekat-lekat. Ada rasa bersalah yang menyelimutinya ketika kembali mengingat jika semalam ia hanya mengacuhkannya dan malah buru-buru mengunci pintu. Tapi ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Luhan.
"Masuklah, kebetulan aku ingin membuat sarapan. Kau baru boleh pergi setelah itu."
Ia baru ingin membalikkan tubuhnya, tetapi Sehun kembali berbicara.
"Aku ingin meminta bantuanmu. Apapun itu. Kau masih mengingatnya bukan?"
"Hmm, tentu. Katakan saja."
Ia melihat lelaki itu mulai berdiri di depannya, "Aku ingin tinggal disini. Di rumah itu." kata Sehun sambil menunjuk rumah Luhan dengan jari telunjuknya.
Luhan merasa seperti dagunya jatuh ke lantai yang keras. Ia bahkan tidak berpikir jika Sehun akan meminta bantuan seperti itu padanya. Apa yang harus ia katakan pada Kai jika Sehun benar-benar akan tinggal di atap yang sama dengannya. Bagaimanapun, ia harus meminta izin pada Kai karena bangunan ini memiliki campur tangan dengan lelaki itu. Mereka membangun rumah itu bersama dengan uang mereka hanya untuk membuatkan rumah atap untuk Luhan. Waktu itu Kai adalah orang yang memohon pada pemilik toko buah; yang sekarang berada di bawah rumah Luhan, untuk membuat rumah di atas toko itu.
"Kau berkata akan senang jika bisa membantuku bukan?" tanya Sehun yang melihat keraguan dari ekspresi wajah Luhan.
"I—iya, bukan.. maksudku.."
"Apa yang terjadi disini?"
Tiba-tiba suara Kai menginterupsi pembicaraan mereka. Luhanpun menoleh hanya untuk mendapati raut wajah lelaki itu berubah saat ia melihat Sehun.
"Bukankah kau orang yang mengangkat Luhan waktu itu?"
Ia melihat Kai memandangi Sehun dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mungkin saat ini Kai tidak menduga akan melihat Sehun di depan rumah Luhan dan sedang berbicara dengannya.
Luhan tidak ingin ada suasana canggung diantara mereka bertiga. Jadi ia buru-buru mencari jalan keluar.
"Ah, kau datang rupanya. Ayo masuk, kebetulan aku ingin membuat sarapan. Kau juga Sehun, ayo ikut sarapan bersama kami." Kata Luhan. Kemudian masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan dua lelaki yang masih berdiri di tempat mereka.
Tanpa Luhan sadari, ponsel yang ada di tangannya masih tersambung sejak pembicaraannya dengan Sehun dimulai. Sebelum akhirnya diputus dari seberang.
Kai yang dibuat bingung oleh perkataan Luhan kini melirik Sehun sebentar, sebelum akhirnya masuk ke dalam mengikuti Luhan.
Karena Luhan dan seorang lelaki yang Sehun ketahui bernama Kai sudah pergi, Sehun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengambil sebuah botol kecil disakunya. Botol berisi cairan berwarna hijau itu ia teguk dengan cepat, lalu membuangnya sembarangan dan masuk ke rumah Luhan.
Dua orang lelaki itu, Kai dan Sehun hanya duduk diam di meja makan sambil menunggu Luhan. Sesekali Luhan melirik dua orang itu dari sudut matanya sambil terus membuat sup rumput laut untuk sarapan mereka. Mereka tidak mengucap kata sedikitpun, karena Kai terlalu sibuk dengan ponselnya dan Sehun layaknya seseorang yang baru pertama kali masuk ke rumah asing. Ia melihat-lihat sekeliling rumah Luhan yang menurutnya minimalis. Dengan hanya satu petak rumah tanpa sekat; kamar tidur, dapur, ruang makan dan ruang tamu terlihat menjadi satu. Hanya kamar mandi yang memiliki ruang sendiri. Tapi disamping itu, rumah Luhan terlihat rapi dan nyaman untuk ditinggali.
"Tidak biasanya masakanmu asin seperti ini." kata Kai tiba-tiba.
Luhan mengernyit pelan ketika mencicipi supnya, kemudian beralih menatap Sehun yang terlihat baik-baik saja memakan masakannya.
"Sehun, bukankah ini terlalu asin?"
"U—uh? Ya.. ini sangat asin, tapi masih bisa dimakan." Jawab Sehun lalu kembali menyantap makanannya.
Kai yang berada di hadapan Luhan hanya menaikkan satu alisnya, "Kenapa kau bisa ada disini?"
Karena Sehun merasa Kai berbicara dengannya, ia menghentikan makannya dan mengangkat kepala, "Aku disini untuk meminta bantuan Luhan."
"Apa yang kau mau?" tanya Kai seraya melipat lengannya di dada.
"Aku ingin tinggal di rumah ini."
"M—MWO?"
Luhan sedikit meringis mendengar Kai di depannya. Ia sangat yakin pasti Kai akan terkejut mendengar ini. Luhan sudah tahu jawaban apa yang akan katakan setelahnya.
"Tidak. Hanya karena kau menolong Luhan bukan berarti kau bisa meminta bantuannya semaumu." Lanjut Kai sinis.
"Tapi dia berkata jika aku bisa meminta apapun darinya."
Sehun kembali melanjutkan makannya yang tertunda. Lelaki itu terlihat tidak peduli dengan situasi yang sedang terjadi sekarang. Bagaimana Kai menatap sinis Luhan yang sedang berusaha untuk tidak berkontak mata dengannya.
"Bagaimana bisa kau membiarkan orang asing tinggal disini bersamamu?" tanya Kai tak segan-segan untuk peduli bahwa Sehun bisa mendengar itu semua.
"Tenanglah Kai.. Aku memang menawarkannya bantuan. Jadi jangan salahkan Sehun."
Mendengar itu, Kai tiba-tiba berdiri. Dengan cepat ia menyampirkan mantelnya yang disampirkan di belakang kursi. Kemudian menatap Luhan yang bingung dibuatnya.
"Aku akan menjual rumah ini jika dia belum pergi saat aku kembali kesini."
Dengan begitu Kai pergi meninggalkan mereka. Menyisakan makanan di meja yang baru beberapa suap masuk ke perutnya. Luhan menggigit bibir bawahnya, bingung dengan apa yang harus ia berbuat sekarang. Kali ini lelaki itu benar-benar marah padanya. Ia benar-benar bingung apa yang harus dilakukan sekarang. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin membantu Sehun. Hanya saja permintaannya sedikit membuatnya keberatan.
Sehun melirik jam tangannya, "Aku pergi dulu. Mungkin aku akan kembali kesini nanti malam."
Setelah Sehun pergi, Luhan kembali sendirian di sana. Pikirannya sibuk mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kai dan menolong Sehun dengan cara lain. Yang Kai butuhkan darinya bukan permintaan maaf, begitupun Sehun.
Tapi untuk saat ini ia memilih bekerja daripada memikirkan hal itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Luhan memicingkan matanya sedikit. Ia mengangkat kepalanya ke atas melihat bangunan tinggi dan mewah di depannya. Gedung apartemen yang hampir seluruh bagian luarnya adalah kaca. Ditempat inilah barang terakhir yang akan dikirimnya dari penelpon pertamanya tadi pagi. Tepatnya di daerah Apgujeong; daerah dimana toko-toko mewah kelas dunia seperti Gucci, Hermes, Louis Vuitton tersedia disini. Melihat orang-orang yang keluar masuk dari pintu utama apartemen dengan menggunakan pakaian yang mewah, ia merasa harus berpikir dua kali untuk masuk kesana. Bukan karena bajunya yang kuno. Luhan mengakui kalau pakaian yang dikenakannya sekarang termasuk masa kini, perbedaannya hanya ia membeli pakaian-pakaian di department store biasa.
Merasa kepercayaan dirinya mulai terkumpul, Luhan memasuki pintu 1 utama sambil membawa kotak sebesar rice cooker yang ada di tangannya. Masa bodoh dengan tatapan aneh security dan resepsionis yang dilempar arahnya. Untung saja pintu lift langsung terbuka setelah menekan tombol open jadi Luhan tidak perlu merasa risih lebih lama. Sembari melihat alamat yang dikirim ke ponselnya, ia menekan angka 29. Perjalanan menuju ke lantai 29 benar-benar terasa membosankan. Akhirnya Luhan menyandarkan bahu kanannya ke dinding lift, menumpu seluruh berat badannya pada kaki kanan.
Rupanya terdapat dua penjaga di depan pintu kamar bernomor 58 itu. Mereka menggunakan setelan hitam disertai hal semacam earphone yang menempel pada telinga mereka. Sepertinya itu adalah alat komunikasi, batin Luhan.
"Permisi, ada kiriman barang dari tuan Kim Jongdae." Kata Luhan sambil memperlihatkan tanda tangan disertai sebuah stemple pada kertas tanda pengiriman dari orang yang bernama Kim Jongdae.
Tak beberapa lama kemudian, dua penjaga itu terlihat saling berpandangan sebelum akhirnya menekan passcode di samping pintu. Mereka menyuruh Luhan masuk dan mencari sebuah pintu yang terletak di sebelah kanan setelah lorong. Apartemen ini bersih dan rapi. Layaknya seseorang yang baru pertama kali masuk ke rumah asing, Luhan memperhatikan seluruh furniture yang ada di sekitar lorong pendek itu. Namun, sebelum ia sampai di pintu tujuannya, seseorang yang ia kenal berjalan ke arahnya.
"Chanyeol-ssi?"
"Kau sudah sembuh rupanya. Menghindar dariku, huh? Apa kau sengaja tidak menghubungiku karena tidak mau mengantar barang dariku? Karena kebetulan kau berada disini, aku akan memintamu untuk mengantar barang yang belum sempat kau kirim waktu itu."
Chanyeol kembali dengan membawa kotak yang kemarin belum sempat diantar oleh Luhan. Raut segan yang tertera di wajah Luhan membuat Chanyeol kembali menampakkan ekspresi kesal yang sama seperti saat Luhan berkata sedang sakit dan tidak bisa mengirim barang.
"Jangan bilang kalau kau akan menolaknya lagi." Kata Chanyeol dingin.
"Kau bisa menyuruh asisten atau penjaga yang ada diluar untuk mengirim kotak itu selain aku! Kenapa harus aku yang mengirimnya?!"
Nada tinggi yang keluar dari mulutnya benar-benar tidak dapat ditahan lagi. Luhan sudah muak dengan semua ini. Meskipun ia yakin jika Chanyeol akan menebus uang ke polisi untuk membebaskannya kalau tertangkap lagi. Tapi ia tidak mau. Semenjak mengantar barang dari Chanyeol, kejadian tak terduga selalu menimpanya.
"Kau baru saja berteriak padaku?! Aku bersumpah, bahkan kau tidak tahu apa isi kotak ini. Apa kau takut akan tertangkap polisi lagi?! Jika kau kembali berpikir, ini bukan salahku! Salahkan David yang membisikkan sesuatu padamu di bawah cctv keparat itu!" serang Chanyeol.
Luhan hanya bisa diam tak berkutik. Suara gertakan lelaki itu menggema sampai keseluruh penjuru ruangan. Chanyeol benar dengan semua itu. Tapi ia tidak berhak menyalahkan orang yang mungkin saja sudah mati. Karena belum ada berita satupun dari Chanyeol jika tubuh David telah ditemukan.
"A—aku.. maafkan aku. Aku akan memikirkannya sampai besok." Balas Luhan takut-takut.
Dengan begitu, ia meletakkan kotak yang dibawanya ke lantai dan berlari pergi meninggalkan tempat itu. Di dalam lift ia kembali teringat dengan kata-kata Chanyeol. Luhan tidak tahu jika bisikan David adalah sebuah kesalahan. Karena isi dari bisikan David tidak sepenuhnya bisa disalahkan.
Salahkan David yang membisikkan sesuatu padamu di bawah cctv keparat itu!
Lalu apa hubungannya dengan Luhan? Kenapa Chanyeol marah-marah jika David membisikkan sesuatu padanya? Atau ada sesuatu dibalik bisikan itu yang berusaha David sembunyikan dari Chanyeol?
Jika aku kembali, aku akan pergi mencarimu. Tetapi, jika aku tidak kembali, kau akan dalam bahaya.
Tapi bisa saja ini ada hubungannya dengan Chanyeol...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hampir sepuluh menit yang lalu Kai meninggalkan rumah Luhan. Kai berada di rumahnya sejak matahari terbenam, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Itu tandanya tiga jam lebih Kai menghabiskan waktunya disana. Setelah makan malam ia dan Kai tidak mengatakan sepatah katapun karena lelaki itu sibuk dengan berkas-berkas pekerjaannya dan Luhan hanya menemaninya sambil menonton tv. Sesekali Luhan melirik jam dinding dan Kai bergantian. Khawatir jika Sehun tiba-tiba datang mengetuk pintu. Ia tidak ingin mendengar kata-kata pedas lagi dari mulut Kai. Ia tahu lelaki itu sengaja berada di rumahnya sampai waktu hampir larut. Tentu saja ia tidak ingin Sehun menginjakkan kaki lagi di rumah Luhan.
Luhan memang sedikit keberatan ketika Sehun memintanya untuk tinggal bersama. Status mereka masih orang asing karena baru beberapa kali bertemu dan belum mengenal satu sama lain. Dari cara bicara Sehun ia terlihat baik, tapi tatto yang Luhan lihat di lengannya membuatnya tidak yakin untuk membiarkan Sehun tinggal disini. Ditambah lagi Kai akan berbuat lebih jauh untuk membuat Sehun menjauh darinya. Dan itu membuat Luhan sedikit tak enak hati.
Suara ketukan pintu membuat Luhan bangun dari posisi tidurnya dengan cepat. Ia yakin itu Sehun. Bayangan tubuh Sehun yang sedang berdiri di depan pintu terlintas di otaknya. Pikirannya berkata untuk kembali tidur, tapi dalam benaknya berkata lain. Tak bisa ia pungkiri jika memang sedari tadi ia menunggu lelaki itu datang lagi. Tiba-tiba saja keraguan untuk membukakan pintu lenyap seketika. Luhanpun pergi membukakan pintu untuk Sehun yang terlihat masih sabar menunggunya.
Beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Luhan memalingkan wajahnya terlebih dahulu.
"Maafkan aku, Sehun. Sepertinya aku benar-benar tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku takut Kai akan berbuat lebih jauh dan memarahiku."
Tiba-tiba hening mendominasi. Ia bisa mendengar suara hembusan nafas Sehun yang terdengar putus asa. "Bukankah kau sendiri yang berkata 'apapun itu' padaku? Lalu mengapa kau mengatakannya jika tidak bisa ditepati?"
Perkataan Sehun berhasil membuatnya bungkam. Ada rasa sesal karena tidak bisa membantu Sehun dan karena tanpa ragu menawarkan Sehun bantuan apapun. Tapi sepertinya yang pertama lebih mendominasi.
"M—maafkan aku!" buru-buru Luhan menutup pintu rumahnya. Membiarkan Sehun berdiri mematung diluar seorang diri. Ia menggigit bibir bawahnya karena merasa bersalah pada Sehun. Tapi ia pikir ini cara paling mudah untuk membuat Sehun berhenti memintanya untuk tinggal bersama. Meskipun Luhan tahu pasti Sehun akan merasa sakit hati ditolak seperti itu.
"Luhan, buka pintunya! Luhan!"
Suara ketukan pintu tak henti-hentinya terdengar.
"Kumohon buka pintunya!"
Ada rasa iba yang terlintas dalam benak Luhan seiringan dengan suara Sehun yang terdengar semakin putus asa. Sampai akhirnya suara ketukan pintu tak lagi terdengar dan Luhan yakin Sehun masih berdiri disana. Dan beberapa lama kemudian ia mendengar Sehun menyebut namanya sekali lagi sebelum akhirnya suara derap langkah kaki mulai menjauh.
Perlahan, Luhan mengintip Sehun yang kini menuruni tangga dari balik jendela rumahnya. Memastikan jika Sehun tidak tidur di kursi panjang lagi. Sempat terlintas di dalam benaknya apa yang akan Sehun lakukan setelah pergi dari sini. Tapi buru-buru ia menggelengkan kepalanya. Sudah saatnya ia melupakan Sehun.
Sudah pukul sebelas malam tapi yang dilakukan Luhan hanya mengubah-ubah posisi tidurnya yang tak nyaman. Pikirannya benar-benar tidak bisa berhenti mencemaskan Sehun. Meskipun ia berusaha dengan keras, matanya tetap tak mau terpejam. Bayangan Sehun yang sedang berjalan sendirian malam-malam sungguh membuatnya khawatir.
Bagaimana jika Sehun benar-benar tidak punya tempat tinggal?
Apakah ia punya uang untuk menyewa kamar?
Apakah dirinya keterlaluan membiarkan Sehun berjalan sendirian larut malam?
Luhan benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Wajah pucat Sehun setelah bangun tidur tadi pagi tiba-tiba saja terngiang di otaknya. Rasa cemas yang tidak bisa ditahan lagi membuat Luhan beranjak dari kasurnya. Buru-buru ia menyambar dompet yang ada di atas meja nakas dan memakai jaketnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yaha~!^_^
Terimakasih yang sudah berkenan baca FF ini! Apalagi yang bener-bener setia dari FF Broken Home~!
Kalau diperhatiin, kayanya FF ini responnya kurang bagus dari readersnim.. Kurang seantusias BH dan BLD. T_T
Iya aku tau ff ini ngebosenin karena alurnya terlalu rumit jadinya bikin bosen. Padahal sebenernya FF ini yang bakalan paling aku suka kalau udah completed. Ya, mungkin yang ini genrenya kurang menarik perhatian karena horror suspense. Karena ini baru awal jadi romancenya belum keliatan aja T_T
Ada yang bilang kalau ini terlalu ke KaiLu, tapi jangan salah paham u.u
Alurnya masih awal dan belum ke inti yang aku "maksud" jadi ya... maaf kalau terlalu bertele-tele. Hihi
Oh ya, buat epilog BLD bisa aja aku update tiba-tiba tanpa koar-koar di twitter. Jadi please look forward to it! 3
Dan satu lagi, give a lot of support for More Than Closer, okay?! Hehehehehe
Bilang aja readersnim kalo ff yang ini agak ngebosenin, aku gapapa kok ^_^
See you for the next chapter!
