Mencintaimu...menjadi hal yang paling menyakitkan dalam hidupku.

Tapi melepaskanmu...menjadi hal yang paling sulit dilakukan dalam hidupku.

Dan inilah aku...yang sedang memohon pada Sang Penguasa.

Untuk mendatangkan hari dimana aku bisa menitipkan hatiku di hatimu...

.

.

.

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And other cast

.

.

.

Acara penghargaan musik baru saja berakhir 10 menit yang lalu. Dan disinilah aku saat ini. Di ruang ganti. Bersama anggota EXO lainnya merasakan kebahagiaan setelah berhasil mendapat penghargaan tertinggi. Tepatnya mereka yang berbahagia. Lalu aku? Jangan lupa aku sudah melewati kejadian ini dulu. Semuanya masih sama. Termasuk insiden kecil tadi.

'Hay Byun...' Ya. Benar. Insiden ketika myungsoo bernyanyi didepanku. Sama persis seperti dahulu. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Satu yang berbeda. Terjadinya...lebih awal.

Sesaat..kupikir Myungsoo juga mengenaliku. Namun..pikiranku terpatahkan ketika melihat anggota grupnya yang lain melakukan hal yang sama sepeti yang ia lakukan. Ternyata..itu hanya fanservice..

Aku tersenyum kecut. Terkadang aku merasa.. yang terjadi padaku ini bukanlah kesempatan tapi hukuman. Mengulangi kembali kejadian yang telah kau alami sebelumnya. Merasakan sakit untuk kedua kalinya...Tidakkah itu suatu hukuman?

Tidak mau terlihat sedih disaat momen bahagia, kuputuskan untuk keluar ruangan sejenak untuk mendinginkan pikiran. Melihat masih ramainya artis dan staff di luar, membuatku memilih pergi ke lantai paling atas. Aku menghela nafas lega karena di lantai ini sepi dan temaram. Kubawa langkahku menuju salah satu jendela yang terbuka dan tersenyum mendapati indahnya lampu-lampu gedung yang terlihat dari jendela.

Aku menjulurkan tanganku keluar jendela untuk merasakan hembusan angin malam. Namun..Tes! Setitik air jatuh di telapak tanganku. Awalnya kukira turun hujan, tapi tak lama dari itu, butiran-butiran putih mulai berjatuhan dari atas. Salju. Salju pertama.

"Hffttt..lihat! Hanya kita yang berada ditaman disaat cuaca sedingin ini!"

"Hahaha..mereka saja yang tidak tahu indahnya salju pertama Baek"

"Apa yang indah?! Salju tetap berwarna putih meskipun di hari kedua ketiga atau keseratus!"

"Kalau begitu..akan kubuat kau selalu mengingat indahnya salju pertama"

"Apa yang kau-...Hey.. dimana-mana kotak itu berisi cincin bukannya gelang!"

"Gelang ini berbeda Baek. Tidak ada tiruannya. Hanya ada satu. Seperti hatiku..hanya untukmu."

"Pfffttt..kau menggelikan. Cepat pakaikan padaku!"

"Lihat bandulnya..."

"Ya..Ya..sudah kuduga itu ukiran namamu. Hei..apa ini? EXO?"

"Mmmm.. kami adalah satu. Masing-masing dari kami memiliki posisi di hatimu. Sampai kau bisa mengutamakan salah satunya...kuharap kau tidak akan pernah kehilangan keduanya.."

"Aku..."

"Hey Hey jangan menangis. Kuhitung sampai 3, kalau kau tidak mau berhenti aku akan menciummu. Satu..Du-mmppht"

.

.

Aku tersenyum mengingat sepotong kejadian itu. Benar katanya, sejak saat itu aku memang tidak pernah melewatkan turunnya salju pertama. Tapi dia salah. Tidak selamanya salju pertama itu indah. Karena..dua kali aku harus merasakan kehilangan... ketika turunnya salju pertama.

Aku mengecek jam yang bertengger di tanganku. Ternyata sudah setengah jam aku merenung di ruangan ini. Tak mau membuat yang lain menunggu, kuputuskan untuk kembali ke ruang tunggu. Tapi...tunggu sebentar. Seperti ada yang kurang. Kulihat lagi pergelangan tanganku, dan..gelangnya! Gelangnya tidak ada!

Kususuri jalan yang kulewati tadi. Hingga sampai di ruang tunggu pun tidak ada. Sekali lagi aku keluar mencari dengan lebih cermat di jalan yang kulewati sebelumnya. Hingga akhirnya.

"Maaf..apakah kau sedang mencari gelang ini?" . Aku bernafas lega ketika mendengar kata gelang. Aku berputar untuk melihat siapa yang telah berbaik hati menemukannya. Deg! Lagi-lagi aku lupa cara bergerak bila di dekat pria ini. Aku juga lupa cara bernafas ketika tubuhnya sudah berada di depanku.

"Ini..punyamu kan?" Aku lupa cara berbicara hingga menjawabnya hanya dengan anggukan kepala dan menerima gelang yang ia berikan dalam diam.

"Aku melihat gelang ini tergeletak di dekat pintu ruang ganti kami. Lalu sejak tadi, kulihat sepertinya kau sedang mencari sesuatu. Ternyata benar" ucapnya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipi khasnya.

"Te..terima ka..kasih" Sial! Tidak bisakah suaraku berkompromi sekali saja!

"Sama-sama. Umm..aku tahu kita sudah saling mengetahui satu sama lain. Tapi..akan lebih baik jika kita berkenalan secara resmi. Aku..myungsoo-ssi" ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Aku memantapkan hati terlebih dahulu dan berdoa semoga tanganku tidak bergetar dan suaraku tidak gagap kembali. "Hai myungsoo-sii. Aku..Byun Baekhyun" Aku pun memberanikan menyambut uluran tangannya. Dia tersenyum kembali.

"Panggil namaku saja Baek. Kita seumuran" Dia tertawa kecil. "Kalau begitu, aku permisi dulu Baek. Sampai bertemu kembali"

"Oh baiklah...sekali lagi terima kasih Myungsoo" ucapku sambil menunduk. Melihatnya dari jarak dekat tidak baik untuk kesehatan jantungku. Kulihat dia sudah beranjak kembali ke arah ruangannya berada. Namun baru 2 langkah, ia berhenti dan berbalik kearahku.

"Ah ya..gelangmu unik Baek. Kapan-kapan temani aku membeli gelang seperti itu yaa" Lalu dia berbalik kembali dan benar-benar kembali ke ruangannya.

Aku masih terdiam di tempat. Harusnya aku yang bertanya dimana kau mendapatkan gelang itu Myungsoo... Dan aku pun kembali ke ruang tunggu.

.

.

Lusa adalah malam natal. Kami semua diberikan waktu libur selama seminggu. Dan karena itulah..suasana di dorm malam ini ramai. Semuanya ribut membicarakan rencana natal masing-masing. Lay akan kembali ke China. Chanyeol berencana liburan ke Eropa bersama keluarganya . Sehun juga berangkat ke Jepang dan yang lainnya berencana merayakan natal bersama keluarga di rumah. Lalu aku? Sejak lulus SMA, aku terbiasa merayakan natal sendiri. Keluargaku... sudah lama tidak tinggal di Korea.

"Baek.. ikut aku ya ke Jepang?" - Sehun

"Ikut aku saja ke China, pemandangan di dekat rumahku sangat indah Baek" – Yixing

"Kerumahku saja Baek.. Kau selalu diterima di rumah kami" – Suho

"Tidak. Tidak. Tidak. Tapi..terima kasih untuk tawaran kalian. Aku baik-baik saja sendiri di dorm" Aku tersenyum memandangi mereka satu per satu. Mereka memutar mata, bosan mendengar penolakanku yang selalu terjadi setiap tahunnya.

"Ah..jangan-jangan kau sudah ada janji dengan seseorang? Hey jangan lakukan di dorm yah" Aku baru saja ingin menjawab ucapan si mesum Jongin sampai seseorang mendahuluiku berbicara.

"Biarkan Baekhyun berkencan lagi. Sepertinya ia sudah menemukan lelaki baru" Itu Park Chanyeol dengan otak sok tahunya.

Aku memutar mata malas "Tidak dan tidak! Aku bersumpah aku tidak berkencan dengan siapapun dan tidak akan pergi dengan siapapun!" ucapku dengan tegas. Entah itu halusinasiku saja, tapi.. sekilas aku melihat Chanyeol tersenyum tadi...

.

.

Pagi harinya, aku merutuki mulutku yang telah lancang berucap sumpah, setelah membaca sebuah pesan di handphoneku.

'Baek..besok malam kau ada acara? Kalau tidak ada..maukah kau merayakan natal bersamaku?' Itu dari Myungsoo. Dan itu bukan pesan pertamanya. Dua hari setelah pertemuan kami waktu itu, dia menghubungiku. Hingga sekarang..telah memasuki bulan ketiga kami selalu bertukar pesan dan telepon.

Kembali pada sumpahku tadi, sebenarnya bisa saja aku berbohong pada mereka, toh tak ada satupun dari mereka yang ada disini besok malam. Namun..entahlah aku bimbang. Di satu sisi..aku merindukan merayakan natal bersama Myungsoo seperti yang biasa kulakukan dulu. Tapi di sisi lain..aku hanya merasa tidak enak berbohong pada mereka.

'Aku belum tahu..Besok pagi akan kukabari' Itu balasanku pada Myungsoo.

Hari ini..suasana di dorm perlahan-lahan mulai terasa sepi. Chanyeol, Yixing dan Kyungsoo berangkat duluan di siang hari. Lalu tinggallah Sehun yang masih tinggal hingga malam hari. Nampak kekhawatiran dari ekspresinya.

"Kau benar-benar tidak mau ikut aku ke Jepang?" tanyanya untuk yang kesepuluh kalinya hari ini. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat ekspresi kekhawatirannya.

"Aarrghh! Kau membuatku tidak bisa pergi dengan tenang!"

Aku tertawa. "Hemmm..kau takut rindu padaku?"

"Bukan begitu bodoh! Kau wanita. Sendirian. Memangnya aku tidak khawatir!"

"Uuhhh manisnya.. Apa aku jadi pacarmu saja yah?" Aku tertawa melihat wajahnya memerah kesal.

"Boleh saja...asal kau bisa memuaskanku.." bisiknya. Aku mendengus. Oh Sehun memang tidak pernah kalah dalam berdebat. Melihatku diam tak membalas ia pun tertawa.

"Ya sudah. Aku pergi sekarang. Aku akan menelponmu tiap jam!" Dan ia pun pergi. Aku kunci pintu dan masuk kembali ke dalam. Benar-benar sepi. Bukan hanya sekali ini aku merasakan ini. Dulu pun begitu. Tak pernah ada perayaan bersama-sama. Tak ada kehangatan. Semua hanya peduli pada urusan masing-masing.

.

.

Keesokan paginya, aku sudah bersiap-siap keluar. Aku memutuskan akan merayakan malam natal bersama Myungsoo. Pukul 10 pagi aku sudah siap dan masuk ke mobilku. Aku berencana untuk membeli beberapa camilan sebelum ke apartement Myungsoo. Ah ya...aku lupa mengabarinya. Kuambil handphoneku untuk mengirim pesan padanya. Aku tersenyum kecil melihat walpaper di handphoneku. Foto ketika aku dan semua anggota EXO sedang berlibur ke L.A. Kulihat ada 3 pesan masuk dan 6 panggilan tak terjawab.

'Hey! Kenapa tidak angkat telponku?! Kau baik-baik saja?' – Sehun

'Baekhyun..aku menyiapkan sup daging di kulkas. Kau hangatkan saja ya. Selamat Natal' – Kyungsoo

'Kalau terjadi sesuatu segera hubungi aku' Mataku melebar ketika membaca pesan ketiga. Ini..pesan dari Chanyeol. Rasanya aku ingin menangis membaca ketiga pesan ini. Panggilan telpon tak terjawab juga berasal dari anggota EXO lainnya. Sungguh...kalian hadiah terbesar yang pernah ada di hidupku.

Setelah berpikir sejenak, akupun kembali ke mobil. Aku mantapkan putusanku dan mulai melajukan mobilku. Sebelumnya..aku tidak lupa mengirim pesan...

'Maaf...akusepertinya tidak bisa merayakan natal bersamamu. Aku ada acara lain. Selamat Natal Myungsoo' . Dengan itu kulajukan mobilku...kembali ke dorm.

.

.

Sungguh..aku tidak menyesali keputusanku. Meskipun saat ini aku sendiri..Benar-benar sendiri. Di dalam dorm yang tidak lama lagi akan kami tinggalkan. Itulah alasanku memilih tinggal di dorm sendirian malam ini. Aku ingat..tahun 2018..3 tahun lagi dari sekarang, kami semua akhirnya meninggalkan dorm. Dikarenakan aktivitas individu yang semakin meningkat, jadwal grup yang berkurang, serta pekerjaanku yang tak kalah padat, membuat dorm ini selalu tak berpenghuni setiap harinya. Hingga saat itu, akhir tahun 2017. Disaat yang lain sibuk menyambut natal, kami justru sibuk memindahkan barang ke tempat tinggal masing-masing. Tidak ada ucapan perpisahan. Tidak ada ajakan untuk mengunjungi. Dan itu menjadi awal...menuju pembubaran.

Mengingat kejadian yang kualami dulu, membuatku tak sadar meneteskan air mata. Aku sangat berharap..hal itu tak akan pernah terjadi. Jika ini memang benar kesempatan kedua..aku memohon...jangan biarkan aku merasakannya kembali. Aku mungkin akan menangis tersedu-sedu jika tidak mendengar ada suara ribut dari luar. Kuusap air mataku dan beranjak membuka pintu. Dan...

"Baekhyuuuunnnnnn...!" "Baekhyunnnieeeee...!"

Pikiranku kaku seketika, ketika tubuhku diterjang oleh Kai dan Sehun. Apakah aku sedang berhalusinasi? Bagaimana bisa mereka berdua- oh tidak..semuanya...bahkan Chanyeol ada disini!

"Aww!" aku mengusap pipiku yang dicubit Sehun.

"Itu untuk menyadarkanmu bahwa ini bukan mimpi Baek" Sehun tersenyum dan ikut mengusap pipiku lembut. Terkadang aku heran, kenapa hatiku tak pernah tergoda olehnya.

"Jadi..kalian semua mengerjaiku?" aku melihat mereka satu per satu.

"Tidak..sebenarnya aku malah terkejut melihat yang lain ada disini. Dan sepertinya mereka pun sama sepertiku" ucap Xiumin. Aku masih melongo diam. Belum mengerti.

"Ini artinya kami semua mengkhawatirkanmu Baekhyunku" Sehun mencubit gemas kedua pipiku. Ingatkan aku untuk menjadikan Sehun pacarku suatu saat nanti.

Kulihat mereka semua tersenyum, Chanyeol juga... Benarkah yang dikatakan Sehun? Tak kusadari air mataku jatuh. Semakin lama semakin banyak dan tangisku tak terbendung. Dan aku benar-benar terisak ketika kurasakan mereka semua merengkuhku dalam pelukan. Sungguh...jika waktu bisa dihentikan..aku ingin berhenti saat ini. Hanya ini yang kuinginkan..tetap bersama-sama dengan mereka. Lengkap. Tanpa ada yang egois dengan urusan masing-masing. 2 tahun..5 tahun..bahkan 1000 tahun..kuharap kalian selalu kokoh... menemani hari-hariku.

.

.

.

Jam dinding sudah menunjukkan tengah malam. Namun, tidak ada satupun dari kami yang beranjak pergi tidur. Semuanya berkumpul di ruang tengah. Masing-masing semangat menceritakan kisah mereka ketika kembali ke dorm tadi. Ada Sehun yang bersender di kakiku, bercerita tentang dirinya yang ketinggalan pesawat ke jepang malam kemarin karena taksi yang ditumpanginya mogok. Ada Yixing yang juga bersender di kakiku, bercerita tentang dirinya yang dimarahi oleh ibunya karena meninggalkanku sendirian hingga ia disuruh kembali kemari. Aku tertawa sambil sesekali masih terisak mendengar cerita mereka. Dan ada Chanyeol..yang tiduran dengan kepalanya berada di pangkuanku. Matanya terpejam. Tapi ia belum tidur. Kuberanikan menyentuh rambut yang menutupi dahinya lalu mengelus kepalanya perlahan.

"Aku benar-benar akan tertidur di pangkuanmu" bisiknya. Aku hendak menarik tanganku tapi dia menahannya. Menyuruhku melanjutkan usapan di rambutnya.

"Bagaimana kau bisa kembali?" tanyaku pelan

"Aku hanya tidak ingin dorm kita banjir air mata karena kau semalaman menangisi kesendirianmu" ejeknya. Aku cubit gemas hidungnya. Dia mengaduh pelan tapi tetap enggan membuka matanya.

"Saat itu...aku sudah sampai di rumah orang tuaku. Lalu Sehun menelponku dan menanyakan apakah kau menghubungiku atau tidak. Katanya pesan dan telpon darinya tidak ada yang kau terima. Tanpa pikir panjang..aku langsung kembali kemari"

Aku terdiam mendengarkan ucapannya. Terharu. Dia membuka matanya ketika tak mendengar balasan dariku.

" Hey Hey jangan salah sangka Baek. Aku tidak mau saja di dorm ini terjadi sesuatu" dia tersenyum meremehkan. Tapi aku sama sekali tidak sakit hati.

"Ya Ya terserah. Asal kau tahu saja sebenarnya aku tidak merayakan natal sendirian" sombongku. Tak kusangka, matanya berubah menatapku tajam. "Tadinya begitu. Tapi kubatalkan.." lanjutku sebelum dia marah.

"Dengan siapa?"

"Myungsoo" Kurasakan tubuhnya kaku. Pandangannya tetap menatapku lurus.

"Lalu kenapa kau batalkan?"

Aku berpikir sejenak. "Tidak ada alasan khusus. Aku hanya...rindu pada kalian mungkin? Dan di dorm membuatku merasakan kehadiran kalian.." ucapku tulus. Chanyeol tidak berkata apa-apa setelah itu. Dia masih memandangku dan jantungku berdebar ketika kepalanya bergerak ke atas perlahan-lahan.

"Aku merindukanmu..." bisiknya tepat di depan bibirku...

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Halooooo. Semoga masih ada yang mau baca ff ini ya. Tapi tidak ada yang baca juga aku akan terus upload disini untuk ngisi waktu luang.

Chap kali ini..aku buat disaat aku benar-benar rindu pada EXO as Group not individual. Aku juga lagi kecewa bacain coment dari exo l di social media yang tidak terima karena MV For Life hanya menampilkan Chan, Suho dan Kai. Guys tolong pahami deh, semua sudah sesuai porsinya. Banyak yang bilang Kai selalu ditampilkan di MV, sedangkan Chen dan Xiumin jarang. Tolong yah saya jujur kecewa. Chen dan Xiumin sudah banyak porsinya di vocal, karena bakat mereka memang menonjol disitu. Bias saya Sehun tapi saya tidak kecewa Sehun tidak ditampilkan di MV. Karena saya sayang exo sebagai grup! Bukan karena ada si A atau si B. Kalau mau begini terus, kita kasih aja daesang ke grup lain. Tidak usah repot-repot streaming, vote dan lain-lain.

Maaf kalau saya kelewatan.