Special Lesson

Title : Special Lesson

Writer : LeeHunHan947 (Lee)

Genre : Romance, Family

Rated : M

Main Cast : HunHan

Warning : GS (Gender switch), OC (Original Character), OOC (Out of character), Typo(s), bahasa non baku

# LEEHUNHAN947#

CROTTT

Tiba-tiba ada sesuatu yang keluar dari junior Sehun. Sehun orgasme karena perbuatan Luhan. Luhan tersenyum puas. Sehun terdiam dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

"Nah pekerjaanku sudah selesai kan, Tuan? Keringkan dirimu dan hmm kembali sarapanlah. Sekarang giliran aku yang mandi." Ujar Luhan dan mendorong tubuh Sehun keluar dari bath tub.

"Oh ya pinjamkan aku handuk dan bajumu dulu ya..." lanjut Luhan pada Sehun yang kini berjalan keluar dari kamar mandinya. Yang dibalas anggukan oleh Sehun.

"Noona bisa mengambil handuk baru di lemari itu. Dan untuk baju, nanti aku siapkan di luar ya." Ujar Sehun sambil berjalan keluar dari kamar mandi meninggalkan Luhan yang masih berada di dalam bath tub.

"Akhh kenapa sakit sekali sih? Ck" keluh Luhan karena merasa bagian bawahnya masih terasa perih saat ia mencoba keluar dari bath tub. Ia kini sudah berdiri di bawah shower.

CURRRRR

Luhan mengatur suhu air shower agar menjadi hangat. Ia biarkan air hangat yang mengalir itu membasahi seluruh tubuhnya menikmati setiap titik kehangatan di seluruh tubuhnya. Lalu ia membasuh seluruh tubuhnya dengan liquid soap dan shampoo Sehun yang memang ada di rak dekat shower.

"Wangi khas Sehunnie... Mint dan Citrus." Ujar Luhan saat mencium wangi shampoo dan soap yang digunakannya.

Setelah membasuh seluruh tubuhnya dengan air, Luhan segera mengambil handuk di dalam lemari yang di beritahukan Sehun, mengeringkan tubuhnya dan melilitkan handuk itu di sekitar dadanya, menutupi tubuh nakednya. Rambut cokelat panjangnya dibiarkan tergerai dan terlihat masih basah. Setelahnya Luhan keluar dari kamar mandi.

CKLEK

"Omona! Sehunnie ah maksudku Sehun-ah kau mengagetkanku..." Teriak Luhan terkejut saat mendapati Sehun yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Sebelah tangannya memukul lengan kiri Sehun.

"Mianhae noona... Aku tidak bermaksud untuk mengagetkanmu..." Balas Sehun sambil mempoutkan bibirnya pura-pura kesal.

"Habis kau sendiri berdiri di depan pintu begini seperti penguntit." Balas Luhan tak mau kalah.

"Aku hanya ingin memberikan ini untuk noona. Milikmu kan noona? Dan ini aku pinjamkan bajuku." Sehun menyerahkan pakaian Luhan yang semalam berserakan di dalam kamar Sehun.

"Gomawo Sehun-ah.." ujar Luhan mengambil pakaian itu.

"Tapi lebih baik noona tak perlu menggunakan kedua benda ini." Sehun menunjuk bra dan underware hitam Luhan dengan senyum yang sulit dijelaskan.

"Aishh kau ini!" Lalu Luhan buru-buru masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk mengenakan pakaian.

"Wae? Ada apa lagi, Sehun-ah?" Tanya Luhan karena Sehun yang menahan pintu kamar mandi agar tetap terbuka.

"Kenapa tak pakai disini saja? Kenapa harus di dalam sana, noona? Toh aku kan juga sudah tahu luar dalam noona..." Ujar Sehun dengan wajah innocent nya. Sehun meraih tangan kanan Luhan dan menggenggamnya.

"Mwo? Aishh kau ini!"

Tanpa banyak basa-basi lagi Sehun langsung mengambil kembali pakaian yang di pegang oleh Luhan dan meletakannya di meja dekat tempatnya berdiri. Sehun mendekatkan tubuh Luhan agar lebih dekat dengan dirinya. Luhan hanya terdiam dan memperhatikan wajah Sehun. Tak mengerti apa yang diperbuat oleh Sehun. Perlahan Sehun melepaskan handuk yang melilit di dada Luhan, memperlihatkan tubuh naked Luhan kembali.

"Se-Sehun-ah..." Luhan spontan menutupi 'area pribadi' nya.

"Shttt aku tak akan macam-macam, noona. Aku hanya ingin membantu noona mengenakan pakaian ini. Jadi diamlah..." Sehun melepaskan tangan Luhan yang menutupi 'area' itu.

Sehun mengambil bra hitam Luhan dan mengenakannya tanpa bermaksud lain meski dirinya sendiri harus menelan salivanya berkali-kali karena melihat bra berisi Luhan.

1 langkah Sehun berhasil mengenakan bra Luhan. Kedua tangannya kini turun ke bagian pinggang Luhan. Luhan menggigit bibirnya untuk menahan desahannya karena sentuhan tangan Sehun. Sehun mengambil underware Luhan yang ada di antara pakaian Luhan yang lain. Underware hitam tipis Luhan yang membuat Sehun berkeringat.

Sehun mendudukan tubuh Luhan di atas meja di dekat kamar mandinya. Dirinya tak kuat untuk berjongkok dan menatap 'kemaluan' Luhan yang begitu menggoda. Sehun memalingkan penglihatannya dari selangkangan Luhan yang sedikit mengangkang. Ia mengambil underware Luhan dan buru-buru mengenakannya. Luhan menaikan sedikit tubuhnya agar Sehun lebih mudah memakaikannya.

"Sehun-ah waeyo? Kenapa wajahmu memucat begitu?" Tanya Luhan saat menyadari wajah Sehun yang memucat dan berkeringat hebat.

"Aniyo... Nan gwenchana, noona..." balas Sehun sambil mengambil hoodie berwarna merah miliknya.

"Kau yakin kau baik-baik saja?" Tanya Luhan pada Sehun yang menundukkan kepalanya.

"Ne, aku baik-baik sa- ochhhh" desah Sehun keluar saat tanpa sengaja lutut Luhan menyentuh junior Sehun yang mulai hard.

"Ahh mianhae Sehun-ah... Aku tak bermaksud un-" Luhan berhenti berbicara saat matanya fokus pada satu area.

"Mian noona... Aku baik-baik saja." Sanggah Sehun.

"Sudah... Biar aku saja Sehun-ah. Kau, duduklah. Aku tau kau sedang tak baik. Apalagi 'adik kecil'mu itu." Ujar Luhan sambil menatap bergantian antara junior Sehun dan mata Sehun.

"Ba-baiklah... Mi-mianhae noona... A-aku tak bermaksud un-untuk..."

"Ya aku mengerti. Gomawo Sehun-ah..."

CUP

Luhan mengecup sekilas bibir tipis Sehun sebelum Luhan turun dari posisinya itu.

"A" ujar Luhan tiba-tiba membuat Sehun mengerutkan kening.

"Nilaimu A. Kau lulus. Dan mulai dari sekarang Special Lesson kita berakhir." Ujar Luhan sambil tersenyum ke arah Sehun. Sehun hanya diam. Ada perasaan tak terima jika Special Lesson itu berakhir begitu saja. Ia masih ingin menyentuh dan melakukan lebih pada Luhan.

BRUKK

Luhan terpeleset dan nyaris saja jatuh ke lantai jika Sehun tak menahannya. Beruntung ada Sehun yang menahan tubuh Luhan agar tak langsung terjatuh ke lantai.

"Noona gwenchana?" Tanya Sehun pada Luhan yang kini ada di pelukannya.

"N-ne... Gomawo Sehunnie... Ah an-ni... Maksudku-"

"Gwenchana. Aku tak masalah jika noona memanggilku Sehunnie. Aku suka panggilan itu." Balas Sehun sambil tersenyum lembut pada Luhan. Pipi Luhan jadi memanas karena perkataan Sehun tadi.

"Wae? Kenapa noona terus menatapku seperti itu? Aku serius." Sehun mengelus pipi Luhan dengan lembut membuat jantung Luhan berdegup tak menentu.

"Wae?" Tanya Luhan tanpa mengalihkan pandangannya dari Sehun, tak perduli jika wajahnya sekarang sudah benar-benar memerah.

"Hmm molla... Aku suka dengan panggilan yang noona berikan padaku itu. Apa itu salah?" Sehun balik bertanya pada Luhan.

-Bukan itu maksud pertanyaanku, Sehunnie. Kenapa baru sekarang kau memintaku memanggilmu Sehunnie? Kenapa tak dari dulu saja? Apa sampai sekarang pun kau masih tak mengingat satupun tentangku?- batin Luhan.

"Noona?" Panggil Sehun menyadarkan Luhan dari lamunannya.

"A-ni... Hanya saja... Ha- Hatchiii"

"Ck lebih baik noona segera kenakan baju ini. Nanti noona bisa sakit. Akan aku buatkan minuman hangat untuk noona." Sehun segera pergi meninggalkan Luhan ke dapur.

.

.

.

Sehun bermaksud kembali ke dalam kamarnya karena sudah hampir 15 menit Luhan juga tak kunjung turun ke lantai bawah. Sehun segera melangkahkan kakinya ke lantai atas tepatnya ke kamarnya. Sehun membuka pintu kamarnya perlahan. Ia mengintip Luhan yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil memegang sesuatu.

"Noona... Ini minuman untuk noona..." Sehun kembali masuk ke dalam kamarnya dengan segelas hot chocolate untuk Luhan.

"Go-gomawo Sehunnie..." balas Luhan sedikit terkejut karena kedatangan Sehun. Luhan segera menyembunyikan sesuatu yang sempat di pegangnya.

Cringg

Sayangnya sesuatu yang dipegang oleh Luhan itu terjatuh kelantai menimbulkan bunyi yang membuat Sehun penasaran. Luhan berjongkok bermaksud mengambil barang miliknya itu. Ia meraba-raba bawah tempat tidur Sehun.

"Ahh dimana sih? Ck... Tapi... Apa ini?" Luhan belum juga mendapati barang miliknya itu namun matanya menatap sesuatu yang lain. Ada sebuah buku bersampul kulit di bawah tempat tidur Sehun. Ia mengambilnya dan penasaran akan buku apa itu.

"Andwae noona! Ja-jangan dili-"

Belum selesai Sehun berbicara, Luhan sudah terlebih dulu membuka buku itu. Berkali-kali ia mengucapkan kata-kata pujian atas apa yang dilihatnya. Ia begitu takjub akan karya indah dari guratan-guratan tangan Sehun. Mata Luhan berbinar akan setiap karya yang dilihatnya lembar demi lembar. Bibirnya terus mengukirkan senyuman. Namun semuanya berubah saat ia menatap lembar terakhir.

-Oh My God!- batin Sehun.

Sehun buru-buru mengambil buku itu dari tangan Luhan dan melemparnya sejauh-jauhnya dari Luhan. Luhan hanya bisa mengerutkan alis atas tindakan tiba-tiba Sehun itu.

"Se-Sehunnie... Lukisanmu ke-kenapa..." Tanya Luhan takut-takut karena melihat semburat marah di mata Sehun.

"Karena itu!" Teriak Sehun. Luhan terkejut karena suara Sehun yang tiba-tiba meninggi.

"Karena itu aku tak mau noona melihatnya. Sungguh aku juga tak tau kenapa aku bisa melukis hal seperti itu." Jelas Sehun sambil mengacak rambutnya frustasi. Luhan hanya terdiam mencerna semua perkataan Sehun.

"Mianhae noona... Aku tau noona pasti akan menilaiku buruk sekarang." Sehun menundukkan wajahnya.

PUK

Luhan menepuk bahu Sehun membuat Sehun menatap Luhan. Luhan memberikan senyuman tulusnya untuk Sehun.

"Shhttt tak perlu kau pikirkan. Sudah lupakan saja. Aku suka lukisanmu. Terlihat sangat elegant." Ujar Luhan sambil mengelus punggung Sehun perlahan.

"Tapi..."

CUP

Luhan buru-buru mengecup bibir Sehun sebelum Sehun melanjutkan kata-katanya. Ia tak ingin berdebat dengan Sehun dan hanya dengan cara itulah Sehun akan berhenti berbicara.

Luhan memiringkan kepalanya ke kiri dan Sehun ikut memiringkan kepalanya ke kanan, berlawanan arah dengan Luhan untuk memperdalam ciuman mereka. Tak ada lelehan dan decakan saliva yang ada hanya ciuman lembut penuh perasaan. Mereka berdua sama-sama memejamkan mata, menikmati ciuman itu tanpa ada niat untuk mengakhirinya.

CKLEK

Tiba-tiba pintu kamar Sehun terbuka saat mereka berdua masih asik saling menautkan bibir. Terlihat seorang namja membulatkan matanya lebar-lebar dengan apa yang dilihat di hadapannya.

"EOMMAAAAAAA" Teriak namja itu sambil berlari ke lantai bawah. Sehun dan Luhan yang mendengar teriakan itu pun terkejut dan buru-buru melepaskan tautan bibir mereka. Wajah keduanya terlihat memerah.

"Ya Oh Sehan! Kenapa teriak-teriak seperti itu? Ada apa? Apa hyungmu menjahilimu lagi?" Tanya Nyonya Oh saat mendapati Sehan yang berlari sambil berteriak histeris.

"Eomma... I-itu... Hyung eomma.. Hyung..." Ujar Sehan terbata-bata.

"Waeyo? Ada apa dengan hyungmu?" Tanya Nyonya Oh penasaran.

"Itu eomma... Hyung..." Sehan tak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Ia hanya bisa menunjuk kamar Sehun dengan jari telunjuk kanannya.

"Aishh ada apa sih?" Nyonya Oh langsung melangkah ke atas tepatnya ke kamar Sehun karena ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi.

"Oh Sehun, sebenarnya apa yang ter- Kau?" Nyonya Oh membulatkan matanya saat ia melihat sosok Luhan yang berdiri berdampingan dengan Sehun.

"Eomma mungkin belum mengenalnya ya. Kenalkan eomma, ini Luhan noona. Noona, ini eommaku." Dengan polosnya Sehun memperkenalkan Nyonya Oh dan Luhan bergantian.

"Eomma... Tadi aku melihat hyung dan noona ini sedang hmphhhh" Sehun buru-buru membekap mulut Sehan sebelum Sehan memberitahukan kejadian yang di lihatnya tadi pada Nyonya Oh. Sehun hanya memberikan cengirannya pada Nyonya Oh membuat Nyonya Oh memutar bola matanya malas.

"Luhan? Bisa berbicara sebentar?" Tanya Nyonya Oh pada Luhan yang dibalas anggukan oleh Luhan.

"Lulu? Kau Lulu? Xi Luhan?" Tanya Nyonya Oh dengan mata berbinar-binar pada Luhan saat mereka berdua sudah berada di depan pintu kamar Sehun.

"Ne, ahjumma. Aku Lulu. Aku kira ahjumma lupa denganku karena sudah lama tak bertemu..." Balas Luhan dengan senyum manisnya.

"Ahh Lulu... Mana mungkin eomma melupakanmu, Lu. Kau kan sudah seperti anak eomma sendiri, sayang. Sekarang kau tambah cantik dan dewasa saja, Lu." Puji Nyonya Oh melihat Luhan dari atas sampai ke bawah.

"Ahjumma bisa saja." Balas Luhan sambil tersenyum malu-malu.

"Ahh jeongmal bogoshipoyo Lulu...Kapan kau datang? Mama mu memang sempat cerita pada ahjumma kalau kau ingin kembali ke Seoul. Tapi kenapa kau sendiri tidak bilang ahjumma kapan pastinya kau datang, hmm? Aigoo..." Nyonya Oh langsung memeluk tubuh Luhan.

"Mian ahjumma... Sebenarnya aku memang sengaja bilang pada mama agar jangan memberitahu ahjumma kapan pastinya aku akan datang." Balas Luhan sambil membalas pelukan Nyonya Oh.

"Waeyo? Kenapa kau tidak mau memberitahu kami kedatanganmu, hm? Lalu kau tinggal dimana?" Tanya Nyonya Oh sambil melepas pelukannya.

"Aku ingin memberikan kejutan saja hehehe... Hmm sebenarnya aku ini tetangga baru kalian, ahjumma hehehe..."

"Aigoo... Ini benar-benar kejutan untuk ahjumma. Aigoo aigoo... Lalu bagaimana dengan mama dan baba mu? Bagaimana kabar mereka? Apa mereka kembali tinggal disini juga?"

"Mama dan baba selalu sehat kok ahjumma. Tapi mereka tetap tinggal di Beijing. Sepertinya mereka memang sudah jatuh cinta dengan kota kelahirannya, berbeda denganku hehehe... Aku sengaja kembali kesini karena ingin bertemu dengan Sehunnie." tiba-tiba wajah Luhan berubah sendu.

"Tak terasa ya. Sudah 5 tahun berlalu. Dan yah beginilah keadaannya. Tak banyak yang berubah." Nyonya Oh jadi ikut sedih juga.

"Gwenchana, ahjumma. Aku melihat Sehun sehat-sehat saja aku sudah cukup senang. Tak banyak perubahan dari dirinya. Ia masih saja jadi anak yang pemalu, manja dan of course kekanak-kanakan." Ujar Luhan membuat kekehan dari Nyonya Oh.

"Ya begitulah dia. Masih kekanak-kanakan meski usianya sudah hampir memasuki 20 ckck... Oh ya Lu... Tapi bagaimana bisa kau ada disini? Dengan Sehun? Apa ia sudah sedikit-sedikit ingat padamu?" Tanya Nyonya Oh penasaran.

"Ani. Ia masih belum mengingat apapun tentangku. Tapi kami bisa dekat karena hubungan seorang guru dan murid." Jelas Luhan membuat Nyonya Oh sedikit bingung.

"Maksudmu?"

"Aku menjadi guru pengganti sementara di sekolah Sehun, ahjumma. Hanya untuk beberapa bulan saja sih."

"Jinjja? Wah ini benar-benar sangat mengejutkan ahjumma. Semuanya seperti sudah di rencanakan membuat ahjumma terkejut ya. Lu, ahjumma minta tolong padamu. Awasi Sehun selama di sekolah ya. Karena selama ini ahh ahjumma lelah sekali dengan dia. Nilai tak pernah bagus bahkan beberapa kali hampir tak naik kelas."

"Tentu saja ahjumma. Aku akan mengawasinya sebisaku. Aku janji. Tapi hmm ahjumma... Aku punya satu permintaan. Bolehkah?"

"Ne?"

.

.

.

Sehun menatap Sehan dengan tatapan tajam yang dibalas oleh Sehan dengan tatapan takut. Namun ia tidak bisa bergerak. Ia hanya mematung ditempat seolah tatapan tajam Sehun itu menghipnotisnya agar tak bisa bergerak kemana pun.

"Ya! Kenapa saat masuk ke kamarku kau tidak mengetuk pintu dulu, eoh?" Tanya Sehun dengan nada tinggi. Sehan terlihat sedikit gemetar.

"Mi-mian hyung..."

"Aku tak butuh maaf darimu! Aku hanya ingin kau berjanji, kau tak akan memberitahukan eomma tentang apa yang terjadi tadi. Arra?"

"Ne, hyung. Aku tak akan bilang pada eomma."

CKLEK

"Tak akan bilang apa, Sehan?" Tanya Nyonya Oh yang kini kembali masuk ke dalam kamar Sehun bersama Luhan yang berjalan di belakangnya.

"Eomma?" Sehan terlihat gugup karena mendapat tatapan yang semakin tajam dari Sehun.

"Bukan apa-apa eomma. Hanya masalah namja. Ya kan, Sehan?" Sehun merangkul Sehan dan mencengkram erat bahu kiri Sehan agar menurutinya.

"Ne, eomma." Jawab Sehan sambil memaksa senyum.

"Tumben sekali kalian akrab begini. Tak seperti biasanya ckck... Oh ya Sehun. Tadi eomma sedikit mengobrol dengan Luhan. Dan ia bilang jika dia adalah gurumu di sekolah ya?"

"Ne. Lalu ada apa eomma?" Tiba-tiba Sehun merasa gugup.

"Yang eomma ingat, selama ini nilai-nilaimu hancur lebur." Sehun menegak salivanya mendengar arah pembicaraan sang eomma.

"Eomma pikir, kau memang sangat membutuhkan bimbingan belajar." Sehun menghela nafasnya berat. Ia malas untuk hal-hal semacam itu.

"Dan untuk itu, eomma rasa Luhan-ssi bisa membantumu. Dia kan gurumu di sekolah. Jadi dia pasti tau bagaimana cara mengajar yang tepat untukmu." Ujar Nyonya Oh membuat Sehun mematung. Ia tak tahu haruskah ia sedih atau justru malah senang karena Luhan yang akan mengajarinya.

"Tapi eomma..."

"Tidak ada penolakan apapun, Sehun. Hmm Luhan-ssi kapan Sehun akan mulai bimbingan belajarnya?" Tanya Nyonya Oh pada Luhan yang berdiri di belakangnya.

"Aku rasa besok malam kita bisa memulainya." Balas Luhan.

"Nah dengarkan dengan baik gurumu, Sehun. Eomma ingin dengan bimbingan dari Luhan-ssi, nilaimu jadi lebih baik." Harap Nyonya Oh.

Dan sejak itulah intensitas pertemuan Luhan dan Sehun jadi semakin sering. Di sekolah mereka memang jarang bertemu karena dalam seminggu jadwal pelajaran yang diajarkan Luhan hanya ada 2 kali di kelas Sehun. Namun dengan adanya bimbingan belajar itu, Sehun jadi semakin mengenal Luhan dan membuat mereka jadi semakin dekat.

Sudah 4 bulan lamanya Sehun mengikuti bimbingan belajar dari Luhan. Dan setiap pertemuan itu mereka lakukan di rumah Sehun tepatnya di dalam kamar Sehun. Namun jangan khawatir. Mereka tak akan macam-macam di dalam kamar. Karena Nyonya Oh sesekali mengintip mereka berdua. Tapi kali ini Sehun memaksa untuk belajar di rumah Luhan saja. Ia tak ingin selalu terus menerus dimata-matai oleh eommanya. Dan disinilah mereka berada di ruang tengah rumah Luhan.

"Sehunnie? Wae? Kenapa tidak mengerjakan soal-soal itu? Apa ada yang tidak kamu mengerti?" Tanya Luhan saat melihat Sehun yang hanya menatap malas soal-soal penuh angka di hadapannya.

"Ani. Hanya saja aku bosan melihat rumus dan angka-angka seperti ini. Aku tak bisa menghafal setiap rumus dengan cepat." Keluh Sehun sambil menjatuhkan kertas-kertas soal itu dari atas meja.

"Aishh... Kau harus menghafalnya. Ingat besok kau ada test. Hanya test terakhir dan setelahnya kau bisa bebas." Ujar Luhan memberi pengertian.

"Noona kenapa begitu baik padaku? Padahal kita baru saja saling kenal. Tapi noona sudah memberikan dan mengejarkan segalanya untukku." Pertanyaan Sehun itu membuat Luhan terdiam.

"Kenapa noona tak menjawabku?" Sehun kembali bertanya pada Luhan.

"Hmm kau itu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, Sehunnie. Aku pernah memiliki adik ya meski bukan adik kadung tapi aku sangat menyayanginya. Bertahun-tahun kami selalu bersama tak pernah terpisahkan. Sampai semua itu terjadi." Luhan tersenyum sendu. Sehun kini sudah duduk di samping Luhan. Takut jika Luhan akan menangis.

"Noona..."

"Mungkin dengan bercerita padamu aku akan jadi lebih baik. Bolehkan?" Tanya Luhan dengan tatapan berharap pada Sehun. Dan Sehun menganggukan kepalanya.

"Saat itu umurku baru menginjak 13 tahun dan dia 2 tahun lebih muda dariku. Hari itu adalah hari ulang tahunku. Seperti biasanya dia selalu memberikanku setangkai bunga mawar untukku namun ada yang berbeda di hari itu..." Luhan memberi jeda penjelasannya. Sehun nampak diam mendengarkan Luhan.

"Dia memberikanku sebuah hadiah yang sangat indah dan tak pernah bisa aku lupakan." Mata Luhan berbinar-binar menjelaskan hadiah yang pernah di dapatnya.

"Tapi sayang benda itu sekarang hilang. Padahal aku sangat menyayangi benda itu. Benda terakhir yang diberikannya untukku." Kini wajah Luhan berubah sendu kembali membayangkan benda miliknya yang hilang itu.

"Memang sebenarnya apa yang terjadi pada 'dia', noona?" Tanya Sehun penasaran.

"Setelah memberikan hadiah itu aku mengajaknya jalan-jalan hingga malam. Kami sangat senang sekali menghabiskan waktu bersama-sama. Dan malam itu sesuatu terjadi." Luhan menarik nafasnya dengan berat.

"Saat perjalanan pulang, dia... Dia tertabrak oleh sebuah mobil dengan cukup keras. Darah keluar dengan deras dari kepalanya. Aku tentu saja panik. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya. Berulang kali aku selalu menyalahkan diriku karena tak bisa menjaganya. Dan dia..." Bahu Luhan nampak gemetar. Kristal bening nyaris jatuh dari balik pelupuk matanya. Sehun memeluk tubuh Luhan mencoba menenangkannya.

"Sudah noona... Cukup..." Sehun menghentikan agar Luhan tak melanjutkan ceritanya. Ia tak ingin membuat Luhan sedih. Dan entah kenapa sejak Luhan menceritakan cerita itu, kepala Sehun jadi terasa sakit. Ia seperti pernah mengalami apa yang diceritakan Luhan.

"Aku sangat merindukannya hikss jeongmal..." isak Luhan di dalam dekapan Sehun.

"Kecelakaan itu telah merubah semuanya. Aku merindukan dirinya yang dulu. Dia seperti orang lain bagiku. Ia sama sekali tak mengenalku bahkan sering berbicara kasar padaku. Hikss sakit hatiku mendengar kata-kata kasarnya. Apalagi sikap acuh yang ditunjukan olehnya padaku. Aku merindukan dirinya yang dulu yang selalu berbicara lembut dan manja padaku hikss hikss..."

Luhan meluapkan seluruh isi hatinya selama ini. Otaknya terus memutar kejadian 5 tahun lalu yang masih selalu diingat olehnya. Bagaimana perubahan sikap Sehun padanya.

"Aku yakin. Suatu saat ia pasti akan mengingat noona lagi." Ujar Sehun membuat Luhan semakin terisak.

"Tapi bagaimana jika dia benar-benar tak mengingatku?" Tanya Luhan putus asa.

"Kenapa noona jadi putus asa begitu? Aku yakin suatu saat nanti ia pasti akan ingat. Tidak mungkin dia akan melupakan seseorang sebaik noona. Percayalah..." ujar Sehun tulus membuat seulas senyum tipis di bibir Luhan.

"Nah begini lebih baik. Noona semakin cantik jika tersenyum seperti itu." Ujar Sehun sambil menghapus air mata Luhan dengan ibu jarinya.

"Gomawo Sehunnie..." Sehun memeluk erat Sehun. Ia sangat berharap. Berharap waktu itu akan cepat tiba. Berharap waktu itu dapat mengembalikan Sehunnya kembali. Berharap ingatan Sehun akan dirinya kembali. Dan Luhan hanya bisa berharap itu.

.

.

.

Sehun merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruang tengah Luhan. Sementara Luhan sedang berada di dapur. Sehun merasa lelah dan penat setelah belajar. Selama itu Sehun tak terlalu fokus dengan soal dan penjelasan dari Luhan. Pikirannya terus teringat akan kisah Luhan dengan 'dia' yang Luhan sebut sebagai adik yang sangat disayanginya. Ada perasaan iri dalam diri Sehun. Ia sangat berharap dirinyalah yang menjadi adik bahkan hanya dirinyalah yang dekat dengan Luhan. Namun semuanya pupus saat Sehun tahu ada orang lain yang lebih dekat dan sangat dinantikan oleh Luhan.

"Aku penasaran. Siapa dia? Bodohnya dia kenapa tak pernah bisa mengingat noona?" Ujar Sehun pada dirinya sendiri.

Pikiran Sehun kembali melayang pada cerita Luhan tadi. Dan semakin ia memikirkannya, kepalanya terasa semakin sakit. Kilasan-kilasan sebuah kejadian muncul di dalam kepalanya membuat kepala Sehun semakin berdenyut. Sehun mengerang karena rasa sakit di kepalanya. Dan semuanya tiba-tiba gelap.

"Sehunnie..."

Sehun seperti mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Sehun melihat ke sekitarnya. Ia seperti berada di pekarangan rumahnya. Mata Sehun menangkap seseorang berada di dekatnya. Seorang namja kecil yang sedang bersembunyi di balik pagar rumah. Sebelah tangannya menutup mulutnya mencoba untuk meredam tawanya. Sehun memicingkan mata ingin melihat lebih jelas namja kecil itu.

"Sehunnie..."

Sehun memutar kepalanya mencari sumber suara itu. Namun ia tak mendapati seorang pun kecuali seorang gadis kecil sedang berlari-lari di sekitar pekarangan seperti mencari seseorang.

"Duarrr" tiba-tiba namja kecil itu keluar dari persembunyiannya dan mengagetkan gadis kecil yang mencari-carinya itu.

"Sehunnie! Kau mengagetkanku!" Ujar gadis kecil itu sambil mempoutkan bibirnya. Namja kecil yang tak lain adalah Sehun sendiri hanya terkekeh melihat ekspresi lucu gadis kecil itu.

-Namja kecil itu, aku? Lalu siapa gadis kecil yang bersamaku itu? Apa aku mengenalnya? Lalu jika ya, kenapa sekarang aku tak mengingatnya?- batin Sehun.

"Kalian sedang apa disini? Kajja masuk ke dalam. Eomma sudah buatkan strawberry cheesecake kesukaan kalian." Ujar Nyonya Oh yang tiba-tiba keluar dari rumah.

"Hoaaa aku mau cheesecake!" Ujar Sehun kecil dan gadis kecil itu bersamaan sambil berlari ke dalam rumah.

Sehun terus memperhatikan kejadian di hadapannya itu. Matanya tak pernah terlepas dari gadis kecil yang tak pernah lepas dari dirinya itu. Sehun merasa pernah melihat gadis kecil itu. Namun ia sendiri tak tahu pernah melihatnya dimana.

"Sehunnie... Nanti temani aku jalan-jalan ke taman ya." Ujar gadis kecil itu pada Sehun kecil yang sedang asik menikmati sepotong cheesecake dihadapannya.

"Aigoo habis ini kalian ingin jalan-jalan? Sudah kalian bermain disini saja. Main sama Sehan juga. Kasihan kan kalau dia sendirian di rumah." Ujar Nyonya Oh sambil melirik anaknya yang lain yang sedang asik mencoret-coret kertas di meja di ruang tengah.

"Boleh saja. Sehunnie kita ajak Sehan jalan-jalan juga yuk!" Usul Luhan dan mendapat sebuah anggukan malas dari Sehun.

Sehun, Sehan dan gadis kecil itu kini berjalan beriringan menuju taman di sekitar kompleks. Sehun masih berjalan mengikuti kemana anak-anak itu pergi dari belakang. Ia masih penasaran dengan gadis kecil yang berjalan bersama dirinya dan Sehan sewaktu kecil itu.

"Sehunnie... Kenapa kau diam saja? Tak biasanya kau seperti ini." Tanya gadis kecil itu pada Sehun kecil yang terus mempoutkan bibirnya sepanjang perjalanan menuju taman. Sehan yang berada di tengah-tengah mereka juga ikut melirik hyungnya itu.

"Hyung kenapa?" Tanya Sehan kecil namun tak ada tanggapan dari Sehun kecil. Ia malah berlari mendahului Sehan dan gadis kecil itu.

"Noona... Hyung kenapa ya?" Tanya Sehan pada gadis kecil itu.

"Aku juga tidak tahu. Kita susul hyungmu yuk!" Gadis kecil itu segera menggandeng tangan Sehan dan berlari bersama menyusul Sehun yang sudah berjalan di depan mereka.

-Bahkan Sehan pun mengenalnya dan terlihat akrab juga. Kenapa aku tidak ingat siapa gadis kecil itu?- batin Sehun sambil terus menatap ketiga anak kecil yang kini berjalan bergandengan.

Kini Sehun memandangi ketiga anak-anak itu sedang bermain-main bola basket di taman. Sehun tampak lincah memantul-mantulkan bola membuat gadis kecil dan Sehan adiknya kesulitan mengambil bola dari tangan Sehun.

GREB

Dengan satu gerakan Sehan yang tubuhnya paling kecil di antara mereka bertiga, bisa mengambil bola dari tangan Sehun. Ia sedikit kesulitan memantulkan bolanya karena tubuhnya yang kecil. Sehun mencoba merebut bola itu kembali dari Sehan. Sehan tak mau kalah ia terus mencoba memantul-mantulkan bola itu meski sedikit kesulitan. Karena posisinya semakin terjepit, dengan asal Sehan melemparkan bola basket itu ke sembarang arah.

"Akhhhh" teriak gadis kecil itu karena bola basket itu mengenai pipinya.

"Noona... Mianhae... Sehan tidak sengaja..." ujar Sehan yang segera berlari menghampiri Luhan yang sedang memegangi pipinya yang sudah memerah.

"Aku tau... Aku tak apa-apa kok." Balas Luhan sambil tersenyum pada Sehan.

"Ya Sehan! Apa yang kau lakukan pada Luhannie? Kau membuatnya kesakitan seperti itu, kau tahu!" Sehun memarahi Sehan yang sudah hampir menangis.

"Sehunnie, sudahlah... Sehan tak sengaja tadi. Aku tak apa kok."

"Kenapa Luhannie membelanya? Padahal dia sudah membuat Luhannie kesakitan seperti itu." Ujar Sehun kesal.

"Hoaaa eommaaaaaa..." Sehan kecil menangis dengan keras. Kemudian ia berlari meninggalkan taman itu sambil menangis.

"Ishh kau ini Sehunnie! Sehan tunggu!"

"Ya! Luhannie! Luhannie..." Sehun terus memanggil-manggil gadis kecil yang sudah berlari mengejar Sehan, adiknya.

Sehun berdiri mematung melihat kejadian di hadapannya itu. Ia mendengarkan semuanya. Dirinya waktu kecil memanggil gadis kecil itu dengan sebutan 'Luhannie'. Ia masih berpikir. Ia masih sedikit asing dengan panggilan itu. Namun satu bayangan wajah muncul di benaknya.

-Luhannie? Luhan-nie? Apa dia... Xi Luhan? Luhan noona?- batin Sehun.

"Sehunnie... Sehunnie..." Sehun mendengar ada seseorang yang memanggil namanya kembali.

"Sehunnie... Ireona... Sudah pagi..." Sehun merasa tubuhnya berguncang. Ia mencoba untuk membuka matanya perlahan.

"Palli... Ireona... kau bisa terlambat Sehunnie..."

Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya membiasakan matanya terkena cahaya pagi itu. Ia melihat sesosok yeoja yang tak asing baginya berada di hadapannya kini sedang tersenyum manis ke arahnya. Senyuman itu...

"Luhannie?" Ujar Sehun masih setengah sadar. Luhan mematung saat Sehun memanggilnya seperti itu.

1 ...

2 ...

3 ...

Sehun langsung membuka matanya lebar-lebar karena terkejut ketika mendapati yeoja di hadapannya adalah Luhan. Kini ia sudah benar-benar sadar dari tidurnya.

"Pagi Sehunnie..." ujar Luhan sambil mencoba tersenyum meski jantungnya berdetak tak karuan.

"Noona? Apa semalam aku ketiduran disini?" Tanya Sehun saat melihat sekitarnya dan ia sangat yakin jika tempatnya berada sdkarang adalah ruangan yang sama yang ia pakai semalam untuk belajar.

"Ne. Semalam kau ketiduran disini. Tapi aku tak tega membangunkanmu. Aku sudah bilang pada eommamu kok. Kau tak perlu khawatir eommamu tak akan marah." Jelas Luhan.

"Mian noona... Aku sudah banyak merepotkanmu."

"Sama sekali tidak kok. Bangunlah nanti kau bisa terlambat ke sekolah." Ujar Luhan sambil berjalan masuk ke dalam dapurnya meninggalkan Sehun sendiri di ruang tengah.

-Aku kira kau sudah benar-benar mengingatku, Sehunnie... Panggilan itu... Aku sangat merindukan kau memanggilku seperti itu, Sehunnie...- batin Luhan.

Sepanjang hari itu, sepanjang test hingga jam terakhir yang di jalani oleh Sehun, ia sama sekali tak bisa fokus. Pikirannya masih terus dipenuhi dengan mimpinya semalam. Ia masih begitu penasaran dengan sosok gadis kecil yang ia lihat di mimpinya itu. Apa gadis kecil itu benar-benar Luhan? Atau hanya pikirannya saja?

"Oh Sehun?" Panggil seorang guru berkacamata.

"Apa disini ada murid yang bernama Oh Sehun?" Panggil guru itu lagi.

"Ya! Ya! Sehun! Kau dipanggil tuh!" Ujar seorang namja yang duduk di belakang Sehun menyadarkan Sehun dari lamunannya.

"Disini tak ada yang bernama Oh Sehun?" Panggil guru berkacamata itu lagi.

"Ne a-ada songsaenim!" Sehun segera berdiri dari duduknya dan berjalan ke depan.

"Apa kau melamun saja sedaritadi? Ini hasil ujianmu. Menakjubkan. Sebenarnya kau ini mampu jika kau rajin belajar. Pertahankan nilai-nilaimu." Ujar guru berkacamata itu sambil memberikan selembar kertas berisi laporan nilai test dari seminggu yang lalu hingga tadi pagi.

"Semua sudah mendapat hasilnya? Nah kalau begitu kalian bisa pulang. Sampai bertemu minggu depan saat pembagian raport kenaikan kelas kalian." Ujar guru berkacamata itu dan pergi meinggalkan kelas.

Sehun memperhatikan nilai-nilai yang tertera di selembar kertas itu. Ia sangat takjub dengan seluruh nilai yang ada. Tak ada nilai merah sama sekali. Nilai terkecil pun hanya 70 pada mata pelajaran Matematika. Mata pelajaran test terakhir.

"Ini semua benar nilaiku?" Ujar Sehun tanpa mengalihkan pandangannya pada selembar kertas yang ada di tangan Sehun.

Sehun berjalan menyusuri koridor kelas sambik terus menatap laporan hasil test miliknya. Ia masih takjub dan tidak percaya dengan semuanya. Bahkan beberapa panggilan yang ditujukan padanya pun tak di gubrisnya.

PUK

"Sehun-ssi... Kenapa sedaritadi aku memanggilmu kau tak menjawabnya?" Tanya Luhan saat mereka berada di tempat parkir.

"Mianhae songsaenim..." balas Sehun merasa tak enak. Mereka harus berbicara seformal mungkin karena mereka masih sama-sama di lingkungan sekolah.

"Bagaimana hasil testmu? Nilainya baik semua?" Tanya Luhan pada Sehun.

"Ne, begitulah. Gomawo..." ujar Sehun sambil memberikan laporan hasil testnya pada Luhan.

"Hmm? Untuk apa?" Luhan memperhatikan nilai-nilai setiap pelajaran yang tertera pada selembar kertas itu.

"Berkat noona, nilai-nilai testku jadi baik. Ini semua berkat noona."

"Ani. Ini bukan karenaku. Ini semua karena dirimu sendiri." Balas Luhan sambil mengembalikan kertas laporan itu pada Luhan.

"Tapi tanpa noona juga aku tak mungkin mendapat nilai seperti ini." Sehun segera memeluk tubuh Luhan. Beruntung tempat parkir sekolah itu sudah sepi.

"Sehunnie... Lepaskan. Kita masih ada disekolah, Sehunnie..." Luhan mencoba melepaskan pelukan Sehun. Sebenarnya ia juga tak mau melepaskan tautan lengan kekar Sehun. Namun mengingat dirinya masih berada di sekolah dan statusnya yang masih sebagai guru, ia mau tak mau melakukannya.

"Lebih baik kita segera pulang sebelum ada yang curiga, Sehunnie..." Luhan buru-buru menuju ke mobilnya dan Sehun buru-buru menuju ke sepedanya.

Luhan mengemudikan mobilnya dan Sehun mengayuh sepedanya keluar dari gerbang sekolah itu. Mereka sama-sama akan pulang dan akan membicarakan lebih lanjut mengenai hasil test Sehun.

"Eomma aku pulang..." Ujar Sehun saat tiba di rumah. Rumahnya terlihat sepi sekali.

"Oh kau sudah pulang Sehun?" Tanya Nyonya Oh sambil membawa turun beberapa koper.

"Apa yang akan eomma lakukan dengan koper-koper itu?" Tanya Sehun memandang beberapa koper besar yang dibawa turun oleh eommanya.

"Ahh apa kau lupa? Eomma kan pernah bilang padamu, jika appa dan eomma akan ke China selama seminggu karena menemani appamu yang memiliki urusan bisnis disana." Jelas Nyonya Oh. Sehun kembali mengingat-ngingat.

"Ohh ya aku lupa. Jadi appa dan eomma akan berangkat hari ini?" Tanya Sehun kembali.

"Ne. Dan untuk kesekian kalinya eomma bertanya padamu. Apa tak apa jika kau hanya sendiri di rumah, Sehun?" Tanya Nyonya Oh sedikit khawatir dengan Sehun. Karena Sehun akan benar-benar sendirian selama satu minggu mengingat Sehan juga yang sedang tak berada di Seoul karena mengikuti program pertukaran pelajar di Jepang.

"Ne, aku sudah cukup besar untuk mengurus diriku sendiri, eomma." Balas Sehun membuat Nyonya Oh lega.

Tinn Tinn

"Oh mungkin itu taksi pesanan eomma. Kalau begitu eomma berangkat dulu ya Sehun... Appa sudah menunggu di bandara. Hati-hati. Jaga rumah baik-baik, arraseo?" Nyonya Oh buru-buru membawa koper itu keluar di bantu oleh Sehun.

"Ne, eomma... Hati-hati di jalan..." Sehun melambaikan tangannya pada sang eomma yang sudah berada di dalam taksi.

-Akhirnya aku bebas lagi dalam seminggu ini. Yesss! Liburan yang menyenangkan...- batin Sehun dan kembali berlari masuk ke dalam rumahnya merasakan kebebasannya kembali seperti beberapa bulan yang lalu ia rasakan saat sekeluarganya pergi ke Busan (chap1).

"Sehunnie... Eommamu pergi kemana? Kenapa membawa koper sebanyak itu?" Tanya Luhan yang tiba-tiba datang ke rumah Sehun.

"Ehh noona... Eomma dan appa pergi ke China selama seminggu ini. Eomma bilang sih katanya karena appa ada urusan bisnis." Sehun melepaskan dasi seragamnya dan meletakkannya asal di atas meja.

"Lalu kenapa kau tak ikut? Seminggu ini kan kau juga sudah libur."

"Aku malas. Apalagi jika menyangkut kata-kata bisnis. Pasti setiap harinya harus mengikuti appa ke beberapa rapat dan pertemuan dengan para pebisnis lain. Aku bosan dengan acara-acara seperti itu." Jelas Sehun lalu mendudukkan dirinya di sofa.

"Kau memang seharusnya ikut, Sehunnie. Belajarlah berbisnis dan bantulah appamu di perusahaannya sedikit-sedikit. Appamu kan sudah tidak muda lagi." Ujar Luhan menasehati Sehun.

"Tapi aku sama sekali tidak menyukai bisnis, noona. Biarkan Sehan saja yang menggantikan appa nantinya."

"Lalu kau? Kau kau bersantai-santai saja sementara Sehan dan appamu berjuang menjalankan perusahaan appamu itu?" Ujar Luhan membuat Sehun terdiam. Kehabisan kata-kata.

"Tapi aku sama sekali tidak mengerti soal bisnis, noona. Bagaimana jika suatu saat aku malah memperburuk perusahaan appa?"

"Semua itu butuh proses belajar, Sehunnie. Tak ada seorang ahli jika ia tak berani untuk mencoba dan belajar." Ujar Luhan membuat Sehun terdiam.

"Bukan aku ingin ikut campur ke dalam masalah pribadi dan keluargamu, Sehunnie... Aku hanya ingin membuatmu mengerti. Eommamu selama ini selalu mencoba membanding-bandingkanmu dengan Sehan juga karena ia ingin membuat dirimu agar bisa lebih baik. Bukan karena ia yang lebih menyayangi adikmu, justru ia juga sangat menyayangimu, Sehunnie..." Jelas Luhan membuat Sehun menghela nafasnya berat.

"Haaa maaf aku jadi terlalu ikut campur seperti ini Sehunnie..." Luhan meminta maaf, merasa tak enak karena ikut mencampuri urusan Sehun dan keluarganya.

"Ani. Justru aku harus berterima kasih padamu, noona. Noona sudah membuka pikiranku. Ya aku memang masih belum terlalu dewasa untuk memahami semuanya. Tapi aku akan belajar lebih lagi untuk menjadi seorang dewasa seutuhnya. Lalu apa noona bisa membantuku?"

"Tentu. Aku akan membantu sebisaku, Sehunnie..." balas Luhan membuat seringaian kecil dari Sehun.

"Sehunnie? Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu,hmm?" Luhan tampak sedikit takut dengan tatapan Sehun padanya kini. Seperti tatapan seekor serigala yang siap untuk menyantap mangsanya.

"Noona tadi kan bilang bisa membantuku. Dan sekarang aku butuh bantuan noona." Sehun menarik tubuh Luhan agar duduk di sampingnya.

"Maksudmu? Bantuan apa?" Luhan pura-pura bodoh. Padahal ia sudah tau kemana arah pembicaraan Sehun kini.

"Ajari aku untuk menjadi 'dewasa' lagi noona..." bisik Sehun tepat di telinga kanan Luhan. Sehun sengaja menekankan kata dewasa di telinga Luhan membuat Luhan menegak salivanya.

Sehun semakin mendekatkan dirinya pada Luhan. Kedua tangannya sudah memeluk erat pinggang kecil Luhan. Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan, memisahkan jarak yang hanya tinggal beberapa centi saja.

Sehun melumat bibir atas dan bibir bawah plum Luhan secara bergantian. Sehun dan Luhan memejamkan mata mereka berdua menikmati ciuman mereka. Luhan membuka sedikit mulutnya membuat Sehun segera melesakkan lidahnya masuk ke dalam goa hangat Luhan. Lidah Sehun bermain-main di dalamnya, mengabsen seluruh susunan gigi-gigi rapi Luhan dan menggelitik sedikit langit-langit Luhan membuat lenguhan kecil dari Luhan karena rasa geli.

Lidah Sehun mulai menekan dan mendorong-dorong lidah Luhan untuk bertarung. Luhan yang merasa ditantangmu menerima tantangan itu dan membalasnya. Kini Luhan dan Sehun saling berperang lidah mendorong bahkan membelit satu sama lain membuat decakan-decakan saliva terdengar dan membuat lelehan-lelehan saliva mengalir di sekitar sudut bibir mereka berdua.

Kedua tangan Luhan kini sudah berada di tengkuk Sehun dan menekannya, memperdalam ciuman mereka. Mereka saling mendorong dan membelit lidah lawan mereka tanpa memperdulikan oksigen ditubuh mereka yang semakin menipis. Luhan menarik-narik ujung rambut Sehun sebagai tanda untuk menyudahinya karena dirinya yang sudah sesak karena kekurangan oksigen. Sehun yang mengerti pun melepaskan tautan bibirnya.

Luhan dan Sehun segera mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Tangan Sehun yang masih berada di pinggang Luhan mulai mencari celah agar bisa melepas kemeja putih tipis yang dikenakan Luhan. Kemeja putih tipis Luhan ini begitu menggoda Sehun. Bagaimana tidak? Kemeja itu sangat ketat membuat lekuk tubuh sempurna Luhan terlihat dengan jelas dan jangan lupakan 2 kancing atas kemeja itu yang sengaja tak dikancing membuat belahan breast Luhan menyembul dengan sempurna disana.

Jari-jari Sehun semakin naik ke atas. Membuka satu persatu kancing kemeja Luhan dan bawah. Sehun berhasil membuka kancing kelima dan keempat Luhan mengekspos perut rata Luhan. Dan kini hanya tersisa satu kancing saja membuat Sehun menegak salivanya. Sehun mulai membuka kancing terakhir kemeja Luhan itu membuat tubuh setengah naked Luhan terekspos apalagi breast berisi Luhan yang kini hanya tinggal tertutup oleh sebuah bra yang hanya menutupi sebagian breast nya.

Perlahan jari Sehun semakin naik ke atas, menyentuk breast Luhan dari balik bra yang masih bertengger manis menutupinya. Luhan melingkarkan tangannya di tengkuk Sehun dan mendorongnya kuat membuat wajah Sehun menempel dengan breastnya.

Luhan dengan sengaja menggerakan breastnya mengenai wajah Sehun bermaksud menggodanya. Sehun yang sudah tak tahan langsung mendorong tubuh Luhan hingga terbaring di sofa. Kedua tangan Sehun kini menangkup kedua breast Luhan dan meremasnya perlahan membuat Luhan bergerak resah. Sehun semakin meremas-remas breast Luhan membuat desahan-desahan kecil keluar dari bibir Luhan.

"Ahh shh Sehunnie..."

Sehun semakin gencar meremas-remas dan menekan-nekan breast Luhan membuat Luhan semakin bergerak tak nyaman dan mendesah semakin kuat. Sebelah tangannya kini beralih ke punggung Luhan untuk melepaskan kaitan bra Luhan yang menurutnya sangat mengganggu kegiatannya.

KLEK

Kaitan bra itu berhasil terlepas. Sehun segera menarik bra tanpa tali itu dan melemparkannya ke sembarang tempat mengekpos breast polos Luhan tanpa sehelai kain pun yang menutupinya. Sehun segera menerjang nipple kanan Luhan yang terlihat sedikit menegang sementara nipple kirinya kini sedang asik di manjakan oleh jari-jari Sehun.

"Akhh emphhh" Luhan berusaha menahan desahannya.

Sehun masih asik menghisap-hisap nipple Luhan yang sudah menegang sempurna itu bagai bayi yang rakus. Sesekali ia mengigiti dan menjilati nipple itu membuat Luhan semakin bergerak tak nyaman.

Luhan merasa ada sesuatu yang basah disana. Luhan merasakan orgasmenya. Klitorisnya basah karena cairannya sendiri. Sehun benar-benar cepat membuatnya orgasme. Sehun masih terus asik memain-mainkan nipple Luhan secara bergantian. Tangan Luhan terus mendorong tengkuk Sehun agar Sehun lebih memperdalam kulumannya pada nipplenya. Ingin Sehun memanjakan lebih nipple-nipplenya. Luhan memejamkan matanya menikmati semua sensasi yang bergejolak di dalam dirinya.

"Emphhh shh hnggg" Luhan menahan desahannya saat jari-jari Sehun terus memanjakan nipple-nipplenya tanpa henti.

Sehun kembali mendekatkan bibirnya pada bibir plum Luhan dan melumatnya tanpa melepaskan kedua tangannya yang masih asik bermain-main di breast Luhan. Sehun mengigit bergantian bibir atas dan bibir bawah Luhan. Kedua tangannya masih terus memainkan nipple dan meremas breast Luhan tanpa henti membuat sensasi double untuk Luhan. Ia tak pernah menyangka jika Sehun bisa sepiawai ini memanjakan dirinya.

Sehun melepaskan tautan bibirnya dari Luhan membuat lenguhan kecewa dari Luhan karena Sehun telah membuat libido Luhan naik. Luhan segera meraup kembali bibir Sehun dan melumatnya tak sabaran. Sesekali Luhan mengigit bibir bawah Sehun agar lidahnya bisa masuk namun Sehun tak mengindahkannya. Luhan mendorong tubuh Sehun hingga terjatuh cukup keras di atas sofa membuat lenguhan kecil dari Sehun hingga membuat celah dan Luhan langsung melesakkan lidahnya di dalam goa hangat Sehun. Lidah Luhan mulai menekan dan mendorong-dorong lidah Sehun untuk bertarung.

Decak saliva mulai kembali terdengar ke seluruh ruangan itu. Luhan tak berhenti mengajak lidah Sehun untuk terus bertarung. Tangan Luhan kini mulai semakin turun ke pinggang Sehun. Luhan memain-mainkan ujung kemeja seragam Sehun. Jari-jari lentiknya perlahan mulai membuka satu persatu kancing kemeja seragam yang Sehun kenakan tanpa melepaskan tautan bibirnya pada bibir namja itu.

Kancing kelima sampai kancing ketiga kemeja Sehun berhasil Luhan lepaskan mengekespos perut berabs sempurna Sehun. Jari-jari Luhan mulai meraba-raba abs-abs Sehun yang sudah berbentuk sempurna. Luhan sangat menyukai abs-abs Sehun karena menurutnya itu sangat seksi.

Luhan melepaskan tautan bibirnya dari bibir Sehun. Matanya kini fokus pada abs-abs indah milik Sehun. Luhan buru-buru melepaskan kedua kancing atas Sehun yang tersisa hingga mengekspos tubuh topless Sehun yang sangat menggiurkan menurutnya.

Luhan mulai menciumi abs-abs Sehun satu persatu membuat Sehun menikmatinya saat bibir plum Luhan menyentuh abs-abs kebanggaannya. Sehun mengigit bibirnya saat tiba-tiba Luhan menjilati abs-abs nya bergantian hingga naik ke dada dan berhenti pada kedua nipplenya.

Luhan memain-mainkan lidahnya di sekitar dada Sehun membuat Sehun bergerak resah. Apa yang dilakukan Luhan membuat tubuhnya seperti tersengat oleh ribuan volt listrik. Sehun merasa junior nya kini sudah menegang dengan sempurna akibat semua ulah Luhan.

Luhan menghentikan aksinya dan kini mendudukkan dirinya di perut berabs Sehun. Jari-jari tangannya mulai bermain pada wajah bahkan hingga ke dada Sehun.

"Noona shh jangan ahh menggoda shh kuhhh" desah Sehun tak tertahan.

Kedua tangan Sehun kini sudah berada di kedua paha Luhan yang sedikit terekspos karena rok hitam yang dikenakannya hanya menutupi setengah paha putih mulusnya itu. Sehun mulai mencari celah dan memasukkan tangannya ke dalam rok Luhan itu.

Sehun mengelus-elus paha dalam Luhan dengan kedua tangannya membuat sengatan tersendiri untuk Luhan. Merasa tak cukup, Sehun terus memasukkan tangannya semakin dalam pada rok itu hingga menemukan sesuatu yang sudah basah disana.

"Ahh Sehunnie..." Desah Luhan saat Sehun menyentuh klitorisnya yang masih terbungkus underware.

Mendengar desahan dari Luhan, Sehun semakin menjadi-jadi memainkan tangannya di sana. Sesekali Sehun mencubit klitoris yang masih terbungkus itu membuat Luhan mendesah hebat. Sehun mencari ujung underware Luhan dan menurunkannya kebawah membuat klitoris Luhan luput dari sehelai benang pun. Sehun melemparkan underware Luhan ke sembarang arah setelah ia berhasil melepaskannya.

"Ohh empphh Sehunnie..." Luhan kembali mendesah saat tangan Sehun mulai bermain di sekitar paha dan klitorisnya.

Luhan merasa dirinya semakin lemas. Ia sudah tak sanggup lagi menegakkan tubuhnya. Dan kesempatan untuk Sehun untuk menjatuhkan tubuh Luhan dan membaringkannya di sofa. Sehun menaikkan kaki kiri Luhan ke sandaran sofa, sedikit melebarkannya membuat Sehun bisa menatap langsung klitoris Luhan.

Sehun menaikkan rok hitam yang masih dikenakan Luhan ke atas perutnya agar tak menghalangi jarak pandangnya pada klitoris Luhan yang menggoda. Kedua tangan Sehun masih terus menerus bermain-main dan mengelus paha dalam Luhan membuat Luhan berkeringat hebat.

"Ahhh shh Sehunnie..." Desah Luhan kembali terdengar saat bibir Sehun mengecupi pangkal paha Luhan dan semakin dekat dengan klitorisnya.

"Ahh shh emphhh" Luhan menahan desahannya yang hampir keluar karena bibir dan lidah Sehun yang sudah bermain pada sekitar klitoris Luhan.

Sehun menciumi dan menjilati klitoris Luhan tanpa henti, membuat klitoris itu memerah dan semakin basah. Sesekali gigi-gigi Sehun sengaja ia gesekan pada klitoris Luhan membuat Luhan menggerakan tubuhnya tak nyaman. Sehun memanjangkan lidahnya dan mencoba memasukkannya ke dalam 'hole' Luhan yang sempit. Luhan merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya karena sesuatu yang kenyal masuk ke dalamnya dan menggelitiknya. Luhan mendorong tengkuk Sehun agar Sehun semakin memasukkan lidahnya lebih dalam di dalam 'hole'nya. Luhan merasa ada sesuatu yang akan keluar dari dalam tubuhnya saat itu. Dan benar saja, cairan putih keluar dari dalam klitorisnys. Sehun dengan segera mengeluarkan lidahnya, kembali menjilati dan menelan cairan itu hingga habis tak tersisa.

Sehun mengangkat kembali kepalanya, menatap Luhan setelah ia selesai menelan habis cairan milik Luhan itu. Sehun menjilati sekitar bibirnya dari sisa-sisa cairan milik Luhan membuat libido Luhan kembali naik.

"Noona... Hmm bolehkah aku?" Tanya Sehun ambigu pada Luhan yang hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Sehun segera melepaskan celana yang masih di kenakannya bersama underwarenya dan melemparkan ke segala arah. Ia sungguh sudah tak sabar lagi. Juniornya sudah benar-benar ingin segera menjamah rumahnya di dalam sana.

"Noona mian jika akan sakit..." ujar Sehun sebelum memasukkan satu jarinya ke dalam 'hole' Luhan.

Satu jari Sehun sudah bersarang di dalam Luhan. Namun tak ada reaksi dari Luhan membuat Sehun memasukkan satu jarinya yang lain ke dalam 'hole' Luhan. Sehun menusuk-nusukkan kedua jarinya pada 'hole' Luhan menimbulkan desahan-desahan kecil dari Luhan.

"Akhh shh Seh-Sehunnie ahh langsung sajahhh" ujar Luhan terbata-bata karena menahan rasa perih pada 'hole'nya.

"Tapi... Nanti bukankah akan sangat sakit?" Tanya Sehun dengan nada khawatir.

"Ani. Ahh nan gwenchana. Shh lebih baik kita shh tuntaskan hmmpphh segera" ujar Luhan saat Sehun masih terus menusuk-nusuk 'hole'nya dengan kedua jarinya.

Sehun dengan segera mengeluarkan kedua jarinya dari 'hole' Luhan. Ia mengarahkan junior miliknya yang sudah benar-benar hard untuk segera masuk ke dalam 'hole' Luhan menggantikan jari-jarinya tadi.

"Akhhh shhh" Desah Luhan saat ujung junior Sehun memasuki 'hole'nya.

Sehun mengigit bibir bawahnya saat ia mencoba memasukkan juniornya karena juniornya seolah di cengkram kuat oleh dinding klitoris Luhan. Akhirnya junior Sehun berhasil bersarang sepenuhnya di dalam sana. Sehun mendiamkannya, membiarkan agar Luhan terbiasa dengan junior big size miliknya. Ia tak mau langsung menyakiti Luhan saat dirinya yang langsung saja bergerak tiba-tiba.

"Bergeraklah." Ujar Luhan setelah membiasakan dirinya dengan benda asing yang bersarang di dalamnya.

Sehun mulai memaju-mundurkan tubuhnya perlahan membuat tubuh Luhan terguncang karena hentakan Sehun.

Sret

Bles

Sret

Bles

"Ahhh hngg faster shh Sehunnie" ujar Luhan agar Sehun lebih cepat memaju-mundurkan tubuhnya.

Sret

Bles

Sret

Bles

Sret

Bles

Sehun pun semakin cepat memaju-mundurkan tubuhnya. Tubuh Luhan jadi ikut berguncang karena hentakan-hentakan yang dihasilkan dari gerakan Sehun. Sehun menjauhkan tubuhnya membuat juniornya juga jadi ikut tertarik. Detik berikutnya Sehun langsung menghentakkan tubuhnya maju mendekati Luhan membuat juniornya kembali masuk ke dalam 'hole' Luhan. Tindakan Sehun itu membuat Luhan semakin mendesah tak menentu karena junior Sehun tepat mengenai gspotnya.

"Morehh ahh morehh shh Sehunnie" racau Luhan tak karuan.

Sret

Bles

Sret

Bles

Sret

Bles

Luhan tak hanya diam saja. Libidonya sudah benar-benar naik. Ia jadi ikut menggerakkan tubuhnya, memaju-mundurkan tubuhnya ke arah berlawanan membuat junior Sehun semakin telak menumbuk gspotnya. Suara decitan sofa, suara kulit yang saling bergesekan serta suara desahan Luham dan Sehun menjadi satu.

Nafas Luhan dan Sehun sedikit tersenggal karena lelah sedaritadi bergerak tanpa ada yang mencapai klimaksnya. Mereka berdua menghentikan gerakan mereka. Saling memandang satu sama lain dan kembali menautkan bibir mereka.

Sehun menarik tubuh Luhan agar kembali duduk bersandar ke sofa. Kedua tangannya asik bermain-main di sekitar breast dan paha dalam Luhan membuat desahan-desahan tertahan dari Luhan. Dengan usil Luhan juga ikut memainkan otot kewanitaannya untuk mencengkram junior Sehun dengan kuat di dalam 'hole'nya. Beberapa menit mereka sama-sama menikmati permainan 'nakal' mereka sampai kebutuhan oksigen memaksa mereka untuk melepaskan tautan bibir mereka dan menghentikan aksi mereka.

"Sehunnie... I wanna morehhh..." bisik Luhan seduktif tepat di telinga kiri Sehun membuat libido Sehun kembali naik.

"Jadikan aku milikmu hari ini, Sehunnie..." bisik Luhan lagi sebagai tanda ijin untuk Sehun 'melakukan'nya lagi.

Sehun mengeluarkan juniornya dari 'hole' Luhan kemudian dia membalikkan tubuh Luhan, memeluknya dari belakang dan meremas-remas breast Luhan memancing agar Luhan kembali terangsang. Kedua tangan Luhan terulur kebelakang, mencengkram pinggang Sehun cukup kuat akibat ulah Sehun terus meremas-remas dan memelintir nipplenya tanpa henti.

Bibir Sehun mulai bermain di sekitar leher putih Luhan. Mencium, menjilat, menggigit dan menghisapnya menghasilkan beberapa bercak kemerahan, kiss mark di sana. Sehun memenuhi leher dan bahu Luhan dengan kiss mark- kiss mark yang dibuatnya yang terlihat sangat jelas dan kontras dengan kulit putih Luhan.

Sehun membuat tubuh Luhan menungging membelakanginya. Sebelah tangannya meraba-raba klitoris Sehun dan mencari 'hole'nya sementara tangan lainnya meremas juniornya agar mengeluarkan cairannya sebagai pelumas agar bisa lebih mudah bergerak di 'hole' sempit Luhan itu. Setelah Sehun mendapati dimana letak 'hole' Luhan, ia segera mengarahkan juniornya agar masuk kembali ke dalam 'hole' Luhan yang hangat namun juga lembab.

"Ohh shh Sehunnie ahhh" desah Luhan saat junior Sehun kembali bersarang sepenuhnya di 'hole' Luhan. Sehun mendiaminya sebentar membiarkan Luhan kembali terbiasa dengan juniornya di dalam sana.

"Move ahhh" ujar Luhan setelah kembali terbiasa dengan junior Sehun di 'hole'nya.

Sehun menggerakkan pinggulnya, membuat tubuh Luhan terguncang saat Sehun meng in-outkan junior big size nya pada 'hole' Luhan.

Luhan menggigiti bibir bawahnya menahan rasa sakit dan desahan nya saat Sehun berulang kali terus meng in-outkan juniornya disana. Luhan mencengkram kuat-kuat punggung sofa dengan kedua tangannya.

Tangan Sehun yang bebas mulai kembali menjamah breast Luhan yang menganggur. Sehun meremas breast itu membuat desahan Luhan kembali terdengar memenuhi ruangan yang sudah terasa seperti sauna akibat aksi panas mereka. Sehun mempercepat gerakannya mengin-outkan juniornya membuat tubuh Luhan semakin berguncang hebat dan melemas apalagi di tambah sensasi dari Sehun yang terus memanjakan breast dan nipplenya.

"Sehunnie shh hmmpphh aku ahh sudah tak kuat hngg seperti ini shh lagihhh" desah Luhan sambil mencengkram kuat tangan Sehun yang masih asik memain-mainkan breastnya.

Sehun yang mengerti pun mulai menghentikan gerakannya. Perlahan ia memundurkan tubuhnya, mengeluarkan kembali juniornya yang sudah sedikit berkedut dari 'hole' Luhan. Luhan segera menjatuhkan tubuhnya ke sofa saat junior Sehun sudah benar-benar keluar dari 'hole'nya. Ia mengatur nafasnya kembali agar bjsa bernafas dengan normal. Tubuhnya terasa sangat lemas. Sehun menjongkokan dirinya di lantai di samping Luhan. Mengelus surai panjang kecokelatan Luhan yang berantakan dan sedikit basah karena keringat.

Luhan membalikkan tubuhnya agar bisa terlentang dengan nyaman di sofa itu. Sehun masih berjongkok di samping Luhan dan memperhatikan Luhan. Sehun seperti sedang memikirkan sesuatu. Luhan mengelus sebelah pipi Sehun dengan tangan kanannya membuat Sehun tersadar dari lamunannya. Sehun tersenyum saat melihat Luhan memperhatikannya. Ia meraih tangan Luhan yang menyentuh pipinya dan mengecupnya dengan lembut.

Luhan mengangkat kepalanya agar bisa menatap langsung Sehun. Sebelah tangan kanannya masih terus digenggam oleh Sehun. Luhan mendekatkan wajahnya pada telinga Sehun.

"Wanna one more round, Sehunnie?" Tanya Luhan tepat di telinga Sehun.

Luhan langsung menerjang bibir tipis Sehun dan melumatnya dengan ganas. Luhan memeluk tubuh Sehun cukup erat dan menjatuhkan tubuhnya pada tubuh Sehun membuat Sehun terbaring di atas lantai yang untung saja terlapisi oleh karpet. Sehun membalas ciuman Luhan tak kalah ganas. Berkali-kali Sehun mengigit bibir atas dan bawah Luhan bergantian membuat bibir Luhan yang sudah memerah itu semakin merah dan bengkak. Lidah Sehun mulai mengajak lidah Luhan untuk kembali bertarung. Luhan tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan menerima ajakan lidah Sehun. Decak saliva kembali terdengar memenuhi seluruh ruang tengah Sehun yang semakin lama semakin gelap karena lampu yang masih belum menyala sedangkan hari sudah semakin malam.

Mereka tak terlalu memperdulikan dimana mereka berada sekarang. Mereka tak terlalu memperdulikan jam berapa sekarang. Yang mereka tahu mereka sama-sama membutuhkan satu sama lain untuk menuntaskan semuanya. Mereka saling menginginkan tubuh satu sama lain. Saling membutuhkan sentuhan-sentuhan satu sama lain. Saling membutuhkan kehangatan yang sama-sama mereka dapatkan dari satu sama lainnya. Hanya itu.

Luhan kini berada di atas tubuh Sehun. Luhan memainkan kakinya pada kaki Sehun. Mengelusnya dan menggodanya. Tangan kiri Luhan bermain di sekitar dada bidang dan nipple Sehun. Sesekali Luhan menekan-nekan dan mencubit nipple Sehun dengan gemas. Sementara tangan kanannya kini semakin turun kebawah, mencari sesuatu yang di bawah sana. Akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya. Ia mencengkram junior Sehun dengan tangan kanannya. Membenarkan posisinya agar junior Sehun tepat berhadapan dengan klitorisnya. Luhan menggesekan kepala junior Luhan dengan klitorisnya membuat sengatan kecil pada diri keduanya. Perlahan Luhan kembali memasukkan junior Sehun ke dalam 'hole' miliknya. Luhan memejamkan matanya saat junior Sehun hampir sepenuhnya masuk ke dalam 'hole'nya. Akhirnya junior Sehun sudah benar-benar kembali bersarang pada 'hole'nya. Luhan kembali membuka matanya dan menatap mata Sehun. Perlahan ia kembali mendekatkan bibirnya pada bibir Sehun. Luhan melumat bibir Sehun perlahan tanpa ada niatan untuk melepasnya. Pinggulnya mulai ia gerakan perlahan.

Sret

Bles

Sret

Bles

Sehun menekan tengkuk Luhan agar memperdalam ciuman mereka. Luhan memiringkan kepalanya ke kanan diikuti oleh Sehun yang memiringkan kepalanya ke kiri. Mereka sangat menikmati ciuman lembut penuh kehangatan yang mereka ciptakan membuat Luhan melupakan rasa sakit pada bagian bawahnya yang masih terus ia gerak-gerakan.

"Engg" erang Luhan di dalam ciumannya saat tanpa sengaja junior Sehun kembali menumbuk gspotnya.

Luhan mempercepatkan gerakan pinggulnya mengarahkan junior Sehun agar menumbuk gspotnya lebih lagi. Luhan melepaskan lumatan bibirnya dari bibir Sehun. Ia sudah tak bisa menahan desahannya.

"I wanna moreh moreh ahhhh" racau Luhan tak menentu dan semakin cepat dan cepat menggerakkan pinggulnya.

Peluh kembali turun membasahi kening Luhan. Nafasnya mulai tersenggal-senggal. Pergerakan pinggulnya juga semakin lama semakin melemah. Ia kelelahan. Namun ia tak ingin menyudahi semuanya begitu saja tanpa mereka berdua mencapai klimaksnya. Luhan terus memaksakan dirinya menggerakan pinggulnya dengan cepat. Sehun yang tak tega melihat Luhan kelelahan juga mulai membantu menaik-turunkan pinggang Luhan. Ia juga mulai menggerakkan pinggulnya berlawanan arah dengan Luhan. Luhan merasa ada sesuatu yang akan keluar. Ia semakin mempercepat gerakan pinggulnya.

"Sehunnie ahhh shh I'm mmphh closehhhh" desah Luhan sambil memejamkan matanya.

"Nadohh shhh"

"SEHUNNIEEEEEE"

"LUHANNIEEEEEE"

Teriak mereka berdua setelah mencapai klimaksnya. Dan cairan mereka pun benar-benar keluar dan menjadi satu. Sehun mengeluarkan sperma nya tepat di dalam 'hole' Luhan membuat Luhan merasakan kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Luhan dan Sehun sama-sama tak bergerak. Mereka masih menikmati klimaks mereka. Nafas mereka sudah kembali normal. Jantung mereka pun sudah kembali berdetak dengan normal. Tubuh mereka kini sudah penuh dengan keringat dan cairan mereka sendiri. Sehun mengelus kepala Luhan yang bersandar pada dadanya. Sesekali ia mengecup pucuk kepala Luhan membuat sebuah senyuman terukir di bibir Luhan.

"Aku lelah, Sehunnie..." ujar Luhan sambil mencoba memejamkan matanya.

"Nado. Lebih baik kita istirahat sekarang, noona."

Sehun membantu Luhan untuk duduk bersandar di sofa. Luhan meringis saat junior Sehun yang tanpa sengaja tertarik keluar dari 'hole'nya saat dirinya berpindah. Sehun mengecup pucuk kepala Luhan berharap dapat mengurangi rasa sakit bagi Luhan. Sehun mulai bangkit berdiri dari posisinya kini. Tangan kanannya terulur kedepan pada Luhan.

Karena tak mendapat respon dari Luhan, Sehun segera mendekatkan dirinya kembali pada Luhan. Meletakkan kedua tangan Luhan agar melingkar pada lehernya dan menggendong Luhan ala bridal style menuju ke lantai atas, ke kamar tidurnya untuk beristirahat.

CKLEK

Sehun membuka pintu kamarnya. Terlihat kamar Sehun yang gelap karena lampu yang tak dinyalakan. Sehun membawa tubuh Luhan untuk menuju tempat tidurnya. Ia membaringkan tubuh lemah Luhan perlahan di tempat tidur. Mata Luhan sudah mulai terpejam mungkin karena sudah kelelahan. Sehun mengambil selimut baru dari dalam lemarinya dan menutupi tubuh Luhan dengan selimut.

Sehun terus memperhatikan wajah damai Luhan saat tertidur. Ia mulai membenarkan letak poni Luhan yang hampir menutupi matanya. Tanpa disadari senyum Sehun terkembang di bibirnya.

"Gomawo untuk semuanya, noona." Ujar Sehun sambil mengecup pucuk kepala Luhan.

"Jaljayo, Luhannie..."

.

.

.

.

To be continued...

.

.

.

.

Balasan Reviews~

xiaolu odult

=Hai... Wah kurang HOT kah? /.\ mianhae aku masih dalam tahap belajar buat FF rated M dan adegan NC /.\ dan di chapt ini ada NCan mreka lagi kok... mian kalo adegannya tak jauh" dr yg kmrn" ya dan sama sekali gak HOT hehehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

RZHH 261220

=Hai... iya nih Sehun jahat banget. Masa Lulu yang unyu begitu dilupain ya? Hehe btw gomawo untuk pendapatnya... akan aku pikirkan lagi nanti ya buat kelangsungan FF ini hehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

CuteManlydeer

=Hai... gerah? Sinisini aku bantuin kipasan hehe iya si Sehun amnesia tuh sampe gak inget" sm Lulu :( iya Sehun kalo udh ketemu Luhan udah pervert sekarang gak polos lagi wkwk gomawo untuk pendapatnya... iya aku juga masih memikirkan konflik yang ada. Tp jujur aku sih sebenernya ingin buat FF ini no conflict karena pengen liat HunHan bahagia terus kekeke tp kalo gak ad konflik jg jd kurang seru huftt akan aku pikirkan lagi yaaa

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

Dyah260

=Hai... FF ini pastinya akan ada part NC hehe jinjja? Wah padahal aku kira itu masih banyak kesalahan dan kurang hot loh *muka polos*

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

younlaycious88

=Hai... iya nih banyak banget yang dendam sama TBC nya wkwk hoa buat Luhan hamil? Hmm akan aku pikirkan nanti hehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

zoldyk

=Hai... Finally I updated it again hehe sorry I can update ASAP like before :(

Thanks for review^^ Review again, please~

xiaodult

=Hai... Waduh lain kali harus siapkan banyak tisu sebelum baca FF ini hehe btw gomaeo untuk pendapatnya. Akan aku pikirkan lagi untuk kelangsungan FF ini hehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

Vita Williona Venus

=Hai... Mianhae biarkan saja di sini Sehun jadi sok lugu dan polos. Aslinya kan enggak gitu huehehe *evillaugh* chapt ini ada NC lagi kok tp mian ya kalo kurang hot /.\

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

choi.

=Hai... HOT kah? Bukannya kurang ya? *loh

Haha jangan sambil makan cabe dong nanti kepedesan loh hehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

HunHanCherry1220

=Hai... Iya Lulu kasian banget nih :( hmm tau gak ya kel Sehun kalo tetangga mreka itu Luhan? Hmm jawabannya ada di chapt ini kan hehe Lulu kan emang selalu nakal kalo bareng Sehun huehehe *digorokLuhan* Luhan gak akan takut hamil. Lagian hamilnya kan sama Sehun gini. Tinggal minta Sehun tanggung jawab kan selesai urusannya wkwk lagian Sehun gak akan nolak di nikahin sm Lulu wkwk

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

Park Oh InFa FaRo

=Hai... Huaa panas kah? Sinisini aku kipasin deh fuhh fuhh wkwkwk

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

exindira

=Hai... Kapan ya Sehun akan inget Luhan? Hmm tebak dulu deh hehehe kenapa kayaknya banyak yang nanya Luhan akan hamil atau tidak? Ck sebenarnya aku sih belum kepikiran buat Luhan hamil. Abis kasian banget sm si Sehun. Dia masih SMA dan ingat dia kan masih belum 'dewasa' *iyagakya?* masa mau jadi appa? Dia bakal ngajarin apa buat anaknya? *digorokSehun* wkwkwk nanti akan aku pikirin kok so tenang aja hehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

guess who

=Hai... Luhan itu ya guru mesum *ehh wkwkwk /sujud di kaki Luhan/ hahaha

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

febydeer

=Hai... Jangan sedih ya... tenang nanti akan aku buat Lulu bahagia kok jadi kamu juga ikutan bahagia hehe bener itu. Sakit rasanya jika dilupain sama org yg kita suka hikss T.T *loh

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

Yo Yong

=Hai... Amin mudah-mudahan Sehun cepet-cepet inget sama Luhan ya biar Luhan gak sedih terus hehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

ShinJiWoo920202

=Hai... Kita doakan saja ya semoga Sehub cepetan inget sama Luhan biar Lulu gak sedih terus hehe gomawo untuk masukannya. Aku akan lebih teliti lagi dalam mengetik nama agar gak kebalik" lagi hehe gomawo juga untuk pendapatnya. Akan aku pikirkan lagi untuk kelangsungan FF ini...

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

lulu-shi

=Hai... gwenchana chingu :) huaa berarti aku update nya gak tepat waktu dong ya? Mian ya kalo updatean FF ini jadi membuat chingu batal x.x gomawo untuk sarannya... Oh gomawo untuk koreksinya. Chingu bener. Harusnya microwave ya x.x aduhh aku mesti harus banyak belajar ini x.x

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

lisnana1 (chap2)

=Hai... HOT kah? Kyknya msh banyak yg kurang deh :| buat Lulu hamil? Hmm akan aku pikirkan lagi ya hehe Sehun jadi appa? Kalo dipikir ksian dia. Dia aja kan katanya msh belom 'dewasa' masa udh mau jd appa? Dia mau ngajarin anaknya apa nanti? Wkwkwk

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

siscaMinstalove

=Hai... HOTkah? Tapi aku rasa masih banyak kekurangannya :( adegan pagi" waktu di kamar mandi itu ya? Hehe Sehun udah mulai pervert tuh ckck iya dong Lulu gak akan mau memberikan keperawanannya ke sembarang orang hehe aku jg gak tega kalo buat konflik yg berat" buat mereka :( btw gomaeo untuk pendapatnya. Akan aku pikirkan lagi untuk kelangsungan FF ini hehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

fykaisoo

=Hai... HOT kah? Bukannya masih banyak kekurangan? Hmm untuk itu coba mengira" jawabannya dr chapt ini. Udh ad bayangankah? Hehehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

DIAHDEGA

=Hai... Mian kalo kmrn gk ad blesan review chingu kmrn. Krn kmrn mmg ad sdikit mslah. Banyak review dari chingu dn readers lain yg telat masuk ke kotak review jd aku gak tau dn gk bisa bales deh :( tambahan cast couple Exo? Hmm akan aku tmpung dulu ya... soalnya spertinya sedikit tanggung kalo aku masukan cast baru ke FF ini. Jadi mungkin bisa untuk cast FF aku ke depannya hehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

Guest

=Hai... Gomawo untuk koreksinya...

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

hunhan98

=Hai... Ne akan aku usahakan update kilat hehe mian kalo chapt ini ada sedikit keterlambatan update ya...

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

Lost Little Deer

=Hai... Hahah kasian Sehun kalo dibuat cadel melulu. Biarkan dia berbicara normal dalam FF ini hahaha kecelakannya pake mantra penghapus kecadelan tuh makanya saraf otak Sehun yang sedikit melenceng dan membuat Sehun cadel jadi bener lagi wkwk jawabannya bisa dianalisis dr chapt ini hehehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

exocansu

=Hai... Bener Lulu kasian banget nasibnya yah :( Lulu susah tuh buat diajak sarapan. Rayuan Sehun aja masih gak mempan. Harusnya dia diapain ya biar bisa sarapan? Wkwk NC nya HOT? Jinjja? Bukannya msh banyak kekurangan ya?

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

WinterHeaven

=Hai... Aku jg author baru loh disini hehe dan ini jg FF pertama aku makanya msh banyak kesalahan dan masih hancur banget hehe iya sini Lulu emg agresif banget. Tapi lama kelamaan Sehun bisa menyaingi keagresifan Lulu kok wkwk untuk masalah lukisan Sehun yg di bwh kolong hmm ada di chapt ini kan? Hehehe

Gomawo udah review^^ Review lagi, ne~

Special for :

lisnana1

1124yname

Guest

ShinJiWoo920202

seunluan

exoshipper

DIAHDEGA

Aku mau minta maaf pada kalian semua... Karena review kalian di Chapt kemarin belum aku bala /.\ Bukan karena aku tak mau balas tapi beneran kemarin saat aku liat belum ada review kalian muncul di kotak review... Jujur aku bukannya milih-milih untuk balas review tapi yang tadi aku bilang kemarin ada sedikit gangguan dimana review kalian telat masuk ke kotak review nya /.\ jadi jangan salah paham ya chingu... sekali lagi aku minta maaf... Tapi aku janji aku akan selalu balas semua review yang masuk kok tanpa memilih-milih hehehe gomawo atas pengertiannya ^^

.

.

.

.

Ahh akhirnya Chapt 4 selesai juga... Mian atas keterlambatan update nya. Jujur beberapa hari kemarin aku lagi sibuk dan sedang drop banget makanya gak bisa cepet update FF ini /.\ dan sekarang ini dia lanjutan kisah HunHan hehe gimana? Tambah aneh? Tambah gaje? Tambah gak masuk akal? Maafkan karena aku juga masih baru belajar membuat FF /.\

Oh ya aku mau ucapin banyak terima kasih untuk pendapat kalian tentang FF ini yang akan segera di END atau masih terus di lanjut sepanjang-panjangnya. Aku sedang menimbang-nimbangnya. Dan gomawo untuk koreksi-koreksi, pembenaran-pembenaram dan masukan dari kalian semua... Semua itu sangat berarti bagiku yang tergolong masih newbie ini hehehe

Seperti biasanya aku mengharapkan review dari kalian semua... Aku butuh pendapat, saran, kritik serta dukungan juga dari kalian. Tanpa itu aku tak bisa melanjutkan FF ini. Terima kasih sebesar-besarnya untuk kalian lara readers, para chingu yang setia membaca, memfollow bahkan memfavoritekan FF abal-abal ini. Aku sunggub terharu dan tak pernah menyangka bisa mendapat respon seperti ini dari kalian...

Oh ya aku kepikiran akan buat FF baru nih. Kira-kira kalian bisa kasih saran cast nya nanti? Apa tetap HunHan atau Offical Couple lain? Aku tunggu pendapat dan saran dari kalian ya... Review sebanyak-banyaknya^^

So yeoreobeun, see you again^^ XOXO