Soul
Desclimer : Naruto and Highschool DxD Not Mine!
Rating : T
Genre : Adventure, Supernatural, Etc
Pairing : Naruto x …
Summary : Sesudah perang dimenangkan oleh Aliansi Shinobi, dan Naruto berniat menciptakan Jikkukan Ninjutsu dengan media lukisan. Tak pernah terduga bahwa yang terjadi adalah nafasnya terhenti dan jiwanya muncul dari layar laptop seorang gadis bersurai merah dalam wujud transparan!
Warning : Semi-canon, jelek, abal-abal, miss typo's, OOC(maybe), No Yaoi,chapter ini merupakan Re-Make, etc.
Don't Like?
Flame
.
.
.
.
.
~Happy reading~
.
.
.
Chapter 3,5 : Mine (Alt)!
.
.
.
"Dunia ini lebih bagus daripada yang kubayangkan." Seorang pria bersurai kuning berucap sambil memejamkan mata. Menikmati hembusan angin sejuk di atas gedung pencakar langit.
'Ya ya… ngomong-ngomong, kenapa kau meninggalkan bunsinmu bersama bocah-bocah itu?' Sebuah suara berat berdengung di kepalanya. Membuatnya membuka mata dan menampilkan senyum tertarik.
"Aku tidak percaya jika iblis tidak terlihat seperti Madara atau Kaguya."
'Aku lebih tidak percaya bocah bodoh dengan rambut menyakiti mata menjadi pahlawan perang.'
"Kau dan ejekan garingmu."
'Kau dan ke-jonesan mu.'
"Kau, umurmu, dan keperjakaanmu."
'Haaahh… aku lelah, dan aku ingin tidur. Jadi jangan ganggu aku bocah!'
"Siapa yang sebut bocah rubah sialan!?" Tanpa sadar Naruto berteriak di kalimatnya. Ekspresi kesal terlihat jelas di wajahnya. Tidak lama kemudian dia menenggelamkan wajah di lipatan tangan pada pagar besi pendek di depannya.
.Tap.
.Tap.
.Tap.
Terdengar langkah kaki dari arah belakang. Naruto tampak tak perduli.
"Ah… apa yang kulihat ini? Lagi-lagi generasi muda kehilangan hidupnya." Suara laki-laki dewasa terdengar di samping Naruto. Melirik sejenak laki-laki berponi emas yang menyeringai kepadanya, dan kembali menenggelamkan kepalanya.
"Pergi… aku tidak menerima saran dari paman yang terlihat mesum." Nadanya terdengar sangat tidak bersemangat.
"A-apa?! Bagaimana- Ehmmm… Ah… apa yang kulihat ini? Lagi-lagi generasi muda kehilangan hidupnya. Ada apa wahai anak muda?"
'Licik! Mengulangi adegannya seakan aku tidak mengucapkan apa pun tadi. Dia malu karena kedoknya sudah terbongkar dari awal!'
Naruto kembali melirik dengan malas orang di sebelahnya yang memberikan senyum ramah dengan kedua mata tertutup.
"Aku sedang tidak bersemangat. Tidak bisakah kau melihatnya?" Ucap Naruto malas.
"Hei, tangkap!"
Naruto menangkap barang pemberian Azazel tanpa merubah posisinya. Melirik barang pemberian orang di sebelahnya dan menaikkan alis.
"Minuman bersoda?" Naruto bertanya dengan nada bingung.
"Aku tidak mungkin memberi sake pada seorang bocah." Azazel menjawab santai lalu meneguk minuman kaleng di genggamannya.
"SIAPA YANG- ehhmm… maksudku, apa kau berpikir aku bisa meminum atau memakan sesuatu dengan tubuh seperti ini?"
"Siapa yang tau?"
Naruto mulai membuka tutup kaleng itu dan meneguk sebagian isinya. Sesekali mengecap rasa yang baru saja melewati kerongkongannya. 'Ternyata masih bisa' batinnya.
"Kau dari mana? Apa tujuanmu?" Azazel membuka topik yang terlihat santai. Namun dari intonasi yang dikeluarkan, terkesan memaksa.
"Jangan terlalu waspada. Aku bukan berasal dari manapun di dunia ini, dan tujuanku adalah untuk kembali ke tempat asalku. Aku tidak bisa mengusik apa pun di sini. Jadi tenanglah Pak Tua." Naruto memandang ke bawah dan tersenyum saat melihat Issei dan Asia terlihat sedang mencari sesuatu.
"Baguslah. Kau menyadari itu. Nah anak muda, ingin mencoba bertarung? Ku kira kau cukup kuat."
"Tidak untuk saat ini Pak Tua. Ada sesuatu yang harus aku urus."
Tiba-tiba di belakang Naruto tercipta lingkarang sihir…
.
OwL
.
Beberapa menit sebelumnya…
"Boucho! Aku sudah mencari di sepuluh tempat berbeda, tapi aku tidak menemukannya. Laporan selesai." Seorang pemuda bersuarai coklat melapor pada seorang gadis bersurai merah 'big-size' di depannya dengan posisi hormat.
"Ara-ara... Issei-kun, bukannya dari tadi kau hanya mencari di tempat sampah?" Seorang gadis bersurai dark blue 'big-size' menyeletuk di belakang Issei.
"Cihh... itu adalah tempat yang cocok untuk orang tampan seperti dia."
'apa-apaan dengan "Cihh" itu?' batin seekor kucing seperti 'Garfields' yang ternyata itu adalah henge Naruto. Kucing henge Naruto itu berjalan ke arah Issei. Setelah sampai di depan Issei, kucing henge Naruto memandang sebentar pada Sekiryuutei itu. Issei juga memandangnya. Kucing henge Naruto mengangkat sebelah kakinya dan...
...Cusssss...
Mengencingi sepatu Issei tanpa ragu. Sementara yang dikencingi melebarkan matanya sebelum sepersekian detik memandang tajam sang kucing yang balas dengan pandangan polos, seolah berkata "Aku tidak tau apa-apa. Aku hanya kucing."
Kucing henge Naruto menghentikan kencingnya dan berjalan ke arah Akeno di belakang Issei. Memberi 'Cute Cat's eyes' terbaiknya pada Queen Rias Gremory itu. Meninggalkan Issei yang masih memandangi tajam dengan mengalir air matanya. Reaksi Akeno adalah...
"Kyaaa... imutnya!" Akeno dengan cepat meraih kucing henge Naruto dan menimangnya, sesekali menggelitiknya. Kucing henge Naruto menunjukkan senyum menyeringai pada Issei yang harus menahan kekesalannya agar tak membunuh makhluk yang masih sebangsa dengan Kouhai Lolinya.
"Mungkin lebih imut lagi jika ku cukur bulunya dan memasang kalung duri di lehernya. Nfufufu." Kucing henge Naruto melebarkan matanya seketika berusaha memberontak dari genggaman sadistic Akeno. Memandang Issei dengan pancaran mata panik seolah berkata "Tolong aku! Gadis loli itu akan respect padamu."
Kini gantian Issei yang menampilkan senyum menyeringai penuh kemenangan di wajahnya. Akeno berbalik meninggalkan Issei dengan tidak memperdulikan kucing di pelukannya memberontak dan memandang Issei di belakangnya dengan air mata mengalir deras.
"Issei, sudah ku bilang agar mencarinya dengan serius. Carilah bersama Asia." Issei berbalik dan menemukan majikannya yang tampak pusing dan memikirkan sesuatu, dengan sebelah tangan memegang kepalanya.
Issei segera melakukan pose hormat. "Siap! Laksanakan!" Entah kenapa dia menjadi semangat hanya dengan memikirkan kucing yang mengencinginya tadi diberi 'kenikmatan' oleh Senpainya
'Rasakan itu kucing sialan! Aku penasaran bagaimana pancaran matamu saat mengatakan "aahh… ikkeh kimochi" dan diberi 'kenikmatan' oleh Akeno-san? khu khu khu khu' Issei pun pergi dengan seringai yang setia menetap di wajahnya.
Sementara dengan Rias…
'Naruto-kun itu! Kemana sih dia pergi. Tunggu dulu, tadi dia mengatakan kalau beberapa partikel jiwanya berpindah padaku, dan kami terhubung. Dengan itu aku bisa mendeteksinya lewat patikelnya yang ada di tubuhku. Rias, kau jenius!' batin Rias menemukan solusi permasalahan.
"Baiklah." Rias memejamkan mata dan mulai menyalurkan sihir ke seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian, tubuh rias mengeluarkan partikel kekuningan yang menempel di seluruh tubuhnya. Rias pun lebih berkonsentrasi untuk mendeteksi keberadaan Naruto.
Rias membuka mata "Dapat!" dengan itu Rias pun berlari menuju pintu keluar Klub Penelitian Ilmu Gaib 'Aku akan menemukanmu Naruto-kun. Hadiahku!'
.
OwL
.
Lingkaran Sihir di belakang Naruto mengeluarkan Rias Gremory
'Dafuq!' Batinnya bejat. "Hoi Pak Tua? Bisakah kau memban- Sialan! Dia menghilang!"
Naruto dengan cepat berbalik dan melompat ke bawah gedung pencakar langit itu.
"Aku percaya, aku bisa terbang~! Hohoho~! I Believe i- Uhk… Sialan!"
Sebuah tali hitam melilit tubuh Naruto.
"Lepaskan! Aku ingin- Ughgruuuhhh"
Naruto memuntahkan minuman soda yang tadi diminumnya.
"Kau tidak bisa lari Naruto-kun. Karna kau adalah hadiahku. Milikku!" Dengan itu, Naruto dan Rias perlahan terhisap dalam lingkaran sihir.
"Sialan kau Pak Tua- Ughgruruuu…" Muntah Naruto sebelum benar-benar menghilang.
.
OwL
.
Occult Research Club
"Bisa jelaskan kenapa aku kembali ke tempat ini?!" Naruto bertanya dengan nada frustasi. Tubuhnya terikat oleh tali yang tersambung pada genggaman Rias. Berdiri di samping Rias yang duduk di kursi kebesarannya. Sementara anggota yang lain duduk di sofa kanan dan kiri dalam ruangan bergaya eropa itu.
"Karna kau adalah milikku Naruto-kun!" Jawab Rias dengan pasti. Membuat Naruto menatap Rias kesal, tapi Rias hanya cuek dengan tatapan Naruto.
'Naruto' Suara Kurama dalam kepala Naruto membuatnya langsung menuju alam bawah sadarnya.
Mindscape Naruto
Naruto sampai dalam mindscapenya yang serba putih itu. Di sana terdapat seekor makhluk berwujud musang dengan sembilan ekor malambai-lambai.
"Ada apa Kurama?" Kedua makhluk berbeda jenis itu saling pandang dengan serius.
"Aku ada ide."
"Sebutkan!"
"Jika dilihat-lihat, semua unsur teknologi di dunia ini berkembang sangat jauh dari konoha. Mereka memakai peralatan yang lebih efisien dari pada yang ada di konoha. Bentuk bangunannya pun sangat berbeda dengan yang ada di Amegakure."
"Lalu?"
"Kita bisa memanfaatkan bocah-bocah itu untuk mencari informasi yang berguna di dunia ini. Membawanya ke Konoha, dan kau akan bisa langsung dipromosikan menjadi Hokage dengan semua dedikasimu pada desa dan dunia Shinobi, ditambah pengetahuan baru yang kau bawa dari dunia ini sangat berguna untuk masa depan desa."
"Kenapa tiba-tiba?" Naruto menyipitkan mata curiga dengan sifat Kurama yang tiba-tiba berubah.
"Apa maksudmu?"
"Tidak, setahuku, kau tidak pernah perduli dengan apa itu desa, Hokage, dan hal merepotkan lainnya yang berhubungan dengan manusia, tapi kali ini kau bahkan memikirkan masa depan desa. Apa niatanmu Kurama."
"Heh… aku hanya bosan bocah. Setelah perang dan bocah Kakashi itu menjadi Hokage, kau terlihat tidak bersemangat."
"Jadi kau mengkhawatirkanku eh?" Ucap Naruto jahil dengan sebelah alis yang terangkat.
"He-hentikan Bodoh! Itu menjijikkan!" Ucap Kurama kesal.
"Uh-uh Kurama si Tsundere mengkhawatirkanku. Uh-uh aku terha-"
.Braak.
"Pergi dari sini bodoh!"
"Ba-baiklah Kurama-cha- Ughiyaaa…"
.
OwL
.
Kembali ke dunia nyata.
Semua Iblis dalam ruangan itu sedikit bingung dengan Naruto yang tiba-tiba diam.
"Boucho, dia kenapa?" Issei mengutarakan rasa penasarannya dengan bertanya pada penerus klan Gremory itu.
"Tidak kenapa-napa. Dia mungkin sedang berbicara dengan partnernya."
"Oooh" ucap semua anggota klub penelitian ilmu gaib.
"Aahh." Suara Naruto mengalihkan perhatian semua orang dalam ruangan itu. "Rias?" Panggilnya kemudian pada Rias. Menatap Rias dengan serius pernuh pesona.
"Kau bilang pada ku bahwa aku adalah milikmu. Bisakah aku katakan bahwa kau juga milikku?" Suara Naruto terdengar maskulin menggetarkan hati.
"Bo-boleh." Rias sedikit tergagap.
"Bisakah kita hidup bersama saling berdampingan? Aku akan ada ketika kau membutuhkan, dan kau akan melengkapiku ketika aku merasa kekurangan." Nada suara Naruto menjadi lebih maskulin dengan sedikit serak melelehkan hati orang yang di ajaknya bicara.
"A-apa ini se-sebuah-" Belum selesai Rias berbicara, Naruto sudah memotongnya.
"Ya. Jangan khawatir… aku tidak akan berpaling." Naruto menjawab dengan pasti.
"Kyaaaa… aku mau! Aku mau Naruto-kun!" Rias berteriak girang dan menghambur memeluk Naruto.
'Are? Apa yang terjadi dengannya? Aku hanya mengajaknya bekerja sama. Kenapa reaksinya berlebihan seperti ini? Apa dia sedang lapar?' batin tolol Naruto.
Rias pun melepaskan tali yang melilit tubuh Naruto.
"Arigatou Rias-chan." Ucap Naruto dengan senyum menawan yang ditunjukkannya pada Rias.
"Douitte Naruto-kun." Ucap Rias membalas senyum Naruto.
"Rias-chan!."
"Naruto-kun!"
"Rias-chan!"
"Naruto-kun!"
"Meoww!" suara kucing memotong adegan nista itu.
"Ara… Garf-kun ada apa? Kau ingin kenikmatan lagi? Nfufufu" Ucap Akeno saat melihat seekor kucing yang berjalan ke arah mereka.
Kucing itu bisa dibilang dengan penampilan yang tidak baik. Dengan beberapa bulunya yang tercukur dan bekas terbakar di sana-sini. Jangan lupakan kalung duri yang melilit lehernya.
"Meoww!" Kucing itu menatap Naruto Intens. Sementara Naruto merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.
'Tidak-tidak! Jangan menghilang! Kumohon!' Pancaran matanya panik dan segera ingin meraih kucing yang berdiri di depan pintu itu.
'Maaf bos. Aku sudah tak tahan.'
.Poft.
Kucing itu menghilang dengan kepulan asap.
"Gah! Hentikan! Hentikan! sakit sekali!" Naruto berguling-guling di lantai. Semua orang yang memandangnya heran plus khawatir terutama rias.
"Hentikan! Hentikan!" Naruto terus meraung kesakitan. Tiba-tiba ia berhenti meraung dengan posisi terlungkup. Bangkit berdiri dengan perlahan.
"Na-Naruto-kun? Daijobu?" Suara Rias tampak khawatir.
"Ah… Itu sakit sekali. Tenang saja, aku tidak apa-apa."
"Ta-tapi, sejak kapan kau mempunyai sayap?" Lagi-lagi Rias bertanya. Kali ini nadanya bingung.
Naruto pun melihat ke belakang punggungnya dan…
"EEEEHHHH!"
.
.
TBC
.
.
A/N : Holla! Saya kembali! Hohoho. Chapter ini adalah chapter yang sebenarnya. Bisa dibilang yang kemaren adalah TROLL. Gomen-gomen… Sebenarnya saya berniat membiarkan saja yang kemaren dan melanjutkan Chapter 2 di Chapter 4 tanpa menyinggung Chapter 3. Tapi senpai Nokia 7610 menyarankan saya untuk me-Remakenya sekaligus memberi ide. Sekali lagi terimakasih Senpai. Dan kenapa saya tidak menghapus chapter yang kemarin? Yah, anggap saja kenang-kenangan. Hahaha
Dan lihat! Ada lumayan banyak flame yang masuk! Hohoho. Saya benar-benar terbakar. Hohoho.
Terima kasih bagi yang flame. Perasaan kalian telah sampai pada sampah ini. Saya terharu :v hahahaha…
Dan tentu saja. Saya sangat ber-terima kasih pada Reviewer yang masih memberi dorongan pada saya, bahkan dengan chapter se-hancur itu. Dan juga saya minta maaf kepada beberapa orang yang kecewa.
Dan ada yang bertanya tentang wujud Naruto. Baiklah akan saya jelaskan. Tubuh Naruto tembus pandang(Transparan) tapi tidak menghilangkan garis tubuh dan memudarkan sedikit warna tubuh. Apakah sudah jelas? Saya juga tidak tau bagaimana menjelaskannya. Hehehe.
Dan juga saya minta maaf kepada senpai Nokia 7610 karena saya tidak menepati perkataan saya dengan hanya meng-Update remakenya saja. Chapter 4 baru selesai seper-empatnya, dan mungkin agak lama untuk bisa diselesaikan.
Nah, itu saja dulu. Sekali lagi saya minta maaf kepada semua pembaca fict ini kalau masih ada kesalahan yang sama dengan chapter sebelumnnya, dan juga maaf kalau masih ada typos, saya sudah berusaha untuk mengkoreksinya.
Dan bagi flamer-tachi, jangan ragu untuk menyampaikan perasaan kalian pada saya. Bakar sampah ini sampai habis. Hohohoho.
Akhir kata. Sampaikan pendapat kalian tentang chapter kali ini. Jangan ragu atau malu untuk mengeluarkan semua kritik, saran, dan pujian(ngarep) yang sesuai dengan chapter kali ini, tentu saja dengan Review.
Terima kasih dan sampai bertemu di chapter selanjutnya.
