Disclaimer: Masashi Kishimoto
M-Rated
YAOI, out of character, and unsuitable for children under 17
.
.
Kehidupan Kedua
.
.
Lembar Keempat
Sasuke melangkahkan kakinya dengan cepat. Memaksakan tubuhnya untuk bergerak dengan sangat cepat. Tak memedulikan Menma yang sudah jauh tertinggal di belakangnya. Yang hanya ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Naruto. Rasa sakit pada telapak kakinya—karena berlari menaiki tangga—sama sekali tak diindahkannya. Kedua tangannya mengepal erat. Memaksakan kedua bola mata kelamnya untuk tetap fokus ke depan. Napas itu terengah-engah, tak mampu menyesuaikan gerak kaki dengan kemampuan paru-parunya dalam menerima oksigen.
Sasuke berhenti tepat beberapa langkah dari ruang musik yang selalu dikunjungi Naruto. Kedua tangannya beristirahat di kedua lututnya—sembari mencoba mengatur napasnya. Menma berada tepat di belakangnya, mendongakkan kepalanya mencoba untuk mencari pasokan oksigen untuk organ respirasinya. "Pintunya terbuka," ucap Sasuke pelan sembari melangkahkan kakinya menuju pintu yang berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. "Naruto?" panggilnya seraya menengokkan kepalanya ke dalam ruangan tersebut. Dalam hati berdoa agar tidak ada hal buruk yang terjadi pada pria bodoh berambut pirang tersebut. "Ya, Tuhan." Sasuke segera menghampiri Naruto yang tampak berusaha untuk bernapas dengan benar.
"Naru-nii!" Menma berlutut di sebelah Naruto sembari mencoba menenangkan Naruto. "Naru-nii, kumohon tenanglah. Sasu-nii dan Menma berusaha untuk menolongmu."
Naruto menggelengkan kepalanya dengan pelan. Napasnya sudah cukup teratur meskipun masih terdengar lemah. Tangannya bergerak untuk memegang tangan Sasuke yang sedari tadi berada di pundaknya. "Sasuke, kumohon bawa Gaara pergi dari sini. Di-dia sedang sekarat. Di-dia akan mati. Sasuke, kumohon."
Sasuke mengernyitkan keningnya bingung dan menatap Menma mencoba mencari tahu apa maksud perkataan Naruto. Sasuke dapat melihat dengan jelas bahwa yang ada dalam ruangan pada saat itu hanya mereka bertiga. Dan lebih lagi Naruto menyebut nama Gaara dan mengatakannya sedang sekarat. "Naruto sebaiknya kita pulang dan kau butuh istirahat."
"Sasuke, kumohon bawa Gaara!"
'PLAK'
"Lihatlah ke sekelilingmu, bodoh! Tidak ada siapapun di sini selain dirimu, Menma, dan aku! Tidak bisakah kau kembali ke otak normalmu!"
Naruto terdiam saat Sasuke menamparnya dengan cukup kuat. Perlahan-lahan Naruto mencoba untuk mengangkat kepalanya dan benar saja. Tidak ada orang keempat dalam ruangan tersebut. Hanya mereka. Tidak ada sosok berambut merah. Tidak ada Gaara. "Kumohon hentikan semua ini. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam kepalaku. Kumohon. Kumohon Sasuke, hentikan rasa sakit ini."
Dengan lirihan itu Naruto jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Sasuke. Sasuke yang melihat hal tersebut membulatkan kedua matanya dan panik pun segera merasuk dalam tubuhnya. "Hoi, Dobe! Hoi, jangan bercanda! Buka matamu!" Sasuke mengeraskan rahangnya saat tak mendapat respon apa-apa dari tubuh Naruto. "Menma, ayo kita bawa dia ke rumah sakit."
"Sasu-nii segeralah pergi. Menma akan membereskan barang-barang Naru-nii dulu. Cepatlah!"
Sasuke hanya menganggukkan kepalanya dan segera membawa Naruto pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan Menma yang dengan wajah datarnya dan mencoba membereskan barang-barang Naruto. Helaan napas berat keluar dari bibir merah Menma saat Sasuke sudah meninggalkan ruangan musik tersebut. Kedua tangannya mengepal erat saat mendengar derap langkah lemah yang berasal dari belakangnya. Tanpa berniat membalikkan badannya, Menma berkata, "Tidakkah kau sadar dengan perlakuanmu itu kau telah menyeret manusia bernyawa untuk mempercepat ajalnya? Aku tidak akan mengatakan bahwa aku mengerti tentang perasaanmu karena aku sama sekali tidak tahu apa yang ada di benakmu. Tapi kumohon, Naru-nii … dia, sangat berharga bagiku, bagi Kyuu-nii bahkan kedua Uchiha itu sangat menyayanginya."
"…"
"Haruskah aku menebak hal yang ada di dalam otakmu saat ini?"
"…"
"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa dirimu telah jatuh cinta pada calon tumbalmu, hm?"
Menma tersenyum miris saat tak mendapat respon apa-apa. Namun Menma tahu, dan masih menyadari kehadiran sosok lain di belakangnya. "Semua orang yang merasa nyaman dengan Naru-nii pasti akan jatuh cinta padanya. Semua orang menyayanginya. Aku tahu ini sulit bagimu. Sulit bagimu karena kau berbeda dengannya. Tapi kumohon, berhentilah menyakitinya." Menma merasakan air matanya membendung di kedua pelupuk matanya saat mengakhiri ucapannya. Entah sudah berapa lama Menma tidak menangis dalam hidupnya.
"Aku tahu dia akan terus melemah jika terus menemuiku. Kehadirannya dalam duniaku membuatku merasa seakan-akan bernyawa. Namun kehadiranku dalam dunianya hanyalah sebuah rasa sakit. Aku berjanji akan meninggalkannya dengan satu syarat." Menma tak menjawab apa-apa, hanya diam dalam keheningan. Mencoba memberitahu sosok itu bahwa dia sedang mendengarkannya dengan seksama. Menunggu kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut sosok tersebut. "Aku tidak tahu bagaimana caraku menjelaskan keadaanku padanya. Oleh karena itu, kumohon bawa dia ke tempat yang bisa membuatnya mengerti."
Mataku masih terpejam, namun aku tahu bahwa diriku sudah sadar dari tidurku. Dalam keadaan terpejam aku mencoba untuk mengingat-ingat kejadian sebelumnya yang terjadi padaku. Mencoba membuka mataku secara perlahan, aku dapat melihat Sasuke sedang terduduk di kursi yang berada tepat di sebelah ranjang yang aku tempati dalam keadaan kepala yang tertunduk. "Teme," panggilku pelan membuatnya tersentak kaget dan mengangkat kepalanya untuk melihatku.
"Syukurlah, Dobe. Kau membuat Kyuubi jantungan dengan keadaanmu."
"Apa yang terjadi?" tanyaku sembari mencoba untuk mendudukkan diriku. Sasuke mendekatiku dan membantuku untuk bergerak. Aku mencoba membiasakan mataku dengan cahaya lampu dalam ruangan tersebut. Mencoba menerawang ruangan tempatku terbaring, dan aku dapat mengetahui ini bukanlah kamarku melainkan ruangan dalam sebuah rumah sakit.
"Kau jatuh pingsan dalam ruangan musik itu dan karena panik aku membawamu ke sini dan jangan terkejut dengan informasi yang akan aku berikan padamu bahwa kau sudah tertidur selama hampir tiga hari penuh."
Aku membulatkan mataku terkejut mendengarkan perkataan Sasuke barusan. Tiga hari? Yang benar saja! Kenapa aku bisa tidur selama itu. "Ba-bagaimana dengan Kyuu-nii dan Menma?" Sasuke menatapku dengan lekat dan segaris senyuman terukir di bibirnya. Tanpa kata-kata pun aku tahu bahwa mereka baik-baik saja. Berterima kasihlah karena selama aku berteman dengan Sasuke aku dapat mengerti apa yang ingin disampaikannya bahkan tanpa menggunakan kata-kata.
"Naru-nii!" Aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu dalam ruangan tersebut saat melihat Menma berteriak dan berlari menujuku. Dapat kurasakan Menma memelukku dengan sangat erat. Aku tersenyum lebar dan membalas pelukannya. Aku dapat melihat Kyuubi berdiri di ambang pintu dengan matanya yang memancarkan kelegaan yang mendalam. Senyuman tipis tergambar jelas di wajahnya. Aku mengernyitkan keningku bingung saat merasakan bahuku basah. "Menma?" panggilku dan hanya dibalas dengan isakan kecil. Aku tersenyum tipis dan mengelus punggungnya dengan pelan. "Hei, berhentilah menangis. Naru-nii baik-baik saja. Coba perlihatkan wajahmu."
Menma melepaskan pelukannya padaku dan menatapku dengan kedua matanya yang sudah memerah. Kedua pipinya basah oleh jejak-jejak air mata. "Haha, aku sangat merindukanmu dan kau masih saja lucu," ucapku sembari mencubit kedua pipinya dengan pelan. Aku dapat mendengar Kyuubi dan Sasuke mendengus pelan mendengar komentarku. Meskipun umur Menma yang cukup terbilang dewasa, aku masih saja memperlakukannya seperti bocah lima tahun yang dulu sering mengikutiku.
Menma tersenyum mendengar komentarku. Entah kenapa, suasana hangat dalam ruangan ini begitu sangat kurindukan. Seakan-akan aku sempat melupakan kehangatan ini. Namun aku tahu, ada hal yang harus aku pastikan.
Naruto mengangkat sebelah alisnya tak mengerti saat Menma mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat. Saat Naruto menanyakan tempat tersebut, Menma hanya tersenyum tanpa berniat menjelaskannya sedikitpun. Naruto hanya mengangguk menyetujui hal tersebut dikarenakan waktu yang akhir-akhir ini sedikit kacau sehingga membuatnya jarang untuk bersenang-senang. Sudah seminggu semenjak Naruto keluar dari rumah sakit dan seminggu itu pula Naruto tidak dapat menginjakkan kakinya ke dalam ruang musik tersebut. Hal tersebut membuat Naruto gelisah dan sangat merindukan sosok berambut merah tersebut.
Dan selama seminggu penuh ini pula Naruto merasakan kesegaran pada tubuhnya tanpa hal-hal aneh yang membuatnya merasa sakit. Naruto merasa senang dan sedih pada saat yang bersamaan. Sedih karena dia tidak bisa menemani Gaara. Naruto bersih keras untuk masuk kuliah namun Kyuubi selalu memarahinya dan memintanya untuk beristirahat penuh selama seminggu di rumah. Naruto tak merasa keberatan karena ini adalah hari terakhirnya untuk beristirahat dan besok dia sudah bisa kembali kuliah … dan bertemu Gaara. Senyuman tipis tertera di wajahnya saat mengingat Gaara. Naruto sudah tidak sabar untuk menemuinya.
Naruto tersentak kaget saat Menma menarik tangannya dengan pelan. Matanya terkejut saat melihat ke sekelilingnya. "Menma, ini kita sudah sampai?" Menma menganggukkan kepalanya. Naruto mengernyitkan keningnya bingung dan menolak untuk mengikuti Menma. Sepertinya Naruto berkutat dengan pikirannya cukup lama sampai-sampai dia tidak sadar jika mereka sudah sampai dan Menma sudah memarkirkan mobil yang mereka gunakan. Entah kenapa dalam hati Naruto tidak dapat menerima apa yang ada di hadapannya sekarang. Seakan-akan otaknya menyuruhnya untuk bergegas dari tempat tersebut namun hatinya berkata lain, menyuruhnya untuk menetap dan mengikuti Menma. "Menma bisa kau jelaskan denganku apa maksudmu membawaku ke sini?"
"Naru-nii, kumohon. Menma juga tidak mau datang ke tempat seperti ini. Akan tetapi Menma memiliki janji dengan seseorang dan Menma harus membawa Naru-nii ke sini."
Naruto menatap Menma dengan lekat mencoba mencari kejanggalan ataupun kebohongan yang ada dalam kedua bola mata itu. Naruto mengeraskan rahangnya saat Menma balik menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan keyakinan.
Kyuubi memangku dagunya menggunakan tangan kirinya sembari menatap Sasuke dengan kesal. Matanya mendelik kesal saat Sasuke mencoba membuat gambar di atas kopinya dengan tuangan krim. "Hei, hei! Kau akan merusak gambarnya jika seperti itu!"
'twitch'
Dahi Sasuke berkedut kesal saat ucapan Kyuubi menginterupsi konsentrasi penuhnya. "Hei kau rubah berisik, kau tahu aku satu level di atasmu jika urusan seperti ini," ucap Sasuke dengan seringaian lebar saat Kyuubi hanya memanyunkan bibirnya—kesal dengan ungkapan Sasuke yang sangat benar sekali. Dari kecil Sasuke memang menyukai kopi dengan hiasan di atasnya. Kyuubi membuat café ini pun karena terinspirasi oleh kebiasaan Sasuke yang membuatkan kopi untuk Naruto ketika dia sedang berkunjung ke rumahnya.
Kyuubi cukup heran dengan kemampuan Sasuke yang dapat membedakan aroma kopi dengan sangat baik. Kyuubi mengangkat sebelah alisnya bingung saat Sasuke menyodorkan cangkir kopi tersebut ke arah Kyuubi. "Untukku?" tanyanya dan Sasuke memutar kedua bola matanya dengan bosan. "Kau kerasukan?" Sasuke hanya mengangkat bahunya tak peduli sembari meninggalkan Kyuubi begitu saja.
Kyuubi tersenyum saat melihat gambar rubah berekor sembilan terukir dengan cantik di atas kopi tersebut. Dalam hati dia berat meminum kopi tersebut karena akan merusak gambarnya. Kyuubi tidak akan mau mengakui jika hiasan tersebut dibuat dengan sangat baik. Kyuubi menyesap kopi tersebut dan tersenyum tipis saat merasakan manis pada lidahnya. Biasanya Sasuke selalu membuat kopi yang sedikit pahit. "Pantat ayam, kau tidak mau mengambil kerja paruh waktu di sini?"
"Tidak," jawab Sasuke singkat sembari merapikan gelas-gelas yang ada di café Kyuubi.
"Kenapa?" tanya Kyuubi heran sembari kembali sesekali menyesap secangkir kopi yang ada di hadapannya.
"Karena aku tidak mau pendapatanmu meningkat drastis," jawab Sasuke seenaknya sembari melemparkan celemek yang di tadi dikenakannya di atas meja Kyuubi. Tidak lupa Sasuke menatap mengejek ke arah Kyuubi dan melambaikan tangannya dengan setengah hati.
Muka Kyuubi memerah karena marah akibat perkataan Sasuke barusan. "Ka-kau! Dasar Ayam!" teriaknya saat Sasuke sudah keluar dari dapur café tersebut.
Aku memejamkan kedua mataku, mencoba menetralisir perasaan kacauku. Saat ini aku sedang berdiri di depan sebuah gerbang yang menuju sebuah pemakaman besar. Menma yang mengajakku ke sini dengan alasan ingin menepati janji dengan seseorang. Dengan perlahan aku mengikuti Menma menuju sebuah kuburan dengan batu nisan yang cukup besar namun sama sekali tidak terawat. Dari tampilannya, kuburan itu sudah sangat lama. Aku tidak dapat melihat nama dari pemilik batu nisan tersebut karena terlindung oleh tanaman yang tumbuh di dekatnya. Aku melihat Menma menundukkan dirinya dan mencoba membersihkan batu nisan tersebut dengan tangan kanannya.
Setelah beberapa saat Menma membersihkannya, kini aku dapat melihat dengan jelas nama yang tertera di batu nisan tersebut. Kedua matanya memicing tajam. Mencoba menajamkan penglihatanku. Di sana tertera nama seseorang yang sangat aku kenal. Mataku membulat sempurna.
Sabaku no Gaara
Tanpa sadar aku memegang dada bagian kiriku dengan tangan kananku. Tiba-tiba suasana di sekitarku terasa sangat dingin dan menyesakkan sehingga sulit bagiku untuk bernapas dengan benar. Aku dapat merasakan tangan Menma pada bahu kiriku—mencoba menenangkanku. Aku mencoba menutup kedua mataku dan membukanya dengan perlahan. Tak ada perubahan. Nama itu masih sama dengan nama yang pertama kali menyapa mataku.
Sabaku no Gaara
"Men-Menma?"
"Sabaku no Gaara adalah putra bungsu dari keluarga Sabaku. Yang juga merupakan salah satu korban pada pembantain tersebut."
Napasku tercekat. Aku tidak ingin mempercayai perkataan Menma. Namun apa yang kulihat di hadapanku bukanlah sebuah mimpi. Dadaku semakin sakit dan rasa menusuk pada kepalaku sama sekali tak membantuku untuk tenang.
"Sabaku no Gaara seorang bocah kecil yang masih mencoba untuk bersenang-senang, seorang bocah tanpa dosa yang mati karena keegoisan orang-orang yang haus akan kekuasaan. Menurut berita yang ada tubuhnya tak dapat ditemukan dimana pun. Namun kuburan ini dibuat untuk mengenangnya. Untuk mengenang sosok seorang Sabaku no Gaara. Dan kautahu Naru-nii, kediaman mereka diluluh lantakkan dan dibangunlah sebuah gedung baru. Gedung tempat Naru-nii menimba ilmu setiap harinya. Itu adalah rumah Gaara."
Seketika itu suara Menma terdengar bercampur dengan suara Gaara. Aku memejamkan kedua mataku dengan erat. Mencoba menerima semua informasi tersebut. Otakku sulit untuk menerimanya namun aku tahu jauh di lubuk hatiku semua itu adalah benar. Aku mengerti semua keanehan yang terjadi padaku semenjak aku bertemu dengan Gaara. Namun otakku menolaknya dengan sangat keras. Memohon bahwa semua itu hanyalah hayalanku. Bahwa Gaara adalah nyata. Gaara masih hidup. Namun aku tahu itu semua tidak mungkin.
Tanpa kusadari air mataku kini mengalir dengan sangat deras. Aku terduduk di depan batu nisan tersebut. Hati ini ingin berteriak. Melepas semua rasa sakit yang selama ini selalu tak kuindahkan. Namun aku hanya menangis dalam diam. Bibirku bergetar tak karuan. Aku berusaha membuka mataku dan menatap kembali batu nisan tersebut dan aku dapat menyadari foto Gaara kecil terpampang jelas di atas namanya. Aku dapat melihat sosok Gaara kecil sedang tersenyum dalam foto tersebut.
"Ti-tidak mungkin. Ini semua mimpi! Gaara kumohon katakan bahwa kau nyata! Kau hidup! Gaara, kumohon!"
Aku tersentak kaget saat merasakan ada kehadiran di hadapanku. Sosok itu tampak berlutut di hadapanku yang sedang terduduk tak bertenaga. Aku menengadahkan kepalaku untuk melihat sosok tersebut. Aku tersenyum miris saat mengenali sosok tersebut. "Gaara," lirihku sebelum akhirnya sepasang tangan hangat itu membawaku ke dalam pelukannya. Aku berteriak, menangis dengan keras. Melepaskan semua rasa sakit yang kupendam dalam hatiku.
"Kumohon maafkan aku karena pernah berpikir untuk mengambil lembar kehidupanmu, Naruto. Terima kasih kau sudah mau menemaniku selama ini. Kini aku bisa dengan tenang meninggalkan dunia ini. Kini aku tidak perlu lagi menunggu dalam ruangan itu. Menunggu seseorang yang mau menjadi temanku. Karena, aku sudah memiliki dirimu. Kumohon maafkan aku. Karena aku sangat mencintaimu, Naru."
Gaara tersenyum ke arahku dan melepaskan pelukannya. Dengan perlahan dia mengangkat wajahku dan menyejajarkan wajahku dengan wajahnya. Yang kurasakan selanjutnya hanyalah bibir manis milik Gaara menyatu dengan bibirku. Aku memejamkan mataku, merasakan kehangatan yang merasuk ke dalam tubuhku. Kelegaan merasuk dalam tubuhku saat kurasakan Gaara menyunggingkan sebuah senyuman pada saat dia menciumku. "Kau tidak perlu meminta maaf. Karena, aku juga mencintaimu, Gaara," lirihku saat bibir kami terpisah.
Aku dapat melihat Gaara tersenyum sembari menitikkan air matanya. Dia kembali memelukku dengan erat. Aku dapat merasakan Gaara mengangguk dalam pelukanku. Akupun memejamkan mataku. Mencoba menyerap semua kehangatan tubuhnya
Saat aku membuka kedua mataku, kehangatan itu masih membekas. Namun, aku tak dapat melihat Gaara. Tubuhnya menghilang dalam pelukanku. Aku tersenyum lebar dan menatap batu nisannya dengan lekat. "Jangan kaget jika aku akan menjadikan tempat ini menjadi rumah keduaku, oke?"
"Um, Menma? Bisa kita kembali ke kampusku dulu sebelum pulang ke rumah?" Menma menganggukkan kepalanya dengan pelan dan tersenyum ke arahku. Kemudian aku menarik tangannya untuk meninggalkan tempat tersebut. Saat kami sudah melangkah, Menma berhenti dan membalikkan tubuhnya. Menma tersenyum dengan lebar. Senyuman yang sangat jarang diperlihatkannya.
"Terima kasih telah menepati janjimu, Gaara-nii."
"Kami pulang!" teriak Naruto saat memasuki rumahnya. Sasuke yang sedang sibuk meledek Kyuubi mengalihkan pandangannya ke arah Naruto. Entah kenapa, Sasuke merasa bahwa yang sedang berdiri di ambang pintu adalah Naruto yang sudah lama hilang kini kembali. "Teme! Berhenti menggoda Kyuu-nii!" teriak Naruto yang mendapat dengusan dari Sasuke.
"Darimana kalian?" tanya Itachi sembari mendudukkan dirinya di sebelah Kyuubi. "Untunglah kau datang, Naru. Aku sudah bosan mendengar mereka berdua saling meledek. Tidak sadar dengan umur yang sudah hampir seperempat abad," ucap Itachi yang mendapat tatapan tajam baik dari Kyuubi maupun Sasuke.
"Kami dari tempat kesukaan Naru-nii yang baru," Menma memutuskan untuk menjawab pertanyaan Itachi.
"Tempat kesukaan apa?" tanya Sasuke dan Kyuubi berbarengan sehingga membuat pemilik suara saling tatap tidak suka.
"Hahaha, bukan apa-apa. Hanya tepat yang begitu menyenangkan dan … hangat." Naruto tersenyum tipis saat mengakhiri kalimatnya.
Melihat Naruto tersenyum tulus untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ini membuat keempat orang yang ada di dalam ruangan tersebut merasakan kelegaan dalam hati mereka. "Naruto sudah kembali," batin mereka bersamaan.
"Temeee~~ ayo buatkan aku kopi! Aku merindukan kopi berisi cintamu," ucap Naruto yang ditanggapi Sasuke dengan tatapan bosan. Namun tak membuat Sasuke diam saja. Sasuke beranjak dari tempat duduknya menuju dapur. "Yay!" teriak Naruto.
"Aku juga pantat ayam!" teriak Kyuubi tidak sopan.
"Panggil aku seperti itu lagi aku akan mengundurkan diri dari cafemu!" teriak Sasuke dari arah dapur.
"Cih! Beraninya main ancam."
Naruto mengedipkan matanya berkali-kali. "Huh?" ucapnya tidak mengerti. "Teme bekerja di café kyuubi?" Kyuubi mengangguk. "Se-sebagai pegawai tetap?" Lagi-lagi Kyuubi mengangguk. "Heeee! Kenapa kau mengangkatnya sebagai pegawai tetap tapi tidak pernah memintaku, Kyuu?!"
"Karena si pantat ayam itu akan menghasilkan uang lebih banyak darimu."
"Hei!" protes Sasuke dari arah dapur membuat Naruto menggembungkan pipinya kesal.
Menma dan Itachi yang melihat adegan tersebut hanya tertawa kecil. Senang akhirnya dapat merasakan kehangatan itu kembali.
BERSAMBUNG
