Chapter 4 Update!

Akhirnya bisa update! ^_^

Amber ucapkan terimakasih banyak yang udah review chapter sebelumnya.

Okeh langsung aja…

Chapter sebelumnya :

"Sudah kuduga kau ada disini." Ulquiorra tersenyum tipis, lalu duduk disamping Orihime yang terlelap. "Aku akan menunggumu sampai kau bangun." ujarnya. Lalu Ulquiorra menyandarkan kepala Orihime ke bahunnya.

DISCLAIMER : Kubo Tite

WARNING : AU, OOC, gaje, typo bertebaran, abal

GENRE : Drama/Romance

RATED : T

PAIRING : UlquiHime

AUTHOR : Amber Queen

A Miracle

Chapter 4

Aizen Corp. …

Seorang pria berambut perak yang kita ketahui bernama Gin Ichimaru, sedang berjalan menuju sebuah ruangan. Sesampainya di depan ruangan yang dia tuju dia langsung mengetuk pintu.

Tok Tok Tok

"Aizen-sama, ini aku Gin. Aku membawa hasil laporan Ulquiorra."

"Masuk" Terdengar balasan dari balik pintu itu. Gin membuka pintu lalu masuk kedalam ruangan itu. Ya, ruangan itu adalah ruangan milik atasannya sekaligus pemimpin Aizen corp. Sousuke Aizen. Gin melangkah menuju Aizen yang sedang sibuk menandatangani dokumen-dokumen.

"Tumben sekali Ulquiorra memerintahkanmu mengantar dokumennya." ujar Aizen di sela-sela pekerjaannya.

Gin menaruh pekerjaan Ulquiorra di meja Aizen lalu melangkah kearah jendela yang terletak di sudut ruangan.

"Dia sedang keluar."

Aizen mrnghentikan pekerjaannya lalu menatap Gin yang sedang melihat keluar dari jendela. "Keluar?" Aizen bingung dengan ucapan Gin. "Ada apa? Sebelumnya Ulquiorra tidak pernah keluar pada saat jam kerja." Tambahnya.

Gin menengok kearah Aizen. "Ya, sepertinya ada yang menarik perhatian Ulquiorra." Gin semakin mengembangkan senyumnya. Aizen mengerti maksud Gin, ikut tersenyum lalu mengambil sebuah cangkir yang berisi kopi.

"Hn, semoga kali ini dia tidak gagal lagi." ujar Aizen sambil meminum kopinya.

"Akupun berharap begitu." tambah Gin.


"Nggh…" Orihime terbangun dari tidurnya. Dia mulai membuka matanya dan melihat keselilingnya. "Ini dikamar."

"Kau sudah bangun, Inoue?" tanya seseorang di sebelah Orihime. Orihime menoleh kearah sumber suara dan mendapati dokter Ichigo berdiri disebelahnya.

"Kenapa aku bisa dikamar? Bukannya tadi aku berada di taman?"

"Tadi ada seseorang yang membawamu kemari."

"Siapa?"

"Sayangnya aku lupa menanyakan namanya." tiba-tiba Karin datang, lalu menghampiri Orihime. "Dia yang menemukanmu sedang tertidur ditaman." tambahnya.

Orihime tampak sedang berpikir, siapa orang yang membawanya kemari? 'Apa dia laki-laki? Ya, pasti laki-laki, tidak mungkin perempuan kan? Aah! Orihime, apa yang sedang kau pikirkan sih! O ya! Tadi Karin bilang dia tidak sempat menanyakan nama orang yang menolongku itu. Aku tanyakan saja pada Karin dia laki-laki atau perempuan.' Orihime masih sibuk dengan pikirannya sendiri, bahkan dia tidak mempedulikan dua kakak beradik yang sedang menatapnya bingung.

"Inoue?" Ichigo mencoba memanggil Orihime namun Orihime tidak menggubrisnya.

"Inoue" Panggil Ichigo sekali lagi, tapi tetap tida ada respon. Karin mendekat kearah Orihime. Karin menarik nafas lalu…

"ORIHIME!" teriak Karin tepat di telinga Orihime.

Ngiiiing… getaran suara Karin mencapai otak Orihime. Orihime tersadar dari lamunannya lalu menutup sepasang telinganya dengan kedua tangannya.

"Jangan teriak tepat di telingaku, Karin."

"Salahmu sendiri, melamun. Hilangkan kebiasaan burukmu itu." ujar Karin dengan volume suara yang lumayan keras. Orihime hanya mengerucutkan bibirnya, sebal karena tidak bisa membalas Karin. Yah, memang melamun adalah kebiasaan buruknya. Sedangkan Ichigo tersenyum maklum karena hal seperti ini sudah biasa baginya.

"O ya!" Karin merogoh sakunya, mengeluarkan sesuatu lalu memberikannya kepada Orihime. Orihime sedikit terkejut karena benda yang diberikan Karin adalah salah satu jepit rambutnya yang hilang.

"Di mana kau menemukannya?" tanya Orihime.

"Orang yang membawamu kemari yang memberikannya padaku. Aneh, kenapa jepit rambutmu bisa ada padanya?" Karin memasang tangan didagunya, sedang berpikir. "Jangan-jangan…"

"Jangan-jangan apa? Jangan menilai orang lain begitu." belum sempat Karin menyelesaikan kalimatanya Orihime sudah memotongnya. Dan terjadilah adu mulut antara Orihime vs Karin. Ichigo hanya menghela nafas, lalu melerai adu mulut tersebut. Karena jika dibiarkan tidak akan selesai sebelum ada yang mengalah.

Dan akhirnya Ichigo berhasil menghentikan mereka berdua. Tapi Karin memutuskan keluar dari kamar Orihime. Sekarang dikamar Orihime hanya ada dia dan Ichigo.

"Emm… ano… Kurosaki-san apa kau tahu siapa yang membawaku kemari?" tanya Orihime sambil memasangkan kembali jepit rambutnya.

"Aku tadi sempat bertemu dengannya sebentar. Dia seorang laki-laki."

"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Orihime penasaran.

Lalu Ichigo menjelaskan ciri-ciri orang tersebut. Berambut hitam dan lebih pendek dari Ichigo. Orihime sama sekali tidak bisa membayangkan orang itu karena penjelasan Ichigo masih belum jelas baginya. Dan sore itu berakhir dengan Orihime yang tertidur kembali setelah mengobrol cukup lama dengan Ichigo.


Keesokan harinya Orihime menjalankan aktivitas seperti biasanya. Baginya tinggal di rumah sakit benar-benar membosankan, aktivitas sehari-harinya terlalu monoton dan lagi di rumah sakit ini teman Orihime hanya tiga bersaudara Kurosaki saja.

Saat ini Orihime sedang makan siang di temani Karin dan Yuzu. Orihime sedang menyantap makan siangnya. Sedangkan Karin membaca buku dan Yuzu sedang mengganti bunga yang ada di vas dengan bunga yang baru. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Aku sudah selesai." ucap Orihime sambil menaruh piring yang sudah kosong di meja kecil yang ada disebelah kasurnya.

"Wah makananmu habis, tumben sekali." ujar Yuzu sambil tersenyum kearah Orihime.

Orihime membalas senyum Yuzu lalu turun dari kasurnya menghampiri Karin. Orihime duduk di sebelah Karin. Karin sama sekali tidak bergeming, dia tetap konsentrasi membaca bukunya.

"Karin" Orihime mencoba memanggil Karin dan kali ini Karin merespon.

"Ada apa?"

"Ini soal kemarin, tentang orang yang menemukan jepit rambutku sekaligus membawaku kemari."

Karin melihat mata Orihime memancarkan seseriusan. "Hn, baiklah aku akan menceritakannya." ucap Karin sambil menutup bukunya.

"Aku juga mau dengar, jarang-jarang Karin mau bercerita." ujar Yuzu tertawa geli lalu ikut duduk di sebelah Orihime.

"Dengarkan baik-baik."

Flash Back

Sudah hampir 2 jam Ulquiorra tetap dengan posisinya. Gadis disebelahnya belum bangun juga. Ulquiorra melirik gadis disebelahnya yang sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat damai. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Ulquiorra.

"Orihime!" muncul seorang perawat berambut hitam, Karin muncul dari balik pohon. Karin terkejut melihat seorang pemuda dan… Orihime yang sedang memejamkan matanya disebelahnya. Seketika itu juga Karin mulai berpikir macam-macam.

"Siapa kau? Kau apakan Orihime?" tanya Karin sambil bercakak pinggang.

'Jadi, nama gadis ini Orihime.' ucap Ulquiorra dalam hati.

"Hey! Aku bertanya kepadamu!" Karin terlihat kesal.

"Hn, aku tidak sengaja menemukan gadis ini disini. O ya, apakah dia pasien disini?"

"Ya, dia memang pasien disini. Memangnya kenapa?" nada bicara Karin masih terdengar keras.

"Lebih baik, tunjukan aku dimana letak kamarnya." Ulquiorra mulai berdiri lalu menggendong Orihime. Karin yang bingung harus berbuat apa hanya pasrah lalu menunjukan kamar Orihime. Sesampainya di kamar Orihime, Ulquiorra membaringkan tubuh Orihime dengan hati-hati, lalu melihat sejenak wajah Orihime yang sedang tidur setelah itu keluar dari kamar Orihime. Di depan kamar Orihime, Karin menunggu Ulquiorra.

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa kau?" tanya Karin lagi.

"Aku rasa itu tidak penting." jawab Ulquiorra dingin.

Karin mulai mendidih, emosi yang dia tahan sejak tadi sudah tidak dapat dibendung lagi. Namun sebelum Karin meluapkan emosinya Ulquiorra memotong terlebih dahulu.

"Jika gadis itu sudah bangun berikan ini kepadanya." Ulquiorra memberikan sebuah jepit rambut. Karin terkejut, lalu menerima jepit rambut itu. Karin semakin penasaran dengan pemuda tanpa ekspresi di hadapannya.

'Bagaimana aku menjelaskannya kepada Orihime?' ucap Karin dalam hati.

"Jika dia menanyakanku, beritahu saja cirri-ciriku." ujar Ulquiorra seakan menjawab pertanyaan Karin. Lalu Ulquiorra pergi meninggalkan Karin yang masih mematung.

End Flash Back

"Begitulah" ucap Karin sambil menyandarkan punggungnya. "Aku lelah." tambahnya.

"Baru bercerita segitu saja sudah lelah. Karin payah." Yuzu menjulurkan lidahnya.

"Aku sedang lelah, jadi maaf aku tidak berniat membalasmu."

"Lalu ciri-ciri orang itu seperti apa?" Tanya Orihime.

"Kau tidak dengar ya? Aku lelah!" nada bicara Karin naik satu oktav.

"Ayolah Karin, beritahu aku… please…" Orihime mengeluarkan puppy eyes mautnya.

"Haah, ya baiklah…" Karin akhirnya menyerah. "Ciri-ciri orang itu, berambut hitam, kulitnya pucat bahkan mungkin melebihi mayat, lalu… matanya berwarna hijau."

"Matanya berwarna hijau… oh! Apa mungkin…"

"Ada apa Orihime?" tanya Karin melihat gelagat aneh Orihime.

"Ah! Tidak, hehehe…" Orihime cengengesan tidak jelas.

"Orihime, keruanganku yuk! Aku punya game baru di komputerku." ajak Yuzu.

"Ayo! Aku mau lihat." Orihime dan Yuzu bangkit dari duduknya lalu beranjak keluar. Tetapi sebelum itu Yuzu berkata kepada Karin yang masih duduk di sofa.

"Apa kau tidak mau ikut?"

Sepertinya dari kemarin Karin terus-terusan mengalah. Dia hanya menghela nafas lalu bangkit dari duduknya, dan berjalan mengikuti dua orang gadis didepannya yang sudah keluar duluan.

Dalam perjalanan, Yuzu dan Orihime mengobrol tiada henti, sedangkan Karin sepertinya dicuekin. Kini mereka melewati kamar khusus anak-anak. Di depan kamar itu ada sebuah taman kecil yang memang dikhususkan untuk anak-anak. Orihime melirik sedikit kearah taman itu. Di taman itu terdapat beberapa anak-anak yang sedang bermain dengan riang. Orihime tersenyum tipis. Namun tiba-tiba senyumnya menghilang ketika Orihime melihat seorang anak kecil berambut pink yang duduk di pinggir taman menatap taman dengan pandangan kosong. Entah mengapa Orihime merasakan sesuatu dari anak kecil itu, seperti ada sesuatu yang sama dengannya dari anak kecil itu. Orihime berhenti berjalan, dan itu membuat Yuzu heran.

"Ada apa Orihime?" Pertanyaan Yuzu tidak digubris oleh Orihime. Justru Orihime malah berjalan menuju anak kecil itu.

"Hey! Orihime!"

Setelah cukup dekat dengan anak itu, Orihime berhenti. Dia memperhatikan anak kecil anak kecil itu sama pucatnya dengan dirinya, dan ditangannya masih tertancap selang infus. Tapi sepertinya anak itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Orihime.

"Anak kecil ini…"

"Yachiru"

Orihime berbalik, dia melihat seorang pemuda mendekati Orihime dan anak kecil itu. Pemuda itu juga berambut pink hanya saja berkacamata.

"Kenapa kau disini?" tanya pemuda itu seraya memegang bahu anak kecil yang bernama Yachiru itu. "Kau siapa?" tanya pemuda itu ketika melihat Orihime.

"Orihime, kau kenapa?" Yuzu dan Karin datang menghampiri Orihime.

Yachiru baru menyadari kalau ada banyak orang disekitarnya. Pandangannya beralih kea rah Orihime dan yang lainnya. Orihime sedikit kaget ketika melihat mata Yachiru. 'Pandangannya kosong' batin Orihime. Yuzu yang merasa gelagat aneh Orihime, segera menyeret Orihime dari tempat itu. Pemuda berambut pink tadi sedikit cengo tapi kemudian beralih lagi Yachiru.

"Yachiru, kau harus banyak istirahat." ucap pemuda itu lembut sambil mengelus kepala Yachiru.

"Szayel-nii…" Yachiru mulai bersuara. "Aku ingin bermain." ucap Yachiru menatap pemuda berkacamata bernama Szayel.

Szayel hanya tersenyum. Dia mengerti perasaan adiknya ini. Usia adiknya yang masih sangat muda ini, dimana seharusnya ia bermain dengan teman-temannya tapi malah harus menghabiskan waktunya di rumah sakit. Memang ada Szayel yang menemaninya tapi tetap saja Yachiru membutuhkan teman yang lain yang sebaya dengannya.

"Yachiru, istirahatlah." Szayel masih berusaha membujuk Yachiru. Namun Yachiru tidak mau beranjak dari situ. Yachiru berkata kalau dia masih ingin disitu dan itu membuat Szayel menjadi bertambah khawatir.

"Baiklah, aku akan menemanimu disini." Szayel ikut duduk disebelah Yachiru.

Keheningan tercipta diantara mereka. Yachiru masih meneruskan kegiatannya yaitu melihat kearah taman sedangkan Szayel sibuk dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba sebuah tangan menyetuh pudak Szayel, mengagetkannya.

"Jangan melamun." ujar orang itu datar lalu ikut duduk disebelah Szayel.

Szayel membetulkan letak kacamatanya. "Ada apa? Tumben kau kemari, Ulquiorra."

"Aizen-sama menyuruhku memberikan ini padamu." Ulquiorra memberikan sbuah amplop kepada Szayel.

Szayel mengerutkan keningnya. "Apa ini?"

"Buka saja." jawab Ulquiorra datar.

"Ulquiorra, bisakah kau menjaga Yachiru sebentar? Aki ingin membuka amplop ini di tempat lain."

Ulquiorra hanya menganggukan kepalanya pertanda jawaban, ya. Lalu Szayel pergi dari tempat itu. Tidak lama setelah Szayel pergi Orihime datang menghampiri Yachiru dan Ulquiorra. Orihime sedikit kaget karena orang yang ada disebelah Yachiru berbeda. Seharusnya yang tadi menemani Yachiru adalah lelaki berambut pink bukan hitam (A/N : Yachiru dan Ulquiorra duduk menghadap taman sedangkan Orihime datang dari arah belakang, jadi mereka berdua tidak tahu kedatangan Orihime). Tidak membutuhkan waktu yang lama Orihime sudah berada tepat dibelakang Yachiru. Orihime hampir menyentuh bahu Yachiru tapi tidak jadi karena lelaki berambut hitam itu lebih dulu menyadari kedatangan Orihime.

"Kau…" mata Orihime membulat ketika melihat lelaki dihadapannya.

"Kita bertemu lagi, Onna!"

To be Continue…


Nyahahaha… *crazy mode : on* XP

Chapter 4 selesai.

Amber jadiin Szayel kakaknya Yachiru hehe…

O ya! Nama rumah sakitnya 'Karakura Hospital' *Reader : ga ada yang Tanya*

Dan… karena mata Amber sedikit bermasalah dan juga sebentar lagi UTS, Amber akan menghilang selama 2-3 minggu. Jadi maaf kalau chapie depan agak telat update nya.

Quitis : Jyaaah, dia malah curhat.

Amber : Sejak kapan kau disini?

Quitis : Sejak tadi.

Amber : O ya! Perkenalkan, dia Quitis. OC buatan Amber. ^_^

Quitis : Udah belom basa-basinya?

Amber : *Melayangkan deathglare ke Quitis* Quitis, balas review Relya-san!

Quitis : Iya… iya… *pasrah* Maafkan atas B2GJ Amber diatas.

Amber : Apaan tuh B2GJ?

Quitis : Basa-basi Ga Jelas.

Amber : *sweatdrop*

Quitis : Okeh! Ini balesan review buat Relya-san. *cuekin Amber*

Relya Schiffer : ckckck… Ulqui ga mungkin berani 'nyerang' Hime. Ini udah update, semoga ga mengecewakan. ^_^

Sebentar lagi kan Idul Fitri, berhubung Amber muslim. Amber mau ngucapin Minal aidin walfaizin maaf lahir batin. Amber minta maaf kalo ada kata-kata Amber yang kurang berkenan dihati.

*Bocoran : chapie 5 full UlquiHime*

Amber & Quitis : Mind to review? ^_^