Title : A Distant Cry

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Summary : Hal yang Sasuke inginkan hanyalah untuk bersama Neji, akan tetapi jika ia harus melawan masa lalu dan sisi gelapnya sendiri untuk mendapatkan Neji, mungkin pada akhirnya Sasuke akan mengerti bahwa pada akhirnya dia malah membuat mereka berdua menderita. Saduran dari fiction berjudul sama oleh Yersi Fanel. SasuNeji, ItaNeji.

Warning's : NC-17, Yaoi, Rape, OOC, Dark themes, Abuse, Angst.

.

.

.

Chapter 4

.

.

Hinata berlari tanpa suara sepanjang lorong kediaman Hyuuga. Ia mencoba untuk tidak membangunkan siapapun. Ketika sudah sampai di depan pintu gerbang Hinata membuka kunci gerbang dan seperti yang sudah ia kira Neji membuka secara perlahan pintu itu. Gadis Hyuuga itu meraih pelan jemari Neji menuntunnya menuju kamarnya. "Arigatou." Bisik pemuda itu yang berjalan di belakang sepupunya.

Saat itu sudah tengah malam, seluruh orang sudah tertidur. Neji telah menggunakan trik lama diantara dirinya dan Hinata untuk memberitahu Hinata jika ia memerlukan sang pewaris keluarga Hyuuga itu membukakan pintu gerbang untuknya. Cara yang sederhana Neji hanya akan menulis sebuah pesan pada secarik kertas dan memasukkan sedikit cakra kedalamnya kemudian dia akan menggunakan seekor burung yang hanya mematuhinya dan mengirimkan pesan tersebut ke Hinata. Gadis itu akan menyadari cakra milik kakak sepupunya dan segera membaca pesan tersebut

Ketika mereka berdua telah tiba si kamar Neji, Hinata memandangi sepupunya itu ia menunggu sebuah penjelasan dan kali ini ia tidak akan pergi begitu saja.

"Niisan?" Raut wajah Hinata penuh akan kekhawatiran. Ia merasa seolah-olah Neji tidak berada di hadapannya.

"Aku lelah Hinata, kumohon." Hinata tidak senang dengan jawaban dari kakak sepupunya itu, tetapi Neji memang terlihat sangat lelah karena itu gadis muda itu hanya menganggukkan kepalanya. Ia berdiam diri memandangi Neji yang sudah mengganti pakaiannya dengan sebuah yukata lalu ia menyelimuti Neji dengan selimut tambahan.

Neji memberikan senyum tipis padanya dan langsung jatuh tertidur. Hinata melangkah keluar dari kamar Neji dan sebelum menutup pintu itu ia memperhatikan sepupunya yang telah terlelap.

"Aku hanya ingin membantumu Nii san…" Hinata menghela nafasnya.

.

.

Sasuke sedang memandangi langit-langit kamarnya, ia masih dapat merasakan wangi dari tubuh Neji pada futonnya, ia tahu bahwa wangi itu akan menghilang tapi bukankah ia bisa setiap saat membawa kembali ninja berambut panjang indah itu kembali ke atas futonnya?

Sasuke bangkit dari futonnya dan menuju kamar mandi, masih terasa nyata apa yang ia lakukan terhadap Neji semalam, ia merasa sangat senang dan puas. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya ia kembali menuju mejanya dan membuka laci ia mengambil jurnal kakaknya itu dan melanjutkan membacanya.

"Ambisi bodoh ayah semakin membuatku frustasi, dia bahkan tidak dapat berpura-pura untuk peduli akan pendapatku. Kesabaranku mulai semakin berkurang setiap kali aku melihatnya. Aku bersumpah jika bukan karena keberadaan Sasuke yang menyelaku saat itu aku bisa saja menunjukkan ketidakpuasanku ini terhadap klan Uchiha.

Sasuke memang membuatku bertahan akan rasa frustasiku ini, tetapi sumber utama yang menjadi pengalihanku terhadap urusan klan adalah makhluk menawan itu. Setiap kali bertemu dengannya anak itu selalu mencoba untuk berbicara denganku. Ia bersikap sopan dan formal denganku, lucu sekali melihatnya. Setelah beberapa lama mencoba berkomunikasi ia akan hanya berdiam diri menemaniku, dia akan membiarkanku menggambarnya sedangkan dirinya melatih kekkei genkai miliknya.

Anak itu memiliki potensi untuk menjadi shinobi yang kuat tetapi tidak seperti adikku, tidak peduli sekuat apapun anak itu nanti, dia sangat rapuh. Aku dapat membaca matanya itu bahkan jika kedua bola matanya tampak tidak berekspresi seperti mata yang normal lainnya, seperti melihat ke arah sepasang cermin.

Akan tetapi sepasang cermin itu dengan mudah dapat aku hancurkan, dan oleh sebab itu aku dapat membuat dirinya merasakan apapun yang kumau."

Sasuke melempar jurnal kakaknya itu sembari menggertakkan giginya. Ia ingin sekali dapat membuat Neji merasa seperti yang pernah Itachi lakukan dulu. Ia menghela nafas dengan berat mencoba untuk menenangkan dirinya. Pengguna sharingan terakhir itu berbaring di atas futonnya sembari berpikir.

Tidak masalah apa yang dapat dilakukan oleh Itachi di masa lalu, Neji miliknya sekarang. Jika Itachi dapat memecahkan cermin yang ada pada mata Neji maka ia juga akan melakukan hal yang sama. Sasuke pun bangun dari futonnya dan bersiap untuk latihan.

.

.

Hyuuga Hiashi melemparkan beberapa kunai kepada putrinya dan Hinata menangkis semuanya serta menangkap kunai terakhir ia melempar kembali kunai itu ke ayahnya. Hiashi menangkis serangan anaknya itu dengan kunai yang ia pegang.

"Tidak buruk Hinata, darimana kau belajar trik seperti itu?" Hiashi memandang cukup puas pada putri sulungnya itu, Hinata tampak cukup tersengal-sengal. "Neji niisan." Ujarnya simpel dan kembali memasang kuda-kuda Jyukennya. Hinata ingin menguasai jutsu Hakke Rokujuu Youshou seperti kakak sepupunya itu, ia sangat ingin dengan segera dapat mengusai seluruh jutsu keluarga Hyuuga. Saat ini ia juga telah berlatih keras dengan timnya, ia akan melakukan apapun untuk berhasil dikarenakan fisik tubuhnya yang tidak sekuat rekan satu timnya maka ia merasa perlu untuk menciptakan sebuah jutsu untuk mempertahankan dirinya dari serangan musuh, sebuah jutsu yang special hanya untuk dirinya.

Neji telah membantunya dalam menguasai jutsu dari keluarga Hyuuga, biasanya saat ini mereka akan berlatih bersama akan tetapi pagi itu Neji masih terlelap dan gadis itu tidak ingin mengganggunya, oleh karena itu ia meminta ayahnya untuk berlatih dengannya.

Sang calon penerus keluarga Hyuuga itu telah menampilkan kemajuannya dalam mengendalikan cakra serta rasa kepercayaan dirinya. Akan tetapi dia masih selalu memerah dan malu-malu saat berada di dekat Naruto, setiap kali Neji melihatnya ia hanya menahan geli akan tingkah adik sepupunya itu.

Pemuda bermata lavendar itu bangun dari tidurnya dengan rasa sakit di sekujur badannya, dia hanya duduk diam untuk beberapa saat. Memori akan kejadian semalam membuat ia merasa semakin lemah dan tak berdaya. Sesaat kemudian ia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah itu ia memilih celana hitam, kaos putih serta sebuah rompi bewarna hitam dengan lambang seperti yang ada pada jaket hinata. Selesai ia berpakaian Neji memerhatikan sebuah liontin yang berada disamping futonnya, dia memakai liontin tersebut dan menyembunyikannya dibalik kaosnya itu.

Neji menggenggam erat liontin tersebut sembari mencoba mengingat alasan dibalik rasa takutnya akan sharingan. Anehnya ia dapat merasakan bahwa pengguna sharingan itu bukanlah Sasuke, Sharingan itu lebih sempurna dan bahkan lebih gelap. Sayangnya ia tidak dapat mengingat siapa pemilik Sharingan tersebut karena satu-satunya orang yang pernah ia lihat menggunakan Sharingan hanyalah di mata Sasuke.

"Lalu darimana bayangan ini muncul?" Neji tetap mencoba memikirkan hal itu sembari melilitkan perban pada lengan kanannya, iapun memakai kembali hitai-atenya setelah ia siap dirinya segera meninggalkan kamarnya itu. Hyuuga jenius itu menemukan bahwa sepupunya sedang berlatih dengan pamannya, ketika ia melihat ke arah langit ternyata mentari telah bersinar dengan terik, hampir siang sepertinya ia telah tertidur sepanjang pagi.

"Neji-niisan!" Neji berjalan mendekati Hinata dan ayahnya.

"Hinata sama, maaf atas keterlambatanku ini, selamat siang Hiashi sama." Ujar Neji dengan sedikit membungkukkan badannya. "Tidak masalah Neji niisan, ayo kita makan." Hiashi melihat mereka berdua dengan wajah datar dan berlalu meninggalkan kedua Hyuuga muda tersebut. Melihat ayahnya seperti itu hanya embuat Hinata menghela nafasnya. "Aku sedang ingin makan siang di luar, bagaimana menurutmu Nii san?" "Baiklah, aku setuju denganmu." Ujar Neji pelan. Hinata tersenyum kepadanya lalu mereka berdua meninggalkan kediaman Hyuuga mereka mencari tempat untuk menikmati makan siang. Gadis muda itu melirik ke arah sepupunya untuk kesekian kalinya, karena ia igin memastikan bahawa Neji masih berjalan disampingnya. Raut wajah Hinata penuh akan kekhawatiran, ia mencoba sebisa mungkin untuk tenang untuk Neji.

.

.

Hinata mencoba untuk berbicara dengan Neji tetapi lebih tepatnya ia yang banyak bertanya Neji hanya menjawab sekedarnya. Sayangnya gadis itu tidak akan menyerah untuk tetap bicara ia pikir mungkin saja suaranya mampu membuat perhatian Neji tetap kepadanya, itulah harapan gadis tersebut.

Mereka berada di sebuah tempat makan yang memiki teras diluar, sehingga mereka memilih untuk duduk di meja teras kedai tersebut untuk menikmati mentari dan udara segar ujar Hinata. Gadis itu tetap melanjutkan pembicaraan sementara Neji hanya mengangguk maupun menggelengkan kepala sebagai jawaban. Pemuda tampan itu mengunyah dengan pelan tempuranya.

Gadis berambut indigo itu hanya bisa menghela nafas melihat respon dari sepupunya itu, ia mengambil sayuran di hadapannya dan meletakkannya di piringnya. Mereka berdua pun terdiam, hanya kicauan burung yang terdengar. Hinata tidak terbiasa menjadi orang yang banyak bicara, di timnya sendiri hanya Kiba yang banyak omong dan berisik. Gadis itu memikirkan kata-kata selanjutnya sembari meminum tehnya.

Pada ujung jalanan terdapat Naruto dan Sakura yang tampak membawa banyak kotak dan kantong. Kunoichi berambut merah muda itu sedang menjalani tugas berbelanja dari Tsunade dan Naruto diharuskan untuk menjadi asistennya. Naruto pikir misi seperti ini merupakan misi yang lebih rendah dibandingkan misi tingkat D.

"Aku rasa tidak ada tingkat yang lebih rendah dari tingkat D Naruto." Kunoichi muda itu melihat ke arah daftar belanjaannya memastikan semua barang telah terbeli. "Tapi Sakura chan setelah semua yang telah kita alami, mengapa kita harus kembali melakukan misi tingkat D? Yang bener saja mana terima aku." "Jujur saja, aku rasa Tsunade sama hanya kesal padamu karena terlalu berisik dan menyebalkan, jadinya ia menghukummu dengan cara ini." "Awwww, tidak adil." Ujar Naruto membuat Sakura hanya memutar kedua bola matanya. Saat itu Sakura baru menyadari ada kedua Hyuuga yang sedang duduk di ters kedai depannya. Gadis berambut merah muda itu berlari sembari meneriakkan nama mereka. "Neji-kun, Hinata-chan!"

Hinata mengalihkan pandangannya ke arah suara yang menyebut namanya itu. Ternyata Sakura, dan Naruto tampaknya sedikit kesulitan menyusul dikarenakan banyaknya kantong dan kotak yang ia bawa, sementara Sakura hanya membawa 2 buah kantong sedang. Neji memandang ke arah kedua orang dari tim 7 lewat bahunya.

"Selamat sore Sakura chan, Naruto kun." Hinata tersenyum dan ketika pandangannya melihat Naruto gadis itu memerah malu, Neji yang melihatnya hanya tersenyum kecil jujur saja ia terkadang ingin sekali menendang Naruto karena begitu polos akan perasaan dari sepupunya itu. Naruto menjadi dirinya sendiri yang ceroboh tersandung batu dan terjatuh ke tanah membuat semua barang belanjaannya tercecer, mereka bertiga hanya menghela nafas melihatnya.

"H-hai" Sapa Naruto sembari memungut semua barang yang tercecer itu. Setelah beberapa saat ia berjalan mendekati mereka bertiga. "Hei Neji!" Pemuda Hyuuga itu memberikan tatapan bosan ke Naruto. "Mengapa kau kemarin langsung bertanding dengan Sasuke tanpa pikir panjang tapi ketika aku mengajakmu bertanding kau selalu menolak.?"

Neji menegang saat mendengar nama Sasuke dan ia mengalihkan pandangannya dari Naruto. "Aku sedang tidak berminat untuk bertanding denganmu Naruto, jika kau lupa saat itu aku sedang berlatih dengan Hinata sama." Neji meminum tehnya.

"Dan kau merasa suka ketika bertanding dengan Sasuke teme kemarin?" Naruto memangku tangannya dan memandang marah Neji. "Dia yang menyerangku duluan, Naruto. Aku hanya membela diri." Terang Neji dengan nada yang dingin dan datar.

Naruto mengomel sesuatu tentang Sasuke selalu mendapatkan apapun yang ia mau sembari memungut kotak dan kantong belanjaan dari tanah. Pandangan Neji menjadi sedih untuk beberapa saat.

"Selalu mendapatkan apa yang ia inginkan" Bisik Neji sembari menyentuh dadanya yang terdapat liontin Uchiha di balik pakaiannya itu Ia mengutuk liontin tersebut.

"Neji!" Panggil Naruto lagi, pemuda dengan rambut coklat itu kembali mengarahkan pandangannya ke Naruto. "Ayo bertanding melawanku hari ini." "Maaf Naruto, tapi hari ini aku hendak berlatih dengan Hinata-sama" Jawaban Neji di anggukan oleh Hinata.

"Kalau begitu aku boleh melihat kalian berlatih?" Naruto memberikan mereka berdua tatapan yang paling manis, membuat Neji merasa tidak dapat menolaknya

"Kau hanya ingin kabur dari misi yang diberikan Tsunade Sama bukan?" Ujar Sakura yang mana tidak dihiraukan oleh Naruto. "Ano, jika itu yang Naruto kun mau maka aku rasa tidak masalahkan Nii san?" Hinata memandang Neji. Neji merasa bahwa tidak ada salahnya jadi ia akhirnya memberikan anggukan setuju.

"Yeah!" Naruto melepaskan semua barang belanjaannya dan segera melompat ke samping Neji di teras. Sakura memberikan tatapan tajam ke Naruto atas semua kekacauan yang dibuatnya.

"Oh aku rasa tidak Naruto, kau akan membantuku dulu dengan barang belanjaan ini baru kau akan berlatih dengan mereka." Pandangan ganas Sakura hanya membuat Naruto tertawa pasrah dan menangguk kecil.

.

.

Naruto sedang duduk di bawah pohon melihat Neji dan Hinata berlatih. Saat ia berteriak untuk memberikan dukungan pada Hinata, Neji langsung membuat Naruto bungkam dengan melemparkan jaket Hinata ke arahnya. Ketika Naruto hendak berdebat dengannya ia melemparkan rompinya ke arah Naruto.

"Sejak kapan kau memiliki pakaian selain pakaian biasamu?" Naruto memandangi rompi tersebut. "Aku tentunya mempunyai pakaian lain Naruto." Jawab pemuda bermata lavendar itu sembari memberikan pandangan yang seakan-akan mengatakan bahwa pertanyaan Naruto itu cukup bodoh.

"Kau pasti mempunyai pakaian selain dari pakaian orange jelekmu itu kan?" Ujar Neji dengan nada kalem. "Tentu saja aku punya." Ujar Naruto dengan nada yang membara. "Begitu juga denganku. Kau puas sekarang Naruto? Baguslah kalau begitu. Ayo kita mulai latihannya Hinata sama." Ujar Neji dalam satu nafas membuat Naruto menganga mendengarnya karena baru kali ini ia mendengar Neji berkata panjang lebar padanya. Sedangkan Hinata mencoba menahan tawa karena ia merasa geli mendengar ucapan sepupunya dan Naruto yang membahas tentang pakaian itu.

"H-hai Nii san." Kedua Hyuuga muda itu bergerak pada gerakan yang sama berbeda pada saat pertarungan mereka saat ujian chunnin sekarang Naruto sangat menikmati melihat kedua Hyuuga itu bertanding. Ketika Hinata membutuhkan istirahat Naruto akan mengambil kesempatan untuk melatih dirinya dengan Neji, hal itu akan berlangsung sampai Neji membutuhkan istirahat juga.

Ketika hari semakin sore Hinata telah menyempurnakan Jyuukenhou Hakke Rokujyuu Honshyou miliknya. Neji sangat bangga pada sepupunya itu, ia tahu bahwa Hinata telah berlatih dengan keras untuk menjadi lebih baik. Tidak peduli jika ayahnya sendiri tidak percaya padanya.

Neji sedang menyandarkan dirinya pada sebuah batang pohon besar sementara Naruto yang menemani Hinata berlatih. Sang pewaris Hyuuga itu menunjukkan konsentrasi penuh pada latihannya tidak peduli jika ia sedang melawan orang yang ia taksir. Neji memperhatikan mereka berdua dengan senyum akan tetapi beberapa saat kemudian rasa kantuk yang berat menyerangnya membuat ia memejamkan mata.

Neji duduk di dekat tepi sungai, ia sedang memandangi pantulan dirinya sendiri di air sungai itu. Seharusnya ia sudah menuju rumah sekarang akan tetapi ia sedang tidak ingin pulang cepat. Bocah laki-laki itu melemparkan sebuah batu ke air membuat beberapa ikan yang sedang berenang didalamnya ketakutan.

Peraturan dari klan Hyuuga sangat jelas bahwa tidak peduli selelah apapun dirinya maupun Hinata pulang dari kelas mereka di akademi, mereka harus melanjutkan latihan dengan mentor mereka di kediaman Hyuuga. Sebenarnya Neji tidak begitu mempedulikan hal tersebut, sebab ia lebih banyak mendapatkan latihan ninjutsu di kelasnya dari pada belajar dengan mentornya yang hanya sekedar membaca mengenai sejarah Hyuuga, tata krama, sopan santun dll. Lagipula kebanyakan dari gulungan itu sudah ia dan Hinata baca, tanpa sepengetahuan mentor mereka tentunya.

Semua ini adalah ide dari Hinata, sang calon penerus keluarga Hyuuga itu ingin sekali membaca gulungan tersebut karena ia ingin lebih mengetahui mengenai Byakugan dan tentang keluarga Hyuuga. Ia meminta bantuan Neji untuk mendapatkan gulungan tersebut, karena mereka tidak seharusnya mamasuki perpustakaan tanpa mentor mereka. Ketika mentor mereka akhirnya mengijinkan kedua bocah Hyuuga itu memasuki perpustakaan untuk membaca gulungan-gulungan itu, tentu saja baik Neji maupun Hinata telah membaca sebagian besar isi gulungan tersebut dan ya, tanpa ada siapapun yang tahu.

Neji melihat ada sesuatu yang aneh di air, sebuah pantulan yang bukan miliknya. Bocah itu menengok kebelakang dan mendapati seorang anak lelaki yang lebih tua darinya, seorang ninja dengan mata hitam dalam yang ia lihat di tempat latihan sebelumnya.

"Selamat sore" Sapa Neji pelan. Ninja bermata hitam itu mendekati dirinya dan menepuk pelan kepalanya sembari tersenyum lembut membuat Neji sedikit memerah karena ia tidak biasa dengan sikap sayang yang diberikan kepadanya itu dikarenakan satu-satunya yang biasanya bersikap seperti itu padanya hanyalah Hinata dan Hinata hanyalah memeluk lengannya.

"Selamat sore, chibi chan" Jawab anak lelaki itu, suaranya cukup dalam untuk ukuran anak seusianya. Neji memandanginya sedang tersenyum ke arahnya membuat Neji merasa sedikit malu dan memerah. Neji tetap berada disamping anak itu untuk beberapa saat, ia menggunakan Byakugan miliknya untuk menghitung jumlah ikan di dalam air sementara anak lelaki itu mulai menggambar.

"Niisan?" Hinata menguncangkan pelan bahu Neji. Pemuda bermata lavendar itu jatuh terlelap dengan menyandar pada pohon. Mentari sudah terbenam dan malam mulai mengganti.

"Neji" Suara yang bukan milik Hinata maupun Naruto membuat Neji membuka kelopak matanya, ia merasa seperti seseorang telah meninjunya.

"Akhirnya kau bangun sekarang." Ujar Sasuke yang berada di hadapannya.

Neji memperhatikan sekitarnya ia menyadari bahwa seluruh anggota dari tim tujuh telah berada disitu dengan Hinata yang berada disampingnya. Ia menarik pelan lengan jaket Hinata sembari berbisik. "Maaf." Hinata hanya mengangguk kecil. Neji dibantu Hinata pun berdiri dan menepuk pelan celananya. "Kita harus segera pulang Nii san." Hinata merasakan Neji menjadi tegang saat menggenggam lengan jaketnya itu.

"Naruto no baka!" Sakura memukul kepala bagian belakang Naruto. "Aku kira kau akan bersama mereka untuk sesaat saja, tidak untuk seharian. Kita seharusnya berlatih bersama." "Tenanglah Sakura-chan, yang sudah terjadi ya sudah lagipula Sasuke teme tidak ingin berlatih juga."
Cibir Naruto.

"Aku datang ke tempat latihan Dobe yang tidak hadir itu hanya dirimu." Ujar Uchiha muda itu santai. "Huh untuk pertama kalinya kau mengalami rasanya diabaikan bukan." Naruto menatap marah Sasuke, ia memang sudah biasa ditinggalkan sendiri di tengah latihan tanding.

"Ayo Hinata sama." Ucapan Neji hanya didengar Hinata yang memberikan anggukan kecil. Akan tetapi ketika mereka hendak pergi Sasuke menangkap pergelangan kanan Neji.

"Tidakkah kau ingin bertanding ulang Hyuuga." Neji menampik tangan Sasuke dari pergelangannya dan menggelengkan kepala, ia segera membalikkan badannya dan pergi menjauh dari Uchiha muda itu.

"T-tunggu aku Neji nii san." Hinata berlari menyusul Neji. Sasuke hanya tersenyum kecil melihatnya.

"Jeez, ada apa dengannya? Tadi ia baik-baik saja." Ujar Naruto. "Jangan ganggu Neji kun, Naruto. Mungkin ia kelelahan karena harus meladenimu sepanjang sore. Ujar Sakura sembari menyibak rambut merah mudanya itu. "Aww, jangan berkata seperti itu Sakura chan." Naruto menggembungkan pipinya dan melipat kedua tangannya.

"Darimana kau mendapatkan rompi itu dobe?" Naruto melihat rompi yang ia kenakan sendiri. Ia memakainya ketika Neji tertidur tadi. "Oh, ini punya Neji keren bukan? Aku suka gejolak api dibelakangnya." Ujar Naruto riang. "Pertanyaanku adalah mengapa kau memakainya?" Ujar Sasuke sedikit menekan setiap perkataannya.

"Neji melepaskan rompi itu saat berlatih dan aku menjaga rompi dan jaket Hinata chan. Hinata chan mengambil kembali jaketnya tapi Neji tertidur jadi aku mencoba memakainya lalu kalian datang dan aku jadi tidak sempat mengembalikannya karena ia keburu pergi." Ujar Naruto dengan cepat sembari melepaskan rompi itu. Sasuke segera mengambil rompi itu dari tangan Naruto.

"Akan aku kembalikan." Ujarnya singkat tanpa berbicara lagi Sasuke segera berjalan menuju ke arah kedua Hyuuga muda itu pergi beberapa saat yang lalu.

"Sejak kapan dia peduli?" Naruto memandang heran rekan satu timnya itu.

"Sasuke kun hanya bersikap sopan Naruto." Ujar Sakura seakan-akan hal itu sudah menjadi suatu kewajaran. Naruto hanya menghela nafasnya

"Hah, yang benar saja." Jawabnya dengan nada yang mengejek. Sakura memberikan tatapan tajam ke Naruto akan tetapi ia tidak mempedulikannya.

"Aku lapar, ayo kita ke Ichiraku Ramen." Naruto segera melompat dan berlari menuju kedai makan tersebut ia menghiraukan teriakan Sakura dibelakangnya itu. Naruto hanya tertawa dan berlari semakin kencang.

.

.

Ketika Hinata dan Neji tiba di depan gerbang kediaman Hyuuga, Neji baru menyadari bahwa rompinya tertinggal. Ia pun memutuskan untuk mengambilnya kembali sehingga ia mengatakan kepada Hinata bahwa ia akan kembali sebelum makan malam dan hendak mengambil rompinya lagi.

Di tengah jalan menuju tempat latihan tadi Neji bertemu dengan orang terakhir di dunia ini yang ingin ia temui. Sasuke hanya memberikan seringai ke arahnya. Ia memakai rompi milik Neji tersebut.

"Apa kau melupakan sesuatu?" Goda Sasuke membuat Neji mengeryitkan dahinya.

"Kembalikan saja rompi itu Uchiha." Nada Neji sedikit tinggi.

"Sasuke"

"Apa?"

"Panggil aku Sasuke." Ujarnya sembari berjalan menuju Neji ia melepaskan rompi tersebut dan memberikannya ke Neji, ketika Neji hendak meraih rompi itu Sasuke menggunakan kesempatannya untuk menarik erat lengan Neji dan mencium paksa ninja berambut coklat itu.

Neji dapat merasakan lidah Sasuke mencoba memasuki mulutnya. Uchiha muda itu menggenggam erat leher dan pinggang Neji, membawanya dari jalanan menuju ke arah hutan. Ia mendorong Neji jatuh ke atas tanah lalu ia menggigit bibir Neji supaya Neji mau membuka mulutnya. Neji mendorong Sasuke dengan sisa tenaganya.

"Hentikan, kau hanya menyakitiku." Kedua bola mata lavendar itu membulat setelah ia mengatakannya, ia membungkam mulutnya sendiri, ia merasa bodoh karena telah membiarkan Sasuke tahu bahwa Sasuke telah menyakitinya. Anak lelaki lainnya itu hanya mengernyitkan dahi ke arah Neji. Saat ini punggung Neji bersandar pada sebuah pohon dan Sasuke berada di atas Neji. Ia tidak bergerak hanya diam memandangi Neji untuk beberapa menit. Kemudian Ninja muda itu menangkap kedua pipi Neji dengan tangannya dan memandang lembut Neji. "Maka biarkan aku menyentuhmu Neji." Neji mengerjapkan pandangannya, perlahan ia mulai menutup matanya. Sasuke kembali memberikan ciuman padanya dan kali ini lebih lembut, perlahan tapi pasti Sasuke memberikan ciuman dari bibir ke leher Neji. Neji menggerakkan lengannya ia tidak tahu apakah tindakannya ini benar atau tidak tapi secara perlahan juga ia mulai memeluk Sasuke secara ringan. Sasuke kembali mencium bibir Neji dan kali ini Neji tidak melakukan perlawanan.

Lidah sasuke bergerak bebas di dalam mulut Neji kedua tangannya juga mulai menyentuh secara lembut seluruh tubuh Neji. Sasuke tidak dapat menduganya bahwa keinginannya sedari dulu akan terjadi sekarang. Kenyataan bahwa kali ini Neji juga turut ikut serta dalam ciuman penuh hasrat itu.

Sasuke kembali mencium leher Neji sementara tangan kanannya memeluk Neji tangan satunya telah memasuki celana Neji dan membelai pelan organ penting Neji. Sasuke melihat bahwa Neji tengah menikmati sentuhannya dengan memejemkan matanya dan mengeluarkan desahan kecil yang bagaikan simponi indah bagi telingannya. Dia hendak berbuat lebih jauh akan tetapi ketika pandangan mereka bertemu mata lavendar Neji membulat.

Sasuke tidak menyadari bahwa Neji mendorongnya dengan sekuat tenaga membuat dirinya terjatuh kebelakang dan memandangi Neji dengan bingung karena seluruh tubuh Neji gemetar, tangan kanannya menutupi mulutnya sedangkan tangan kirinya berada di atas dadanya, anak itu segera bangkit dan mengambil rompinya. "Maaf"

Neji berlari menjauh darinya membuat Sasuke hanya menghela nafas. Sesaat kemudian ia baru menyadari bahwa sharingannya telah aktif, ia tidak ada niat untuk menggunakan sharingan sebenarnya, ia sendiri tidak tahu apa alasan yang membuat dirinya mengaktifkan kekuatan rahasia klan Uchiha tersebut.

Kemungkinan karena ia ingin sekali dapat memecahkan cermin pada bola mata Neji seperti yang telah kakaknya jelaskan pada jurnalnya. Itu tidak berhasil tampaknya. Ia memejamkan matanya dan membuat matanya kembali normal.

.

.

Neji berlari tanpa arah, ia hanya ingin segera mungkin menjauh dari mata merah itu, ia mengerutuki dirinya sendiri karena itu.

Sebenarnya ketika Sasuke menyentuhnya ia tidak sekasar dahulu, saat itu sentuhan Sasuke penuh akan perasaan bukan hanya nafsu belaka. Akan tetapi bola mata merah itu.

Neji menggelengkan kepalanya kencang mencoba untuk menghilangkan bayangan dari mata berwarna merah tersebut, ia tidak memperhatikan jalanan di depannya sehingga ia tidak melihat ada batu kecil yang mana membuat ia tersandung, disaat ia sudah sadar bahwa dirinya akan terjatuh ia menggunakan tangannya untuk melindungi wajahnya akan tetapi yang ia rasakan setelah itu bukanlah kerasnya jalanan melainkan sesuatu yang lain.

Ia membuka matanya dan mendapati bahwa seseorang telah menahan tubuhnya sehingga ia tidak terjatuh ke tanah. Neji mengerjapkan kelopak matanya untuk menyesuaikan pandangannya untuk melihat orang tersebut.

Rambut hitam, mata hitam dengan jubah hitam dan awan merah.

Kedua bola mata neji membulat dan ia tidak dapat menggerakkan satupun otot tubuhnya.

Ninja yang lebih tua itu memandang kedua bola mata Neji dan tersenyum kecil.

"Lama tidak berjumpa Neji kun"

Bibir Neji sedikit gemetar suaranya hilang, ia mencoba untuk mengatakan sesuatu tapi kata-kata tidak keluar, akhirnya selang beberapa detik ia merasakan sesuatu keluar dari mulutnya, sebuah nama.

"I-Itachi san…"

.

.

To be continued

.

.

A/N:

Hello my faithful reader's

Akhirnya Itachi muncul disaat Neji sudah mulai menampakkan benih suka pada Sasuke

Dun dun dun* Dramatic sound effect

Apakah yang akan terjadi? Nantikan pada chapter berikutnya.* Evil laughter

What do you think of this fiction so far?

Please tell me about your opinion.

And again thanks to a wonderful review ya guys…..

XOXOXO