Chapter 4 is updated! Maafkan saya kalau lama~ i'm not a superb! Update fic cepat-cepat juga butuh waktu kan? Oke-oke, RnR aja yo!
#curcol-dulu-ya
Mohon maaf readers, Kalau seandainya ingin mereview kritik tolong sesuaikan dengan cerita, dan jangan berlagak sok tahu. Saya sudah pernah dapat yang seperti itu. Akibatnya, lihat saja itu fic The Physicist and The Detective, endingnya gakjelas kan? Sumpah demi apa saya erosi(?) banget! Remember, Critics is a critics, not flame! ^_-b
Ohya, mohon maaf jika bahasa yang digunakan terkesan sombong. Ini hanya untuk melambangkan kalau keluarga tersebut adalah keluarga kaya. Jadi jangan salah sangka dulu. Oteh? #plak
Bagaimana n yang mereview fic saya, apa yang saya perlu? Sudah ingat? Semoga ya, ahaha ;;) saya tunggu , thanks a lot...
BTW, arigatou yang sudah mereview cerita dudul ini *ngek* keep review okay? *wink*.
HARAP MEMPERHATIKAN WARNING! THANKS BEFORE
The Story Of Us
Disclaimer : Masashi Kishimoto!
Story By : Hasegawa Nanaho
Pairing : SasuHina
Warnings : kelewat gaje, OOC banget, lebay, garing, kaku, dan ketidaksempurnaan lainnya sebab saya masih newbie! Bahasa Tidak Baku! Don't like don't read yo! No flame permitted! Critics? That's OK!
Saya sisipkan beberapa humor di sini~ selamat menyimak!
Happy reading!
.
.
Chapter 4
Hujan turun makin derasnya. Hinata yang amat sangat teramat malang. Bukan Cuma tidak ada teman lagi, ia juga lupa membawa payung! Dan kini, ia tengah berlari untuk menuju ke rumah secepatnya.
'Aku tidak membenci hujan, tapi entah kenapa...aku merasa kesal sekali...' batinnya selama perjalanan.
Lha, kok dia lari ke rumah? Bukannya tadi Sasuke mengajaknya pulang bersama?
FLASHBACK.
"Mau pulang bareng?" tanya Sasuke menawarkan Hinata.
.
.
.
"Bbb...Tidak terima kasih,-" ohmy, kekuatan aneh masih menguasai mulut Hinata. Yang tadinya mau bilang 'Baiklah' malah menjadi perkataan seperti itu.
"Oh, fine. I'll go..." Sasuke sebenarnya juga kaget, namun ia cepat-cepat menyembunyikan perasaan itu dan berjalan keluar kelas.
'Aaarggh! Kenapa kau bodoh sekali, Hinataaa?' batin Hinata frustasi.
Tapi ia tidak menjambak rambut atau semacamnya. Ia hanya gemetaran di tempat.
FLASHBACK OFF.
"Hachiih!" kini Hinata benar-benar akan terkena flu. Hujan deras disertai angin memang menyebabkan cuaca berubah menjadi sejuk, no! Terlalu sejuk!
Cling. Mata Hinata menatap sebuah benda berkilauan. Tapi tentu hanya ilusi. Yang Hinata lihat adalah seorang anak yang menyewakan payung.
"Dek," Hinata menepuk pundak anak kecil yang lusuh itu.
"Iya?" anak itu menoleh dengan wajah innocent, rambutnya berwarna hitam kecoklatan.
"Namanya siapa?" bukannya memijam payung atau apa, Hinata yang tersihir oleh ke-lucuan si anak itu malah menanyakan namanya.
"Konohamaru!" jawab anak itu dengan semangat. Mirip Naruto, ya?
"Kamu menyewakan payung?" tanya Hinata sok polos. Jelas-jelas anak itu memegang payung, dengan tulisan yang digantung di kerah bajunya 'SEWA PAYUNG' besar-besar pula.
"Iya!" jawab Konohamaru yang amat super polos itu.
"Kakak sewa satu, ya?"
"Payungnya memang Cuma satu, kak..." jawab Konohamaru.
"Oh, yaudah. Ini uangnya..." Hinata menyerahkan selembar uang 10.000 yen dan menukarnya dengan payung itu.
"Payungnya buat kakak aja ya! Makasih kakak! Kakak baik banget!" teriak anak itu kegirangan sambil berlari pergi.
"E-eh?" Hinata menatap kepergian anak itu dengan bingung. Tapi yasudahlah, daripada ia kehujanan lebih lama lagi, kan?
Beberapa meter di belakang Hinata...
"Kerja bagus, Konohamaru. Ini imbalanmu..." seorang lelaki ganteng(?) menyerahkan selembar uang 100.000 yen kepada Konohamaru.
"Yeeiy! Makasih Kak Sasu!" lagi-lagi, Konohamaru berteriak kegirangan sambil berlari pergi.
Sebentar, sebentar... Kak Sasu?
.
.
Hinata's Home.
"Tadaima." Ucap Hinata pelan.
"Okaerinasai! Hinata-sama? Kenapa anda basah kuyup begitu?" rupanya Neji sudah pulang dan menyambut Hinata dengan pertanyaan.
"A-aku lupa bawa payung, ja-jadi aku berlari pulang ke rumah. T-Tapi tadi aku sewa payung, k-kok..." Jawab Hinata takut. Takut disemprot kakaknya.
Sementara itu di kediaman Uchiha.
"Sasuke-kun, kenapa kau basah kuyup begitu? Bukannya tadi kau bawa payung?" tanya Uchiha Mikoto, ibu dari Uchiha bersaudara.
"Payung itu? Aku pinjamkan pada orang yang lupa bawa payung..." jawab Sasuke dengan santai.
Beda nasib, beda tanggapan, beda perasaan, tapi perkataan mereka berdua hampir mirip, kan?
.
.
Back to Hinata's Home.
Setelah diceramahi singkat oleh Neji, Hinata kemudian membuka payung itu di taman rumahnya, untuk dikeringkan tentunya. Tenang saja, hujan sudah berhenti.
Byash. Payung yang terbuat dari plastik transprant itu mengembang. Hinata terdiam sesaat.
'I-inikan payung yang waktu itu pernah dijual di Konoha Trade Center secara terbatas? Bagaimana mungkin anak kecil itu memberikannya padaku?' Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Yang lebih parah lagi, bagaimana mungkin anak kecil itu membelinya?' batin Hinata bingung. Payung limited edition yang dijual dengan harga cukup tinggi, kenapa bisa sampai ke tangan seorang penyewa payung?
.
.
The Next Day~
Mungkin dewa sial sedang membuntuti Hinata sampai hari ini. Well, kemarin mungkin ia tidak sial-sial amat. Sekarang? Sang guru fisika killer yang bernama Morino Ibiki sedang duduk di meja kelasnya sambil memegang penggaris besi dengan panjang 50 cm. Tujuannya telak pasti untuk memukul murid yang ketahuan melirik kiri-kanan, mengobrol, atau meminta contekan. Dalam keadaan seperti ini, readers pasti tahu kalau kelas 11 C sedang mengadakan ulangan dadakan.
Hinata hanya bisa melihat kertas jawaban miliknya yang masih putih bersih. Ada sih tulisannya, nama, kelas, dan nomor absen yang tidak pernah ia lupa. Fisika, Kimia, dan segala macam yang berhubungan dengan IPA sudah menjadi kelemahannya sejak masih SD (yah, fisika SD memang nggak dudul-dudul banget). Poor Hinata, apakah kau lupa bahwa kau sekarang sudah SMA? Author bahkan sudah membayangkan kalau IPA pasti sama susahnya kayak matematika. Kalau begitu, Hinata benar-benar senasib. Ia payah di mata pelajaran IPA dan Matematika menyusulnya saat masih SMP.
Dengan keringat dingin yang sudah menetes berkali-kali, Hinata melirik kecil ke sebelahnya. Sasuke? Ya, anak jenius itu sih tenang-tenang saja. Ia mengerjakan soalnya dengan pandangan datar dan terus menulis seolah pikirannya lancar dan nggak macet. Hinata menelan ludah berkali-kali. Apakah Sasuke lebih jenius daripada Einstein dan Sri Mulyani?
Sasuke pura-pura menengok ke arah Hinata dengan hati-hati, sebelum dirinya dipukul. Dengan mata kinclong non minus, bahkan ditambahkan plus 1,5 membuat Sasuke bisa melihat jauh. Whut happen dengan si Hyuga muda di sebelahnya itu? Kertas lembar jawabannya masih kosong, belum terisi. Kini Sasuke mengerti kenapa Hinata sekarang komat kamit nggak jelas.
Hinata sama sekali nggak tahu jawabannya.
Dengan kepedean tingkat dewa, Sasuke melangkah ke meja yang sedang diduduki guru killer itu.
"Pak, saya minta kertas buram untuk cakaran. Kertas saya sudah full." Dengan alasan simpel, Sasuke sudah kembali dengan membawa dua lembar kertas buram.
Dengan gesit dan lihai, Sasuke menuliskan sebagian dari berbagai macam jawabannya yang tersingkat dan kemudian menyerahkannya pada Hinata tanpa sepengetahuan gurunya itu.
"E-etto? U-Uchiha-san?" tanya Hinata dengan suara yang pelan.
Sasuke mah cuek sapi(?). ia lantas meneruskan pekerjaannya sendiri.
Hinata membuka kertas yang diberikan Sasuke. Tampaklah sebagian jawaban tertera di kertas itu. Hinata hanya tersenyum kecil, lalu meremas kertas itu dan ia minta izin buang sampah. Sasuke hanya kaget, namun dengan cepat ia mengendalikan dirinya.
'Huh, menolak pertolonganku, eh?' batin Sasuke sambil menyeringai.
.
.
DING DONG DING DONG!
Bel tanda pelajaran pertama sudah selesai telah dibunyikan. Semua murid 11 C yang sebagian besar berwajah pucat, suram, dan lusuh itu dengan pasrah menyerahkan kertas jawabannya itu kepada Ibiki-sensei. Hinata salah satunya, namun Hinata hanya berwajah datar. Hal ini membuat Ino yang duduk dua bangku di belakangnya pun bertanya.
"Hei, yang kutahu, kau itu-kan benci fisika. Kenapa kau malah biasa-biasa seperti ini?" tanya Ino.
"W-walau aku benci, t-tapi tadi kertasku nggak terlalu kosong, kok. T-tenang saja," balas Hinata dengan datar dan gagap.
"Oh, syukurlah. Kukira kamu sudah berbanding terbalik. Hehehe..." canda Ino.
.
.
.
.
.
iPhone has been unlocked.
32 missed call – Stupid Aniki
Sasuke melirik Handphone warna putih hasil karya apple itu dengan malas.
"Tch, kenapa lagi dengan Stupid Aniki ini?" gumamnya sambil menelepon Kakak 'tersayangnya' Uchiha Itachi.
"Hello~ Its been a long time, stupid Otouto! How are you?" sahut seseorang di seberang sana.
"Stupid Aniki, apa tinggal lama-lama di London membuatmu lupa bahasa Jepang?" balas Sasuke. Ralat, bukan bahasa Jepang, lebih tepatnya bahasa Jepang yang di Indonesiakan.
"Sorry, Otouto. Aku tidak lupa kok, hanya a bit forgotten, hahahaha...tenang saja. Oh yeah, tonight jam 8 i'll arrived di Konoha International Airport, apa kau pick up aku di sana?" Tanya Itachi sambil berbicara bilingual ria.
"Hah? Ngapain kau kesini? Sudah selesai dengan sekolahmu di sana?" jujur, Sasuke kaget. Kakaknya yang satu ini cukup sulit untuk diajak pulang ke Jepang, dan sekarang ia tiba-tiba pulang.
"Jahat kau Stupid Otouto! Aku juga don't know, father want me untuk pulang ke Jepang. He said ada urusan penting, jadi i should go home. Is that enough for you, Sasuke?" jawab Itachi lagi.
"Ya, ya. Berbuatlah sesukamu aku tidak perduli." Tanggap Sasuke datar.
"Aww, thats too bad, Stupid otouto! Aku bring makanan kesukaanmu lho! Tomato cake, dari toko yang sering membuat the best cake di London~" rayu Itachi.
"...Oke, nanti malam ku jemput, telat 5 menit, aku bunuh kau." PIP. Tuut tuut tuut. Dengan resmi, Sasuke memutuskan sambungan telepon itu.
'You Stupid baka Aniki, menghabiskan pulsaku hingga 1500 yen untuk meneleponmu ke London...' batin Sasuke kesal. Kemudian ia membuka pintu mobilnya, lalu mengendarainya pulang ke rumah.
'Geez, sebenarnya ada apa ya? Kenapa ayah sampai manggil Aniki pulang ke Jepang? Aku rasa ada masalah, jarang-jarang ayah minta Aniki pulang...' selama perjalanan, Sasuke hanya memikirkan hal itu sampai-sampai rumahnya kelewatan sekilo. Ckckckckck...
TO BE CONTINUED~
Oke, saya tahu reader benci kata TBC. Penyakitnya juga seharusnya dibenci (?)
Saya juga tahu, chapter ini amat sangat teramat pendek. Harap maklum, saya ini tipe orang jahil yang suka bikin penasaran, Hahahaaaa(?).
Tenang, untuk chapter 5 saya sudah dapat ide kok, tinggal dilanjutkan saja. Semoga ini gak Gaje yaa, amin.
Mohon maaf sekali updatenya lama, saya sedang sibuk-sibuknya tes SMA, padahal kan udah di terima... *hiks hiks* abaikan itu.
Well, see ya in the next chapter~ Jaa Matte... *bow*
Regards, Hasegawa Nanaho.
