Disclaimer: At Masashi Kishimoto and Ichiei Ishibumi. Tidak mengambil keuntungan materil sedikit pun dari fanfic ini.

AN: Disarankan untuk kembali membaca chapter sebelumnya agar feel-nya dapet.


Chapter 4: Semakin Dekat dan Dekat

Semua orang yang ada di sana, yang melihat kejadian di sana–bentrokan Naruto dan Issei–tidak bergerak se-inchi pun. Membeku dalam shock. Tidak ada seorang pun yang mengira kejadian seperti ini akan terjadi. Mungkin hanya satu orang yang bisa memprediksinya, itu adalah Naruto.

Malaikat Jatuh itu masih memegang erat kepalan tinju Issei. Tidak ingin membuatnya lepas meski gelagat Issei menunjukkan ia berusaha melepaskan diri dari kekangan Naruto.

Sona, orang pertama yang sadar dari keterkejutan. Ia membenarkan letak kacamatanya sebelum memanggil sang suami. "Naruto."

Naruto melirik, melihat Sona melalui ekor matanya. Ada sedikit rasa cemas yang terpancar dari ekspresi Sona.

Tahu keinginan sang isteri, Naruto melepaskan genggamannya yang membuat Issei kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk beberapa langkah ke belakang. Sarung tangan naga yang menyelimuti tangannya sirna menjadi cahaya hijau.

Naruto menghela napas panjang, kembali pada sikap normalnya setelah tadi sempat serius. "Aku sudah menebak jadinya akan seperti ini. Yah, aku tidak bisa menyalahkan siapa pun saat ini, dalam kondisi ini. Tapi aku minta untuk sekarang kalian akur. Bukankah kita sudah berdamai?"

"Tapi kau tidak tahu apa yang sudah dia lakukan kepada Asia, Naruto-san!" Issei masih tetap pada emosinya.

"Kau salah, aku tahu semuanya dan aku juga yang telah menyelamatkan Raynare berserta yang lain."

Perkataan Naruto membuat semua orang di sana terkejut, terlebih Rias yang dulu sudah yakin 100 persen ia telah membunuh Raynare dengan Power of Destruction-nya.

"Naruto-sama," panggil Raynare.

"Hm?"

"M-mungkin kedatangan kami ke sini hanya memperkeruh suasana. Lebih baik kami kembali ke Tokyo dan melanjutkan tugas." Raynare berkata dengan wajah khawatir. Terlebih ini adalah acara yang dibuat oleh majikannya. Tidak enak rasanya jika keberadannya hanya memperkeruh suasana di sini.

Perkataan Raynare diberi anggukan oleh Mittelt, Kalawarner, dan Dohnaseek.

Naruto menggeleng lembut. "Tidak. Kalian tetap di sini dan ikuti acara makan malam sampai selesai."

"Tapi–"

"Ini perintah."

Jika Naruto sudah bersikeras maka pilihan satu-satunya adalah menyerah. "Baiklah."

Rias menghampiri Issei dan memberikannya beberapa patah kata. Issei terlihat protes tapi tekanan Rias membuatnya terdiam dan mematuhi semua perkataan king-nya. Rias menarik tangan Issei cukup kasar, menyeretnya, menghampiri Naruto.

"Maafkan kelakuan pion-ku, Naruto-san." Kata Rias lalu membungkuk. Issei juga.

"Angkat kepala kalian. Tidak usah meminta maaf seperti itu. Hal yang dilakukan Issei bisa dikatakan wajar mengingat perasaannya beserta emosinya yang masih labil di usia remaja."

Setelah itu Naruto mengajak semuanya menuju ruang makan yang sangat luas dengan di tengahnya terdapat beja berbentuk lingkaran besar. Kursi yang disiapkan sudah sesuai jumlah mereka. Ada 2 kursi yang memiliki dekorasi lebih mewah dari yang lain, itu pasti kuris khusus untuk Naruto dan Sona, pemilik rumah.

Posisi duduknya begini, Naruto dan Sona duduk bersebelahan. Di sisi Naruto yang lain berjajar anak buahnya–Raynare dan yang lain. Begitu pun dengan Sona. Sementara Rias berada di seberang meja, berhadapan langsung dengan Naruto dan peerage-nya berada di dua sisi.

Iruka datang bersama 5 pelayan perempuan dengan membawa banyak makanan mewah–dan tentunya lezat. Yang paling depan Iruka, di belakangnya ada perempuan cantik berambut panjang, Hinata. Di belakangnya lagi ada Ino, Sakura, Ayame, dan barisan terakhir adalah Sara. Naruto sudah tahu nama mereka saat sesi perkenalan diri.

"Maaf menunggu lama, Naruto-sama, Sona-sama," Iruka membungkuk hormat. "Menu spesial makan malam hari ini adalah …," Iruka menjelaskan satu per satu rincian dari makanan yang telah dibuat, dari makanan utama sampai penutup tak luput ia jelaskan.

Sambil Iruka menjelaskan, Hinata dan pelayan lainnya menyajikan hidangan menggiurkan itu. Tidak hanya itu, mereka juga memakaikan kain untuk melindungi baju dari kotor kepada semua yang duduk di sana. Setelah semua disajikan Iruka dan 5 pelayan cantik berdiri di belakang Naruto dan Sona.

Naruto berdiri. Berdehem. "Sebelumnya, aku dan Sona mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian di acara makan malam ini. Tujuan kami mengundang kalian adalah untuk merayakan pernikahan kami secara lebih dekat. Ah maksudku, Aku dan teman-teman dekatku ingin menjalin hubungan baik dengan Sona beserta para sahabatnya."

"Ah terima kasih atas undangannya, Naruto-san." Rias berkata sopan.

"Kami juga mengucapkan terima kasih, Naruto-sama." Kata Raynare.

Naruto mengangguk. "Aku senang mendengarnya. Kalau begitu mari kita makan."

Seperti sudah menjadi adat, sebelum melahap hidangan utama, mereka semua kompak mengangkat minuman dan berkata 'bersulang' dan setelah itu memakan hidangan yang ada di atas meja dengan atmosfer penuh aura keformalan. Nampaknya ada satu orang yang keluar dari jalur formal, itu Issei yang sedang curi-curi pandang kepada kelima pelayan Naruto dengan wajah penuh nafsu.

-o0o-

Acara makan-makan sudah selesai. Iruka dan para pelayan pergi ke dapur setelah membereskan meja. Sekarang memasuki sesi 'berbincang-bincang' seperti yang dilakukan oleh semua orang.

"Makanannya sangat enak." Rias berbasa-basi setelah membersihkan bibir merah mudanya memakai kain putih yang tergantung di leher.

"Terima kasih atas pujiannya Gremory–"

"Rias. Panggil saja aku Rias agar lebih akrab." Dari nada yang dikeluarkan Rias, nampaknya ada sedikit paksaan di dalamnya. Sona tentu saja menyadari hal itu dan sedikit tidak suka.

"Ah baiklah, Rias … san."

Putri dari keluarga Gremory itu mengangguk puas.

"Kalau tidak salah beberapa minggu lagi akan diadakan Rating Game, benar?" tanya Naruto.

"Naruto-san benar. Rating Game adalah acara tahunan di dunia iblis yang bertujuan untuk meninjau kekuatan iblis-iblis muda. Kudengar fraksi malaikat jauh akan terlibat dalam Rating Game setelah perjanjian perdamaian ditandatangani."

"Iya. Azazel mengatakan bahwa fraksi malaikat jatuh akan melatih para iblis muda yang terpilih. Ini sebagai bentuk kerja sama di bidang kekuatan. Sementara itu fraksi iblis berjanji akan memberikan infromasi mengenai evil piece."

Mereka sedang membicarakan sebagian kecil dari kontrak kerja sama perdamaian antara iblis dan malaikat jatuh. Sebenarnya masih ada banyak kerja sama yang telah disepakati.

"Rating Game ya … aku belum pernah melihatnya dan tentu saja aku akan menantikan pertandingan kalian, Sona dan Rias." Kata Naruto menatap kedua gadis itu secara bergantian.

Sona melepaskan kacamata dan membersihkannya menggunakan kain lembut. Kacamatanya sedikit buram karena terkena embun dari hidangan tadi. Ia kemudian memakaikannya lagi. "Aku tidak sabar ingin melawanmu di Rating Game, Rias."

"Aku juga sama, Sona."

Mereka melemparkan senyum persaingan antar sahabat. Pandangan mata bertemu pandangan mata yang di dalamnya tersimpan ambisi besar untuk menang. Para peerage mereka pun merasakan hawa persaingan. Sementara Raynare diam menyaksikan.

Naruto melirik Raynare, "Bagaimana keadaan di Tokyo?" tanya Naruto sekedar basa-basi agar Raynare tidak canggung. Sebenarnya ia bisa menanyakan perihal pekerjaan esok hari.

"Kami masih dalam operasi pembersihan iblis liar. Meskipun begitu angka laporan orang hilang telah berkurang."

"Bagus. Pertahankan kinerja kalian."

"Baik. Naruto-sama."

"Ngomong-ngomong, Naruto-san, berkaitan dengan kerja sama antara fraksi iblis dan malaikat jatuh tentang memberikan bantuan pada iblis muda, bisakah Naruto-san menjadi pelatih kami untuk mempersiapkan diri menghadapi Rating Game beberapa minggu lagi?"

Sona tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, begitu pun dengan peerage-nya. Bahkan peerage Rias pun terlihat terkejut menandakan bahwa mereka tidak tahu apa-apa tentang hal ini.

Sona tahu bahwa sifat Rias itu egoisnya tinggi, dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan hal yang diinginkannya. Contohnya dulu ketika Rias menginginkan Issei yang memiliki kekuatan besar. Bila Rias memang memiliki hati lembut maka dia akan menyelamatkan Issei dari serangan malaikat jatuh sebelum laki-laki itu mati.

Namun Rias tidak melakukannya. Ia malah menunggu Issei diserang sampai mati dan membangkitkannya kembali sebagai iblis. Kenapa Rias melakukan hal itu? Karena dia ingin menghindari Issei yang menolak tawarannya menjadi bagian dari keluarganya.

Niat jahat yang dikemas dalam perbuatan baik. Kalimat itulah yang cocok untuk penjelasan di atas.

"Tunggu Rias-ojousama, apa maksud perkataan Anda?" Tsubaki menatap tidak suka pada Rias. Baginya perbuatan Rias sama seperti ia merendahkan harga diri Sona dan Tsubaki paling benci hal itu.

"Yaa .. jangan memasang wajah seperti itu, Tsubaki. Aku hanya menawarkan Naruto-san menjadi pelatih kami. Tidak ada maksud lain."

"Tapi Rias-ojousama harus melihat posisi Sona sebagai istri–"

"Hentikan Tsubaki!"

"Kaichou?"

Saat melihat sorot mata Sona yang berbeda, Tsubaki lantas diam. Sona lalu menatap Rias dengan wajah biasanya, menyembunyikan sejumlah perasaan tidak enak di hati.

"Aku sudah memperkirakan kau akan berbuat seperti ini, Rias. Aku sangat memahami ambisimu pada kekuatan membuatmu melakukan hal yang lancang," siapa sih yang tidak takjub pada kekuatan Naruto? kekuatan melihat masa depan yang dapat membuat persentase menang meningkat drastis hampir mencapai 100 persen. Sona sangat mengetahui Rias pasti tertarik pada kekuatan Naruto.

"Tapi perlu diingat, Naruto adalah suamiku dan aku berhak menyuruhnya untuk menolak permintaan lancangmu itu." Sona mengakhiri perkatannya.

"Sepertinya kau keliru, Sona. Naruto-san berhak memutuskan keinginannya sendiri. Itu tidak ada hubungannya dengan istri. Lagi pula istri yang harusnya menuruti perintah suami, bukan begitu Naruto-san?"

Sona mendengus sebal. Ia melirik suaminya. Naruto tahu arti lirikan Sona.

"Ah, em, begini, pertama-tama terima kasih untuk tawarannya tapi aku harus meminta maaf karena tidak bisa menerima tawaran darimu, Rias-san." Kata Naruto membuat Rias kecewa.

"Apa alasan Naruto-san menolak tawaranku?"

"Aku berniat untuk melatih peerage Sona agar lebih kuat, tapi itu bukan alasan utama kenapa aku menolak tawaranmu,"

"Lantas?"

Naruto melirik Issei sekilas. "Kalian tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk aku didik."

"Huh?"

"Bagaimana menjelaskannya ya … intinya kau dan keluargamu tidak cocok untuk aku latih, dan keputusanku tidak bisa diganggu gugat."

Rias mendengus pasrah setelah melihat wajah Naruto yang serius. Sebenarnya ia masih ingin Naruto melatih keluarganya tapi keinginan itu harus dibuang jauh-jauh. Rias hanya mengangkat bahu dan pasrah, "Baiklah."

Setelah melewati atmosfer tegang tadi, pembicaraan kembali berlanjut. Kali ini hanya membahas topik biasa. Setengah jam kemudian acara makam malam selesai dan Rias hendak pamitan pada Naruto dan Sona.

"Sekali lagi terima kasih atas undangannya, Naruto-san, Sona." Kata Rias.

"Ya, sama-sama."

"Aku menunggumu di sekolah, Sona." Rias merentangkan tangan pada Sona, berniat berjabat tangan.

Sona menerima uluran tangan Rias. "Ya. Aku tidak sabar ingin bersekolah lagi."

Meskipun mereka saling melontarkan senyuman, tapi berbeda dengan jabatan tangan mereka yang saling mencengkram kuat. Istilahnya 'salaman otot'. Perempatan terlihat di pelipis Rias yang sepertinya ia kalah kekuatan dengan Sona. Gadis yang lagi ngambek dilawan, itulah ejekan yang tepat untuk Rias.

"K-kalau begitu kami pergi dulu, jaa ne,"

Setelah Rias dan peeragenya benar-benar pergi, Sona menghela napas panjang. Beberapa kali. Ia lalu melirik tajam Naruto dan pergi berlalu meninggalkan pria pirang itu.

"Yah … sepertinya aku harus meminta maaf," gumam Naruto. 'Meskipun aku tidak salah apa-apa.'

-o0o-

"Maaf Sona," kata Naruto melihat istrinya yang tiduran di kasur empuk setelah membersihkan badan. Sona memakai piyama berwarna biru transparan yang membuat Naruto sekilas melihat dalemannya.

"Untuk?"

"Yah," Naruto sulit menemukan kata-kata yang tepat. "hari ini kau telah dibuat kesal. Mungkin sedikit banyaknya itu karena aku."

Sona menggeleng pelan. "Naruto tidak perlu meminta maaf. Aku sangat memahami pola pikir Rias dan sudah bisa menebak dia akan melakukan hal seperti tadi."

"Apa kau memaafkanku?"

Sona mengangguk.

"Terima kasih."

-o0o-

Malam yang indah dengan bulan bersinar terang menembus gelapnya malam. Seperti saat ini, di dalam sebuah bangunan yang luarnya terlihat tua padahal dalamnya sangat mewah. Ruang klub penelitian ilmu gaib.

Rias merebahkan badannya ke kasur sambil menghela napas panjang. Tubuhnya tidak terbalut sehelai benang pun. Ini kebiasaannya saat tidur, tidak berbusana.

"Hah~ aku gagal meminta Naruto-san melatih peerageku. Jika saja aku memintanya diam-diam. Tapi itu akan lebih buruk dari yang tadi. Aku juga tidak mau membuat Sona tidak enak denganku. Di samping itu aku ingin sekali Naruto-san mengajarkan kekuatannya." Rias melihat langit-langit yang gelap. Dia terdiam sebentar sebelum merubah posisinya jadi menyamping.

'Naruto-san kah … dia bagaikan seseorang yang misterius … dan menarik.'

Tidak lama kemudian Rias tertidur.

-o0o-

Esok harinya, Naruto dan Sona terbangun di pagi hari. Mereka sama-sama tidur nyenyak di kasur baru. Hari ini Sona tidak bersekolah karena masih dalam masa izinnya. Rencananya sekarang mereka akan jalan-jalan ke pusat kota. Pasangan baru harus banyak berduaan.

"Ohayou Naruto,"

"Ohayou Sona. Bagaimana tidurmu?"

"Pulas. Seperti biasanya."

"Baguslah. Tidur yang cukup baik untuk kesehatan. Ah iya, kau boleh memakai kamar mandi duluan. Setelah itu baru aku."

Sona tidak membalas perkataan Naruto, ia memalingkan wajah ke arah lain dengan semburat merah tipis di pipi.

"Ada apa?"

"Tidak– itu … bagaimana kalau kita mandi bersama?"

"Eh bersama? Kau yakin?"

"Mana mungkin seorang wanita bercanda ketika berbicara seperti itu!" Sona sedikit kesal dengan tanggapan Naruto.

"M-maaf. Yah tidak ada salahnya mandi bersama. Itu juga dapat mempercepat waktu."

Naruto dan Sona masuk ke dalam kamar mandi yang luasnya seperti ruang tamu. Di tengahnya ada kolam air panas yang ditaburi bunga mawar dan pancuran berbentuk singa. Shower dan segala keperluan mandi ada di sini. Lengkap.

Sona melepaskan kancing piyamanya satu per satu. Kemudian celana dalamnya. Naruto memperhatikan Sona tanpa berkedip dengan rona merah jelas terlihat di wajahnya. Sona merasa malu diperhatikan oleh Naruto seperti itu. Ia menutup bagian intimnya. Ini pertama kalinya Sona memperlihatkan tubuh telanjangnya di hadapan laki-laki. Jelas ia gugup.

"J-jangan terus menatapku seperti itu, Naruto." Lirih Sona yang juga mukanya memerah.

Naruto sadar dari buayannya dan cepat-cepat meminta maaf sambil membungkuk. "M-maafkanku karena telah melihatmu secara tidak sopan, Sona. Jujur ini pertama kalinya aku melihat wanita telanjang."

Ada setitik kebahagiaan di hati Sona setelah mendengar pengakuan Naruto. Sebagai seorang istri ia bahagia karena menjadi yang pertama untuk Naruto dan juga itu artinya Naruto tidak pernah melakukan hal senonoh baik saat ia menjadi malaikat maupun saat sudah jatuh.

Ada pertanyaan di benak gadis iblis itu tapi ia sedikit malu untuk mengeluarkannya. "Bagaimana?" yang ditanyakan Sona adalah bentuk tubuhnya.

Naruto terdiam sesaat, lantas memandang Sona. Rona merah tipis kembali hadir di pipinya. Yah tubuh Sona memang tidak seindah harapan kebanyakan lelaki. Sona memang tidak memiliki tubuh ideal seperti Rias atau pun Gabriel yang membuat seluruh lelaki kelepek-kelepek. Namun, kekurangannya itulah yang menjadi kelebihan Sona.

"Tubuhmu indah." Jawab Naruto mewakili seluruh bagian tubuh Sona.

"Tapi aku tidak memiliki dada jumbo kayak Rias. Aku tidak memiliki bibir seksi kayak Grayfia-san. Aku juga tidak memiliki tinggi ideal kayak Akeno. Aku–"

"Hentikan!" Naruto menempelkan jari telunjuknya di bibir Sona. Keduanya saling pandang. Naruto tersenyum lembut. "Aku tidak perlu dada besar, aku tidak perlu bibir seksi, aku tidak perlu tinggi ideal untuk mencintaimu. Yang aku butuhkan hanya ketulusan dan kasih sayangmu, Sona."

Sona membelalakkan mata lebar. Ia tak menyangka kata-kata romantis– tidak, tapi sangat romantis itu terucap dari mulut Naruto. Mata Sona berair, terharu. Ia lantas memeluk erat Naruto guna menyembunyikan muka yang pastinya sudah merah padam. Naruto membalas pelukan Sona dengan lembut.

"Hontou?" cicit Sona berbicara pelan.

"Ya. Semua yang kukatakan adalah benar."

"Tapi kebanyakan laki-laki sukanya sama yang gede-gede."

"Kebanyakan, tidak seluruhnya, 'kan?"

Sona tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia tenggelam dalam kesenangannya. Beberapa menit kemudian barulah Sona melepaskan pelukannya setelah ia bisa mengontrol diri. Naruto lalu melepaskan semua pakaiannya dan mereka berjalan menuju shower untuk membasuh tubuh.

"Eh Sona, apa kau selalu mandi menggunakan kacamatamu?"

Baru setelah setengah tubuhnya terbasuhi air hangat, Sona ingat belum melepaskan kacamatanya. Buru-buru ia melepaskan benda yang selalu bertengger di atas hidungnya sebelum terkena air.

Naruto kembali dibuat kagum melihat wajah manis Sona tanpa kacamata ditambah air yang membasahi rambutnya membuat rambut itu terlihat mengkilap.

Setelah membasuhi seluruh tubuh, Naruto dan Sona pergi ke sisi lain untuk mengambil sabun.

"Mau aku gosokkan punggungmu, Naruto?" tawar Sona.

Naruto sedikit tersipu. "Jika kau tidak keberatan, baiklah."

Sona melumuri punggung Naruto dengan sabun secukupnya, kemudian mulai menggosok dengan kain halus. Sona dapat merasakan otot Naruto yang bergerak-gerak. Memandang punggung lebar itu lama.

"Setelah ini aku yang akan menggosokkan punggungmu."

Lamunan Sona buyar karena perkataan Naruto. Ia kemudian mengangguk.

Sekarang giliran Naruto yang menggosok. Pria itu dapat merasakan kulit Sona yang sehalus sutra, bahkan lebih halus! Sona sedikit mendesah merasakan sentuhan tangan Naruto. Ini pertama kalinya ia mendapat belaian lembut dari seorang laki-laki. Rasanya nyaman membuat ia tidak bisa berhenti untuk mengeluarkan desahan.

Tanpa diduga Naruto melingkarkan kedua tangannya di antara pinggang Sona, perbuatan tak terduga itu membuat Sona tersentak dengan rona merah tipis. Naruto memeluknya erat dari belakang!

"Naruto?"

"Aku hanya ingin merasakan kulitmu yang halus. Boleh, 'kan?"

"B-boleh saja tapi … lain kali harus bilang dulu agar aku tidak kaget seperti tadi."

"Hehehe maaf. Aku tidak kuat untuk tidak merasakan kulitmu yang sangat halus."

"Terima kasih atas pujiannya."

Acara membersihkan badan begitu cepat berlalu, yang tersisa hanya berendam di kolam penuh air hangat itu. Mereka berdua merendamkan diri. Sangat segar. Sona melirik ke bahwa, lebih tepatnya ke dadanya. Ada sedikit kekecewaan yang terpancar di wajah Sona. Gadis iblis itu lalu menggenggam dadanya yang berukuran kecil.

Sebagai wanita biasa, Sona juga ingin memiliki tubuh ideal layaknya Rias.

Naruto melihat apa yang dilakukan istrinya dan ia mengerti perasaan yang sedang dirasakan oleh Sona. Oleh karena itu Naruto menepuk pundak Sona, keduanya saling pandang.

"Syukuri apa yang sekarang kau miliki karena itu adalah yang terbaik untukmu."

Sona tidak berhenti dibuat kagum oleh perkataan laki-laki yang mulai dicintainya, ia terkagum. "Naruto …,"

Keduanya saling pandang cukup lama … kepala mereka semakin mendekat … bibir mereka kian memangkas jarak … 1 centi lagi sebelum ciuman tercipta–

"Naruto-sama, Sona-sama, pakaian sudah disiapkan di ranjang."

Daaaannnn perkataan itu membuat keduanya tersentak hingga menjauhkan diri dengan wajah malu.

"T-terima kasih, Hinata."

"Kalau begitu saya pamit undur diri."

Bisa dilihat siluet seseorang telah pergi dari balik pintu buram itu.

'Ah dasar pengganggu.'

Entah siapa yang membatin.

-o0o-

Naruto dan Sona sudah bersiap pergi jalan-jalan setelah sarapan pagi. Kini mereka hendak keluar tapi Kakashi menghampiri mereka.

"Naruto-sama, Sona-sama, izinkan saya mengawal untuk keamanan." Kata Kakashi.

"Tidak perlu Kakashi-san. Kami bisa menjaga diri."

"Tapi–"

"Sudah aku bilang tidak perlu, Kakashi-san. Terima kasih atas tawarannya."

"Baiklah jika itu keinginan Sona-sama. Kalau begitu apakah kalian ingin menggunakan mobil? Saya akan menyiapkannya dengan cepat."

Naruto menoleh. "Bagaimana menurutmu, Sona? Apa kita pergi menggunakan mobil atau jalan kaki?"

Pada dasarnya Sona tidak terlalu sering menggunakan kendaraan dalam kehidupan sehari-hari. Ia sudah terbiasa dengan sihir teleport, dan juga para iblis memang jarang menggukan kendaraan kecuali dalam keadaan tertentu, seperti pertemuan formal di Underworld.

"Tidak ada salahnya juga memakai mobil untuk jalan-jalan. Aku ingin merasakan kegiatan yang dilakukan sehari-hari oleh pada manusia, dan juga jarak dari sini ke kota cukup jauh."

Kakashi mengangguk. "Kalau begitu saya akan menyiapkan mobil limosin–"

"Tidak perlu Kakashi-san, kami tidak membutuhkan sopir. Aku bisa mengendarai mobil." Naruto menolak dengan halus. Ia akan menggunakan mobil Lamborghini Aventador untuk jalan-jalan.

"Kalau begitu silahkan ambil kuncinya di laci itu."

"Terima kasih."

Setelah mengambil kunci mobil yang dimaksud. Naruto dan Sona keluar, menuju garasi. Naruto memakai pakaian rapi dengan gaya anak muda zaman sekarang, sedangkan Sona memakai pakaian tipe one piece dengan rok selutut. One piece yang digunakan Sona berwarna biru muda. Cocok dengan dirinya.

Begitu keluar mereka berhenti karena di depannya sudah berdiri seorang wanita ber-cosplay penyihir dan doyan melantunkan kalimat sakral 'milky milky spiral'. Siapa lagi kalau bukan kakak mereka, Serafall.

"So-tan, Naru-tan! Aku rindu!"

Serafall secepat kilat memeluk adiknya dengan erat membuat Sona risih dan tidak nyaman, juga malu. Naruto hanya memasang wajah facepalm.

"Nee-sama, lepaskan pelukanmu!"

"Nggak mau! Nee-sama kangen banget sama So-tan."

"Bukankah kemarin kita bertemu?!"

"Mou~ kemarin itu rasanya kayak tidak bertemu So-tan selama 1000 tahun!" Serafall menyadari sesuatu, ia mulai mencium-cium tubuh adiknya kemudian tersenyum jahil. "Aku mencium bau laki-laki. So-tan sepetinya sudah dewasa ya~"

Sona sudah tidak tahan dengan kelakuan kakaknya ini. Ia menunduk, wajahnya terhalang oleh poni. Tubuhnya gemetar menahan amarah.

"Ano ne, Kakak sedih tahu karena So-tan yang mendapatkan pengalaman lebih dulu dari Kakak. Jadi kalau ada waktu luang So-tan ceritakan pengalaman pertama pada Kakak biar Kakak ngerti apa yang harus dilakukan kalau udah punya cuami. Ah terus terus, So-tan kuat berapa ronde–"

"MOU! AKU TIDAK TAHAN LAGI!" Teriak Sona dengan linangan air mata, ia lari ke dalam rumah.

"Tunggu So-tan!"

"JAUHI AKU!"

Sementara mereka kejar-kejaran, Naruto diam mematung. Masih dengan wajah facepalmnya.

"Kenapa hari ini banyak pengganggu."

Bersambung


AN: Ini dia adegan romance-romancean Naruto dan Sona! Banyak kata mutiara yang disampaikan Naruto. Untuk yang ngeluh adegan romancenya kurang, sabar, ini baru chapter 4, baru perkembangan, jangan langsung hantam aja. Perlu pendekatan lebih dulu.

Untuk yang penasaran masalah Gabriel, akan mulai dibahas di chapter depan. Jadi tunggu saja.

Hem Hem, Rias nampaknya telah melakukan hal yang 'berani'. Ah aku tidak habis pikir dengan kelakuan Rias.

Rencananya aku ingin fokus dulu di fic Sona no Ai agar feelnya tidak hilang akibat selalu update lama karena updatenya bergiliran. Di samping itu banyak juga yang nagih update fic The Strongest Yonkou, jadinya bingung.

Menurut kalian, bagusnya fokus ke fic ini atau updatenya bergiliran? Mohon bantuannya.

Thanks for reviews. Jangan lupa review lagi!

Hanakirei-chan