Beloved

Jaehyun x Taeyong

NCT © SM Entertainment

Warning! Alternate Universe, OOC, Typo(s), YAOI, Older!Jaehyun, etc


"Apa impian terbesarmu, hyung?"

"Aku ingin menangkapmu setiap kali kau jatuh, Taeyongie."

"Tapi bagaimana jika aku tidak pernah jatuh, hyung?"

"Maka aku akan diam, melihatmu dan menunggu kau membutuhkanku. Karena aku hyungmu."


Pagi datang, dan begitu juga akal sehat Jaehyun. Hal pertama yang disadarinya setelah bangun adalah Taeyong yang masih tertidur dengan kepala di bahunya. Oh, fuck. Dan membangunkannya dengan umpatannya itu. Hanya seperti itu.

Taeyong menyingkir dari atas tubuhnya perlahan, selain karena dorongan yang tak sengaja diberikan Jaehyun yang langsung terduduk karena terlalu terkejut. Dia turun, memunguti pakaiannya, memakainya, dan berakhir menghilang di balik pintu ruangan itu, bersama ekspresi terluka dan tersakiti yang nyata. Dia meninggalkan Jaehyun dengan perasaan bersalah dan pertanyaan besar mengenai seksualitas sendiri, yang begitu membingungkannya.

Taeyong tidak pernah terlihat lihat ataupun memunculkan wajahnya lagi dihadapan Jaehyun, yang memilih menghabiskan akhir pekannya di rumah dan menahan diri dari memutar ulang dalam kepalanya atas apayang terjadi antara mereka malam itu. Jaehyun mengutuki dirinya sendiri dalam pikiran karena kehilangan kendali atas tubuh dan pikiran sehatnya malam itu, sekaligus mempertanyakan alasan mengapa dia membiarkan itu terjadi.

Tapi tidak ada alasan masuk akal yang muncul.

Jaehyun memutuskan untuk berhenti memikirkan itu sebelum dirinya gila.

Malam itu adalah sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan yang sangat bodoh. Tapi sekali lagi Jaehyun berpikir, jika setiap orang pastilah melakukan kesalahan dalam hidup mereka. Jadi, dia memutuskan hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah dengan memastikan dirinya tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali.

Jaehyun menyelesaikan studynya meski dengan perasaan tak menentu. Dia lulus dengan hasil memuaskan yang membawa senyum bangga di wajah ayah dan ibunya. Tapi tidak ada Taeyong.

Ayahnya datang ke rumah sewa, membantunya memindahkan barang-barangnya dari sana untuk dikirim kembali ke rumah. Mereka duduk di tempat tidur Jaehyun setelah itu, berbicara tentang berbagai hal dan mengingat masa lalu.

"Ayah sangat bangga padamu, Jaehyunie," kata ayahnya, tersenyum. "Teruslah lakukan yang terbaik dan jangan pernah menyerah pada apa yang bisa membuatmu bahagia."

Ayahnya pergi kemudian, membiarkannya istirahat. Sementara Jaehyun yang kini tertidur sambil menatap langit-langit kamarnya, menemukan dirinya masih ingin menjadi ayah yang hebat seperti ayahnya. Dia masih ingin mempunyai seorang anak dan melihat mereka tumbuh. Jaehyun ingin mengajarkan mereka bagaimana caranya menjadi orang baik.

Tak ada yang berubah, katanya dalam hati. Impian terbesarnya masihlah sama.


Kehidupan baru dimulai. Jaehyun mulai bekerja di perusahaan ayahnya. Beberapa bulan setelah itu, Jaehyun membeli salah satu apartemen dan hidup terpisah dengan orangtuanya. Dia berkencan dengan banyak gadis namun tidak pernah bertahan lama karena merasa tidak cocok. Kini, dia sedang menjalin hubungan dengan salah satu teman kerjanya. Sudah hampir dua bulan lamanya.

Kekasihnya itu cantik, cerdas, lucu, perhatian, dan teman bicara yang menyenangkan. Kebersamaan mereka membuat Jaehyun merasa nyaman. Kekasihnya itu selalu melakukan hal-hal kecil yang mampu membuat Jaehyun tersentuh. Salah satunya adalah membangunkannya setiap pagi karena dia tahu Jaehyun selalu lupa untuk mengatur alarmnya, karena biasanya akan selalu ada ibunya yang melakukan itu untuknya.

Dia dan Nayoung berada di departemen berbeda, tapi entah bagaimana selalu bisa menemukan waktu bersama, terutama saat waktu makan siang dan di malam hari setelah selesai bekerja. Mereka akan makan malam romantis bersama di restoran Itali, pergi berkencan, atau hanya menonton film. Kadang-kadang Jaehyun akan melontarkan beberapa komentar konyol tentang adegan di film itu, dan Nayoung akan menertawakan kata-katanya dengan tawanya yang lucu. Jaehyun pikir dirinya jatuh cinta.

Ciuman pertama mereka adalah saat malam dimana Jaehyun menyatakan perasaannya. Di minggu yang sama mereka melakukan seks untuk pertama kalinya di apartemen Jaehyun. Rasanya tak bisa Jaehyun deskripsikan, tapi dia menyukainya. Meski dia agak terkejut melihat Nayoung yang sedikit agresif dan menuntut di tempat tidur. Entah kenapa, tapi untuk beberapa alasan, Jaehyun tidak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya saat mereka melakukan itu.

Dia tidak bisa berhenti membandingkan bagaimana tubuh kecil kekasihnya itu dengan orang lain. Seseorang lain dengan pergelangan tangan kurus dan tubuh kecil ramping meski tanpa lekukan seperti kekasihnya itu. Seseorang lain dengan kulit putih yang indah dan bersinar di bawah cahaya kamar tidurnya. Jaehyun mencengkeram tubuh di bawahnya sedikit lebih keras, dan bergerak lebih dari sebelumnya, mencoba yang terbaik untuk menyingkirkan semua pikiran tentang teman masa kecilnya itu dari pikirannya.

Tapi itu begitu mengganggunya!

Jaehyun tidak bisa menyingkirkan pikiran tentang Taeyong dari kepalanya, tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Dia begitu frustasi. Jaehyun meyakinkan dirinya sendiri jika ini karena apa yang terjadi malam itu. Bagaimanapun, ini pertama kalinya Jaehyun melakukan ini dengan seseorang yang seharusnya, dengan seorang gadis, jadi dia akan baik-baik saja. Siapapun pria straight akan merasakan kegundahan yang sama jika pengalaman pertama mereka, adalah dengan seorang pria. Dirinya akan baik-baik saja setelah ini, ya, setelah dia bisa melupakan Taeyong.

Tapi kemudian pada satu titik, saat Jaehyun mulai lelah menyangkal, dia akan berhenti dan bertanya pada dirinya sendiri. Apa kau bercanda, Jaehyun?

Karena bahkan dia tahu dia tidak akan pernah bisa berhenti berpikir tentang Taeyong. Tidak akan pernah. Sejak dia bertemu sosok itu di bawah pohon di samping taman kanak-kanak, Taeyong sudah menjadi bagian dari hidupnya. Menjadikan apa yang terjadi malam itu sebagai alasan untuk melupakan Taeyong adalah penghinaan untuk persahabatan mereka.

Itu memang memainkan bagian dalam dilema yang dihadapi oleh Jaehyun, tapi ketika dia kembali bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia bisa memikirkan Taeyong tanpa memikirkan apa yang terjadi malam itu? Jaehyun tidak bisa memaksakan dirinya untuk berkata ya.

Dalam hatinya, Jaehyun mulai meragukan seksualitasnya. Apa dia memang tertarik pada pria seperti itu? Itu adalah pemikiran yang mengerikan, dan Jaehyun benar-benar panik dan hampir tidak bisa membayangkan dirinya memiliki hubungan romantisme dengan salah satu rekan kerjanya, yang adalah seorang laki-laki. Apalagi untuk melakukan aktivitas seksual dengan mereka. Belum lagi, dia hanya tidak bisa membayangkan bagaimana keluarganya akan bereaksi terhadap itu.

Apa yang akan ibunya katakan? Apa yang akan ayahnya katakan? Jaehyun bahkan berani bertaruh jika mereka tak akan mengatakan sepatah katapun karena terlalu terkejut untuk itu. Sebelum berteriak dan memakinya. Membayangkan dan memikirkan betapa kecewanya mereka, terutama ayahnya, terasa terlalu menyakitkan untuk Jaehyun. Dia mencoba melupakannya.

Tapi, gambaran dari masa kecil tidak pernah meninggalkannya barang sedetik, mengakar kuat seperti itu seberapapun dia mencoba. Yang lebih parah adalah ketika dia melihat sebuah objek tertentu melalui lensa kameranya sebelum mengambil foto, karena Jaehyun akan melihat Taeyong, Taeyong, Taeyong. Itu menjadi salah satu alasan dia menghentikan salah satu hobinya itu sejak lama.

Jaehyun tahu, selalu ada bagian dari dirinya yang menjerit sakit. Dan dia tidak bisa menyangkal lagi bahwa itu adalah kerinduan. Mungkin itu akan terlalu terasa ketika dia sibuk melakukan segala aktifitasnya di siang hai. Tetapi pada malam, saat dia sendirian sebelum tertidur, dan mulai melamun, maka itu akan datang begitu saja, muncul ke permukaan dan membuatnya lemas tiba-tiba. Rasanya terlalu menyesakkan hingga terkadang tanpa sadar, Jaehyun akan menangis diam-diam hingga membasahi bantalnya.

Taeyongie, apa kau merindukanku?

Dia begitu merindukan Taeyong, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Dia melihat Taeyong lagi pada satu hari di akhir musim dingin tahun itu.

Semuanya berjalan lancar dan Jaehyun bisa berbangga pada dirinya sendiri karena melakukan pekerjaannya dengan baik, begitupun hubungannya dengan kekasihnya, Nayoung, dan teman-temannya. Jaehyun masih sering memikirkan teman masa kecilnya itu di saat tertentu, tapi bisa mengatasinya dengan lebih tenang sekarang.

Itu adalah proses panjang yang begitu menyiksa dan menyakitkan, tapi Jaehyun akhirnya tahu apa yang sebenarnya dia rasakan untuk teman masa kecilnya. Dia benci mengakui bahwa Taeyong memang benar, sejak awal dirinya yang telah salah mengartikan perasaannya selama ini, tapi itu tidak berarti bahwa dia akan melakukan sesuatu untuk itu.

Ya, Jaehyun mungkin melihat Taeyong lebih dari seorang teman, kerabat, saudara, bahkan adik seperti yang selalu dia percaya. Dia menyayangi Taeyong, Taeyongienya, dengan cara yang tidak semestinya. Sebuah perasaan yang tak seharusnya. Tapi tidak, dia tidak akan membiarkan Taeyong tahu. Fakta itu, Jaehyun bertekad untuk menyimpannya sendiri dan berpura-pura tidak ada yang terjadi, tidak ada yang salah.

Apa yang terjadi di masa lalu adalah sebuah kesalahan, tapi Jaehyun memutuskan, dia tidak menyesalinya. Tidak sama sekali. Setidaknya dia memiliki sesuatu yang bisa dia ingat tiap kali terlalu merindukan sosok itu, dan sayangnya, itu adalah setiap saat. Terkadang Jaehyun akan menyentuh dirinya sendiri, di apartemennya, di tempat tidur, di kamar mandi, dengan gambaran Taeyong di kepalanya, bukan Nayoung, yang seharusnya menjadi cintanya. Itu selalu membuatnya merasa bersalah. Tapi tak ada yang bisa Jaehyun salahkan selain dirinya sendiri.

Jaehyun tetap berusaha keras menyakini jika impian terbesarnya dengan membangun keluarga yang bahagia dan menjadi ayah yang hebat seperti ayahnya, belumlah berubah. Dia berusaha keras untuk mewujudkan itu. Bahkan sempat terpikir olehnya untuk membeli cincin dan melamar Nayoung dalam waktu dekat, meski sebenarnya dia masih ragu. Karena itu adalah keputusan besar yang akan berpengaruh dalam merubah hidupnya.

Itu akan jauh lebih mudah jika Taeyong tidak muncul di depan pintu apartemennya pada satu malam di bulan Februari, dengan kotak berukuran cukup besar, yang Jaehyun yakini berisi kue, di tangan.

Dia pulang cukup larut, sekitar pukul sepuluh atau sebelas malam setelah makan malam dan menonton film. Nayoung bersikeras ingin menginap ke apartemen miliknya saat Jaehyun hendak mengantarnya pulang. Tadinya, dia yakin mereka akan merayakan detik-detik akhir hari Valentine sekaligus ulang tahun Jaehyun di sana dengan making out.

Tapi ada Taeyong di sana, berdiri di depan pintu apartemennya, mengenakan jaket yang Jaehyun ingat menjadi hadiah ulang tahun darinya beberapa tahun lalu sambil mengetuk-ngetukkan ujung sepatu pada lantai. Wajahnya sedikit pucat, bibirnya membiru, dan tubuh berbalut jaket itu juga sedikit menggigil. Sudah berapa lama dia berdiam dan menunggu di sana?

"Hai, Jaehyun-hyung," kata Taeyong. Dia membungkuk sopan pada Nayoung. Tidak ada kebencian apapun di sepasang mata itu meskipun dia yakin Taeyong tahu dengan jelas siapa wanita yang sedang menggandengnya saat ini. Dia tersenyum dan menyapa dengan sopan.

"Aku datang untuk merayakan ulang tahunmu bersama, hyung," kata Taeyong padanya, meski itu lebih terdengar seperti penjelasan untuk kekasihnya karena dia menatap kotak di tangan Taeyong dengan bingung. "Kita selalu melakukan ini. Dulu."

Dan itu benar. Taeyong selalu ada di tiap perayaan ulang tahunnya. Dulu. Mereka biasanya akan menghabiskan malam sebelum tanggal 14 bersama, berbaring di atap rumahnya, mengobrol sambil menatap langit malam dan bintang-bintang sambil menggoda satu sama lain. Bertahun-tahun ke belakang itu tidak pernah terjadi, Taeyong menggantinya dengan pesan singkat atau kartu ucapan selamat ulang tahun yang dikirim lewat pos. Menandakan dia masih begitu peduli bahkan pada hyung brengseknya.

"Nayoung, pulanglah. Kita bicara besok, oke"

Kekasihnya itu terlihat bingung, dengan ekspresi sakit hati memenuhi wajahnya saat dia menyuruh pergi, dan Jaehyun berjanji akan meminta maaf padanya dengan buket bunga besok. Tapi Taeyong sengaja datang dan menunggunya lama di depan pintu apartemennya untuk ini. Membawa kue ulang tahun juga senyuman yang Jaehyun rindukan dengan begitu gilanya, meski dia tidak akan pernah mengakuinya itu pada Taeyong.

Sebenarnya Taeyong sepertinya tidak terlihat keberatan jika Nayoung bergabung, tapi Jaehyun sendiri sangsi bagaimana dia bisa berada di satu ruangan yang sama dengan Taeyong dan kekasihnya di saat yang sama. Akan secanggung apa itu terasa?

Mereka naik ke lift dalam diam. Hal-hal yang terjadi pada malam sebelum dia lulus kembali berputar di pikirannya, membuat Jaehyun mencengkeram sisi celana bahannya. Jaehyun merasa sesak dan kepanasan tiba-tiba hingga membuka jas dan melonggarkan dasinya sedikit. Dia tidak tahu apa yang Taeyong pikirkan saat ini, karena dia tak mengatakan apapun sejak Nayoung pergi. Hanya memasang tampang datar andalannya.

Jaehyun diam-diam melirik ke samping, juga lewat pantulan dinding keperakan lift di depannya. Melihat bagaimana perubahan dari sosok teman masa kecilnya itu. Taeyong tampak lebih dewasa, lebih tampan tapi entah bagaimana masih memiliki sisi kekanak-kanakan dalam dirinya. Rambut yang tadinya hitam kini berwarna kecokelatan, dengan potongan yang bebeda juga, namun terlihat sangat bagus dan cocok untuknya.

"Kenapa datang tanpa memberitahu dulu?" Tanya Jaehyun pada Taeyong, lima menit kemudian setelah membuat dirinya nyaman duduk di sofa, dia mengikuti tiap gerakan Taeyong yang sibuk mengatur kue di meja dengan matanya.

"Karena aku ingin membuat kejutan, hyung," jawab yang lebih muda, tenang.

Taeyong tampak terlalu sialan tenang. Membuatnya terlihat lebih dewasa, bahkan dari Jaehyun yang sebenarnya lebih tua, dan itu sangat mengganggunya.

Jaehyun tidak tahu sejak kapan Taeyongnya yang posesif dan mudah bertindak tanpa pikir panjang jika berkaitan dengannya itu akan berubah menjadi setenang dan sedingin ini. Apa Jaehyun sudah terlalu asing untuknya hingga dia tak bisa lagi menarik sisi sesungguhnya dari Taeyong? Seperti dulu? Itu membuatnya sangat takut.

Taeyong yang lama takkan segan-segan terlihat terganggu―cemburu?―dan menuntut posisinya sebagai sosok yang penting dalam hidup hyungnya. Dia takkan diam saja melihat Jaehyun-hyungnya dekat dengan seseorang, terutama perempuan, apalagi jika perempuan itu menggandengnya, tanpa cemberut atau merajuk.

Suatu tempat dalam pikiran Jaehyun menyadari, jika ya, mungkin mereka memang sudah se-asing itu.

"Yeah, kalau begitu kau berhasil. Karena aku cukup terkejut," katanya.

"Senang mendengarnya," kata Taeyong, masih menyibukkan diri dengan kue. "Aku harap hyung menganggap ini kejutan menyenangkan," tambahnya. Masih dengan tenang.

Tapi Jaehyun bisa merasakan kecemburuan yang mendasari pernyataan itu, meski hanya tersirat. Rupanya tidak peduli seberapa besar perubahan dalam dirinya, dalam hubungan mereka, Taeyong masihlah Taeyongnya. Tapi menujukkan perasaan dan kecemburuannya tidak secara terbuka seperti dulu.

Ini adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya, pikir Jaehyun.

Mereka belum pernah benar-benar membicarakan tentang apa yang terjadi malam itu. Jaehyun harus menjelaskan pada Taeyong sekarang jika tidak seharusnya ada yang lebih dari persahabatan mereka. Satu waktu itu adalah kesalahan. Jaehyun punya Nayoung, kekasihnya, sekarang dan akan lebih mudah baginya untuk menyakinkan Taeyong jika hubungan seperti itu diantara mereka sangatlah tidak mungkin. Bahwa Jaehyun tidak menginginkan hal yang sama dengan apa yang diinginkan Taeyong. Meskipun itu jelas adalah salah satu kebohongan terbesarnya.

"Taeyong―"

"Apa hyung bahagia?" potong Taeyong, tanpa memandangnya.

"Huh?" Adalah respon tercerdas dari Jaehyun untuk itu.

Taeyong berbalik menghadapnya dan berkata, "Apa kau benar-benar bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang, hyung? Apa ini apa yang hyung inginkan?"

"Apa… apa maksudmu?"

"Aku hanya ingin tahu seberapa sulitnya harus terus-menerus membohongi diri sendiri. Apa hyung tidak lelah?" tanya Taeyong, mendesah. "Aku tahu hyung mencoba percaya jika ini memang apa yang hyung inginkan, tapi tidak. Aku tahu. Kau bahkan tidak menghubungiku selama berbulan-bulan, Jaehyun-hyung. Saat ini aku sangat marah, karena itu aku datang."

"Apa? Aku… tidak… apa yang kau bicarakan?"

Taeyong mengambil beberapa langkah dan menutup jarak di antara mereka. Membungkuk ke arahnya dengan memegang wajah Jaehun dengan kedua tangannya. Membuat wajah itu terdongak dan menatap tepat ke arahnya.

"Aku mengenalmu dengan baik, Jaehyun-hyung," katanya perlahan. Tanpa sekalipun mengalihkan pandang. "Hyung hanya menjalani hidup yang orang lain harapkan untukmu, hyung. Bukan apa yang benar-benar hyung inginkan."

Jaehyun hanya bisa bungkam.

Mata itu terasa menahannya untuk sekedar melontar sebuah kalimat penolakan. Jaehyun ingin mengatakan bahwa ya, tentu saja, ini adalah apa yang diinginkannya. Dia ingin menjadi seorang pria normal dengan kehidupan normal. Dia ingin melakukan pekerjaannya dengan baik dan membuat orang tuanya bangga. Dan di masa depan, dia ingin menikah dengan wanita pilihannya, membangun sebuah keluarga bahagia dan mempunyai anak-anak lucu, melihat mereka tumbuh dan berharap bisa hidup cukup lama menyaksikan mereka juga menikah dan memberinya cucu. Tapi dia tidak bisa. Sesuatu di mata Taeyong mencegah suara Jaehyun keluar.

Taeyong membungkuk lebih rendah, mengikis jarak diantara mereka lebih kecil lagi hingga bersentuhan dahi. Mata hitam indah itu yang kini mengambil seluruh perhatian Jaehyun.

"Kau menginginkanku, hyung. Aku tahu itu. Karena aku menginginkanmu juga," katanya sebelum menyatukan bibir mereka. Jaehyun menemukan dirinya terlalu terkejut, dan terlena untuk menolak.

Ciuman manis berubah menjadi lebih bergairan, jari-jari tangan Jaehyun tak berdiam, antara mendorong pergi, atau justru menariknya mendekat, Jaehyun tidak yakin lagi. Di suatu tempat di bagian belakang kepalanya, sesuatu berdenging memaksanya mengakui jika dia begitu merindukan ini. Kehangatan ini, kulit di bawah telapak tangannya ini, perasaan sempurna ini. Dia mencoba mengabaikannya, tapi Jaehyun harus menerima jika dia memang merindukan Taeyongienya dengan konteks dari pikiran kotornya.

Jaehyun tidak tahu bagaimana dia akhirnya mengangkangi Taeyong, yang entah bagaimana telah dia dorong hingga berbaring telentang di sofa. Kedua tangan Jaehyun menopang berat badannya begitu bagian atas tubuhnya melayang-layang di atas tubuh dari sosok indah di bawahnya, menyingkirkan helai demi helai pakaian yang terasa mengganggu hingga yang terasa hanyalah sensasi kulit hangat tak tertutupi. Itu adalah sensasi yang luar biasa.

Di bawahnya, Taeyong tersenyum. Senyum manis bagai malaikat. Jaehyun tidak bisa menjelaskan betapa indahnya sosok itu di matanya saat ini. Tangan Taeyong mengalung di leher Jaehyun. Matanya berbinar saat dia berbisik perlahan, "Selamat ulang tahun, Jaehyun-hyung. Kau bisa mengambil hadiahmu sekarang."

Jaehyun membungkuk dan memastikan dia berterima kasih pada Taeyong dengan benar. Kue-kue itu bisa menunggu, ya menunggu. Setelah dia selesai dengan hadiahnya. Hadiah yang benar-benar luar biasa dan takkan pernah bisa Jaehyun lupakan.


Mereka memakan kue yang dibawa Taeyong di tempat tidur setelahnya. Berhasil menghabiskan setengahnya. Benar-benar kelaparan setelah aktivitas mereka. Jangan tanya bagaimana mereka bisa mereka yang tadinya di sofa bisa sampai ke tempat tidur, kerena mereka melakukannya. Ya, setelah melalui perjalanan panjang dan jeda berhenti di berbagai tempat sebelum sampai di sana. Gila sekali.

"Ini kue dari toko favoritku?"

Taeyong mengangkat bahunya, terus makan.

Itu benar kue dari toko favorit Jaehyun. Lebih tepatnya, kue yang paling disukainya dengan lapisan krim putih dan stoberi di atasnya. Taeyong benar-benar mengenal Jaehyun lebih baik dari dirinya sendiri. Mereka bermain mari-oleskan-krim-ke-wajah-yang lain sambil tertawa seperti dulu saat mereka masih kecil, setelah tidak kuat makan lagi. Krimnya bahkan jatuh mengotori tempat tidur Jaehyun, yang memang sudah kacau karena aktivitas mereka sebelumnya. Seandainya kue ini ada di ruangan ini lebih cepat, mungkin akan berakhir dengan cara yang lain.

"Lihat Taeyongie, ini ulahmu, semuanya berantakan," katanya tanpa sedikitpun nada kesal atau marah. Dia membelai rambut yang lebih muda saat Taeyong menyandarkan kepala di dada Jaehyun. Jaehyun tidak tahu jika dia adalah tipe penyuka cuddling after sex. Karena dia tidak pernah melakukan itu dengan Nayoung, kekasihnya. Sekarang Jaehyun bisa mengakui alasan dirinya selalu langsung ke kamar mandi sebenarnya adalah tindakannya untuk melarikan diri.

"Aku tidak akan minta maaf, hyung," kata Taeyong dengan nada merajuk, memeluk hyungnya lebih erat. "Kau sama bersalahnya denganku di sini. Kita mengacaukan tempat ini bersama."

Jaehyun tertawa. Tapi kemudian berhenti dan memandang kosong. "Sekarang bagaimana aku bisa menjelaskan ini padanya?" gumamnya.

"Kekasih hyung?"

"Hm."

"Hyung tidak harus mengatakannya langsung. Aku tahu hyung perlu waktu untuk itu. Coba saja cari alasan yang logis. Aku tidak ingin berbagi, tapi aku bisa menunggu."

"Apa? Kau pikir aku bisa kembali padanya, berpura-pura semuanya baik-baik saja, setelah ini?" tanyanya dengan nada tidak percaya. Taeyong hanya tidak tahu bagaimana Jaehyun selalu membandingkan kekasihnya itu dengannya, bahkan di tempat tidur. Tidak mungkin dia bisa berpura-pura lagi. Tidak ketika dia tahu hati dan pikirannya masih akan sepenuhnya milik Taeyong. Jaehyun sudah terlalu lama berpura-pura dan muak akan itu.

"Terserah hyung saja," kata Taeyong terkesan acuh. "Aku sudah menunggu lama untuk ini karena seseorang yang sangat, sangat, sangat keras kepala. Menunggu sebentar lagi bukan masalah."

Mata Jaehyun menyipit. "Kau sedang meledekku, Taeyongie?"

"Tidak. Tapi jika hyung merasa begitu, itu artinya hyung cukup tahu diri." Taeyong tertawa pelan saat mendengar Jaehyun hendak memberikan pembelaan. Tubuhnya meringkuk lebih dekat pada hyungnya. "Tapi tidak apa-apa, sih. Yang penting hyung mencintaiku."

Jaehyun merasa seperti pencuri yang tertangkap basah dengan pernyataan terakhir. Tapi kemudian senyum berkembang di bibirnya dan dia mendesah kalah. "Entahlah. Sepertinya aku―"

"Berhenti membohongi dirimu sendiri, hyung. Akui saja. Tidak peduli berapa lama atau berapa banyak gadis yang telah bersamamu, hyung akan selalu kembali padaku."

Jaehyun mendengus untuk yang satu itu. "Kau yakin tidak keliru? Bukankah kau yang selalu datang dan mencariku, Taeyongie?" godanya.

Jaehyun bisa merasakan senyum Taeyong di kulitnya meski dia tidak bisa melihat itu dengan matanya. "Memang."

Lalu ada keheningan.

"Aku masih sama, kau tahu. Aku masih ingin membangun sebuah keluarga bahagia dan mempunyai anak-anak lucu, melihat mereka tumbuh. Menjadi ayah yang hebat seperti ayahku," katanya pelan. Dia memegang tangan Taeyong, tersenyum karena akhirnya bisa melakukannya tanpa beban apapun lagi. "Tapi kini sepertinya impian terbesarku sudah berubah. Kau tidak mau bertanya apa itu, Taeyongie?"

Taeyong memutar matanya tapi tetap bertanya, "Apa impian terbesarmu, hyung?"

"Aku ingin menangkapmu setiap kali kau jatuh, Taeyongie."

Taeyong tertawa. Tidak menyangka akan mendapat kalimat seperti itu dari Jaehyun-hyungnya. Alisnya terangkat, bertanya menantang, "Tapi bagaimana jika aku tidak pernah jatuh, hyung?"

"Maka aku akan diam, melihatmu dan menunggu kau membutuhkanku. Karena aku hyungmu."

Tawa Taeyong menghilang.

"Hyung?" bisiknya.

Jaehyun yang merasakan tubuh di atasnya mengaku langsung terkekeh. "Aku belum selesai," katanya. Jaehyun bangkit hingga terduduk, memaksa Taeyong ikut bersamanya. Sebelah tangannya bertumpu pada pipi Taeyong, jari-jarinya membelai kulit lembut, pucat di bawah telapak tangannya. Mata Taeyong berbinar-binar saat sebelum Jaehyun menciumnya sekali. "Hyung yang mencintaimu."

Taeyong langsung merengut, meski lega. "Hyung, tidak lucu!"

Jaehyun tertawa dibuatnya. Sudah lama rasanya dia tidak menggoda Taeyong seperti itu. Rasanya melegakan, terasa tepat, sempurna. Jaehyun memang harus mencari cara bagaimana dia akan memberitahu keluarganya, juga Nayoung, tentang ini, tentang mereka. Tapi itu bisa dia pikirkan nanti. Saat ini dia akan menikmati waktu yang mereka miliki bersama.

"Sekarang giliranku. Apa impian terbesarmu, Taeyongie?" tanya Jaehyun. Mereka tidak pernah membicarakan tentang apa yang Taeyong inginkan di masa depan meski Jaehyun sudah sering mengatakan mimpinya pada sahabatnya itu.

"Hidup bahagia bersama Jaehyun-hyung."

Jaehyun terdiam memandang Taeyong yang sedang menatapnya dalam sambil tersenyum. Itu adalah sebaris kalimat paling manis yang pernah diucapkan Taeyong padanya, dan begitu sederhana polos, namun tulus.

Jaehyun tidak bisa menahan diri untuk menciumnya saat itu juga.


Hari itu mereka berbahagia bersama. Tapi kehidupan selalu punya kejutan tak terduga kan?


Lanjut?

Terimakasih untuk review di chapter sebelumnya!

Review please?